Seven Sleepers

Kisah Ashabul Kahfi sebagaimana tertulis dalam QS 18:9–26 bukanlah kisah yang unik. Diluar Quran, kisah ini juga dikenal sebagai Seven Sleepers dan merupakan legenda yang terkenal di dunia Kristen. Setidaknya terdapat 200 manuskrip yang ditulis sejak Akhir Era Antik hingga awal era modern yang menceritakan kisah ajaib ini. Manuskrip tertua ditulis oleh Jacob Serugh dan Pseudo-Zachary of the Rethor sekitar abad kelima, atau seabad sebelum kemunculan kisah Ashabul Kahfi.

Gambar: Patung dada Kaisar Decius

Narasi Seven Sleepers

Secara singkat, narasi Seven Sleepers bisa dirangkum sebagai berikut: Kaisar Romawi Decius (249-251), suatu ketika hendak menyelenggarakan sebuah festival bagi Zeus, Apollo dan Artemis. Ia lalu meminta seluruh penduduk untuk hadir menyembahkan sesajen kepada ketiga Tuhan tersebut. Seluruh penduduk pun hadir kecuali seorang putra prefect dan tujuh sahabatnya. Mereka dengan terus terang menyatakan tidak akan menyembah berhala tersebut dan tetap setia kepada keyakinan Kristen mereka. Decius yang sempat menangkap kawanan ini, memutuskan untuk menunda hukuman dan memilih pergi keluar kota karena urusan penting. Saat itulah ketujuh pemuda tersebut melarikan diri dari tahanan dan bersembunyi dari kejaran tentara Romawi di sebuah gua yang terdapat pegunungan setempat.

Sepulang dari perjalanan, Raja Decius segera mencari para pemuda ini dan berencana untuk membunuh mereka. Tatkala ia menemukan gua tempat mereka bersembunyi, Decius pun memerintahkan untuk menembok dinding gua agar mereka semua tidak bisa keluar darinya. Sebelum gua tersebut ditutup, muncul dua orang sofis yang berpikir bahwa Tuhan akan membangkitkan kembali tubuh para pemuda tersebut. Ia pun membuat sebuah tablet dari timah berisikan nama-nama dari setiap pemuda dan alasan mereka bersembunyi beserta waktunya, dan menempatkan tablet tersebut di dalam gua, tepat sebelum kedatangan raja Decius. Serugh juga menambahkan bila Tuhan mengutus seorang malaikat untuk mengawasi tubuh para pemuda ini saat mereka berada di dalam gua.

Bertahun-tahun kemudian, datang seseorang yang hendak membangun sebuah kandang domba diatas bukit. Ia pun mengambil beberapa batu yang digunakan untuk menembok mulut gua sebagai material pembangunan kandang. Seberkas cahaya pun masuk menyinari isi gua dan membangunkan para pemuda. Salah seorang diantara para pemuda tersebut, yang salah bernama Yamlika, memutuskan untuk pergi ke kota dan membeli makanan sambil mempelajari berita tentang pengejaran mereka. Sesampainya di kota Efesus, Yamlika terkejut karena ia sudah tidak mengenali lagi kota tersebut. Dan ketika ia hendak membayar makanan yang dibeli para penduduk pun memaksanya untuk menunjukkan gua tempat ia bersembunyi, karena yakin Yamlika telah menemukan harta karun. Tapi setelah seorang sofis mengenali koinn yang digunakan Yamlika untuk membayar makanan ia pun menyadari betapa lama dirinya dan kawan-kawan tertidur di gua tersebut.

Kabar penemuan orang dari masa lalu pun tesebar luas, sehingga membuat uskup setempat untuk memberitakan penemuan ini ke raja Theodosius II (408–450) yang segera datang ke Efesus untuk melihat sendiri keajaiban tersebut. Sang raja pun masuk kedalam gua dan membaca tulisan yang terdapat diatas tablet timah. Menyadari kebenaran kisah Yamlika, Theodosius membujuk para pemuda untuk kembali ke kota Efesus karena ia akan membangun sebuah kuil diatas tubuh mereka. Para pemuda menolak permintaan sang raja dan memilih untuk tinggal di tempat dimana tubuh mereka seharusnya berada.

Gambar: Patung kepala dari Kaisar Theodosius II.

Narasi Lain yang Serupa

Meskipun narasi Seven Sleepers berasal dari dunia Kristen, tapi sejumlah sarjana menemukan kisah-kisah lain yang memiliki motif yang serupa yang jauh lebih tua.

Kisah Epimenides yang tertidur selama 57 tahun di sebuah gua suci milik Zeus di Kreta yang muncul dalam Lives and Opinions of Eminent Philosophers karya Diogenes Laertius di abad ketiga. Laertius menyatakan sumber dari kisah tersebut adalah Theopompus yang hidup pada abad keempat SM
Kisah Abimelekh yang tertidur selama 66 tahun di 4 Baruch pada awal abad kedua. Dalam kisah ini Abimelekh juga dikisahkan tertidur panjang selama 66 tahun setelah memetik sekeranjang buah ara. Ketika terbangun ia segera pergi ke Yerusalem untuk menemui ayahnya Jeremiah, namun kebingungan karena kota tersebut telah banyak berubah. Disana ia bertemu dengan orang tua yang menyatakan bahwa ayahnya dan para penduduk telah ditawan oleh bangsa Babylonia. Mendengar perkataan si orang tua Abimalech tertawa tidak percaya sambil menceritakan kisahnya yang memetik buah ara. Si orang tua ini lalu menyatakan bahwa Abimelekh adalah orang yang baik sehingga Tuhan tidak memperlihatkan kehancuran kota Yerusalem kepadanya
Kisah Khoni si penggambar lingkaran yang tertidur selama 70 tahun yang terdapat dalam Talmud Yerusalem dan Babilonia. Dalam kisah ini Khoni bertemu dengan sesorang yang tengah menanam pohon carob. Ia pun bertanya kepada petani tersebut mengenai waktu yang dibutuhkan bagi pohon carob untuk berbuah. Si petani menjelaskan bila pohon tersebut baru akan berbuah tujuh puluh tahun lagi. Mendengar jawaban si petani, Khoni bertanya apakah si petani yakin bila dirinya akan hidup hingga tujuh puluh tahun? Si petani pun menimpali bila ayah dan kakeknyalah yang telah menanam pohon carob sebelumnya, maka begitu pula ia yang akan menanam pohon tersebut untuk anak cucunya. Mendengar jawaban tulus si petani Khoni pun duduk untuk makan dan kemudian tertidur. Pada saat ia tidur sebuah formasi batu melindunginya dari pandangan manusia sehingga dapat tidur selama tujuh puluh tahun. Saat bangun ia melihat orang-orang telah berkumpul di pohon carob itu untuk memanen buahnya.
Selain ketiga kisah ini, juga terdapat dua kisah lain yang memiliki motif serupa. Pertama adalah kisah Taxo dan tujuh orang anaknya yang melarikan diri ke sebuah gua untuk bersembunyi dari kejaran Raja Herod. Saat pasukan Romawi menemukan gua persembunyian mereka, satu keluarga ini kemudian memilih bunuh diri ketimbang menyerahkan diri mereka ke Romawi. Kisah kedua adalah kisah seorang perempuan Yahudi dengan tujuh orang anaknya yang muncul dalam 2 Maccabees. Dalam kisah ini sang raja memenjarakan keluarga tersebut dan memaksa mereka untuk memakan babi. Ketujuh orang putra si ibu menolak perintah raja dan lebih memilih mati ketimbang melanggar hukum agama. Raja Antiochus pun marah dan mulai menyiksa tujuh bersaudara ini satu persatu di hadapan ibu mereka hingga tewas.

Menurut Albreht Berger, kematian dua keluarga Yahudi ini lalu berkembang menjadi legenda populer di tengah masayarakat yang telah menganut agama Kristen. Sejumlah tempat yang terkait dengan kisah tersebut berubah menjadi pusat pemujaan martir dan orang suci yang menjadi tujuan ziarah dikalangan pemeluk agama Yahudi maupun Kristen. Situasi berubah tatkala sentimen antisemit menyeruak dikalangan umat Kristen. Dalam hal ini kemunculan legenda Seven Sleepers yang merupakan kisah asli Kristen dan menyatukan motif tidur panjang dengan tujuh martir, perlahan mulai menggantikan posisi kisah para martir Yahudi ini. Lambat laun ketiga narasi ini tercampur baur di tengah masyarakat yang menyebabkan banyaknya lokasi dari gua tempat tujuh pemuda yang tertidur.[2] Mulai dari Efesus di Turki, Afsus di Syria, dan Magharat el-Kahf dekat Amman di Jordania.

Gambar: Gua Seven Sleepers di Efesus, Turki.

Historisitas

Pada tahun 1926 tim arkeologi dari Institut Arkeologi Austria menemukan reruntuhan basilika Seven Sleepers yang dibangun diatas sebuah gua. Situs kuno ini terletak di lereng bukit sebelah timur dari Panayir Dagh, kota kuno Efesus, Turki. Setelah penemuan ini tim kemudian melakukan ekskavasi yang berlangsung antara tahun 1927 hingga 1930 yang dikepalai oleh arkeolog Franz Miltner. Disana para arkeolog menemukan lebih dari 2000 lampu tanah liat yang berasal dari abad keempat dan kelima. Bagian utama dari situs ini terdapat sejumlah kuburan tempat ketujuh seven sleepers dimakamkan. Berdasarkan penelitiannya Miltner juga menyimpulkan bila gereja yang berada diatas gua benar-benar dibangun pada akhir masa pemerintahan Theodosius II sekitar tahun 448 dan dengan demikian legenda Seven Sleepers memiliki dasar historis yang kuat.[3]

Temuan Miltner ini lalu diperkuat oleh Ernest Honnigman yang memberikan interpretasi menarik tentang kelahiran kisah Seven Sleepers. Menurut Honnigman sumber awal dari kisah Seven Sleepers di memra Jacob Serugh dan Pseudo-Zacahary pada dasarnya merujuk pada manuskrip Hypomnemata. Meski manuskrip ini baru ditulis dikemudian hari dan merupakan sebuah karya anonim, tapi Honnigman berargumentasi bila penulis manuskrip tersebut antara uskup Stephen (atau sekretarisnya), yang menjadi uskup Efesus antara tahun 448–451.

Uskup Stephen sendiri memiliki reputasi buruk dikalangan petinggi Gereja karena melakukan taktik licik agar bisa naik menjadi seorang uskup yang menyebabkan pendahulunya, Bassianius, dijebloskan kedalam penjara. Kebetulan pada saat itu menyeruak paham heretics yakni Eutychianisme yang sebarkan oleh Theodore of Aegaeae. Maka untuk membersihkan nama baiknya, Uskup Stephen merancang sebuah show up dihadapan pejabat Gereja bahkan kaisar. Ia pun menghadirkan tujuh pemuda yang mengaku berasal dari masa kaisar Decius dan tertidur di dalam gua selama 300 tahun lebih. Menurut uskup Stephen tujuh orang pemuda ini merupakan bukti bahwa Tuhan bukan saja mampu membangkitkan roh tapi juga jasmani. Show up sang uskup sangat sukses meyakinkan banyak pihak pada saat itu sehingga mampu mencegah meluasnya paham Eutychianisme (monofisit) di Efesus dan Byzantium.

Atas jasanya membendung penyebaran paham monofisit, uskup Stephen mendapat banyak pujian termasuk dari Paus Leo dan Kaisar Theodosius II. Ia pun memperoleh 200 keping emas setiap tahun dari kas Gereja yang digunakan untuk membangun sebuah basilika di atas gua Seven Sleepers. Ia juga menginisiasi sebuah festival yang diadakan setiap tahun untuk menghormati ketujuh “orang suci” tersebut. Sayangnya, kesuksesan uskup Stephen tidak bertahan lama. Pada Konsili Efesus Kedua pada 451 ia dicopot dari jabatannya sebagai uskup setelah kejahatannya kepada Bassianus terkuak. Sejak saat itu namanya pun hilang dari catatan Gereja sedang reputasi Bassianus dipulihkan. [4]

Menurut Honnigman, penghapusan nama Stephen oleh Gereja juga dilakukan pada manuskrip Hypomnemata yang lalu dikenal sebagai manuskrip yang ditulis anonim. Kecurigaan bahwa uskup Stephen dengan sengaja melakukan penipuan bisa disimpulkan dari perannya yang menghadirkan para Seven Sleepers ke petinggi Gereja dan Kaisar. Ia juga orang pertama yang menemukan tablet di dalam sebuah peti mati yang diyakini berasal dari masa kaisar Decius.

Hipotesis Honnigman ini sangat berpengaruh di kalangan para akademisi untuk memahami motif dibalik hisotisitas kisah Seven Sleepers. Alternatif lain disampaikan oleh Pieter W. van der Horst yang menyatakan kisah tersebut sebagai saduran dari kisah Abimalekh yang tertidur selama 66 tahun dan digunakan untuk menggeser kisah-kisah Yahudi dengan kisah yang bersumber dari dunia Kristen. [5]

Gambar: Reruntuhan kota kuno Efesus, Turki.

Kesimpulan

Dari uraian diatas maka pertanyaan, mengapa tubuh Ashabul Kahfi tetap awet meskipun tertidur selama 309 tahun di dalam sebuah goa?, dapat dipahami sebagai sebuah kisah rakyat, folklore, yang entah terinspirasi dari kisah-kisah kuno lain maupun akibat penipuan atau intrik politik yang dilakukan oleh uskup Stephan sebagaimana diungkapkan oleh Ernest Honnigman. Bisa juga sebagai sisa ritus pagan atau terinspirasi dari penemuan mayat dalam gua yang kondisinya masih utuh yang kemudian dikaitkan dengan kekuasaan Tuhan.

Menurut Ibn Katsir, kisah Ashabul Kahfi dalam Quran sendiri muncul setelah sejumlah orang Quraisy (usai berkonsultasi dengan Yahudi Yatsrib) menguji Nabi Muhammad tentang tiga hal: mengenai kisah para pemuda dari masa lalu, kisah orang yang berjalan dari ujung Barat ke ujung Timur dan soal ruh. Dengan demikian menunjukkan pertalian yang erat dengan kisah Seven Sleepers yang sangat populer pada saat itu.

Semoga membantu.

Leave a Comment

You cannot copy content of this page