Pasal Penodaan Agama

Latar Belakang

Kita tahu pada 2016, Ahok divonis bersalah atas tuduhan penistaan agama. Kemudian di tahun 2021, MKC juga dituduh atas pasal penistaan agama.

Dari 2 kasus ini, admin penasaran atas pasal yang dikenakan pada keduanya dan isi pasalnya

Setelah meneliti secara cepat dan singkat, maka didapati bahwa keduanya dikenakan pasal 156a huruf a Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama.

Pasal – Pasal Penodaan Agama di RKUHP

Pasal 156 KUHP

Barang siapa di rnuka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beherapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa hagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat, asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

icjr.or.id :

Persoalan Pasal – Pasal Penodaan Agama Bukan hanya Pada Rumusannya akan tetapi juga pada Pelaksanaan dari Aturan Pidana tersebut

Pasal penodaan agama dalam diatur dalam Pasal 156 a KUHP berasal dari aturan yang disahkan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno melalui UU No 1/PNPS/1965 yang diundangkan pada 27 Januari 1965.

Pasal 1 UU tersebut menyebutkan dengan tegas, larangan mengusahakan dukungan umum dan untuk melakukan penafsiran terhadap sesuatu agama.

“Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia, atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran dari agama itu”.

Adapun ketentuan Pasal 156 a KUHP berasal dari ketentuan Pasal 4 UU tersebut yang langsung memerintahkan agar ketentuan tentang penodaan agama, dimasukkan dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).

“Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:

yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.”

Sementara itu didalam pembahasan Rancangan KUHP, ketentuan tentang Penodaan Agama diatur dalam Pasal 348 hingga Pasal 350

Pasal 348
Setiap orang yang di muka umum melakukan penghinaan terhadap agama di Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori III.

Pasal 349

(1) Setiap orang yang menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan tulisan atau gambar, sehingga terlihat oleh umum, atau memperdengarkan suatu rekaman sehingga ter­dengar oleh umum, yang berisi tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 348, dengan maksud agar isi tulisan, gambar, atau rekaman tersebut diketahui atau lebih diketahui oleh umum, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV.

(2) Jika pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan perbuatan tersebut dalam menjalankan profesinya dan pada waktu itu belum lewat 2 (dua) tahun sejak adanya putusan pemidanaan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang sama maka dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 ayat (1) huruf g.

Pasal 350

Setiap orang yang di muka umum menghasut dalam bentuk apapun dengan maksud meniadakan keyakinan terhadap agama yang sah dianut di Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV.

Pasal ITE

Pasal 28 ayat (2) UU ITE berbunyi, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Kemudian, Pasal 45a ayat (2) berbunyi: ‘Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)’.

Kasus Ahok

Ahok dikenakan pasal 156a huruf a. Berarti Hakim berkesimpulan bahwa Ahok :

yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.”

Jadi Tiga hakim (ketua majelis hakim Dwiarso Budi Santiarto serta hakim anggota Abdul Rosyad dan Jupriyadi) berkeyakinan bahwa ahok sudah menodai suatu agama dengan maksud agar supaya orang tidak menganuk agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

??????

Silahkan pembicara merenungkan apa Ahok ingin supaya para pendengar di kepulauan seribu tidak menganut agama apapun juga

Admin tidak cukup pandai untuk menyimpulkan

Kasus MKC

MKC dikenakan :

Pasal 28 ayat (2) UU ITE berbunyi, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Kemudian, Pasal 45a ayat (2) berbunyi: ‘Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)’.

MKC juga dikenakan pasal 156a huruf a. Berarti jaksa berkesimpulan bahwa MKC :

yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.”

Dari 3 pasal di atas, admin bisa menerima kalau MKC dikenakan pasap 28 karena memang bisa menimbulkan kebencian atau permusuhan. Sedang mengenai pasap 156a huruf a, sekali lagi, admin bingung pada kalimat mana jaksa meniyimpulkan bahwa MKC ingin penonton youtube supaya tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

Sedang mengenai pasa 45, sekarang tinggal bagaimana dibuktikan apakah ucapan MKC adalah kebohongan, dan untuk tim hukum MKC, harus bisa membuktikan ucapannya bukan kebohongan

Pdt Saefuddin Ibrahim / Abraham bin Moses

Admin tidak tahu agama Saefuddin di KTP, masih islam atau sudah kristen. Tapi kalau dia sudah jadi Kristen, memang yang dia sudah Kristen, maka dia memang melakukan penodaan agama.

Pendapat Admin Pribadi

Admin sendiri malas ngurusi orang – orang model Joseph Paul Zhang, Saefuddin Ibrahim. Mereka memang niat cari duit dari sosmed, atau mungkin ada donatur dari suatu lembaga. Apalagi mereka menodai agama lain setelah keluar dari Indonesia. Sangat berbeda dengan Petrus di legenda gereja

Legenda Petrus

In the years following Jesus’ Resurrection, the Roman officials became increasingly upset by the rapid growth of the Christian Faith and particularly the influence of St. Peter. So, Peter and some other early Christians decided that it would be best if he left Rome and continued his work elsewhere so that he would escape the threat of persecution.

As Peter was fleeing Rome, feeling confident that he was doing what was best for him and the early Church, he had a life-altering encounter with Christ.

Walking along the Aventine Hill, Peter had a vision of Jesus walking back toward the city. In pure shock and confusion, Peter asked, “Quo vadis, Domine?” which means, “Where are you going, Lord?”

Jesus answered him, “I am going back to Rome to be crucified a second time.”

Peter immediately understood what Jesus meant: he needed to turn around, continue his work in Rome, and offer his life for Christ. Peter did just that, and he was put to death shortly after his return to the city.

Google Translate

Pada tahun-tahun setelah Kebangkitan Yesus, para pejabat Romawi menjadi semakin kesal dengan pesatnya pertumbuhan Iman Kristen dan khususnya pengaruh St. Petrus. Jadi, Petrus dan beberapa orang Kristen mula-mula lainnya memutuskan bahwa akan lebih baik jika dia meninggalkan Roma dan melanjutkan pekerjaannya di tempat lain sehingga dia akan terhindar dari ancaman penganiayaan.

Saat Petrus melarikan diri dari Roma, merasa yakin bahwa dia melakukan yang terbaik untuknya dan Gereja mula-mula, dia mengalami perjumpaan yang mengubah hidup dengan Kristus.

Berjalan di sepanjang Bukit Aventine, Petrus mendapat penglihatan tentang Yesus berjalan kembali ke kota. Dalam keterkejutan dan kebingungan yang murni, Peter bertanya, “Quo vadis, Domine?” yang artinya, “Mau kemana, Tuhan?”

Yesus menjawabnya, “Aku akan kembali ke Roma untuk disalibkan untuk kedua kalinya.”

Petrus segera mengerti apa yang Yesus maksudkan: dia harus berbalik, melanjutkan pekerjaannya di Roma, dan mempersembahkan hidupnya bagi Kristus. Peter melakukan hal itu, dan dia dihukum mati tidak lama setelah dia kembali ke kota.

Catatan Admin

Dari beberapa sumber yang belum bisa dipastikan karena belum menemukan bukti, Joseph Paul Zhang dan Saefuddin adalah menganut Kristen yang Trinitasnya bukan yang main stream. Saefuddin katanya penganut Oneness.

Pasti banyak orang yang merasa dunia tidak adil karena banyak tokoh agama lain yang melakukan penistaan agama terhadap Kristen. Bagi admin sih, biasa saja. Kita memang tidak hidup di dunia yang adil. Jadi kita cuma bisa berdoa karena Pembalasan adalah hak Tuhan

Leave a Comment

You cannot copy content of this page