Bambu di Sirkuit Ancol

Latar Belakang

Dalam 2 – 3 hari ini di internet banyak cibiran mengenai bambu dalam pembangunan sirkuit Formula E di Ancol.

https://news.detik.com/berita/d-5960581/besi-mahal-bikin-bambu-kayu-jadi-penopang-sirkuit-formula-e

Sebagian dari pencibir menghina karena kok bisa bambu dipakai di sirkuit Ancol.

Sedang untuk para pembela Anies Baswedan, sebagian mereka kan memberi dukungan pada penggunaan bambu seperti :

https://jakarta.tribunnews.com/2022/02/27/dukung-penggunaan-bambu-untuk-sirkuit-formula-e-pks-sudah-diuji-keandalannya-untuk-tol

Penjelasan

Di dalam dunia pengurukan tanah, penggunaan bambu sudah biasa.

Coba pembaca untuk search di google : cerucuk bambu / bamboo consolodation

Maka anda akan banyak mendapat hasil kalau memang penggunaan bambu di konstruksi sudah biasa

Pemasangan Cerucuk Bambu di tanah rawa

Bambu untuk Pembangunan jalan tol di semarang

Guna bambu

Bambu untuk perkuatan tanah

https://www.neliti.com/publications/96633/analisa-perkuatan-tanah-dengan-bambu-sebagai-micro-pile-pada-tanah-liquefaction

Likuifaksi adalah salah satu fenomena dari Permanent Ground Deformation (PGD) yang terjadi pada kondisi gempa dengan skala besar, dimana tanah pasir jenuh kehilangan kekuatannya akibat meningkatnya tekanan air pori secara berlebihan dan menurunnya tegangan efektif tanah karena proses pemadatan yang terjadi akibat adanya getaran gempa. Tanah pasir ini kemudian memiliki perilaku lebih mirip cairan dari pada tanah itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perkuatan tanah dengan bambu sebagai pemodelan micro pile untuk daya dukung aksial, perkuatan tanah dengan bambu sebagai pemodelan micro pile untuk daya dukung lateral, serta defleksi yang terjadi dengan bantuan plaxis 3D, serta aman terhadap penurunan yang terjadi, baik sebelum terlikifaksi, sesudah terlikifaksi, dan setelah perkuatan dengan bambu sebagai pemodelan micro pile. Hasil dari penelitian ini juga menyatakan bahwa daya dukung tanah terlikifaksi adalah 1992,145 KN/m2, setelah diberikan perkuatan dengan bambu pemodelan micropile, hasil daya dukung meningkat menjadi 2219,355 dari metode Meyerhof, dan 3609,723 dari metode Luciano Decourt. Sedangkan menggunakan bantuan program Plaxis 3D, daya dukung menjadi lebih kecil yaitu 7,36 KN. Sedangkan untuk penurunan tanah setelah terlikifaki sebesar 2,987127 mm, dan setelah perkuatan, penurunan menjadi 0,82717 mm dari Qp dan Qs meyerhof, dan untuk Qp dan Qs Luciano Decourt 1,990 mm. Jika di bandingkan dengan program plaxis 3D, penurunan yang terjadi akan lebih kecil = 0,0022940 mm, dari pada cara analitisnya.

Bambu untuk Perbaikan Tanah yang lunak

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1571996005800345

The use of bamboo and bakau piles for soil improvements and application of pile raft system for the construction of embankment on peats and soft soils

Construction of embankment on peats and soft soils has always been faced by the problems of instability and large settlement. The conventional system conducted in practice by Indonesian engineers is the use of bamboo pile raft system (known as “cerucuk”), owing to its availability and low cost. Another aspect to be considered is simple technology. Bakau piles, Ulin and Gelam timber are also used as alternatives to bamboo piles. When used under water table, these materials are durable. In the past decade, mini concrete pile raft has emerged to replace bamboo pile raft to carry bigger load and overcome the limitation of bamboo or timber piles. Despite the more popular application of this system until present, no method of design and analysis has been established, and approach for calculation are based on experience or simplification. This chapter contains general information on the occurrence and characteristics of soft soils in Indonesia, ideas and principles on the use of bamboo, other timber or minipile raft system, method of installation of pile raft under embankment over soft soils and peats, examples of the use of the system in a number of projects in Indonesia and proposed methods of calculation. Results of full-scale investigation and case histories are used to illustrate the behaviour of single or grouped piles, to observe the suitability for certain soil condition and to gain an overview of its applicability. It has been proven that the system gives advantages to the increase of the bearing capacity of the soft foundation soils and reduce the settlement of the embankment. The system has been successfully applied in many projects and should be further investigated. In summary, this chapter gives insight and overview of the use of bamboo or other timber piles and concrete pile raft system for geotechnical practice.

Google Translate

Pembangunan tanggul di lahan gambut dan tanah lunak selalu dihadapkan pada masalah ketidakstabilan dan penurunan yang besar. Sistem konvensional yang dipraktikkan oleh para insinyur Indonesia adalah penggunaan sistem rakit tiang bambu (dikenal sebagai “cerucuk”), karena ketersediaannya dan biayanya yang murah. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah teknologi sederhana. Tumpukan bakau, kayu Ulin dan Gelam juga digunakan sebagai alternatif pengganti bambu. Saat digunakan di bawah permukaan air, bahan ini tahan lama. Dalam dekade terakhir, rakit tiang pancang beton mini telah muncul untuk menggantikan rakit tiang bambu untuk membawa beban yang lebih besar dan mengatasi keterbatasan tiang bambu atau kayu. Meskipun penerapan sistem ini lebih populer hingga saat ini, tidak ada metode desain dan analisis yang ditetapkan, dan pendekatan untuk perhitungan didasarkan pada pengalaman atau penyederhanaan. Bab ini berisi informasi umum tentang terjadinya dan karakteristik tanah lunak di Indonesia, ide dan prinsip penggunaan bambu, kayu lain atau sistem rakit minipile, metode pemasangan rakit tiang di bawah tanggul di atas tanah lunak dan gambut, contoh penggunaannya sistem di sejumlah proyek di Indonesia dan metode perhitungan yang diusulkan. Hasil penyelidikan skala penuh dan sejarah kasus digunakan untuk menggambarkan perilaku tiang tunggal atau berkelompok, untuk mengamati kesesuaian untuk kondisi tanah tertentu dan untuk mendapatkan gambaran tentang penerapannya. Telah terbukti bahwa sistem tersebut memberikan keuntungan pada peningkatan daya dukung tanah pondasi lunak dan mengurangi penurunan timbunan. Sistem ini telah berhasil diterapkan di banyak proyek dan harus diselidiki lebih lanjut. Ringkasnya, bab ini memberikan wawasan dan gambaran umum tentang penggunaan bambu atau tiang kayu lainnya dan sistem rakit tiang pancang beton untuk praktik geoteknik.

Kesimpulan

Bambu pada konstruksi tanah memang sudah dilakukan dari dulu. Gunanya untuk perkuatan tanah yang lunak.

Leave a Comment

You cannot copy content of this page