Hal – Hal yang jarang diketahui tentang Palestina – Israel

Dari Quora

Yang banyak disalah pahami Palestina – Israel

Rufus Panjaitan

Fakta 1: Palestina itu bukan hanya satu kepemimpinan. Sejak perang saudara 2007, Palestina terbagi dua pemimpin de facto: Tepi Barat dipimpin oleh Otoritas Palestina (PA, didominasi faksi Fatah) yang diakui PBB dan internasional, Jalur Gaza dipimpin oleh faksi Hamas yang didukung Suriah, Iran dan Qatar. Fatah dan Hamas saling membenci satu sama lain.

Fakta #2: “Perang” yang sering terjadi antara Israel dan “Palestina” sejak 2007 sebenarnya adalah Israel vs Hamas atau Islamic Jihad yang menguasai Gaza. Serangan udara Israel biasanya dipicu oleh tembakan roket-roket dari wilayah Gaza. Konflik yang terjadi di wilayah Tepi Barat biasanya terjadi di sekitar lokasi pemukiman Yahudi (Area C) adalah protes oleh warga Palestina yang memprotes kompleks Yahudi dan direspons dengan keras oleh aparat Israel. Jadi sebenarnya gak bisa dibilang ‘perang’.

Fakta #3: Bagi pemerintah Palestina, Palestina tidak identik dengan Islam. Banyak orang Arab Palestina yang beragama Kristen, yang juga punya sikap yang sama terhadap pendudukan Israel. Salah satu pemimpin faksi perlawanan Palestina PFLP bernama George Habash beragama Kristen. Menurut Wikipedia, 2.5% orang Palestina di Tepi Barat beragama Kristen yang tergabung dalam denominasi Orthodoks Timur, Orthodoks Oriental, Katolik, dll.

Fakta #4: Arab Saudi tidak mendukung Hamas. Arab Saudi menganggap Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris, yang berarti juga Hamas (yang juga berideologi IM) termasuk dalam daftar itu. Pemerintah Saudi mendukung PA dan adalah salah satu kontribusi dana operasional terbesar bagi PA, selain US dan EU.

Fakta #5: Sesuai dengan nomor 4 di atas, itu makanya Hamas mendapat dana, pelatihan dan persenjataan dari pemerintah Suriah (yang didominasi penganut Alawiyah) dan Iran (yang beragama Syiah). Ini jadi problematik kalo anggapan orang Indonesia simplistik agama semacam: Palestina = muslim vs Yahudi Zionis vs Syiah laknatullah.

Pemimpin Hamas Khaled Meshal dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei

Fakta #6: Ada banyak warga Israel yang beretnis Arab, mereka disebut dalam bahasa Inggris sebagai Arab Israeli. Mereka mendapat fasilitas sosial yang sama dengan warga Yahudi, bebas beragama dan mendirikan mesjid, membangun sekolah-sekolah menggunakan bahasa Arab. Mereka bahkan punya hak politik: bisa memilih dalam pemilu, membuat partai dan ikut pemilu. Ada beberapa politikus Arab di Knesset (parlemen Israel). Satu hal yang berbeda adalah, warga Arab tidak wajib ikut wamil. Walau begitu, ada beberapa klan Beduin (muslim) yang sudah tradisi turun temurun berprofesi di IDF (militer Israel).

Mesjid el-Jazzar di Acre, Israel
Presenter Arab Israel populer Lucy Aharish

CATATAN: Tentu walau penjabaran di atas memperlihatkan bahwa secara resmi negara Israel tidak mendiskriminasi warga etnis Arab, secara sosial dan politik mereka sering mengalami diskriminasi atau merasa seperti warga negara kelas dua. Tapi hidup mereka jelas lebih baik daripada warga Palestina di Tepi Barat, apalagi di Gaza.

Fakta #7: tidak semua orang Yahudi pro Zionis (khususnya di negara lain). George Soros adalah salah satu warga AS keturunan Yahudi yang kritis terhadap pemerintah Israel.

Fakta #8: kepedulian terbesar bangsa Israel bukan bagaimana menguasai dunia, tapi bagaimana memastikan negara Israel aman. Untuk itu mereka menggunakan lobi-lobi politik di Washington DC (dengan organisasi seperti AIPAC) untuk memastikan kebijakan-kebijakan AS pro Israel. Israel tidak pernah berminat menaklukkan negara-negara Timur Tengah lain. Warga Yahudi Israel yang ekstrim sayap kanan ingin supaya Gaza dan Tepi Barat jadi milik Israel, tapi tidak lebih dari itu.

Rufus Panjaitan (lagi)

Kita ga usah bahas masa lalu lah ya. Jadi lihatnya masalah sekarang saja. Lihat peta dulu supaya lebih paham konteksnya.

Palestina teritori seharusnya adalah Jalur Gaza dan Tepi Barat (West Bank).

Area A: sepenuhnya di bawah kendali Otoritas Palestina (PA). Tidak ada militer atau polisi Israel di sana.
Area B: daerah gabungan, di mana pemerintahan sipil dipegang PA dan militer gabungan Israel dan PA.
Area C: daerah sepenuhnya dikendalikan oleh Israel.
Israel:

Israel adalah negara dengan demokrasi paling maju di Timur Tengah. Sistem politiknya sudah mapan. Masalahnya, sebagaimana di AS sekarang, rakyat Israel terbelah dua antara kubu kiri yang liberal dan ingin penyelesaian 2 negara VS kubu kanan yang cenderung relijius dan ingin mempertahankan status quo.

Kubu kanan masih sangat kuat di Israel. Benyamin Netanyahu sudah jadi PM Israel sejak 2009. Pemerintahan dia tidak pernah niat untuk dialog untuk menuntaskan solusi 2 negara yang sudah mangkrak sejak lama. Hampir tidak ada relasi apa pun antara pemerintahan Israel dengan PA.

Dan yang lebih bikin PA meradang, kompleks pemukiman Yahudi baru terus saja dibangun di Tepi Barat. Deal nya di Perjanjian Oslo adalah damai dulu, lalu area B dan C akan dibicarakan teknisnya kemudian. Ini yang tidak kesampaian sampai Yasser Arafat meninggal, sampai sekarang juga. Khususnya di bawah PM Netanyahu, Area C membengkak dengan pemukiman Yahudi. Ini yang membuat ketegangan di daerah Tepi Barat.

Palestina

Masalah terbesar Palestina adalah, mereka tidak bersatu. Hamas, Jihad Islam dkk vs Fatah, PFLP dkk. (Simplifikasi) Hamas dan Fatah bahkan pernah perang saudara pada 2007 yang menyebabkan Jalur Gaza lepas dari tangan PA, dan sekarang eksklusif dikuasai Hamas. Sampai sekarang Hamas dan Fatah tidak pernah bisa mencapai kesepakatan politik apa pun dengan Palestina. Kalau mau perang dengan Israel, ya Hamas perang sendiri aja. PA yg didominasi Fatah ga ikutan.

Problem dengan PA juga banyak.

Mereka korup. Ini salah satu penyebab Hamas menang Pemilu Palestina 2006.
Mereka tidak membangun sistem politik yang demokratis. Perpolitikan Palestina didasarkan atas faksi-faksi. Sampai sekarang Palestina tidak pernah ada pemilu lagi karena Fatah mempertahankan dominasi mereka di PA.
PA tidak bisa dibilang sukses juga secara diplomasi. Bahkan sekarang teman-teman Arab mereka mulai mengabaikan mereka. Saudi, UAE, Bahrain mulai diam-diam menjalin hubungan dengan Israel, karena untuk mereka konflik dengan Iran lebih relevan daripada Israel-Palestina. Pemerintah Palestina maki kehilangan relevansi mereka dalam geopolitik.
Hamas sendiri terlalu radikal. Penghapusan Israel ada dalam AD/ART mereka. Jadi Hamas tidak punya kapabilitas untuk berdiplomasi dan berdamai dengan Israel. Tapi Hamas tidak bisa meningkatkan popularitas dan pengaruh mereka juga dalam politik dalam negeri Palestina. Hamas malah terlibat dalam konflik Saudi-Iran dengan menjadi pion Iran, karena mereka butuh bantuan teknis militer untuk roket-roketnya. Ideologi mereka yang Ikhwanul Muslimin juga membuat mereka dibenci oleh Saudi, Emirat, dan Mesir. Sempat putus dari Iran dalam konflik Suriah (Hamas berpihak pada pemberontak yang didominasi penganut Sunni), tapi setelah kelihatan konflik Suriah tidak ada ujungnya Hamas kembali berbaik-baik dengan Iran. Selama Hamas masih punya target untuk penghapusan Israel, situasi Jalur Gaza akan tetap begini terus.

Disclaimer:

Penjelasan di atas adalah hasil pengamatan saya pribadi dari membaca berita-berita Timur Tengah. Secara saya tidak punya kredensial bidang HI, silakan kalau ada teman-teman Quora mau memberi masukan atau mengoreksi di komentar. Yang saya tidak akan terima adalah argumen subyektif berdasarkan sentimen agama hahaha 😀

Finn Wicaka

#1. Gaza adalah daerah pendudukan Israel

Mungkin masih banyak yang termakan berita propaganda, baik dari media luar maupun dalam negeri yang menyebutkan Gaza di bawah pendudukan Israel.

Nope. Sejak 21 September 2005, Israel resmi menyerahkan Gaza kepada Pemerintahan Palestina. Artinya segala pengaturan dan administrasi infrastruktur, keamanan, dan sipil menjadi tanggung jawab Pemerintahan Palestina, dengan pengecualian kontrol perbatasan dan wilayah udara.[1]

Penarikan mundur warga sipil dan pasukan Israel dari Gaza ini diprakarsai oleh Ariel Sharon, PM Israel saat itu. Langkah ini dipersiapkan sebagai rencana jangka panjang menghadapi perundingan damai dengan pihak Palestina, sekaligus sebagai test-case untuk mengetahui reaksi warga Israel dan Palestina terhadap rencana perdamaian.

Hasilnya? Gagal total.

Dalam waktu 24 jam setelah Israel menarik diri, seluruh sinagoga di Gaza rata dengan tanah. Bangunan greenhouse untuk produksi sayur dan buah-buahan dijarah dan dibakar.

Dalam waktu 48 jam setelah Israel menarik diri, tanggal 23 September 2005, serangan roket pertama setelah Gaza bebas diluncurkan ke Israel.

Jadi salah satu hal pertama yang dilakukan oleh pemerintahan Palestina setelah Israel menarik diri dari Gaza adalah melakukan serangan roket, dari Gaza.

Bukan rekonstruksi infrastruktur atau pendataan warga. Bukan mempersiapkan perundingan lanjutan. Nope.

Roket. Ke Israel.

Prioritas berikutnya setelah roket? Rebutan kekuasaan antara Fatah dan Hamas. Pada puncaknya, tahun 2007, Hamas menguasai Gaza dan Fatah terusir ke West Bank.

#2. Yahudi adalah “tamu” yang diterima dengan tangan terbuka kemudian merebut tanah Palestina dan mengusir penduduknya.

Pastinya pernah dengar/baca dong. Populer di kalangan tertentu, premis yang terus diulang seakan-akan warga Arab Palestina adalah “tuan rumah” padahal kenyataannya daerah Palestina adalah jajahan Ottoman sebelum “dibebaskan” oleh Inggris dan warga Arab Palestina maupun Yahudi Palestina hidup bersama (dalam artian berteman, bermusuhan, bersaing, bersekutu; you know, like, life) di daerah tersebut. Semua penduduk di wilayah tersebut di identifikasi sebagai penduduk Palestina (baik semasa Ottoman maupun semasa Mandat Palestina). Tidak ada Tamu dan Tuan Rumah. Dan biasanya supaya lebih dramatis diikuti oleh nomer 3 berikut.

#3. Yahudi merampas wilayah/Palestinian Loss of Land.

Map dari: Misleading Palestinian Maps Twist the Truth

Ini adalah versi 5 peta, termasuk “Trump Plan”. Yang biasa beredar adalah versi 4 peta, tapi inti kebohongannya sama.

Peta pertama disajikan dengan daerah hijau sebagai 100% milik “Palestina” padahal di tahun 1917 belum ada PLO, Fatah, Hamas, apalagi Palestina seperti sekarang. Kategori kepemilikan tanah pada waktu itu adalah tanah pribadi (milik perorangan/organisasi), tanah wakaf, dan tanah negara. Sebagian besar (81%) adalah tanah milik negara (Ottoman/Mandat Palestina) atau wakaf​​. Hanya 19% dari daerah hijau tersebut merupakan milik swasta. (Yahudi 7.4%, Arab 11.6%)

7.4% Jewish ownership (direct or through Jewish land funds).

11.6% Arab-Palestinian owner-residents.

6.9% Foreign owners, mostly Arab or prior Ottoman owners.

44.1% State-owned Public land.

26.5% State-owned/feudal-system leased land (Miri)

3.5% Religious trusts (Islamic Waqf, Greek Orthodox Church)

sumber: Israel-Palestine land division

Peta kedua adalah rencana partisi Peel Commission yang diterima Yahudi dan DITOLAK Arab. Rencana ya, belum terjadi karena pihak Arab tidak setuju. Hilang tanah nya dimana? Di imaginasi yang dipaksakan jadi kenyataan. Alias halu.

Peta ketiga adalah UN Partition Plan, yang diterima Yahudi dan DITOLAK Arab. Negara Israel kemudian didirikan berdasarkan batas2 wilayah menurut rencana partisi ini.

Peta keempat adalah gambaran setelah perang kemerdekaan Israel, dimana Israel diserang pasukan gabungan Liga Arab sehari setelah negara Israel berdiri. Peta ini menunjukkan batas/garis gencatan senjata, bukan batas wilayah resmi.

Peta kelima mirip situasinya dengan peta kedua, pihak Palestina mengklaim hilangnya wilayah imajiner, akibat dari tidak terlaksananya perundingan. Saya negosiasi kontrak kerja 10 juta dengan anda. Nego gagal, transaksi batal, dan anda klaim saya gak bayar. Kira-kira seperti itu gambaran sederhananya. Kebayang kan pintarnya yang memakai peta di atas untuk dis-informasi.

#4. Tujuan akhir Hamas/Fatah adalah kemerdekaan Palestina dengan two-state solution.

Bendera HAMAS

Bendera Fatah

Bendela PLO

Apa persamaannya?

Itu adalah peta wilayah Mandat Palestina. Tanpa Israel.

Memang benar bahwa Arafat menyurati Rabin dan memberikan pengakuan atas Israel. Tapi harus diingat, PLO didirikan untuk menghancurkan Israel. Ini tercantum di AD/ART organisasi PLO.

Anda lihat peta hijau di ketiga bendera di atas? Mereka menginginkan seluruh wilayah Israel.

Ada organisasi yang didirikan untuk menghancurkan Israel, dan hal tersebut dijelaskan di AD/ART dan tergambar di benderanya. Sekarang ketuanya bilang mengakui Israel tapi tidak mau meng-amandemen AD/ART nya yang menyebutkan ingin menghancurkan saya.

Kalau saya jadi pemimpin Israel, saya akan merasa curiga dan ambil aman. Ente rubah dulu AD/ART baru bisa nego serius. Lidah tak bertulang, makanya perlu tinta yang tak mudah hilang.

Maksudnya jelas bukan? Bagi Hamas dan Fatah, tujuan perjuangan mereka adalah kehancuran Israel dan bukan kemerdekaan Palestina. Bukan, ini bukan kesimpulan saya pribadi.

Silahkan tonton dan ambil kesimpulan sendiri.

Perdamaian sebagai alat, bukan tujuan.

Sejarah Palestina – Israel

Okta Bramantio

Yang salah dalam konflik Palestina – Israel : Inggris

1. Tahun 1915–1916 Letkol Henry McMahon, High Commissioner Inggris di Mesir, berbalas surat dengan Hussein Bin Ali, Pemimpin Mekkah, bahwa Inggris akan menjamin kebebasan dan kemerdekaan negara Arab dengan wilayah yg sekarang Israel-Palestina, Arab Saudi, Oman, Yemen, Qatar, dan Bahrain, jika orang2 Arab melakukan pemberontakan kepada Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire). Tujuannya adalah untuk memukul mundur daerah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah di perang dunia pertama dan memenangkan perang. Pada akhirnya orang Arab benar-benar melakukan pemerontakan ke Kesultanan Utsmaniyah dan bisa memukul mundur sampai keluar Timur Tengah.

2. Tahun 1916, Inggris dan Perancis melakukan perjanjian tersembunyi untuk membagi daerah Timur Tengah menjadi daerah kekuasaan Inggris dan Perancis. Nah daerah-daerah yg dijanjikan Inggris di poin 1, ditambah beberapa daerah lain masuk ke daerah kekuasaan nya Inggris. Perjanjian ini kemudian dikenal sebagai perjanjian Sykes-Picott tahun 1916.

3. Tahun 1917 Pemerintah Inggris melalui Arthur Balfour, sekretaris luar negeri waktu itu, membuat sebuah deklarasi bernama Deklarasi Balfour untuk membuat sebuah negara khusus untuk orang Yahudi di Palestina (nama daerah bukan nama negara; sekarang Israel-Palestina). Tujuannya adalah untuk menarik simpati masyarakat Inggris etnis Yahudi yang pada masa itu dipersekusi di Eropa. Orang-orang Yahudi dipersekusi karena gerakan nasionalisme mulai muncul di berbagai negara di Eropa dan mereka dianggap sebagai orang asing dan tidak layak tinggal di Eropa. Oleh sebab itu mereka ingin ada negara khusus yg mau menampung orang Yahudi. Inilah yg disebut gerakan Zionisme.

Ketika perang dunia sudah selesai, tahun 1920 kemudian Inggris meng-annex Palestina (nama daerah bukan nama negara) sebagai daerah jajahannya. Kaum Yahudi di Inggris dan Eropa kemudian secara gradual migrasi ke Palestina (nama daerah bukan nama negara) dari 1920 sampai 1930an. Pada 1940an, ketika perang dunia kedua dan Nazi mulai menguasai banyak daerah, penduduk Yahudi di Eropa mulai migrasi besar-besaran ke Palestina (nama daerah bukan nama negara) untuk menyelamatkan nyawa mereka dan keluarganya.

Di akhir perang dunia kedua, Inggris sudah kewalahan mengurus British Mandatory of Palestine (sebut saja Daerah Palestina) dan memberikan hak kemerdekaan kepada kaum Yahudi dan kaum Arab di sana. Kemudian Inggris meninggalkan wilayah tersebut tanpa ikut campur lebih lanjut.

Orang Yahudi dengan senang hati menerimanya dan 1948 mereka mengumumkan kemerdekaannya, sebagai negara Israel. Sementara orang Palestina tidak sepakat dan mencoba mengusir orang Israel dari Timur Tengah. Mereka menahan untuk memproklamirkan kemerdekaan nya sampai tahun 1988, sehingga secara hukum 1948–1988 di daerah tersebut hanya ada 1 negara yaitu Israel dan wilayahnya merupakan wilayah tak bertuan yg boleh untuk diklaim.

Jadi kesimpulannya adalah Inggris janji kalo daerah itu adalah daerah milik Yahudi, Arab, dan Inggris pada saat yang bersamaan terus abis itu pergi gitu aja pas ada masalah. Nah sehingga, orang ini yg harusnya mikir solusi di Timur Tengah

Ry Sandhi

SISI GELAP DAN CERAH EROPA

Anda ingin mengetahui siapa yang salah dalam konflik Palestina – Israel?

Pertama kita harus kembali ke masa dimana kekaisaran Ottoman masih ada, satu-satunya negara kekhalifahan yang tersisa, dan merupakan masa-masa dimana kejayaan Islam masih berdiri.

Lalu disamping sisi cerah Eropa, dimana peradaban menjadi berkembang maju di tangan kekhalifahan Islam Utsmaniyah (Turki, Ottoman), saya juga akan mengajak anda untuk melihat sisi lain dari Eropa. Melihat masa-masa kegelapan Eropa. Saat dimana orang-orang Yahudi di bantai dan di persekusi oleh orang-orang Kristen di Perancis dan Spanyol.

Ironis, saya melihatnya sangat ironis. Agama yang selama ini mengaku sebagai “agama kasih” tapi justru menunjukkan kekejamannya. Sementara di masa sekarang mereka mengklaim bahwa agama mereka adalah agama kasih, dan melemparkan status agama ekstrimis, teroris, dll kepada agama lain.

ULURAN TANGAN KEKAISARAN OTTOMAN UNTUK KAUM YAHUDI

Allah berfirman dalam Alquran bahwa umat yang paling keras kebenciannya kepada Islam adalah orang-orang Yahudi. Dan kamu akan percaya jika kamu benar-benar mengetahui seluruh sejarah

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ….” [al-Ma’idah/5 : 82]

Bahkan dengan petunjuk (wanti-wanti) yang jelas itu dari Allah subhanahu wa ta’ala, kekhalifahan Islam Kekaisaran Ottoman dengan tangan terbuka mau menerima kaum Yahudi dari terkaman orang-orang Kristen di Eropa. Di Ottoman, Yahudi bisa hidup dengan bebas dan damai, beribadah sesuai agama mereka, bahkan agama mereka penganutnya terus tumbuh dan berkembang.

Dengan kasihnya yang begitu besar kepada umat lain yang notabene bukan saudara seiman mereka, Islam di cap sebagai agama EKSTRIMIS di masa sekarang hanya karena sejumlah kelompok yang bertindak diluar “garis batas” yang sudah Allah dan rasulnya tentukan dalam Alquran, atau diluar tapal batas HAM yang para Aktivis PBB tetapkan.

Sementara itu, di saat Yahudi mendapatkan perlindungan dan kedamaian dari Ottoman selama berpuluh bahkan ratusan tahun, tiba-tiba Inggris datang menjalankan penjajahannya atas kekaisaran Ottoman. Mereka berhasil menaklukkan Ottoman di PD 1. Di saat yang (kurang lebih) sama, pembantaian orang-orang Yahudi atas Jerman tengah berlangsung dan menjadi tragedi kemanusiaan yang hebat. Kaum Yahudi mengungsi ke sejumlah wilayah, termasuk salah satunya ke Inggris.

Dalam proses diantara PD1 dan PD2, Inggris menjajah sejumlah wilayah lepasan kekaisaran Ottoman (sementara Ottoman yang masih ada sekarang berubah nama menjadi Turki dan berubah menjadi negara sekuler). Salah satu wilayahnya adalah Palestina.

Saat Inggris menjajah Palestina, dan di saat yang sama mereka menerima banyak pengungsi Yahudi. Inggris berupaya menolak kedatangan pengungsi lebih banyak ke wilayah mereka dengan berencana menjadikan wilayah Palestina sebagai tempat penampungan Yahudi, merunah tanah ini menjadi dua buah wilayah (mirip solusi dua negara saat ini) yang satu adalah Wilayah Yahudi, dan lainnya wilayah penduduk pribumi Palestina

Pihak Palestina yang belum tau misi kedatangan Inggris dan Yahudi ke tanah mereka, sebelumnya adem ayem dengan kedatangan Yahudi, karena toh awalnya saat Palestina masih menjadi wilayah kekuasaan Ottoman, mereka juga menerima kaum Yahudi dan hidup bersama mereka. Ternyata, Inggris berencana membuat suatu wilayah yang berisikan orang-orang Yahudi di tanah Palestina. Wilayah Palestina pun dibagi menjadi dua kawasan, yang mana kawasan pertama berisi orang Yahudi, dan kawasan lainnya berisi orang-orang Palestine.

Dalam rencananya, pihak Inggris melatih orang-orang Yahudi untuk berperang, memegang senjata, dan berbagai kemampuan tempur lainnya, sebagai cikal bakal untuk membentuk negara Yahudi. Inggris juga memberikan sejumlah persenjataan kepada pengungsi Yahudi.

Mendengar pembentukan wilayah Yahudi di tanah mereka, warga Palestina melakukan perlawanan dengan menyerang pasukan Inggris yang membawa orang Yahudi. Inggris pun tak tinggal diam dan melakukan perlawanan kembali kepada penduduk pribumi Palestina. Sejumlah tokoh pemimpin Palestina di eksekusi, di gantung dan di culik.

Saat orang-orang Palestina dan pasukan Inggris sibuk berperang, orang-orang Yahudi ini diam-diam malah menyusun strategi untuk melakukan gerakan, untuk mempercepat pembentukan negara Yahudi. Pasukan Inggris yang selama ini membantu mereka untuk membentuk negara Yahudi, malah di tikam dari belakang. Pasukan Zionis Yahudi menyerang pasukan Inggris, kemudian merebut persenjataan mereka.

Tak disangka, perlawanan Yahudi begitu kuat hingga Inggris tidak lagi mampu mengendalikan pergerakan Yahudi. Kewalahan melawan Yahudi dan Palestina, Inggris “cuci tangan” dengan meninggalkan wilayah Palestina yang saat itu sedang berkecamuk. Dan menyerahkan kekacauan yang mereka tinggalkan di Palestina kepada PBB, sampai sekarang.

PBB dalam mengatasi permasalahan yang berkecamuk di tanah Palestina, membagi kawasan Palestina menjadi dua bagian, dimana satu bagian adalah kawasan Palestina, dan sebagian lainnya adlah kawasan Yahudi, dengan wilayah Yahudi lebih luas dibandingkan luas wilayah milik rakyat asli Palestina. Yang sampai detik ini kita sebut sebagai Solusi Dua Negara.

Bahkan dengan kawasan yang lebih luas diberikan kepada mereka dibanding luas Palestina, Yahudi pun masih merasa tidak puas. Mereka bangsa Yahudi melakukan eskalasi, menyerang penduduk pribumi Palestina dan mengusir mereka dari tanah mereka sendiri, dan terus memperluas wilayah kekuasaan mereka. Bahkan mereka juga berniat merebut tanah suci tempat dimana Baitul Maqdis berdiri, di Yerusallem.

YAHUDI-LAH YANG MENGUSIR PENJAJAH INGGRIS DARI TANAH PALESTINA?

Anda akan mendengar orang Yahudi dan yang pro terhadap mereka berkata bahwa sebenarnya Yahudi telah berjasa mengusir penjajah Inggris dari Palestina melalui tangan Urgun, Lagana, dan Lahidi. Apakah benar demikian?

Nyatanya, ya… Zionis berhasil mengusir Inggris. Ironisnya, mereka seolah lupa dengan kedamaian yang mereka dapatkan dari muslim selama masa kejayaan Ottoman. Setelah mengusir penjajah Inggris, lantas mereka malah menyerang pejuang Palestina.

Dan benarlah ayat-ayat Allah, begitu pula dengan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang menjelaskan tentang sifat-sifat mereka:

Menyembunyikan Kebenaran
Khianat, Ingkar Janji Dan Membuat Tipu Muslihat.
Merusak, Mengobarkan Fitnah Dan Peperangan.
Merendahkan Orang Lain.
Suka merampas Harta dan hak orang lain.
Keras hati
Serakah, Tamak Dan Ambisius Terhadap Kehidupan Dunia.
Membenci Kaum Muslimin Dan Selalu Membuat Makar Terhadap Mereka
ANTISEMITISME KARENA MENDISKREDITKAN DAN MEMUSUHI ISRAEL

Ada beberapa Orang Yahudi, termasuk Benjamin Netanyahu sendiri yang berkata kau Anti-Semit, negara ini dan itu anti semit, alasannya karena kau memusuhi bangsa Israel.

Hei, kau harus belajar bahasa bung. Apa itu Antisemitisme? Antisemitisme adalah suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap “orang Yahudi” dalam bentuk-bentuk tindakan penganiayaan/penyiksaan terhadap agama, etnik, maupun kelompok ras, mulai dari kebencian terhadap individu hingga lembaga.

Jadi, jangan salah bung. Kau tau, kami tidak masalah hidup berdampingan dengan Yahudi dalam sebuah negara. DAN FAKTANYA HAL ITU TELAH TERJADI SELAMA KEKHALIFAHAN UTSMANIYAH BERDIRI.

Yang kami permasalahkan adalah bagaimana bisa Yahudi yang selama ini diterima dengan tangan terbuka oleh negara muslim, malah menikam muslim dari belakang.

Kalau Antisemitisme adalah istilah untuk mendeskripsikan orang-orang yang memusuhi negara Israel, maka ya… saya tak masalah kalian menghakimi saya sebagai antisemit, dan saya memang ANTISEMIT karena saya membenci Negara Israel dan mempermasalahkan tapal batas 1967.

Tapi FAKTANYA Antisemitisme bukanlah itu. ANTISEMITISME ADALAH suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap YAHUDI dalam bentuk-bentuk tindakan penganiayaan/penyiksaan terhadap agama, etnik, maupun kelompok ras, mulai dari kebencian terhadap individu hingga lembaga. Seperti yang sudah dilakukan oleh Nazi Jerman dalam tragedi Holocaust.

Kau tau, Islam tidak mempermasalahkan jika seorang Yahudi memiliki tanah kelahiran, itu hak mereka. Dan selama kekhalifahan Utsmaniyah berdiri, FAKTANYA Yahudi memiliki tanah kelahiran disana (Utsmaniyah) .

Yang kami permasalahkan adalah, JANGAN RAMPAS TANAH KELAHIRAN ORANG LAIN, LALU KAU JADIKAN TANAH ITU SEBAGAI TANAH KELAHIRANMU SENDIRI, LALU MERAMPAS BAHKAN MENGUSIR TANAH PENDUDUK PRIBUMI. Dan ini terang-terangan terjadi, sampai-sampai ada penduduk Israel yang berkata:

“JIKA AKU TIDAK MENCURINYA, MAKA ORANG LAIN YANG AKAN MENCURINYA” di Syaik Jarrah. DAN Faktanya NEGARA ISRAEL MELINDUNGI ORANG-ORANG YANG SEPERTI ITU.

Orang Yahudi tau sebelum inkuisi pada tahun 1942 orang-orang Yahudi melarikan diri dari Kristen Barat. Kau tau kemana mereka mengadu? Kemana mereka melarikan diri? KEPADA UMAT MUSLIM. Dan kalian Yahudi tau bahwa kami tidak masalah hidup berdampingan dengan kalian, tapi jangan membebani kami dengan tingkah polah kalian, jangan! Hidup berdampingan bukan berarti kalian masuk ke “rumah kami” lalu berkata : “KALAU AKU TIDAK MENCURINYA, MAKA AKAN ADA ORANG LAIN YANG MENCURINYA.”

Bahkan bisa saya katakan Zionis itu lebih buruk dari ISIS. Kalian tau ISIS? Mereka biadab, karena kau tau, bagaimana kejamnya mereka. Memenggal leher orang, memperkosa, dsb. Mengeksekusi wartawan dan orang tidak berdosa. Itulah biadabnya ISIS. Tapi bahkan dengan kebiadaban itu ISIS masih lebih baik ketimbang Zionis. Karena apa? Karena mereka ISIS membangun negara di atas kaki mereka sendiri, mereka berjuang dengan kekuatan mereka sendiri. Tapi Israel apa? Mereka berlindung dibawah ketiak Inggris untuk menjadi sebuah negara, tapi mereka malah menikam penolong mereka (INGGRIS dan ISLAM) . Dan hal yg sama terjadi di masa lalu. Saat Islam (kekaisaran Ottoman) banyak menolong Yahudi, tapi mereka belakangan malah merampas tanah penolong mereka.

Israel membentuk “Tatanan Dunia Baru” alias New World Order dalam kepemilikan tanah atau negara. Jika suatu negara /kerajaan akan menguasai negara lain, negara itu harus berperang atau menaklukkan wilayah lain. Tapi Israel, mereka bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, tidak punya negara, lalu mereka tiba-tiba datang di tengah konflik Inggris dan Palestina, dan menghancurkan kedua belah pihak lalu mendirikan bendera mereka dari sana, mereka berkata “Inilah negaraku, wilayahku”.

JANGAN KAU CAMPUR BAURKAN KONFLIK ISRAEL-PALESTINA DENGAN AGAMA, INI BUKAN KONFLIK AGAMA

Jika anda tidak masalah dengan saya yang beragama Islam, saya akan jawab. Dan sebagai muslim, syariat agama saya mengatur seluruh perkara hidup umat muslim. Mulai dari perkara Kecil seperti buang air kecil dan memotong kuku, sampai perkara besar yang mencakup kematian dan perang.

Dengan kata lain, saya tidak “berpendapat” dalam perkara agama. Apa yg saya bicarakan adalah yg sesuai dengan rules dalam agama saya, yaitu Alquran dan Hadits. Termasuk dalam hal perang, jika kalian berdalil dengan “di Israel ada muslim, dan juga ada muslim yang jadi pasukan IDF Israel dan ikut berperang dengan Palestina”, maka saya katakan: orang-orang muslim Palestina dan Muslim Israel pun terikat pada hukum Islam, bahkan meski mereka menolaknya. Karena hukum agama tetap berlaku bagi tiap-tiap umat muslim

Jika anda tidak keberatan saya berbicara dengan membawa rules dalam Islam, maka silahkan lanjutkan baca. Jika keberatan, silahkan tinggalkan tulisan saya. Karena sebagian atheis atau pendukung Israel selalu berhujjah “Mabok agama-lah, fanatisme agama lah, bla bla bla..”

Loh, saya muslim, bukan Atheis. JIKA anda atau mereka bukan orang yg beragama atau anda tidak taat agama, itu urusan kalian, dan saya tidak pernah mempermasalahkan kefasikan dan ke-atheis-an kalian bukan? Jadi Kenapa kalian malah mempermasalahkan ketaatan saya kepada agama saya?

Oke, itu saja pembuka. So, bagaimana tentang tentara muslim Israel?

الحَدِيْثُ الرَّابِعُ عَشَرَ

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَحِلُّ دَمُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ المُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga sebab: (1) orang yang telah menikah yang berzina, (2) jiwa dengan jiwa (membunuh), (3) orang yang meninggalkan agamanya (murtad), lagi memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim) (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 6878 dan Muslim, no. 1676]

Hadits di atas jelas bukan? Darah seorang muslim itu haram bagi muslim lainnya untuk di bunuh. Namun jika ada seorang muslim (tentara IDF muslim) yang membunuh muslim Palestina , terlebih-lebih ia melepaskan diri dari jamaah Islam, maka telah halal darahnya, dan kami boleh membunuhnya.

Orang yang memisahkan diri dari jamaah tanpa udzur (memberontak kepada pemerintah muslim yang sah) telah menjadi halal darahnya. Dengan kata lain, berpihak pada Israel dan memerangi pemerintahan muslim (Palestina) adalah sama dengan berkhianat, dan telah halal darahnya. Karena secara historis dan agama, Palestina adalah pemerintah muslim yang sah awalnya.

Hadits dibawah juga menguatkannya. Israel saat ini statusnya adalah perampas harta muslim, tanah muslim, dan ya… mereka masih melakukannya saat ini di West Bank, dan terbaru di Syaikh Jarrah. DAN ISRAEL MELINDUNGI RAKYATNYA YANG INGIN MERAMPAS RUMAH DAN TANAH PALESTINA. Dengan kata lain, Israel adalah pencuri. Apa kata rasulullah jika ada seorang pencuri ingin merampas harta kita. Bahkan meski pencuri itu seorang muslim?

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِى قَالَ « فَلاَ تُعْطِهِ مَالَكَ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِى قَالَ « قَاتِلْهُ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِى قَالَ « فَأَنْتَ شَهِيدٌ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ قَالَ « هُوَ فِى النَّارِ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?”

Beliau bersabda, “Jangan kau beri padanya.”

Ia bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”

Beliau bersabda, “Bunuhlah dia.”

“Bagaimana jika ia malah membunuhku?”, ia balik bertanya.

“Engkau dicatat syahid”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”, ia bertanya kembali.

“Ia yang di neraka”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim no. 140).

Hadits di atas bersifat umum (karena tidak spesifik menyebut agama pencuri) , tidak membedakan agama. Jika seorang muslim hartanya dirampas muslim lainnya, maka si pencuri pun boleh dibunuh,. Meski ia Islam.

Jika kita kembali ke saat Israel belum menjadi sebuah negara, orang Yahudi pengungsi tragedi Holocaust, dibawah naungan pemerintahan Inggris, mengkudeta pemerintahan Palestina saat itu. Setelah sebelumnya mereka juga Mengkhianati dan memerangi pasukan Inggris di Palestina.

Jadi jika ada pasukan Israel beragama Islam, maka dia adalah pengkhianat karena menyerang saudaranya sendiri.

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَتْلُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا.

“Dosa membunuh seorang mukmin lebih besar daripada hancurnya dunia.” (HR. An-Nasa’i, 7?83. Dikatakan shahiholeh Syaikh Al-Albani dalam Ghayah Al-Maram fii Takhrij Ahadits Al-Halal wa Al-Haram, no. 439)

Orang-orang Muslim Israel juga sudah sewajibnya hijrah ke negara lain. Dan jangan sampai malah ikut jadi pasukan perang Israel. Karena beberapa alasan seperti:

Sedang berlangsung perang melawan saudara muslim mereka sendri(Palestina)
Sering terjadi tindak rasisme di Israel kepada orang Islam/arab
Konflik dan pertumahan darah. Yang membuat jiwa mereka terancam.
Orang-orang muslim yang bertahan di Israel, Allah mengancam mereka:

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya : ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini.?’ Mereka menjawab :’Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)’. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya di Neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. [An-Nisaa : 97]

Karena menjadikan musuh umat muslim sebagai pemimpin (tanpa udzur) adalah haram.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu, termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim, maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasharani) seraya berkata :’Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada rasulNya) atau suatu keputusan dari sisiNya, maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka” [Al-Maidah : 51-52]

HAMAS ITU TERORIS KARENA MENJADIKAN PENDUDUK SIPIL PALESTINA SEBAGAI TAMENG HIDUP

Informasi tersebut dari barat kan? DARI Israel? Ya jelas lah…

Apakah Hamas pernah menjejerkan anak-anak dan perempuan di depan, dan mereka berperang dibalik perisai anak2 dan perempuan itu? tidak pernah tuh.

Bagaimana kalau anda, saya ajak untuk berfikir terbalik:

Pernahkah anda berfikir, saat Yahudi di bantai oleh Nazi Jerman dalam tragedi Holocaust, saat muslim Rohingya dibantai di Myanmar, ada berapa juta manusia yang mengungsi ke negara lain? Ada banyak sekali. Ratusan? Ribuan? Tidak, bahkan mencapai jutaan angkanya.

Lalu pernahkah kalian berfikir, kenapa manusia di Gaza tak mengungsi ke negara lain sebagaimana para Yahudi itu mengungsi saat dibantai oleh Jerman?

Karena para Zionis itu memblokade Palestina, membangun tembok yang menjulang tinggi di perbatasan, dan menjaga ketat perairan Gaza sehingga tidak ada manusia Palestina yang bisa keluar dari tanah mereka untuk melarikan diri, mengungsi, belajar, atau mencari kehidupan baru di negeri lain. Dalam “penjara” itu lalu Zionis itu menzalimi, menembaki (peluru karet/api), bahkan mem-bom Gaza. Tak ada yang bisa melarikan diri dari sana, dan para Zionis membombardir mereka. Akibatnya, perempuan dan anak-anak mati.

Anda bisa ibaratkan ini, dengan menaruh ribuan semut ke dalam botol kaca (penjara) . Lalu anda masukkan mercon / petasan ke dalam botol itu. Apa yang terjadi? Banyak semut yang akan mati setelah petasan meledak. Itulah pemisalan Israel terhadap Palestina. Bukan Hamas yang menjadikan mereka tameng hidup, tapi Israel yang menjadikan penduduk sipil Palestina seperti ibarat semut diatas.

Masalah banyaknya anak-anak dan perempuan yang mati di Gaza, bukan karena Hamas menjadikan mereka tameng hidup. Tapi karena gaza adalah kawasan padat penduduk, yang penduduknya di kurung dalam tembok tebal yang dijaga, sehingga mereka para penduduk Palestina tidak bisa melarikan diri ke tempat yang aman. Lalu para Zionis itu dengan “tangan dinginnya” membom wilayah itu, dan tak ada yang bisa melarikan diri dari bom Zionis itu.

Hal – Hal yang jarang diketahui tentang Palestina

Carlos Ramirez

Yg bilang palestina itu terjajah pasti gak pernah ngeliat Rawabi. Pemukiman elit palestina, bayak orang saudi pindah buat tinggal disitu. Yg diributin itu benernya bukan palestina tapi Gaza. Isinya asshole fanatik garis keras anti Israel. Dia gak mau merdeka, dia mau Israel musnah. Jadinya yah dikandangin dan di anexx pelan pelan. Liat Rawabi. Dah maju, dagang sama yordan juga brand brand elit bertebaran di mall mall.

Sejarah Nama Palestina

Wahyu adi Pratama

1. Bahwa bangsa Yahudi merupakan salah satu suku bangsa pertama yang membangun kota Yerusalem dan sekaligus mendirikan kerajaan Israel jauh sebelum intrusi bangsa Arab ke wilayah tersebut. Yahudi mendirikan kerajaan Israel yang menurut catatan merupakan lebih dulu ada.

2. (Tahun 1200 BC) Kerajaan Israel dan kerajaan-kerajaan lain di pesisir Mediterania timur (termasuk Mesir Kuno) selalu mendapat serangan dari bangsa Filistin (Philistines). Bangsa Filistin adalah bangsa laut yang berasal dari utara (people of the sea). Mereka melakukan raid, invasi terhadap kota-kota pesisir Mediterania timur. Diperkirakan berasal dari Crete

3. (Tahun 1200 BC) Kerajaan Mesir kuno yang sudah lelah dengan serangan, invasi dari bangsa Filistin kemudian membiarkan mereka berlokasi di wilayah yang berbatasan dengan Kerajaan Israel sebagai upaya damai supaya mereka tidak menjarah lagi (Mesir Kuno saat itu sedang masa-masa yg cukup merosot).

4. Sifat menjarah bangsa Filistin tidak hilang dan malah kemudian mulai berkonflik dengan tetangganya, Kerajaan Israel. Cerita David vs Goliath merupakan salah satu yang menceritakan bagaimana konflik Filistin vs Israel. Kedua peradaban ini terus berseteru sampai akihrnya wilayah mereka masing-masing diabsorb oleh Neo-Babylonian Empire, per abad ke-5 BC

5. Ketika Imperium Romawi menguasai wilayah Judea (bekas Kerajaan Israel kuno), terjadi pemberontakan orang-orang Yahudi yang disebut Bar Kokhba Revolt (132–136 CE). Oleh kaisar Roma pada saat itu (Emperor Hadrian) kemudian memutuskan untuk memberantas pemberontakan tersebut dan berakibat pada hancurnya sebagian bait Herodes (bait kedua, bait pertama hancur oleh Babylonia) dan terusirnya orang-orang Yahudi dari Jerusalem. Roma kemudian memutuskan untuk menghapus jejak sejarah orang-orang Yahudi terhadap tanah asalnya agar supaya tidak terjadi pemberontakan lagi di kemudian hari. Caranya? Dengan mengganti nama Judea menjadi Philistina, berasal dari kata Filistin yang merupakan musuh utama Kerajaan Israel. Ini dimaksudkan untuk selain menghapus jejak historis bangsa Yahudi atas tanah Judea, juga untuk menghukum sekaligus mempermalukan mereka karena wilayah dimana mereka berdiri dinamai nama musuh utama Kerajaan Israel Kuno. Provinsi Philistina kemudian digabung dengan Provinsi Syria sehingga menjadi Provinsi Syria-Philistina/Palestine

6. Penamaan wilayah Philistina (Palestine) ini tidak pernah berganti sejak pertama kali dicetuskan oleh Romawi hingga ketika berakhirnya kekuasaan Ottoman (Turki Ustmani) setelah kalah dalam PD 1. Dalam arsip Ottoman, wilayah tersebut juga dinamakan distrik provinsi Palestine[5]. Sejak dinamai Philistin, berbagai macam bangsa/kerajaan yang menguasai tanah tersebut selalu menamai wilayah tersebut sebagai Philistine.

7. Setelah Turki Ustmani (Ottoman) kalah dalam Perang Dunia 1, wilayah-wilayah Ottoman karena kalah perang dibagi2x oleh tiga Great Powers : Perancis, Inggris, dan Russia. Berdasarkan perjanjian Skyes-Picot, Inggris mendapat Palestina (Palestina hari ini, Israel, dan Jordania), Arab Saudi, dan Iraq. Perancis mendapat Lebanon dan Syria.

8. Inggris bermaksud menjadikan wilayah Palestina + Jordania sebagai wilayah negara Yahudi. Hal ini tertuang dalam Dokumen Mandate of Palestine

9. Pemimpin-pemimpin suku arab waktu itu menolak keras wilayah sebesar itu dijadikan negara Yahudi yang hanya minoritas. Mereka mendesak agar wilayah khusus untuk bangsa Arab dipisah dengan wilayah yang khusus Yahudi. Maka kemudian wilayah Mandate of Palestine dipisah menjadi 2 : Palestina untuk orang Yahudi dan Jordania untuk orang Arab. Peristiwa ini dikenal sebagai Partisi Pertama

10. Dari sini kita ketahui Palestina memang dimaksudkan untuk dijadikan sebagai Negara Yahudi sebelum kemudian berganti nama jadi Israel. Di Dokumen mandat juga disebutkan demikian.

11. Meskipun sudah dipartisi, orang-orang Arab yang tinggal di wilayah Palestina tidak mau wilayahnya menjadi Negara Yahudi (dipimpin oleh orang2x Yahudi, bukan oleh orang2x Arab). Kedua kelompok juga sering melakukan konflik sipil. Hal ini terus berlangsung hingga sebelum PD 2.

12. Ketika PD 2 berlangsung, NAZI Jerman melakukan kontak dengan pemimpin Muslim Palestina. Keduanya sepakat untuk membentuk brigade yang bertujuan mengusir Inggris dan orang-orang Yahudi dari Palestina dan mencegah berdirinya Negara Yahudi.

13. Ketika PD 2 berakhir, eksodus orang-orang Yahudi dari Eropa semakin tak terkendali, terlebih setelah kabar akan dibentuk Negara Yahudi di Palestina yang merupakan wilayah historis mereka. Orang-orang Yahudi yang udah lelah dengan diskriminasi yang dilakukan oleh orang-orang Kristen tanpa ba bi bu be bo langsung tancap gas eksodus ke Palestina. Rombongan eksodus yang terbesar berasal dari negara-negara Eropa Timur.

14. Memasuki tahun 1946–47, konflik antara orang Arab dan Yahudi di Palestina semakin intens. Inggris kemudian menyerahkan mandate of palestine kepada PBB yang waktu itu baru dibentuk. PBB kemudian mengeluarkan resolusi 1947 yang mempartisi lagi wilayah Palestina. Resolusi ini disebut sebagai Partisi Kedua. Dalam resolusi kedua ini, wilayah Jerusalem berada dibawah rezim Internasional sebagai solusi agar tempat suci kedua agama terjaga

15. Meskipun sudah mendapat wilayahnya sendiri, orang-orang Arab tetap tidak menyetujui wilayah partisi tersebut. Dilain pihak, orang-orang Yahudi menerima resolusi tersebut meskipun wilayah partisi jauh lebih kecil dibanding wilayah yang diperuntukkan bagi orang-orang Arab. Maunya semua Palestina berada dibawah kuasa orang-orang Arab. Orang – orang Yahudi yang sudah tidak sabar kemudian pada tahun 1948 mendirikan dan menamai wilayah partisi mereka sebagai Israel (ga pake nama Palestina). Kemerdekaan Israel dilanjutkan esoknya dengan perang Arab-Israel Pertama.

16. Perang Arab-Israel pertama berlangsung selama 1 tahun. Hasil akhirnya Israel menang dengan dikuasainya wilayah yang lebih luas.

Ket :
Hijau bagian Gaza dikuasai Mesir. Hijau bagian Tepi Barat dikuasai Yordania
Merah dikuasai oleh Israel. Biru merupakan wilayah Israel menurut Resolusi 1947

17. Ketika Israel mendeklarasikan kemerdekaanya tahun 1948, saat itu belum ada deklarasi kemerdekaan yang dilakukan orang-orang Arab atas wilayah partisi menurut Resolusi PBB 1947. Meskipun waktu itu ada pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Palestina tapi secara de facto dan de jure, negara Palestina belum ada sama sekali. Pihak yang mengakui kemerdekaan Indonesia saat itu pun tidak mewakili otoritas resmi Palestina (ya negaranya aja belum berdiri). Jadi bisa dibilang, pihak yang menyatakan pengakuan kemerdekaan Indonesia saat itu merupakan perwakilan orang-orang Arab yang menduduki wilayah Partisi menurut resolusi PBB 1947 yang diperuntukan bagi mereka.

18. Ketika peristiwa Nakba terjadi (yaitu terusirnya orang-orang Arab dari Israel), hal yang sama juga terjadi pada orang-orang Yahudi yang terpaksa mengungsi ke Israel dari negara-negara Arab karena persekusi sebagai akibat berdirinya Israel. Jumlahnya sendiri tidak diketahui namun peristiwa Nakba Yahudi ini berlangsung secara gradual tidak spontan. Populasi Yahudi di negara-negara Arab saat ini sangat sedikit dan bahkan di beberapa negara ada yang tidak ada sama sekali.[11] Lalu kenapa Yahudi di Iran tidak mengungsi juga? Pada saat itu, Iran (sebelum revolusi yang menumbangkan Shah Iran) tidak memiliki sentimen negatif terhadap Israel meskipun pada awalnya menolak Partition Plan PBB (Resolusi 1947). Kedua negara memiliki hubungan diplomatik dan kerjasama di beberapa bidang. Komunitas Yahudi berkembang di Iran dibawah rezim Shah Pahlevi dan terus berkembang sampai saat ini dibawah rezim Mullah yang meskipun telah memutuskan hubungan diplomatik.

19. Ketika orang-orang Arab terusir dari rumah dan tanah mereka di wilayah yg tahun 1949 – meletusnya perang 6 hari, tanah dan bangunan diatasnya menjadi berstatus ‘Absentee’. Dengan status ‘Absentee’ tersebut, WN Israel/Yahudi saat itu memiliki kesempatan untuk menduduki tanah tersebut melalui serangkaian prosedur. Hal yang sama juga terjadi terhadap tanah dan bangunan milik komunitas Yahudi yang lokasinya berada di wilayah yang dikuasai Jordania/Mesir. Dalam kasus tanah dan bangunan milik komunitas Yahudi di Tepi Barat / Yerusalem, status mereka menjadi ‘Absentee’ dan berada dibawah Jordanian Custodian for Absentee Property

19. Palestina sendiri baru memiliki otoritas resmi pada tahun 1988 yang dimana tahun tersebut merupakan tahun kemerdekaan Palestina dengan Yaser Arafat sebagai Presiden Pertama (meskipun belum ada wilayah yang dikuasai secara efektif (effective control). Pada tahun tersebut, nama Palestina secara resmi dianggap sebagai sebuah negara yang memiliki kedudukan yang setara dengan negara lainnya termasuk Israel. Penetapan ini dilakukan berdasarkan Resolusi UNGA 177 tahun 1988.

20. Terkait resolusi UNGA tersebut, sewaktu resolusi tersebut diterbitkan, wilayah Gaza dan Tepi Barat masih didudki Israel. Hal ini menjadikan kemerdekaan Palestina dianggap sebagai kemerdekaan yang sifatnya ‘flawled’ (belum ada kontrol atas wilayah), walau menurut resolusi wilayah yang akan dimiliki negara Palestina adalah Tepi barat dan Gaza. Namun demikian, kontrol atas Gaza dan Tepi Barat sedikit demi sedikit beralih ke Palestina. Maka dalam hal ini Palestina telah memenuhi syarat sebagai negara yaitu : punya penduduk, wilayah, dan pemerintahan sendiri (de facto) dan juga telah diakui oleh negara-negara (de jure). Sebelum tahun 1988, tidak ada nama negara Palestina sama sekali (kecuali Negara Koloni Mandate of Palestine).

NB : Karena saya liat ada yg salah paham, jadi saya jelasin dulu. Untuk urutan nomor 1 – 6 itu bukan dimaksudkan sbg peristiwa2x yg melegitimasi berdirinya Israel. Nomor 1 – 6 itu saya sengaja cantumkan sbg peristiwa pembuka dan usaha men-debunking istilah / kata Palestine sbg istilah native / asli untuk wilayah Judea dan Samaria.

Menurut pandangan saya, ga ada ceritanya suatu negara bisa berdiri dengan luas wilayah pake legitimasi eksistensi suatu kerajaan yg eksis dulu duluuu banget.

Untuk legitimasi berdirinya Israel, silahkan baca mulai dari nomor 7 sampai ke bawah.

NB Admin campuraduk : nama Israel setelah diusir Kaisar Hadrianus =  Aelia Capitolina. Nama ini yang muncul di Alquran = Iliya

Asal Usul Konflik Palestina – Israel

Rinaldi Nataniel

Yitzak Rabin bersalaman dengan Yasser Arafat setelah menandatangani Oslo Accord pada 1993. Atas penandatanganan itu, Yitzak Rabin kemudian dibunuh pada 1995 oleh seorang Yahudi fanatik, Yigal Amir, yang tidak suka perdamaian dengan Palestina. Kisah yang nyaris sama dialami oleh Anwar Sadat belasan tahun sebelumnya. Anwar Sadat dibunuh dalam sebuah parade militer oleh kelompok Islam fanatik karena ingin berdamai dengan Israel. (Foto: AP)

JIKA anda berpikir bahwa dulu ada sebuah negeri yang damai bernama “palestina”, dan kemudian datanglah orang-orang Yahudi dari Eropa yang ujug-ujug merebut tanah serta mengusir penduduknya, yang kemudian orang Yahudi pendatang tersebut mendirikan negara Israel di sana, maka jelas anda termasuk orang yang memiliki pemahaman keliru atas kasus ini.

Juga sering saya jumpai pendapat, terutama di blog publik, yang sepertinya tidak bisa membedakan antara “pendirian negara Israel” dengan “pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza.” Mereka berpikir, bahwa (yang sesungguhnya adalah) kasus “pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza” adalah “pendirian negara Israel” itu sendiri.

Dan saya kira banyak sekali di masyarakat kebanyakan yang masih berpemahaman demikian. Apalagi kemudian pemahaman yang sebenarnya keliru itu dijustifikasi dengan fakta (yang adalah benar fakta, namun karena ketidakpahaman sering diabaikan konteks peristiwanya) bahwa ada ratusan jewish settlement dibangun di Tepi Barat yang seringkali dibumbui oleh “perseteruan” dengan warga Tepi Barat itu sendiri. Tak jarang perseteruan itu memakan korban jiwa dari pihak warga sipil. Wah, lengkap sudah kesalahpahamannya. Prasangka awam bahwa orang Yahudi datang ke Palestina, mengusir penduduknya, dan mendirikan “negara Israel” di sana, seolah terbenarkan.

Oleh sebab itu, pendapat pun jadi bias. Niat hati menentang pendudukan Israel di Tepi Barat dan mendukung kemerdekaan “Palestina”, namun opininya seringkali melenceng dengan mempersoalkan pendirian negara Israel.

Wilayah Kerajaan Israel pada era Raja Saul, Daud, dan Sulaiman pada sekitar 1000 – 924 SM. Bisa dilihat, “Palestina” pada waktu itu hanyalah sebuah daerah kecil di pesisir Mediteranian. Itu pun tidak termasuk wilayah Kerajaan Israel. (Sumber: American Bible Society)

Banyak orang awam tahunya cuma “palestina” saja, tanpa tahu apa konteks dan pengertian “palestina” yang mereka sebut. Sesungguhnya “Palestina” memiliki pengertian yang berbeda-beda sepanjang sejarah. Kalau kita membicarakan Palestina dalam konteks Era Usmani, Mandat Inggris, UN Partition Plan, atau Oslo Accord, sesungguhnya kita bicara “palestina” yang berbeda-beda. Apalagi kalau kita tarik mundur ke belakang sebelum era Usmani, maka terma “Palestina” memiliki pengertian dan wilayah yang berbeda dari yang kita pahami sekarang.

Nama “Palestina” sendiri asalnya adalah nama sebuah daerah kecil di pesisir Mediteranian. Alkitab menyebutnya Filistin, wilayah Gaza dan sekitarnya sekarang. Dalam bahasa Ibrani, disebut פּלשׁתּי, pelishtîydibaca pel-ish-tee’ yang jabarannya a Pelishtite or inhabitant of Pelesheth: – Philistine (Strong Hebrew Dictionary).

Nama, wilayah, dan penduduk pribumi Palestina pada asalnya itu, hampir tidak ada hubungannya sama sekali dengan Palestina di jaman sekarang. Bani Israel kuno pernah berseteru dengan orang-orang Palestina kuno. Kisah yang tercatat adalah pertarungan antara Daud dan seorang Filistin bernama Goliath.

Yang jelas, daerah Palestina pada asalnya bukanlah seluruh wilayah yang sekarang disebut Israel, juga bukan wilayah yang sekarang disebut Tepi Barat. Pada masa itu, daerah yang sekarang disebut Tepi Barat bernama Kana’an. Nabi Yakub (Israel) dan duabelas anak-anaknya pernah tinggal di Kana’an, sebelum akhirnya mereka hijrah ke Mesir menyusul salah satu anaknya yang hilang, Yusuf.

Mengapa daerah yang sekarang disebut Tepi Barat dan sekitarnya menjadi disebut “Palestina?” Panjang ceritanya. Tapi, awal mula perubahan nama adalah pada saat invasi Jenderal Titus ke Yudea ––nama Yudea mulai muncul pasca pecahnya kerajaan Israel di sekitar 924 SM– pada sekitar tahun 70 M.

Titus adalah seorang anti-semit dan ingin menghancurkan tidak hanya orang Yahudi, tapi juga apa-apa yang berbau Yahudi. Termasuk menghancurkan Bait Suci (Kuil Sulaiman) yang adalah bangunan tersuci dalam agama Yahudi, juga bahkan merubah nama daerah dari Yudaea menjadi “Palaestina”. Inilah awal mula melebarnya nama “palestina” dari sekedar nama daerah kecil di pesisir Mediteranian, menjadi nama sebuah daerah yang jauh lebih besar dari itu. Nama kota Yerusalem pun sempat dirubah menjadi Aelia Capitolina, namun tidak bertahan lama dan berubah kembali menjadi Yerusalem.

Dari serangan habis-habisan Jenderal Titus ini, banyak orang Yahudi ketakutan dan lantas berdiaspora ke luar Yudea. Dalam sejarahnya, Bait Suci di Yerusalem telah dua kali dibangun dan dua kali dihancurkan.

Tetapi perubahan nama daerah dari Yudea ke Palaestina, bertahan sampai sekarang dan dinikmati banyak orang Muslim fanatik untuk memojokkan Israel.

Palestina dalam era Mandat Inggris (1920-1948) wilayahnya mencakup Yordania. Pada 25 Mei 1946, Trans Jordan menjadi negara sendiri, Yordania. Pada 14 Mei 1948, lahir Israel berdasarkan UN Partition Plan 1947. (Sumber: Wikipedia)

JIKA kita bicara “Palestina” dalam konteks peristiwa di sekitar 1940-an, maka kita membicarakan Palestina Mandat Inggris yang memiliki maksud dan pengertian juga wilayah yang berbeda dengan jika kita bicara soal “Palestina” di jaman sekarang. Begitu pun pada masa Usmani, atau pada masa-masa lain sebelumnya.

Dalam konteks saat ini, yang dimaksud “Palestina” adalah Palestinian National Authority yang wilayahnya mencakup kurang lebih Jalur Gaza dan Tepi Barat; dua wilayah yang diduduki Israel pasca perang dengan koalisi Arab tahun 1967. Konsep PNA muncul sebagai hasil dari Oslo Accord pada tahun 1993.

Israel sendiri tidaklah merebut Tepi Barat dan Gaza dari “orang-orang Palestina”, melainkan direbut dari Yordania dan Mesir dalam sebuah peperangan besar. Karena wilayah tersebut sesungguhnya adalah wilayah Yordania dan Mesir (dari 1948 – 1967).

Jadi kalau kita mau membicarakan “kemerdekaan Palestina”, maka kita membicarakan Palestina dalam konteks Palestinian National Authorithy hasil dari Oslo Accord. Bukan “Palestina” dalam pengertian Mandat Inggris atau era Usmani. Juga bukan Palestina dalam pengertian awal-awal tarikh Masehi. Dan kita juga tidak perlu menyinggung soal “sah-tidaknya negara Israel”, karena tidak nyambung.

Juga kalau kita mau membicarakan soal sah atau tidaknya pendirian negara Israel, tidak perlu menyinggung soal pendudukan di Tepi Barat dan Gaza, tidak perlu menyinggung pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat, dan sebagainya. Karena itu adalah dua tema yang berbeda.

Gambar Partisi PBB yang diajukan pada November 1947. Partisi ini membagi Palestina menjadi dua bagian, untuk etnik Arab dan Yahudi. Anda bisa lihat wilayah jatah Israel dalam partisi tersebut amatlah kecil dibanding wilayah Israel sekarang. Sebagian besar adalah Gurun Negev di sebelah selatan. Sedangkan pihak Arab mendapatkan wilayah yang subur. Yahudi menerima proposal pembagian ini, sedangkan pihak Arab menolak.

Soal Pendirian Negara Israel

SINGKAT saja, konflik Israel-Arab (bukan Israel-Palestina) bermula ketika rezim Turki Usmani runtuh. Wilayah-wilayah bekas Usmani hendak berdiri menjadi negara sendiri-sendiri. PBB kemudian memberi mandat kepada Inggris dan Perancis untuk menduduki dan mengatur wilayah bekas Usmani.

Di wilayah yang merupakan mandat Perancis, lahir Lebanon dan Suriah. Tidak ada masalah berarti.

Di wilayah yang merupakan mandat Inggris, lahir Yordania dan Israel. Dan di sinilah awal terjadinya konflik Arab-Israel.

Wilayah mandat Inggris, dari sungai Yordan ke timur, jadi negara Yordania. Sedangkan sungai Yordan ke barat, dibagi lagi: untuk Arab dan untuk Yahudi. Kenapa begitu? Karena di situ ada penduduk Arab dan ada penduduk Yahudi.

Sebagaimana orang Arab ingin membentuk sebuah negara Arab selepas era Usmani, seperti Lebanon, Yordania, Suriah, Mesir, dan sebagainya, demikian pula orang Yahudi ingin membentuk sebuah negara Yahudi. Kenapa tidak? Toh negara yang menaungi mereka sebelumnya sudah bubar.

Akhirnya, tersebutlah proposal yang dinamakan UN Partition Plan pada November 1947, yang membagi Palestina (dalam pengertian waktu itu, bukan dalam pengertian “PNA”-nya Oslo Accord) menjadi dua: untuk Arab dan Yahudi.

Palestina Arab, adalah daerah yang mayoritasnya Arab (804 ribu Arab berbanding 10 ribu Yahudi). Palestina Yahudi, adalah daerah yang mayoritasnya Yahudi (538 ribu Yahudi berbanding 397 ribu Arab). Cukup adil. (Sumber data: jewishvirtuallibrary.com)

Negara Israel tidak dibangun semata-mata akibat peristiwa holocaust sebagaimana dituduhkan beberapa pihak. Juga tidak dibangun oleh “para pendatang” yang terlebih dahulu mengusiri penduduk aslinya.

Pada dasarnya, negara Israel –sebagaimana negara-negara tetangganya– dibangun di bekas wilayah Turki Usmani dan di atas wilayah/spot yang mayoritas adalah Yahudi.

Di seluruh Palestina, Yahudi bisa dikatakan minoritas dan terkonsentrasi pada wilayah tertentu saja. Nah, pada wilayah di mana Yahudi terkonsentrasi itulah, negara Israel berdiri (lih. Peta UN Partition Plan 1947).

Dalam partisi yang diajukan oleh PBB, bisa kita pahami bahwa sebagian besar wilayah yang diperuntukkan bagi Yahudi adalah gurun gersang, yaitu gurun Negev. Sedangkan Arab lebih beruntung dapat wilayah yang relatif subur.

Oke, itulah sekilas tentang partisi. Dan hasilnya: Pihak Yahudi menerima partisi tersebut, dan mendeklarasikan Israel pada 14 Mei 1948 dengan damai dan tidak ada “perebutan wilayah” sebagaimana disalahpahami banyak pihak.

Tapi pihak Arab menolak partisi tersebut, dan ramai-ramai berkoalisi menyerang Israel dengan tujuan merebut wilayah Israel. Akibatnya? Terjadi perang dahsyat antara koalisi negara-negara Arab dengan negara Israel yang baru dideklarasikan. Dan perang tersebut, tentu saja, menimbulkan sejumlah besar pengungsi.

Ratusan ribu orang Arab-Palestina yang berada di wilayah Israel, terusir keluar selama perang dan menjadi pengungsi. Begitu juga ratusan ribu orang Yahudi di negara-negara Arab terusir keluar dari negaranya. Pengungsi dari kedua belah pihak, sama-sama tidak memiliki hak untuk kembali –no right to return.

Wilayah Tepi Barat dan Gaza, yang diambil Israel dari Mesir dan Yordania pada 1967. Sebagian wilayah ini (yang berwarna hijau tua) kemudian dikenal dengan Daerah Otoritas Nasional Palestina (PNA). Inilah Palestina yang dibicarakan sekarang, bukan Palestina dalam konteks Mandat Inggris atau Usmani atau sebelumnya. Seluruh wilayah ini dulunya adalah wilayah yang dijatahkan untuk Arab dalam partisi PBB 1947. Arab menolak partisi PBB itu, namun sekarang merengek-rengek minta kemerdekaan dengan bendera “Palestina”. (Sumber: Wikipedia)

Adapun soal “pengungsi” yang diakibatkan oleh perang 1948, menjadi masalah tersendiri. Lengkapnya telah saya bahas dalam ulasan “Nakba: Soal Pengungsi dan Tanggungjawab Dunia Arab”.

Perang dahsyat itu disebut perang Arab-Israel yang pertama, the first Arab-Israeli war, dan dimenangkan oleh Israel. Walhasil, wilayah Israel meluas dari yang dijatahkan dalam partisi PBB. Salahkah Israel atas perluasan wilayahnya? Ya tidak. Itu perang, dan perang itu digara-garai oleh pihak Arab.

Sebaliknya, wilayah negara Arab seperti Yordania juga meluas. Yordania mencaplok Tepi Barat dan Yerusalem timur yang sebelumnya bukan wilayah Yordania.

Perluasan wilayah Israel akibat perang 1948, juga banyaknya pengungsi Arab-Palestina yang terusir dari wilayah Israel selama perang, sering diulang-ulang oleh “para pembela buta palestina” sebagai alat propaganda untuk menyudutkan Israel. Padahal, imbas dari perang yang sama, ratusan ribu orang Yahudi yang tinggal di negara-negara Arab sekitarnya, juga mengalami tekanan dan terusir keluar.

Kemudian, masih imbas perang tersebut, wilayah Yordania juga meluas dengan menduduki Tepi Barat dan Yerusalem timur. Wilayah Mesir juga meluas dengan mencaplok Gaza. Tapi semua kutukan hanya tertuju pada Israel, tidak kepada negara-negara Arab lainnya

Mengapa tidak berbagi Wilayah

Rufus Panjaitan

Ya kalau itu bisa dilakukan, udah dari kapan tahu mereka damai. Konflik Israel-Palestina tidak mudah diselesaikan dengan berbagi wilayah, karena wilayahnya (dan sejarahnya) itu overlapping.

Saya coba berikan beberapa point konflik wilayah mereka:

1. Yerusalem Timur alias Kota Tua. Ini adalah wilayah ibukota Kerajaan Yehuda dari jaman raja Daud sampai Zedekia. Selain itu, Yerusalem Timur, khususnya Gunung Bait (Temple Mount), adalah lokasi dari Bait/Kenisah Pertama (dibangun raja Salomo, dihancurkan Babilon tahun 607 SM) dan Bait Kedua (yang dibangun Raja Herodes, dihancurkan Romawi tahun 70 M). Jadi bagi orang Yahudi, baik yang relijius, yang sekuler maupun yang ateis akan melihat Kota Tua ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sejarah bangsa mereka. Problemnya, gak cuma bangsa Yahudi, orang muslim, khususnya bangsa Arab, juga melihat Kota Daud itu sebagai lokasi ketiga tersuci agama Islam. Gunung Bait itu adalah lokasi Isra Miraj dan telah berdiri Masjid al-Aqsa yang dibangun khalifah Muawiyah pada abad 8 M. Kedua belah pihak ngotot bahwa pembagian wilayah bagaimana pun, Yerusalem Timur haruslah milik mereka masing-masing. Gimana mau dibaginya coba?

Tembok Ratapan dengan Kubah Batu di belakangnya

2. Tepi Barat (West Bank). Wilayah ini sudah resmi adalah milik Otoritas Palestina, tapi ternyata juga penting bagi orang-orang Yahudi, khususnya yang orientasi politiknya sayap kanan. Mereka menyebut wilayah ini dengan nama historical-nya, Yudea dan Samaria. Yudea adalah daerah dari Yerusalem ke selatan, sedangkan Samaria dari Yerusalem ke utara. Dalam sejarah, sepeninggal raja Salomo/Sulaiman, kerajaan Israel terpecah dua berdasarkan garis suku: 10 suku di utara membentuk Kerajaan Israel dengan ibukota Samaria dan 2 suku di selatan membentuk Kerajaan Yehuda dengan ibukota di Yerusalem. Jadi Yudea masuk ke Kerajaan Yehuda, sedangkan wilayah Samaria menjadi ibukota kerajaan utara. Yahudi fanatik masih berpegang pada sejarah ini, bahwa daerah Yudea dan Samaria, yang utamanya sekarang ada di Tepi Barat, adalah milik bangsa Israel/Yahudi. Itu sebabnya warga Israel yang sayap kanan sangat mendukung pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat, memperbanyak area C di dalam wilayah Palestina (area dominasi warga Yahudi dan dijaga oleh militer Israel aka wilayah pendudukan). Ini adalah satu issue yang menjadikan Israel sasaran kritik negara-negara Eropa.

Lokasi kerajaan Israel yang terbagi

Judea dan Samaria di Tepi Barat

Propaganda dari sayap kanan Israel

3. Seluruh teritori Mandat Palestina. Selama lebih dari 1000 tahun wilayah itu dihuni bukan cuma oleh bangsa Yahudi tapi juga oleh berbagai bangsa. Waktu penaklukan Islam oleh Umar bin Khattab di tahun 637 M, proses Arabisasi mulai berjalan selama 1000an tahun ke depan. Jadi sewaktu Gerakan Zionisme lahir di abad 19, wilayah itu sudah penuh dengan orang-orang Arab dan muslim. Bagaimana membangun negara Yahudi sementara mayoritas penduduk di sana adalah non Yahudi? Tanpa gerakan Zionisme pun warga Yahudi dan Arab sudah sering bentrok di sana secara sosial, apalagi kalau negara “Yahudi” dipaksakan berdiri di wilayah yang banyak orang Arabnya.

Peta demografi Mandat Palestina (Inggris) tahun 1946, memperlihatkan banyaknya penduduk Arab di daerah tsb

Tiga issue di atas baru ngomongin soal wilayah dan sentimen sejarah dari kedua bangsa, sudah bingung gimana mau berbaginya. Kita belum ngomongin soal ideologi dan politik regional yang bikin tambah sakit kepala.

Badli Syihab

Israel secara resmi tidak ada wujudnya, it wasn’t officially anywhere, antara tahun 70 M sampai dengan 1947.

Sementara Palestina eksis sebagai suatu wujud resmi di bawah pemerintahan Romawi selama lebih kurang 5 abad hingga 638M

Palestina eksis dibawah Khulafa ar Rasyidin dan Bani Umayyah hingga 750M. Israel tidak pernah disebut-sebut

Palestina juga eksis selama dinasti Abbasiyah hingga 1100M. Israel tidak pernah disebut-sebut

Palestina sempat tidak disebut-sebut pada masa kerajaan-kerajaan Kristen selama Perang Salib (Israel juga tidak disebut) selama hampir dua abad sd 1291M.

Palestina kembali eksis lagi selama lebih dari dua abad di bawah kekhalifahan dan kesultanan Mamluk Mesir sd 1516M. Israel tidak pernah disebut-sebut

Palestina masih eksis sampai sekarang sejak kekuasaan Turki Ottoman, Mandat Inggris, Perang Arab Israel 1948, 1967, 1973, Intifadah pertama 1987–1993, intifadah kedua 2000–2005 dan peristiwa hari ini di 2021.

Israel wasn’t officially anywhere between AD 70 and 1947.

OK

Sunda Empire juga diyakini pernah eksis di area yang sekarang diduduki oleh Pemprov DKI Jakarta, Sebagian Jabar, Jateng dan Banten dari 358M sampai tahun 669M. Dari tahun 700M sampai 2020 Sunda Empire tidak pernah disebut-sebut.

It wasn’t officially everywhere between AD 690 and 2020

Tiba-tiba muncul setelah menghilang 1350 tahun

?

Admin campuraduk : bagian Yang Mahamulia Raden Rangga, sebaiknya diabaikan

Sejarah Panjang Palestina – Israel

Okta Koulapic

Hal terpenting yang mungkin media Indonesia tidak ungkapkan tentang konflik Israel-Palestina adalah penjabaran bagaimana konflik ini tercipta bersama aktor-aktor yang ada, utamanya persaingan antara dua negara imperialisme besar yaitu Inggris dan Prancis yang akhirnya menciptakan konflik berkepanjangan yang jika kita cari titik awalnya sudah mulai sejak seratus tahun lalu. Konflik Israel-Palestina sama tragisnya dengan tragedi yang ditulis Shakespere, di mana para aktor berteman, berkhianat, melakukan konspirasi, sampai menikam dari belakang.

Jika ada pihak yang dunia bisa mintai pertanggung-jawaban, Britania Raya adalah jawabannya. Berbagai pihak memberikan kesimpulan bahwa politik yang negara ini terapkan di Timur Tengah dilandasi oleh oportunisme militer, ketakutan atas ekspansi Prancis dan Rusia dan keinginan untuk memanipulasi bangsa Yahudi dan Arab. Menurut Prancis, zionis merupakan hasil cipta Britania Raya yang menjadi penyebab mayoritas permasalahan yang terjadi di Timur Tengah sejak awal keruntuhan Ottoman.

Setelah tahun 1894, Jerman Prussia di bawah pimpinan Wilhelm II, melaksanakan politik “weltpolitik” dengan tujuan menandingi Britania Raya dalam kompetisi negara besar dunia. Dalam konteks ini, Prusia memperluas pengaruh militer dan ekonominya di wilayah kekaisaran Ottoman. Jerman berpendapat bahwa dalam peperangan masa depan, mereka bisa memanfaatkan panislamisme (gerakan politik dan agama berdasarkan Islam) untuk mencapai target mereka menjadi negara yang paling berkuasa di dunia. Jihad made in Germany lahir, dan untuk ini Prusia mengirimkan banyak utusan ke berbagai penjuru Timur Tengah dari tanah Arab, India sampai ke Afghanistan.

Mulai tahun 1912, Kitchener petinggi militer Inggris yang ditugaskan di Kairo-Mesir mulai khawatir dengan kemampuan dinasti Utsmaniyah untuk melindungi keutuhan kekaisaran mereka. Disebut sebagai “pria penyakitan Eropa”, kekaisaran Ottoman sedang diambang kebangkrutan dan untuk mengantisipasi hal ini, Inggris sudah menyiapkan beberapa proyek, termasuk melalui pertemuan dengan Abdullah, putra Hussein bin Ali yang saat itu menjadi syarif Mekah. Kitchener mempunyai firasat bahwa Inggris memerlukan dukungan separatis Arab untuk kepentingan mereka di masa depan.

Tahun 1914, perang Dunia Pertama pecah di Eropa dan merembet ke Timur Tengah. Ottoman bersekutu dengan Jerman sedangkan Inggris bergabung dengan Prancis dan Rusia. Untuk melemahkan posisi Ottoman, Inggris ingin memanfaatkan orang Arab dengan mendukung pemberontakan mereka. Perlu diingat bahwa selama empat ratusan tahun, kekaisaran Ottoman telah mendominasi Timur Tengah, dan pada awal tahun 1900-an, Inggris mendapat informasi adanya gerakan separatisme di kalangan Arab untuk melawan kekuasaan Istambul. Pada saat itu mereka masih belum bisa menentukan siapakah yang akan didukung sebagai pemimpin pemberontakan dan kandidat yang ada adalah Hussein Bin Ali dan Abdulaziz of Saudi Arabia (yang nantinya mendirikan Arab Saudi). Dianggap sebagai pemimpin wahhabisme yang menghalalkan segala cara termasuk membunuh orang semena-mena termasuk sesama muslim yang tidak sesuai dengan konsep mereka, hal tersebut menjadikan Abdulaziz bukan kandidat yang baik di mata Britania Raya. Karena itu Hussein Bin Ali dipilih dan bersama putra-putranya terutama Abdulah dan Faisal, mereka kemudian menjadi pemimpin yang mempromosikan kemerdekaan Arab. Di masa depan Abdulah menjadi raja Yordania dan Faisal menjadi raja Irak.

Korespondensi Hussein-Macmahon.

Hussein bin Ali, di Amman Transyordania. Foto: Library of Congress, coll. Matson (G. Eric and Edith)

Dalam surat korespondensi antara tahun 1915–1916 antara Hussein dan petinggi Britania yaitu Macmahon, Hussein mewakili bangsa Arab menyatakan keinginan mereka untuk merdeka dan mendirikan Khilafah di Arab Timur Tengah. Bersama surat tersebut dia merinci wilayah apa saja yang dia klaim sebagai tanah Arab. Macmahon menjawab bahwa klaim tersebut disetujui oleh Britania Raya. Namun antara kedua pihak ada kesalahpahaman/miskomunikasi, tidak hanya karena masalah penerjemahan yang rumit tapi juga masalah perbedaan konsep yang sangat berbeda. Macmahon memang sengaja berbicara tidak jelas agar bisa mengelak dengan mudah di masa depan jika dimintai penjelasan.

– Hussein menggunakan istilah vilayet (wilayah) yang merupakan warisan Ottoman sedangkan Macmahon menggunakan istilah distrik. Wilayah yang disebut oleh Macmahon tidak sesuai dengan distribusi vilayet dalam peta Hussein sehingga ketika Hussein berusaha mengerti isi surat Macmahon, bagi Hussein isinya banyak yang membuat pusing kepala.

– Arti kemerdekaan bagi Hussein adalah merdeka dari kekuasaan apapun sedangkan bagi Macmahon merdeka artinya merdeka dari kekuasaan Ottoman. Dalam perspektif Britania Raya, bangsa Arab bisa merdeka dan mendirikan khilafah tapi berada di bawah naungan bendera Britania Raya.

– Macmahon menyetujui memberikan kemerdekaan dan mendirikan negara khilafah hanya pada wilayah yang dia anggap sebagai Arab murni (yang mempunyai peradaban Islam saja) sisanya yaitu Arab Campuran (yang mempunyai sejarah kebudayaan lain terutama Kristen) diperkecualikan. Palestina saat itu, meskipun tidak ditegaskan cakupan wilayahnya, tidak diberikan kepada Hussein karena di sana kerajaan Kristen pernah ada dan banyak orang Kristen yang menjadi penduduk wilayah tersebut. Bagi Hussein, istilah purely Arab tidak masuk akal karena dalam pengertian orang Arab saat itu, penduduk Kristen dan Islam yang tinggal di Timur Tengah saat itu mempunyai nenek moyang yang sama.

Faisal putra Hussein memimpin pasukan Arab menuju El-Ouedj. Foto: TE. Lawrence.
Tidak seperti yang legenda katakan, pemberontakan Arab yang dimulai pada Juni 1916 hanya disambut oleh beberapa tribu Arab saja dan bukan berskala besar. Tidak disiapkan secara matang dengan perlengkapan yang tidak canggih mereka mengalami kesulitan menahan posisi mereka terutama saat berada di Mekah. Inggris dan Prancis yang seharusnya membantu mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak bisa mengirim pasukan karena kedua negara menganggap bahwa Mekah adalah Tanah Suci dan kehadiran tentara Kristen akan sulit diterima warga lokal. Untuk membantu para pemberontak, Prancis mengirimkan beberapa ratus tentara dari Afrika Utara karena mereka beragama Islam sehingga menjadi halal di mata Prancis dan bersama mereka Prancis juga mengirimkan tim produksi untuk membuat film propaganda pro-Islam yang nantinya akan disiarkan di Afrika untuk membangkitkan semangat mereka untuk berperang di sisi Prancis.

Perjanjian Sykes-Picot, 12 Mei 1916.

Sebelum Ottoman runtuh Prancis dan Britania Raya sudah mencanangkan program untuk membagi-bagi wilayah Ottoman jika mereka kalah. Dalam negosiasi, Sykes mewakili Britania Raya dan Picot Prancis. Dalam perundingan mereka membagi wilayah Ottoman dengan nama Arabia untuk wilayah yang akan diberikan untuk Britania Raya dan Suriah untuk Prancis.

Di antara daerah yang Britania inginkan ada Bagdad karena mereka punya rencana menjadikan kota ini sebagai lumbung dunia dan daerah transit untuk menghubungkan Asia dan Eropa dan pelabuhan Haifa (Israel sekarang) karena mereka ingin mengamankan Terusan Suez yang mereka kuasai. Di sisi lain Prancis menginginkan daerah di Suriah, Libanon dan Kilikia karena secara historis Prancis mempunyai hubungan dekat dengan minoritas Kristen Maronites, yang menjadi penduduk wilayah ini. Walaupun Prancis menjadi negara anti agama, tapi mereka merasa perlu untuk melindungi kelompok agama ini.

Perjanjian ini diketahui oleh Rusia dan mereka bertanya apakah Yerusalem masuk Suriah Prancis? Prancis menjawab ya dengan argumen bahwa mereka adalah keturunan dari mereka yang melakukan Perang Salib. Karena tidak menemukan kesepakatan maka Yerusalem dijadikan zona internasional.

Pada awalnya dokumen ini dinamai perjanjian Britania-Raya-Prancis atau Perjanjian Cambon-Grey (pejabat atasan Sykes-Picot) namun karena Inggris ingin meminimalisir kebohongan mereka maka beberapa tahun kemudian dokumen dinamai dengan nama para utusan saja. Semakin tinggi dan besar kedudukan pejabat maka semakin tinggi pula kedudukan sebuah dokumen. Dari sini, kita bisa melihat bahwa ketulusan Britania Raya sangat meragukan. Saat Picot menggunakan tinta hitam untuk tanda tangan, Sykes cuma menggunakan pensil abu-abu karena dia tidak puas dengan hasil perundingan atau bisa juga karena dia punya harapan agar jejaknya hilang.

Deklarasi Balfour 1917.

Kunjungan Arthur Balfour di koloni Yahudi tahun 1925.

Kekurangan dana, Inggris ingin menarik simpati dari para Yahudi terutama yang berada di Amerika Serikat karena sebagian besar bank-bank besar dikuasai oleh mereka. Bukan dokumen negara resmi, tapi dianggap sebagai landasan yang cukup kuat untuk menjadikan surat Arthur Balfour sebagai janji dari Inggris untuk menjadikan Palestina sebagai tempat pengungsian kaum Yahudi. Balfour juga adalah orang yang sama yang menyangkal keberadaan perjanjian Sykes-Picot untuk meredam kecurigaan bangsa Arab.

Faisal bersama TE. Lawrence di Versailles.
“Karena ini sesuai dengan target jangka waktu dekat kita yakin untuk menghancurkan “blok” Islam dan kekalahan dan tunduknya Kekaisaran Ottoman. Dan karena negara-negara yang menggantikan orang Turki tidak akan beresiko bagi kita, orang Arab lebih tidak stabil lagi dibandingkan orang Turki. Ditangani dengan benar, mereka akan tetap menjadi negara mosaik politik, rantaian kerajaan-kerajaan kecil yang saling mencemburui dan tidak mampu bersatu.”
Thomas Edward Lawrence (Januari 1916)

Mengetahui ide penempatan kaum Yahudi di Palestina, sebagai pemimpin Arab Faisal menolak ide ini tapi TE. Lawrence yang dikenal sebagai Lawrence of Arabia berhasil meyakinkan Faisal bahwa kohabitasi dengan kaum Yahudi tidaklah seburuk yang dia duga. Tapi sejarah membuktikan bahwa Lawrence bukan orang yang jujur karena pada beberapa kesempatan dia sengaja menerjemahkan pembicaraan perundingan secara tidak benar untuk kepentingan Inggris. Contohnya dalam perjanjian di Akaba tahun 1919 yang ditandatangani oleh Chaïm Weizman (perwakilan sioniste) dan Faisal ((perwakilan Arab), kedua utusan tersebut tidak mempunyai versi cerita yang sama. Hal ini bisa dibuktikan melalui surat yang dikirim oleh Weizman dan Faisal kepada kerabat mereka. Jika Faisal mau menyetujui isi perjanjian Akaba, itu karena dia mengira bahwa Palestina hanyalah tempat penampungan orang Yahudi saja sedangkan Weizman mengira bahwa secara politik, kemungkinan untuk membangun negara Yahudi benar-benar ada. Faisal menambahkan bahwa dia menerima ketentuan dari perjanjian asalkan Britania Raya menepati janji mereka yaitu memberikan kemerdekaan untuk bangsa Arab. Tambahan yang pada akhirnya tidak dihormati oleh Inggris.

Lawrence of Arabia.

Faisal menginginkan pembatalan perjanjian Sykes-Picot namun terpaksa menyerah karena secara ekonomi dia tergantung pada subsidi Inggris dan Prancis. Dia berusaha dengan berbagai cara mencari dukungan Prancis namun karena dia sering plin plan maka kredibilitasnya menurun. Prancis dan Inggris akhirnya membagi bekas wilayah Ottoman dan menjadikan wilayah ini sebagai negara mandat kedua negara.

Sejak awal Prancis tidak menyukai ide zionisme di Palestina karena Prancis memprediksi hal ini akan menjadi sumber masalah besar sehingga Prancis tidak keberatan memberikan daerah Palestina kepada Inggris dan dengan ini berarti Prancis memulai okupasi militernya di Suriah.

Pertanyaan batas-batas wilayah yang disebut Palestina kemudian muncul,karena sekarang Suriah berbatasan dengan Palestina. Akan tetapi, daerah mana yang disebut sebagai Palestina? Masalahnya, batas Palestina berubah-ubah seiring dengan pergantian dinasti yang berkuasa di daerah ini. Perdebatan ini sudah dimulai sejak konferensi Deauville-Prancis sampai konferensi San Remo 1920. Untuk menentukan wilayah Palestina maka para perunding menggunakan Alkitab sebagai acuan atau lebih tepatnya peta karya George Adam Smith. Faisal menolak menghadiri konferensi San Remo sehingga wilayah Palestina diputuskan tanpanya.

Prancis yang tetap anti zionis tidak menerima koloni Yahudi menyebar ke wilayahnya yaitu Suriah kemudian membuat perbatasan bea cukai yang disebut garis Galilea.

Di pihak warga Palestina, semakin banyaknya orang Yahudi Eropa yang berdatangan membuat mereka semakin putus asa. Kemarahan mereka semakin besar karena revendikasi mereka tidak didengar Inggris dan mereka merasa telah dipermainkan oleh Eropa. Kemarahan ini memuncak dan menjadi awal kerusuhan yang terjadi pada hari raya peringatan Nabi Musa tahun 1920. Dalam kerusuhan ini warga Palestina menyerang populasi Yahudi yang mengakibatkan kematian dan luka-luka kedua pihak.

Cerita konflik Israel-Palestina kemudian mulai dan sampai sekarang belum berakhir padahal akhir dari cerita ini adalah titik sentral untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah. Keruntuhan kekaisaran Ottoman merupakan awal dari terbentuknya identitas nasional di berbagai penjuru wilayah bekas Ottoman, yang kemudian membentuk negara-negara homogen. Tak jarang pembantaian etnis dan agama berbeda terjadi setelahnya. Libanon memutuskan berpisah dengan Suriah Prancis, orang Armenia mewujudkan negara mereka sendiri, dan bekas wilayah Ottoman menjadi negara-negara kecil (Arab Saudi, Qatar, Turki, Yordania dsb) yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan seperti yang dikatakan Lawrence.

Bagi Inggris, Perang Dunia Pertama adalah kesempatan untuk melakukan operasi strategis yang sangat cerdas: untuk membangun pengaruh mereka atas wilayah yang luas mulai dari India hingga Mesir setelah mengusir Kekaisaran Ottoman yang menguasai sebagian besar wilayahnya. Tanpa Inggris yang menjanjikan wilayah yang sama kepada beberapa pihak yang berbeda, konflik Israel-Palestina tidak akan pernah ada.

Referensi :

– Henry Laurens: Les Crises d’Orient
– Benny Morris: Histoire revisitée du conflit arabo-sioniste

Leave a Comment