Experiment” psikologi yg mengejutkan manusia

Penjara Stanford

Kita sering melihat adanya kekerasan di dalam penjara, baik yang dilakukan oleh pihak yang berwenang maupun pihak sesama tahanan. Sebagai contoh yang terjadi pada MKC.

Hal ini sudah pernah diteliti oleh fakultas psikologi di Universitas Stanford

Rangkuman Jalannya Percobaan

(https://www.newyorker.com/science/maria-konnikova/the-real-lesson-of-the-stanford-prison-experiment)

Pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1971, sembilan pemuda di daerah Palo Alto menerima kunjungan dari petugas kepolisian setempat. Sementara tetangga mereka melihat, mereka ditangkap karena melanggar KUHP 211 dan 459 (perampokan bersenjata dan perampokan), digeledah, diborgol, dan dibawa ke bagian belakang mobil polisi yang menunggu. Mobil-mobil itu membawa mereka ke kantor polisi Palo Alto, di mana orang-orang itu dipesan, diambil sidik jarinya, dipindahkan ke sel tahanan, dan ditutup matanya. Akhirnya, mereka diangkut ke Penjara Kabupaten Stanford—juga dikenal sebagai departemen psikologi Universitas Stanford.

Mereka bersedia menjadi peserta dalam Eksperimen Penjara Stanford, salah satu studi paling kontroversial dalam sejarah psikologi sosial. (Ini adalah subjek dari film baru dengan nama yang sama—drama, bukan dokumenter—yang dibintangi oleh Billy Crudup, dari “Almost Famous,” sebagai peneliti utama, Philip Zimbardo. Film tersebut dibuka pada 17 Juli.) Subjek penelitian, tengah- mahasiswa kelas, telah menjawab kuesioner tentang latar belakang keluarga mereka, sejarah kesehatan fisik dan mental, dan perilaku sosial, dan telah dianggap “normal”; flip koin membagi mereka menjadi tahanan dan penjaga. Menurut pengetahuan yang berkembang di sekitar percobaan, para penjaga, dengan sedikit atau tanpa instruksi, mulai mempermalukan dan secara psikologis melecehkan para tahanan dalam waktu dua puluh empat jam dari awal penelitian. Para tahanan, pada gilirannya, menjadi tunduk dan tidak memiliki kepribadian, menerima pelecehan dan tidak banyak bicara sebagai protes. Perilaku semua yang terlibat sangat ekstrem sehingga eksperimen, yang seharusnya berlangsung selama dua minggu, dihentikan setelah enam hari.

Pelajaran dari Experiment Penjara Stanford

(oleh Samudera Fadlilla Jamaluddin)

Tahukah anda bahwa seseorang yang baik dapat berubah menjadi jahat apabila mereka diberikan sebuah peran untuk menjadi jahat? Setidaknya inilah premis utama dari eksperimen yang dilakukan oleh Philip Zimbardo pada tahun 1971.

Experiment ini pada dasarnya memiliki tujuan sederhana, yakni ingin melihat bagaimana efek psikologis yang mungkin muncul apabila seseorang diminta untuk menjadi sipir dan tahanan. Semua individu yang berpartisipasi dalam eksperimen ini pun sudah dicek bahwa mereka sehat secara mental dan tidak memiliki catatan kriminal apapun. Dengan kata lain, semua partisipan eksperimen ini dapat dikatakan sehat. Eksperimen ini nantinya akan dilakukan pada sebuah ruangan simulasi yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga benar benar terlihat seperti penjara.

Secara garis besar, subjek dalam eksperimen ini nantinya akan dibagi menjadi dua bagian. Mereka akan ada yang diminta untuk menjadi sipir, ada juga yang diminta untuk menjadi tahanan. Bagi sipir, mereka boleh melakukan hal apapun yang sekiranya sesuai dengan peran mereka terhadap para individu yang menjadi tahanan, kecuali melakukan hukuman fisik dan mengurangi makanan mereka. Philip Zimbardo sebagai eksperimenter bahkan meminta para individu yang menjadi sipir untuk memperlakukan para individu yang menjadi tahanan dengan cara cara yang tidak terhormat, seperti meminta mereka memanggil para tahanan menggunakan nomor tahanan saja tanpa menggunakan nama asli mereka,

Hasil dari eksperimen ini cukup mengejutkan. Pada awalnya, eksperimen ini direncanakan untuk dilakukan selama dua minggu. Namun demikian, eksperimen ini pada akhirnya dihentikan setelah hari ke enam. Hal ini dikarenakan para individu yang diberikan peran menjadi para sipir mulai melakukan tindakan tindakan yang membahayakan, seperti melakukan physical abuse, tindakan kekerasan verbal, dan sebagainya.

Eksperimen ini sebenarnya menunjukkan bahwa individu yang baik apabila diberikan peran untuk menjadi seseorang yang berperangai buruk dan diberikan situasi yang mendukung untuk melakukan hal tersebut, mereka bisa berubah menjadi bengis. Efek inilah yang kemudian disebut sebagai lucifer effect. Sebaliknya, mereka yang mendapat peran untuk menjadi tahanan mulai menjadi merasa inferior dan memandang diri mereka tidak berguna. Ketika seseorang baik diberikan label tertentu atau peran tertentu yang mungkin dapat dikatakan peran ‘jahat’, mereka bisa jadi mulai menginternalisasikan hal tersebut dan akan berperilaku sesuai dengan peran atau label yang diberikan pada mereka.

Aplikasi Experiment Penjara Stanford di Indonesia zaman ini

Hasil kajian ini sebenarnya dapat digunakan untuk mengulas beberapa fenomena yang terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah fenomena kekerasan yang dilakukan oleh para senior kepada para junior ketika OSPEK. Jika kita lihat, mekanisme yang terjadi sangat mirip dengan yang terjadi para eksperimen penjara standford itu bukan?

Para senior diberikan posisi authority yang lebih tinggi daripada junior dan mereka melakukan tindakan tindakan tidak terhormat kepada para junior, dengan cara membentak, menghina, dan sebagainya. Pemberian peran dan kondisi situasi yang mendukung inilah yang kemudian bisa jadi mengakibatkan munculnya Lucifer effect pada saat dilakukannya OSPEK, terutama pada OSPEK yang erat kaitannya dengan perilaku kekerasan, yang tak jarang bahkan berujung pada kematian.

Semoga jawaban saya membantu.

Kesimpulan dari Experiment Penjara Stanford bagi dunia Psikologi

Ada beberapa poin yang sekiranya bisa kita jadikan bahan pelajaran dari eksperimen yang dilakukan oleh Philip Zimbardo ini, seperti beberapa diantaranya:

[1] Tidak semua tindakan keji itu dilakukan karena faktor kepribadian saja. Terkadang, tindakan tindakan keji itu bisa jadi dilakukan oleh seseorang yang sebenarnya baik. Namun, karena faktor lingkungan dan tuntutan peran, sikap seseorang dapat berubah.

[2] Proses pemberian peran dapat mempengaruhi sikap seseorang. Peran yang diberikan kepada seseorang bisa terinternalisasi pada seseorang. Ketika seseorang diberikan peran yang memiliki ‘authority’ yang memang dituntut untuk melakukan tindakan yang boleh dikatakan tidak manusiawi, seseorang yang baik bisa jadi berubah menjadi keji karena ia mulai menginternalisasikan peran dan label yang diberikan.

[3] Pentingnya etika dalam penelitian. Eksperimen seperti yang dilakukan pada penelitian penjara Stanford tidak akan pernah dilakukan replikasi lagi saat ini. Saya bisa menjamin bahwa jika anda mengajukan proposal untuk penelitian yang memiliki mekanisme sama, proposal tersebut akan ditolak mentah-mentah oleh komite etik penelitian. Hal ini dikarenakan penelitian seperti yang dilakukan pada eksperimen penjara Stanford dapat mengakibatkan trauma yang mungkin bersifat permanen bagi subjek. Eksperimen ini dulu mungkin bisa dilakukan, namun untuk saat ini tidak akan pernah bisa. Prosedur etika penelitian saat ini jauh lebih ketat daripada dulu.

[4] Dapat digunakan untuk menjelaskan beberapa fenomena riil di dunia nyata.

Ada beberapa fenomena di dunia nyata yang bisa dijelaskan melalui hasil dari penelitian di eksperimen penjara stanford. Salah satunya adalah, kasus ketika terjadi banyak kekerasan yang dilakukan oleh sipir terhadap tahanan di penjara Abu Ghraib.

Contoh kasus lainnya adalah kasus kematian yang seringkali kita temui pada OSPEK yang dilakukan di jaman dahulu. Meskipun mungkin dari luar terlihat berbeda (karena pada ospek tidak melibatkan ruang penjara), akan tetapi secara konsep kurang lebih mirip. Senior diberikan authority berlebih dan diperbolehkan melakukan tindakan tidak pantas (dalam konteks eksperimen penjara stanford, mereka memegang peran sebagai sipir), dan junior adalah pihak yang harus tunduk terhadap segala perintah dari authority (dalam konteks ini, junior mengambil peran sebagai tahanan). Jika kita tilik lebih lanjut, terkadang sang senior yang berlaku jahat itu mungkin di kesehariannya baik dan ramah bukan? akan tetapi kenapa dalam konteks OSPEK seringkali mereka mungkin menjadi bengis? salah satu alasannya adalah karena adanya lucifer effect seperti yang ada pada eksperimen penjara Stanford.

Semoga jawaban saya membantu.

Beberapa sanggahan tentang kesimpulan Experiment Penjara Stanford

Oke, untuk menjawab pertanyaan ini, sekiranya ada beberapa isu yang membayangi eksperimen penjara Stanford. Saya akan mencoba mengkritisi beberapa hal dalam eksperimen ini, terutama terkait metodologi yang digunakan.

[1] Sampling bias

Seperti yang sudah dijelaskan pada tautan yang disertakan dalam pertanyaan ini, adalah bias terhadap sampling yang digunakan dalam eksperimen penjara Stanford. Isu dalam hal sampling penelitian ini beberapa diantaranya adalah (1) jumlah subjek (N = 24 orang) yang sangat sedikit. (2) Variabel kepribadian yang gagal untuk dikontrol.

Terkait jumlah subjek, perlu digarisbawahi bahwa jumlah subjek yang terlalu sedikit dalam sebuah penelitian memiliki dampak yang sangat luas. Salah satu dampaknya adalah menjadi terbatasnya generalisasi hasil penelitian yang dilakukan. Dengan demikian, hal ini dapat menurunkan validitas penelitian yang sedang dilakukan, atau dalam konteks ini berarti hasil dari eksperimen penjara Stanford memiliki tingkat validitas yang rendah.

Terkait poin kepribadian yang gagal untuk dikontrol, saya sudah sedikit menjelaskan di jawaban saya sebelumnya (baca: Jawaban Samudera F. Jamaluddin untuk Apa saja temuan menarik di bidang psikologi?) bahwa Zimbardo hanya mengontrol kepribadian subjek dalam penelitian berdasarkan catatan kriminal saja. Padahal, ada beberapa aspek aspek kerpibadian yang bisa jadi dimiliki oleh subjek, gagal untuk melewati proses screening sehingga hasil yang didapatkan menjadi bias. Dalam artian, bisa jadi perubahan perilaku yang muncul pada diri subjek dalam eksperimen ini bukan diakibatkan oleh manipulasi situasi yang diberikan oleh eksperimenter, melainkan karena memang subjek dari penelitian tersebut memang sudah memiliki potensi dari awal yang mungkin belum terlihat saja.

[2] Observer expectancy bias & Hawthorne effect

Salah satu kesalahan yang saya perhatikan dari eksperimen yang dilakukan oleh Zimbardo adalah terkait bagaimana ia melakukan perekrutan subjek dalam penelitian yang dilakukan. Seperti yang sudah tertera dalam tautan yang terlampir dalam pertanyaan yang diajukan oleh penanya, Zimbardo mencantumkan kata ‘sebuah penelitian psikologis’ dan kata ‘kehidupan penjara’. Sepintas, hal ini mungkin terlihat biasa saja. Namun, sebenarnya hal ini dapat berpengaruh juga pada hasil.

Dalam penelitian psikologi, ada yang dinamakan dengan observer expectancy bias. Secara garis besar, bias ini menjelaskan bahwasanya eksperimenter bisa jadi secara tidak langsung memiliki ekspektasi atau harapan terhadap penelitian yang ia lakukan, sehingga secara tidak langsung dan mungkin tidak disadari, mereka melakukan hal-hal yang sekiranya menuntut para subjek untuk berperilaku seperti apa yang diharapkan[2]. Dengan demikian, perilaku yang muncul pada hasil penelitian pun tidak muncul secara alamiah atau natural, melainkan karena perilaku eksperimenter yang secara tidak sadar bersifat mengarahkan subjek.

Selain itu, dalam psikologi ada pula sebuah konsep bias yang disebut dengan Hawthorne effect. Bias ini sebenarnya menjelaskan bahwa subjek bisa jadi memodifikasi dan mengubah perilakunya karena ia mengetahui maksud dan tujuan utama dari apa yang diteliti dalam penelitian tersebut, sehingga hasil yang dimunculkan dalam pengujian yang dilakukan menjadi tidak bersifat natural[4][5].

Kedua bias inilah yang sebenarnya melandasi mengapa penelitian di bidang psikologi biasanya sangat tidak dianjurkan untuk menyebutkan secara gamblang maksud dari penelitian yang dilakukan. Hal ini dikarenakan penyebutan maksud utama secara gamblang bisa menyebabkan bias pada hasil penelitian yang dilakukan. Biasanya sih ketika sebuah penelitian dilakukan, seorang peneliti yang baik ketika ditanya maksud dari tujuan pengambilan data yang dilakukan oleh subjek, ia akan menjelaskan secara abu-abu.

Seperti contohnya saja, peneliti yang melakukan penelitian terkait perilaku kecurangan mungkin tidak akan mengatakan pada subjeknya bahwa ia melakukan penelitian terkait kedisiplinan, melainkan mengatakan bahwa ia sedang melakukan penelitian tentang katakanlah ‘integritas’. Dalam konteks ini, peneliti tidak melakukan kebohongan. Ia jujur terkait tujuan dari penelitian tersebut, hanya tidak berterus terang saja. Eh, tapi toh sebenarnya peneliti boleh saja sih bohong ke subjeknya terkait hal apa yang diteliti, selama ketika pengambilan data selesai dilakukan ia kemudian men-debrief dan mengatakan secara jujur terkait tujuan penelitian yang dilakukan.

Nah, hal-hal inilah yang mungkin membayangi hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Zimbardo, sehingga mengakibatkan validitas penelitian yang dilakukannya menjadi menurun.

[3] Desain yang buruk

Satu hal yang benar-benar terlihat dalam desain penelitian ini yang sebenarnya bersifat fatal adalah: Tidak adanya kelompok kontrol[6]. Dengan demikian, kita tidak dapat mengetahui bahwa sebenarnya perilaku yang muncul pada subjek itu muncul dikarenakan hasil perlakuan yang diberikan oleh eksperimenter atau karena memang pada dasarnya ada variabel pencemar lain.

Yups, kurang lebih demikian. Semoga jawaban saya membantu 🙂

Video

Universe 25

ichi.pro/id/eksperimen-universe-25-19044703474965

Antara akhir 1960-an dan awal 1970-an, ahli etologi Amerika John B. Calhoun menciptakan utopia yang tampaknya sempurna untuk tikus. Kandang Calhoun yang bebas predator dan bebas penyakit dilengkapi dengan makanan tanpa batas dan bahkan di lantai atas dengan kondominium tikus mini. Intinya, tikus akan menikmati semua kenyamanan modern yang diharapkan orang saat ini.

Tetapi masyarakat hewan pengerat, yang dijuluki Semesta 25 , dengan cepat terbukti jauh dari surga.

Percobaan

Untuk memulai percobaan, Calhoun memasukkan empat pasang tikus sehat ke dalam kandang. Selama 104 hari pertama, tikus menjelajahi habitat baru mereka, menandai wilayah mereka, dan mulai bersarang. Kemudian, populasinya mulai meningkat dua kali lipat setiap 55 hari.

Menariknya, meskipun populasinya berada di bawah 1/4 dari kapasitas kandang, sebagian besar tikus masih berkerumun di area tertentu. Makan, misalnya, adalah aktivitas bersama sehingga tikus berkelompok selama waktu makan meskipun ada banyak ruang untuk makan sendiri.

Hingga hari ke-315, populasinya mencapai 620 ekor mencit. Perilaku berkerumun mencegah perkawinan, sangat memengaruhi angka kelahiran yang turun ini. Alam semesta 25 sekarang akan mulai menurun secara perlahan tapi pasti.

Pada titik ini, tangga sosial yang diucapkan akan terbentuk. Dalam populasi jantan, mencit yang paling dominan dicirikan oleh perilaku mereka yang sangat agresif. Apa yang disebut “tikus alfa” sering terlibat dalam pertumpahan darah yang sangat kejam, mulai menyerang, memperkosa, dan bahkan mempraktikkan kanibalisme dengan mengorbankan rekan-rekan mereka. Yang meresahkan, ledakan kekerasan ini biasanya tidak memiliki provokasi atau motif yang jelas.

Di sisi berlawanan dari spektrum adalah tikus yang paling tidak mahir secara sosial yang benar-benar dikeluarkan dari perkawinan. Mereka menghabiskan waktu bergerak di antara kelompok tikus yang lebih besar, makan dan tidur sendiri. Terkadang, tikus ini juga akan bertarung satu sama lain.

Tikus yang jatuh di antara kelompok-kelompok ini agak malu-malu dan sering menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh rekan mereka yang lebih bermusuhan.

Ketika peran sosial rusak, betina mengambil sikap yang lebih agresif untuk menjaga sarang mereka di tengah-tengah domain yang kacau. Yang lain akan benar-benar menarik diri dari tanggung jawab keibuan mereka, mengabaikan anak-anak mereka dan berhenti sepenuhnya dari praktik kawin.

Hari ke-560 menandai awal dari akhir, terkadang disebut sebagai “fase kematian”. Lonjakan angka kematian berfluktuasi sekitar 100%, menghentikan peningkatan populasi sama sekali. Namun, generasi baru yang bertahan telah tumbuh di lingkungan yang kacau yaitu Semesta 25 . Tikus ini tidak memiliki persepsi tentang kehidupan “normal” yang dipimpin tikus di luar dinding kandang.

Sebagaimana dijelaskan dalam Roadmap to Reality Thomas J.Elpel :

Penelitian… secara konsisten mengungkapkan bahwa tidak adanya stimulus sosial dan perawatan ibu menyebabkan tingginya tingkat keterbelakangan fisik dan emosional serta kematian.

Dalam konteks Universe 25 , ini membuka jalan bagi kategori tikus baru yang disebut Calhoun sebagai “tikus cantik”. Tikus ini hidup dalam isolasi dari tikus lain dan kekerasan yang melanda seluruh kandang. Penampilan mereka yang tidak tergoyahkan kemudian menjadi inspirasi untuk nama mereka. Selain itu, dipisahkan dari 25 tikus alam semesta lainnya , yang cantik tidak memberikan kontribusi kepada masyarakat. Tikus tidak membantu dalam kawin, mengasuh, menandai wilayah, dll. Sebaliknya, mereka menghabiskan seluruh waktu mereka untuk makan, minum, merawat, dan tidur.

Akhirnya, tikus yang cantik melebihi jumlah tikus yang lebih agresif. Namun, alih-alih kawin atau menciptakan peran baru dalam masyarakat Universe 25 , yang cantik hanya terus ada semata-mata untuk kepuasan fisiologis mereka. Tidak perlu khawatir dengan konflik atau bahaya, paradoks keindahan mengungkapkan pola merusak diri yang muncul ketika menjalani hidup tanpa tujuan.

Segera, karena ketidakpedulian kolektif terhadap perkawinan dan membangun masyarakat yang berkelanjutan, populasi tikus mulai punah sampai tidak ada tikus yang tersisa sama sekali.

Implikasi bagi Kemanusiaan

The Universe 25 percobaan penawaran wawasan kematian manusia. Yang indah secara khusus menunjukkan kepada kita bahwa individu tidak akan mengambil peran produktif dalam masyarakat jika mereka tidak memiliki hubungan yang tepat atau teladan di lingkungan tempat mereka tumbuh. Selain itu, jika tidak ada konflik, tidak ada bahaya, atau tidak ada “pekerjaan. Dilakukan dalam masyarakat, penduduknya, seperti yang indah, akan kehilangan hubungan mereka dengan dunia luar dan pada akhirnya, tujuan hidup mereka.

Namun, Alam Semesta 25 bukanlah paralel yang sempurna dengan umat manusia. Sebagai spesies yang lebih canggih , kita memiliki akses ke sains, teknologi, dan pengobatan yang membantu kita mencegah distopia semacam itu. Memiliki lebih banyak saluran untuk kreativitas dan analisis, orang juga dapat menemukan makna dalam hidup lebih dari sekedar makan atau tidur.

Yang terpenting, Universe 25 adalah lingkungan manufaktur. Dengan kemampuan teknologi kita saat ini, kita tidak memiliki cara yang layak untuk meniru kondisinya, seperti memastikan berakhirnya penyakit, kelaparan, atau bahkan bencana alam.

Di masa depan, seiring kemajuan teknologi, kondisi Universe 25 mungkin menjadi lebih dapat dicapai. Kemudian, kita akan benar-benar melihat betapa berbedanya pikiran tikus dan manusia.

Video

Rhytm 0

www.sainsologi.com/wp-content/uploads/2020/05/performance-artist-stands-still-for-6-hours-featured-1.jpg

Manusia pada kodratnya hanya menunjukkan sisi baik kepada semua orang. Mereka berusaha menutupi sisi gelap mereka.

Bapak Psikoanalisis, Sigmund Freud mengatakan bahwa manusia pada dasarnya punya sisi tidak bermoral (sisi jahat) , oleh karena itu manusia membuat peraturan dan menunjuk insitusi tertentu (polisi atau petugas keamanan) untuk mengendalikan sisi tidak bermoral manusia.

Seberapa parah manusia jika sisi buruknya jika ditunjukkan ?

Mari tanyakan itu ke Marina Abramovic.

Seberapa parah manusia jika sisi buruknya jika ditunjukkan ?

Mari tanyakan itu ke Marina Abramovic.
Marina Abramovic adalah seorang seniman pertunjukkan dari Serbia.

Pada tahun 1979, Marina mengadakan penampilan paling kontroversial, mengerikan, dan berbahaya dalam sejarah seni bernama Rhytm 0.

Dalam pertunjukkan ini, Marina memberikan instruksi kepada penonton:

Ada 72 objek di atas meja yang bisa digunakan ke saya sesuai yang penonton mau
Marina tidak akan melakukan apa-apa dan hanya berdiri diam selama 6 jam
Marina tidak akan memberontak selama penonton melakukan apapun padanya
72 barang diletakkan di atas meja, mulai dari bunga mawar sampai pistol, dan itu boleh digunakan pada Marina sesuka hati. Marina akan berlagak sebagai objek.

Gambar di atas adalah barang-barang yang menjadi alat para penonton. Kalian bisa melihat pisau terletak di antaranya.

Pada awalnya, mereka bersikap lembut. Hanya sedikit bermain-main. Ada yang menaruh mawar di tangannya, ada yang menciumnya, ada yang menyuapinya kue.

Lalu, ketika mereka sadar bahwa Marina benar-benar tidak akan melakukan apapun, sisi gelap mereka mulai muncul.

“Itu adalah 6 jam yang menyeramkan,” ucap Marina di sebuah iwawancara.

Seseorang mendudukkannya. Ia dipermalukan. Tubuhnya dipindahkan. Ada yang menyiramkan air padanya.

Pada jam ketiga, pisau mulai menyentuh kulit Marina. Ada yang mengukir tulisan di tubuhnya. Tidak tanggung-tanggung, ada yang menggoreskan pisau dekat leher Marina dan meminum darahnya. Tapi penderitaannya tidak berakhir sampai situ

Seseorang bahkan membuatnya menempelkan pistol berpeluru ke lehernya sendiri. Mata Marina berkaca-kaca, tapi ia tetap tidak bergerak.

Mereka menggunting pakaian Marina. Pelecehan seksual mulai terjadi. Marina bersaksi bahwa ia tidak “dipermalukan lebih” karena kebanyakan penonton membawa pasangannya waktu itu. Ia dibawa-bawa setengah telanjang, didudukkan di atas meja, dan ada yang menancapkan pisau ke kayu dekat kakinya.

Seseorang mengambil gambar dengan kamera ketika kekerasan itu terjadi, dan membuat Marina memegang foto-foto itu.

Kekerasan mulai mereda ketika seorang wanita memeluk Marina, dan beberapa orang yang takut menolong akhirnya mulai beraksi dan mengobati luka-luka yang dialami Marina. Perpecahan terjadi, ada yang berusaha menahan yang lain melakukan kekerasan lebih parah, ada yang ingin menikmati momen ini selagi bisa.

Menariknya, ketika waktu habis, dan Marina mulai bergerak, para pelaku kekerasan melarikan diri ketakutan. Sulit rasanya menerima Marina kembali sebagai seorang manusia setelah melihatnya sebagai objek dalam waktu beberapa lama.

Inilah yang terjadi jika manusia dihadapkan oleh kekuasaan tanpa batas dan konsekuensi. Apalagi jika target kekuasaan itu adalah manusia lagi, terutama wanita. Inilah seberapa keji sisi gelap manusia.

-Diogenes

Video

Percobaan Milgram

Eksperimen ini bernama The Milgram Experiment yang tidak lain pengujinya yakni Stanley Milgram seorang Psikolog dari Yale University. Pada eksperimen mengukur kesediaan peserta studi untuk mematuhi sebuah figur otoritas yang memerintahkan mereka untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan pribadi mereka nurani. Mungkin diantara kita pernah tuh ngelakuin sesuatu perintah seseorang yang tidak kita inginkan tapi sangat sulit untuk di bantah,

Contohnya : Seorang Satpol PP yang menggusur pemukiman kumuh yang dalam hati nurani mereka tidak tega untuk melakukannya tapi mengharuskannya.

Jalannya Percobaan

Tiga orang yang terlibat: satu menjalankan eksperimen, subjek percobaan (sukarelawan), dan Konfederasi berpura-pura menjadi relawan. Ketiga orang mengisi tiga peran yang berbeda: Eksperimen (peran otoritatif), Guru (peran dimaksudkan untuk mematuhi perintah Eksperimen), dan Learner (penerima stimulus dari Guru). Subjek dan aktor keduanya menarik selembar kertas untuk menentukan peran mereka, namun tidak diketahui subjek, baik slip mengatakan “guru”. Aktor akan selalu mengklaim telah ditarik slip bertuliskan “pelajar”, sehingga menjamin bahwa subjek akan selalu menjadi “guru”. Pada titik ini, “guru” dan “belajar” dipisahkan ke kamar yang berbeda di mana mereka bisa berkomunikasi tetapi tidak melihat satu sama lain. Dalam salah satu versi percobaan, konfederasi yang yakin lagi ke peserta bahwa ia memiliki kondisi jantung.

Di beberapa titik sebelum tes yang sebenarnya, “guru” diberi sampel sengatan listrik dari generator kejut listrik untuk mengalami langsung apa shock bahwa “belajar” seharusnya akan menerima selama percobaan akan merasa seperti. “Guru” kemudian diberi daftar pasangan kata yang ia mengajar pelajar. Guru mulai dengan membaca daftar pasangan kata untuk pelajar. Guru kemudian akan membaca kata pertama dari masing-masing pasangan dan membaca empat kemungkinan jawaban. Pelajar akan menekan tombol untuk menunjukkan jawabannya. Jika jawabannya adalah tidak benar, guru akan memberikan kejutan untuk pelajar, dengan tegangan meningkat 15- volt bertahap untuk setiap jawaban yang salah. Jika benar, guru akan membaca pasangan kata berikutnya.

Subyek percaya bahwa untuk setiap jawaban yang salah, pelajar itu menerima guncangan yang sebenarnya. Pada kenyataannya, tidak ada guncangan. Setelah konfederasi yang terpisah dari subjek, konfederasi mendirikan tape recorder terintegrasi dengan generator kejut listrik, yang memainkan suara rekaman untuk setiap tingkat shock. Setelah beberapa tegangan tingkat meningkat, aktor mulai menggedor dinding yang memisahkan dia dari subjek. Setelah beberapa kali memukul-mukul dinding dan mengeluh tentang kondisi hatinya, semua tanggapan oleh pelajar akan berhenti.Pada titik ini, banyak orang menunjukkan keinginan mereka untuk menghentikan percobaan dan memeriksa pelajar. Beberapa subyek tes berhenti di 135 volt dan mulai mempertanyakan tujuan percobaan. Kebanyakan dilanjutkan setelah menjadi yakin bahwa mereka tidak akan bertanggung jawab. Beberapa mata pelajaran mulai tertawa gugup atau menunjukkan tanda-tanda lain dari stres yang ekstrim setelah mereka mendengar jeritan kesakitan yang berasal dari pelajar.

Jika sewaktu-waktu menunjukkan keinginannya untuk menghentikan percobaan, ia diberi suksesi prods lisan oleh eksperimen, dalam rangka ini :

1. Silakan lanjutkan.

2. Percobaan mengharuskan Anda melanjutkan.

3. Hal ini mutlak penting bahwa Anda terus.

4. Anda tidak punya pilihan lain, Anda harus pergi.

Jika subjek masih ingin berhenti setelah keempat prods lisan berturut-turut, percobaan dihentikan. Jika tidak, itu dihentikan setelah subjek telah memberikan maksimum kejutan 450-volt tiga kali berturut-turut. Eksperimen juga memberikan prods khusus jika guru membuat komentar tertentu. Jika guru bertanya apakah pelajar mungkin menderita kerusakan fisik permanen, eksperimen itu menjawab, “Meskipun guncangan mungkin menyakitkan, tidak ada kerusakan jaringan permanen, jadi silakan pergi.” Jika guru mengatakan bahwa pelajar jelas ingin berhenti, eksperimen itu menjawab, “Apakah pelajar suka atau tidak, Anda harus pergi sampai ia telah belajar semua pasangan kata dengan benar, jadi silakan pergi.”

Hasil : 

Dalam set pertama Milgram percobaan, 65 persen (26 dari 40) peserta percobaan diberikan akhir besar kejutan 450-volt percobaan itu, meskipun banyak yang sangat tidak nyaman melakukannya; di beberapa titik, setiap peserta berhenti dan mempertanyakan percobaan; beberapa mengatakan mereka akan mengembalikan uang yang mereka dibayar untuk berpartisipasi dalam percobaan. Selama eksperimen, subjek ditampilkan berbagai tingkat ketegangan dan stres. Subjek berkeringat, gemetar, gagap, menggigit bibir mereka, mengerang, menggali kuku mereka ke kulit mereka, dan beberapa bahkan memiliki cocok tertawa gugup atau kejang.

Video

Kesimpulan :

Sebagian besar dari pasti pernah melakukan hal semacam itu namun kita berpikiran mau tidak mau harus melakukannya dan bahkan acuh pada statement orang

tapi taukah anda…,Sebenarnya dorongan tersebut akan sangat berbahaya bagi anda karena dapat menyebabkan kerusakan psikologis permanen dan dapat menyebabkan anda menjadi kurang percayadiri dan orang lain dikedepannya.

Little Albert Experiment

health.grid.id/read/352101695/misteri-the-little-albert-sebuah-eksperimen-kejam-pada-bayi?page=all

Misteri ‘The Little Albert’, Sebuah Eksperimen Kejam Pada Bayi

Beragam cara yang dilakukan oleh peneliti untuk membuktikan hipotesisnya atau menangkap fenomena-fenomena yang ada di masyarakat. Salah satunya seperti John B. Watson pada tahun 1920

Watson ingin membuktikan teori mengenai classical conditioning yang memasangkan stimulus yang terkondisi dan stimulus tidak terkondisi untuk menghasilkan hasil yang serupa.

John Watson diketahui melakukan percobaan bernama ‘The Little Albert’. Sebelumnya, ia dikenal karena penelitian seminalisnya tentang behaviorisme, atau gagasan bahwa perilaku terjadi terutama dalam konteks pengkondisian.

Watson adalah seorang profesor psikologi di Universitas Johns Hopkins, dan penelitiannya banyak terkait pada perilaku hewan.

Lebih lanjut, pada eksperimen ‘The Little Albert’, bermula dari ibu sang bayi yang merupakan orang miskin, sehingga mengizinkan anaknya dijadikan eksperimen dengan imbalan sejumlah uang.

Pada ada awal percobaan, ketika Albert julukan ‘The Little Albert’ berusia 11 bulan, John Watson menempatkan tikus, beberapa hewan dan benda dengan bulu di atas meja tepatnya di depan Albert, ia bereaksi dengan rasa ingin tahu dan tidak ada tanda-tanda ketakutan.

Watson kemudian membuat suara keras di belakang Albert dengan memukul-mukul batang baja dengan palu, sambil menunjukkan tikus.

Watson adalah seorang profesor psikologi di Universitas Johns Hopkins, dan penelitiannya banyak terkait pada perilaku hewan.

Lebih lanjut, pada eksperimen ‘The Little Albert’, bermula dari ibu sang bayi yang merupakan orang miskin, sehingga mengizinkan anaknya dijadikan eksperimen dengan imbalan sejumlah uang.

Pada ada awal percobaan, ketika Albert julukan ‘The Little Albert’ berusia 11 bulan, John Watson menempatkan tikus, beberapa hewan dan benda dengan bulu di atas meja tepatnya di depan Albert, ia bereaksi dengan rasa ingin tahu dan tidak ada tanda-tanda ketakutan.

Watson kemudian membuat suara keras di belakang Albert dengan memukul-mukul batang baja dengan palu, sambil menunjukkan tikus.

Alhasil, Albert menangis sebagai reaksi terhadap kebisingan ini ditunjukkan sebagai pengkondisian. Setelah periode pengkondisian, Albert kembali menangis sebagai respons takut terhadap tikus bahkan tanpa diiringi suara keras.

Ketika diberikan hewan-hewan lain, Albert juga merespons dengan berbagai tingkat ketakutan meskipun tidak diiringi suara keras.

Sampai pada akhirnya Albert mengalami gangguan kepribadian dan fobia terhadap benda berbulu dan sebagian besar hewan, khususnya tikus putih. Sementara penelitinya menilai itu sebagai sebuah keberhasilan.

Meski Albert sang kelinci percobaan Watson telah mengalami trauma, sayangnya Watson tidak pernah sekalipun berusaha untuk menyembuhkan Albert.

Bahkan, setelah eksperimennya selesai, Watson meninggalkan ‘The Little Albert’ begitu saja dengan luka psikisnya. Banyak yang setuju bahwa eksperimen ini sangat kejam.

‘The Little Albert’ atau yang diduga bernama asli Dorlas Merrite, meninggal di usianya yang ke 6 tahun, akibat hidrosefalus.(*)

Video

Terapi Homoseksual

www.idntimes.com/science/experiment/alfonsus-adi-putra-alfonsus/eksperimen-psikologi-terburuk-dalam-sejarah/full/8

Sedari dulu, terapi aversi untuk “menyembuhkan” homoseksualitas adalah salah satu subyek penelitian yang paling terkenal di beberapa universtias.

Faktanya, di Inggris, sebelum 1967, homoseksualitas adalah kejahatan; siapapun yang kedapatan mengidap homoseksualitas dapat diganjar kurungan badan hingga 10 tahun.

Sesuai namanya, terapi aversi menghubungkan perilaku yang tidak dikehendaki dengan situasi yang tidak menyenangkan. Setiap kali perilaku yang tidak dikehendaki itu muncul, situasi yang tak menyenangkan digunakan sebagai kontrol perilaku. Diharapkan, dengan begitu, subyek dapat “sembuh”.

Namun, ada salah satu eksperimen yang keji dan tak masuk akal yang dimuat pada British Medical Journal pada 1967. Ekperimen tersebut melibatkan 43 pria penyuka sesama jenis yang diuji oleh M. J. MacCulloch dan M. P. Feldman di Crumpsall Hospital, Manchester.

Para pria penyuka sesama jenis tersebut dipaparkan pada foto-foto pria. Mereka diperintahkan untuk tetap “menikmati” gambar-gambar tersebut selama mungkin. Namun, setelah delapan detik “menikmati” foto-foto tersebut, para peserta eksperimen kemudian disetrum.

Lalu, para penguji memperlihatkan foto-foto wanita yang pastinya tidak menarik minat para pria penyuka sesama jenis tersebut. Namun, para peserta boleh memandangi foto-foto tersebut tanpa takut akan dihukum.

MacCulloch dan Feldman mengklaim bahwa penelitian mereka sukses dalam “menyembuhkan” pasien mereka. Namun, alih-alih menyembuhkan, penelitian tersebut dinilai tidak efektif dan berbahaya oleh APA pada 1994.

Video

Terapi Narkoba pada kera

Pada 1969, tiga peneliti dari University of Michigan Medical School, G. A. Deneau, T. Yanagita, dan M. H. Seevers, melanggar etika saat eksperimen mereka melibatkan kera dalam meneliti aspek psikologis pada ketergantungan narkoba.

Ketiga peneliti dengan sembarangan menyuntikkan kera-kera tersebut dengan berbagai zat terlarang seperti kokain, amfetamin, morfin, dan alkohol. Hal ini bertujuan untuk melihat akankah kera-kera tersebut ketagihan pada psikoaktif dan zat berbahaya lainnya.

Para peneliti kemudian mengklaim bahwa terdapat hubungan antara penyalahgunaan narkoba dengan ketergantungan psikologis. Namun, mereka menutup penelitian tersebut dengan menyatakan bahwa hasilnya tidak dapat disamakan dengan manusia. Eksperimen tersebut dipertanyakan nilai ilmiahnya.

Terlebih lagi, etika dan metode penelitian dianggap tidak manusiawi dan beretika.

Eksperimen schizophrenia UCLA

idntimes.com

Pada 1983, pasangan psikolog dan psikiater dari UCLA Medical Center, Keith H. Nuechterlein & Michael Gitlin, mengadakan sebuah penelitian kontroversial mengenai skizofrenia.

Para peneliti UCLA tersebut ingin melihat proses kambuhnya skizofrenia dan mencari tahu apakah ada indikator untuk memprakirakan psikosis. Dengan tujuan penelitian ini, Keith dan Michael melibatkan ratusan orang dalam program ini dan menyita pengobatan skizofrenia mereka.

Meskipun berpengaruh besar pada penelitian skizofrenia dan mengungkap efek samping obat skizofrenia, penelitian tersebut dikritik tidak memberi perlindungan yang cukup kepada pasien saat gejala skizofrenia kambuh. Penelitian tersebut juga terkesan “menggantung” karena tidak memberitahu kapan pasien harus dirawat lagi.

Kasus ini semakin memburuk pada 1991 saat seorang mantan sukarelawan program UCLA, Antonio Lamadrid, bunuh diri dengan melompat dari lantai sembilan. Kematian Lamadrid disalahkan pada Keith dan Michael yang seharusnya mengawasi Lamadrid.

Video

Di menit ke-7

The Third Wave

www.paloaltoonline.com/news/2017/03/17/the-wave-that-changed-history

The Wave that changed the world

Fifty years ago, a Palo Alto teacher’s lesson on fascism took on a life of its own
(by Linda Taaffe / Palo Alto Weekly)

The classroom guards, symbolic armbands and secret salutes carried out by members of an elite student movement at Cubberley High School in Palo Alto may have ended decades ago, but that brief, ominous week in April 1967 when a history lesson took an unexpected turn continues to have worldwide impact on the eve of its 50th anniversary.

The Third Wave began as an experiment in the classroom of first-year history teacher Ron Jones to simulate fascism in World War II and demonstrate to skeptical students how the Nazi Party rose to power. Over five days, the movement took on a life of its own as it spread from the 30 sophomores in Jones’ homeroom class to more than 200 students from all three high schools in the Palo Alto school district eager to pledge allegiance to a social movement that promised acceptance and reward to those who obediently followed its rigid rules.

“It started out as a fun game with the most popular teacher at school,” said Mark Hancock, one of the students in Jones’ Contemporary World History homeroom class. “He told us, ‘If you’re an active participant, I’ll give you an A; if you just go along with it, I’ll give you a C; if you try a revolution, I’ll give you an F, but if your revolution succeeds, I’ll give you an A.’

“I was a mischievous 15-year-old, and I remember right away, I wanted to be one of those revolutionaries who got an A. … But it went well beyond (grades) pretty quickly, and at the end, I was scared to death.”

Jones posted student guards at the classroom door, ordered students to march into class and sit at attention with their hands clasped behind them. He taught them to salute each other with a curved hand similar to the salute used during the Nazi regime. To avoid rebellion, he made it illegal for any party members to congregate in groups larger than three outside of class — a rule that had to be followed 24/7. He used students as secret police and held public trials to banish “resistors” to the library with a reduced grade, according to an account by student reporter Bill Klink that appeared in the school newspaper, “The Catamount,” on April 21, 1967.

At the time, no one realized the experiment would become a significant catalyst for much broader discussions about bullying, history, peer pressure, fascism and psychology or inspire multiple stage productions, a musical, movies and books. In more than 32 countries, study of the Third Wave has become part of the classroom curriculum, including in Israel and Germany, where the story is a high school reading requirement.

Palo Alto City Historian Steve Staiger said the Third Wave is among the most-asked-about topics, behind the Grateful Dead and developer Joseph Eichler’s homes.

“It’s become one of the more significant historic events in Palo Alto’s past,” Staiger said.

But back in 1967, the classroom experiment drew little attention. Local media didn’t report on it, parents quickly dismissed it and most of Jones’ students seemed to drop the subject the following week when they moved on to a history lesson about Vietnam. Life went on with no one publicly talking about the experiment for an entire decade until Jones unexpectedly bumped into a former student on a street in Berkeley who immediately gave him the secret salute. That brief encounter inspired Jones to write a short article in a local magazine about his Third Wave experience, which captured the attention of Hollywood and beyond. The 1981 film “The Wave” and subsequent book of the same name are based on his article.

Hancock, too, eventually decided to speak out about those five days during his sophomore year that had gnawed at him for more than 40 years.

“‘It had gotten to be such a big story — obviously something much bigger than all of us — that I knew the time was right to talk to the other students and give us a voice,” said Hancock in telephone interview from his Seattle home last week.

At the same time, former classmate and Hollywood film editor Philip Neel (“Twin Peaks,” “Boston Common”) said he had decided to begin tracking down classmates to get their take on the experiment after discovering that his two daughters were learning about the Third Wave in their southern California school.

The duo ultimately teamed up and produced the 2010 award-winning documentary “Lesson Plan,” which weaves together personal accounts from schoolmates, Jones, parents and former Principal Scott Thomson.

On March 22, the Palo Alto History Museum will show the film for the first time in Palo Alto during a special event at the school site where it all happened (now Cubberley Community Center) to commemorate the 50th anniversary of the Third Wave experiment. Hancock, Neel and Jones will be on hand to answer questions.

“It wasn’t until we started doing the movie that I found out the depth of what had really happened. We were all blindsided by how everything unfolded at the time,” said Neel over the telephone from his southern California home.

The experiment

Jones had just graduated from Stanford University when he was hired at Cubberley during the 1966-’67 school year. At the time, Cubberley was a freewheeling school that prided itself on being experimental, and Jones, who liked to bring in guest speakers and conduct unorthodox lessons, quickly became a favorite teacher on campus, Hancock recalled.

“He was very charismatic and his classes were really fun. They were so good that if a particular speaker came to campus, other kids in other classes would sneak out and watch our class,” Hancock said. “A lot of students wished they had him as their teacher, and we knew we were lucky.”

No one had any reason to be alarmed that April when a student asked how could the Nazis have been so appealing to the general population that no one spoke up during the Holocaust, and Jones responded, “I don’t know. Let’s try an experiment. I will be the dictator, and you will be the movement,” Hancock recalled.

The following Monday, Jones ordered the students to address him as Mr. Jones, instead of Ron. He lectured them on the benefits of discipline and ordered them to practice the proper way to sit and stand at perfect attention through repeated drills.

“It was really only meant to be a one-hour exercise,” Jones said in an interview with the Weekly. “I definitely wanted the students to have some understanding of the Holocaust. I thought it would be a stepping stone into what it was like to be in a totalitarian state if they followed the directions of a teacher in a marshal-like way.”

When Jones returned to class the next day, he discovered the students sitting in the same posture that he had left them in the previous day with “these zipper smiles on their faces,” Jones said.

He thought, “Oh my gosh, what is this about?” and spontaneously, like improv, Jones went to the blackboard and wrote the slogans, “strength through discipline,” and “strength through community.” The class began to chant the words in unison, and a movement was born.

“There was this excitement about being part of a community,” Jones said.

In class that day, he created the secret salute and gave the group the name, “The Third Wave” — surfer lingo used to describe the last and strongest wave in a series of swells.

“When the bell sounded ending the period, I asked the class for complete silence. With everyone sitting at attention I slowly raised my arm and with a cupped hand I saluted,” Jones recalled in his article, “The Third Wave, 1967: an account.” “It was a silent signal of recognition. They were something special. Without command the entire group of students returned the salute.”

The next day, Jones issued membership cards to any student that wanted to continue in the Wave. Not a single student elected to leave the room, he said.

Then, he had the students put their heads down and secretly tapped three of them on the shoulder. Whoever received a tap was given the special assignment to report any students not complying to the Wave’s rules.

“I remember not being tapped and thinking, ‘I’m going to miss out on something here,'” Hancock said. “This is when it was still a fun little game. But then, he started rolling out the rules.”

Anyone accused of not following the rules faced a public trial.

“In the morning, he would come in and stand at the front of the class with us sitting up straight,” Hancock recalled. “Then, he would pull a piece of paper out of his shirt pocket, and he would say a name. That person would stand up, and he would say, ‘My secret police have informed me that you have broken a rule. What do you have to say for yourself? … If we are going to be a disciplined group and do great things, we can’t have a rule breaker here.'”

He would then ask the students one by one, “Is this person guilty?” until he had everyone chanting “guilty, guilty, guilty,” Hancock added. “It scared the hell out of me.”

Once convicted, the student was exiled from the Wave and not allowed to come back to class.

“I had no idea it would go this far, but it grew exponentially,” Jones said. “By the third day, other students were cutting class to be in the Wave, and by the fourth day, they were migrating from Paly and Gunn to be part of it.”

Jones said the experiment reached its turning point for him on Day 3 when a student body guard accompanied him into the teachers’ faculty room.

“There was an English teacher sitting there who said, ‘Hey, students aren’t allowed in here.’ And this child said, ‘I’m not a student, I’m a bodyguard.’ I knew at that very moment that that young adult had crossed some invisible line, and this was no longer a game or classroom activity. It was something real to this person, and I was crossing the same line,” Jones said. “I was beginning to like the order and the adulation. It was pretty intoxicating.”

Jones kept waiting for someone to step in and stop the experiment — but no one ever did. The parents, the faculty, the students all trusted him without question.

“By now, I’m deep into it and I’m thinking, ‘How is this going to end?’ I was hoping some faculty member would come into the room and challenge it … but that teacher never arrived.”

Even the principal, Jones said, liked the fact that students seemed more ordered and weren’t roaming the halls.

At the end of the week, Jones dropped a bombshell on the students: He entered the class and pulled the curtain across the windows to darken the room. He was no longer smiling.

He lowered his voice and told the students he had an important announcement: “The Third Wave isn’t just an experiment. … It’s real,” Hancock recalled.

The students had been chosen to be part of a new third political party that was going to revolutionize American politics. He told them their national political leader would unveil himself during a televised speech at a rally that afternoon.

“That was the turning point for me. I had this horrible sense of being trapped,” Hancock said.

That afternoon, students piled into the auditorium carrying posters, chanting and believing the large number of “reporters” and “cameramen” documenting the event were from real outlets, not part of Jones’ experiment.

When Jones turned on the television, however, only white snow appeared on the screen.

Everyone silently sat in position waiting and waiting for their leader to appear. Several minutes passed and nothing happened.

Moments later, video of the Nuremberg Rally started on a giant screen against the wall, displaying Hitler and the Third Reich.

“Listen closely, I have something important to tell you,” Jones recounted in his article. “Sit down. There is no leader. There is no such thing as a national youth movement called the Third Wave. You have been used. Manipulated. Shoved by your own desires into the place you now find yourself. You are no better or worse than the German Nazis we have been studying.”

Jones said there was a wide range of reactions.

Hancock said he remembers some students cried, while others said they knew it was a joke all along. Others, like him, had run out of the rally in fear before Jones made his final announcement.

Jones said silence was the common experience shared by all. No one publicly spoke about that rally for 10 years.

“That was really the genesis of that student question, ‘How could the Germans behave that way after the war?'” Jones said. “Silence is what happens when you feel shame.”

Neel said when it was over, his initial reaction was, “Wow. That was an amazing experience, and boy did I learn a lesson.”

He said there are some who see the documentary and say Jones should have never conducted the experiment in the first place and are upset that his students still endorse him today.

“My feeling is the opposite,” Neel said. “It was a given that what he was doing was ethically wrong, but the lesson he taught far outweighed (that).”

Neel called the experience a wake-up call that has had lifelong impact.

“I think I process things differently now,” said Neel, who remains leery about joining any kind of group and questions everything he hears and reads.

The appeal

Jones launched the Wave just two months before the Summer of Love got into full swing. It was a time of unwanted war, protests and racial integration taking place for the first time.

“With the unrest that all of that brought, there was a sense that maybe we could change these things,” Jones said. That made the Wave appealing, especially to the boys who were facing the draft in two years.

Hancock said he remembered thinking, “I don’t want to get drafted. Maybe this is a good thing even though I don’t like how this feels.”

There also were grades to think about and the peer pressure of being part of an elite group.

“Jones pulled it off so well because we could identify so easily with him,” Neel said. “He was young, he spoke our language, and we felt very comfortable with him.”

He didn’t make the experiment racist or anti-Semitic, Hancock added.

“If he had crossed that line and asked us to turn against each other, it might have been a different outcome,” he said.

The biggest appeal was the way Jones conducted the experiment, Hancock said.

“What people don’t understand is the way that Jones rolled out the Wave. We got sucked into it because it was gradual,” Hancock said. “By the time you felt trapped, there wasn’t much you could do. The reality is that it was your social studies class, and you really couldn’t go anyplace else. The only thing you could have done is take the game to a new level and be a revolutionary or try to get out through the administration, but that didn’t seem like a possible avenue because everyone was part of the Wave as far as you knew.”

Hancock, who now travels the globe to speak to students about the Wave, said the experiment was an emotional milestone in their lives.

“Most of us have very strong memories of it,” he said. “But the reality is not everyone had the same experience. Each one of us had to make the decision during that time whether we were going to be for it, resist it or just try to stay out of the way and get an A and move on.”

For Hancock, he wanted to be a revolutionary but never found a way to resist.

“I wish I had done more and could say I was a major resistor,” he said. “I had good intentions, but it was like a totalitarian state, so if you said the wrong thing, you would disappear. I made up my mind to try to figure it out from inside the system, but everyday everything kept changing. I kept thinking, ‘The clouds will part and I’ll know what to do,’ but that never happened, and I didn’t act.”

Neel said he opted to stay out of the way — a decision he regrets.

“I was in the middle, which is probably the worst place to be,” he said. “I was just going along with the flow and going along with everybody else and not challenging it, but not entirely endorsing it. … I stayed too long. Some people ran out of the rally, but I was there until the bitter end.”

Out of all the students, only two actively resisted — sophomores Alyssa Hess and Sherry Tousley. On the final day, Hess stood up in class and urged her classmates not to attend the rally. Tousley resisted from the start. Tousley was one of Jones’ top students who had been banished from class early on for questioning the movement’s purpose. She anonymously launched an anti-Wave resistance group, “The Breakers.” In the documentary “Lesson Plan,” she said her father drove her to Cubberley before school hours so she could hang anti-Wave posters up high in the halls so students couldn’t tear them down. Until the making of the documentary 40 years later, not a single person — except her father — knew Tousley was the sole person behind the resistance group.

“I remember thinking, ‘Who was this resistance group that I could go find and join?'” Hancock said.” (Tousley and Hess) put themselves in considerable personal risk.”

Can it happen again?

“People often say it wouldn’t work today because there would be parent involvement, but take a look at our own national election,” Jones said.

Many of the questions those students faced 50 years ago, he said, are the same ones we are facing today:” How do we change things? Do we work within the system, or risk arrest? Do we accept civil disobedience?”

For Jones, who now spends his time in the theater and writing, the Wave represents a period in his life that he prefers not to talk about. The experiment ultimately brought an end to his teaching career in the public school system two years later when he was denied tenure despite support from hundreds of students and parents who petitioned to have him stay.

“It makes me quite pleased that this has become a catalyst for people to talk about history. That’s very rewarding, but I’m not proud of the Wave, and I don’t want to see it repeated,” said Jones, who has turned down inquiries about how to re-enact the Wave from everyone from cult leader Jim Jones to a British television company wanting to turn the experiment into a reality show.

Jones said he was particularly surprised how the students in the middle — those who weren’t the athletes, cheerleaders or part of the “in” crowd — responded to the Wave.

“Sometimes as a teacher, you miss the middle group, those who just want to be successful at something for once in life,” he said. “What was interesting during the Wave was that the very bright kids were excluded and martialed out of the classroom by guards early on. That left the middle group, who then felt empowered. That’s probably what’s happening today in the United States. People who felt left out suddenly are in control, and it feels good.

“Can it happen again? I say, ‘It’s happening.'”

Google Translate

Siswa di Cubberley High School berkumpul di alun-alun pada tahun 1967. Atas perkenan Philip Neel dan Penjaga kelas, lambang lengan simbolis, dan penghormatan rahasia yang dilakukan oleh anggota gerakan siswa elit di Cubberley High School di Palo Alto mungkin telah berakhir beberapa dekade yang lalu, tetapi minggu singkat yang tidak menyenangkan di bulan April 1967 ketika pelajaran sejarah berubah secara tak terduga terus berlanjut. memiliki dampak di seluruh dunia pada malam ulang tahun ke-50.

Gelombang Ketiga dimulai sebagai eksperimen di kelas guru sejarah tahun pertama Ron Jones untuk mensimulasikan fasisme dalam Perang Dunia II dan menunjukkan kepada siswa yang skeptis bagaimana Partai Nazi naik ke tampuk kekuasaan. Selama lima hari, gerakan itu mengambil jalannya sendiri ketika menyebar dari 30 siswa kelas dua di kelas wali kelas Jones ke lebih dari 200 siswa dari ketiga sekolah menengah di distrik sekolah Palo Alto yang bersemangat untuk berjanji setia pada gerakan sosial yang menjanjikan penerimaan dan penghargaan bagi mereka yang patuh mengikuti aturan kakunya.

“Ini dimulai sebagai permainan yang menyenangkan dengan guru paling populer di sekolah,” kata Mark Hancock, salah satu siswa di kelas wali kelas Sejarah Dunia Kontemporer Jones. “Dia memberi tahu kami, ‘Jika Anda seorang peserta aktif, saya akan memberi Anda A; jika Anda mengikutinya, saya akan memberi Anda C; jika Anda mencoba revolusi, saya akan memberi Anda nilai. F, tetapi jika revolusi Anda berhasil, saya akan memberi Anda nilai A.’

“Saya berusia 15 tahun yang nakal, dan saya langsung ingat, saya ingin menjadi salah satu revolusioner yang mendapat nilai A. … Tapi itu melampaui (nilai) cukup cepat, dan pada akhirnya, saya takut mati.”

Jones menempatkan penjaga siswa di pintu kelas, memerintahkan siswa untuk berbaris ke kelas dan duduk dengan waspada dengan tangan tergenggam di belakang mereka. Dia mengajari mereka untuk saling memberi hormat dengan tangan melengkung mirip dengan hormat yang digunakan selama rezim Nazi. Untuk menghindari pemberontakan, dia melarang setiap anggota partai berkumpul dalam kelompok yang lebih besar dari tiga orang di luar kelas — sebuah aturan yang harus dipatuhi 24/7. Dia menggunakan siswa sebagai polisi rahasia dan mengadakan persidangan publik untuk membuang “resistor” ke perpustakaan dengan nilai yang dikurangi, menurut laporan oleh reporter siswa Bill Klink yang muncul di surat kabar sekolah, “The Catamount,” pada 21 April 1967.

Pada saat itu, tidak ada yang menyadari bahwa eksperimen tersebut akan menjadi katalis yang signifikan untuk diskusi yang lebih luas tentang intimidasi, sejarah, tekanan teman sebaya, fasisme dan psikologi atau menginspirasi beberapa produksi panggung, musikal, film, dan buku. Di lebih dari 32 negara, pelajaran Gelombang Ketiga telah menjadi bagian dari kurikulum kelas, termasuk di Israel dan Jerman, di mana cerita merupakan persyaratan membaca sekolah menengah.

Sejarawan Kota Palo Alto Steve Staiger mengatakan Gelombang Ketiga adalah salah satu topik yang paling banyak ditanyakan, di balik Grateful Dead dan rumah pengembang Joseph Eichler.

“Ini menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang lebih signifikan di masa lalu Palo Alto,” kata Staiger.

Namun pada tahun 1967, eksperimen kelas kurang mendapat perhatian. Media lokal tidak melaporkannya, orang tua dengan cepat mengabaikannya dan sebagian besar siswa Jones tampaknya meninggalkan pelajaran minggu berikutnya ketika mereka pindah ke pelajaran sejarah tentang Vietnam. Hidup terus berjalan tanpa ada yang berbicara di depan umum tentang eksperimen selama satu dekade penuh sampai Jones secara tak terduga menabrak seorang mantan siswa di sebuah jalan di Berkeley yang segera memberinya penghormatan rahasia. Pertemuan singkat itu mengilhami Jones untuk menulis artikel pendek di majalah lokal tentang pengalaman Gelombang Ketiganya, yang menarik perhatian Hollywood dan sekitarnya. Film 1981 “The Wave” dan buku berikutnya dengan nama yang sama didasarkan pada artikelnya.

Hancock juga akhirnya memutuskan untuk berbicara tentang lima hari selama tahun keduanya yang telah menggerogoti dirinya selama lebih dari 40 tahun.

“‘Itu telah menjadi sebuah cerita besar — jelas sesuatu yang jauh lebih besar dari kita semua — bahwa saya tahu waktu yang tepat untuk berbicara dengan siswa lain dan memberikan suara kepada kami, ” kata Hancock dalam wawancara telepon dari Seattle pulang minggu lalu.

Pada saat yang sama, mantan teman sekelas dan editor film Hollywood Philip Neel (“Twin Peaks,” “Boston Common”) mengatakan dia telah memutuskan untuk mulai melacak teman-teman sekelasnya untuk mendapatkan eksperimen setelah mengetahui bahwa kedua putrinya belajar tentang Gelombang Ketiga di sekolah California selatan mereka.

Duo ini akhirnya bekerja sama dan menghasilkan film dokumenter pemenang penghargaan 2010 “Lesson Plan,” yang menjalin akun pribadi dari teman sekolah, Jones, orang tua, dan mantan Kepala Sekolah Scott Thomson.

Pada tanggal 22 Maret, Museum Sejarah Palo Alto akan menayangkan film tersebut untuk pertama kalinya di Palo Alto selama acara khusus di lokasi sekolah tempat semua itu terjadi (sekarang Pusat Komunitas Cubberley) untuk memperingati 50 tahun percobaan Gelombang Ketiga. Hancock, Neel dan Jones akan siap menjawab pertanyaan.

“Baru setelah kami mulai membuat film, saya menemukan kedalaman dari apa yang sebenarnya terjadi. Kami semua dibutakan oleh bagaimana semuanya terungkap pada saat itu,” kata Neel melalui telepon dari rumahnya di California selatan.

Percobaan

Jones baru saja lulus dari Universitas Stanford ketika dia dipekerjakan di Cubberley selama tahun ajaran 1966-’67. Pada saat itu, Cubberley adalah sekolah freewheeling yang membanggakan dirinya sebagai eksperimental, dan Jones, yang suka membawa pembicara tamu dan melakukan pelajaran yang tidak ortodoks, dengan cepat menjadi guru favorit di kampus, kenang Hancock.

“Dia sangat karismatik dan kelasnya sangat menyenangkan. Mereka sangat bagus sehingga jika pembicara tertentu datang ke kampus, anak-anak lain di kelas lain akan menyelinap keluar dan menonton kelas kami,” kata Hancock. “Banyak siswa berharap mereka memiliki dia sebagai guru mereka, dan kami tahu kami beruntung.”

Tidak ada yang punya alasan untuk khawatir pada bulan April itu ketika seorang siswa bertanya bagaimana Nazi bisa begitu menarik bagi masyarakat umum sehingga tidak ada yang berbicara selama Holocaust, dan Jones menjawab, “Saya tidak tahu. Mari kita coba eksperimen . Saya akan menjadi diktator, dan Anda akan menjadi gerakan,” kenang Hancock.

Senin berikutnya, Jones memerintahkan para siswa untuk memanggilnya sebagai Tuan Jones, bukan Ron. Dia menguliahi mereka tentang manfaat disiplin dan memerintahkan mereka untuk berlatih cara yang benar untuk duduk dan berdiri dengan perhatian yang sempurna melalui latihan berulang.

“Itu benar-benar hanya dimaksudkan untuk menjadi latihan satu jam,” kata Jones dalam sebuah wawancara dengan Weekly. “Saya benar-benar ingin para siswa memiliki pemahaman tentang Holocaust. Saya pikir itu akan menjadi batu loncatan ke dalam bagaimana rasanya berada dalam negara totaliter jika mereka mengikuti arahan seorang guru dengan cara seperti marshal.”

Ketika Jones kembali ke kelas keesokan harinya, dia menemukan para siswa duduk dengan postur yang sama seperti yang dia tinggalkan pada hari sebelumnya dengan “senyuman ritsleting ini di wajah mereka,” kata Jones.

Dia berpikir, “Ya ampun, tentang apa ini?” dan secara spontan, seperti improvisasi, Jones pergi ke papan tulis dan menulis slogan, “kekuatan melalui disiplin,” dan “kekuatan melalui komunitas.” Kelas mulai melantunkan kata-kata secara serempak, dan sebuah gerakan lahir.

“Ada kegembiraan tentang menjadi bagian dari komunitas,” kata Jones.

Di kelas hari itu, dia membuat salut rahasia dan memberi nama grup, “Gelombang Ketiga” — istilah peselancar yang digunakan untuk menggambarkan gelombang terakhir dan terkuat dalam serangkaian gelombang besar.

“Ketika bel berbunyi mengakhiri periode, saya meminta kelas untuk hening total. Dengan semua orang duduk memperhatikan saya perlahan mengangkat tangan saya dan dengan tangan menangkup saya memberi hormat,” kenang Jones dalam artikelnya, “The Third Wave, 1967: an Akun.” “Itu adalah tanda pengakuan diam-diam. Mereka adalah sesuatu yang istimewa. Tanpa perintah seluruh kelompok siswa membalas hormat.”

Keesokan harinya, Jones mengeluarkan kartu keanggotaan untuk setiap siswa yang ingin melanjutkan di Wave. Tidak ada satu siswa pun yang memilih keluar ruangan, katanya.

Kemudian, dia menyuruh para siswa menundukkan kepala dan diam-diam menepuk bahu mereka bertiga. Siapa pun yang menerima ketukan diberi tugas khusus untuk melaporkan siswa yang tidak mematuhi aturan Wave.

“Saya ingat tidak disadap dan berpikir, ‘Saya akan kehilangan sesuatu di sini,'” kata Hancock. “Saat itu masih merupakan permainan kecil yang menyenangkan. Tapi kemudian, dia mulai mengeluarkan aturan.”

Siapa pun yang dituduh tidak mengikuti aturan menghadapi pengadilan publik.

“Di pagi hari, dia akan masuk dan berdiri di depan kelas dengan kami duduk tegak,” kenang Hancock. “Kemudian, dia akan mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya, dan dia akan menyebutkan sebuah nama. Orang itu akan berdiri, dan dia akan berkata, ‘Polisi rahasia saya telah memberi tahu saya bahwa Anda telah melanggar aturan. Anda harus mengatakannya sendiri? … Jika kita ingin menjadi kelompok yang disiplin dan melakukan hal-hal hebat, kita tidak dapat memiliki pelanggar aturan di sini.'”

Dia kemudian akan bertanya kepada siswa satu per satu, “Apakah orang ini bersalah?” sampai dia membuat semua orang meneriakkan “bersalah, bersalah, bersalah,” tambah Hancock. “Itu membuatku sangat takut.”

Setelah dihukum, siswa diasingkan dari Wave dan tidak diizinkan untuk kembali ke kelas.

“Saya tidak tahu itu akan sejauh ini, tetapi tumbuh secara eksponensial,” kata Jones. “Pada hari ketiga, siswa lain memotong kelas untuk menjadi bagian dari Wave, dan pada hari keempat, mereka bermigrasi dari Paly dan Gunn untuk menjadi bagian darinya.”

Jones mengatakan eksperimen itu mencapai titik baliknya pada Hari ke-3 ketika pengawal siswa menemaninya ke ruang guru.

“Ada seorang guru bahasa Inggris duduk di sana yang berkata, ‘Hei, siswa tidak diperbolehkan masuk ke sini.’ Dan anak ini berkata, ‘Saya bukan pelajar, saya pengawal.’ Saya tahu pada saat itu bahwa orang dewasa muda itu telah melewati batas yang tidak terlihat, dan ini bukan lagi permainan atau aktivitas kelas. Ini adalah sesuatu yang nyata bagi orang ini, dan saya melewati garis yang sama,” kata Jones. “Saya mulai menyukai perintah dan sanjungan. Itu sangat memabukkan.”

Jones terus menunggu seseorang untuk masuk dan menghentikan eksperimen — tetapi tidak ada yang pernah melakukannya. Orang tua, fakultas, para siswa semua mempercayainya tanpa pertanyaan.

“Sekarang, saya jauh ke dalamnya dan saya berpikir, ‘Bagaimana ini akan berakhir?’ Saya berharap beberapa anggota fakultas akan masuk ke ruangan dan menantangnya … tetapi guru itu tidak pernah datang.”

Bahkan kepala sekolah, kata Jones, menyukai kenyataan bahwa para siswa tampak lebih tertib dan tidak berkeliaran di aula.

Pada akhir minggu, Jones menjatuhkan bom pada siswa: Dia memasuki kelas dan menarik tirai di jendela untuk menggelapkan ruangan. Dia tidak lagi tersenyum.

Dia merendahkan suaranya dan memberi tahu para siswa bahwa dia memiliki pengumuman penting: “Gelombang Ketiga bukan hanya sebuah eksperimen… Ini nyata,” kenang Hancock.

Para mahasiswa telah dipilih untuk menjadi bagian dari partai politik ketiga baru yang akan merevolusi politik Amerika. Dia mengatakan kepada mereka bahwa pemimpin politik nasional mereka akan memperkenalkan dirinya dalam pidato yang disiarkan televisi pada rapat umum sore itu.

“Itulah titik balik bagi saya. Saya merasakan perasaan terjebak yang mengerikan ini,” kata Hancock.

Sore itu, para siswa berbondong-bondong ke auditorium membawa poster, meneriakkan dan percaya bahwa sejumlah besar “wartawan” dan “kameramen” yang mendokumentasikan acara tersebut berasal dari outlet nyata, bukan bagian dari eksperimen Jones.

Namun, ketika Jones menyalakan televisi, hanya salju putih yang muncul di layar.

Semua orang diam-diam duduk dalam posisi menunggu dan menunggu pemimpin mereka muncul. Beberapa menit berlalu dan tidak ada yang terjadi.

Beberapa saat kemudian, video Reli Nuremberg dimulai di layar raksasa di dinding, menampilkan Hitler dan Third Reich.

“Dengarkan baik-baik, saya punya sesuatu yang penting untuk diberitahukan kepada Anda,” Jones menceritakan dalam artikelnya. “Duduklah. Tidak ada pemimpin. Tidak ada yang namanya gerakan pemuda nasional yang disebut Gelombang Ketiga. Anda telah digunakan. Dimanipulasi. Didorong oleh keinginan Anda sendiri ke tempat Anda sekarang berada. Anda tidak lebih baik atau lebih buruk daripada Nazi Jerman yang telah kita pelajari.”

Jones mengatakan ada berbagai macam reaksi.

Hancock mengatakan dia ingat beberapa siswa menangis, sementara yang lain mengatakan mereka tahu itu adalah lelucon selama ini. Lainnya, seperti dia, telah kehabisan reli ketakutan sebelum Jones membuat pengumuman terakhirnya.

Jones mengatakan keheningan adalah pengalaman umum yang dialami semua orang. Tidak ada yang secara terbuka berbicara tentang rapat umum itu selama 10 tahun.

“Itu benar-benar awal dari pertanyaan mahasiswa, ‘Bagaimana orang Jerman bisa berperilaku seperti itu setelah perang?'” kata Jones. “Diam adalah apa yang terjadi ketika Anda merasa malu.”

Neel berkata ketika itu selesai, reaksi awalnya adalah, “Wow. Itu adalah pengalaman yang luar biasa, dan saya mendapat pelajaran.”

Dia mengatakan ada beberapa orang yang melihat film dokumenter tersebut dan mengatakan bahwa Jones seharusnya tidak pernah melakukan eksperimen itu sejak awal dan kesal karena murid-muridnya masih mendukungnya sampai sekarang.

“Perasaan saya sebaliknya,” kata Neel. “Sudah pasti bahwa apa yang dia lakukan secara etis salah, tetapi pelajaran yang dia ajarkan jauh lebih banyak daripada (itu).”

Neel menyebut pengalaman itu sebagai panggilan bangun yang memiliki dampak seumur hidup.

“Saya pikir saya memproses hal-hal secara berbeda sekarang,” kata Neel, yang tetap curiga untuk bergabung dengan kelompok apa pun dan mempertanyakan semua yang dia dengar dan baca.

Banding

Jones meluncurkan Wave hanya dua bulan sebelum Summer of Love berjalan lancar. Itu adalah saat perang yang tidak diinginkan, protes dan integrasi rasial terjadi untuk pertama kalinya.

“Dengan keresahan yang dibawa semua itu, ada perasaan bahwa mungkin kita bisa mengubah hal-hal ini,” kata Jones. Itu membuat Wave menarik, terutama bagi anak laki-laki yang menghadapi wajib militer dalam dua tahun.

Hancock berkata dia ingat pernah berpikir, “Saya tidak ingin direkrut. Mungkin ini hal yang baik meskipun saya tidak suka bagaimana rasanya.”

Ada juga nilai yang harus dipikirkan dan tekanan teman sebaya untuk menjadi bagian dari kelompok elit.

“Jones melakukannya dengan sangat baik karena kami dapat dengan mudah mengenalinya,” kata Neel. “Dia masih muda, dia berbicara bahasa kami, dan kami merasa sangat nyaman dengannya.”

Dia tidak membuat eksperimen itu rasis atau anti-Semit, tambah Hancock.

“Jika dia melewati batas itu dan meminta kami untuk saling melawan, mungkin hasilnya akan berbeda,” katanya.

Daya tarik terbesar adalah cara Jones melakukan eksperimen, kata Hancock.

“Apa yang tidak dipahami orang adalah cara Jones meluncurkan Wave. Kami tersedot ke dalamnya karena bertahap,” kata Hancock. “Pada saat Anda merasa terjebak, tidak banyak yang bisa Anda lakukan. Kenyataannya adalah bahwa itu adalah kelas IPS Anda, dan Anda benar-benar tidak bisa pergi ke tempat lain. Satu-satunya hal yang bisa Anda lakukan adalah membawa permainan ke tingkat yang baru dan menjadi seorang revolusioner atau mencoba untuk keluar melalui administrasi, tapi itu sepertinya bukan jalan yang mungkin karena semua orang adalah bagian dari Wave sejauh yang Anda tahu.”

Hancock, yang sekarang berkeliling dunia untuk berbicara dengan para siswa tentang Gelombang, mengatakan eksperimen itu merupakan tonggak emosional dalam hidup mereka.

“Sebagian besar dari kita memiliki ingatan yang sangat kuat tentang itu,” katanya. “Tetapi kenyataannya tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama. Masing-masing dari kita harus membuat keputusan selama waktu itu apakah kita akan mendukungnya, menolaknya atau hanya mencoba menyingkir dan mendapatkan nilai A dan bergerak. pada.”

Bagi Hancock, dia ingin menjadi seorang revolusioner tetapi tidak pernah menemukan cara untuk melawan.

“Saya berharap saya telah berbuat lebih banyak dan dapat mengatakan bahwa saya adalah penghambat utama,” katanya. “Saya punya niat baik, tapi itu seperti negara totaliter, jadi jika Anda mengatakan hal yang salah, Anda akan menghilang. Saya memutuskan untuk mencoba mencari tahu dari dalam sistem, tetapi setiap hari semuanya terus berubah. berpikir, ‘Awan akan berpisah dan saya akan tahu apa yang harus dilakukan,’ tetapi itu tidak pernah terjadi, dan saya tidak bertindak.”

Neel mengatakan dia memilih untuk tidak ikut campur — keputusan yang dia sesali.

“Saya berada di tengah, yang mungkin merupakan tempat terburuk,” katanya. “Saya hanya mengikuti arus dan mengikuti semua orang dan tidak menentangnya, tetapi tidak sepenuhnya mendukungnya. … Saya tinggal terlalu lama. Beberapa orang berlari keluar dari reli, tetapi saya ada di sana sampai akhir yang pahit. .”

Dari semua siswa, hanya dua yang aktif melawan — mahasiswa tahun kedua Alyssa Hess dan Sherry Tousley. Pada hari terakhir, Hess berdiri di kelas dan mendesak teman-teman sekelasnya untuk tidak menghadiri rapat umum. Tousley melawan sejak awal. Tousley adalah salah satu siswa top Jones yang telah diusir dari kelas sejak awal karena mempertanyakan tujuan gerakan itu. Dia secara anonim meluncurkan kelompok perlawanan anti-Gelombang, “The Breakers.” Dalam film dokumenter “Rencana Pelajaran,” katanya ayahnya mengantarnya ke Cubberley sebelum jam sekolah sehingga dia bisa menggantung poster anti-Gelombang tinggi di aula sehingga siswa tidak bisa merobohkannya. Sampai pembuatan film dokumenter 40 tahun kemudian, tidak seorang pun — kecuali ayahnya — tahu Tousley adalah satu-satunya orang di belakang kelompok perlawanan.

“Saya ingat berpikir, ‘Siapa kelompok perlawanan ini yang bisa saya temukan dan bergabung?'” kata Hancock. “(Tousley dan Hess) menempatkan diri mereka dalam risiko pribadi yang cukup besar.”

Bisakah itu terjadi lagi?

“Orang sering mengatakan itu tidak akan berhasil hari ini karena akan ada keterlibatan orang tua, tetapi lihatlah pemilihan nasional kita sendiri,” kata Jones.

Banyak dari pertanyaan yang dihadapi para siswa 50 tahun yang lalu, katanya, adalah pertanyaan yang sama yang kita hadapi saat ini: “Bagaimana kita mengubah keadaan? Apakah kita bekerja di dalam sistem, atau berisiko ditangkap? Apakah kita menerima pembangkangan sipil?”

Bagi Jones, yang sekarang menghabiskan waktunya di teater dan menulis, Wave mewakili periode dalam hidupnya yang tidak ingin dia bicarakan. Eksperimen tersebut akhirnya mengakhiri karir mengajarnya di sistem sekolah umum dua tahun kemudian ketika ia ditolak jabatannya meskipun mendapat dukungan dari ratusan siswa dan orang tua yang mengajukan petisi agar dia tetap tinggal.

“Saya cukup senang bahwa ini telah menjadi katalis bagi orang-orang untuk berbicara tentang sejarah. Itu sangat bermanfaat, tetapi saya tidak bangga dengan Wave, dan saya tidak ingin melihatnya terulang,” kata Jones, yang telah menolak pertanyaan tentang bagaimana memerankan kembali Wave dari semua orang mulai dari pemimpin sekte Jim Jones hingga perusahaan televisi Inggris yang ingin mengubah eksperimen menjadi reality show.

Jones mengatakan dia sangat terkejut bagaimana siswa di tengah – mereka yang bukan atlet, pemandu sorak atau bagian dari kerumunan “dalam” – menanggapi Gelombang.

“Terkadang sebagai guru, Anda merindukan kelompok menengah, mereka yang hanya ingin sukses dalam sesuatu sekali seumur hidup,” katanya. “Yang menarik selama Gelombang adalah bahwa anak-anak yang sangat cerdas dikeluarkan dan dikeluarkan dari kelas oleh penjaga sejak dini. Itu meninggalkan kelompok tengah, yang kemudian merasa diberdayakan. Mungkin itulah yang terjadi hari ini di Amerika Serikat. Orang-orang yang merasa ditinggalkan tiba-tiba memegang kendali, dan rasanya enak.

“Bisakah itu terjadi lagi? Saya berkata, ‘Ini terjadi.'”

Video

Insiden Bruce “David” Reimer

Setelah prosedur sunat yang gagal saat berumur enam bulan, seorang pria Kanada bernama Bruce Reimer harus menjalani prosedur “pengubahan identitas” yang “membunuhnya perlahan” bersama John Money, profesor psikologi medis dan pediatri Johns Hopkins University.

John adalah penggagas teori “netralitas gender”. Eksperimen di luar akal terakhir ini juga dilakukan untuk membuktikan bahwa identitas gender adalah produk pengajaran dari usia dini.

Walaupun alat kelamin Reiner tidak dapat diperbaiki, John menyarankan Bruce untuk menjalani operasi kelamin dan membiasakan dirinya menjadi seorang perempuan. Pada 1967, Bruce memulai terapi yang membuatnya berubah menjadi “Brenda”.

Meskipun program tersebut berjalan mulus selama sepuluh tahun, Bruce tidak bisa menganggap dirinya sebagai seorang wanita.

Alhasil, sejak berumur 14 tahun, ia hidup tetap menjadi seorang laki-laki. Dari Brenda, Bruce mengubah namanya menjadi David. Sebetulnya, ia dapat menjalani operasi kelamin untuk mengembalikan dirinya menjadi seorang laki-laki.

Program bersama John Money terbukti tidak efektif dan berakhir pada kegagalan yang amat fatal.

Pada 2004, Bruce “David” Reimer dikabarkan bunuh diri dikarenakan tekanan depresi ekstrim hasil dari eksperimen tersebut. Bersamaan dengan kematian David, nama John Money ikut tercemar dan teorinya ikut menghilang bersamanya.

Berikut rekaman Bruce dalam acara Oprah Winfrey Show pada 2000:

Video

Leave a Comment

You cannot copy content of this page