Orang Kristen melanggar Taurat dengan memakan segalanya ?

Di dalam dialog external dan internal, seringkali orang Kristen diserang mengenai kebiasaan makan orang Kristen yang memakan segalanya. Pada umumnya orang akan menyerang orang Kristen dengan menggunakan Imamat 11.

Saya di sini tidak akan membahas perubahan dari babi menjadi babi hutan karena bukan itu intinya.

Kita lihat ayat Alkitabnya (Imamat 11)

Imamat 11

1. Lalu Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun, kata-Nya kepada mereka:
2. ”Katakanlah kepada orang Israel, begini: Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada di atas bumi:
3. setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan.
4. Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
5. Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
6Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu.
7Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.
8Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.
9Inilah yang boleh kamu makan dari segala yang hidup di dalam air: segala yang bersirip dan bersisik di dalam air, di dalam lautan, dan di dalam sungai, itulah semuanya yang boleh kamu makan.
10Tetapi segala yang tidak bersirip atau bersisik di dalam lautan dan di dalam sungai, dari segala yang berkeriapan di dalam air dan dari segala makhluk hidup yang ada di dalam air, semuanya itu kejijikan bagimu.
11Sesungguhnya haruslah semuanya itu kejijikan bagimu; dagingnya janganlah kamu makan, dan bangkainya haruslah kamu jijikkan.
12Segala yang tidak bersirip dan tidak bersisik di dalam air, adalah kejijikan bagimu.
13Inilah yang harus kamu jijikkan dari burung-burung, janganlah dimakan, karena semuanya itu adalah kejijikan: burung rajawali, ering janggut dan elang laut;
14elang merah dan elang hitam menurut jenisnya;
15setiap burung gagak menurut jenisnya;
16burung unta, burung hantu, camar dan elang sikap menurut jenisnya;
17burung pungguk, burung dendang air dan burung hantu besar;
18burung hantu putih, burung undan, burung ering;
19burung ranggung, bangau menurut jenisnya, meragai dan kelelawar.
20Segala binatang yang merayap dan bersayap dan berjalan dengan keempat kakinya adalah kejijikan bagimu.
21Tetapi inilah yang boleh kamu makan dari segala binatang yang merayap dan bersayap dan yang berjalan dengan keempat kakinya, yaitu yang mempunyai paha di sebelah atas kakinya untuk melompat di atas tanah. 22Inilah yang boleh kamu makan dari antaranya: belalang-belalang menurut jenisnya, yaitu belalang-belalang gambar menurut jenisnya, belalang-belalang kunyit menurut jenisnya, dan belalang-belalang padi menurut jenisnya.
23Selainnya segala binatang yang merayap dan bersayap dan yang berkaki empat adalah kejijikan bagimu.
24Semua yang berikut akan menajiskan kamu – setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam,
25dan setiap orang yang ada membawa dari bangkainya haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam –,
26yakni segala binatang yang berkuku belah, tetapi tidak bersela panjang, dan yang tidak memamah biak; haram semuanya itu bagimu dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis.
27Demikian juga segala yang berjalan dengan telapak kakinya di antara segala binatang yang berjalan dengan keempat kakinya, semuanya itu haram bagimu; setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam.
28Dan siapa yang membawa bangkainya, haruslah mencuci pakaiannya dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. Haram semuanya itu bagimu.
29Inilah yang haram bagimu di antara segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi: tikus buta, tikus, dan katak menurut jenisnya
30dan landak, biawak, dan bengkarung, siput dan bunglon.
31Itulah semuanya yang haram bagimu di antara segala binatang yang mengeriap. Setiap orang yang kena kepada binatang-binatang itu sesudah binatang-binatang itu mati, menjadi najis sampai matahari terbenam. 32Dan segala sesuatu menjadi najis, kalau seekor yang mati dari binatang-binatang itu jatuh ke atasnya: perkakas kayu apa saja atau pakaian atau kulit atau karung, setiap barang yang dipergunakan untuk sesuatu apa pun, haruslah dimasukkan ke dalam air dan menjadi najis sampai matahari terbenam, kemudian menjadi tahir pula.
33Kalau seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke dalam sesuatu belanga tanah, maka segala yang ada di dalamnya menjadi najis dan belanga itu harus kamu pecahkan.
34Dalam hal itu segala makanan yang boleh dimakan, kalau kena air dari belanga itu, menjadi najis, dan segala minuman yang boleh diminum dalam belanga seperti itu, menjadi najis.
35Kalau bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke atas sesuatu benda, itu menjadi najis; pembakaran roti dan anglo haruslah diremukkan, karena semuanya itu najis dan haruslah najis juga bagimu; 36tetapi mata air atau sumur yang memuat air, tetap tahir, sedangkan siapa yang kena kepada bangkai binatang-binatang itu menjadi najis.
37Apabila bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke atas benih apa pun yang akan ditaburkan, maka benih itu tetap tahir.
38Tetapi apabila benih itu telah dibubuhi air, lalu ke atasnya jatuh bangkai seekor dari binatang-binatang itu, maka najislah benih itu bagimu.
39Apabila mati salah seekor binatang yang menjadi makanan bagimu, maka siapa yang kena kepada bangkainya menjadi najis sampai matahari terbenam.
40Dan siapa yang makan dari bangkainya itu, haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam; demikian juga siapa yang membawa bangkainya haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.
41Segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi, adalah kejijikan, janganlah dimakan. 42Segala yang merayap dengan perutnya dan segala yang berjalan dengan keempat kakinya, atau segala yang berkaki banyak, semua yang termasuk binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi, janganlah kamu makan, karena semuanya itu adalah kejijikan.
43Janganlah kamu membuat dirimu jijik oleh setiap binatang yang merayap dan berkeriapan dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu, sehingga kamu menjadi najis karenanya.
44 Sebab Akulah Tuhan, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi.
45Sebab Akulah Tuhan yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.
46Itulah hukum tentang binatang berkaki empat, burung-burung dan segala makhluk hidup yang bergerak di dalam air dan segala makhluk yang mengeriap di atas bumi,
47yakni untuk membedakan antara yang najis dengan yang tahir, antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan.”

Beberapa istilah yang perlu diketahui

The Laws of Clean and Unclean and Their Relationship with the Concept of Sacred Space

Ritual cleanness/uncleanness is a major theme in the ceremonial (or cultic) laws in the Pentateuch. It was one of the duties of priests to distinguish between the ritually clean and the ritually unclean (Ezekiel 22:26; 44:23; Haggai 2:11-13). The concept might be rendered better “purity and impurity” since the Hebrew for “clean” (tahor) more precisely means “pure” (cf. Exodus 25:11 where it is used for “pure,” i.e., “unalloyed,” gold). A whole block (chapters 11-15) of the book of Leviticus is devoted to this topic, and there is continual reference to it elsewhere in the Pentateuch.
Leviticus 10:10 provides orientation.1 It states that the priest must distinguish between two pairs of overlapping categories (expressed in chiastic parallelism):

A. The holy things (qodesh) and
B. The common things (chol);
b. The unclean (tame’) and
a. The clean (tahor).

That which is “holy” is set apart to God, and must also be “clean.” All that is not “holy” is “common.” That which is common can be either ritually clean or unclean. Hence there are actually three categories: (i) holy and clean, (ii) common and clean, (iii) common and unclean. There is a close connection between “cleanness” and “holiness” and an incompatibility between “uncleanness” and “holiness.”

Unclean Animals and Food.7 Animals were either “clean” or “unclean,” a distinction first made in the account of Noah’s flood (Genesis 7:2), but elaborated in detail in Leviticus 11 and Deuteronomy 14. Quadrupeds with hoofs having clefs and which chew the cud (which excluded camels, rock badgers, hares, and pigs, as well as all quadrupeds which walk on paws rather than hoofs), and fish with fins and scales (which excluded shellfish and crustaceans) were clean, while many birds, especially the predatory and scavenger species (eagles, vultures, falcons, ravens, owls, etc.), were listed as unclean.8 Also forbidden were all flying insects except locusts and similar insects. Some among the unclean animals are designated shegetz (“cultic abomination”), or to’ebah (“abomination, abhorrence”). These transmitted an especially loathsome form of uncleanness (Leviticus 11:10-13, 20, 23, 41; Deuteronomy 14:3). Eating an unclean animal rendered a person unclean, in this case till evening, whether it be flesh from an inherently unclean animal, flesh of a clean animal rendered unclean by death from natural causes (Leviticus 11:39-40; 17:15), or any food rendered unclean by contact with something else unclean (cf. Haggai 2:10-13). Pious Israelites such as Daniel would refuse to defile (ga’al) themselves by eating non-“kosher” foods (Daniel 1:8), whereas eating unclean food such as swine and mice was an act of impiety condemned by Isaiah (Isaiah 65:4; 66:17).

Google Translate

Kebersihan/kekotoran ritual adalah tema utama dalam hukum upacara (atau pemujaan) dalam Pentateuch. Adalah salah satu tugas para imam untuk membedakan antara yang tahir secara ritual dan yang najis secara ritual (Yehezkiel 22:26; 44:23; Hagai 2:11-13). Konsep ini dapat diterjemahkan lebih baik “kemurnian dan ketidakmurnian” karena bahasa Ibrani untuk “bersih” (tahor) lebih tepatnya berarti “murni” (lih. Keluaran 25:11 di mana digunakan untuk “murni,” yaitu, “tidak dicampur,” emas ). Seluruh blok (pasal 11-15) dari kitab Imamat dikhususkan untuk topik ini, dan ada referensi terus-menerus untuk itu di tempat lain di Pentateuch.
Imamat 10:10 memberikan orientasi.1 Ini menyatakan bahwa imam harus membedakan antara dua pasang kategori yang tumpang tindih (dinyatakan dalam paralelisme kiastik):

A. Hal-hal yang suci (qodesh) dan
B. Hal-hal yang umum (chol);
B. Yang najis (tame’) dan
A. Yang bersih (tahor).

Apa yang “kudus” dipisahkan untuk Tuhan, dan juga harus “bersih.” Semua yang tidak “suci” adalah “umum”. Apa yang umum dapat berupa bersih secara ritual atau najis. Oleh karena itu sebenarnya ada tiga kategori: (i) suci dan bersih, (ii) umum dan bersih, (iii) umum dan najis. Ada hubungan erat antara “kebersihan” dan “kekudusan” dan ketidaksesuaian antara “kekotoran” dan “kekudusan.

Hewan dan Makanan Najis. 7 Hewan bisa “bersih” atau “najis”, perbedaan pertama kali dibuat dalam kisah banjir Nuh (Kejadian 7:2), tetapi diuraikan secara rinci dalam Imamat 11 dan Ulangan 14. Hewan berkaki empat dengan kuku berkuku dan yang mengunyah makanan (yang tidak termasuk unta, musang batu, terwelu, dan babi, serta semua hewan berkaki empat yang berjalan dengan cakar daripada berkuku), dan ikan dengan sirip dan sisik (yang tidak termasuk kerang dan krustasea) bersih, sementara banyak burung, terutama spesies pemangsa dan pemakan bangkai (elang, hering, elang, gagak, burung hantu, dll.), terdaftar sebagai najis.8 Juga dilarang semua serangga terbang kecuali belalang dan serangga sejenis. Beberapa di antara hewan najis disebut shegetz (“kekejian pemujaan”), atau to’ebah (“kekejian, kebencian”). Ini menularkan suatu bentuk kenajisan yang sangat menjijikkan (Imamat 11:10-13, 20, 23, 41; Ulangan 14:3). Memakan binatang yang najis membuat seseorang menjadi najis, dalam hal ini sampai malam hari, apakah itu daging dari binatang yang pada dasarnya najis, daging dari binatang yang najis yang menjadi najis karena kematian karena sebab-sebab alami (Imamat 11:39-40; 17:15), atau makanan apa pun yang menjadi najis karena kontak dengan sesuatu yang lain yang najis (lih. Hagai 2:10-13). Orang Israel yang saleh seperti Daniel akan menolak untuk menajiskan (ga’al) diri mereka sendiri dengan makan makanan yang tidak halal (Daniel 1:8), sedangkan makan makanan yang tidak bersih seperti babi dan tikus adalah tindakan ketidaksopanan yang dikutuk oleh Yesaya (Yesaya 65 :4; 66:17).

Catatan Admin

Ada hal – hal yang perlu diketahui

1. Imamat 11 berbicara tentang bersih dan tidak bersih
2. Imamat 11 tidak menyebutkan hukuman bila melanggar
3. Imamat 11 diberikan kepada umat Israel di padang gurun sehingga sangat penting untuk melihat situasi pengolahan makanan

Apa semua penganut agama Yahudi harus taat Imamat 11?

Kebanyakan orang mengira kalau semua penganut agama Yahudi harus taat kepada Imamat 11. Pada kenyataannya, jawabannya adalah : TIDAK.

Imamat 11 hanya diberlakukan untuk penganut agama Yahudi yang merupakan orang Yahudi (selanjutnya Yahudi sebagai bangsa, akan admin tulis sebagai Israel). Kepada penganut agama Yahudi yang bukan orang Israel, tidak dipaksakan untuk menaati Imamat 11.

Gentile / Goyim

Gentile, person who is not Jewish. The word stems from the Hebrew term goy, which means a “nation,” and was applied both to the Hebrews and to any other nation. The plural, goyim, especially with the definite article, ha-goyim, “the nations,” meant nations of the world that were not Hebrew. (britanica.com)

Non-Yahudi, orang yang bukan Yahudi. Kata tersebut berasal dari istilah Ibrani goy, yang berarti “bangsa”, dan diterapkan baik pada orang Ibrani maupun pada bangsa lain mana pun. Bentuk jamaknya, goyim, khususnya dengan kata sandang pasti, ha-goyim, “bangsa-bangsa,” berarti bangsa-bangsa di dunia yang bukan Ibrani.

Catatan Admin

Jadi, sebutan untuk penganut agama Yahudi yang bukan merupakan orang Israel, disebut Goyim. Dan untuk Goyim, tidak berlaku Imamat 11

Lalu, hukum apakah yang berlaku unutk Goyim ? Jawabannya adalah Hukum Nuh. Dasar mengenai tidak berlakukanya Imamat 11 diatur di dalam Traktat Sanhedrin nomer 56a.

Traktat Sanhedrin

Tractate Sanhedrin: Talmudic tractate that details the laws applicable to the hierarchal Jewish judicial system, as well as the various penalties – monetary, corporeal and capital – at its disposal (Chabad.org)
Traktat Sanhedrin: Traktat Talmud yang merinci undang-undang yang berlaku untuk sistem peradilan Yahudi hierarkis, serta berbagai hukuman – moneter, jasmani, dan modal – yang ada di dalamnya

Hal yang diatur di dalam Traktat Sanhedrin :

1. The different levels of courts and which cases each level presides over
2. Laws of the high priest and Jewish king and their involvement in court proceedings
3. Civil suits: acceptable witnesses and judges and the general proceedings
4. The difference between criminal and civil cases, general proceedings in criminal cases
5. Court procedures, including examination of witnesses and the voting of the judges
6. Procedures for execution after condemnation, especially stoning
7. The 4 types of capital punishments, details of crimes which merit stoning (in fact stoning was only actually done if the convict survived being dropped off a 5-meter cliff first)
8. The rebellious son, and other crimes for which the offender is killed before committing the actual prohibition, and the commandments which Jews are to die before violating.
9. Details of crimes meriting capital punishment by burning (actually the pouring of hot lead down the throat, the Sadducee heretics instead used burning at the stake) or beheading; auxiliary punishments
10. Details of crimes meriting capital punishment by strangulation (i.e. hanging)
11. The World to Come and who does not receive it. This chapter is known individually by Helek, one of its opening words.

Google Translate

1. Tingkat pengadilan yang berbeda dan kasus mana yang dipimpin oleh setiap tingkat
2. Hukum imam besar dan raja Yahudi dan keterlibatan mereka dalam proses pengadilan
3. Gugatan perdata: saksi dan hakim yang dapat diterima dan proses umum
4. Perbedaan antara kasus pidana dan perdata, proses umum dalam kasus pidana
5. Prosedur pengadilan, termasuk pemeriksaan saksi-saksi dan pemungutan suara para hakim
6. Tata cara eksekusi setelah hukuman, terutama rajam
7. 4 jenis hukuman mati, rincian kejahatan yang pantas dirajam (sebenarnya rajam hanya benar-benar dilakukan jika terpidana selamat dijatuhkan dari tebing setinggi 5 meter terlebih dahulu)
8. Anak pemberontak, dan kejahatan lain yang pelakunya dibunuh sebelum melakukan larangan yang sebenarnya, dan perintah-perintah yang orang Yahudi harus mati sebelum melanggar.
9. Rincian kejahatan yang pantas dihukum mati dengan membakar (sebenarnya menuangkan timah panas ke tenggorokan, bidat Saduki malah menggunakan pembakaran di tiang) atau pemenggalan kepala; hukuman tambahan
10. Rincian kejahatan yang pantas dihukum mati dengan pencekikan (yaitu gantung)
11. Dunia yang Akan Datang dan siapa yang tidak menerimanya. Bab ini dikenal secara individual oleh Helek, salah satu kata pembukanya.

7 Hukum Nuh – Traktat Sanhedrin 56a

Berikut ini isi dari Traktat Sanhedrin nomer 56a yang tercantum di https://steinsaltz.org/daf/sanhedrin56/

Sanhedrin 56a-b: Obligations for Non-Jews

We usually think of the Torah as commanding the Jewish People to live according to its laws. What responsibilities and obligations does the Torah command non-Jews to perform?

The Gemara on today’s daf quotes a baraita that teaches the laws of the sheva mitzvot benei Noaḥ – the seven Noachide laws:

1. Dinim – the commandment to establish a legal system
2. Birkat HaShem – a prohibition against blasphemy
3. Avoda Zara – a prohibition against idol worship
4. Giluy Arayot – a prohibition against sexual depravity
5. Shefiḥut Damim – a prohibition against murder
6. Gezel – a prohibition against stealing
7. Ever min ha-ḥai – a prohibition against eating from a living animal

The source for these seven commandments is presented by Rabbi Yoḥanan as stemming from the first commandment given by God to Adam. In Sefer Bereshit (2:16-17) we find that God commanded Adam to eat freely of any of the trees in the Garden of Eden with the exception of the etz ha-da’at tov va-ra – the tree of knowledge of good and evil – which was forbidden to him. By means of a series of homiletical interpretations, the words in these pesukim are understood to refer to the various actions and behaviors that are forbidden.

In the midrashic compendium Lekaḥ Tov another suggestion is raised regarding the source of the sheva mitzvot benei Noaḥ. Aside from the homiletical interpretation of the verses in Sefer Bereshit, we also find a number of specific references in the Tanakh to punishments given to non-Jews for these types of transgressions. Thus we find that Kayin is punished for killing Hevel (Bereshit chapter 4), Avimelekh is punished for attempting to engage in sexual relations with Sarah (Bereshit chapter 20), the generation of the flood were punished for ḥamas – for stealing (Bereshit 6:11) – and we find in Sefer Iyyov (31:26-28) that idol worship was forbidden to them.

Google Translate

Sanhedrin 56a-b: Kewajiban bagi Non-Yahudi
Kita biasanya menganggap Taurat sebagai memerintahkan orang-orang Yahudi untuk hidup sesuai dengan hukumnya. Tanggung jawab dan kewajiban apa yang diperintahkan Taurat untuk dilakukan oleh orang non-Yahudi?

Gemara di daf hari ini mengutip sebuah baraita yang mengajarkan hukum sheva mitzvot benei Noaḥ – tujuh hukum Noachide:

1. Dinim – perintah untuk mendirikan sistem hukum
2. Birkat HaShem – larangan terhadap penistaan
3. Avoda Zara – larangan terhadap penyembahan berhala
4. Giluy Arayot – larangan terhadap kebejatan seksual
5. Shefiḥut Damim – larangan pembunuhan
6. Gezel – larangan mencuri
7. Ever min ha-ḥai – larangan makan dari hewan hidup

Sumber untuk tujuh perintah ini disajikan oleh Rabi Yoḥanan sebagai berasal dari perintah pertama yang diberikan oleh Tuhan kepada Adam. Dalam Sefer Bereshit – Kejadian (2:16-17) kita menemukan bahwa Tuhan memerintahkan Adam untuk makan dengan bebas dari salah satu pohon di Taman Eden dengan pengecualian etz ha-da’at tov va-ra – pohon pengetahuan tentang baik dan jahat – yang dilarang baginya. Melalui rangkaian tafsir homiletik, kata-kata dalam pesukim ini dipahami merujuk pada berbagai perbuatan dan perilaku yang dilarang.

Dalam ringkasan midrashic Lekaḥ Tov saran lain dikemukakan mengenai sumber sheva mitzvot benei Noaḥ. Selain interpretasi homiletik dari ayat-ayat di Sefer Bereshit, kami juga menemukan sejumlah referensi khusus dalam Tanakh tentang hukuman yang diberikan kepada non-Yahudi untuk jenis pelanggaran ini. Jadi kami menemukan bahwa Kayin dihukum karena membunuh Hevel (Bereshit – Kejadian bab 4), Avimelekh dihukum karena mencoba melakukan hubungan seksual dengan Sarah (Bereshit bab 20), generasi banjir dihukum karena amas – karena mencuri (Bereshit 6: 11) – dan kita menemukan dalam Sefer Iyyov – Ayub (31:26-28) bahwa penyembahan berhala dilarang bagi mereka.

Catatan Admin

Di dalam Traktat Sanhedrin tidak disebutkan bahwa Goyim harus mengikuti Imamat 11. Tapi kepada Goyim dibebankan untuk mengikuti 7 Hukum Nuh yang bersifat lebih Universal.

Pasti muncul pertanyaan alasan Tuhan memberikan hukum Imamat 11 ? Dari berbagai sumber, admin menyimpulkan :

1. Untuk melatih ketaatan mutlak orang Israel tanpa perlu tahu alasan (Bambang Noorsena)
2. Karena Israel di padang gurun yang tidak boleh makan makanan yang kotor, maka Tuhan melarang makan makanan yang unclean
3. Karena di padang gurun, pengolahan makanan dan bumbunya belum cukup maju, maka dilarang oleh Tuhan
4. Untuk membedakan Umat Israel yang merupakan umat pilihan dengan umat bangsa lain
5. Philo, filsuf Yahudi : “Now among the different kinds of land animals there is none whose flesh is so delicious as the pig’s, as all who eat it agree” (https://www.cambridge.org/core/books/jewish-dietary-laws-in-the-ancient-world/hellenistic-period-jewish-sources/DE51BC1D6191A7D5C1B2AAB29411166F)

Perjanjian Baru

Matius 15:11

Di dalam zaman Perjanjian baru, hal mengenai Kosher – Tahor – Tame ini juga menjadi masalah. Orang menjadi MERASA lebih dekat kepada Tuhan karena melakukan taurat. Dan ketika orang sudah merasa lebih dekat dengan surga, dapat dipastikan bahwa mereka pasti akan menghakimi orang lain yang tidak taat hukum taurat (termasuk Imamat 11). Hal ini terjadi sampai sekarang.

Karena latar belakang inilah maka Tuhan Yesus bersabda di Matius 15:11 : ”Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Jadi di sini Tuhan Yesus menekankan esensi dari Tame dan Tahor.

Kisah Rasul 10:15

Di dalam cerita Kornelius di Kisah Para Rasul, Petrus diberi penglihatan mengenai makanan haram yang turun dari langit. Untuk lengkapnya, silahkan baca di Kisah Para Rasul 10.

Di Kisah Rasul 10:15: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram”, Tuhan memerintahkan Petrus untuk menyembelih dan memakan binatang haram. Apalah Tuhan membatalkan Imamat 11 ?

Jawaban untuk pertanyaan ini adalah TIDAK. Bagaimana bisa membatalkan kalau memang dari pertama bukan laranga, tapi cuma anjuran. Sekali lagi dituliskan, bahwa Imamat 11 tidak menuliskan adanya hukuman, maka ini cuma sekedar anjuran.

Yang menjadi pertanyaan kedua adalah : Mengapa Petrus diberi penglihatan seperti ini ?
Jawaban untuk pertanyaan ini adalah karena umat Kristen disiapkan untuk memberitakan Injil ke segala bangsa. Ketika para rasul berkeliling ke seluruh dunia, tapi mereka masih tetap memegang Imamat 11, maka akan menjadi batu sandungan.

Galatia 2

Surat Paulus untuk jemaat Galatia pasal 2 ayat 12 : Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat

Di kitab Galatia disebutkan bahwa Paulus menegur Petrus atas menufikannya dia (dan juga Barnabas). Latar belakang cerita ini adalah :

1. Jemaat Yerusalem di bawah Uskup Yakobus (saudara Yesus) berisi orang – orang Yahudi sehingga mereka mengikuti Imamat 11
2. Jemaat Antiokhia yang merupakan jemaat hasil dari penginjilan Paulus merupakan jemaat dari Goyim.
3. Jemaat Yerusalem datang ke Anthiokia dan bertemu dengan Petrus yang sedang makan makanan unclean dengan jemaat Anthiokia
4. Petrus mengundurkan diri dari makan dengan orang – orang Goyim

Kisah Para Rasul 15 – Konsili Yerusalem

28. Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini:
29. kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.”

Di Kisah Rasul 15 ini diceritakan bahwa para rasul mengadakan konsili pertama di Yerusalem untuk membicarakan tentang Tame – Tahor. Dan di Ayat 28 dituliskan mengenai keputusan muktamar ini, yaitu untuk tidak menambahkan beban kepada orang – orang Kristen yang bukan Yahudi.

Dari keputusan – keputusan yang dituliskan di ayat 29, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya itu adalah 7 Hukum Nuh

Klasifikasi hukum Yahudi

1. Chukim : Hukum yang tidak kita mengerti alasannya. Harus dilakukan
2. Edot : Hukum memorial atau kesaksian. Contoh : Sabat
3. Mishpatim : Hukum yang logis, misal jangan membunuh

Hukum untuk tidak memakan makan makanan yang unclean termasuk pada Chukim.

Video

Kesimpulan

Dari traktat Sanhedrin, ditetapkan bahwa penganut agama Yahudi non israel tidak diwajibkan untuk mengikuti Imamat 11.

Orang Kristen yang bukan orang Israel diizinkan makan makanan yang unclean karena memang dari pertama tidak pernah dilarang, cuma dianjurkan

Orang Kristen di gereja purba cuma meneruskan 7 Hukum Nuh

Orang Kristen yang di negara Israel, pada umumnya mereka masih mengikuti Imamat 11, tapi sudah dengan pengertian Kristen (Yang najis yang keluar, bukan yang masuk)

Yang dilarang di Imamat 11, bukan cuma babi, tapi juga udang, lele, kelinci, onta dll. Jadi kalau memang mau sombong mengikuti perintah Taurat, jangan setengah – setengah (cuma babi)

Terlepas dari semua larangan, menjadi vegetarian pada dasarnya tetap yang terbaik. (Terkait dengan perikehewanan, carbon print dsb)

Leave a Comment

You cannot copy content of this page