Menjawab Kontradiksi Alkitab Perjanjian Lama

Contents

Semua isi artikel ini dicopy dari buktisaksi.com. Maaf kalau masih berantakan

Menurut pendapat salah satu pakar Alkitab Josh McDowell : “Alkitab dapat dipercaya dan memiliki kejujuran secara historis”.

1) 2 RAJA-RAJA 8:26 VS 2 TAWARIKH 22:2.

Dalam 2 Raja-raja, umur Ahazia ketika naik raja TERTULIS: “22 tahun”, TETAPI dalam 2 Tawarikh: “42 tahun”.

JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)

2 Raja-raja 8:26 : “Ia berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri raja Israel.”
Naskah Ibrani Teks Masoretik : “BEN-‘ESRÏM {anak dua puluh} ÛSYETAYIM {dan dua} SYÂNÂH {tahun} ‘AKHAZYÂHÛ {Ahazia} VEMOLKHÕ {ia memerintah} VESYÂNÂH {dan tahun} ‘AKHAT {satu} MÂLAKH {ia memerintah} BÏRÛSYÂLÂIM {di Yerusalem} VESYÊM {dan nama} ‘IMÕ {ibunya} ‘ATALYÂHÛ {Atalya} BAT-‘ÂMRÏ {anak perempuan Omri} MELEKH {raja} YISRÂ’ÊL {Israel}”
2 Tawarikh 22:2 : “Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri.”
Naskah Ibrani Teks Masoretik: “BEN-‘ARBÂ’ÏM {anak empat puluh} USYETAYIM {dan dua} SYÂNÂH {tahun}
‘AKHAZYÂHU {Ahazia} VEMOLKHO {ia memerintah} VESYÂNÂH {dan tahun} ‘AKHAT {satu} MÂLAKH {ia
memerintah} BÏRUSYÂLÂIM {di Yerusalem} VESYÊM {dan nama} ‘IMO {ibunya} ‘ATALYÂHU {Atalya} BAT-‘ÂMRÏ {anak perempuan Omri}”

Naskah Ibrani Teks Masoretik menulis bahwa Atalya adalah anak perempuan (‘bat’, bêt-tâv) dari Omri, raja Israel; padahal sebenarnya Atalya adalah anak perempuan Ahab [2 Raja-raja 8:18], putera Omri, sehingga Atalya adalah cucu perempuan Omri, namun dalam keluarga kerajaan, cucu sering disebut anak. Jadi kata (‘bat’, bêt-tâv) bisa berarti anak perempuan atau cucu perempuan.

Kunci untuk mengerti permasalahan ini ditemukan di Perjanjian Baru. Silsilah raja-raja dari Tuhan Yesus Kristus dicatat dalam Injil menurut Matius. Matius 1:8 berisi daftar raja-raja dari garis Daud yang ada beberapa raja terkenal yang tidak dicantumkan.
Bagan berikut membandingkan Raja-raja Yehuda dalam Perjanjian Lama dengan catatan Raja-raja di Matius 1:8

Catatan PL Silsilah Yesus dalam Matius

Catatan PLSilsilah Yesus dalam Matius
AsaAsa
YosafatYosafat
Yoram / YehoramYoram
Ahazia
Yoas
Amazia
UziaUzia

Tiga raja Yehuda tidak dihitung dalam Garis Silsilah Yesus Kristus!
Mengapa? Jawabannya ditemukan di Keluaran 20:5, Bilangan 14:18 dan Mazmur 109:13-15 dan terlihat dalam karakter pemerintahan raja – raja jahat ini (2 Tawarikh 22:2-4). Faktanya, Ahazia tidak dihitung
sebagai benih Daud. Leluhurnya mengikuti jejak kejahatan keluarga Omri. Alkitab menekankan kedua garis darah dan pengaruh dari ibunya, Atalya, yaitu cucu dari Omri yaitu anak dari Ahab dan Izebel (2 Raja-raja 8:18).

Ada Dua Kemungkinan Jawaban

Jawaban 1: Dihitung dari pemerintahan dinasti Omri

Ahazia berusia 22 tahun (2 Raj 8:26) ketika dia naik takhta di kerajaan Yehuda. Dia anak dari Yoram dan Atalya. Ahazia adalah Pejabat Raja ketika ayahnya sakit (2 Taw 21:18) selama satu tahun (2 Raj 9:29-
Tahun ke-11 pemerintahan Yoram yang Raja Israel) dan menjadi pejabat raja yang memerintah satu tahun (Tahun ke-12 Yoram raja Israel-2 Raj 8:25). Ahazia naik takhta tahun 894 SM. Jika kita mundur 42 tahun (yaitu 936), kita tiba pada tahun pertama Omri memerintah.
Dengan kata lain, Ahazia memang berusia 22 tahun (seperti tercatat dalam Kitab Raja-Raja), namun masa pemerintahannya dihitung (dalam Kitab Tawarikh) mulai dari permulaan dinasti jahat Omri.
Inilah cara Roh Kudus menyoroti ketidaksetiaan yang jahat dalam Garis Kerajaan Daud.
Frase ―42 tahun adalah ungkapan Ibrani dari ―anak laki-laki dari 42 tahun yang berarti bahwa itu adalah masa 42 tahun dari permulaan dinasti Omri.

Jawaban 2 : Diurapi dan memerintahnya 20 tahun kemudian

Ahazia berusia 42 tahun (2 Tawarikh 22:2) ketika dia naik takhta kerajaan Yehuda. Dia bukanlah anak kandung Yoram (yang mati pada usia 40 tahun), tetapi anak angkatnya. Ibunya adalah istri ayahnya. Hitung mundur 20 tahun (ketika Ahazia berusia 22 tahun-2 Raja-Raja 8:26) maka didapat tahun 914 SM yang merupakan tahun ke-8 pemerintahan raja Yehuda bernama Yosafat. Ini adalah waktu Yosafat berbesanan dengan Ahab (2 Tawarikh 18:1), yang kita tahu dalam tahun ke-3 Yosafat memerintah, dia memerintahkan kebangkitan
rohani bangsa Yehuda (2 Tawarikh 17:7-9), kerajaannya menjadi makmur (2 Tawarikh 17:12).

Dari 2 Tawarikh 18 dinyatakan bahwa beberapa tahun setelah persekutuan ini berlangsung, Ahab dan Yosafat bergabung dalam kekuatan militer melawan Siria (2 Taw 18:2). Kedua raja ini pergi berperang (2 Taw 18:28) dan raja Ahab terbunuh (2 Taw 18:33-34). Sebelum peperangan terjadi, Nabi Tuhan bernama Mikha dirantai dan dikembalikan ke penguasa kota yaitu Amon, dimana Yoas satu tahun memerintah sebagai anak raja, tinggal (1 Raja-raja 22:26). Dalam bagian ini, kita menemukan pernyataan yang terungkap: Yoas, anak
kandung Ahazia (2 Taw 22:11) disebut ―anak raja, yang mengindikasikan bahwa Ahazia adalah sudah menjadi raja!

Bagaimana hal ini mungkin? Mungkin, dalam hubungan besanan Yosafat dengan Ahab, Ahazia diurapi menjadi raja pada waktu ini, serpihan teka-teki menjadi cocok. Dengan kata lain, Ahazia diurapi menjadi raja pada usia 22, namun akhirnya baru memerintah Kerajaan Yehuda 20 tahun kemudian pada usia 42 tahun.
Firman Tuhan tidak memberikan semua detail pertalian antara kedua raja ini. Dengan jelas, solusi ini mungkin karena dalam 2 Tawarikh 21:2 Yosafat diberi gelar ―Raja Israel ! Lagi pula, ketika putra Yosafat bernama Yehoram/Yoram akhirnya memperoleh kekuasaan atas seluruh Yehuda, dia bukan hanya membunuh saudara-saudaranya, namun juga para pemimpin/pangeran Israel (2 Taw 21:4). Mengapa dia lakukan hal itu jika mereka bukan ancaman untuk takhta bangsa Yehuda?

Bukan hanya itu, tapi Ahazia sungguh-sungguh merasa ―nyaman di rumah dalam Istana Kerajaan Israel (2 Taw 22:6). Mungkin saja kedua raja tertarik untuk menyatukan kembali dua kerajaan yang terbagi selama 70 tahun- niscaya dengan motif yang berbeda. Ahab (dan atau Izebel!) berkonspirasi menghasilkan raja dari keturunannya atas Kerajaan Yehuda setelah kematian Yosafat-satu langkah yang mana akan diperuntukkan bagi Ahazia (yang ibunya adalah putri Ahab) di masa depan. Ketika rencana Ahab untuk membuat Yosafat
terbunuh dalam peperangan ternyata ketahuan (2 Taw 18:29, 31-33), Ahazia harus menunggu 20 tahun untuk memerintah. Dalam hal ini, Ahazia benar 22 tahun dan 42 tahun ketika dia mulai memerintah, 22 tahun ketika diurapi, 42 tahun ketika duduk ditakhta. Pertanyaan yang tertinggal adalah siapa ayah kandung Ahazia? Hubungan besan antara Ahab dan Yosafat memunculkan suatu kotoran-fakta kekusutan jaring! Pertimbangkan bahwa Ahazia dianggap sebagai:

1. Anak Yoram (2 Taw 22:1). Sejak Ahazia dua tahun lebih tua dari ―ayahnya Yoram, dia harus membuat anak angkatnya dibawa dalam hubungan dengan ibunya Atalia ketika Atalia menikahi Yoram. Penafsiran pertama tidak mungkin, karena jika Ahazia menduduki takhta pada usia 42 tahun setelah ayahnya wafat, terdapat perbedaan usia, Ahazia menjadi lebih tua 2 tahun daripada ayahnya. Yoram, ayah Ahazia menjadi raja pada usia 32 tahun, memerintah selama 8 tahun kemudian wafat (2 Tawarikh 21:5), berarti usia Yoram mencapai 40 tahun, tidak mungkin saat itu Ahazia berusia 42 tahun.

2. Anak menantu Ahab (2 Raj 7:27). Hubungan ini akan ditetapkan dengan pernikahannya dengan Zibya (2 Taw 24:1) yang pasti merupakan salah satu dari putri atau cucu perempuan Ahab.

3. Anak Yosafat (2 Taw 22:9). Ini kelihatannya yang membuat Ahazia diberikan tempat layak dalam penguburannya sebagai penghormatan karena fakta bahwa dia adalah putra Yosafat (2 Taw 22:9). Dapatkah itu dalam waktu dulu, Yosafat mengikuti adat mempererat hubungan antar kerajaan (1 Raj 3:1) dengan berdiskusi dengan Atalia, anak Ahab. Tampaknya point ini menyatakan dalam catatan Alkitab untuk memberikan detail cukup untuk setiap orang agar tahu dengan pasti.

Tuhan yang Maha Kuasa tidak pernah disenangkan dengan hubungan yang tidak kudus (2 Kor 6:14-17). Tuhan tidak berkenan dengan pemerintahan Yehoram dan Azarya, yang keduanya mencari dan memperkenalkan penyembahan Dewa Baal kepada bangsa Yehuda, termasuk Yoas, mereka diabaikan / dihilangkan dari silsilah Yesus Juruselamat. Ketika Ahazia mati, Tuhan sendiri memotong keluarga Ahab dari garis raja-raja (2 Taw 22:7-9). Jadi kedua ayat di atas sudah tepat yaitu 22 tahun (dalam 2 Raja – Raja 8:26) dan 42 tahun (dalam 2 Tawarikh 22:2), pahami kemungkinan alternatif kedua jawaban di atas. Jadi tidak ada kesalahan dalam penyalinan atau penerjemahan.

Sumber acuan: Jurnal Teologi FEBC Singapura, The Burning Bush Vol 10 No 2 (July 2004) halaman 86-92.

2) 2 RAJA-RAJA 24:8 VS 2 TAWARIKH 36:9.

Dalam 2 Raja-raja, lamanya raja Yoyakhin berkuasa TERTULIS: “3 bulan”, TETAPI dalam 2 Tawarikh: “3 bulan 10 hari”.

JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)

2 Raja-raja 24:8 : “Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga bulan lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Nehusta binti Elnatan, dari Yerusalem.”
Naskah Ibrani Teks Masoretik: BEN-SYEMONEH ‘ESRÊH SYÂNÂH YEHOYÂKHÏN BEMOLKHO USYELOSYÂH KHODÂSYÏM MÂLAKH BÏRUSYÂLÂIM VESYÊM ‘IMO NEKHUSYTÂ’ VAT-‘ELNÂTÂN MÏRUSYÂLÂIM
2 Tawarikh 36:9 : “Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga bulan sepuluh hari lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.”
Naskah Ibrani Teks Masoretik: BEN-SYEMONEH SYÂNÏM YEHOYÂKHÏN BEMOLKHO USYELOSYÂH KHODÂSYÏM VA’ASERET YÂMÏM MÂLAKH BÏRUSYÂLÂIM VAYA’AS HÂRA’ BE’ÊYNÊY YEHOVÂH

Penulis Tawarikh menuliskan lamanya masa pemerintahan Yoyakhin secara lebih spesifik, sedangkan penulis kitab Raja-raja hanya menyebutkan secara garis besar dan membulatkan jumlah bulannya saja, dengan anggapan bahwa tambahan sepuluh hari tidak cukup perlu untuk disebutkan secara khusus.

Jadi, jelas bahwa tiga bulan dalam kitab Raja-raja adalah pembulatan atau penulisan secara genap dari tiga bulan sepuluh hari sebagaimana ditulis dalam Kitab Tawarikh. Dapat diilustrasikan dengan wanita hamil selama sembilan bulan, ada yang menambahkannya menjadi sembilan bulan sepuluh hari. Pembulatan ini sering dijumpai dalam kitab Raja-raja.

3) Berapa ekor kuda kereta yang dibunuh Daud?

a. 700 ekor (II Samuel 10: 18)
b. 7000 ekor (I Tawarikh 19: 18)

JAWAB: (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)

2 Samuel 10:18 : “tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu 700 ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang pasukan berkuda. Sobakh, panglima tentara mereka, dilukainya sedemikian, hingga ia mati di sana.”
King James Version / Authorized Version 2 Samuel 10:18 : “And the Syrians fled before Israel; and David slew the men of seven hundred chariots of the Syrians, and forty thousand horsemen, and smote Shobach the captain of their host, who died there.”
1 Tawarikh 19:18 : “tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu 7000 ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang pasukan berjalan kaki; juga Sofakh, panglima tentara itu, dibunuhnya.”
King James Version / Authorized Version 1 Tawarikh 19:18 : “But the Syrians fled before Israel; and David slew of the Syrians seven thousand men which fought in chariots, and forty thousand footmen, and killed Shophach the captain of the host.”

Tujuh ratus ekor kuda kereta dalam 2 Samuel 10:18 mengangkut 10 orang di dalamnya menurut 1 Tawarikh 19:18, sebagaimana diterjemahkan oleh KJV/AV “But the Syrians fled before Israel; and David slew of the Syrians seven thousand men which fought in chariots, and forty thousand footmen, and killed Shophach the captain of the host.”

Salah satu cabang ilmu pengetahuan yang dapat membuktikan kebenaran ayat Alkitab di antaranya adalah arkeologi. Kereta dengan roda berat, ditarik oleh keledai, dipakai untuk perang untuk upacara – upacara di Mesopotamia Selatan pada milenium ketiga sebelum Masehi, demikian ditunjukkan oleh penemuan-penemuan di Ur, Kis, dan Tell Agrab. Tapi kereta perang yang sebenarnya, yang konstruksinya lebih ringan dan ditarik oleh kuda, belum muncul sampai milenium kedua sebelum Masehi.

Sifat asing kereta itu ditekankan oleh kenyataan, bahwa di banyak bahasa Semit dari dunia kuno, kata untuk kereta perang dibentuk dari akar ‘rkb’ “menunggang”. Misalnya dalam bahasa Akad ‘narkabtu’, bahasa Ugarit ‘mrkbt’, bahasa Ibrani ‘merkava’, dan bentuknya bahkan diterima di Kerajaan Mesir Baru (mrkbt). Pada paroan milenium kedua sebelum Masehi, suatu golongan masyarakat yang anggotanya dikenal sebagai ‘mariannu’, dibuktikan di Alalah dan Ugarit dalam Surat-surat Amarna, juga di Kerajaan Mesir Baru. Ini menunjukkan tingkatan mulia seorang pemilik satu kereta atau kereta perang.

Orang Mesir biasanya menempatkan dua sampai empat orang dalam satu kereta perang, umumnya dua orang, seorang sais dan seorang prajurit, tapi Raja Asyur menambah orang ketiga, yang disebut ‘salsu rakbu’, “penunggang ketiga”, yang memainkan tameng untuk melindungi sang Raja. Inilah jumlah yang paling umum, yang juga dianut oleh orang Het. Tapi pada zaman Asyurbanipal kadang – kadang ditempatkan lebih dari empat orang dalam satu kereta kuda.

Kuda kereta dalam 2 Samuel 10:18, Ibrani ‘rekev’, King James Version/AV menulis ‘chariots’ ada beberapa jenis, ada kuda kereta ala Mesir, Kanaan, Salomo, Asyur, Persia, Yunani dan lain-lain. Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir, dinaikkan dan dihormati di atas kuda kereta. Ini adalah kuda kereta ala Mesir yang biasanya diisi dua orang saja. Kereta perang orang Kanaan berbeda dengan Mesir, dapat diselidiki lebih lanjut dalam kitab Yosua dan Hakim-hakim, terlalu panjang jika diuraikan di sini.

Kereta Perang Mesir
Kereta Perang Kanaan

Di zaman Daud dan Salomo, khusus untuk kuda kereta yang dinaiki raja biasanya diisi oleh raja plus pengawal dan pengemudi kereta, misalnya 1 Raja-raja 22:34, namun kereta kuda yang digunakan oleh pasukan biasanya berisi lebih dari empat orang. Kereta kuda dengan dua atau tiga orang jelas sarana utama dalam pertempuran di tanah datar, tapi dapat menjadi penghalang di daerah yang tidak rata. Wilayah Israel adalah daerah pegunungan yang tidak rata, bandingkan dengan kisah Gideon, pintu gerbang Perunggu dari Salmaneser III melukiskan kesulitan yang dijumpai dalam suatu pertempuran di hulu Sungai Tigris di mana banyak orang berada di atas kereta perang untuk membantu kesulitan ini. Penggalian – penggalian di Hazor menunjukkan betapa besarnya kereta dapat dimuat oleh orang pada zaman itu.

Kereta perang Israel umumnya mengangkut tiga orang sesuai dengan kondisi geologis tanah Kanaan namun kereta kuda yang diperangi oleh Daud adalah kereta kuda orang Aram (‘Syrians’) yang daya tampungnya jauh lebih besar.

Untuk jelasnya, bandingkan 1 Tawarikh 19:18 menurut KJV, “But the Syrians fled before Israel; and David slew of the Syrians seven thousand men which fought in chariots, and forty thousand footmen, and killed Shophach the captain of the host.”, perhatikan ungkapan ‘seven thousand men which fought in chariots’, sedangkan 2 Samuel 10:18 menulis ‘the men of seven hundred chariots.’

Bahasa Ibrani memang unik, orang Yahudi tidak memerlukan huruf hidup, mereka menulis huruf mati saja sudah tahu arti kata itu.

Ungkapan “syb m’t rkb” dibubuhi huruf hidup (oleh para Masoret) menjadi “syeva’ me’at rekev”, dan “syb’t ‘lfym rkb” menjadi “syev’ot ‘elefim rekev”. Membaca huruf mati ini saja, orang Yahudi sudah tahu bahwa yang dimaksud adalah 700 kereta, dan yang satu lagi 7000 orang dalam kereta.

Kemungkinan dan penjelasan yang paling logis adalah tujuh ratus kereta kuda {syeva’ me’at rekev} dalam 2 Samuel 10:18 mengangkut 10 orang di dalam kereta kuda sehingga menjadi angka tujuh ribu kereta kuda {syev’at ‘elefim rekev} dalam 1 Tawarikh 19:18. Kitab Samuel menghitung jumlah kereta kuda sedangkan Tawarikh menunjuk jumlah orang dalam kereta kuda.

Bagaimana pula dengan Septuaginta?

Septuaginta menulis 2 Samuel 10:18, “Septuaginta menulis, “kai ephugen suria apo prosôpou israêl kai aneilen dauid ek tês surias heptakosia harmata kai tessarakonta khiliadas ippeôn kai ton sôbak ton arkhonta tês dunameôs autou epataxen kai apethanen ekei”

Dan 1 Tawarikh 19:18, “kai ephugen suros apo prosôpou dauid kai apekteinen dauid apo tou surou hepta khiliadas harmatôn kai tessarakonta khiliadas pezôn kai ton sôphakh arkhistratêgon dunameôs apekteinen”

[1] “Tujuh ratus kereta kuda”, Ibrani “syb m’t rkb”, Septuaginta ‘heptakosia harmata’.
[2] “Tujuh ribu orang di atas kereta kuda”, Ibrani “syb’t ‘lfym rkb”, Septuaginta ‘hepta khiliadas harmatôn’.

Kata ‘harmata’ merujuk kepada kereta sedangkan ‘harmatôn’ merujuk orang-orang yang ada di dalam kereta. Kata ‘harmata’ adalah bentuk jamak ‘harma’ dalam kasus datif (obyek langsung) sedangkan ‘harmatôn’ kasusnya genitif merujuk kepada milik.

Salah satu salinan naskah Ibrani lain menulis “tujuh ratus” dan “tujuh ribu” itu dengan nilai (sumber: Treasury of Scripture Knowledge).

Masing-masing abjad Ibrani punya nilai tersendiri ibarat angka Romawi I, V, X, L, C, dan M yang mewakili 1, 5, 10, 50, 100 dan 1000.

Alef hingga Yod punya nilai 1 hingga 10, Yod hingga Qof punya nilai 10 hingga 100 dengan kelipatan 10, dan dari Qof hingga Tau bernilai 100 hingga 400. Angka 11 ditulis Yod-Alef atau y’, 21 ditulis Kaf[1]Alef atau k’. Angka 11 saja boleh merupakan kombinasi Yod-Alef (10+1), Alef-Yod (1+10), He-Vav (5+6), Dalet-Dalet-Gimmel (4+4+3), atau kombinasi lainnya.

Nah, angka 700 mereka tulis “nun pesyuta” atau nun-akhir yang ditransliterasi dengan N kapital sedangkan 7000 adalah zayin dengan satu tag (mirip titik) di atas “nun”.

Jadi, yang benar dalam I Tawarikh 19:18 ‘seven thousand men which fought in chariots’, ―7 ribu orang yang bertempur dalam kereta perang‖ dan dalam 2 Samuel 10:18 yang benar ‘the men of seven hundred chariots’, ―orang-orang dalam 700 kereta perang‖ di mana satu kereta perang ini berisi 10 orang, sehingga jumlahnya sama yaitu 7 ribu orang sebagaimana disebutkan dalam I Tawarikh 19:18.

Terjemahan Alkitab LAI untuk ayat 2 Samuel 10:18 tidak tepat.

4) Yang dibunuh Daud, pasukan berkuda atau pasukan jalan kaki?

a. 40.000 pasukan berkuda (II Samuel 10: 18)
b. 40.000 pasukan berjalan kaki (I Tawarikh 19: 18)

JAWAB: (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)
2 Samuel 10:18,
“tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ratus ekor kuda kereta dan 40.000 orang pasukan berkuda. Sobakh, panglima tentara mereka, dilukainya sedemikian, hingga ia mati di sana.”
Dalam naskah Ibrani, kedua kitab Samuel merupakan satu kitab saja. Pemisahan yang sekarang kita miliki kurang tepat, karena menyebabkan tercerainya hikayat Daud dari peristiwa Saul yang mendahsyatkan di pegunungan Gilboa. Para pengarang Septuaginta menganggap Samuel dan Raja-raja selaku suatu hikayat Kerajaan Israel yang lengkap yang terbagi dalam 4 kitab. Ketika kitab-kitab ini diterjemahkan dalam bahasa Latin disebut “Kitab-kitab Raja-raja”, sehingga kedua kitab Samuel yang kita miliki masing-masing disebut
“Kitab Raja-raja” yang pertama dan yang kedua.

Kemungkinan penanggalan yang paling tua untuk seluruh karya itu agaknya adalah pada akhir abad ke-10 sebelum Masehi. Mutu bahasa Ibraninya dan kebersihannya dari pengaruh bahasa Aram menghunjuk pada waktu terdahulu sumber-sumbernya dikarang, dan hal itu bukannya berarti kitab selengkapnya diselesaikan pada waktu itu.

1 Tawarikh 19:18 : “tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ribu ekor kuda kereta dan 40.000 orang pasukan berjalan kaki; juga Sofakh, panglima tentara
itu, dibunuhnya.”
Kitab Tawarikh [Ibrani: ‘divre hayyamim’] berarti “Kejadian – kejadian sehari-hari” atau “sejarah”, tapi judul itu tidak cukup untuk mengungkapkan sifat atau tujuan kitab Tawarikh. Sebutan yang dipakai dalam terjemahan-terjemahan Roma Katolik ‘paralipomena’ berasal dari Septuaginta melalui Vulgata. Suatu batas waktu yang
paling awal bagi waktunya kitab-kitab ini ditulis yaitu ± 537 tahun sebelum Masehi.
Namun bukti-bukti agaknya mengharuskan kita mengambil kesimpulan bahwa Tawarikh dan Ezra-Nehemia semula mewujudkan satu Kitab. Hal ini mengalihkan waktu penulisan itu hingga setelah 430 sebelum Masehi.

5. Siapakah panglima musuh yang tewas di tangan Daud?

a. Sobakh (2 Samuel 10:18)
b. Sofakh (I Tawarikh 19:18)

JAWAB: (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)
2 Samuel 10:18 : “tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ratus ekor kuda kereta dan 40.000 orang pasukan berkuda. Sobakh, panglima tentara mereka,
dilukainya sedemikian, hingga ia mati di sana.”
1 Tawarikh 19:18 : “tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israel, dan Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ribu ekor kuda kereta dan 40.000 orang pasukan berjalan kaki; juga Sofakh, panglima tentara
itu, dibunuhnya.”

Tentang nama ganda di kalangan Israel telah ditanggapi sebelumnya, namun mengenai nama Sobakh dan Sofakh ini dapat diberikan ilustrasi sederhana yaitu bagaimana mengucapkan seven alias tujuh menurut lidah orang Indonesia. Ternyata kata seven ini diucapkan beraneka ragam: seben, sefen, sepen, seven, dan sewen demikian pula halnya dengan nama Sobakh dan Sofakh. Bandingkan pula bagaimana nama Ahmad ditulis beragam: Achmad, Akhmad, Achmed, dan lain – lain.
Naskah Ibrani Teks Masoretik :
Kaf bet waw syin (SYOBAKH)
Kaf fe waw syin (SYOPHAKH)
NASKAH SEPTUAGINTA :
sigma ômega bet alpha kappa (SYOBAKH)
sigma ômega phi alpha khi (SYOPHAKH)

Jadi, baik Sobakh (dalam 2 Samuel 10:18) dan Sofakh (dalam I Tawarikh 19:18) adalah orang yang sama yang mempunyai nama lain.

6. 2 SAMUEL 8:9-10 VS 1 TAWARIKH 18:9-10.

Dalam 2 Samuel, nama raja Hamat dan anaknya TERTULIS: “Toi dan Yoram”, TETAPI dalam 1 Tawarikh: “Tohu dan Hadoram”. (Alkitab LAI Terjemahan Lama)

JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)

Alkitab LAI Terjemahan Lama 2 SAMUEL 8:9-10,
8:9. Bermula, maka setelah kedengaranlah kabar kepada Toi, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadad-ezar,
8:10 disuruhkan Toi akan Yoram, anaknya, menghadap raja Daud akan bertanyakan selamat baginda dan menyampaikan berkat selamat kepada baginda, sebab baginda sudah memerangi Hadad-ezar dan
sudah mengalahkan dia (karena Hadad-ezar itu senantiasa dalam berperang dengan Toi), maka pada tangannya adalah beberapa benda perak dan benda emas dan benda tembaga.

Alkitab LAI Terjemahan Baru 2 SAMUEL 8:9-10,
8:9. Ketika didengar Tou, raja Hamat, bahwa Daud telah memukul kalah seluruh tentara Hadadezer,
8:10. maka Tou mengutus Yoram, anaknya, kepada raja Daud untuk menyampaikan salam dan mengucapkan selamat kepadanya, karena ia telah berperang melawan Hadadezer dan memukul dia kalah, sebab
Hadadezer sering memerangi Tou. Dan Yoram membawa barang – barang perak, emas dan tembaga.

Bandingkan dengan
Alkitab LAI Terjemahan Lama 1 TAWARIKH 18:9-10,
18:9. Hata, apabila kedengaranlah kabar kepada Tohu, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar – Ezar, raja Zoba itu,
18:10 disuruhkannyalah Hadoram, puteranya, pergi menghadap baginda raja Daud akan bertanyakan selamatnya dan akan meminta berkat atasnya, sebab baginda sudah berperang dengan Hadar-Ezar
dan dialahkannya akan dia, karena Hadar-Ezar itu selalu berperang dengan Tohu, dan dikirimnya pula pelbagai perkakasan emas, perak dan tembaga

Alkitab LAI Terjemahan Baru 1 TAWARIKH 18:9-10,
18:9. Ketika didengar Tou, raja Hamat, bahwa Daud telah memukul kalah seluruh tentara Hadadezer, raja Zoba, telah berperang melawan Hadadezer dan memukul dia kalah, sebab Hadadezer sering memerangi Tou. Dan Hadoram membawa pelbagai barang-barang emas, perak dan tembaga.

Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dalam perbedaan pelafalan penyebutan nama. Sama seperti orang menuliskan Gus Dur dan Abdurahman Wahid, atau Bob Hasan dan Muhammad Hasan.
Nama Hadoram adalah nama lain dari Yoram, Toi adalah nama lain dari Tohu, sama seperti nama Kileab adalah nama lain Daniel (pertanyaan no. 27).

Septuaginta (Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani) menulis ieddouran dalam 2 Samuel 8:10 dan idouram dalam 1 Tawarikh 18:10. Nama Hadoram di samping nama anak Tou atau Toi juga merupakan nama keturunan Yoktan yang ke-5 (Kejadian 10:27) dan kepala rodi di era Rehabeam (2 Tawarikh 10:18). Perhatikan bahwa Hadoram sang kepala rodi inipun dipanggil dengan Adoniram (1 Raja-raja 4:6) dan Adoram (1 Raja-raja 12:18 ).

Dalam Alkitab LAI Terjemahan Baru, Toi dan Tohu diseragamkan terjemahannya menjadi Tou. Dalam Kitab Suci ILT (Indonesian Literal Translation) Edisi ke-2 tertulis Toi dan Tou.
Jadi keduanya adalah nama dari orang yang sama di mana mereka mempunyai nama lain atau nama ganda, yaitu Hadoram nama lainnya Yoram, Toi nama lainnya Tohu atau Tou.

7. 2 SAMUEL 23:8 VS 1 TAWARIKH 11:11 (Alkitab LAI Terjemahan Lama).

Dalam 2 Samuel, nama pahlawan yang mengiringi Daud TERTULIS: “Yosyeb-Basyebet bin Takhkemoni”, “kepala SEGALA PENGHULU”, dan “menikam 800 orang”, TETAPI dalam 1 Tawarikh: “Yasobam bin Hakhmoni”, “kepala ORANG TIGA PULUH”, dan “menikam 300 orang”.

JAWAB: (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)

Alkitab LAI Terjemahan Baru 2 Samuel 23:8 : “Inilah nama para pahlawan yang mengiringi Daud: Isybaal, orang Hakhmoni (Ibraninya: YOSYÊV BASYEVET TAKHKEMONÏ), kepala triwira; ia mengayunkan tombaknya melawan delapan ratus orang yang tertikam mati dalam satu pertempuran.”
Alkitab LAI Terjemahan Lama 2 Samuel 23:8 : Bermula, maka inilah nama segala pahlawan yang pada Daud:
Yosyeb-Basyebet bin Takhkemoni, kepala segala penghulu, iapun bergelar penyucuk dan penikam lembing, sebab ditikamnya akan delapan ratus orang dalam sekali saja berperang

Alkitab LAI Terjemahan Baru 1 Tawarikh 11:11 : “Inilah daftar para pahlawan yang mengiringi Daud: Yasobam bin Hakhmoni (Ibraninya: YÂSYÂV’ÂM BEN-KHAKHMONÏ), kepala triwira; ia mengayunkan tombaknya melawan tiga ratus orang yang tertikam mati dalam satu pertempuran.”
Alkitab LAI Terjemahan Lama 1 Tawarikh 11:11 : Maka inilah bilangan segala pahlawan yang pada Daud itu: Yasobam bin Hakhmoni, kepala orang tiga puluh, yang berlayamkan lembingnya kepada orang tiga ratus, ditikamnya akan mereka itu sekalian dalam sekali berperang

Nama kepala para perwira adalah Yasobam bin Hakhmoni (Ibrani, YÂSYÂV’ÂM BEN-KHAKHMONÏ) dalam 1 Tawarikh 11:11 yang nama lainnya dalam 2 Samuel 23:8 teks Ibrani menulis,
YOSYÊV BASYEVET TAKHKEMONÏ bukan Isybaal sebagaimana yang diterjemahkan oleh LAI.
Ungkapan YOSYÊV BASYEVET TAKHKEMONÏ berarti Yosyeb-Basyebet anak dari seorang Hakhmoni.
AV 1769 atau KJV menerjemahkan secara literal YOSYÊV BASYEVET TAKHKEMONÏ dengan The Tachmonite that sat in the seat karena secara harfiah “YASYAV” bermakna duduk dan “BASYEVET” bermakna di tempat duduk padahal YOSYÊV BASYEVET adalah nama orang!

Namun hal ini sudah diperbaiki dalam NKJV: 2 Samuel 23:8 These are the names of the mighty men whom David had: Josheb-Basshebeth the Tachmonite, chief among the captains. He was called Adino the Eznite, because he had killed eight hundred men at one time.
Terjemahan yang lebih mendekati kepada teks asli Ibrani telah disempurnakan oleh Jewish Publication Society yang memang terdiri dari ahli-ahli bahasa Ibrani dan berikut ini adalah terjemahan mereka
dalam bahasa Inggris untuk 2 Samuel 23:8: “These are the names of the mighty men whom David had: Josheb-basshebeth a Tahchemonite, chief of the captains; the same was Adino the Eznite; he lifted up his spear against eight hundred, whom he slew at one time.”

Perhatikan bahwa, YOSYÊV BASYEVET TAKHKEMONÏ diterjemahkan dengan Josheb-basshebeth a Tahchemonite.
Nama “Isybaal” tidak terdapat dalam naskah Ibrani.
Septuaginta menulis ‘IEBOSTHE’ sedangkan dalam 1 Tawarikh 11:11 ‘IESEBAAL’, mungkin Alkitab LAI TB mengutip manuskrip Septuaginta yang lain.
Coba bandingkan dengan dua terjemahan di bawah ini yang tidak mengandung nama ―Isybaal:
KJV 2 Samuel 23:8 These be the names of the mighty men whom David had: The Tachmonite that sat in the seat, chief among the captains; the same was Adino the Eznite: he lift up his spear against eight hundred, whom he slew at one time.
NIV, “These are the names of David’s mighty men: Josheb – Basshebeth, a Tahkemonite, was chief of the Three; he raised his spear against eight hundred men, whom he killed in one encounter.”

Jadi, dalam 2 Samuel 23:8, yang benar Yosyeb-Basyebet bin Takhkemoni, kepala diantara para perwira, 800 orang yang tertikam mati dalam satu kali pertempuran, sedangkan dalam 1 Tawarikh 11:11, yang benar Yasobam bin Hakhmoni, kepala diantara para perwira, 300 orang yang tertikam dalam satu kali pertempuran.

8. Kepala Triwira Daud membunuh berapa orang ?

a. 800 orang (II Samuel 23:8 )
b. 300 orang (I Tawarikh 11:11).

JAWAB: (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud penulis)

2 Samuel 23:8 : “Inilah nama para pahlawan yang mengiringi Daud: Isybaal, orang Hakhmoni, kepala triwira; ia mengayunkan tombaknya melawan delapan ratus orang (Ibrani: ‘AL-SYEMONEH MÊ’OT) yang tertikam
mati dalam satu pertempuran.”
1 Tawarikh 11:11 : “Inilah daftar para pahlawan yang mengiringi Daud: Yasobam bin Hakhmoni, kepala triwira; ia mengayunkan tombaknya melawan tiga ratus orang (Ibrani: ‘AL-SYELOSY-MÊ’OT) yang tertikam mati
dalam satu pertempuran.”

Tiga menurut bahasa Ibrani adalah SYALOSY (SYINLAMED-SYIN) dan delapan adalah SYEMONEH (SYIN-MEM-NUNHE) sama-sama dimulai oleh huruf “SYIN”.
Ada yang mempelajari ayat ini dari makna kata triwira (Ibrani, HASYELOSYÏM atau, HASYÂLISYÏ).
Di masa pemerintahan raja Daud senantiasa ada tiga orang perwira yang mengepalai 30 orang tentara, Adino (LAI menulis Isybaal), Eleazar, dan Sama, silakan pelajari 2 Samuel 23:8-12.

Jika ditelusuri lebih lanjut ada kemungkinan pembantaian pertama terdiri atas 300 orang, disusul pembantaian kedua sehingga total berjumlah 800 orang, atau ada dua pertempuran, pertama 800 orang dan kedua 300 orang namun tidak tercatat dalam Kitab Samuel dan Raja – raja sehingga dilengkapi oleh kitab Tawarikh.

Sumber lain memberi penjelasan sebagai berikut:
It is quite possible that both authors may have described two different incidents, though by the same man, or one author may have only mentioned in part what the other author mentions in full. (Light of Life I- 1992:187)
Terjemahannya: Sangat mungkin bahwa, kedua penulis telah menceritakan dua kejadian yang berbeda meski dengan tokoh yang sama. Atau bisa jadi, penulis yang satu hanya menyebutkan sebagian dari jumlah yang ada sedangkan penulis yang lain menyebutkan jumlah secara keseluruhan.

Jadi, ada 2 alternatif solusi yaitu kedua penulis telah menceritakan dua kejadian yang berbeda (ada dua peristiswa/kejadian) meski dengan tokoh yang sama. Atau bisa jadi, penulis yang satu hanya menyebutkan sebagian dari jumlah yang ada sedangkan penulis yang lain menyebutkan jumlah secara keseluruhan dengan
kemungkinan pembantaian pertama terdiri atas 300 orang, disusul pembantaian kedua sehingga total berjumlah 800 orang,
atau
ada dua pertempuran, pertama 800 orang dan kedua 300 orang namun tidak tercatat dalam Kitab Samuel dan Raja-raja sehingga dilengkapi oleh kitab Tawarikh.

9. 2 SAMUEL 24:1 VS 1 TAWARIKH 21:1 (Setan vs Tuhan)

Dalam 2 Samuel, yang mengajak Daud melawan Israel TERTULIS:
“TUHAN”, TETAPI dalam 1 Tawarikh: “SETAN”!

JAWAB : Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam sejarah manusia

2 Samuel 24:1 : “Bangkitlah pula murka TUHAN (Ibrani: YEHOVÂH) terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: ‘Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.'”
1 Tawarikh 21:1 : “Iblis (Ibrani: SÂTÂN) bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.”

Di sini kelihatannya ada perbedaan di antara kedua ayat di atas, kecuali kalau kedua-duanya sama-sama benar. Kejadian ini terjadi pada akhir masa kekuasaan Daud, di mana Daud sedang mengenang masa-masa kejayaannya dulu yang membawa kerajaan-kerajaan Kanaan, Siria, dan Funisia ke dalam daerah kekuasaan Israel. Daud kagum dan menjadi sombong atas prestasi-prestasinya, sehingga ia lebih mengandalkan kekuatan senjata dan prajuritnya daripada mengandalkan belas-kasih Tuhan.

Oleh karena itu, Tuhan memutuskan bahwa inilah saatnya bahwa Daud harus dibawa untuk bersujud di hadapan Tuhan dan kembali menggantungkan harapannya pada belas kasih Tuhan. Maka Ia membiarkan Daud menghitung rakyatnya untuk melihat seberapa banyak hal tersebut bisa membantu Daud, karena sensus tersebut sebenarnya dilakukan untuk menonjolkan-ego-bangsa (walaupun Yoab telah menentang pelaksanaan sensus dalam 1 Tawarikh 21:3).

Segera setelah jumlah rakyatnya diketahui, Tuhan kemudian menghukum mereka dengan bencana penyakit sampar yang memusnahkan sejumlah besar rakyat Israel (sekitar 70.000 jiwa menurut 2 Samuel 24:15) dan bersama dengan itu statistik penduduknya hancur berantakan.

Lalu bagaimana dengan Setan? Apa hubungan setan dengan kejadian ini, jikalau Tuhan telah menggerakkan Daud untuk melakukan hal-hal bodoh yang ada di otaknya. Dengan segala maksud jahatnya, Iblis tahu bahwa sensus ini tidak menyenangkan hati Tuhan (1 Tawarikh 21:7-8 ), dan karena itu ia juga menghasut Daud untuk melakukannya.

Yang satu mengatakan Tuhan menyuruh, sedangkan lainnya Setanlah yang menyuruh. Tetapi mengapa hal ini harus bertentangan?
Jadi Tuhan dan Setan keduanya terlibat dalam peristiwa ini. Tidak ada yang aneh dalam hal ini, karena dalam sejumlah peristiwa di Alkitab dapat dilihat bahwa Tuhan dan setan dapat bersama-sama terlibat
dalam ‘menguji’ dan ’mencobai’ orang tertentu. Paulus berkata bahwa Tuhan mengirim utusan dari Setan untuk mencegah Paulus memegahkan diri.

2 Korintus 12:7 : “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan – penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis (Yunani: aggelos satan) untuk
menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.”

Tentulah Tuhan dan Setan terlibat dalam kegiatan-kegiatan ini termasuk juga dalam hal Harmageddon (Perang terakhir antara Tuhan dengan Iblis serta pengikut-pengikutnya di Akhir Zaman).
Penyelesaian sederhana demikian membuat sangkaan adanya kontradiksi tidak masuk akal. Seorang errantis (yang menyatakan Alkitab bisa salah) menyatakan dengan tegas bahwa “dua laporan itu tidak bisa tepat semua”. Tetapi dari pandangan keutuhan doktrin, kedua laporan itu mengemukakan kebenaran yang sama persis: Apa yang diperbuat oleh Daud adalah salah (dosa).

Kedua ayat tadi jelas tidak bertentangan. Tuhan kadang – kadang memakai Iblis untuk maksud-maksud-Nya. Banyak ayat-ayat dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan mengizinkan Iblis menguji umatnya, misalnya dalam ayat-ayat berikut ini:

Ayub 1:12 : “Maka firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.'”
“Maka firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.'” (Ayub 2:6)

1 Petrus 5:8 : “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.”
Dalam kasus ini baik Tuhan maupun Iblis terlibat. Tuhan mengizinkan Iblis untuk mencobai Raja Daud karena
kesombongan dan ketidakpercayaannya. Tuhan itu Mahakuasa, bukan hanya malaikat yang diperintah oleh-Nya, Iblis pun takluk akan kedaulatan-Nya dan dapat diperintah oleh-Nya.

Dapat ditambahkan bahwa kata pula, Ibraninya : VAYOSEF dari kata YÂSAF, yõd-sâmekh-fê’, dalam ungkapan bangkitlah pula dalam 2 Samuel 24:1 berkaitan dengan bencana kelaparan yang dikemukakan dalam pasal 21. Penulis kitab Samuel mengakui kekuasaan Tuhan atas segala sesuatu, sedangkan penulis Tawarikh
yang hidup kemudian, lebih menaruh perhatiannya atas caranya desakan ini, yaitu dengan godaan Iblis.

Jadi, keduanya benar Tuhan dan Setan terlibat dalam peristiwa sensus yang dilakukan Daud.

10. 2 SAMUEL 8:8 VS 1 TAWARIKH 18:8.

Dalam 2 Samuel, tempat dimana raja Daud memindahkan perunggu TERTULIS: “Betah dan Berotai”, TETAPI dalam 1 Tawarikh: “Tibhat dan Kun”.

JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis)

2 SAMUEL 8:8 : “Dan dari Betah dan dari Berotai, yaitu kota-kotanya Hadadezer, raja Daud mengangkut amat banyak tembaga
1 TAWARIKH 18:8 : “Dan dari Tibhat dan dari Kun, yaitu kota-kotanya Hadadezer, Daud mengangkut amat banyak tembaga; dari padanya Salomo membuat “laut” tembaga, tiang-tiang dan perlengkapan tembaga

1 Tawarikh 18 dan 19 mirip dengan 2 Samuel 8:1-10:19, 20:1-26 dengan sedikit variasi — bukan kontradiksi –, variasi ini dapat diselidiki dari catatan-catatan yang dibuat oleh penulis kitab untuk mengetahui hal yang sebenarnya.
Kedua nama kota itu sama, Betah dan Berotai adalah Tibhat dan Kun. Tarikh atau masa penulisan kitab Samuel ( + abad 10-12 SM) dan Tawarikh ( + 5 SM) cukup berbeda jauh, hal ini memungkinkan perubahan nama kota. Kasus ini mirip seperti di Indonesia, Sunda Kelapa berubah menjadi Jakarta/Jayakarta, kemudian berubah menjadi Batavia/Betawi, akhirnya kembali menjadi Jakarta. Demikian pula kota Ujungpandang yang dulunya bernama Makassar dan kemudian kembali menjadi Makassar.

Jadi, kedua nama kota itu sama, Betah dan Berotai adalah Tibhat dan Kun.

11. KELUARAN 4:22 VS YEREMIA 31:9. (Israel atau Efraim)

Dalam Keluaran, yang merupakan anak sulung Allah TERTULIS: “ISRAEL”, TETAPI dalam Yeremia: “EFRAIM”.

JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis atau maksud penulis)

KELUARAN 4:22 : Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung.
YEREMIA 31:9 : Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku.

Kita baca dulu pada Kejadian 48:14 : Tetapi Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di
atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye — jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung.

Bahwa Efraim adalah anak (keturunan langsung) dari Yakub (Israel) yang menerima hak kesulungan. Kita tahu dari Alkitab bahwa Efraim adalah anak Yusuf, dan Yusuf anak Yakub. Jadi Efraim, cucu Yakub. Alkitab mengatakan Yesus, anak Abraham dan Anak Daud, janganlah kita mengerti dengan arti bahwa Ayah Yesus
adalah Abraham dan juga Daud. Hendaklah kita mengikuti pengertian bangsa Israel atau orang-orang Yahudi yaitu Yesus adalah keturunan langsung dari Abraham dan Daud yang merupakan bapa-bapa leluhur Yesus.

Kejadian ini mengulang kisah Yakub (Israel) dengan Esau. Dikisahkan bahwa Israel menerima Hak Kesulungan dan kemudian pada saat Israel uzur, Hak Kesulungannya dilimpahkan atau diturunkan kepada Efraim, salah satu anak Yusuf dan bukan kepada Manasye. (Baca juga Kejadian 48:14-22).

Jadi kedua ayat itu sama-sama benar dan tidak kontradiksi, Efraim yang merupakan cucu Israel, dan Israel adalah anak sulung dihadapan Tuhan. Jadi Efraim pun adalah anak sulung di hadapan Tuhan. Efraim sebagai sebuah suku dari 12 suku Israel adalah tentu bagian dari bangsa Israel, dan bagi Tuhan, bangsa Israel dan atau suku Efraim adalah anak Sulung-Nya.

12. KEJADIAN 12:10-20 VS KEJADIAN 20:1-17 VS KEJADIAN 26:6-11.

Dalam Kejadian 12, TERTULIS Raja Fir’aun yang merampas Sara dari tangan Abraham, TETAPI dalam Kejadian 20, Raja Abimelekh yang merampas Sara, dan dalam Kejadian 26, Raja Abimelekh yang merampas Ribka dari tangan Ishak. (berbeda sumber penulis).


JAWAB : (Kategori : Salah mengaitkan cerita yang satu dengan yang lainnya)

Bacalah perikop atau bagian Alkitab berikut ini:
KEJADIAN 12:10-20 : Sara – Firaun
KEJADIAN 20:1-17 : Sara – Raja Abimelekh
KEJADIAN 26:6-11 : Ribka – Raja Abimelekh
Dari pembacaan perikop di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada yang kontradiksi dalam kisah-kisah tersebut sebab itu adalah 3 kejadian/peristiwa pada waktu yang berbeda-beda. Dan bukan pula ―berbeda sumber penulis‖ karena KITAB KEJADIAN ditulis oleh 1 orang penulis yaitu NABI MUSA. Patut diketahui juga, bahwa Abimelekh adalah Gelar Kerajaan dan bukan nama Diri seseorang, sama seperti Firaun adalah Gelar Kerajaan untuk Raja Mesir, meski Firaun punya nama Diri masing-masing, namun semua raja Mesir
disebut Firaun. Jadi Abimelekh di Kejadian 20:1-17 dengan Abimelekh di Kejadian 26:6-11 adalah sama-sama Raja Gerar, namun orang yang berbeda pada waktu yang berbeda pula.

13. KEJADIAN 37:36 VS KEJADIAN 39:1.

Dalam Kejadian 37, TERTULIS orang Midian-lah yang membawa Yusuf ke Mesir dan menjualnya. TETAPI dalam Kejadian 39, orang Ismael-lah yang membawa Yusuf ke Mesir dan menjualnya. (berbeda penulis).

JAWAB : (Kategori : Salah memahami konteks historis)

Kejadian 37:28 : Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke
Mesir.
Kejadian 37:36 : Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja.
Kejadian 39:1 : Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ.

Ada salah paham terhadap ketiga ayat tersebut, maka bacalah kisah selengkapnya dalam Kejadian 37:25-36 dan Kejadian 39:1.
Pertanyaannya adalah “Kepada siapa orang-orang Midian menjual Yusuf?” Ayat Kej 37:28 dan Kej 39:1 mengatakan, kepada orang Ismael dan ayat ke 36 menyatakan Potifar.
Para saudagar kafilah sedang lewat saat itu terdiri atas saudagar-saudagar Ismael dan Midian. Mereka yang membeli Yusuf dari tangan kakak-kakaknya kemudian menjualnya kepada Potifar di Mesir. Kata-kata “orang Ismael” dan “orang Midian” memang sering dipertukarkan. Dan hal ini akan jelas jika Anda membaca ayat 27 dan 28 bersamaan :

Kejadian 37:27-28
37:27 Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita.” Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu.
37:28 Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke
Mesir.

Penggunaan dua istilah ―Midian‖ dan ―Ismael ini juga terdapat dengan jelas pada :
Hakim-hakim 8:22-28
8:22 Kemudian berkatalah orang Israel kepada Gideon: “Biarlah engkau memerintah kami, baik engkau baik anakmu maupun cucumu, sebab engkaulah yang telah menyelamatkan kami dari tangan orang Midian.”
8:23 Jawab Gideon kepada mereka: “Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak akan memerintah kamu tetapi TUHAN yang memerintah kamu.”
8:24 Selanjutnya kata Gideon kepada mereka: “Satu hal saja yang kuminta kepadamu: Baiklah kamu masing-masing memberikan anting-anting dari jarahannya.” — Karena musuh itu beranting-anting emas, sebab mereka orang Ismael.
8:25 Jawab mereka: “Kami mau memberikannya dengan suka hati.” Dan setelah dihamparkan sehelai kain, maka masing-masing melemparkan anting-anting dari jarahannya ke atas kain itu.
8:26 Adapun berat anting-anting emas yang dimintanya itu ada seribu tujuh ratus syikal emas, belum terhitung bulan-bulanan, perhiasan telinga dan pakaian kain ungu muda yang dipakai oleh raja-raja
Midian, dan belum terhitung kalung rantai yang ada pada leher unta mereka.
8:27 Kemudian Gideon membuat efod dari semuanya itu dan menempatkannya di kotanya, di Ofra. Di sanalah orang Israel berlaku serong dengan menyembah efod itu; inilah yang menjadi jerat bagi
Gideon dan seisi rumahnya.
8:28 Demikianlah orang Midian tunduk kepada orang Israel dan tidak dapat menegakkan kepalanya lagi; maka amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya pada zaman Gideon.

Menurut ―Achtemeier, Paul J., Th.D., Harper’s Bible Dictionary; Bani Ismael itu sinonim dengan Midian. Bisa Anda lihat pada Hakim-Hakim pasal 8 di atas bahwa istilah Orang Ismael dan Orang Midian adalah ―interchangeably (dapat dipertukarkan).

Silsilahnya adalah demikian :
Abraham melalui Hagar melahirkan Ismael (Kejadian 16). Nenek moyang dari orang Midian adalah Abraham karena Abraham menikahi seorang istri/gundik yang bernama Ketura dan Ketura ini melahirkan anak-anak yang salah satunya bernama Midian (Kejadian 25:1-2). Kemudian Midian ini dikenal tinggal di Sinai, Kanaan di
tempat-tempat keturunan Ismael tinggal dan beranak-pinak di sana.

Jadi, Bani Ismael itu sinonim dengan bangsa Midian. Mereka saling bercampur dalam pernikahan. Jadi, baik orang Ismael maupun orang Midian, merekalah yang membawa Yusuf ke Mesir dan
menjualnya kepada Potifar.

14. Apakah orang-orang Midian menjual Yusuf kepada orang-orang Ismael (Kejadian 37:28) atau kepada Potifar, pegawai Firaun? (Kejadian 37:36)

JAWAB : (Kategori : Salah memahami konteks historis)

Kejadian 37:28 : Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.
Kejadian 37:36 : Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja.

Orang Midian disebut juga orang Ismael. Jadi Yusuf pertama kali dijual kepada Saudagar Midian yang adalah orang Ismael, kemudian sesampainya di Mesir, Yusuf dijual kepada Potifar.

Menurut ―Achtemeier, Paul J., Th.D., Harper’s Bible Dictionary; Bani Ismael itu sinonim dengan Midian. Bisa Anda lihat pada HakimHakim pasal 8 bahwa istilah Orang Ismael dan Orang Midian adalah ―interchangeably. Pertanyaan ini sama dengan no. 13, Lihat Jawaban no 13.

15. Siapakah yang membawa Yusuf ke Mesir, orang Ismael (Kejadian 37:28 ), orang Midian (Kejadian 37:36), atau saudara-saudara Yusuf ? (Kejadian 45:4)

JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks historis atau isi cerita) Kejadian 37:28 (orang Ismael)

Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.

Kejadian 37:36 (orang Midian) : Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja.
Kejadian 45:4 (saudara-saudara Yusuf) : Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: “Marilah dekat – dekat.” Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir.

“Siapa yang membawa Yusuf ke Mesir?”. Dari pertanyaan sebelumnya, kita tahu bahwa baik saudagar Ismael atau yang juga dikatakan saudagar Midian adalah pihak yang menjual Yusuf ke Mesir (karena mereka adalah satu kelompok orangyang sama), sedangkan kakak-kakaknya dituntut “pertanggung-jawaban” oleh Yusuf, atau diingatkan bahwa merekalah yang menyebabkan Yusuf berada di Mesir, dalam kejadian 45:4.

Jadi, seperti yang kita lihat dari pertanyaan sebelumnya, ketiga pihak (orang Midian, orang Ismael, dan saudara-saudara Yusuf) sama – sama berperan dalam peristiwa Yusuf bisa sampai ke Mesir.

16. KELUARAN 20:11 VS ULANGAN 5:15.

Dalam Keluaran, TERTULIS pengudusan Hari Sabat berkaitan dengan penciptaan langit dan bumi, TETAPI dalam Ulangan, pengudusan Hari Sabat berkaitan dengan perbudakan bangsa Israel di Mesir.

JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud penulis)

Keluaran 20:11 : Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
Bangsa Israel diperintahkan untuk menguduskan hari sabat sebagai peringatan akan karya TUHAN yang telah menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari.

Ulangan 5:15 : Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya
TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.

Bangsa Israel diperintahkan untuk menguduskan hari sabat sebagai peringatan akan karya TUHAN yang juga telah membebaskan Bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Di Mesir, bangsa Israel bekerja “tujuh” hari seminggu tanpa istirahat.

Tidak ada kontradiksi dalam kedua ayat tersebut; justru ada kesamaan yaitu TUHAN menghendaki sebuah pengudusan dan peringatan akan hari sabat!

Sabat harus diingat oleh segenap bani Israel, Alasan pertamanya adalah ayat Keluaran 20:11 di atas. Tetapi, masih ada alasan kedua mengapa bangsa Israel harus mengingat dan menguduskan hari Sabtu, yaitu dalam Ulangan 5:15 di atas. Perhatikan ungkapan yang sama “itulah sebabnya” dalam Keluaran 20:11 dengan “itulah sebabnya” menurut Ulangan 5:15 di atas.

Dalam kedua ayat tersebut dan juga dalam ayat-ayat lain dituliskan bahwa sabat adalah untuk peringatan atas karya TUHAN atau apa yang telah dikerjakan TUHAN :
Yehezkiel 20 : 12 : “Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka”
Yehezkiel 20 : 20 : “…., kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku, sehingga itu menjadi peringatan di antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu…”

Jadi, keduanya benar Bangsa Israel diharuskan menguduskan hari Sabat sebagai peringatan atas apa yang dikerjakan TUHAN yaitu:
– Menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan
– Membebaskan Bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir.

17. KEJADIAN 1:11-13 VS KEJADIAN 2:3-5.

Dalam Kejadian 1:11-13, TERTULIS bumi sudah ditumbuhi tunas – tunas dan pepohonan (penciptaan hari ke-3), TETAPI dalam Kejadian 2, keadaan bumi masih belum ditumbuhi oleh apa pun (keadaan setelah hari ke-7).

JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)

Hendaknya ayat-ayat dibaca secara lengkap. Dalam hal ini bacalah keseluruhan Kejadian 1 dan Kejadian 2.

KEJADIAN 1:11-13 : Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah – buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh – tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.
Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuhtumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.

Dan akan terangkum demikian :
KEJADIAN 1
Hari 1 : langit dan bumi diciptakan dan ―Jadilah terang‖.
Hari 2 : Alah menciptakan cakrawala
Hari 3 : daratan dipisahkan dengan lautan; tumbuhan diciptakan
Hari 4 : Matahari, bulan dan bintang diciptakan
Hari 5: Binatang di lautan dan burung di udara
Hari 6 : Binatang dibumi, ternak dan binatang melata, Manusia
pertama diciptakan.

KEJADIAN 2:3-5
3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.
4a Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.
4b Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, —
5 belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu;

KEJADIAN 2 Menyatakan langit dan bumi sudah diciptakan, belum ada tumbuh – tumbuhan di bumi, belum ada hujan, belum ada manusia. Tetapi, kabut naik dari atas bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi.
Kemudian Tuhan membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup sehingga manusia itu menjadi makhluk hidup. Kemudian barulah diciptakan Hawa.

Tidak ada kontradiksi antara Kejadian 1:11-13 dan Kejadian 2:3-5. Kejadian pasal 1 hingga Kejadian 2:4a menuliskan secara rinci tentang penjabaran 6 hari penciptaan, dari hari ke hari. Kejadian penciptaan selama 6 hari berakhir sampai pada Kejadian 2:4a.
Sedangkan Kejadian 2:4b adalah merupakan rekap / rangkuman atau pengantar/pembuka untuk masuk kepada fokus penjelasan tentang detail penciptaan manusia, dan lebih memfokuskan kepada rincian tentang hari ke-6, hari dimana Adam dan Hawa diciptakan.

Penutup atau kesimpulan penciptaan 6 hari adalah pada Kejadian 2:4a –Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. —
Kemudian memulai dengan penjelasan detail tentang penciptaan manusia –yang belum dijelaskan detail pada Kejadian pasal 1 hingga Kejadian 2:4a– dengan menggunakan kata pembuka atau pengantar:
―Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit‖.

Kemudian Musa menjelaskan lebih detail lagi akan penciptaan Adam
dan Hawa pada Kejadian 2:7-14. Jadi, apa yang tertulis dalam Kejadian 1 dan Kejadian 2 tidak ada kontrakdiksi.

18. Mana yang lebih dulu diciptakan, pohon atau manusia?

(a) Pohon diciptakan sebelum manusia (Kejadian 1: 11-12, 26-27)
(b) Manusia diciptakan sebelum pohon (Kejadian 2: 4-9)

JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)

Kejadian 1:11-12 : “Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah – buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuhtumbuhan di bumi.’ Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji.
Allah melihat bahwa semuanya itu baik.”

Kejadian 1:26-27 : Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Kejadian 2: 4-9,
4a Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.
4b Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, —
5 belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu;
6 tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu—
7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.
9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Penelitian Kejadian pasal 1 dan pasal 2 menunjukkan bahwa keduanya bukanlah dua tulisan yang berlainan tentang Penciptaan. Kejadian 1-2:4a adalah catatan tentang penciptaan alam semesta, dunia, dan penghuni dunia. Kejadian 2:4b-9, memberi rincian lebih lanjut. Pasal 2 menceritakan bagaimana manusia diciptakan,
menggambarkan keadaan dan lokasi lingkungannya (Eden), mencatat ujian ketaatan –untuk tidak memakan buah Pohon Pengetahuan tentang yang baik dan jahat –, dan menceritakan berbagai detail penciptaan Hawa. Kedua bagian ini tidak bertentangan, juga tidak berlainan, tetapi yang kedua melengkapi yang pertama, dan bersamasama keduanya membentuk pandangan yang menyeluruh tentang luasnya Penciptaan, dengan berbagai rincian yang penting.

Dalam buku-buku modern manapun yang berisi naratif yang terus-menerus, orang akan mendapati bahwa sebuah bab tertentu akan mengacu kepada tokoh tertentu secara sambil-lalu, sementara pasal berikutnya akan membahas tokoh tersebut dan memberi rincian lebih lanjut mengenai dia. Kedua pasal, yang ditulis oleh penulis yang sama, tidak bertentangan tetapi saling melengkapi. Dengan cara yang semacam ini, Kejadian 2 menguraikan dan melengkapi Kejadian 1.

Orang yang ingin melihat kesatuan pasal-pasal pertama dari kitab Kejadian harus membaca Kejadian pasal 1 dan kemudian melompat ke Kejadian pasal 3; ia akan melihat bahwa tidak ada persiapan untuk Kejadian pasal 3. Atau jika ia mulai dengan pasal 2, ia akan mendapati bahwa banyak hal penting tidak ada, yang diberikan hanya dalam Kejadian 1. Kejadian pasal 1 jelas merupakan bagian integral dan penting dari seluruh catatan tentang Penciptaan.

Tumbuh-tumbuhan memang diciptakan pada hari ketiga
namun jika diteliti lebih lanjut, ternyata hari-hari ketiga dan keenam
masing-masing mempunyai dua perbuatan penciptaan. Penciptaan
“berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk
dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu,
serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian
2:9) jelas dilakukan pada hari keenam dan itu terjadi di taman Eden!
Kejadian 2 menguraikan dan melengkapi Kejadian 1. Kejadian
pasal 1 jelas merupakan bagian integral dan penting dari seluruh
catatan tentang Penciptaan.

Rangkuman Kejadian 1 dapat dilihat dalam Kejadian 2:4a,
“Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan….” Kata
riwayat diterjemahkan dari kata Ibrani “TOLEDOT”, generasi,
kelahiran, dapat digunakan ungkapan genealogi: ilmu tentang
keturunan. ‘TOLEDOT’ itu bukan asal mula langit dan bumi
melainkan hal-hal berikutnya, terlebih-lebih sejarah pertama dari
makhluk-makhluk jasmaniah. Oleh karena itulah bagian pertama
yakni Kejadian 1:1 hingga 2:3 jangan digabungkan dengan berita yang
mendahuluinya, tetapi dengan berita berikutnya. Jadi yang berikut itu
tidak disajikan sebagai cerita kedua dari penciptaan melainkan rincian
lebih lanjut, terkadang rincian mendahului rangkuman, kadangkala
sebaliknya.
Bandingkan kata TOLEDOT dalam ayat ini:
Kejadian 5:1
“Inilah daftar keturunan (TOLEDOT) Adam. Pada waktu manusia itu
diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah;”
Apakah keturunan atau silsilah Adam baru “eksis” setelah
Kejadian 5:1 atau sebelumnya? Tentu saja sebelumnya. Hal yang
sama juga berlaku untuk kata TOLEDOT dalam Kejadian 1 dan 2.

19. 2 SAMUEL 17:25 VS 1 TAWARIKH 2:17.

Dalam 2 Samuel (KJV dan DRB) TERTULIS, “Yitra adalah seorang
bangsa Israel”, TETAPI dalam 1 Tawarikh, “Yitra adalah seorang
bangsa Ismail”.

JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau konteks historis)
Alkitab LAI 2 Samuel 17:25,
Absalom telah mengangkat Amasa menggantikan Yoab untuk
mengepalai tentara. Amasa adalah anak seorang yang bernama Yitra,
seorang Ismael yang telah memperisteri Abigal binti Nahas, saudara
perempuan Zeruya ibu Yoab.
KJV 2 Samuel 17:25,
And Absalom made Amasa captain of the host instead of Joab: which
Amasa was a man’s son, whose name was Ithra an Israelite, that
went in to Abigail the daughter of Nahash, sister to Zeruiah Joab’s
mother.
DRB 2 Samuel 17:25,
Now Absalom appointed Amasa in Joab’s stead over the army: and
Amasa was the son of a man who was called Jethra, of Jezrael, who
went in to Abigail the daughter of Naas, the sister of Sarvia who was
the mother of Joab.
Alkitab LAI 1 Tawarikh 2:17,
Abigail melahirkan Amasa dan ayah Amasa ialah Yeter, orang
Ismael itu.
KJV 1 Tawarikh 2:17,
And Abigail bare Amasa: and the father of Amasa was Jether the
Ishmeelite.
DRB 1 Tawarikh 2:17,
And Abigail bore Amasa, whose father was Jether the Ismahelite.

Untuk memahami mengapa demikian, ikuti penjelasan berikut:
Kitab Samuel
Diperkirakan ditulis oleh nabi Samuel, Natan dan Gad pada
sekitar tahun 1000 SM hingga 930 SM pada masa pemerintahan Raja
Saul (Thalut menurut Qur’an), raja Daud dan raja Sulaiman (Salomo).
Pada waktu ini kerajaan Israel telah menjadi kerajaan besar di
kawasan timur tengah. Jadi nama Israel lebih mengacu pada kerajaan /
negara. Sedangkan jika berbicara sebagai suku bangsa lebih mengacu
pada nama ke 12 suku bangsa Israel. Yeter/Yitra hidup pada masa
raja Daud pada saat kerajaan Israel sedang berada dalam masa
kegemilangannya. Itulah sebabnya dalam Kitab Samuel dia ditulis
sebagai orang Israel yang lebih mengacu kepada WARGA
NEGARA ISRAEL.
Kitab Tawarikh
Ditulis pada masa pembuangan di Babel oleh Ezra sekitar
tahun 450 SM. Setelah raja Salomo wafat, kerajaan Israel terpecah 2
sekitar tahun 930 SM yaitu Israel di Utara dan Yehuda di Selatan.
Kerajaan Israel berakhir pada tahun 722 SM dengan ditaklukkan oleh
Asyur. Sementara kerajaan Yehuda sendiri pada tahun 589 SM jatuh
ke tangan Babel dan penduduknya dibuang ke Babel. Jadi pada
waktu Ezra menuliskan kitab Tawarikh, kerajaan Israel telah
lama lenyap. Itulah sebabnya dalam Kitab Tawarikh, Yeter/Yitra
ditulis sebagai orang Ismail yang mengacu kepada KETURUNAN
dari bani Ismael.

Alkitab LAI tidak tepat menerjemahkannya, seharusnya dalam 2
Samuel 17:25 adalah Israel bukan Ismail, mungkin karena Alkitab
LAI mengambil sumber terjemahan Alkitab dalam bahasa lain atau
untuk menghilangkan kebingungan atas perbedaan yang ada. Hal ini
ternyata sudah ada jawaban atau penjelasan mengapa berbeda. Alkitab
Indonesia lainnya sudah tepat menerjemahkan Israel, misal: Kitab
Suci-ILT (Indonesian Literal Translation) sama seperti Teks
Masoretik (naskah salinan dalam bahasa Ibrani atau bahasa asli
Alkitab Perjanjian Lama) menulis Israel.
Jadi kesimpulannya :
Yeter atau Yitra adalah seorang keturunan bani Ismail namun
menjadi warga kerajaan Israel.
Sama saja seperti petinju Nasim Hamed, dia warganegara Inggris, tapi
lebih mengaku sebagai orang keturunan Yaman.

20. 1 RAJA-RAJA 7:26 VS 2 TAWARIKH 4:5.

Dalam 1 Raja-raja TERTULIS, “Sulaiman memiliki 2.000 kamar
mandi”, TETAPI dalam 2 Tawarikh, “Sulaiman memiliki 3.000 kamar
mandi”.


JAWAB: (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
Lihat Jawaban no. 19, terjemahan kata ―kamar mandi‖ tidak tepat
seharusnya ―bat air‖


21. Berapa bat air di Bait Suci buatan Salomo?


a. 2.000 bat air (I Raja-raja 7:26).
b. 3.000 bat air (II Tawarikh 4:5).
JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)
“Tebal ‘laut’ itu setapak tangan dan tepinya serupa tepi piala, seperti
bunga bakung yang berkembang. ‘Laut’ itu dapat memuat dua ribu
(‘ALPAYIM) bat air.” (1 Raja-raja 7:26)
“Tebal ‘laut’ itu setapak tangan dan tepinya serupa tepi piala, seperti
bunga bakung yang berkembang. ‘Laut’ itu dapat memuat tiga ribu
(SYELOSYET ‘ALÂFÏM) bat air.” (2 Tawarikh 4:5)
Bat, ukuran isi untuk material cair, 1/10 homer, sebesar ukuran
Inggris 8 gallons (± 36 liter) dan 3 quarts (± 3 liter) atau total ± 39
liter (sama dengan efa). Besar bat itu berubah-ubah, sedangkan
periode penulisan kedua kitab itu tidak sama.
Nilai takaran-takaran bahan cair tergantung pada nilai bat. Ini
tidak dapat dipastikan, sebab bejana-bejana bertera yang masih ada
dengan tanda tb, bat dan dengan tanda klml tb, bat raja adalah tidak
lengkap dan tidak dapat disusun kembali dengan pasti; karena itu nilai
bat dihitung dengan berbagai cara, antara 20, 92 dan 46,6 liter.
Berdasarkan anggapan bahwa takaran bat adalah separo dari besarnya
bat raja, dan bahwa teraan-teraan itu menunjukkan daya muat penuh
bejana-bejana itu, maka usul mengenai daya muat 22 liter pada zaman
Alkitab dan 21,5 liter pada zaman Helenistik biasanya diterima
sebagai dasar untuk penghitungan, sebab usul ini memperoleh
sokongan dari perbandingan dengan daya muat laut Salomo, yang
menampung ± 45.000 liter.

Targum Yahudi memberi penjelasan bahwa kapasitas laut
itu 3.000 bat jika tidak digunakan untuk berendam sedangkan
jika digunakan untuk mandi berendam – oleh Salomo – maka
hanya diisi 2000 bat saja.


22. 2 TAWARIKH 9:25 VS 1 RAJA-RAJA 4:26.

Dalam 2 Tawarikh TERTULIS, “Sulaiman (Salomo) memiliki 4.000
kandang kuda”, TETAPI dalam 1 Raja-raja, “Sulaiman memiliki
40.000 kandang kuda”.
JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)
2 Tawarikh 9:25,
“Salomo mempunyai juga empat ribu (Ibrani: ‘ARBA’AT ‘ALÂFÏM)
kandang untuk kuda-kudanya dan kereta-keretanya dan dua belas ribu
orang berkuda, yang ditempatkan dalam kota-kota kereta dan dekat
raja di Yerusalem.”
1 Raja-raja 4:26,
“Lagipula Salomo mempunyai kuda empat puluh ribu (Ibrani:
‘ARBÂ’ÏM ‘ELEF) kandang untuk kereta-keretanya dan dua belas ribu
orang berkuda.”
Penulis Yahudi, Ben Gersom menafsirkan dengan merujuk pada
aksara “YOD” dari ‘ARBÂ’IM yang adalah angka numeral untuk
sepuluh sehingga terjemahannya bukan empat puluh ribu kandang
kuda melainkan empat puluh ribu kuda dalam kandang, di mana
satu kandang berisi sepuluh (YOD) ekor.

Yang lain percaya, bahwa kandang kuda yang disebutkan dalam 2
Tawarikh adalah kandang gandengan yang lebih besar dan yang
masing-masing dapat menampung 10 ekor kuda (jadi setiap kandang
berisi 10 kuda). Dengan demikian 4000 kandang kuda gandengan
sama saja dengan 40.000 kandang kuda yang kecil.
Ada juga alternatif solusi lain yang menyebutkan bahwa jumlah
kandang kuda yang disebutkan dalam 1 Raja-raja adalah jumlah
kandang yang dimiliki oleh Raja Salomo pada awal pemerintahannya,
sedangkan jumlah yang terdapat dalam 2 Tawarikh adalah jumlah
kandang yang ia miliki pada masa akhir kekuasaannya. Salomo
memerintah selama 40 tahun, bukan tidak mungkin ada banyak
perubahan yang terjadi selama masa itu. Masuk akal bahwa Salomo
mengurangi jumlah perangkat militer jenis ini yang tadinya berasal
dari ayahnya, Daud karena zaman Salomo tidak banyak terjadi
pertempuran. (Light of Life II 1992:191)
Jadi, ada 3 alternatif solusi atau pilihan jawaban yang mungkin untuk
menjelaskan perbedaan angka tersebut.

23. 1 SAMUEL 28:6 VS 1 TAWARIKH 10:13-14.

Dalam 1 Samuel TERTULIS, “Saul meminta petunjuk kepada
Tuhan”, TETAPI dalam 1 Tawarikh, “Saul TIDAK meminta petunjuk
kepada Tuhan”.
JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)

1 Samuel 28:6 hendaklah dibaca ke ayat selanjutnya sampai habis
dalam 1 perikop yang diberi judul SAUL di EN-DOR. Bahwa
kemudian Saul pergi ke Dukun (pemanggil arwah) untuk berhubungan
dengan roh jahat yang seperti Samuel (namun bukan Samuel).
1 Samuel 28:1-25 Saul di En-Dor
28:6 Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak
menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan
perantaraan para nabi.
28:7 Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya: “Carilah bagiku
seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah; maka aku
hendak pergi kepadanya dan meminta petunjuk kepadanya.” Para
pegawainya menjawab dia: “Di En-Dor ada seorang perempuan yang
sanggup memanggil arwah.”
28:15 Sesudah itu berbicaralah Samuel kepada Saul: “Mengapa
engkau mengganggu aku dengan memanggil aku muncul?” Kata Saul:
“Aku sangat dalam keadaan terjepit: orang Filistin berperang melawan
aku, dan Allah telah undur dari padaku. Ia tidak menjawab aku
lagi, baik dengan perantaraan nabi maupun dengan mimpi. Sebab itu
aku memanggil engkau, supaya engkau memberitahukan kepadaku,
apa yang harus kuperbuat.”
Di sini jelas bahwa Saul telah melakukan “perzinahan rohani” dan dia
untuk pertama kalinya meminta petunjuk arwah dan mempercayai
arwah daripada Tuhan (sejak itu Saul tidak bertanya lagi kepada

Tuhan dan Roh Tuhan telah undur daripadanya dan Tuhan
memberikan jabatan raja kepada orang lain yaitu Daud).
1 Tawarikh 10:13-14 Adalah kisah tragis tentang akhir hidup Raja
Saul :
10:13 Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia
terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman
TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah,
10:14 dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN
membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai
Jadi tidak ada kontradiksi.


24. 2 TAWARIKH 6:36 VS 1 YOHANES 3:9.


Dalam 2 Tawarikh TERTULIS, “semua berdosa”, TETAPI dalam 1
Yohanes, “setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi”.
JAWAB: (Kategori: salah memahami konteks ayat)
2 Tawarikh 6:36,


Apabila mereka berdosa kepada-Mu—karena tidak ada manusia
yang tidak berdosa—dan Engkau murka kepada mereka dan
menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut
tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat,
Alkitab LAI TB Edisi ke-2, 1 Yohanes 3:9,

Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak terus-menerus berbuat dosa;
sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terusmenerus berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.
Alkitab LAI TB Edisi ke-1, 1 Yohanes 3:9,
Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab
benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa,
karena ia lahir dari Allah.
Alkitab LAI TB Edisi ke-2 dengan tepat menerjemahkan 1 Yoh 3:9.
Jadi ayat itu dimaknai sebenarnya yaitu tidak terus-menerus berbuat
dosa. Jadi tidak kontradiksi dengan 2 Tawarikh 6:36. Perhatikan juga
terjemahan NIV dan NLT yang tepat menerjemahkannya.
NIV 1 John 3:9 No one who is born of God will continue to sin
(Tidak seorangpun yang lahir dari Allah akan terus-menerus
berbuat dosa), because God’s seed remains in him; he cannot go on
sinning (tidak dapat terus-menerus dalam keadaan berdosa),
because he has been born of God.
NLT 1 John 3:9 Those who have been born into God’s family do not
sin (tidak berbuat dosa lagi), because God’s life is in them. So they
can’t keep on sinning (tidak dapat terus-menerus dalam dosa),
because they have been born of God.
Jadi perlu dipahami bahwa pengertian kedua ayat tersebut berbeda.
tidak ada kontradiksi.


25. MAZMUR 30:6 VS BILANGAN 32:13.


Dalam Mazmur TERTULIS, “sebab sesaat saja Tuhan murka”,
TETAPI dalam Bilangan, “Tuhan murka selama 40 tahun lamanya
kepada orang Israel”.
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks ayat)
MAZMUR 30:6,
Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati;
sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.
BILANGAN 32:13,
Sebab itu bangkitlah murka TUHAN kepada orang Israel, sehingga
Ia membuat mereka mengembara di padang gurun empat puluh
tahun lamanya, sampai habis mati segenap angkatan yang telah
berbuat jahat di mata TUHAN.
Kita sebagai manusia tentu tidak dapat mengukur Waktu
Tuhan adalah setara dengan Waktu Manusia. Jangka waktu 40 tahun
itu lama, tentunya! tapi bisa juga diartikan sesaat, Apalagi dalam
jangka waktu 40 tahun itu bani Israel sedang dimurnikan!
Sebab ada ungkapan : “………dihadapan Tuhan satu hari
sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari”
(Mazmur 90:4); “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang
satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan
satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti
satu hari” (2 Petrus 3:8 ).
“Ungkapan Murka Tuhan hanya sesaat” yang ditulis Raja
Daud adalah menggambarkan “Murka Tuhan yang tidak kekal”
artinya TUHAN masih mau memberikan waktu dan kesempatan bagi
manusia untuk bertobat. Manusia kembali ke jalan Tuhan dan saat
itulah Tuhan tidak murka lagi.
Jangka waktu pembuangan Bani Israel ke padang gurun adalah
40 tahun lamanya. Tapi ingatlah pada masa-masa itu Bani Israel
sedang diajar dan dari sanalah muncul seorang Pemimpin dan Nabi
Besar dengan kelahiran bermacam-macam hukum dan kitab yang
dikenal dengan Taurat.
Jadi bisa dimengerti bahwa Murka Tuhan muncul/bangkit
hanya sesaat atau saat itu, namun sesungguhnya yang lama itu (yaitu
40 tahun) adalah dampak / masa hukuman dari Tuhan yang murka.
Jadi tidak ada kontradiksi.

26. MAZMUR 100:5 VS 1 SAMUEL 15:3.

Dalam Mazmur TERTULIS, “kasih setia Tuhan untuk selamanya”,
TETAPI dalam 1 Samuel, “jangan ada belas kasihan kepada orang
Amalek, tetapi bunuhlah semuanya, baik itu laki-laki, perempuan,
anak-anak, bayi yang masih menyusu, lembu, domba, maupun
keledai”.
JAWAB : (Kategori: salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
Mazmur 100:5
Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan
kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.
Versus :
1 Samuel 15:3

Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala
yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya.
Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak
maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta
maupun keledai.”
Apa bedanya dengan 1 Samuel 15:3 di atas?
Mengapa terkesan Tuhan sangat kejam dalam ayat tersebut? Kita
harus menyadari mengapa kemarahan Tuhan begitu besar sehingga
menggunakan tangan orang Israel untuk menghukum mereka. Orangorang ini hidup dalam kondisi yang sangat berdosa di mana kejahatan
mereka begitu besar, mereka menyembah berhala dan sangat
menghujat Tuhan, dan bahkan dalam ibadat mereka, mereka sering
mengorbankan anak-anak, hidup dalam dosa-dosa seksualitas /
moralitas.
Namun jika suatu bangsa itu bertobat seperti misal bangsa Niniwe
pada zaman Nabi Yunus, yang mau dihancurkan seluruh kotanya,
maka TUHAN itu menunjukkan kasih setia-Nya dan kebaikan-Nya
serta mengampuni dosa-dosanya, sehingga tepat seperti dikatakan
Mazmur 100:5 Sebab TUHAN itu baik,kasih setia-Nya untuk selamalamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.
Perhatikan pula Tuhan tidak sembarangan menghukum, dalam
Perjanjian Lama, hukuman Tuhan ini tidak hanya dilakukan terhadap
musuh-musuh Israel, namun juga secara adil terhadap orang Israel
sendiri bila mereka menjadi musuh Tuhan seperti dalam kasus dosa bangsa Israel karena ‘Penyembahan Berhala Lembu Emas’ (Keluaran 32). Juga hal-hal yang tertulis pada ayat-ayat dibawah ini :
Ulangan 29:16-20
29:16 Sebab kamu ini tahu, bagaimana kita diam di tanah Mesir dan
bagaimana kita berjalan dari tengah-tengah segala bangsa yang
negerinya kamu lalui,
29:17 dan kamu sudah melihat dewa kejijikan dan berhala mereka,
yakni kayu dan batu, emas dan perak itu, yang ada terdapat pada
mereka.
29:18 Sebab itu janganlah di antaramu ada laki-laki atau perempuan,
kaum keluarga atau suku yang hatinya pada hari ini berpaling
meninggalkan TUHAN, Allah kita, untuk pergi berbakti kepada allah
bangsa-bangsa itu; janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan
racun atau ipuh.
29:19 Tetapi apabila seseorang pada waktu mendengar perkataan
sumpah serapah ini menyangka dirinya tetap diberkati, dengan
berkata: Aku akan selamat, walaupun aku berlaku degil — dengan
demikian dilenyapkannya baik tanah yang kegenangan maupun yang
kekeringan –
29:20 maka TUHAN tidak akan mau mengampuni orang itu, tetapi
murka dan cemburu TUHAN akan menyala atasnya pada waktu itu;
segenap sumpah serapah yang tertulis dalam kitab ini akan
menghinggapi dia, dan TUHAN akan menghapuskan namanya dari
kolong langit. Dalam ayat-ayat tersebut diucapkan kutukan menentang
penyembahan berhala, atau perzinahan rohani. Suku Israel yang
berpaling kepada penyembahan berhala namanya dihapus.

Jadi kedua ayat itu tidak kontradiksi.

27. 2 TAWARIKH 36:9 VS 2 RAJA-RAJA 24:8.

Dalam 2 Tawarikh TERTULIS, “Yoyakhin berumur 8 tahun ketika
mulai memerintah”, TETAPI dalam 2 Raja-raja, “Yoyakhin berumur
18 tahun ketika mulai memerintah”.
JAWAB : (Kategori : Salah memahami konteks ayat)
Usia 8 tahun adalah dianggap terlalu muda untuk memerintah.
Tetapi ada beberapa komentator yang mengatakan bahwa dapat saja
hal tersebut benar. Mereka berpendapat bahwa Yoyakhin kemudian
secara resmi diangkat menjadi raja pada usia 18 tahun, setelah
ayahnya meninggal dunia.
Perbedaan ini tidak dijumpai dalam Alkitab PL yang
diterjemahkan oleh LAI :
2 Raja-raja 24:8 “Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu
ia menjadi raja dan tiga bulan lamanya ia memerintah di Yerusalem.
Nama ibunya ialah Nehusta binti Elnatan, dari Yerusalem.”
2 Tawarikh 36:9 “Yoyakhin berumur delapan tahun pada waktu ia
mulai menjadi raja dan tiga bulan sepuluh hari lamanya ia memerintah
di Yerusalem. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.”
Namun untuk jelasnya kita dapat memperhatikan
perbedaannya dalam KJV dan dalam naskah Masora/Teks Masoretik:
2 Kings 24:8

“Jehoiachin was eighteen [SYEMONEH ‘ESRÊH] years old when
he began to reign, and he reigned in Jerusalem three months. And his
mother’s name was Nehushta, the daughter of Elnathan of Jerusalem.”
Naskah Masorah, BEN-SYEMONEH ‘ESRÊH SYÂNÂH
YEHÔYÂKHÎN BEMOLKHÔ ÛSYELOSYÂH KHODÂSYÎM
MÂLAKH BÎRÛSYÂLÂIM VESYÊM ‘IMÔ NEKHUSYTÂ’ VAT-
‘ELNÂTÂN MÎRÛSYÂLÂIM
2 Chronicles 36:9,
“Jehoiachin was eight (SYEMONEH) years old when he began to
reign, and he reigned three months and ten days in Jerusalem: and he
did that which was evil in the sight of the LORD.”
Naskah Masorah, BEN-SYEMÔNEH SYÂNÎM YEHÔYÂKHÎN
BEMOLKHÔ ûSYELOSYÂH KHODÂSYÎM VA’ASERET YÂMÎM
MÂLAKH BÎRÛSYÂLÂIM VAYA’AS HÂRA’ BE’ÊYNÊY
YEHOVÂH
Penafsiran pertama, Yoyakhin ditunjuk sebagai raja atau
membantu ayahnya sebagai raja pada usia 8 tahun dan baru
dinobatkan pada usia 18 tahun, karena usia 8 tahun terlalu muda untuk
menjadi raja, apalagi Yoyakhin hanya memerintah selama tiga bulan,
kemudian ditangkap, dan saat ditangkap ia TELAH MEMPUNYAI
ISTRI!
Naskah asli PL tidak ada lagi, namun kita memiliki salinansalinan naskah asli tersebut, tentu saja dengan membandingkan

beberapa salinan naskah tersebut kita mendapat kesimpulan bahwa
Yoyakhin naik takhta pada usia 18 tahun.
2 Tawarikh 36:9 menurut naskah Masoret dan diterjemahkan
oleh KJV dengan eight years old. Sebagian besar manuskrip Ibrani
menulis 8.

28. KEJADIAN 8:21 VS 1 SAMUEL 6:19 & MARKUS 5:12-13.

Dalam Kejadian, firman Tuhan TERTULIS, “…Aku takkan
membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan”,
TETAPI dalam 1 Samuel, “Tuhan membunuh 70 orang karena melihat
tabut Tuhan”, dan dalam Markus, Tuhan Yesus membunuh sekitar
2.000 babi untuk menyembuhkan seorang yang kerasukan roh-roh
jahat”.
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah
TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena
manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak
kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup
seperti yang telah Kulakukan. (Kejadian 8:21)
Versus
Dan Ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat
ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat
itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka
dengan dahsyatnya. (1 Samuel 6:19)
Versus

Lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: “Suruhlah kami
pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” Yesus
mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan
memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu
jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di
dalamnya. (Markus 5:12-13)
Konteks janji “tidak menghukum” dalam Kejadian 8:21 berbeda
dengan penghukuman yang dicatat dalam 1 Samuel 6:19. Orang-orang
yang mati yang dicatat dalam 1 Samuel 6:19 ini akibat dari melanggar
hukum yang terdapat dalam :
Bilangan 4:20
Tetapi janganlah orang Kehat masuk ke dalam untuk melihat barangbarang kudus itu walau sesaat pun, nanti mereka mati.”
Orang Kehat adalah keturunan dari putra kedua Lewi. Di padang
Gurun, keturunan Kehat bertugas membawa perabot dan perlengkapan
Kemah Suci. Jadi pekerjaan orang Kehat dihubungkan erat sekali
dengan pekerjaan para imam. Namun mereka tidak pernah (tidak
diperbolehkan) melihat atau menjamah perkakas-perkakas Tempat
yang Mahakudus, walau sesaat-pun. Apalagi dalam 1 Samuel 6:19,
orang Bet-Semes bukan orang yang bertugas akan perkakas Kemah
Suci, merekapun juga tidak diperbolehkan “melihat”, inilah penyebab
kematian mereka.
Sedangkan untuk Markus 5:12-13, tidak ada pertentangan yang patut
dipersoalkan karena berbeda konteksnya dengan Kej 8:21 yang berisi

janji Allah bahwa Allah tidak akan melakukan penghukuman “Air
Bah” lagi yang menyebabkan musnahnya SEGALA makhluk
hidup dimuka bumi (baca juga Kej 9:11). Dengan demikian tidak
ada kontradiksi!

 

29. Siapakah anak Daud yang kedua?

 

a. Kileab (II Samuel 3:2-3).
b. Daniel (I Tawarikh 3:1).
JAWAB: (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)
“Di Hebron lahirlah bagi Daud anak-anak lelaki. Anak sulungnya
ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; anaknya yang kedua
ialah Kileab (Bahasa Ibraninya: KHIL’ÂV), dari Abigail, bekas isteri
Nabal, orang Karmel; yang ketiga ialah Absalom, anak dari Maakha,
anak perempuan Talmai raja Gesur;” (2 Samuel 3:2-3)
“Inilah anak-anak Daud yang lahir bagi dia di Hebron; anak sulung
ialah Amnon, dari Ahinoam, perempuan Yizreel; anak yang kedua
ialah Daniel (Bahasa Ibraninya: DÂNÏÊ’L), dari Abigail, perempuan
Karmel;” (1 Tawarikh 3:1)
Orang Israel biasa memiliki dua nama. Nama yang pertama
sebenarnya adalah Daniel dari kata Ibrani “DAN”, hakim dan ‘EL,
Allah, Allah adalah hakimku. Inilah nama yang diberikan oleh Daud
dengan alasan seperti dalam ayat berikut ini:
1 Samuel 25:39,

“Ketika didengar Daud, bahwa Nabal telah mati, berkatalah ia:
‘Terpujilah TUHAN, yang membela aku dalam perkara
penghinaan Nabal terhadap aku dan yang mencegah hamba-Nya
dari pada berbuat jahat. TUHAN telah membalikkan kejahatan
Nabal ke atas kepalanya sendiri.’ Kemudian Daud menyuruh orang
untuk berbicara dengan Abigail tentang mengambil dia menjadi
isterinya.”
Entah mengapa belakangan Daniel dipanggil Kileab, tidak
mudah untuk dijelaskan namun orang Yahudi punya kisah khusus
tentang hal ini. Kileab, Ibrani KIL’AB dari kata KALA (menutup,
tinggal, memelihara) dan ba-‘AV, ayah. Kileab berarti seperti
ayahnya. Berarti Kileab seperti Daud, ayahnya.
Bahwa orang-orang Israel memiliki nama alias bukanlah
barang baru. Yakub disebut Israel, abangnya Esau juga dikenal
sebagai Edom, Benyamin dipanggil juga Ben-Oni, Naomi mertua Rut
menamakan dirinya juga sebagai Mara. Di Indonesia pun kita kenal
nama-nama ganda seperti ini misalnya Tommy alias Hutomo Mandala
Putra.

30. Berapa tahun kelaparan yang diberitahukan Gad kepada Daud?

a. 7 tahun kelaparan (II Samuel 24:13).
b. 3 tahun kelaparan (I Tawarikh 21:12).
JAWAB : (Kategori: Salah memahami konteks historis)

Ada dua sudut pandang yang dapat dipakai untuk menjelaskan
hal tersebut. Pemahaman pertama, yaitu penulis Kitab 1 Tawarikh
lebih menekankan pada periode 3 tahun dengan masa kelaparan terjadi
paling hebat, sedangkan penulis kitab 2 Samuel memasukkan 2 tahun
sebelum dan sesudah masa kelaparan tersebut, yaitu masa dimana
kelaparan belum terasa sangat hebat dan kemudian berangsur-angsur
membaik.
1 Tawarikh 21:11-12
Alkitab LAI TL, Maka datanglah Gad menghadap Daud serta
katanya kepadanya: Demikianlah firman Tuhan: Hendaklah engkau
pilih: Atau bala kelaparan tiga tahun lamanya, atau tewas di hadapan
musuhmu tiga bulan lamanya….
Alkitab LAI TB, Tiga tahun kelaparan atau tiga bulan lamanya
melarikan diri dari hadapan lawanmu, sedang pedang musuhmu
menyusul engkau, atau tiga hari pedang TUHAN, yakni penyakit
sampar, ada di negeri ini, dan malaikat TUHAN mendatangkan
kemusnahan di seluruh daerah orang Israel. Maka sekarang,
timbanglah jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang
mengutus aku.”
Alkitab KJV, Either three years’ famine; or three months to be
destroyed before thy foes, while that the sword of thine enemies
overtaketh thee; or else three days the sword of the LORD, even the
pestilence, in the land, and the angel of the LORD destroying
throughout all the coasts of Israel. Now therefore advise thyself what
word I shall bring again to him that sent me.
Naskah Ibrani/Teks Masoretik:

VAYÂVO’ GÂD ‘EL-DÂVÎD VAYO’MER LÔ KOH-‘ÂMAR
YEHOVÂH QABEL-LÂKH ‘IM-SYÂLÔSY {tiga} SYÂNÎM
RÂ’ÂV VE’IM-SYELOSYÂH KHODÂSYÎM NISPEH MIPENÊYTSÂREYKHA VEKHEREV ‘ÛYEVEKHA LEMASEGET VE’IMSYELOSYET YÂMÎM KHEREV YEHOVÂH VEDEVER
BÂ’ÂRETS ÛMAL’AKH YEHOVÂH MASYKHÎT BEKHOLGEVÛL YISRÂ’ÊL VE’ATÂH RE’ÊH MÂH-‘ÂSYÎV ‘ETSYOLEKHÎ DÂVÂR
2 Samuel 24:13
Alkitab LAI TL, Maka datanglah Gad kepada Daud, diberinya tahu
kepadanya firman itu, lalu katanya: Maukah engkau suatu bala
kelaparan tujuh tahun lamanya berlaku dalam negerimu? atau
maukah engkau lari tiga bulan lamanya dari hadapan musuhmu, yang
mengusir akan dikau? atau maukah engkau suatu bala sampar tiga hari
lamanya dalam negerimu? Sekarang hendaklah engkau berfikir dan
menimbang baik-baik, apa jawab akan kubawa kembali kepada Dia
yang sudah menyuruhkan daku.
Alkitab LAI-TB, Kemudian datanglah Gad kepada Daud,
memberitahukan kepadanya dengan berkata kepadanya: “Akan
datangkah menimpa engkau tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau
maukah engkau melarikan diri tiga bulan lamanya dari hadapan
lawanmu, sedang mereka itu mengejar engkau? Atau, akan adakah
tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka sekarang, pikirkanlah
dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang
mengutus aku.”

Alkitab KJV, So Gad came to David, and told him, and said unto
him, Shall seven years of famine come unto thee in thy land? or wilt
thou flee three months before thine enemies, while they pursue thee?
or that there be three days’ pestilence in thy land? now advise, and see
what answer I shall return to him that sent me.
Naskah Ibrani/Teks Masoretik:
VAYÂVO’-GÂD ‘EL-DÂVID VAYAGED-LÔ VAYO’MER LÔ
HATÂVÔ’ LEKHA SYEVA’ {tujuh} SYÂNÎM RÂ’ÂV
BE’ARTSEKHA ‘IM-SYELOSYÂH KHODÂSYÎM NUSKHA
LIFNÊY-TSÂREYKHA VEHÛ’ RODEFEKHA VE’IM-HEYÔT
SYELOSYET YÂMÎM DEVER BE’ARTSEKHA ‘ATÂH DA’
ÛRE’ÊH MÂH-‘ÂSYÎV SYOLEKHÎ DÂVÂR
Kitab Suci Indonesian Literal Translation (KS-ILT):
Dan Gad datang kepada Daud, dan memberitahukannya, dan berkata
kepadanya, ―Akan datang tujuh tahun kelaparan kepadamu di
negerimu. Atau engkau akan melarikan diri dari hadapan musuhmusuhmu selama tiga bulan, dan mereka itu mengejarmu. Atau tiga
hari tulah akan melanda negerimu. Sekarang pertimbangkanlah, dan
lihatlah apa yang harus aku kembalikan kepada Dia yang
mengirimkan perkataan kepadaku.‖
Jika kita perhatikan, ada suatu bentuk paralelisme dalam ayatayat di atas yang berhubungan dengan angka, tiga tahun kelaparan,
tiga bulan melarikan diri, tiga hari penyakit sampar, seyogianya 2
Samuel 24:13 menulis tiga tahun dan bukan tujuh tahun sesuai dengan
kaidah bahasa kesusastraan PL, namun mengapa teks Ibrani justru
menulis, SYEVA’ SYÂNÎM (tujuh tahun)?

ALKITAB LAI pada Terjemahan Baru (TB) sudah menerjemahkan ‖
3 tahun‖ pada 2 Samuel 24:13. Jadi sudah tidak ada pertentangan.
Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan kepadanya
dengan berkata kepadanya: “Akan datangkah menimpa engkau tiga
tahun kelaparan di negerimu?”
Jika kita membandingkan Alkitab LAI dengan Alkitab KJV dan Teks
Masoretik, dll., Untuk ayat I Tawarikh 21:12, kata ―tiga tahun‖
disemua terjemahan Alkitab Indonesia dan Inggris sama semua,
menulis ―tiga tahun‖
Yang berbeda adalah ketika di ayat 2 Samuel 24:13, dalam Alkitab
King James Version (KJV), NASB (New American Standard Bible),
NKJV (New King James Version), ASV (American Standard
Version), CEV (Contemporary English Version) 1995, ERV,
American KJV, DRB, Darby Bible Translation, Webster Bible
Translation, World English Bible, Young’s Literal Translation, GOD’S
WORLD TRANSLATION, Jewish Publication Society Tanakh,
Alkitab LAI Terjemahan Lama, Naskah asli MT (Naskah Asli Bhs
Ibrani: Masoretik Teks), Kitab Suci ILT (Indonesian Literal
Translation), Alkitab Indonesia (IMTV=Indonesian Majority Text
Version), semuanya menulis ―Tujuh tahun‖ berbeda dengan Alkitab
NIV, dll menulis ―Tiga tahun‖. Mana yang benar?

Jadi KJV, NKJV, ASV, NASB, dll dan KS-ILT (Indonesian Literal
Translation), Alkitab Indonesia IMTV, Alkitab LAI BIS menulis
―seven years‖ atau ―tujuh tahun‖ dalam ayat 2 Samuel 24:13.
Alkitab LAI terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) tahun
1985 menulis:
2 Samuel 24:13 Gad datang menghadap dan memberitahukan
kepadanya perintah TUHAN itu, katanya, “Mana yang Baginda pilih:
Negeri ini ditimpa bencana kelaparan selama tiga *Beberapa
terjemahan kuno: tiga; Ibrani: tujuh.* tahun, atau Baginda lari
dikejar-kejar musuh selama tiga bulan, atau negeri ini diserang wabah
penyakit selama tiga hari? Putuskanlah sekarang apa yang harus
kusampaikan kepada TUHAN.”
Disini LAI bijaksana dengan memberitahu bahwa dalam naskah Ibrani
Majority Text (Kebanyakan Teks/naskah salinan/naskah
Byzantine/Received Text) menulis ―Tujuh Tahun‖, meski LAI
berdasarkan naskah salinan lain (Alexandrian/Minority/WH Text)
menulis ―tiga tahun‖ Jadi bagaimana?
Mengacu pada Text Byzantine/Majority/Received Text/Masoretic
Text/MT yang diterima luas oleh semua kalangan Bapa Gereja zaman
Reformasi dan semua kalangan Fundamentalis serta yang mengimani
Alkitab tanpa salah sedikitpun dan dipelihara TUHAN, maka yang
benar untuk ayat 2 Samuel 24:13 adalah ―Tujuh tahun‖ sedangkan I
Tawarikh 21:12 ―Tiga tahun‖. Apa yang tertulis dalam naskah Teks

Kebanyakan yang diterima/teks yang dipelihara Allah, maka tetap
seperti yang tertulis.
Lalu bagaimana, kan jadi berbeda? Satu menulis 7 tahun, ayat lain
menulis 3 tahun? Mari kita bahas beberapa kemungkinan jawaban
untuk hal ini.
Verse KJV NIV NASB
2 Samuel 24:13 seven three seven
1 Chronicles 21:12 three three three
Saya dan semua orang Kristen yang memegang Naskah MT
(Masoretik Teks untuk PL, bahasa Ibrani) dan TR (Textus Receptus
untuk PB, bahasa Yunani) sebagai Naskah yang dipelihara TUHAN
tanpa salah, mengacu yang benar tetap ‖Tujuh tahun‖ pada ayat 2
Samuel 24:13 sesuai dengan Naskah asli MT (Naskah Asli Bhs
Ibrani: Masoretik Teks), Alkitab King James Version (KJV), juga
versi terjemahan Alkitab lain seperti: NASB (New American Standard
Bible), NKJV (New King James Version), ASV (American Standard
Version), CEV (Contemporary English Version) 1995, ERV,
American KJV, DRB, Darby Bible Translation, Webster Bible
Translation, World English Bible, Young’s Literal Translation, GOD’S
WORLD TRANSLATION, Jewish Publication Society Tanakh,
Alkitab LAI Terjemahan Lama (LAI-TL), Alkitab Indonesia ILT
(Indonesian Literal Translation), Alkitab Indonesia
(IMTV=Indonesian Majority Text Version), dan ‖tiga tahun‖ pada
ayat 1 Tawarikh 21:12.

Untuk jawaban ini, perlu kita diketahui Septuaginta adalah teks
terjemahan dari Naskah asli Ibrani PL, Jadi Septuaginta bukanlah teks
superior dari Naskah Ibrani. Jadi kita tetap berpedoman pada Naskah
asli Ibrani PL (Masoretik Teks=MT), yang menulis ―Tujuh tahun
kelaparan‖
Dalam I Taw 21:11, ada tiga pilihan diberikan kepada Daud. Perlu
diperhatikan, bahwa 2 pilihan terakhir sama dengan ayat 2 Samuel 24,
namun pilihan pertama berbeda, baik dalam jumlah tahun yang
disebutkan dan juga cara hukuman di tulis. Tuhan disini tidak
mengundang Daud untuk memilih 3 tahun kelaparan, namun malah
bertanya, ―…akan datang tujuh tahun kelaparan kepadamu di
negerimu?‖
Dalam 2 Samuel 21:1, tertulis, ―Semasa Daud memerintah, terjadilah
bala kelaparan hebat yang berlangsung selama tiga tahun penuh. Lalu
Daud meminta petunjuk TUHAN mengenai hal itu, dan TUHAN
berkata, “Bala kelaparan itu ialah karena kesalahan Saul dan
keluarganya, mereka telah membunuh orang-orang Gibeon.”
Tiga tahun kelaparan sudah terjadi. Tambahkan tahun berjalan (waktu
dari 2 Samuel 21:1 sampai 2 Samuel 24:13), dan kemudian tiga tahun
kelaparan yang tercatat di I Tawarikh 21:11, dan akan kita dapatkan
tujuh tahun kelaparan.
Kesimpulan:

2 Samuel 24:13 tetap ―Tujuh Tahun‖ dan memang berbeda
dengan I Tawarikh 21:12 tertulis ‖Tiga Tahun‖.
Jadi, Tidak ada kontradiksi.

31. Di Yerusalem, Daud mengambil beberapa gundik atau tidak?

a. Ya! Daud mengambil beberapa gundik dan istri (II Samuel 5:13-
16).
b. Tidak ! Daud hanya mengambil beberapa isteri saja (I Tawarikh
14:3-7).
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
2 Samuel 5:13,
“Daud mengambil lagi beberapa gundik dan isteri (Bahasa Ibraninya:
PILAGSYÏM VENÂSYÏM) dari Yerusalem, setelah ia datang dari
Hebron dan bagi Daud masih lahir lagi anak-anak lelaki dan
perempuan.”
1 Tawarikh 14:3,
“Daud mengambil lagi beberapa isteri (Bahasa Ibraninya: NÂSYÏM)
di Yerusalem, dan ia memperanakkan lagi anak-anak lelaki dan
perempuan.”
Yang mengutip pertentangan ayat ini sebenarnya tidak memahami
makna gundik dan istri di kalangan orang Israel. Beberapa gundik dan

istri sama saja dengan beberapa istri. Ada kalanya gundik dibedakan
dengan istri namun adakalanya pula maknanya sama karena bahasa
Ibrani termasuk bahasa yang miskin, satu kata bisa bermakna ganda
bahkan terkadang lebih dari dua. Dalam tradisi Yahudi, gundik adalah
istri tidak resmi.
Sekedar contoh:
Kejadian 30:4,
“Maka diberikannyalah Bilha, budaknya itu, kepada Yakub menjadi
isterinya dan Yakub menghampiri budak itu.”
VATITEN-LO ‘ET-BILHÂH SYIFKHÂTÂH LE’ISYÂH VAYÂVO’
‘ÊLEYHÂ YA’AQOV (Bahasa Ibraninya)
Ayat di atas menyatakan bahwa Bilha, budak perempuan Rahel itu,
diberikan kepada Yakub sebagai ‘ISYAH, ISTRI karena Rahel belum
melahirkan anak dan tujuannya adalah agar perkawinan mereka
menghasilkan ahli waris. Bandingkan dengan ayat ini:
Kejadian 35:22,
“Ketika Israel diam di negeri ini, terjadilah bahwa Ruben sampai tidur
dengan Bilha, gundik ayahnya (Bahasa Ibraninya: ‘ET-BILHÂH
PÏLEGESY ‘ÂVÏV), dan kedengaranlah hal itu kepada Israel. Adapun
anak-anak lelaki Yakub dua belas orang jumlahnya.”
Ternyata, di samping sebagai ‘ISYAH, ISTRI, Bilha pun disebut
PÏLEGESY, GUNDIK Yakub.
Jadi keduanya benar.

32. Berapa anak-anak Daud dari gundik di Yerusalem?

a. 11 orang (II Samuel 5:13-16).
b. 13 orang (I Tawarikh 14:3-7).
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
Inilah nama-nama anak Daud:
1. Amnon, ibunya bernama Ahinoam.
2. Kileab juga disebut Daniel, ibunya Abigail.
3. Absalom, ibunya Maakha.
4. Adonia, ibunya Hagit.
5. Sefaca, ibunya Abital.
6. Yitream, ibunya Egla.
Keenam anak ini lahir di Hebron.
Ada empat orang anak yang dilahirkan oleh Batsyua atau Batsyeba
yaitu:
7. Syamua juga disebut Syemua, anak Batsyua atau Batsyeba.
8. Sobab
9. Natan
10. Salomo
Anak dari istri yang lain:
11. Yibhar
12. Elisua atau Elisama [ayat 1 Tawarikh 3:6], bandingkan dengan
kedua ayat ini:

2 Samuel 5:15
“Yibhar, Elisua, Nefeg, Yafia,”
Bahasa Ibraninya: VEYIVKHÂR VE’ELÏSYUA’ VENEFEG
VEYÂFÏA’
1 Tawarikh 3:6
“lalu Yibhar, Elisama, Elifelet,”
Bahasa Ibraninya: VEYIVKHÂR VE’ELÏSYÂMÂ’ VE’ELÏFÂLET
13. Nefeg
14. Yafia
15. Elisama
16. Elyada atau Beeliada
17. Elifelet
Yang tidak ditulis dalam 2 Samuel 5:13-16 adalah:
18. Nogah, lahir kemudian.
Elpelet mengambil nama Elifelet [17] yang meninggal dunia,
kemudian Daud memberikan nama yang sama kepada anak yang lahir
kemudian. Bandingkan dengan penjelasan dari 1599 Geneva Bible
Footnotes:
“Elishama, or Elishua, 2 Samuel 5:15 and Eliphelet died, and David
named those sons who were born next by the same names; in the book
of kings his living children are mentioned and here both they that were
alive and dead.”

Masih dalam kitab yang sama bandingkanlah 1 Tawarikh 14:4-7
dengan 1 Tawarikh 3:5-8.
1 Tawarikh 14:4-7
14:4 Inilah nama anak-anak yang lahir bagi dia di Yerusalem:
Syamua, Sobab, Natan, Salomo,
Bahasa Ibraninya: VE’ÊLEH SYEMOT HAYLUDÏM ‘ASYER
HÂYU-LO BÏRUSYÂLÂIM SYAMUA’ VESYOVÂV NÂTÂN
USYELOMOH
14:5 Yibhar, Elisua, Elpelet,
Bahasa Ibraninya: VEYIVKHÂR VE’ELÏSYUA’ VE’ELPÂLET
14:6 Nogah, Nefeg, Yafia,
Bahasa Ibraninya: VENOGAH VENEFEG VEYÂFÏA’
14:7 Elisama, Beelyada dan Elifelet.
Bahasa Ibraninya: VE’ELÏSYÂMÂ’ UVE’ELYÂDÂ’ VE’ELÏFÂLET
1 Tawarikh 3:5-8
3:5 Inilah yang lahir bagi dia di Yerusalem: Simea, Sobab, Natan dan
Salomo, empat orang dari Batsyua binti Amiel,
Bahasa Ibraninya: VE’ÊLEH NULEDU-LO BÏRUSYÂLÂYIM
SYIM’Â’ VESYOVÂV VENÂTÂN USYELOMOH ‘ARBÂ’ÂH
LEVAT-SYUA’ BAT-‘AMÏ’ÊL
3:6 lalu Yibhar, Elisama, Elifelet,
Bahasa Ibraninya: VEYIVKHÂR VE’ELÏSYÂMÂ’ VE’ELÏFÂLET
3:7 Nogah, Nefeg, Yafia,
Bahasa Ibraninya: VENOGAH VENEFEG VEYÂFÏA’
3:8 Elisama, Elyada dan Elifelet, sembilan orang.

Bahasa Ibraninya: VE’ELÏSYÂMÂ’ VE’ELYÂDÂ’ VE’ELÏFELET
ISY’ÂH
Jadi, anak Daud lebih dari 13 orang, jika dirunut dari berbagai ayatayat Alkitab.

33. Dari orang bangsa mana Daud mengambil perak dan emas untuk Tuhan?

a. Aram (II Samuel 8:11-12).
b. Edom (I Tawarikh 18:11-12).
JAWAB :
2 Samuel 8:11-12,
“Juga barang-barang ini dikhususkan raja Daud bagi TUHAN,
bersama-sama perak dan emas yang berasal dari segala bangsa yang
ditaklukkannya, yakni perak dan emas dari orang Aram, dari orang
Moab, dari bani Amon, dari orang Filistin, dari orang Amalek, dan
dari jarahan yang dirampas dari Hadadezer bin Rehob, raja Zoba.”
Hebrew/Transliterasi : MÊ’ARÂM
1 Tawarikh 18:11-12,
“Juga barang-barang ini dikhususkan raja Daud bagi TUHAN,
bersama-sama perak dan emas yang diangkutnya dari segala bangsa,
yakni dari orang Edom, dari orang Moab, dari bani Amon, dari orang
Filistin dan dari orang Amalek. Abisai, anak Zeruya, menewaskan
delapan belas ribu orang Edom di Lembah Asin.”
Hebrew/Transliterasi : MÊ’EDOM

34. Siapakah panitera (sekretaris) Daud?

a. Seraya (II Samuel 8:15-17).
b. Sausa (I Tawarikh 18:14-16).
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis)
2 Samuel 8:17,
“Zadok bin Ahitub dan Ahimelekh bin Abyatar menjadi imam; Seraya
(USERÂYÂH) menjadi panitera negara;”
1 Tawarikh 18:16,
“Zadok bin Ahitub dan Ahimelekh bin Abyatar menjadi imam; Sausa
menjadi panitera;”
Hebrew/Transliterasi : VESYAVSYÂ’
Mengenai nama orang Yahudi lebih dari satu telah dibahas
pada subjek sebelumnya. Seraya, Ibrani , syin-resy-yod-he, dari , sarah
(kuasa) dan, yah (bentuk singkat YHVH), “TUHAN adalah
pemimpin”. Dalam 2 Samuel 20:25 ditulis , syin-yod-alef, syeya’ (LAI
Seya); dalam 1 Tawarikh 18:16 ditulis , syin-waw-syin-alef, syavsya’
(LAI Sausa); dan dalam 1 Raja-raja 4:3 ditulis syin-yod-syin-alef, ,
syisya’. (LAI Sisa)

Seraya/Seya/Sausa/Sisa adalah nama panitera negara pada
pemerintahan Daud. Menurut de Vaux dan Grollenberg dalam buku
mereka “Atlas of the Bible”, bentuk yang menjadi dasar nama-nama
ini, menandakan bahwa karyawan itu adalah orang Mesir. Nama anak
sulungnya Elihoref (1 Raja-raja 4:3) dapat berarti “ilahku adalah
(dewa) Sungai Nil” atau dalam bentuk Septuaginta berartiku “ilahku
adalah Apis”. Jika demikian, maka orang Mesir ini memberikan
kepada anaknya nama campuran. Bagian pertama dari bahasa Ibrani
yang dimulai dengan aksara syin dan bagian kedua mengungkapkan
hubungannya dengan agama nenek moyangnya yang berasal dari
Mesir. Hal ini selanjutnya mengisyaratkan, bahwa raja Daud
mempekerjakan orang Mesir untuk mengisi suatu jabatan dalam
kerajaannya, atau setidak-tidaknya menata beberapa kegiatan menurut
pola-pola Mesir.
Jadi kedua nama tersebut adalah orang yang sama, yang punya
nama ganda.

35. Berapakah tentara berkuda tawanan Daud?

a. 1.700 orang (II Samuel 8:4).
b. 7.000 orang (I Tawarikh 18:4).
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
2 Samuel 8:4,
“Daud menawan dari padanya seribu tujuh ratus orang pasukan
berkuda dan dua puluh ribu orang pasukan berjalan kaki, lalu Daud

menyuruh memotong urat keting segala kuda kereta, tetapi dengan
meninggalkan seratus ekor kuda kereta.”
KJV,
And David took from him a thousand chariots, and seven hundred
horsemen, and twenty thousand footmen: and David houghed all the
chariot horses, but reserved of them for an hundred chariots.
1 Tawarikh 18:4,
“Daud merebut dari padanya seribu kereta, tujuh ribu orang pasukan
berkuda (Ibrani: ‘ELEF REKHEV VESYIV’AT ‘ALÂFÏM
PÂRÂSYÏM) dan dua puluh ribu orang pasukan berjalan kaki, lalu
Daud menyuruh memotong urat keting segala kuda kereta, tetapi
dengan meninggalkan seratus ekor kuda kereta.”
KJV,
And David took from him a thousand chariots, and seven thousand
horsemen, and twenty thousand footmen: David also houghed all the
chariot horses, but reserved of them an hundred chariots.
Seribu tujuh ratus orang pasukan berkuda dibandingkan
dengan tujuh ribu orang pasukan berkuda sepintas lalu adalah
perbedaan. Terjemahan LAI salah menerjemahkan angka ini karena
mengambil sumber lain. Namun yang tepat adalah naskah Ibrani Teks
Masoretik. Kata seribu (Ibrani, ‘ELEF) dalam 2 Samuel 8:4 adalah
seribu kereta (Ibrani: ‘ELEF USYEVA’-MÊ’OT PÂRÂSYÏM). Jadi,
yang menjadi perbedaan adalah 700 orang pasukan berkuda dalam 2
Samuel 8:4 dengan 7000 orang pasukan berkuda dalam 1 tawarikh
:4. Selanjutnya tujuh ratus dan tujuh ribu, antara ratus (ME’AT)
dan ribu (‘ELEFIM) memang beda jauh.
Berdasarkan 1 Tawarikh 18:3, pertempuran ini terjadi di negeri
tetangga Hamat, atau dekat dengan Hamat (Lihat Bilangan 13:21, dan
Kejadian 10:18), atau berdasarkan 2 Samuel 10:17 terjadi di Helam,
perbedaan yang dapat dimengerti dengan asumsi sederhana bahwa
Helam yang tidak diketahui pasti tempatnya adalah suatu tempat yang
dekat dengan Hamat. Jadi, kemungkinan besar ini adalah dua
pertempuran yang terjadi di dua tempat yang berbeda.
(sumber: Keil & Delitzsch Commentary on the Old Testament: New
Updated Edition, Electronic Database. Copyright (c) 1996 by
Hendrickson Publishers, Inc.)

36. SANGGAHAN :

Kalau Lembaga Alkitab kita salah menerjemahkan seperti ini, apa
tidak pernah ada usaha perbaikan dari LAI ?
JAWAB :
Alkitab Terjemahan bukanlah pemegang otoritas final, kita
akan mudah menemukan kesalahan penerjemahan tetapi bukan hal itu
yang kita inginkan karena yang kita gali adalah firman Tuhan, bukan
firman penerjemah. LAI menerjemahkan PL Ibrani tanpa
membandingkan dengan naskah-naskah lain yang juga memiliki
bobot, jadi kesalahan bukan terletak pada LAI, namanya juga
“menerjemahkan” dan tidak mengubah naskah yang diterjemahkan.
Namun jelas ada usaha-usaha perbaikan dari LAI. LAI tidak tertutup
kemungkinan bisa salah dalam menerjemahkan, sehingga perlu terus – 
menerus memperbaiki kesalahan juga ketidaktepatan dalam
menerjemahkan kata-kata.
Sebagai perbandingan dalam Alkitab yang berbahasa
Indonesia, saat ini sudah ada Kitab Suci Indonesian Literal Translation
(KS-ILT) yang diterbitkan oleh Yayasan Lentera Bangsa, juga ada
Alkitab Indonesian Majority Text Version (IMTV). Sekiranya
pembaca dibingungkan oleh beberapa penerjemahan yang berbeda,
pembaca dapat membaca Alkitab King James Version dan atau
melihat Naskah Ibrani Teks Masoretik untuk Perjanjian Lama dan
Naskah Yunani Textus Receptus untuk mengetahui kata sebenarnya
dalam bahasa aslinya. Hal ini bisa dilihat melalui software Alkitab
seperti Bible Works maupun website Alkitab di Internet.

37. Berapakah angkatan perang Daud dari orang Israel?

a. 800.000 (II Samuel 24:9).
b. 1.100.000 orang (I Tawarikh 21:5).
JAWAB : (Kategori : Salah memahami konteks sejarah, atau salah
memahami maksud penulis)
2 Samuel 24:9,
“Lalu Yoab memberitahukan kepada raja hasil pendaftaran rakyat.
Orang Israel ada delapan ratus ribu orang perangnya (Bahasa
Ibraninya: SYEMONEH MÊ’OT ‘ELEF ‘ÏSY-KHAYIL) yang dapat
memegang pedang; dan orang Yehuda ada lima ratus ribu.”
1 Tawarikh 21:5,

“Lalu Yoab memberitahukan kepada Daud hasil pendaftaran rakyat.
Di antara seluruh orang Israel ada sejuta seratus ribu orang (Bahasa
Ibraninya: ‘ELEF ‘ALÂFÏM UMÊ’ÂH ‘ELEF ‘ÏSY SYOLÊF
KHEREV) yang dapat memegang pedang, dan orang Yehuda ada
empat ratus tujuh puluh ribu orang yang dapat memegang pedang.”
Ada sejumlah cara untuk memahami bukan saja pertanyaan
ini, tetapi juga pertanyaan lainnya, karena keduanya sama-sama
menunjuk kepada perikop yang sama dan pada sensus penduduk yang
sama.
Perbedaan mungkin saja terjadi pada kedua penghitungan di
atas karena sifat sensus yang tidak dilakukan secara lengkap dan resmi
(hal ini akan dibahas kemudian), atau karena kitab Samuel hanya
menuliskan perkiraan jumlah penduduk yang dibulatkan untuk kaum
Yehuda.
Jawaban yang lebih mendasar adalah sebagai berikut :
Kedua Sensus tersebut tidak menghitung sasaran yang sama. Angka
sensus yang ditulis pada 1 Tawarikh 21:5 adalah jumlah semua pria
yang dapat diikutsertakan untuk berperang, sedangkan angka sensus
dalam 2 Samuel 24:9 mencakup jumlah orang-orang pria yang siap
berperang. Karena laporan Yoab dalam 2 Samuel 24 dalam bahasa asli
Ibrani menulis “‘ÏSY-KHAYIL” yang artinya adalah “orang-orang
perkasa” atau tentara yang siap perang, dan itu menunjuk kepada
800.000 tentara. Sedangkan sisa 300.000 orang, menunjuk kepada
laki-laki yang dapat dicadangkan dalam kancah peperangan.

Dengan demikian, jumlah kedua kelompok disini adalah
1.100.000 orang seperti dalam 1 Tawarikh 21, yang memang tidak
menyebutkan istilah “‘ÏSY-KHAYIL”

38. Berapakah angkatan perang Daud dari orang Yehuda?

a. 500.000 orang (II Samuel 24:9).
b. 470.000 orang (I Tawarikh 21:5).
JAWAB : (Kategori : Salah memahami isi cerita)
2 Samuel 24:9,
“Lalu Yoab memberitahukan kepada raja hasil pendaftaran rakyat.
Orang Israel ada delapan ratus ribu orang perangnya yang dapat
memegang pedang; dan orang Yehuda ada lima ratus ribu (Bahasa
Ibraninya: KHAMÊSY-MÊ’OT ‘ELEF ‘ÏSY).”
1 Tawarikh 21:5,
“Lalu Yoab memberitahukan kepada Daud hasil pendaftaran rakyat.
Di antara seluruh orang Israel ada sejuta seratus ribu orang yang dapat
memegang pedang, dan orang Yehuda ada empat ratus tujuh puluh
ribu orang yang dapat memegang pedang (Bahasa Ibraninya: ‘ARBA’
MÊ’OT VESYIV’ÏM ‘ELEF ‘ÏSY SYOLÊF KHÂREV).”
Bandingkan dengan ayat kelanjutannya:
1 Tawarikh 21:6,
“Orang Lewi dan Benyamin tidak dimasukkannya dalam pendaftaran,
sebab titah raja itu dianggap keji oleh Yoab.”

Bahasa Ibraninya: VELÊVÏ UVINYÂMIN LO’ FÂQAD
BETOKHÂM KÏ-NIT’AV DEVAR-HAMELEKH ‘ET-YO’ÂV
Ternyata ada sebagian yang tidak dimasukkan dalam
pendaftaran. Sensus itu tidak selesai, buktinya dapat kita temukan pula
dalam ayat-ayat berikut ini: 1 Tawarikh 27:23-24,
“Daud tidak menghitung jumlah orang-orang yang berumur dua
puluh tahun ke bawah, sebab TUHAN telah menjanjikan untuk
membuat orang Israel sebanyak bintang-bintang di langit. Memang
Yoab, anak Zeruya, telah mulai menghitung, tetapi ia tidak
menyelesaikannya, sebab oleh karena hal itu orang Israel tertimpa
murka; dengan demikian jumlah mereka tidak dibukukan dalam kitab
sejarah raja Daud.”
Perhatikan dalam 1 Tawarikh 21:6, yang dengan jelas
menyatakan bahwa Yoab belum menghitung penduduk secara
lengkap, karena ia belum menghitung jumlah orang dari suku
Benyamin dan suku Lewi, karena Daud merasa bersalah dengan
menghitung jumlah seluruh penduduk.
Jadi, pada dasarnya, perbedaan jumlah penduduk di atas
semata-mata dihasilkan oleh suku-suku tertentu yang sudah termasuk
dihitung atau belum. Ada lagi referensi tambahan dalam 1 Tawarikh
27:23-34, dimana disebutkan bahwa Daud tidak memasukkan orangorang yang berusia 20 tahun kebawah. Dan karena Yoab belum selesai
menghitung jumlah penduduk, maka jumlah tersebut tidak dicatat
dalam kisah sejarah Raja Daud.
Prosedur pelaksanaan sensus penduduk dimulai dengan
menghitung suku-suku yang melintasi Yordan (2 Samuel 24:5)

kemudian bergeser kepada suku di utara yaitu suku Dan, kemudian
penghitungannya diteruskan kea rah selatan menuju Yerusalem (ayat
7). Maka Suku Benyamin (anak Yakub yang bungsu) selalu dihitung
paling akhir, sehingga suku Benyamin tidak diperhitungkan dalam
jumlah total penduduk Israel ataupun suku Yehuda. Baru dalam 2
Samuel 24, disebutkan bahwa penduduk Yehuda ditambah dengan
kumpulan suku Benyamin yang diketahui berjumlah 30.000 orang,
total adalah 500.000 orang.
Perhatikan pemisahan Kerajaan Utara dan Selatan terjadi
setelah kematian Raja Salomo pada tahun 930 SM (sebelum Masehi).
Tetapi kebanyakan orang-orang suku Benyamin saat itu setia kepada
dinasti Daud dan masih tergolong dalam Kerajaan Yehuda bersama
dengan suku Simeon di Selatan. Oleh karena itu, sangat masuk akal
untuk menghitung suku Benyamin dan Simeon ke dalam hitungan
orang-orang Yehuda yang berjumlah 500.000 orang, sekalipun Yoab
tidak memperhitungkannya dalam laporannya yang pertama kepada
Daud (1 Tawarikh 21:5).
Dengan demikian, jumlah keseluruhan orang yang dapat
berperang yang tergabung dalam angkatan bersenjata dibawah
pimpinan Daud adalah 1.600.000 orang (1.100.000 orang dari
Kerajaan Israel dan 470.000 orang dari suku Yehuda – Simeon dan
30.000 dari suku Benyamin).

39 Berapa mandor pengawas kerajaan Salomo (Sulaiman)?

a. 3.300 mandor (I Raja-raja 5:16).
b. 3.600 mandor (II Tawarikh 2:2).

JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
“belum terhitung para mandur kepala Salomo yang mengepalai
pekerjaan itu, yakni tiga ribu tiga ratus (Bahasa Ibraninya:
SYELOSYET ‘ALÂFÏM USYELOSY MÊ’OT) orang banyaknya,
yang mengawasi rakyat yang mengerjakan pekerjaan itu.” (1 Rajaraja 5:16)
2 Tawarikh 2:2,
“Dan Salomo mengerahkan tujuh puluh ribu kuli, delapan puluh ribu
tukang pahat di pegunungan, dan tiga ribu enam ratus (Bahasa
Ibraninya: SYELOSYET ‘ALÂFÏM VESYÊSY MÊ’OT) mandur
untuk mengawasi mereka itu.”
Menurut Jacob Leon dalam bukunya Relation of Memorable
Things in Temple menulis bahwa ada 3.300 mandor kepala dan 300
atasan mandor yang keseluruhannya disebut mandor. Kitab raja-raja
menulis, NATSAV yakni mandor kepala sedangkan kitab Tawarikh
menulis, NATSAKH diterjemahkan mandor saja.
Ada perbedaan antara NATSAV dengan NATSAKH, yang
pertama adalah kata kerja yang artinya berdiri, jadi tugasnya
memimpin, dan yang terakhir juga kata kerja yang berarti mengawasi.
Dalam ilmu anajemen NATSAV adalah fungsi organizing
sedangkan NATSAKH memiliki fungsi controlling.

Jadi ada 3.300 mandor dan ada 300 atasan mandor namun
semuanya disebut mandor, sehingga menurut II Tawarikh 2:2
jumlahnya ada 3.600 mandor. Jadi tidak ada kontradiksi.

40. Berapakah jumlah keturunan Yakub seluruhhya?

a. 66 jiwa (Kejadian 46:26).
b. 70 jiwa (Keluaran 1:5).
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
Kejadian 46:26,
Semua orang yang tiba di Mesir bersama-sama dengan Yakub,
yakni anak-anak kandungnya, dengan tidak terhitung isteri anakanaknya, seluruhnya berjumlah enam puluh enam jiwa (Bahasa
Ibraninya: SYISYÏM VÂSYÊSY).
Perhatikan ayat selanjutnya dari Kejadian 46:26 yaitu jawabannya ada
di ayat 27.
Kejadian 46:27,
“Anak-anak Yusuf yang lahir baginya di Mesir ada dua orang. Jadi
keluarga Yakub yang tiba di Mesir, seluruhnya berjumlah tujuh puluh
(SYIV’ÏM ) jiwa.”
Keluaran 1:5,

“Seluruh keturunan yang diperoleh Yakub berjumlah tujuh puluh
jiwa (Bahasa Ibraninya: SYIV’ÏM NÂFESY). Tetapi Yusuf telah ada
di Mesir.”
66 jiwa pindah ke Mesir ditambah anak Yakub yang sudah duluan ada
di Mesir yaitu Yusuf, istri, dan kedua anaknya, maka jumlah seluruh
keturunan Yakub adalah 70 jiwa.
Jadi, tidak ada kontradiksi.

41. Yang diharamkan, kelinci ataukah kelinci hutan?

a. Kelinci (Imamat 11:6).
b. Kelinci hutan (Ulangan 14:6).
JAWAB : (Kategori : salah memahami kata dalam bahasa asli)
Imamat 11:6,
“Juga kelinci (Bahasa Ibraninya: VE’ET-HÂ’ARNEVET), karena
memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu
bagimu.”
Ulangan 14:7,
“Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari antara yang
memamah biak atau dari antara yang berbelah dan bersela kukunya:
unta, kelinci hutan (Bahasa Ibraninya: VE’ET-HÂ’ARNEVET) dan
marmot, karena semuanya itu memang memamah biak, tetapi tidak
berkuku belah; haram semuanya itu bagimu.”

Sebenarnya tidak ada kontradiksi karena naskah Ibrani menulis
kedua-duanya dengan, ‘ARNEVET, namun karena LAI
menerjemahkan kelinci dan kelinci hutan, maka timbullah
pertanyaan seperti di atas. Dalam bahasa Indonesia kedua kata ini
jelas berbeda. Coba tanyakan kepada orang Yahudi, bagaimana
mengucapkan kelinci dalam bahasa Ibrani, maka mereka akan
menjawab ‘ARNEVET.
Kemudian tanyakan pula bagaimana mengucapkan kelinci
hutan, mereka pun akan menjawab ‘ARNEVET. Jadi, mengapa LAI
menerjemahkan Ulangan 14:7, dengan kelinci hutan dan bukan
kelinci. Hal itu disebabkan karena Imamat 11:6 ditulis saat orang
Israel belum lama mengembara di padang gurun, tentu saja tidak ada
peternakan kelinci.
Bahasa Ibrani termasuk salah satu bahasa yang paling miskin,
sebaliknya bahasa Yunani merupakan bahasa yang lebih kaya. Tidak
berbeda jauh antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, karena
kita tidak akan menerjemahkan menanam nasi di sawah jika kita
menemukan kata rice.
Jadi tidak ada kontradiksi.

42 Yang diharamkan, babi ataukah babi hutan ?

a. Babi hutan (Ulangan 14:8; Imamat 11:7).
b. Babi (Yesaya 66:17).
JAWAB : (Salah memahami kata dalam bahasa asli)
Lihat penjelasan tentang kelinci dan kelinci hutan sebelumnya.
“Demikian juga babi hutan (Bahasa Ibraninya: VE’ET-HAKHAZÏR),

karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi
tidak memamah biak; haram itu bagimu.” (Imamat 11:7)
“Juga babi hutan (Bahasa Ibraninya: VE’ET-HAKHAZÏR), karena
memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu
bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan
janganlah kamu terkena bangkainya.” (Ulangan 14:8)
“Mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk tamantaman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ada di tengahtengahnya, yang memakan daging babi (Bahasa Ibraninya:
HAKHAZÏR) dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka
semuanya akan lenyap sekaligus, demikianlah firman TUHAN.”
(Yesaya 66:17)
Ketiga ayat di atas menulis, KHAZIR, yang dapat bermakna
babi maupun babi hutan, ditinjau dari bahasa Indonesia, maknanya
jelas berbeda karena babi adalah binatang ternak sedangkan babi
hutan tidak diternak.
LAI menerjemahan babi hutan dari kata KHAZIR ini karena –
menurut perkiraan saya — saat itu bangsa Israel sedang dalam
pengembaraan di padang pasir jadi ‘nggak mungkin ada ternak babi.
Setelah bangsa ini menetap di Palestina, kata KHAZIR diterjemahkan
dengan babi saja misalnya dalam Amsal 11:22, Yesaya 65:4, 66:3,
dan lain-lain.
Jadi, kalo kita tanya sama orang Yahudi, bagaimana
mengatakan babi dalam bahasa Ibrani, mereka akan menjawab

KHAZIR. Lantas bagaimana pula mengatakan babi hutan dalam
bahasa Ibrani, mereka pun akan menjawab KHAZIR. Kasusnya sama
dengan bahasa Inggris yakni rice dapat bermakna padi, beras atau
nasi, memangnya kita menanam nasi di sawah?
Jadi, tidak ada kontradiksi.

Untuk pertanyaan no 41-45 perhatikan Tabel berikut ini:
Daftar 17 Ayat yang Jumlah angkanya berbeda
antara Ezra 2 dan Nehemia 7
Jenis Perbedaan EZRA 2 NEHEMIA 7 Selisih
bani Arah, 775 (ayat 5) 652 (ayat 10) 123
bani Pahat-Moab, 2812 (6) 2818 (11) 6
bani Zatu, 945 (8) 845 (13) 100
bani Bani/Binui, 642 (10) 648 (15) 6
bani Bebai, 623 (11) 628 (16) 5
bani Azgad, 1222 (12) 2322 (17) 1100
bani Adonikam, 666 (13) 667 (18) 1
bani Bigwai, 2056 (14) 2067 (19) 11
bani Adin, 454 (15) 655 (20) 201
bani Bezai, 323 (17) 324 (23) 1
orang Betel dan Ai, 223 (28) 123 (32) 100
orang Lod, Hadid dan Ono, 725 (33) 721 (37) 4
bani Senaa, 3630 (35) 3930 (38) 300
bani Asaf, 128 (41) 148 (44) 20
penjaga pintu gerbang, 139 (42) 138 (45) 1
daftar nama total, 652 (ayat
59&60)
642 (ayat 61
& 62)
10
penyanyi pria dan wanita, 200 (65) 245 (67) 45

43. Berapa orang bani Yesua dan Yoab yang pulang kembali ke
Yerusalem dan Yehuda dari pembuangan Nebukadnezar?

a. 2.812 orang (Ezra 2:6).
b. 2.818 orang (Nehemia 7:11).
JAWAB : (Kategori: Kesalahan dalam memahami konteks historis)
Ezra 2:6,
“bani Pahat-Moab, yakni anak-anak Yesua dan Yoab: dua ribu
delapan ratus dua belas (‘ALPAYIM SYEMONEH MÊ’OT) orang;”
Nehemia 7:11,
“bani Pahat-Moab, yakni bani Yesua dan Yoab: dua ribu delapan ratus
delapan belas orang (‘ALPAYIM USYEMONEH MÊ’OT
SYEMONÂH ‘ÂSÂR);”
Daftar yang sama dalam Ezra 2:1-70 dengan beberapa
perbedaan — bukan pertentangan — mengenai nama-nama dan
bilangan-bilangan, terdapat dalam Nehemia 7:5-73. Tidak gampang
menerangkan perbedaan-perbedaan itu. A. Weiser dalam bukunya
‘Introduction to the Old Testament, 1961, halaman 322) menerangkan
mengenai terdapatnya daftar yang sama sampai dua kali, dan bahwa
daftar itu sudah terdapat dalam kedua sumber yang digunakan oleh
penulis, biarpun dia mengamati bahwa hubungan kesusastraan lebih
bebas dalam Nehemia. Orang-orang lain menyarankan bahwa penulispenulis yang kemudian kurang teliti dalam menyalin kitab-kitab

Ketubim, bagian ketiga dari Alkitab Ibrani. Sehubungan dengan ini
ada kemungkinan, bahwa daftar mereka yang kembali pada tahun 538
sebelum Masehi diubah dan diperluas mencakup orang-orang yang
kembali kemudian, bahkan juga beberapa orang kendati mereka tidak
pernah dibuang, benar-benar bersimpati dengan orang-orang buangan
yang kembali itu.
Hal ini menyangkut masalah sensus, daftar pertama dibuat di
Babilonia, sebagian mungkin meninggal dalam perjalanan sehingga
membuat jumlah mereka berkurang, dan sebagian lagi mungkin
menyusul dan bergabung kemudian sehingga membuat jumlah mereka
bertambah. Ezra menghitung jumlah mereka yang keluar dari
pembuangan menurut kelompok sedangkan Nehemia sebaliknya.
Daftar yang digunakan oleh Nehemia barangkali disimpan dalam arsip
Bait Allah (Nehemia 7:5), bahwa Nehemia bertindak menambah atau
mengurangi jumlah penduduk dapat dibandingkan Nehemia 11:1 dan
seterusnya kemudian hubungannya dengan 1 Tawarikh 9:2-17.
Jadi, tidak ada kontradiksi, Nehemia melakukan update
(mencatat penambahan atau pengurangan) data. Ezra membuat data
lebih dulu sebelum keberangkatan. Lebih jelasnya lihat jawaban 43.

44. EZRA 2:5 VS NEHEMIA 7:10.

Dalam Ezra, jumlah anak Arah TERTULIS: “775 orang”, TETAPI
dalam Nehemia: “652 orang”.

JAWAB: (Kategori: Kesalahan dalam memahami konteks historis)
Lihat Jawaban no. 43.

Jamieson, Fausset, dan Brown dalam Commentary 1:289
menyatakan:
―Kemungkinan semua orang yang disebut sebagai termasuk dalam
keluarga ini berkumpul di suatu tempat pertemuan umum, atau telah
mendaftarkan nama mereka mula-mula sebagai orang yang berniat
pergi; namun di sela-sela masa persiapan, beberapa meninggal, yang
lain terhalang karena sakit atau rintangan yang tak dapat diatasi,
sehingga akhirnya tidak lebih dari 652 [dari keluarga bani Arah
sebagai contoh] yang sampai ke Yerusalem.

45. Apakah jumlah orang Israel yang dibebaskan dari perbudakan
Babel tepat seperti yang tertulis didalam Kitab Ezra (Ezra
2:6,8,12,15,28 ), ataukah seperti yang tertulis dalam Kitab Nehemia ?
(Nehemia 7:11,13,17,20,22,32).

JAWAB : (Kategori: Kesalahan dalam memahami konteks historis)
Dalam pasal 2 Kitab Ezra dan dalam pasal 7 Kitab Nehemia
ada lebih kurang tiga puluh rumpun keluarga yang tercatat dalam
kedua daftar itu untuk orang-orang Israel yang kembali dari Babel ke
Yudea. Dari ke-33 rumpun keluarga yang terdaftar dalam Ezra dan
Nehemia, 19 diantaranya adalah identik, sedangkan 14 sisanya
menunjukkan perbedaan dalam jumlah anggota dalam rumpunrumpun keluarga tersebut (walaupun Shabbir Ally, sang pendebat dari
Islam hanya menyebut 6 daripadanya). Ada dua rumpun keluarga
yang berbeda 1; satu yang berbeda 4; dua yang berbeda 6; ada dua
yang berbeda 9; ada satu yang berbeda 11; ada dua lagi yang berbeda
100; satu lainnya berbeda 201; satu lain lagu berbeda 105; satu

rumpun lain lagi berbeda 300; dan perbedaan yang paling besar adalah
jumlah bagi terurunan Azgad, sehingga ada perbedaan 1,100 orang
antara catatan di Ezra 2 dan di Nehemia 7 (Perhatikan tabel di atas).
Lalu, bagaimana kita dapat mempertanggungjawabkan
perbedaan hitungan dalam ke-14 rumpun itu? Jawabannya sangat
sederhana. Andaikata anda telah mempelajari sejarah kedua daftar
catatan tersebut secara saksama, pasti tidak perlu membuang waktu
dalam mengemukakan pertanyaan ini. Kenyataannya bahwa ada
kesamaan dan perbedaan hitungan yang dicatat secara bersamaan
menuntunnya kepada solusinya (sebagaimana penjelasan yang sedang
Anda baca ini juga sedang menuju kepada kesimpulan yang sama).
Ada dua faktor penting yang harus dipertimbangkan waktu
menyelidiki perbedaan dalam kedua daftar ini :
Yang pertama, adalah probabilitas bahwa walaupun anggota-anggota
rumpun-rumpun keluarga yang disebut pada mulanya telah
mendaftarkan namanya dengan niat berangkat; tetapi dengan
berjalannya waktu persiapannya, kemungkinan ada beberapa
yang meninggal dunia, ada pula yang lainnya berhalangan karena
sakit, atau masalah-masalah lain yang tak teratasi, sehingga
angka jumlah terakhir yang berangkat tidak sama seperti semula
yang terdaftar untuk berangkat. Siapapun yang mengurus
perjalanan tur massal atau para pengungsi yang mau pulang ke
kampung halamannya akan mengerti bahwa ini adalah soal yang
wajar.
Yang kedua, yang lebih penting adalah keadaan yang berbeda ketika
kedua sensus itu diadakan. Daftar Ezra dicatat pada waktu mereka
masih di Babel (sekitar tahun 450-an SM), sebelum terjadi

pemulangan ke Yerusalem (Ezra 2:1-2), sedangkan daftar
Nehemia dicatat di Yudea Sekitar tahun 445 SM), setelah
tembok-tembok Yerusalem dibangun kembali (Nehemia 7:4-6).
Selisih sekian tahun diantara saat-saat pembuatan kedua daftar
tersebut (sekitar 5-10 tahun) tentu akan mempengaruhi jumlah
masing-masing rumpun keluarga melalui kematian, atau
penyebab-penyebab lainnya.
Kebanyakan ahli riset percaya bahwa Nehemia mencatat
mereka-mereka yang sesungguhnya telah tiba di Yerusalem
dibawah pimpinan Zerubabel dan Yesua pada 537 atau 536 sM
(Nehemia 7:7). Ezra, sebaliknya, menggunakan daftar-daftar
awal yang mencatat nama-nama mereka yang semula
menyatakan rencananya untuk bergabung dalam rombongan
yang mau berangkat dari Babel dan kembali tahun 450-an sM itu.
Perbedaan di antara kedua daftar itu hanya menunjukkan
bahwa ada faktor-faktor baru yang menyebabkan sebagian untuk tidak
jadi berangkat. Mungkin ada beberapa yang berselisih, dan ada
lainnya yang menunda keberangkatan karena urusan bisnis, lain lagi
yang meninggal atau jatuh sakit, dan dalam rumpun-rumpun keluarga
atau kelompok-kelompok kota yang mengalami jumlah yang
berkurang. Sisanya justru menambah perekrutan-perekrutan baru pada
jumlahnya, ada yang hanya seorang sampai ada yang 1.100 orang.
Waktu memeriksa daftar nama, kita temui ada beberapa nama
yang dicatat dalam bentuk alternatif. Di antara orang Yahudi pada
zaman itu (yang juga sama untuk suku-suku lain di Timur Tengah
waktu itu), seorang memiliki nama, titel, dan nama keluarga. Jadi,

anak-anak Sia (Nehemia 7:47) juga adalah anak-anak Siaha (Ezra
2:44).
Bila kita mempertimbangkan semua faktor ini, perbedaan
jumlah yang ada dalam kedua daftar itu seharusnya tidak mengejutkan
sedikitpun. Hal yang serupa telah terjadi dalam setiap perencanaan
dan perubahan jumlah dalam setiap migrasi massal dalam sejarah
manusia sehingga perubahan jumlah seperti itu adalah wajar-wajar
saja.

46. Baik Ezra 2:64 maupun Nehemia 7:66 setuju bahwa jumlah total
jemaah adalah 42.360, namun waktu jumlahnya dihitung, Ezra hanya
mencapai 29.818 dan Nehemia hanya 31.089?

Berapa jumlah orang
yang tercatat dalam Ezra pasal 2? Makin banyak saja kesalahan PL
yang ditemukan sendiri oleh penganutnya: Sebagai contoh …..
Kitab Ezra
2:1. Inilah orang-orang propinsi Yehuda yang berangkat pulang dari
pembuangan, yakni para tawanan, yang dahulu diangkut ke Babel oleh
Nebukadnezar, raja Babel, dan yang kembali ke Yerusalem dan ke
Yehuda, masing-masing ke kotanya. Keluarga Yesua: sembilan ratus
tujuh puluh tiga orang; 973 ………………………dst
2:62 Mereka itu menyelidiki apakah nama mereka tercatat dalam
silsilah, tetapi karena itu tidak didapati, maka mereka dinyatakan tidak
tahir untuk jabatan imam.
2:63 Dan tentang mereka diputuskan oleh kepala daerah, bahwa
mereka tidak boleh makan dari persembahan maha kudus, sampai ada
seorang imam bertindak dengan memegang Urim dan Tumim.

2:64. Seluruh jemaah itu bersama-sama ada empat puluh dua ribu tiga
ratus enam puluh orang, 42.360
Jumlah total 42.360 orang tapi kalau jumlah kelompok dijumlahkan
totalnya menjadi 29.818, suatu kesalahan yang fatal. Kesalahan ini
ditemukan oleh Mantan Rabbi Baruch Spinoza yang juga menemukan
banyak kesalahan PL., karena itu tindakan beliau keluar dari agama
Yahudi tidak dapat disalahkan.
JAWAB : (Kategori: Kesalahan dalam memahami konteks historis)
Ada dua kemungkinan untuk menjawab dilema semu ini. Ayat
64 menyatakan jumlah 42.360 orang (Hal ini sama dengan Nehemia
7:66), ini tidak sama dengan jumlah angka-angka yang disebutkan
pada ayat-ayat sebelumnya. Di dalam menyalin angka-angka yang
terdapat dalam PL, kalau kita teliti pada ayat-ayat di atas, ada banyak
kelompok-kelompok yang tidak ditulis jumlahnya satu-per-satu, jika
saja ditulis secara lengkap, maka jumlahnya bisa mencapai 42.360
orang.
Ada yang memberi tafsiran lain bahwa ada jurutulis
belakangan – dengan maksud yang baik – telah mencatat jumlah total
keseluruhan jemaah yang ada di Yerusalem pada masa si penulis itu
hidup, yang karena ini terjadi di saat kemudian, maka jumlah yang
tercatatpun menjadi lebih besar.
Kemungkinan jawaban yang lebih logis bisa dibaca juga dalam
jawaban no.41-43. Keduanya benar, namun ditulis dalam waktu yang
berbeda, jadi ada perubahan/update data dalam masa waktu tersebut.

47. Apakah jumlah penyanyi yang mengiringi para jemaah adalah 200
orang (Ezra 2:65) ataukah 245 (Nehemia 7:67)

JAWAB : (Kategori: Kesalahan dalam memahami konteks historis)
Lihat jawaban no. 43. Keduanya benar, namun ditulis dalam waktu
yang berbeda, jadi ada perubahan/update data dalam masa waktu
tersebut.

48. Berapa anak-anak Benyamin?

a. 10 orang (Kejadian 46:21).
b. 5 orang (Bilangan 26:38-39).
c. 3 orang (I Tawarikh 7:6).
d. 5 orang (I Tawarikh 8:1-5).
Komentar : Silsilah anak Benyamin itu, semuanya tidak sama baik
nama maupun jumlahnya.
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
“Anak-anak Benyamin ialah Bela, Bekher, Asybel, Gera, Naaman,
Ehi, Rosh, Mupim, Hupim dan Ared.” (Kejadian 46:21)
Bahasa Ibraninya: UVENÊY VINYÂMIN BELA’ VÂVEKHER
VE’ASYBÊL GÊRÂ’ VENA’AMÂN ‘ÊKHÏ VÂRO’ SYMUPÏM
VEKHUPÏM VÂ’ÂRD
Bani Benyamin, menurut kaum mereka, ialah: dari Bela kaum orang
Bela; dari Asybel kaum orang Asybel; dari Ahiram kaum orang

Ahiram; dari Sefufam kaum orang Sefufam dan dari Hufam kaum
orang Hufam. (Bilangan 26:38-39)
“Anak-anak Benyamin ialah Bela, Bekher dan Yediael, tiga orang.”
(1 Tawarikh 7:6)
“Benyamin memperanakkan Bela, anak sulungnya, Asybel, anak
yang kedua, Ahrah, anak yang ketiga, Noha, anak yang keempat dan
Rafa, anak yang kelima.” (1 Tawarikh 8:1)
Benyamin adalah putra bungsu dari Yakub. Ia disebut
VINYÂMIN, putra tangan kanan oleh ayahnya, meskipun Rahel,
ibunya, yang meninggal sewaktu melahirkan dia, menyebut dia BEN-
‘ONI, putra kesusahanku (Kejadian 35:18, 24, 42). Setelah Yusuf
hilang, Benyamin mendapat tempat utama dalam cinta kasih ayahnya
sebagai putra yang masih hidup dari Rahel; hal ini adalah penting
dalam penyerahan saudara-saudaranya kepada saudara mereka, Yusuf
(Kejadian 42:4, 38, 44).
Suku keturunan Benyamin dalam bahasa Ibrani disebut
VINYÂMIN, kata pengelompok, jamak BENE VINYÂMIN, juga
BENE YEMINI (1 Samuel 22:7; Hakim-hakim 19:16) dan tunggal
BEN YEMINI atau BEN HAYEMINI. Namanya yang mirip BINU
(atau MARU) YAMINA mungkin berarti putra-putra orang-orang
pengembara di Selatan yang terdapat pada abad 18 sebelum Masehi,
dan beberapa ahli mengira ini asal-usul dari suku dalam Alkitab itu;
tapi perbedaan dalam waktu dan asal menjadikan penyamaan itu
kurang pasti.
Banyak rincian dari silsilah Benyamin dapat ditemukan,
meskipun sumber-sumber itu tidaklah lengkap; dalam Kejadian 46:21

dibilang sepuluh keluarga, tapi dalam Tawarikh hanya disebut tiga
golongan dan dari yang tiga ini nama Yediel tidak terdapat dalam
Pentateukh (5 Kitab pertama Alkitab yaitu Kejadian sampai Ulangan).
Pencatatan kaum Benyamin terdapat dalam Bilangan 26:38 dan ayatayat berikutnya, dan juga 1 Tawarikh 8 untuk rincian yang sesuai
dengan catatan pada zaman raja.
Bilangan 26:38-39 menulis daftar keturunan Benyamin yang
terdiri atas Bela, Asybel, Ahiram, Sefufam dan Hufam. Mari kita
tinjau sepuluh orang anak Benyamin dalam Kejadian 46:21 di atas.
1. Bela, – BELA’, disebut kembali dalam Bilangan 26:38, 1 Tawarikh
7:6, 8:1, anak sulung Benyamin.
2. Bekher, – VEKHER, anak Benyamin terdapat juga dalam
Kejadian 46:21 dan 1 Tawarikh 7:6 tetapi tidak disebut dalam
Bilangan atau 1 Tawarikh 8:1.
3. Asybel, ‘ASYBÊL, tertera dalam Bilangan. Dalam 1 Tawarikh 8:1
dia disebut sebagai anak Benyamin yang kedua, Asybel adalah
nama lain atau alias dari Yediel dalam 1 Tawarikh 7:6.
4. Gera, GÊRÂ, adalah anak Bela, dengan demikian cucu Benyamin,
bandingkan dengan 1 Tawarikh 8:3, 5, 7; Hakim-hakim 3:15, 2
Samuel 16:5.
5. Naaman, NA’AMÂN, pun anak Bela, cucu Benyamin, Bilangan
26:40, 1 Tawarikh 8:4, 7.
6. Ehi, ‘ÊKHÏ, pun anak Bela, cucu Benyamin, adalah Ahiram dalam
Bilangan 26:38, Ahia dalam 1 Tawarikh 8:7 dan Ahoah dalam 1
Tawarikh 8:5; bandingkan dengan 2 Samuel 23:9, 23:28. Dia juga
dipanggil Ahrah dalam 1 Tawarikh 8:1

7. Rosy, ROSY, kemungkinan adalah cucu atau cicit Benyamin,
tidak ditulis di lain-lain tempat, tapi dapat dibandingkan dengan 2
Samuel 15:32; 16:1.
8. Muppim, MUPÏM, cucu Benyamin, dikenal juga Sefufam atau
Sufam dalam Bilangan 26:39, juga Sefufan dalam 1 Tawarikh 8:5
dan Supim dalam 1 Tawarikh 7:12, 15.
9. Hupim, KHUPÏM, cucu Benyamin, demikian juga dalam 1
Tawarikh 7:12, 15. Dalam Bilangan 26:38 dia disebut Hufam.
10. Ared ‘ÂRD, adalah anak Bela, cucu Benyamin, bandingkan
dengan Bilangan 26:40, namanya dikenal dengan Adar dalam 1
Tawarikh 8:3.
Jadi, tidak ada kontradiksi. Ada nama berbeda namun orang yang
sama. Jadi Benyamin mempunyai tiga anak sesuai dengan 1
Tawarikh 7:6 dan mempunyai 7 cucu, karena kata Ibrani BEN tidak
hanya berarti anak dari, tapi cucu dari dan keturunan, demikian
pula kata YALAD tidak hanya berarti mengandung dalam pengertian
fisik secara langsung, tapi juga berarti menjadi leluhur dari (kata
benda YELED dari kata kerja ini berarti keturunan dalam Yesaya
29:23).

49. Berapa cucu Benyamin (anak-anak Bela)?

a. 5 orang (I Tawarikh 7:7).
b. 9 orang (I Tawarikh 8:3-5).
c. 2 orang (Bilangan 26:40).
Buka dan bacalah ayat yang dimaksud. Terlihat jelas bahwa semua
nama dan jumlah cucu Benyamin tidak ada yang sama.

JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
“Dan anak-anak Bela ialah Ared dan Naaman; dari Ared kaum orang
Ared dan dari Naaman kaum orang Naaman.” (Bilangan 26:40)
Bahasa Ibraninya: VAYIHYU VENÊY-VELA’ ‘ARD VENA’AMÂN
MISYPAKHAT HÂ’ARDÏ LENA’AMÂN MISYPAKHAT
HANA’AMÏ
Telah ditanggapi sebelumnya bahwa kata neb (dibaca ben)
dalam bahasa Ibrani dapat berarti anak dan dapat pula bermakna cucu
dan keturunan. Lihat ayat-ayat sebelumnya dan kita akan menemukan
nama-nama yang sama antara Bilangan 26:38-41 dengan 1 Tawarikh
8:1-40 seperti Sefufam dan Huram.
“Anak-anak Bela ialah Ezbon, Uzi, Uziel, Yerimot dan Iri, lima orang,
kepala-kepala puak, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa; mereka
yang terdaftar dalam silsilah ada dua puluh dua ribu tiga puluh empat
orang.” (1 Tawarikh 7:7)
Bahasa Ibraninya: UVENÊY VELA’ ‘ETSBON VE’UZÏ VE’UZÏ’ÊL
VÏRÏMOT VE’ÏRÏ KHAMISYÂH RÂ’SYÊY BÊYT ‘ÂVOT
GIBORÊY KHAYÂLÏM VEHITYAKHSÂM ‘ESRÏM USYENAYIM
‘ELEF USYELOSYÏM VE’ARBÂ’ÂH

Berdasarkan penyelidikan 1 Tawarikh 7:7 adalah cucu atau
cicit atau keturunan dari anak-anak Bela yang menjadi kepala-kepala
puak.
“Anak-anak Bela ialah Adar, Gera, Abihud, Abisua, Naaman, Ahoah,
Gera, Sefufan dan Huram.” (1 Tawarikh 8:3-5)
VAYIHYU VÂNÏM LEVÂLA’ ‘ADÂR VEGÊRÂ’ VA’AVÏHUD
VA’AVÏSYUA’ VENA’AMÂN VA’AKHOAKH VEGÊRÂ’
USYEFUFÂN VEKHURÂM
Rincian yang amat lengkap tentang Benyamin dibandingkan
kebanyakan suku-suku lainnya bukanlah adanya pemberitahuan yang
lebih banyak melainkan kesetiaan Benyamin kepada garis keturunan
Daud. Daftar yang sejajar dalam 1 Tawarikh 7:6-12 dipandang sebagai
silsilah yang rusak dari Zebulon dan Dan. Daftar dalam 1 Tawarikh 7
itu tidak dapat dipadu dengan 1 Tawarikh 8:1-40.
Berikut ini adalah nama-nama keturunan Bela:
1. ‘ARD (LAI, Ared), putra sulung Bela, sama dengan ‘ADDAR
dalam 1 Tawarikh 8:3 karena huruf matinya sama tetapi terbalik,
apalagi karena aksara ‘ROSY’ dan ‘DALET’ hampir tidak dapat
dibedakan kecuali jika ditulis lebih besar.
2. NA’AMAN, juga ditulis dalam Kejadian 46:21 sebagai garis
keturunan Benyamin.
3. GERA’, terjadi pengulangan penulisan dua kali antara 1 Tawarikh
8:3 dan 8:5
4. ‘ABIHUD atau Ehud (Hakim-hakim 3:15)

5. ABISYUA, LAI Abisua
6. ‘AKHOAKH, LAI Ahoah
7. SYEFUFAM, LAI Sefufan, bandingkan dengan Bilangan 26:39
8. KHURAM, LAI Huram, bandingkan dengan Bilangan 26:39
Jadi, inilah keseluruhan cucu Benyamin dari Bela menurut daftar
yang paling lengkap di 1 Tawarikh 8:1-40.

50. BILANGAN 23:19 VS 1 SAMUEL 15:35; KELUARAN 32:14.

Dalam Bilangan TERTULIS, “Tuhan tidak pernah menyesal karena Ia
bukan anak manusia”, TETAPI dalam 1 Samuel, “Tuhan menyesal
karena Ia menjadikan Saul raja Israel”, dan dalam Keluaran, “Tuhan
juga menyesal karena malapetaka yang dirancangnya atas umat
Israel”.
JAWAB: (Kategori : Salah memahami cara Allah bekerja dalam
sejarah dan salah memahami penggunaan bahasa Ibrani)
Lihat jawaban no 51.

51. Tuhan menyesal atau tidak?

a. Tuhan tidak punya sifat menyesal (I Samuel 15:29; Bilangan
23:19).
b. Tuhan menyesal dan pilu hati karena telah menciptakan manusia
yang akhirnya cenderung berbuat jahat di muka bumi (Kejadian 6:5-
6). Tuhan menyesal karena telah menjadikan Saul sebagai raja di
Israel (I Samuel 15:10-11,35). Tuhan menyesal setelah mengacungkan
tangan ke Yerusalem (II Samuel 24:16). Tuhan menyesal karena telah
merancang malapetaka (Yeremia 26:3; 42:10; Keluaran 32:14).

JAWAB : (Kategori : Salah memahami cara Allah bekerja dalam
sejarah dan salah memahami penggunaan bahasa Ibrani)
Ini adalah bahasa antropomorfis (perbuatan Allah
dibahasakan dengan bahasa atau kata-kata yang dimengerti manusia).
Apa yang dituduhkan sebagai kontradiksi timbul dari
“terjemahan lama” naskah Alkitab ke dalam bahasa Inggris juga
bahasa Indonesia. Karena itu maka jalan keluarnya diambil dengan
melihat pada konteks dan peristiwa yang terjadi.
Tim penerjemah Alkitab, KJV, misalnya menterjemahkan kata Ibrani
‘NÂKHAM’ sebanyak 41 kali sebagai “menyesal”, diantara 108 kata
‘NÂKHAM’ yang bermakna lain dalam Alkitab bahasa asli Ibrani.
Kita tahu bahwa para penterjemah pada saat itu bekerja dengan jumlah
salinan naskah Asli yang lebih sedikit daripada yang tersedia saat ini.
Penemuan naskah-naskah yang lebih tua serta benda-benda arkeologis
di sepanjang abad terakhir memberikan akses kepada pemahaman kata
dalam bahasa asli Alkitab Ibrani yang lebih akurat.
Oleh karena itu, kebanyakan para penterjemah sekarang lebih
akurat dalam menterjemahkan kata ‘NÂKHAM’ yang
(dipermasalahkan dalam kontradiksi ini) dengan makna : sikap
melunak, bersedih, menyatakan rasa simpati, menghibur, menyesal,
bertobat, dll. Sesuai dengan konteks yang dibicarakan. Dibawah ini
penjelasan secara detail tentang makna ‘NÂKHAM’, semoga Anda
semua memahami kata tersebut juga penyesuaian dengan konteks ayat
yang dibicarakan.

Bilangan 23:19,
LAI TB, Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak
manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak
melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”
KJV, God is not a man, that he should lie; neither the son of man, that
he should repent: hath he said, and shall he not do it? or hath he
spoken, and shall he not make it good?
NIV, God is not a man, that he should lie, nor a son of man, that he
should change his mind (VEYITNEKHÂM). Does he speak and then
not act? Does he promise and not fulfill?
Bilangan 23:18-20 adalah firman Tuhan yang diberikan dalam bentuk
sajak dalam suatu irama 3:3, yang mengumumkan bahwa Allah
bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta atau menyesal. Telah menjadi
kehendak-Nya untuk memberkati umat-Nya.
Bahwa Tuhan Tidak Berubah atau Tetap Sama, hal itu tidak
berarti, bahwa Ia tidak bergerak, seperti gunung atau batu yang mati.
Allah tidak berubah atau tetap sama justru di dalam firman dan karyaNya, supaya menjadi sekutu umat-Nya. Bahwa Tuhan tidak berubah
atau tetap sama, berarti bahwa Ia tidak akan melepaskan umat-Nya
yang telah menjadi sekutu-Nya itu, sekalipun umat-Nya sering
mengubah sikapnya terhadap Tuhannya. Hal ini disebabkan karena
Allah terharu terhadap nasib sekutu-Nya. Bahwa Allah tidak berubah
atau tetap sama ada hubungannya yang erat sekali dengan kesetiaanNya. Dalam hakekat Allah yang diungkapkan dalam keadaan-Nya

yang tidak berubah atau yang tetap sama justru terkandung banyak
gerak dan perbuatan. Sebab justru karena Allah tidak berubah atau
tetap sama, maka Ia harus bekerja guna menyingkirkan segala sesuatu
yang merintangi kesetiaan-Nya terhadap maksud-Nya untuk menjadi
sekutu umat-Nya.
Di dalam terang inilah kita harus melihat hal sesal Allah yang
sering diungkapkan di dalam Alkitab.
1 Samuel 15:29,
LAI TB,”Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu
menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal.
KJV, And also the Strength of Israel will not lie nor repent: for he is
not a man, that he should repent.
NIV, He who is the Glory of Israel does not lie or change his mind;
for he is not a man, that he should change his mind.”
Teks Masoretik, VEGAM NÊTSAKH YISRÂ’ÊL LO’ YESYAQÊR
VELO’ YINÂKHÊM KÏ LO’ ‘ÂDÂM HU’ LEHINÂKHÊM
Ayat di atas umpamanya disebutkan, bahwa Yang Mulia
(harfiah Yang Kuat atau Kekuatan) dari Israel tidak berdusta dan IA
TIDAK TAHU MENYESAL, sebab Ia bukan manusia yang harus
menyesal. Firman ini diucapkan oleh Samuel kepada raja Saul, ketika
raja Saul kembali dari memerangi bangsa Amalek. Di dalam
memerangi bangsa Amalek itu raja Saul makin menampakkan
kekerasan hatinya, dengan secara terang-terangan melanggar perintah
Allah. Raja Saul menawan raja Amalek dan merampas lembu-lembu
bangsa Amalek dengan alasan akan dipersembahkan kepada Allah.

Padahal Allah dengan tegas memerintahkan supaya Saul menumpas
segala orang Amalek dengan segala harta-bendanya. Sebagai raja
yang mewakili umat Allah, Saul harus menampakkan ketaatannya
yang sebesar-besarnya kepada Tuhan. Dengan perbuatannya itu raja
Saul membahayakan kedudukan umat Israel sebagai sekutu Allah.
Oleh karena Allah telah sekali berfirman, bahwa Ia menjadi sekutu
Israel, maka Ia tidak akan berubah dari putusan-Nya itu. Ia memegang
teguh kepada apa yang telah direncanakan. Tiada seorangpun yang
boleh mengeraskan hatinya guna meniadakan atau menggagalkan
rencana Allah itu. Karena Saul berbuat demikian (akan menggagalkan
kedudukan Allah sebagai sekutu umat-Nya) maka ia ditolak oleh
Tuhan. Tuhan mengambil kerajaan dari tangan Saul, dan akan
memberikannya kepada orang lain. Sekalipun Allah sendiri yang telah
memanggil Saul untuk menjadi raja, akan tetapi karena Saul akan
merusak rencana Allah, Tuhan menarik kembali keputusan-Nya yang
telah diambil terhadap Saul dengan alasan bahwa Saul membahayakan
rencana Allah yang mengenai umat-Nya.
Perubahan sikap Allah terhadap Saul adalah reaksi Allah yang
penuh emosi terhadap perbuatan manusia. Allah disakitkan hati-Nya,
sehingga harus menarik kembali keputusan-Nya yang semula yang
mengenai Saul. Oleh karena Tuhan tidak tahu menyesal, artinya: tidak
pernah menyesali keputusan-Nya untuk menjadi sekutu Israel, maka
Tuhan menyesalkan perbuatan Saul yang membahayakan keputusan
Allah yang pokok tadi.
Demikianlah Allah bukanlah Allah yang dingin, yang tidak
pernah tergerak hati-Nya. Ia bereaksi terhadap perbuatan untuk-Nya.
Firman dan karya-Nya adalah nyata dalam sejarah. Ia benar-benar

turut menghayati kehidupan umat-Nya. Ia dapat berubah setiap waktu,
artinya: Ia dapat mengubah setiap saat sikap-Nya terhadap umat-Nya,
justru karena Ia tidak tahu menyesal, artinya: justru karena Ia tidak
menyesal menjadi sekutu umat-Nya.
Kejadian 6:6,
Alkitab LAI TB,
“maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di
bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.”
Teks Masoretik, VAYINÂKHEM {dan Dia menyesal} YEHOVÂH
{TUHAN} KÏ-‘ÂSÂH {karena Dia menjadikan} ‘ET-HÂ’ÂDÂM
{manusia itu} BÂ’ÂRETS {di bumi} VAYIT’ATSÊV {dan
memilukan} ‘EL-LIBÕ {hati-Nya}
KJV, And it repented the LORD that he had made man on the earth,
and it grieved him at his heart.
NIV, The LORD was grieved that he had made man on the earth, and
his heart was filled with pain.
Di dalam terang inilah Kejadian 6:6 di atas harus ditinjau. Di
situ disebutkan, bahwa TUHAN MENYESAL, bahwa Ia telah
menjadikan manusia di bumi, dan bahwa hal itu memilukan hati-Nya.
Bahwa Allah menyesal di sini ditujukan kepada perbuatan
manusia yang membahayakan rencana Allah, menyelamatkan dunia
ini. Manusia pada zaman Nuh membahayakan rencana Allah untuk
menjadi sekutu manusia, yaitu dengan berbuat dosa yang menyolok
sekali. Perbuatan mereka sama dengan perbuatan raja Saul. Oleh
karena Allah setia kepada rencana-Nya, artinya oleh karena Ia tetap

sama atau tidak berubah terhadap rencana-Nya; maka Ia
MENYESALKAN PERBUATAN MANUSIA pada zaman Nuh itu.
Demikianlah gagasan yang terkandung di dalam 1 Samuel
15:29 itu sebenarnya sama dengan gagasan yang terkandung di dalam
Kejadian 6:6, sekalipun pengungkapannya berbeda. Keduanya
menunjukkan, bahwa Allah tidak menyesal bahwa Ia menjadi sekutu
umat-Nya atau menjadi sekutu manusia, dan oleh karenanya Allah
menyesalkan perbuatan manusia yang membahayakan maksud-Nya
yang mulia itu.
Ayat yang senada dengan ayat-ayat yang telah kita bicarakan,
contohnya Keluaran 32:13-14, yang menyebutkan bahwa TUHAN
menyesal karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya;
Yunus 4:2 menyebutkan, bahwa Allah adalah Allah yang pengasih
dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta
yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya;
Ibrani 13:8 menyebutkan, bahwa Yesus Kristus tetap sama, baik
kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Akan tetapi
ayat-ayat ini tidak akan dibahas.
Mengenai hakekat Allah yang diungkapkan dalam keadaanNya yang tidak berubah atau yang tetap sama, dapat disimpulkan
demikian, bahwa Allah di dalam segala perubahan sikap-Nya itu
adalah Allah yang tetap setia kepada diri-Nya sendiri. Bahwa Ia setia
kepada diri-Nya sendiri, ini dapat diungkapkan dengan pengalimatan,
bahwa Ia tidak menyesal, atau bahwa Ia menyesal, atau bahwa Ia
tidak berubah, atau bahwa Ia meninjau kembali keputusan-Nya. Jika
Allah disebut Yang Tidak Berubah atau Yang Tidak Menyesal, hal itu
diterapkan kepada keputusan-Nya untuk menjadi sekutu umat-Nya,

sedang jika disebutkan, bahwa Allah adalah Yang Berubah atau Yang
Menyesal hal itu ditetapkan kepada sikap umat-Nya yang
membahayakan keputusan Allah untuk menjadi sekutu umat-Nya tadi.
Di dalam Alkitab hubungan Allah dengan manusia terjadi di
dalam kejadian-kejadian yang nyata dalam sejarah. Di sepanjang
sejarah Allah membuktikan dengan firman dan karya-Nya, bahwa Ia
tetap sama, bahwa Ia Tidak Berubah, bahwa pada-Nya tidak ada
perubahan, di dalam menjadi sekutu umat-Nya. Ia setia kepada
keputusan itu sampai selama-lamanya. Jelaslah bahwa kesetiaan Allah
terhadap diri-Nya sendiri dan terhadap rencana-Nya adalah kekal
selama-lamanya. Agar Allah dapat setia kepada diri-Nya dan kepada
maksud-Nya, sering Ia harus mengubah jalan-Nya demi keselamatan
umat-Nya yang sering tidak setia itu.
Berdasarkan hal itu semuanya, hakekat Allah yang
diungkapkan dalam keadaan-Nya yang tidak berubah itu barangkali
lebih tepat dikalimatkan dengan ungkapan keteguhan-Nya atau bahwa
Allah dapat dipercaya.
ALLAH MENYESAL
Dalam teologi (ilmu tentang Allah) ada istilah yang disebut
“anthropomorphisme” yang berasal dari kata ‘anthrôpos’ (manusia)
dan ‘morphê’ (bentuk, wujud), jadi bermakna mengambil bentuk atau
wujud manusia.
Allah yang tidak terbatas itu tidak dapat dipahami oleh akal
manusia yang terbatas, namun Allah dapat dikenal oleh manusia
karena Dia berkenan menyatakan diri-Nya kepada manusia lewat para
nabi dan tertulis pula di Alkitab. Untuk mempermudah pengenalan

akan Allah yang tidak terbatas, maka digunakanlah bentuk bentuk
yang lazim pada manusia, yang disebut “anthropomorphisme”,
misalnya:
Allah mendengar, apakah Allah memiliki telinga?
Allah melihat, apakah Allah memiliki mata?
Allah berjalan, apakah Allah memiliki kaki?
Hal yang sama juga digunakan dalam ungkapan Allah
“menyesal”, berarti ada sesuatu dalam perasaan Allah yang tidak
sesuai dengan kehendak-Nya. Menjawab pertanyaan tentang Allah
“menyesal” itu tidak sulit, asal kita dapat menjawab dua pertanyaan di
bawah ini:
[1] Bagaimana perasaan Allah jika manusia menuruti firman-Nya?
Senang, gembira, sukacita, tertawa? Jawaban atas pertanyaan ini saya
masukkan ke dalam kategori perasaan Allah yang “positif”.
[2] Bagaimana perasaan Allah jika manusia melanggar firman-Nya?
Marah, murka, menyesal, pilu, sedih, menangis? Jawaban atas
pertanyaan ini termasuk kategori perasaan Allah yang “negatif”.
Jawaban atas kedua pertanyaan di atas sebenarnya lebih tepat
ditujukan kepada manusia, namun dapat pula digunakan kepada Allah,
tentu saja sebatas pengetahuan manusia karena kita tidak bakal dapat
memahami perasaan Allah yang sebenarnya.
Kata “menyesal” yang diterjemahkan dari kata Ibrani
‘NÂKHAM’ yang secara konseptual bermakna tidak sesuai dengan
yang dikehendaki sehingga memerlukan penghiburan, hal-hal

yang tidak memuaskan hati. Bandingkan dengan nama “Nuh” dalam
Kejadian 5:29 dan bandingkan pula Ishak “dihiburkan” (‘NÂKHAM’)
oleh istrinya atas kematian ibunya (Kejadian 24:67), atau Yakub
menolak “dihiburkan” (‘nakham’) atas kematian Yusuf (Kejadian
37:35). Jelas adalah hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak
sehingga memerlukan pemakaian kata ‘nakham’ di situ.
Jadi, ungkapan Allah “menyesal” itu sebenarnya
menggambarkan adanya suatu perasaan “negatif” di dalam diri Allah.
Kejadian 6:7,
“Berfirmanlah TUHAN: ‘Aku akan menghapuskan manusia yang telah
Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan
binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku
menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.'”
Teks Masoretik, “VAYO’MER {dan Dia berfirman} YEHOVÂH
{TUHAN} ‘EMKHEH {Aku akan membinasakan} ‘ET-HÂ’ÂDÂM
{manusia itu} ‘ASYER-BÂRÂ’TÏ {yang Aku sudah menciptakan}
MÊ’AL {dari atas} PENÊY {muka} HÂ’ADÂMÂH {tanah itu}
MÊ’ÂDÂM {dari manusia} ‘AD-BEHÊMÂH {hingga ternak} ‘ADREMES {hingga yang melata} VE’AD-‘ÕF {dan hingga unggas}
HASYÂMÂYIM {langit itu} KÏNIKHAMTÏ {karena Aku menyesal}
KÏ {karena} ‘ASÏTIM {Aku menjadikan mereka}”
KJV, “And the LORD said, I will destroy man whom I have created
from the face of the earth; both man, and beast, and the creeping thing,
and the fowls of the air; for it repenteth me that I have made them.”
NIV, “So the LORD said, ‘I will wipe mankind, whom I have created,
from the face of the earth — men and animals, and creatures that move

along the ground, and birds of the air — for I am grieved that I have
made them.'”
KJV menerjemahkannya ‘it repenteth me’ dan NIV
menerjemahkannya ‘I am grieved’. Kata “menyesal” yang
diterjemahkan dari kata Ibrani ‘NÂKHAM’ mengandung banyak
makna misalnya “Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan
(‘nakham’)” (Kejadian 5:29); “Ishak mencintainya dan demikian ia
dihiburkan {‘nakham’) setelah ibunya meninggal.” (Kejadian 24:67);
“Sekalian anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan
(‘NÂKHAM’) dia, tetapi ia menolak dihiburkan (‘NÂKHAM’)”
(Kejadian 37:35).
Kata ‘repent’ dalam bahasa Inggris berarti ‘think with regret or
sorrow of; be full of regret (about); wish one had not done. Sedangkan
‘grieve’ dari ‘grief’ adalah ‘deep or violent sorrow’.
Jadi dari beberapa contoh di atas, barangkali kata “menyesal”
itu dapat diterjemahkan dengan pengertian yang lebih tepat, ―apa
yang dikehendaki oleh Allah ternyata tidak terlaksana, hal itu
tidak menyenangkan dan menghibur-NYA.‖ Allah tidak
menghendaki siapa pun berbuat dosa, namun tatkala manusia berbuat
dosa maka DIA menjadi “NÂKHAM”.
Jadi tidak ada pertentangan jika kita memahami makna
“NÂKHAM” dan konteks yang sedang dibicarakan.
Pertanyaannya adalah “Apakah Allah menyesal?” Jawabannya “Tidak,
Allah tidak pernah menyesal (dalam artian berubah pikiran-Nya
karena kecewa)”. Demikianlah Allah bukanlah Allah yang dingin,
yang tidak pernah tergerak hati-Nya. Allah bukan ‘seonggok batu’

yang tidak pernah tersentuh hati-Nya. Namun ia selalu menanggapi
situasi dan perilaku setiap anak-anak-Nya dengan penuh kasih atau
dengan murka, sehingga Ia akan menjadi sedih dan geram ketika
manusia berbuat jahat, atau berpaling dari-Nya.

52. [YOHANES 1:18; 1 TIMOTIUS 6:16; KELUARAN 33:20] VS
[KELUARAN 33:11; KELUARAN 24:10; KEJADIAN 32:30;
KELUARAN 33:23].

Dalam kelompok yang pertama TERTULIS, “tidak seorang pun yang
pernah dan mampu melihat Tuhan”, TETAPI dalam kelompok yang
kedua–berturut-turut–, “Musa berhadapan muka dengan Tuhan”,
“Musa, Harun, dan 70 orang lainnya melihat Tuhan”, “Yakub
berhadapan muka dengan Tuhan”, dan sebagai hadiah khusus, “Musa
diperkenankan melihat punggung Tuhan”.
JAWAB: (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Selengkapnya Lihat jawaban no. 53 dan 54. Manusia hanya mampu
melihat Allah dalam bentuk Theofani (Allah menyatakan diri dalam
bentuk Malaikat atau Manusia).

53. Tuhan bisa dilihat atau tidak?

a. Tuhan tidak bisa dilihat dan didengar (Yohanes 5:37; 1 Timotius
1:17; 6:16, Keluaran 33:20; 1 Yohanes 4:12).
b. Tuhan bisa dilihat dengan mata kepala (Keluaran 33:11,20;
Kejadian 18:1; 26:24; Yohanes 5:37; I Timotius 6:16; 1:17; 1 Yohanes
4:12).
c. Tuhan kelihatan kaki-Nya (Keluaran 24:9-10).

d. Tuhan kelihatan sedang duduk (Yesaya 6:1).
e. Tuhan bisa dilihat dari jauh (Yeremia 31:3).
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Yohanes 1 : 18
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal
Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Yohanes 5:37,
“Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu
tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu
lihat,”
Keluaran 33:11,
“Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka
seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia
ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih
muda, tidaklah meninggalkan kemah itu.”
“Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: ‘Aku telah melihat
Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!'” (Kejadian
32:30)
“Apabila Musa masuk ke dalam kemah itu, turunlah tiang awan dan
berhenti di pintu kemah dan berbicaralah TUHAN dengan Musa di
sana.” (Keluaran 33:9)
“‘Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan
dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah
kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?'” (Bilangan 12:8)
“TUHAN telah bicara dengan berhadapan muka dengan kamu di
gunung dan di tengah-tengah api-” (Ulangan 5:4)
“Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak
ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel,” (Ulangan 34:10)
Penulis kontradiksi ini tidak memperhatikan konteks ayat ini.
Orang-orang Yahudi yang berdialog dengan Yesus Kristus pada saat
itu memang tidak pernah mendengar suara Allah apalagi melihat
wajah-Nya. Perkataan itu ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan
ayat di atas berkaitan dengan ungkapan autoV memarturhken peri
emou, autos memarturêken peri emou, Dia yang bersaksi tentang
Aku.
Ayat ini menunjuk kepada saksi Allah yang tidak kelihatan
yang terdapat di dalam hati manusia. Orang Yahudi tentu akan
menekankan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah.
Bahkan pada saat Dasa Firman diberikan, “suara kata-kata kamu
dengar, tetapi suatu rupa tidak kamu lihat, hanya ada suara” (Ulangan
4:12).
Jadi perkataan Yesus Kristus bermakna bahwa “Memang benar
Allah itu tidak kelihatan, demikian juga kesaksian-Nya, karena
kesaksian-Nya itu adalah jawaban yang keluar dari hati manusia
ketika manusia itu berhadapan dengan Aku.” Jika kita diperhadapkan
dengan Kristus, maka kita melihat di dalam Dia semua yang indah dan
bijaksana; keyakinan seperti itu adalah kesaksian Allah di dalam hati
kita.
Ungkapan wajah kepada wajah adalah ungkapan khas Ibrani
yang dimengerti dengan jelas dengan kata-kata berikutnya seperti
seseorang berbicara kepada temannya. Itulah persekutuan yang tidak
berhingga, di mana tidak ada sesuatu yang disembunyikan dan tidak
ada sesuatu yang terselubung.
Jadi, wajah Allah dalam Alkitab Ibrani adalah ungkapan
khusus untuk kehadiran atau hadiran Allah. Melihat Allah hanya
mungkin melalui penyingkapan diri-Nya sendiri. Kehadiran Allah
tidak pernah merupakan perasaan belaka akan sesuatu yang
menakutkan, melainkan selalu merupakan kehadiran suatu Allah yang
dikenal, yang pribadi dan yang tersendiri.
Selanjutnya Keluaran 24:10, “Lalu mereka melihat Allah
Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai
dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah.”
Ini dikenal dengan istilah theofani, kehadiran kemuliaan Allah,
penyataan secara kelihatan dan secara supra alamiah keagungan Allah
yang tertinggi dan yang tiada taranya. Penampakan Allah atau
theofani yang terjadi di era PL senantiasa terjadi dalam bentuk
manusiawi atau malaikat atau juga dalam wujud gejala-gejala kosmis.
“Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas
takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi
Bait Suci.” (Yesaya 6:1)
Nabi Yesaya mendapat penglihatan, bandingkan dengan
penglihatan Yohanes di pulau Patmos yang ditulis di dalam kitab
Wahyu. Demikian pula dengan : Yeremia 31:3,
“Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi
engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih
setia-Ku kepadamu.”
Jika kita membaca Yeremia 31:1-40 maka kita akan mengetahui
konteks ayat 3 yang mengandung makna alegoris di atas. Israel Utara
(Efraim) akan dibina kembali, dibangun kembali dan digarap ulang.
Diutarakan pula mengenai akhir dari perpecahan antara utara dan
selatan dalam pengakuan bersama akan TUHAN, Allah dari seluruh
bangsa itu.
“Beginilah firman TUHAN: Ia mendapat kasih karunia di padang
gurun, yaitu bangsa yang terluput dari pedang itu! Israel berjalan
mencari istirahat bagi dirinya!” (Yeremia 31:2)
Tuhan melepaskan Israel dari pedang Firaun dan memberikan
kasih karunia kepada mereka pada hari-hari mereka di padang gurun.
Ini hanyalah selaku tanda dari kasih yang kekal (ayat 3) yang telah
diteruskan dalam kesetiaan ilahi hingga saat Yeremia menulis ayat di
atas. Sebenarnya ungkapan kepadanya dari “Dari jauh TUHAN
menampakkan diri kepadanya” adalah kepadaku menurut naskah
Ibrani yaitu kepada nabi Yeremia, bandingkan dengan penglihatan
Yesaya di atas.
Dalam PL TUHAN saat menampakkan diri-Nya mengambil
perwujudan tertentu. Misalkan dalam Kel 3 : 11 dimana
menampakkan dalam bentuk tiang awan atau Kej 32 : 30 dalam wujud
manusia. Penampakan inilah yang dapat dilihat oleh manusia. Tetapi
wujud Allah yang sesungguhnya dalam ROH tidak pernah dilihat
manusia.
Sebagai perbandingan Al-Qur’an pun mencatat penampakan
TUHAN dalam perwujudan kayu:
QS 28 : 30 Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu,
DISERULAH DIA dari (arah) pinggir lembah yang sebelah
kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, DARI SEBATANG POHON
KAYU, yaitu : ―Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan
semesta alam‖


54. YOHANES 1:18 VS KEJADIAN 18:1 & 32:30.


Dalam Yohanes TERTULIS: “hanya Yesus yang melihat Allah”,
TETAPI dalam Kejadian 18 & 32: “Abraham dan Yakub pun pernah
melihat Allah”. (bertentangan literatur).
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
WAJAH ALLAH :
“Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka
seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia
ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih
muda, tidaklah meninggalkan kemah itu.” (Keluaran 33:11)
Bahasa Ibrani : VEDIBER {dan Dia berbicara} YEHOVÂH {baca:
‘adonay, TUHAN} ‘EL-MOSYEH {kepada Musa} PÂNÏM {wajah}
‘EL-PÂNÏM {kepada wajah} KA’ASYER {seperti yang} YEDABÊR
{ia berbicara} ‘ÏSY {seseorang} ‘EL-RÊ’ÊHU {kepada temannya}
Ungkapan “PÂNÏM ‘EL-PÂNÏM” atau “wajah kepada
wajah” adalah ungkapan khas Ibrani yang dimengerti dengan jelas
dengan kata-kata berikutnya “KA’ASYER YEDABÊR ‘ÏSY ‘EL
RÊ’ÊHU, seperti seseorang berbicara kepada temannya” Itulah
persekutuan yang tidak berhingga, di mana tidak ada sesuatu yang
disembunyikan dan tidak ada sesuatu yang terselubung.
Bandingkan dengan ayat-ayat berikut ini:
“Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: ‘Aku telah melihat
Allah berhadapan muka (Bahasa Ibrani: KÏ-RÂ’ÏTÏ ‘ELOHÏM
PÂNÏM ‘EL-PÂNÏM), tetapi nyawaku tertolong!'” (Kejadian 32:30)
“Apabila Musa masuk ke dalam kemah itu, turunlah tiang awan dan
berhenti di pintu kemah dan berbicaralah TUHAN dengan Musa
(VEDIBER ‘IM-MOSYEH) di sana.” (Keluaran 33:9)
‘Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia (PEH ‘EL-PEH
‘ADABER-BO), terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia
memandang rupa TUHAN (UTEMUNAT YEHOVÂH YABÏT).
Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?’ (Bilangan
12:8)
“TUHAN telah bicara dengan berhadapan muka dengan kamu di
gunung dan di tengah-tengah api-” (Ulangan 5:4)
Bahasa Ibrani: PÂNÏM BEFÂNÏM DIBER YEHOVÂH ‘IMÂKHEM
“Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak
ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel,” (Ulangan 34:10)
Bahasa Ibrani: YEDÂ’O YEHOVÂH PÂNÏM ‘EL-PÂNÏM
Jadi wajah Allah dalam Alkitab Ibrani adalah ungkapan
khusus untuk kehadiran atau hadiran Allah. Melihat Allah hanya
mungkin melalui penyingkapan diri-Nya sendiri. Kehadiran Allah
tidak pernah merupakan perasaan belaka akan sesuatu yang
menakutkan, melainkan selalu merupakan kehadiran suatu Allah yang
dikenal, yang pribadi dan yang tersendiri.
PENAMPAKAN ALLAH – THEOFANI :
Keluaran 33: 17-23
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Juga hal yang telah kaukatakan
ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di
hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.” Tetapi jawabnya:
“Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.” Tetapi firmanNya: “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu
dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih
karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani
siapa yang Kukasihani.” Lagi firman-Nya: “Engkau tidak tahan
memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang
Aku dapat hidup.” Berfirmanlah TUHAN: “Ada suatu tempat dekatKu, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila
kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam
lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku,
sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku
dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan
kelihatan.”
Musa mendapat kesempatan memandang belakang Allah
merupakan bukti keterbatasan dan sekaligus bukti keakraban Musa
dengan Allah. Namun dengan jelas Allah menyatakan bahwa Musa
tidak akan tahan melihat wajah-Nya, sebab Musa akan mati jika
melihat wajah-Nya (ayat 20).
Selanjutnya kita kaji ayat dalam Keluaran 24:10, “Lalu mereka
melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya
seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang
cerah.”
Hal di atas Ini dikenal dengan istilah theofani, kehadiran
kemuliaan Allah, penyataan secara kelihatan dan secara supra alamiah
keagungan Allah yang tertinggi dan yang tiada taranya.
Penampakan Allah atau theofani yang terjadi di era PL
senantiasa terjadi dalam bentuk manusiawi atau malaikat atau juga
dalam wujud gejala-gejala kosmis :
“Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas
takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi
Bait Suci.” (Yesaya 6:1)
Bahasa Ibrani: VÂ’ER’EH ‘ET-‘ADONÂY YOSYÊV ‘AL-KISÊ’
RÂM
Nabi Yesaya mendapat penglihatan, bandingkan dengan
penglihatan Yohanes di pulau Patmos yang ditulis di dalam kitab
Wahyu. Demikian pula dengan Yeremia 31:3, “Dari jauh TUHAN
menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih
yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.”

Jika kita membaca Yeremia 31:1-40 maka kita akan
mengetahui konteks ayat 3 yang mengandung makna alegoris di atas.
Israel Utara (Efraim) akan dibina kembali, dibangun kembali dan
digarap ulang. Diutarakan pula mengenai akhir dari perpecahan antara
utara dan selatan dalam pengakuan bersama akan TUHAN, Allah dari
seluruh bangsa itu.
“Beginilah firman TUHAN: Ia mendapat kasih karunia di padang
gurun, yaitu bangsa yang terluput dari pedang itu! Israel berjalan
mencari istirahat bagi dirinya!” (Yeremia 31:2)
Tuhan melepaskan Israel dari pedang Firaun dan memberikan
kasih karunia kepada mereka pada hari-hari mereka di padang gurun.
Ini hanyalah selaku tanda dari kasih yang kekal (ayat 3) yang telah
diteruskan dalam kesetiaan ilahi hingga saat Yeremia menulis ayat di
atas. Sebenarnya ungkapan kepadanya dari “Dari jauh TUHAN
menampakkan diri kepadanya” adalah kepadaku menurut naskah
Ibrani yaitu kepada nabi Yeremia, bandingkan dengan penglihatan
Yesaya di atas.
PENAMPAKAN DENGAN PERWUJUDAN
Dalam PL TUHAN saat menampakkan diri-Nya mengambil
perwujudan tertentu. Misal dalam Keluaran pasal 3 dengan
perwujudan api dalam semak duri, Ulangan 31:15 dalam bentuk tiang
awan & tiang api atau Kejadian 32 : 30 dalam wujud manusia dan
lain-lain. Penampakan inilah yang dapat dilihat oleh manusia. Tetapi
wujud Allah yang sesungguhnya dalam ROH tidak pernah dilihat
manusia.
TIDAK ADA SEORANGPUN PERNAH MELIHAT ALLAH
Yohanes 1 : 18
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal
Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
KJV : No man hath seen God at any time, the only begotten Son,
which is in the bosom of the Father, he hath declared him.
Dalam kitab PL sering diungkapkan orang penah melihat Allah
(contoh-contoh perwujudan & penjelasannya yang saya sampaikan di
atas). Dengan pengertian Allah bisa menampakkan wujud-Nya dengan
pelbagai cara dan kadar pengelihatan menurut keperluannya. Bisa
ditampakkan lewat semak duri yang terbakar, atau seperti dalam
awan, menampakkan bagian-bagian “tubuh”Nya, atau wujud diri yang
dikenakan-Nya sementara waktu saja dalam penampakan itu, atau
lewat mimpi, penglihatan dan lain-lain. Namun tidak satupun yang
betul-betul melihat sebagaimana hakekat/Dzat diri-Nya yang
sesungguhnya. Sebab tidak ada orang yang tahan memandang wajah
Allah (dalam hakekat-Nya) dan tetap hidup, kecuali Yesus (Keluaran
33: 20, Yohanes 6:46). Kini Yesus sendiri telah menyatakan “rupa”
Allah kepada setiap manusia. Walau demikian, banyak orang tetap
tidak mampu melihat “rupa” yang satu ini!
“Yang ada dipangkuan Bapa”, dalam bahasa Inggris diterjemahkan
dengan ” in the bosom of the Father” maksudnya yang ada bersama
sama Bapa, ini merupakan penggambaran/ ilustrasi untuk menyatakan
kedekatan, keintiman pribadi yang tak terpisahkan dalam kesamaan
hakekat Bapa, seperti yang dinyatakan dalam Injil Yohanes 1:1.
“Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu
tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu
lihat,” (Yohanes 5:37)
Naskah Yunani Textus Receptus Transliterasi: kai {dan} ho
{yang} pempsas {mengutus} me {Aku} patêr {Bapa} autos {Dia}
memarturêken {Dia sudah memberikan kesaksian} peri {tentang}
emou {Aku} oute {tidak pula} phônên {suara} autou {-Nya}
akêkoate {kalian mendengar} pôphote {pada suatu ketika} oute {tidak
pula} eidos {rupa} autou {-Nya} heôrakate {kalian sudah melihat}
Ayat di atas diambil dengan latar belakang orang-orang
Yahudi yang berdialog dengan Yesus Kristus pada saat itu memang
tidak pernah mendengar suara Allah apalagi melihat wajah-Nya.
Perkataan itu ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan ayat di atas
berkaitan dengan ungkapan “autos memarturêken peri emou”, Dia
yang bersaksi tentang Aku.
Ayat ini menunjuk kepada saksi Allah yang tidak kelihatan
yang terdapat di dalam hati manusia. Orang Yahudi tentu akan
menekankan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah.
Bahkan pada saat Dasa Firman (10 hukum) diberikan, “suara katakata kamu dengar, tetapi suatu rupa tidak kamu lihat, hanya ada
suara” (Ulangan 4:12).

Jadi perkataan Yesus Kristus bermakna bahwa “Memang benar
Allah itu tidak kelihatan, demikian juga kesaksian-Nya, karena
kesaksian-Nya itu adalah jawaban yang keluar dari hati manusia
ketika manusia itu berhadapan dengan Aku.” Jika kita diperhadapkan
dengan Kristus, maka kita melihat di dalam Dia semua yang indah dan
bijaksana; keyakinan seperti itu adalah kesaksian Allah di dalam hati
kita.
Konsep ini jelas bahwa tidak seorangpun pernah melihat
Tuhan. Hal ini ditekankan pula oleh Paulus kepada Timotius :
‖Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam
dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia
dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat
dan kuasa yang kekal! Amin‖ (1 Timotius 6: 16)
“Tidak ada seorangpun dapat melihat Allah dan terus hidup”
(Keluaran 33:20). Karena Hakekat Allah adalah Roh dan kita manusia
di bumi ini ada dalam tubuh fana, inilah yang membuat kita tidak bisa
melihat-Nya. Konsep ini melanjutkan konsep yang sudah diajarkan
Musa bahwa ia tidak mampu memandang wajah Allah, dan itulah
sebabnya Allah memberikan pengalaman kepada Musa ia hanya bisa
memandangnya dari belakang sementara kemuliaan Allah itu
menerangi tempat dimana dia ada, dan menyebabkan wajah Musa
bercahaya (Keluaran 34:29, 30, 35).
Yohanes juga memberikan konsep yang sama bahwa tidak ada
satupun yang pernah melihat Allah :
1 Yohanes 4:12-13
4:12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita
saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna
di dalam kita.
4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah
dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian
dalam Roh-Nya.
Ayat 12 mengajarkan hanya jika kita mengasihi sesama yang
kelihatan, kita dapat mengasihi Allah yang tidak kelihatan
(bandingkan ayat 20). Penyebutan Roh dalam ayat 13 menyatakan
bahwa Allah telah mengaruniakan kita bagian dalam Roh Kudus-Nya.
Allah hingga kini tetap bekerja dalam diri setiap orang melalui Roh
Kudus yang memberi ilham atau menampakkan diri-Nya secara
khusus (teofani).

55. KEJADIAN 15:13 & KISAH PARA RASUL 7:6 VS
KELUARAN 12:40-41

bahwa keturunan Abraham akan diperbudak
selama 400 tahun. Tetapi dalam keluaran 12:40-41 dikatakan Israel
diam di Mesir 430 tahun.
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Keluaran 12:40-41
12:40 Lamanya orang Israel diam di Mesir adalah empat ratus tiga
puluh tahun. SHELOSHIM SHANAH {tiga puluh tahun}
VE’ARBA ME’OT SHANAH {dan empat ratus tahun}
12:41 Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu
juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir.
Bahasa Ibrani: VAYEHI MIKETS SHELOSHIM SHANAH
VE’ARBA ME’OT SHANAH
versus
Firman TUHAN kepada Abram: “Ketahuilah dengan sesungguhnya
bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri,
yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak
dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. (Kejadian 15:13)
Ibrani: ARBA ME’OT SHANAH {empat ratus tahun}
Beginilah firman Allah, yaitu bahwa keturunannya akan menjadi
pendatang di negeri asing dan bahwa mereka akan diperbudak dan
dianiaya empat ratus tahun lamanya. (Kisah 7:6)
Yunani: etê tetrakosia {empat ratus tahun}
Tidak ada pertentangan karena bangsa Israel menetap di Mesir
pada zaman Yusuf masih hidup. Yusuf memerintah sebagai orang
kedua dibawah Firaun. Pada waktu Yusuf masih hidup, Bangsa
Israel hidup nyaman di Tanah Gosyen di Mesir dan belum
diperbudak. Jadi mereka baru diperbudak setelah Firaun yang lain
(raja baru) memerintah, yang tidak mengenal tentang Yusuf (Keluaran
1:8-11) sebagai berikut:
1:8 Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah
Mesir, yang tidak mengenal Yusuf.
1:9 Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: “Bangsa Israel itu sangat
banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita.
1:10 Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya
mereka jangan bertambah banyak lagi dan — jika terjadi peperangan —

jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu
pergi dari negeri ini.”
1:11 Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka
untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus
mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan
Raamses.
Jadi, bangsa Israel berada/diam/tinggal di Mesir selama 430
tahun namun mereka diperbudak 400 tahun di Mesir karena selama
Yusuf memerintah di Mesir, bangsa Israel tidak diperbudak Firaun.

56. Berapa Daud membayar barang peternakan ?

a. 50 syikal perak (II Samuel 24: 24)
b. 600 syikal emas (I Tawarikh 21: 22-25)
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
2 Samuel 24:24
Tetapi berkatalah raja kepada Arauna: “Bukan begitu, melainkan aku
mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku
tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, korban
bakaran dengan tidak membayar apa-apa.” Sesudah itu Daud membeli
tempat pengirikan dan lembu-lembu itu dengan harga lima puluh
syikal perak.
KJV, for fifty shekels of silver.

Bahasa Ibrani, DAVID ET-HAGOREN VE’ET-HABAKAR
BEKHESEF SHEKALIM KHAMISHIM
versus
1 Tawarikh 21:25
Maka Daud memberikan kepada Ornan sebagai bayaran tempat itu
emas seberat enam ratus syikal.
KJV, six hundred shekels of gold by weight.
Bahasa Ibrani, VAYITEN DAVID LE’ARNAN BAMAKOM
SHIKLEI ZAHAV MISHKAL SHESH ME’OT
Catatan dalam 2 Samuel 24:24 menunjuk kepada pembayaran
harga secara langsung yang dilakukan Raja Daud kepada Arauna (atau
disebut juga “Ornan”) untuk 2 ekor lembu dan eretan-eretan pengirik
serta perkakas lembu milik orang Yebusi yang menggunakannya saat
Daud mengungjunginya. Persisnya ucapan Daud dalam ayat 21
sebagai berikut “Untuk membeli tempat pengirikan ini dari padamu
dengan maksud mendirikan mezbah bagi TUHAN”. tempat pengirikan
umumnya adalah suatu lokasi dengan luas yang sedang-sedang,
biasanya lebarnya tidak lebih dari 30 atau 40 kaki. Harga pasar dari
2 ekor lembu dan perkakas (eretannya) jarang sekali melebihi
nilai 50 syikal perak berdasarkan nilai pasar yang berlaku waktu
itu.
Tetapi dalam 1 Tawarikh 21:25 kita diberitahu bahwa Daud
membayar harga yang jauh lebih tinggi, yaitu 600 syikal emas yang
kemungkinan nilainya adalah 180 kali 50 syikal perak. Tetapi rupanya
angka dalam kitab Tawarikh ini mencakup bukan hanya harga lembu
dan eretannya, melainkan juga seluruh tempat tersebut. Kata-kata

dalam bahasa Ibraninya adalah “VAYITEN….BAMAKOM” (“maka
Daud memberikan… sebagai pembayaran tempat itu”) tampaknya
jauh lebih inklusif ketimbang sekadar tempat pengirikan. Dalam
sejarah kuno, baik pada abad ke-5 SM maupun pada zaman lain,
mustahil sebuah tempat pengirikan berharga 600 syikal emas. Karena
itu, lebih tepat jika kita menyimpulkan bahwa Ornan ini memiliki
seluruh wilayah Gunung Moria.
Lahan seperti Gunung Moria yang membentang 1.600 kaki
pada ketinggian yang dari sana dengan nyaman bisa melihat ke bawah
tersebut merupakan lahan yang sangat bernilai, yaitu dengan mudah
kita bisa mengerti jika harganya adalah 600 syikal emas. Keuntungan
memperoleh lahan yang cukup luas bagi lokasi Bait Suci pasti
menarik bagi Raja Daud, yaitu setelah dia melihat kawasan tenpat
pengirikan itu dan menyadari betapa untungnya jika mengkhususkan
seluruh puncak bukit itu untuk tujuan-tujuan keagamaan dan
pemerintahan.
Kemungkinan dalam transaksi yang agak belakangan dengan
Ornan barulah Daud membayarnya dengan harga yang jauh lebih
tinggi untuk seluruh lahan tersebut, dan penulis kitab Tawarikh
merasa cocok untuk mencatat seluruh transaksi ini dipandang dari
sudut hasil akhirnya. Jadi, tidak ada kontradiksi.

57. Kenalkah Saul dengan Daud ketika Daud melawan Goliat ?

a. Sangat kenal (I Samuel 16: 19-23)
b. Tidak kenal sama sekali (I Samuel 17: 55-58)

JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
1 Samuel 16:19-23
16:19 Kemudian Saul mengirim suruhan kepada Isai dengan pesan:
“Suruhlah kepadaku anakmu Daud, yang ada pada kambing domba
itu.”
16:20 Lalu Isai mengambil seekor keledai yang dimuati roti, sekirbat
anggur dan seekor anak kambing, maka dikirimkannyalah itu kepada
Saul dengan perantaraan Daud, anaknya.
16:21 Demikianlah Daud sampai kepada Saul dan menjadi
pelayannya. Saul sangat mengasihinya, dan ia menjadi pembawa
senjatanya.
16:22 Sebab itu Saul menyuruh orang kepada Isai mengatakan:
“Biarkanlah Daud tetap menjadi pelayanku, sebab aku suka
kepadanya.”
16:23 Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap
pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul
merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya.
versus
1 Samuel 17:55-58
17:55 Ketika Saul melihat Daud pergi menemui orang Filistin itu,
berkatalah ia kepada Abner, panglima tentaranya: “Anak siapakah
orang muda itu, Abner?” Jawab Abner: “Demi tuanku hidup, ya raja,
sesungguhnya aku tidak tahu.”

17:56 Kemudian raja berkata: “Tanyakanlah, anak siapakah orang
muda itu.”
17:57 Ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu,
maka Abner memanggilnya dan membawanya menghadap Saul,
sedang kepala orang Filistin itu masih ada di tangannya.
17:58 Kata Saul kepadanya: “Anak siapakah engkau, ya orang
muda?” Jawab Daud: “Anak hamba tuanku, Isai, orang
Betlehem itu.”
Memang benar bahwa Daud telah diperkenalkan kepada Saul
(1 Samuel 16:18) sebagai “salah seorang anak laki-laki dari Isai, orang
Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang
gagah perkasa, seorang prajurit yang pandai bicara, elok
perawakannya”. Tetapi harus diperhatikan pula bahwa sebelum
perangnya dengan Goliat, Daud hanya mempertunjukkan kecakapan
seninya kepada Raja Saul, kemudian Daud diperkenankan pulang ke
Betlehem. Jadi Saul hanya tahu kalau Daud adalah gembala domba
dan pemain kecapi.
Adalah sangat realistis jika Raja Saul melihat Daud dari sudut
yang sama sekali baru dan menunjukkan perhatian besar kepada latar
belakang Daud. Tampak bahwa Panglima Abner sebelumnya tidak
mengenal Daud kecuali sebagai seorang pemain kecapi, karena itu dia
bahkan tidak mengenal nama Isai (1 Samuel 17:55).
Ketika mula-mula Daud diperkenalkan ke istana sebagai pemusik
yang bisa menghibur, Abner tidak terlibat di sana (1 Samuel 16:18 );

sebaliknya “salah seorang hamba” Saul (yakni seorang bujang dari
pegawai istana) yang telah menyebut nama Isai untuk Saul.
Tetapi perhatian Saul menyala kembali ini bukan hanya
terhadap nama ayah Daud – meskipun itu adalah pertanyaan awalnya.
Sangat jelas bahwa Saul ingin mengetahui apakah di rumah Daud
masih ada pemuda yang seperti dia; ini sejalan dengan kebijaksanaan
baku yang dikemukakan dalam 1 Samuel 14:52 “Dan semua
pahlawan dan orang gagah perkasa, yang dilihat Saul,
dikumpulkannya kepadanya”. Artinya, Saul berniat membentuk suatu
regu pengawal pilihan dari antara prajurit yang tangguh, dan dia
melihat dalam diri Daud jalan yang menjanjikan untuk mendapatkan
lebih banyak lagi tentara yang seperti dia. Dari 1 Samuel 18:1 kita
diberitahu bahwa Daud kemudian melakukan pembicaraan yang
cukup panjang dengan Saul, lebih daripada sekadar menunjukkan
nama ayahnya.
Jadi, kita melihat bahwa jika kita memandang 2 episode itu
menurut konteks dan situasinya masing-masing, ternyata episodeepisode itu sangat sesuai dengan kenyataan dan sebenarnya tidak
terdapat kontradiksi diantara mereka.

58. Anak siapakah Zakharia ?

a. Anak Berekhya (Matius 23: 35)
b. Anak imam Yoyada (II Tawarikh 24: 20)
JAWAB : (Kategori : salah mengaitkan cerita yang satu dengan yang
lainnya)

Matius 23:35
supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak
bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia
anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan
mezbah.
Versus
2 Tawarikh 24:20
Lalu Roh Allah menguasai Zakharia, anak imam Yoyada. Ia tampil
di depan rakyat, dan berkata kepada mereka: “Beginilah firman Allah:
Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu
tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Ia pun
meninggalkan kamu!”
Dalam Alkitab, ada 28 orang menyandang nama Zakharia.
Kebanyakan dari mereka disebut hanya satu atau dua kali, termasuk
raja terakhir dari garis keturunan Yehu yang juga bernama Zakharia :
2 Raja 14:29; 15:8
14:29 Kemudian Yerobeam mendapat perhentian bersama-sama
dengan nenek moyangnya, raja-raja Israel. Maka Zakharia, anaknya,
menjadi raja menggantikan dia.
15:8 Dalam tahun ketiga puluh delapan zaman Azarya, raja Yehuda,
Zakharia, anak Yerobeam, menjadi raja atas Israel di Samaria. Ia
memerintah enam bulan lamanya.
Yang paling dikenal memang Nabi Zakharia yang menulis Kitab
Zakharia yang disebut dalam ayat Matius 23:35 di atas:

Zakharia 1:1
1:1 Dalam bulan yang kedelapan pada tahun kedua zaman Darius
datanglah firman TUHAN kepada nabi Zakharia bin Berekhya bin
Ido, bunyinya:
Ada lagi Zakharia yang lain,yaitu anak imam Yoyada yang diceritakan
dalam :
2 Tawarikh 24:20
24:20 Lalu Roh Allah menguasai Zakharia, anak imam Yoyada. Ia
tampil di depan rakyat, dan berkata kepada mereka: “Beginilah firman
Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN,
sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan
TUHAN, Ia pun meninggalkan kamu!”
Dalam Kitab Perjanjian Baru ada juga Zakharia lain yang seorang
imam bernama Zakharia, ayah dari Yohanes pembaptis.
“Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang
bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari
keturunan Harun, namanya Elisabet.” (Lukas 1:5)
Dengan demikian Nabi Zakharia bin Berekhya adalah orang yang
berbeda dengan Zakharia anak imam Yoyada.
Masih ada lagi Zakharia yang lain, ditulis di : Yesaya 8:2
Maka aku memanggil dua saksi yang dapat dipercaya, yaitu imam
Uria dan Zakharia bin Yeberekhya.

Dan masih ada Zakharia-Zakharia yang lain.
Jadi, dalam Alkitab ada banyak orang bernama Zakharia, orangnya
berbeda meski tokoh-tokoh Alkitab itu bernama sama. Jadi, Zakharia
yang disebut dalam kitab Matius 23:35 dan Zakharia 1:1 adalah anak
dari Berekhya, sedangkan Zakharia yang disebut dalam 2 Tawarikh
24:20 adalah anak Imam Yoyada. Maka, tidak ada kontradiksi.


59. Dalam 1 Tawarikh 8:30 tertulis anak sulungnya adalah Abdon,
Zur, Kish, Ball dan Nadab. Tetapi dalam 9:36 telah muncul 1 nama
lagi yaitu Ner. Kenapa Ner baru disebut di 9:36? Lalu kemana Ner di
8:30? Diculik?


1 Tawarikh
8:29 Tetapi di Gibeon diam bapa Gibeon, yakni Yeiel, dan nama
isterinya ialah Maakha.
8:30 Anak sulungnya ialah Abdon, lalu Zur, Kish, Baal, Nadab,
versus
9:35. Di Gibeon diam bapa Gibeon, yakni Yeiel, dan nama isterinya
ialah Maakha.
9:36 Anak sulungnya ialah Abdon, lalu Zur, Kish, Baal, Ner, Nadab,
JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)
Sebenarnya tidak ada masalah pada kedua pasal tersebut. Untuk
membantu memahami perhatikan ayat berikutnya ayat 33 pada pasal
yang ke-8 ini.
Supaya jelas kita baca ayat-ayatnya secara urut dengan lebih lengkap :

1 Tawarikh 8:29-33
8:29 Tetapi di Gibeon diam bapa Gibeon, yakni Yeiel, dan nama
isterinya ialah Maakha.
8:30 Anak sulungnya ialah Abdon (1), lalu Zur (2), Kish (3), Baal (4),
Nadab (5),
8:31 Gedor (6), Ahyo (7), Zekher (8)
8:32 dan Miklot (9) yang memperanakkan Simea. Juga mereka ini
pergi diam berdekatan dengan saudara-saudara mereka di Yerusalem
bersama-sama saudara mereka yang lain.
8:33 Ner (10) memperanakkan Kish; Kish memperanakkan Saul;
Saul memperanakkan Yonatan, Malkisua, Abinadab dan Esybaal.
Bandingkan dengan :
1 Tawarikh 9:35-39
9:35 Di Gibeon diam bapa Gibeon, yakni Yeiel, dan nama isterinya
ialah Maakha.
9:36 Anak sulungnya ialah Abdon (1), lalu Zur (2), Kish (3), Baal
(4), Ner (5), Nadab (6),
9:37 Gedor (7), Ahyo (8), Zakharia (9) dan Miklot (10).
9:38 Miklot memperanakkan Simeam. Juga mereka ini pergi diam
berdekatan dengan saudara-saudara mereka di Yerusalem bersamasama saudara mereka yang lain.
9:39 Ner (5) memperanakkan Kish; Kish memperanakkan Saul;
Saul memperanakkan Yonatan, Malkisua, Abinadab dan Esybaal.

Nama Ner ada dalam 1 Tawarikh 8 sebagaimana juga dicatat
dalam pasal 9. Ayat-ayat di atas menulis garis silsilah Saul, Raja
pertama Israel dari suku Benyamin (1050-1010 sM).
Pada pasal 8 ayat 29-32 menulis nama-nama saudara-saudara
dari Ner. Sehingga nama Ner ditaruh pada urutan yang terakhir
(urutan ke-10, ayat 33). Ini bukan berarti Ner adalah anak yang
bungsu, tetapi hal ini dimaksudkan bahwa dari keturunan Ner inilah
Saul, Raja pertama Israel ini dilahirkan.
Kemudian pada pasal 9 silsilah tersebut diulang kembali sesuai
urutannya, nama Ner ditaruh pada urutan ke-5, dan ini untuk
menunjukkan bahwa Ner sebenarnya adalah anak yang ke-5 dari Yeiel
(alias Abiel, 1 Samuel 9:1; 14:51). Maka, dalam pasal 9 ini nama
anak-anak dari Yeiel ditulis sesuai sesuai urutan kelahirannya.
Tidak ada yang perlu dipermasalahkan untuk menuruti
kemauan penuduh tentang bagaimana orang Israel menulis silsilahnya.
Kedua pasal tersebut sepakat menunjukkan bahwa Ner adalah kakek
dari Saul, maka tidak ada kontradiksi.


60. Kejadian 10:5, 20, 31 menulis sudah ada bahasa-bahasa tetapi
dalam Kejadian 11:1 ditulis hanya ada 1 bahasa?


JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)
Kejadian 10:5, 20, 31
10:5 Dari mereka inilah berpencar bangsa-bangsa daerah pesisir.
Itulah keturunan Yafet, masing-masing di tanahnya, dengan
bahasanya sendiri, menurut kaum dan bangsa mereka.

10:20 Itulah keturunan Ham menurut kaum mereka, menurut bahasa
mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka.
10:31 Itulah keturunan Sem, menurut kaum mereka, menurut bahasa
mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka.
Apakah kontradiksi dengan :
Kejadian 11:1
Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.
Kalau dilihat sekilas, sepertinya terdapat kontradiksi, namun kita akan
segera mengerti bahwa sebenarnya tidak ada kontradiksi jika kita juga
membaca ayat dalam Kejadian 11:6.
Kejadian 11:6
dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk
semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang
apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan
dapat terlaksana.
Jelas bahwa apa yang ditulis dalam pasal 11 ini belum
terbentuk bangsa-bangsa, karena semuanya masih satu bangsa dan
datu bahasa. Sedangkan Kitab Kejadian pasal 10 mencatat bangsabangsa yang diturunkan oleh ketiga anak-anak Nuh (Yafet, Ham dan
Sem). Dalam pasal ini Keluarga Sem disebutkan paling akhir, karena
dari keturunan Sem ini mereka akan menjadi bangsa-bangsa yang
akan diceritakan dalam perkembangan kisah selanjutnya (Abraham
adalah keturunan Sem, sehingga juga ada dikenal istilah Semit,
Semitik, Samawi).

Maka penulisan peristiwa antara Kejadian pasal 10 dan
Kejadian pasal 11, adalah bukan kejadian yang sifatnya kronologis
(berurutan). Kejadian pasal 10 adalah penulisan umum yang
menggambarkan perkembangan kemajemukan bangsa-bangsa dan
penyebarannya yang berlangsung terus sesudah peristiwa air bah, juga
tentang bagaimana keturunan Nuh mulai mendiami bumi kembali dan
beranak-cucu. Anak-anak dari Nuh (Yafet, Ham dan Sem)
menurunkan berbagai macam ras, ini meliputi seluruh proses sampai
pada zaman Abraham. Keturunan-keturunan yang diturunkan dari
anak-anak Nuh, yaitu Ham, Sem dan Yafet tentu saja awalnya mereka
semua berbicara dalam bahasa yang sama. Namun ada suatu saat
manusia menjadi angkuh, mereka ingin meninggikan diri dan
melupakan Allah.
Sesudah penulisan umum pada pasal 10 ini, penulis Kitab
Kejadian melihat kembali ke belakang episode penting yang terjadi
pada awal-awal zaman pasca air bah, yaitu peristiwa kekacauan
bahasa sesudah usaha sia-sia untuk mendirikan menara Babel
(Kejadian 11:1-9). Peristiwa ini pasti terjadi dalam abad-abad tidak
lama sesudah peristiwa air bah.
Ayat 1&2, melukiskan Nuh dan keluarganya turun dari bahtera
dengan memiliki satu bahasa dan satu perangkat istilah (yaitu bahasa
yang dipakai oleh Nuh sendiri). Ketika keturunan Nuh bertambah,
dengan sendirinya mereka melanjutkan bahasa yang sama karena
bahasa itu sudah memadai dan mereka kenal. Mereka hidup di lembah
Efrat dan sekitarnya, wilayah yang umumnya dipandang sebagai
cikal-bakal peradaban. Sinear dikenal oleh orang Ibrani sebahai nama
wilayah di Mesopotamia Utara, untuk mengacu pada seluruh wilayah

Mesopotamia. Suku-suku yang mengembara bergerak dari wilayah
pegunungan Ararat menuju ke tanah datar Babel yang subur.
Ayat 3&4, Ketika keturunan Nuh bergerak ke arah timur
mereka telah menemukan sebuah tempat untuk dijadikan tempat
tinggal. Mereka mengambil keputusan untuk mendirikan sebuah kota.
Mereka akan mendirikan sebuah menara yang sedemikian tingginya
sehingga puncaknya diharapkan dapat menyeentuh “busur langit”
diatas mereka. Bangunan raksasa ini akan memberikan keuntungan
bagi mereka dengan mana mereka bisa memperoleh kedudukan
terhormat di mata manusia dan mungkin juga di mata Allah.
Tujuan proyek tersebut ada dua. Pertama, mereka ingin
memastikan tentang kekuatan yang bisa timbul dari kesatuan. Kota
dan menara itu akan mengikat mereka menjadi kelompok yang kokoh
– bahkan tanpa pertolongan Allah sekalipun. Mereka mengatakan :
Supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi. Disisi yang lain, mereka
berniat untuk menjadikan diri mereka terkenal – “marilah kita cari
nama”. Dosa karena menganggap diri mampu berdiri sendiri dan
karena angkuh menguasai pikiran mereka. Mereka ingin memastikan
bahwa mereka tidak akan dilupakan orang. Menara itu akan
mempersatukan dan memastikan nama mereka diabadikan. Bangunan
yang menjulang itu akan merupakan monumen tentang tenaga,
keberanian, kepandaian dan kekayaan mereka. Banyak kota yang
megah seperti Babel, Sodom, Gomora, Sidon, Tirus yang mempunyai
banyak bangunan-bangunan megah dan dianggap suci. Namun pada
saat manusia menolak hukum dan kasih karunia Allah serta
meninggikan diri, malapetaka pasti menimpa mereka.

Ayat 5-6, Firman Allah “Mereka ini satu bangsa dengan satu
bahasa untuk semuanya”, sebagai penunjuk utama bahwa apa yang
diceritakan dalam pasal 11 ini pada masa itu belum terbentuk bangsabangsa. Ini beda dengan apa yang ditulis pada Kitab Kejadian pasal 10
dimana dalam pasal ini diperincikan bangsa-bangsa yang diturunkan
oleh ketiga anak-anak Nuh. Dengan demikian jelas bagi kita bahwa
apa yang tertulis dalam pasal 11 ini bukanlah kelanjutan kronologi
peristiwa setelah apa yang tertulis dalam pasal 10. Yang terjadi justru
sebaliknya, penulis Kitab Kejadian dalam pasal 11 ini menulis flashback peristiwa sebelum terjadinya bangsa-bangsa.
Ayat 7-9, TUHAN (bahasa Ibraninya: YHWH dibaca
YAHWEH) memahami keinginan dan rencana mementingkan diri
dari orang-orang yang memberontak tsb. Segera Dia bertindak dan
mengacaukan rencana mereka yang bodoh itu. Justru terhadap hal
yang ingin mereka hindari itulah yang menimpa mereka. Allah turun
tangan langsung untuk memastikan bahwa mereka tidak lagi saling
mengerti. Kemudian Dia menyebarkan mereka. Menurut beberapa
penafsir, Kata BABEL berasal dari kata Ibrani “BALAL” artinya
‘mengacaukan’, dalam bahasa Aram dikenal dengan kata “BALBEL”
dengan arti yang sama yaitu “kekacauan”, menunjukkan adanya
gangguan khusus yang membuat orang-orang itu sangat kebingungan.
Namun ada pendapat beberapa ahli bahasa Ibrani, bahwa kata
BABEL, itu artinya adalah “pintu gerbang Allah”.
Siapakah yang membangun Menara Babel ini? Kira-kira dari
keturunan Nuh dari anak yang mana yang memimpin proyek ini?. Kita
bisa melihatnya dari Kejadian 10:6-10. Yosefus, sejarahwan Yahudi
(dalam bukunya Antiquities, Buku I, bab 4), mengatakan bahwa

mereka ini adalah sejumlah orang yang mengikuti ajakan Nimrod,
keturunan Ham untuk membangun menara.
Dari peristiwa Menara babel yang diceritakan dalam Kejadian
11 mengakibatkan tercerai-berainya manusia menjadi bangsa-bangsa
dan bahasa-bahasa. Kitab Kejadian pasal 10 memerincikan bangsabangsa yang diturunkan dari anak-anak Nuh (Yafet, Ham dan Sem).

61. Apakah Saul sendiri yang menghunus pedangnya untuk
membunuh dirinya (1 Samuel 31:4-6), atau orang Amalek yang
melakukannya? (2 Samuel 1:1-16)

JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
1 Samuel 31:4-6
31:4 Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya: “Hunuslah
pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang
tidak bersunat ini menikam aku dan memperlakukan aku sebagai
permainan.” Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat
segan. Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan
dirinya ke atasnya.
31:5 Ketika pembawa senjatanya melihat, bahwa Saul telah mati, ia
pun menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, lalu mati bersama-sama
dengan Saul.
31:6 Jadi Saul, ketiga anaknya dan pembawa senjatanya, dan seluruh
tentaranya sama-sama mati pada hari itu.
2 Samuel 1:1-16

1:1 Setelah Saul mati, dan ketika Daud kembali sesudah memukul
kalah orang Amalek dan tinggal dua hari di Ziklag,
1:2 maka datanglah pada hari ketiga seorang dari tentara, dari pihak
Saul, dengan pakaian terkoyak-koyak dan tanah di atas kepala. Ketika
ia sampai kepada Daud, sujudlah ia ke tanah dan menyembah.
1:3 Bertanyalah Daud kepadanya: “Dari manakah engkau?” Jawabnya
kepadanya: “Aku lolos dari tentara Israel.”
1:4 Bertanyalah pula Daud kepadanya: “Apakah yang terjadi? Coba
ceriterakan kepadaku.” Jawabnya: “Rakyat telah melarikan diri dari
pertempuran; bukan saja banyak dari rakyat yang gugur dan mati,
tetapi Saul dan Yonatan, anaknya, juga sudah mati.”
1:5 Lalu Daud berkata kepada orang muda yang membawa kabar
kepadanya itu: “Bagaimana kauketahui, bahwa Saul dan Yonatan,
anaknya, sudah mati?”
1:6 Orang muda yang membawa kabar kepadanya itu berkata:
“Kebetulan aku ada di pegunungan Gilboa; maka tampaklah Saul
bertelekan pada tombaknya, sedang kereta-kereta dan orang-orang
berkuda mengejarnya.
1:7 Ketika menoleh ke belakang, ia melihat aku, lalu memanggil aku;
dan aku berkata: Ya tuanku.
1:8 Ia bertanya kepadaku: Siapakah engkau? Jawabku kepadanya:
Aku seorang Amalek.
1:9 Lalu katanya kepadaku: Datanglah ke mari dan bunuhlah aku,
sebab kekejangan telah menyerang aku, tetapi aku masih bernyawa.
1:10 Aku datang ke dekatnya dan membunuh dia, sebab aku tahu, ia
tidak dapat hidup terus setelah jatuh. Aku mengambil jejamang yang

ada di kepalanya, dan gelang yang ada pada lengannya, dan inilah dia
kubawa kepada tuanku.”
1:11 Lalu Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya; dan
semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga.
1:12 Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari
terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat
TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh
pedang.
1:13 Kemudian bertanyalah Daud kepada orang muda yang membawa
kabar itu kepadanya: “Asalmu dari mana?” Jawabnya: “Aku ini anak
perantau, orang Amalek.”
1:14 Kemudian berkatalah Daud kepadanya: “Bagaimana? Tidakkah
engkau segan mengangkat tanganmu memusnahkan orang yang
diurapi TUHAN?”
1:15 Lalu Daud memanggil salah seorang dari anak buahnya dan
berkata: “Ke mari, paranglah dia.” Orang itu memarangnya, sehingga
mati.
1:16 Dan Daud berkata kepadanya: “Kautanggung sendiri darahmu,
sebab mulutmulah yang menjadi saksi menentang engkau, karena
berkata: Aku telah membunuh orang yang diurapi TUHAN.”
Perlu diketahui bahwa penulis 1 dan 2 Samuel tidak
memusatkan ceriteranya pada orang Amalek. Jadi, dalam
kenyataannya Saul sendirilah yang membunuh diri, walau
kemudian orang Amalek mencari pujian dengan mengaku seolah
dialah yang membunuh Saul. Penulis menuliskan bagaimana Saul

mati dan bagaimana orang Amalek menceriterakan kematian
Saul.
Kisah orang Amalek bahwa ia sedang di Gunung Gilboa (2
Samuel 1:6) agaknya kurang benar. Ia mungkin datang untuk
menjarah barang-barang dari tubuh orang yang sudah mati.
Bagaimanapun ia telah ada disana sebelum tentara Filistin tiba dan
tidak menemukan mayat Saul sampai keesokan harinya (1 Samuel
31:8). Kita tahu bagaimana kesaksian Daud bahwa orang Amalek
beranggapan bahwa ia memberitahukan kabar baik tentang kematian
Saul (2 Samuel 1:10). Tampaknya ia mendatangi mayat Saul,
mengambil mahkota dan kalungnya kemudian mengarang cerita
tentang kematian Saul supaya ia mendapat hadiah dari Daud karena
telah menewaskan musuhnya. Tetapi rencana jahat orang Amalek ini
justru menimbulkan dampak dramatis balik bagi dirinya sendiri.
Jadi, yang benar yaitu Saul bunuh diri, namun orang
Amalek mengarang cerita bahwa dialah yang membunuh Saul.

62. Apakah Daud (1 Samuel 17:23,50) ataukah Elhanan (2 Samuel
21:19) yang membunuh Goliat?

JAWAB : (Kategori : kesalahan melihat konteks)
1 Samuel 17:23,50
17:23 Sedang ia berbicara dengan mereka, tampillah maju pendekar
itu. Namanya Goliat, orang Filistin dari Gat, dari barisan orang
Filistin. Ia mengucapkan kata-kata yang tadi juga, dan Daud
mendengarnya.
17:50 Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan
umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya,
tanpa pedang di tangan.
2 Samuel 21:19
Dan terjadi lagi pertempuran melawan orang Filistin, di Gob; Elhanan
bin Yaare-Oregim, orang Betlehem itu, menewaskan Goliat, orang
Gat itu, yang gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun.
KJV, And there was again a battle in Gob with the Philistines, where
Elhanan the son of Jaareoregim, a Bethlehemite, slew the brother of
Goliath the Gittite, the staff of whose spear was like a weaver’s beam.
bandingkan dengan :
1 Tawarikh 20:5
Maka terjadilah lagi pertempuran melawan orang Filistin, lalu
Elhanan bin Yair menewaskan Lahmi, saudara Goliat, orang Gat
itu, yang gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun.
NIV, In another battle with the Philistines, Elhanan son of Jair killed
Lahmi the brother of Goliath the Gittite, who had a spear with a shaft
like a weaver’s rod.
Teks dalam bahasa Ibrani:
VATEHI-OD MILKHAMA ET-PELISHTIM VAYAKH
ELKHANAN BEN-YAIVR YA’IR ET-LAKHMI AKHI GALYAT
HAGITI VE’ETS KHANITO KIMNOR ORGIM
Jadi Daud membunuh Goliat sedangkan Elhanan bin Yair,
seorang dari tentara perang Daud, membunuh saudaranya
Goliat. Jadi Daud dan Elhanan adalah orang yang berbeda dan
membunuh Raksasa yang berbeda.

Perlu diketahui ada 4 orang Raksasa dalam 2 Samuel 21:15-22
selain dari Goliat yang sudah dibunuh Daud. Itulah mengapa sebabnya
Daud mengambil 5 batu licin dalam 1 Samuel 17:40 ―Lalu Daud
mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima
batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang
dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di
tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.‖ Yaitu untuk
bersiap-siap menghadapi Goliat dan keempat Raksasa lainnya. Namun
kisah selanjutnya kita ketahui bahwa keempat raksasa lainnya dibunuh
oleh para pahlawan tentara Daud.

63. Bagaimana mungkin ahli sihir di Mesir dapat mengubah air
menjadi darah (Keluaran 7:22) jika semua air di Mesir telah diubah
oleh Musa dan Harun ? (Keluaran 7:20-21)

JAWAB : (Kategori : tidak membaca seluruh ayat dan memaksakan
pemikiran sendiri)
Keluaran 7:20-25
7:20 Demikianlah Musa dan Harun berbuat seperti yang difirmankan
TUHAN; diangkatnya tongkat itu dan dipukulkannya kepada air yang
di sungai Nil, di depan mata Firaun dan pegawai-pegawainya, maka
seluruh air yang di sungai Nil berubah menjadi darah;
7:21 matilah ikan di sungai Nil, sehingga sungai Nil itu berbau busuk
dan orang Mesir tidak dapat meminum air dari sungai Nil; dan di
seluruh tanah Mesir ada darah.
7:22 Tetapi para ahli Mesir membuat yang demikian juga dengan
ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga hati Firaun berkeras dan ia tidak

mau mendengarkan mereka keduanya seperti yang telah difirmankan
TUHAN. 7:23 Firaun berpaling, lalu masuk ke istananya dan tidak
mau memperhatikan hal itu juga.
7:24 Tetapi semua orang Mesir menggali-gali di sekitar sungai Nil
mencari air untuk diminum, sebab mereka tidak dapat meminum air
sungai Nil.
7:25 Demikianlah genap tujuh hari berlalu setelah TUHAN menulahi
sungai Nil.
Pertanyaan ini agak lucu. Tentu saja Musa dan Harun tidak
mengubah seluruh air, melainkan hanya air di sungai Nil (perhatikan
ayat 20). Jadi masih tersedia banyak air yang dapat digunakan oleh
ahli sihir Firaun. Kita dapat mengetahui hal ini pada ayat berikutnya
(ayat 24) yang menyebutkan “Tetapi semua orang Mesir menggali-gali
di sekitar sungai Nil mencari air untuk diminum, sebab mereka tidak
dapat meminum air sungai Nil”.
Jadi, dimanakah sulitnya untuk para ahli sihir melakukan hal
yang mirip dengan Musa dan Harun? Dalam hal ini kita perlu
membaca seluruh ayat, sehingga dapat mengartikan ayat ini dengan
semestinya.

64. Apakah Yosua dan orang-orang Israel menaklukkan Yerusalem
(Yosua 10:23,40) atau tidak? (Yosua 15:63)

JAWAB : (Kategori : salah mengartikan ayat)
Yosua 10:23,40

10:23 Dilakukan oranglah demikian, kelima raja itu dikeluarkan dari
gua itu dan dibawa kepadanya: raja Yerusalem, raja Hebron, raja
Yarmut, raja Lakhis dan raja Eglon.
10:40 Demikianlah Yosua mengalahkan seluruh negeri itu,
Pegunungan, Tanah Negeb, Daerah Bukit dan Lereng Gunung, beserta
semua raja mereka. Tidak seorang pun yang dibiarkannya lolos, tetapi
ditumpasnya semua yang bernafas, seperti yang diperintahkan
TUHAN, Allah Israel.
Yosua 15:63
Tetapi orang Yebus, penduduk kota Yerusalem, tidak dapat dihalau
oleh bani Yehuda. Jadi orang Yebus itu masih tetap diam bersamasama dengan bani Yehuda di Yerusalem sampai sekarang.
Kedua ayat di atas sesungguhnya memaparkan cerita yang
saling melengkapi dan serasi. Kebingungan justru timbul karena
kesalahan dalam mengartikan ayat ini.
Dalam Yosua 10, disebutkan bahwa raja Yerusalem-lah yang
dibunuh. Sedangkan kotanya tidak ditaklukkan (ayat 16-18 dan 22-
26). Kelima raja amorit dan tentaranya keluar dari kota-kotanya untuk
menyerang Gibeon. Yosua dan orang-orang Israel kemudian
mengurung mereka dan kelima raja tersebut melarikan diri ke gua
Makeda. Dimana tentara Yosua menangkap mereka dan membawanya
kepada Yosua, serta membunuh mereka semua. Ayat 20 menerangkan
keberadaan tentaranya, “beberapa orang dari mereka dapat lolos dan
masuk ke kota-kota (mereka) yang diperkuat”, dengan demikian jelas

bahwa kota-kota tersebut tidak ditaklukkan. Jadi hanya rajanya saja
yang ditawan sdangkan kotanya tidak.
Yosua 10:28-42 yang mencatat kelanjutan kisah dari perang
ini, menyatakan bahwa sebagian kota diduduki dan dihancurkan
seperti : Makeda, Libna, Lakhis, Eglon, Hebron dan Debir. Dan semua
kota ini terletak sebelah barat daya Yerusalem. Raja Gezer dan
tentaranya dikalahkan di Lakhis (ayat 33) demikian pula kota Yerikho
(ayat 30), tetapi kedua kota ini tidak diduduki pada waktu itu. Dalam
ayat 40&41 digambarkan batas-batas wilayah peperangan ini, serta
apa yang terjadi di daerah selatan dan barat kota Yerusalem. Dan
Gibeon, yang menjadi batas sebelah timur daerah ini, masih terletak
jauh, yaitu kurang lebih 10 mil dari barat laut Yerusalem. Maka dalam
Yosua 10 tidak diceritakan bahwa kota Yerusalem diduduki. Hal ini
diperkuat dalam Yosua 15:63 yang menyatakan bahwa Yosua tidak
menghalau penduduk setempat di Yerusalem.

65. Siapakah nama ibu dari Raja Abia? Mikhaya, anak Uriel dari
Gibea (2 Tawarikh 13:2), atau Maakha, putri Absalom? (2 Tawarikh
11:20 & 2 Samuel 13:27)

JAWAB : (Kategori: salah memahami penggunaan bahasa Ibrani)
2 Tawarikh 13:2
Tiga tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah
Mikhaya, anak Uriel dari Gibea. Dan ada perang antara Abia dan
Yerobeam. MIKHAYAHU VAT-URI’EL
2 Tawarikh 11:20

Sesudah Mahalat ia mengambil Maakha, anak Absalom, menjadi
isterinya, yang melahirkan baginya Abia, Atai, Ziza dan Selomit.
VE’AKHAREIHA LAKAKH ET-MA’AKHA BAT-AVSHALOM
VATELED LO ET-AVIYA VE’ET-ATAI VEET-ZIZA VE’ETSHELOMIT
1 Raja 15:2
Tiga tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah
Maakha, anak Abisalom. IMO MA’AKHA BAT-AVISHALOM
Kontradiksi di atas muncul sebagai akibat dari penggunaan
kata Ibrani BAT, yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti “anak
perempuan dari”. walaupun sering digunakan untuk menunjuk
keturunan pertama dari anak perempuan, ini juga dapat digunakan
untuk menunjuk keturunan/kerabat yang jauh. Misalnya saja dalam 2
Samuel 1:24, yang berbunyi ” Hai anak-anak perempuan Israel,
menangislah karena Saul…”. Kata ini digunakan sejak 900 tahun
setelah Israel hidup (yang dipanggil Yakub), yang menunjuk kepada
kaum wanita di Israel, keturunan serta kerabat perempuannya.
Jika kita mengerti hal ini, maka “pertentangan” di atas tidak
akan ada. 2 tawarikh 13:2 dengan jelas mengatakan bahwa Mikhaya
adalah anak perempuan dari Uriel. Dapat diperkirakan bahwa Uriel
menikah dengan Tamar, satu-satunya anak perempuan Absalom.
Kemudia lahirlah Mikhaya yang kemudian menikah dengan Raja
Rehobeam dan menjadi ibu dari Abia. Sedangkand alam 2 Tawarikh
11:20 dan 1 Raja 15:2, dikatakan bahwa Maakha adalah putri
Absalom, hal ini dilakukan karena lebih mudah untuk menyebut nama
kakeknya yang lebih terkenal dibandingkan dengan nama ayahnya.

Abisalom adalah nama lain dari Absalom, dan Mikhaya adalah nama
lain dari Maakha. Untuk lebih jelasnya perhatikan silsilah keluarga
dibawah ini :
Absalom/Abisalom
|
Tamar & Uriel
|
Maakha/Mikhaya & Rehobeam
|
Abia

66. Menurut penulis, apakah Raja Israel, Baesa, meninggal pada tahun
26 pemerintahan Raja Asa (1 Raja 16:6,8) atau ia masih hidup sampai
tahun ke-36 pemerintahan Raja Asa? (2 Tawarikh 16:1)

JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks sejarah)
1 Raja-raja 16:6,8
16:6 Kemudian Baesa mendapat perhentian bersama-sama dengan
nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di Tirza. Maka Ela, anaknya,
menjadi raja menggantikan dia.
Naskah Ibrani Teks Masoretik: VAYISHKAV BASHA IM-AVOTAV
VAYIKAVER BETIRTSA VAYIMLOKH ELA VENO TAKHTAV
16:8 Dalam tahun kedua puluh enam zaman Asa, raja Yehuda, Ela,
anak Baesa, menjadi raja atas Israel di Tirza. Ia memerintah dua tahun
lamanya.
Naskah Ibrani Teks Masoretik: BISHNAT ESRIM VASHESH

SHANA LE’ASA MELEKH YEHUDA MALAKH ELA VENBASHA AL-YISRA’EL BETIRTSA SHENATAYIM
2 Tawarikh 16:1
Pada tahun ketiga puluh enam pemerintahan Asa majulah Baesa,
raja Israel, hendak berperang melawan Yehuda. Ia memperkuat Rama
dengan maksud mencegah lalu lintas kepada Asa, raja Yehuda.
Naskah Ibrani Teks Masoretik: BISHNAT SHELOSHIM VASHESH
LEMAKHUT ASA ALA BASHA MELEKH-YISRA’EL ALYEHUDA VAYIVEN ET-HARAMA LEVILTI TET YOTSE VAVA
LE’ASA MELEKH-YEHUDA
Tidak ada perang sampai pada tahun ketiga puluh lima pemerintahan
Asa (2 Tawarikh 15:19)
Naskah Ibrani Teks Masoretik: UMILKHAMA LO HAYATA AD
SHENAT-SHELOSHIM VEKHAMESH LEMALKHUT ASA
Para peneliti telah menyimpulkan bahwa 36 tahun
pemerintahan Raja Asa harus dihitung mulai dari penarikan kesepuluh
suku terhadap suku Yehuda dan Benyamin yang menjadikan
negerinya dalam dua bagian, yaitu negeri Yehuda dan Israel. Bila kita
melihat dari sudut ini, maka 36 tahun masa-masa kerajaan yang
terpecah dua itu akan menjadi 16 tahun masa pemerintahan Raja Asa.
Hal ini didukung oleh data-data yang tertulis dalam Buku Raja-raja
Yehuda dan Israel, maupun catatan-catatan kontemporer yang
mengikuti kebiasaan-kebiasaan ini (Catatan : untuk penjelasan
mengenai hal ini, baca buku Encyclopedia of Bible Difficulties, 1994

Revised Edition, 1982, Zondervan Publishing House, tulisan dari
Gleason Archer ).

67. Apakah Daud membawa Tabut Perjanjian ke Yerusalem setelah
mengalahkan orang Filistin (2 Samuel 5 dan 6) atau sebelumnya ? (1
Tawarikh pasal 13 dan 14)

JAWAB : (Kategori : Tidak membaca teks secara keseluruhan)
Pertanyaan di atas tidak akan menjadi masalah, seandainya
kita membaca lebih lanjut sampai ke 1 Tawarikh 15, yang
menyebutkan bahwa Daud memindahkan Tabut Perjanjian setelah
mengalahkan orang Filistin. Alasannya adalah karena orang Israel
memindahkan Tabut Perjanjian ini dua kali. Yang pertama, mereka
memindahkannya dari Baal tempat orang Israel mengalahkan orang
Filistin, seperti yang kita baca pada 2 Samuel 5 dan 6 dan 1 Tawarikh
15. Ketika Nabi Samuel menceritakan kemenangan Daud atas Filistin,
ia menceritakan 2 kali kepindahan Tabut Perjanjian. Namun dalam 1
Tawarikh disebutkan urutannya sebagai berikut : Pertama-tama Tabut
perjanjan dipindahkan dari Baal; kemudian Daud mengalahkan orang
Filistin, dan akhirnya Tabut Perjanjian dipindahkan lagi dari rumah
Obed-Edom ke Yerusalem.
Oleh karena itu kedua teks diatas sama sekali tidak ada
pertentangan apapun. Disatu sisi Nabi Samuel lebih memilih
menceritakan seluruh Alkitab sebagai suatu kesatuan (daripada
mengisahkan sejarahnya sebagai susulan) dan di sisi lain Kitab
Tawarikh mengisahkan sejarahnya dengan cara yang berbeda. Kendati

demikian, kedua cerita di atas berlangsung pada kurun waktu yang
sama.
Kejadian serupa dapat lebih buruk dikenakan kepada
Al~Qur’an. Dalam Surat 2 kita temukan kisah mengenai kejatuhan
Adam, kemudian kemurahan Tuhan yang dinyatakan kepada bangsa
Israel, diikuti dengan tenggelamnya tentara Firaun, kisah tentang
Musa dan patung lembu yang terbuat dari emas, keluhan bangsa Israel
mengenai makanan dan minuman dan kemudian dikisahkan kembali
mengenai patung lembu emas. Menyusul ini, kita membaca mengenai
Musa dan Yesus, kemudian kita membaca tentang Musa dan patung
lembu emas, dan kemudian kisah mengenai Salomo dan Abraham.
Jika kita mau berbicara mengenai kronologis urutan waktu, maka
apakah hubungannya Musa dengan Yesus atau Salomo dengan
Abraham disitu? Jika disusun kurun waktu, seharusnya surat tersebut
memulai tulisannya dengan kisah mengenai kejatuhan Adam,
kemudian tentang Kain dan Habil, Ibrahim, Lut, Iskak, Yakub dan
Esau, Yusuf, anak-anak Yakub (Israel) dan Musa. Melihat kronologi
yang sedemikian semrawutnya dalam kitab tersebut, apakah anda bisa
menjelaskannya terlebih dahulu sebelum banyak mengkritik sesuatu
yang dianggap ada kesalahan dalam Alkitab?

68. Tuhan salah dalam batasan usia ?

a. Tuhan membatasi umur manusia hanya 120 tahun saja “Berfirman
Tuhan: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam
manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan
seratus dua puluh tahun saja” (Kejadian 6:3).

b. Batasan usia dari Tuhan itu salah besar, karena banyak orang yang
usianya melebihi 120 tahun. Adam hidup selama 930 tahun, Set hidup
selama 912, Enos 905, Kenan 910, Mahalaleel 895, Yared 962,
Henokh 365, Metusalah 969, Lamekh 777 (Kej. 5:3-32), Nuh 950
(Kej. 9:29), Sem 600, Arpakhsad 438, Selah 433, Eber hidup selama
464, Peleg 239, Rehu 239, Serug 230 (Kej. 11: 10-25), Sara 127 (Kej.
23: 1-2), Ismael 137 (Kej. 25:17), Nahor 148 (Kej. 11: 24-25), Yakub
147 (Kej. 47: 28), Lewi 137 (Kej. 6:15), Kehat 133 (Kej. 6:19), Harun
123 (Bil. 33:39), Ayub hidup selama 140 (Ayub. 42: 16-17).
JAWAB : (Kategori : salah membaca ayat)
Penyataan ini dianggap bertentangan dengan usia orang-orang
yang pada waktu itu yang mencapai usia lebih dari 120 tahun seperti
yang disebutkan dalam Kejadian 11:12-16. 120 tahun usia yang
disebutkan Allah dalam Kejadian 6:3 tidak mungkin berbicara batas
usia manusia sementara orang-orang lebih tua umurnya disebutkan
dalam Kitab kejadian yang sama (malahan dalam pasal-pasal yang
berdekatan, termasuk Nuh sendiri). Angka itu lebih ditujukan untuk
jangka waktu yang diberikan Allah, yaitu selama 120 tahun sebelum
air bah betul-betul didatangkan. Itulah jangka waktu peringatan
kepada Nuh, seperti yang kita baca dalam :
1 Petrus 3:20
yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat
kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh

sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu
delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.
Dengan demikian, ayat dalam Kejadian 6:3 akan selaras
dengan Kejadian pasal 11. Untuk lebih jelasnya, mari kita teliti ayat
dalam Kejadian 6:3 sebagai berikut :
“Berfirmanlah TUHAN: ‘Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal
[?] di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi
umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.'”
VAYO’MER YEHOVÂH LO’-YÂDON RUKHÏ VÂ’ÂDÂM
LE’OLÂM BESYAGAM HU’ VÂSÂR VEHÂYU YÂMÂV MÊ’ÂH
VE’ESRÏM SYÂNÂH
Sengaja saya bubuhkan tanda tanya [?] untuk penerjemahan
LAI tidak akan selama-lamanya tinggal. Kata Ibrani di sana adalah
LO’-YÂDON, LO’ artinya tidak sedangkan YÂDON berasal dari kata
DIN atau DUN yang artinya menghakimi, mengadili, berkelahi,
bergulat, BUKAN BERARTI TINGGAL ATAU BERDIAM DI DALAM.
Kata ini dalam Alkitab LAI ditemui di Kejadian 6:3 seperti di atas,
namun dalam ayat lain diterjemahkan menghukum (Kejadian 15:14;
Mazmur 110:6); mengadili (Kejadian 30:6; 49:16; Ulangan 32:36; 1
Samuel 2:10; Ayub 36:31; Mazmur 7:8; 9:8; 50:4; 54:1; 72:2; 96:10;
135:14); berbantah-bantah (2 Samuel 19:9), dan lain-lain, oleh karena
itulah saya membubuhkan tanda tanya atas terjemahan LAI di atas.
Kejadian 6:3 ini berbicara tentang penghakiman dan
pengadilan Allah atas kejahatan manusia, bukan tentang usia manusia.

Allah memperpanjang hari-hari (Ibrani YÕM) penghakiman dan
pengadilan-NYA selama 120 tahun menjelang air bah yang
membinasakan bumi. Perhatikan bahwa Alkitab menulis YÂMÂV
dari YÕM (hari) dan suffix pronomina -VAV (-nya) yang secara
harfiah bermakna hari-harinya, bukan umurnya. Kata umur dalam
bahasa Ibrani biasanya diterjemahkan dari kata BEN yang juga berarti
anak laki-laki.
Contoh: Keluaran 7:7,
“Adapun Musa delapan puluh tahun umurnya dan Harun delapan
puluh tiga tahun, ketika mereka berbicara kepada Firaun.”
UMOSYEH BEN-SYEMONÏM SYÂNÂH VE’AHARON BENSYÂLOSY USYEMONÏM SYÂNÂH BEDABERÂM ‘EL-PAR’OH
Selanjutnya, bandingkan dengan Kejadian 5:32, Nuh berusia
500 tahun tatkala memperanakkan Sem, Ham, dan Yafet. Ketiga anak
ini bukan kembar melainkan dilahirkan beda tahun yang kalo dijumlah
dapat saja mencapai angka 20 tahun. Kemudian Kejadian 7:6, Nuh
berusia 600 tahun tatkala air bah datang meliputi bumi, ada selang
waktu 100 tahun plus selang waktu antara ketiga anak Nuh ini lahir.
Jadi 120 tahun itu adalah selang waktu tindakan Allah
menghakimi, mengadili (Ibrani ‘DIN’ atau ‘DUN’) sejak DIA
mengucapkan firman-NYA. Jadi, 120 tahun itu bukan berbicara soal
usia manusia, namun jangka waktu sampai turunnya Banjir Besar atau
air bah.

69. Berapakah jumlah keturunan Yakub bani Israel yang datang ke
Mesir?

Dalam Kejadian 46:8-15, daftar nama-nama bani Israel yang
datang ke Mesir berjumlah 35 nama, tetapi pada ayat 15 disebutkan:
“Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah 33 jiwa.” Tuhan
tidak pandai berhitung?
JAWAB : (Kesalahan dalam melihat konteks sejarah)
Kejadian 46:8-15
46:8 Inilah nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir, yakni Yakub
(1) beserta keturunannya. Anak sulung Yakub ialah Ruben (2).
46:9 Anak-anak Ruben (2) ialah Henokh (3), Palu (4), Hezron (5) dan
Karmi (6).
46:10 Anak-anak Simeon (7) ialah Yemuel (8), Yamin (9), Ohad (10),
Yakhin (11) dan Zohar (12) serta Saul (13), anak seorang perempuan
Kanaan.
46:11 Anak-anak Lewi (14) ialah Gerson (15), Kehat (16) dan Merari
(17).
46:12 Anak-anak Yehuda (18) ialah Er (19), Onan (20), Syela (21),
Peres (22) dan Zerah (23); tetapi Er (19+) dan Onan (20+) mati di
tanah Kanaan; dan anak-anak Peres (22) ialah Hezron (24) dan Hamul
(25).
46:13 Anak-anak Isakhar (26) ialah Tola (27), Pua (28), Ayub (29)
dan Simron (30).
46:14 Anak-anak Zebulon (31) ialah Sered (32), Elon (33) dan
Yahleel (34).
46:15 Itulah keturunan Lea, yang melahirkan bagi Yakub di PadanAram anak-anak lelaki serta Dina (35) juga, anaknya yang perempuan.

Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah tiga puluh tiga
jiwa.
1. YAKUB 8. YEMUEL 15.GERSON 22. PERES 29. AYUB
2. RUBEN 9. YAMIN 16. KEHAT 23. ZERAH 30.SIMRON
3. HENOKH 10. OHAD 17. MERARI 24.HEZRON 31.ZEBULON
4. PALU 11.YAKHIN 18.YEHUDA 25. HAMUL 32. SERED
5.HEZRON 12. ZOHAR 19. ER-MATI
DI KANAAN
26.ISAKHAR 33. ELON
6. KARMI 13. SAUL 20. ONANMATI DI
KANAAN
27. TOLA 34.YAHLEEL
7.SIMEON 14. LEWI 21. SYELA 28. PUA 35. DINA
Yakub dan keturunannya dalam ayat di atas = 35 jiwa DIKURANGI
ER DAN ONAN YANG MENINGGAL sehingga
35-2=33 jiwa laki-laki dan perempuan (Yakub dan keturunannya).
Jadi, tidak ada kontradiksi, karena dari 35 orang, ada 2 orang yaitu Er
dan Onan yang sudah duluan meninggal, sehingga jumlahnya menjadi
33 orang.

70. Mana yang lebih dulu diciptakan, siang-malam atau matahari ?

a. Hari pertama, Tuhan menciptakan cahaya, lalu memisahkan terang
dan gelap. Dinamai-Nya terang itu siang dan gelap itu malam
(Kejadian 1:3-5)
b. Pada hari keempat, matahari baru diciptakan (Kejadian 1: 14-19)
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)

Ada pandangan mengenai pengadaan matahari, bulan, dan
bintang-bintang. Pandangan yang satu menyatakan bahwa matahari,
bulan, dan bintang-bintang diciptakan pada penciptaan mula-mula
yang disebut di Kejadian 1:1 dan seterusnya, tetapi bahwa pada hari
keempat berubah terang benda-benda penerang itu menembus kabut
dan mencapai bumi. Mungkin ada yang keberatan ketika mendengar
bahwa Allah telah menjadikan dua penerang yang besar.
Kejadian 1:16
“Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni
yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk
menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.”
VAYA’AS ‘ELOHÏM ‘ET-SYENÊY HAME’OROT HAGEDOLÏM
‘ET-HAMÂ’OR HAGÂDOL LEMEMSYELET HAYOM VE’ETHAMÂ’OR HAQÂTON LEMEMSYELET HALAYLÂH VE’ÊT
HAKOKHÂVÏM
Kata yang diterjemahkan menjadikan, Ibrani VAYA’AS (dan
menjadikan) dari kata hse-‘asah, belum tentu menyangkut sebuah
tindakan penciptaan, karena berbeda dari kata menciptakan, Ibrani
arb-BÂRÂ’ yang digunakan dalam Kejadian 1:1.
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”
BERÊ’SYÏT BÂRÂ’ ‘ELOHÏM ‘ÊT HASYÂMAYIM VE’ÊT
HÂ’ÂRETS
Perhatikan pula ayat berikutnya: Kejadian 1:17,

“Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,”
VAYITÊN ‘OTÂM ‘ELOHÏM BIRQÏA’ HASYÂMÂYIM LEHÂ’ÏR
‘AL-HÂ’ÂRETS
Dikatakan bahwa Allah menaruh semuanya (Ibrani, NATAN)
itu di cakrawala. Ayat ini menggunakan kata Ibrani yang biasanya
diterjemahkan memberi (NATAN), yang sering digunakan dalam
pengertian mengadakan. Bila kata “NATAN” diartikan sebagai
mengadakan, kita dapat menerjemahkan Kejadian 1:17, “Dan Allah
mengadakan (yakni mengangkat) semuanya itu di cakrawala untuk
menerangi bumi.” Jadi, ayat ini mungkin menunjuk pada pernyataan
Allah mengenai fungsi benda-benda penerang dan bukan kepada
penciptaannya. Kata menciptakan (Ibrani, BÂRÂ’) tidak digunakan di
sini.
Pandangan selanjutnya berpendapat bahwa sementara terang
diciptakan pada hari pertama, terang itu dipusatkan pada matahari
pada hari keempat; yakni, pada waktu Allah berfirman, benda-benda
angkasa mulai bekerja sebagai penerang alam semesta.

71. Mana yang lebih dulu diciptakan, hewan atau manusia?

(a) Burung diciptakan sebelum manusia (Kejadian 1: 24-27)
(b) Manusia diciptakan sebelum hewan (Kejadian 2: 7, 19)
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Kejadian 1:24-27

1:24 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis
makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis
binatang liar.” Dan jadilah demikian.
1:25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis
ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat
bahwa semuanya itu baik.
1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut
gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut
dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan
atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya,
menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan
diciptakan-Nya mereka.
Burung dijadikan bersamaan dengan binatang laut pada hari
kelima (Kejadian 1:20-23) sedangkan ayat-ayat di atas menceritakan
tentang hewan-hewan di darat. Kejadian 2 menguraikan dan
melengkapi Kejadian 1. Kejadian pasal 1 jelas merupakan bagian
integral dan penting dari seluruh catatan tentang Penciptaan.
Pada hari kelima, Allah menyebabkan kumpulan air dipenuhi
kehidupan dalam air dan angkasa dipenuhi burung-burung. Mengapa
burung-burung dan ikan-ikan diciptakan pada hari yang sama? Para
penafsir yang lebih tua menjelaskan atas dasar persamaan kedua
kelompok tersebut, sirip tampak seperti sayap. Namun, mungkin
disebabkan karena kenyataan bahwa Penciptaan berlangsung dari
yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi; ikan dan burung

menempati tempat yang lebih rendah pada skala kehidupan dibanding
binatang-binatang darat, khususnya mamalia.
Pada hari keenam, Allah menciptakan binatang-binatang darat
dan manusia. Mengapa penciptaan binatang-binatang darat dan
manusia terjadi pada hari yang sama? Sebagian penafsir menjelaskan
bahwa wujud manusia, rupa jasmaniahnya, berasal dari bumi sama
dengan binatang; daratan muncul pada hari ketiga Penciptaan, dan
sekarang pada hari ketiga dari kelompok yang kedua, yaitu hari
keenam, makhluk-makhluk yang mendiami bumi dibentuk. Namun
terdapat jurang yang besar antara binatang-binatang dan manusia.
Salah satu alasan yang utama adalah kenyataan bahwa allah
menciptakan manusia menurut rupa-Nya sendiri, menurut gambar
rohani-Nya. Gambar ilahi ini rusak oleh Kejatuhan, dihancurkan oleh
dosa; tetapi bila seseorang menaruh percaya kepada Kristus, ia
menjadi ciptaan baru dan mengambil bagian dalam kodrat Ilahi.

72. Jika manusia mempunyai keturunan, berdosa atau tidak?

(a) Tuhan menyuruh manusia untuk berketurunan (Kejadian 1: 28)
(b) Tuhan menganggap wanita yang melahirkan berdosa, sehingga
anak yang lahir harus disucikan (Imamat 12: 1-8)
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Alkitab mengajarkan bahwa seseorang itu sudah berdosa sejak berada
di dalam rahim ibunya.
“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku
dikandung ibuku.” (Mazmur 51:7)

Meskipun kelahiran merupakan peristiwa yang
menggembirakan namun kelahiran dibayangi oleh kematian. Raja
Daud menulis mazmur di atas bukan mengurangi arti kebaikan ibunya.
Barangkali ibunya dahulu menjadi teladan di antara para ibu, tetapi
Daud berpikir akan noda yang diwarisi, dosa asali yang telah
diwariskan kepadanya dan yang menjadi sebab pokok dari dosa yang
menyedihkan terhadap harkat wanita, yang disadarinya dengan sedih
pada waktu ia menggubah mazmurnya itu.
Disucikan dalam Imamat 12:1-8 bukanlah bermakna bahwa
anak yang dilahirkan itu suci alias bebas dari dosa. Perempuan yang
melahirkan disebut “TAME”, najis. Semua kotoran pada saat
melahirkan anak dipandang sebagai najis dan melambangkan akibatakibat kejatuhan umat manusia. Kenajisan harus disamakan dengan
segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak dan kekudusan
Allah. Kenajisan dapat disebabkan oleh proses menjadi orang-tua,
penyakit atau kematian. Supaya mereka dapat beribadah kepada Allah
maka kenajisan itu harus TAHER, ditahirkan, inilah yang dimaksud
dengan disucikan di atas.

73. Tuhan puas atau tidak dengan ciptaan-Nya?

(a) Puas (Kejadian 1: 31)
(b) Kecewa (Kejadian 6: 5-6)
JAWAB: (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Kejadian 1:31,
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat
baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.”
Ayat di atas tidak menulis bahwa Allah itu puas tetapi bahwa
segala yang diciptakan oleh Allah itu baik adanya. Tapi yang amat
baik ini dirusakkan oleh manusia karena manusia memberontak
kepada Allah. Manusia selengkapnya rusak, roh dan badannya. Jadi
yang menjadikan jahat adalah manusia. Manusia diancam hukuman
Allah sebagai manusia lengkap, badan dan jiwa. Orang percaya
diselamatkan selengkapnya, badan dan jiwa. Badan yang rusak akan
dibangkitkan sebagai badan yang tanpa dosa, sôma pneumatikon,
tubuh rohaniah (1 Korintus 15:44), sômata epourania, tubuh surgawi
(1 Korintus 15:40).
Kejadian 6:5-6,
“Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan
bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan
semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan
manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.”
Naskah Ibrani Teks Masoretik: VAYINÂKHEM YEHOVÂH KÏ-
‘ÂSÂH ‘ET-HÂ’ÂDÂM BÂ’ÂRETS VAYIT’ATSÊV ‘EL-LIBO
Allah tidak dapat dikenal oleh manusia karena Dia sama sekali
berbeda dengan manusia. Tetapi Dia berkenan untuk menciptakan
manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Gambar dan rupa yang
diciptakan-Nya inilah yang dipakai Allah untuk menyatakan diri-Nya
kepada manusia. Alkitab adalah pernyataan Allah secara
anthropomorf (dengan bentuk manusiawi). Dalam Alkitab Allah

dikatakan mempunyai mata, telinga, mulut, tangan, bahkan Al~Qur’an
pun menulis wajah Allah.
Q.S. 2:115
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu
menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas
(rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” –
“Wa lillaahil masyriqu wal maghribu fa ainamaa tuwalluu fa tsamma
wajhullaahi innallaaha waasi’un ‘aliim.”
Alkitab menulis pula bahwa Allah bersorak-sorak, dan
bergirang, jemu, menyesal, dan seterusnya. Dengan demikian manusia
dapat menangkap pernyataan Allah. Dengan sendirinya pula harus
diingat bahwa ini semua dalam bentuk manusia dan tidak tepat
dengan keadaan Allah yang sebenarnya.
Contoh lain, kita mendengar dan membaca ungkapan tangan
Allah tidak kurang panjangnya untuk menolong kita. Apakah tangan
Allah itu panjang sekali? Atau seberapa panjang tangan Tuhan? Tentu
saja ini adalah salah bentuk gaya bahasa anthropomorf.
Bahasa Ibrani menggunakan kata NAKHAM yang
diterjemahkan dengan menyesal. Makna kata ini sebenarnya cukup
luas yakni bahwa apa yang dikehendaki oleh Tuhan ternyata tidak
terlaksana, hal itu tidak menyenangkan dan menghibur-NYA.
Bayangkanlah, bagaimana jika seandainya manusia berbuat
sesuai dengan kehendak-Nya, menuruti hukum-hukum-Nya? Apakah
Allah merasa gembira? Bayangkan pula sebaliknya, bagaimana jika
seandainya manusia berbuat dosa, melanggar hukum dan perintah

Allah? Apakah Allah merasa marah, kesal, dan sebagainya? Inilah
yang digambarkan dengan kata Ibrani NAKHAM.

74. Tuhan dikenal sebagai The Lord/YHWH/Yahweh/Yehova pada
era Musa atau sebelumnya?

(a) Jauh sebelum era Musa (Kejadian 2: 4, 4: 26, 12: 8, 22: 14-16, 26:
25)
(b) Tuhan baru menyatakan diri-Nya kepada Musa, dan sebelumnya
belum dikenal (Keluaran 6: 2-3)
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
Agaknya memang sulit dimengerti jika Keluaran 6:2 diartikan
secara harfiah, mengingat kata YHVH atau YHWH atau YaHWeH
bukanlah pertama kali dinyatakan kepada Musa, tetapi sudah dikenal
jauh sebelumnya.
Kejadian 4:1
Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan
mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata
perempuan itu: ‘Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan
pertolongan TUHAN.’
KJV, LORD.
Transliterasi Ibrani, YEHOVAH
Kejadian 4:26
Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya
Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN.
KJV, call upon the name of the LORD.
Hebrew Translit, LIKRO BESHEM YEHOVAH
Kejadian 26:25
Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama
TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya
menggali sumur di situ.
KJV, called upon the name of the LORD.
Transliterasi Ibrani, VAYIKRA BE’SHEM YEHOVAH
Kata YHVH juga dijumpai pada nama orang dan nama tempat,
sebelum era Musa, ada beberapa nama yang dihubungkan dengan
YAH dan YHVH :
[1] Tanah dan gunung Moria, Ibrani: “MORIYAH”, dari “RA’AH”,
“melihat” dan “YAH”, bentuk singkat dari YHVH.
Kejadian 22:2
Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi,
yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di
sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan
Kukatakan kepadamu.”
Transliterasi Ibrani, HAMORIYAH
[2] “TUHAN menyediakan” (Kejadian 22:14), Ibrani: “YHVHYIREH”, nama simbolik yang diberikan oleh Abraham kepada
gunung Moria.
Kejadian 22:14
Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab
itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan
disediakan.”
KJV, Jehovah jireh
NIV, The LORD Will Provide
Transliterasi Ibrani, YEHOVAH YERA’EH
[3] Yokebet, ibu Musa, Ibrani: “YOKHEVED” dari “YHVH” dan
“KAVAD”, “kemuliaan”.
Keluaran 6:20
Dan Amram mengambil Yokhebed, saudara ayahnya, menjadi
isterinya, dan perempuan ini melahirkan Harun dan Musa baginya.
Umur Amram seratus tiga puluh tujuh tahun.
KJV, Jochebed
Transliterasi Ibrani, ET-YOKHEVED
Nama ibu Musa, YOKHEBED, adalah bentuk singkat dari kata
YHVH plus KÂVAD atau KÂVED, menghormati, memuliakan;
Sehingga nama ibu Musa itu berarti “YHVH adalah kemuliaan”.
Bagaimana orang-orang sebelum Musa di atas bisa memanggil
nama YHVH sedangkan nama YHVH baru dinyatakan di era Musa?
Musa tentu tidak akan sembarangan menulis kata itu di sana jika tidak
ada pengilhaman oleh Roh Kudus. Untuk itu mari kita perhatikan
ayatnya dan kita mengerti konteksnya secara keseluruhan dengan
merujuk ayat sebelum dan sesudahnya :
Keluaran 6:2
Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub
sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN
Aku belum menyatakan diri.
KJV, JEHOVAH
Hebrew Translit, YEHOVAH
Nama “YHVH” (TUHAN) tidak dikenal oleh para leluhur
Israel? Tetapi itu belum tentu merupakan arti dari pernyataan ini.
Allah belum menyatakan diri dengan sifat “YHVH” kepada Abraham,
sebagaimana akan dilakukanNya terhadap Israel saat ini. Selaku
YHVH, Allah sekarang akan menebus bangsa Israel (ayat 5) : Sebab
itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan
membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu
dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang
teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat.
Allah akan mengadopsi mereka sebagai umat-Nya :
Keluaran 6:6
Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi
Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN,
Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir.
Dan Allah akan membawa mereka ke negeri yang dijanjikan :
Keluaran 6:7
Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah
Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan
Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah
TUHAN.”
Melalui hal-hal itulah mereka akan mengenal SIFAT ALLAH
yang berfirman “Akulah TUHAN” (ayat 1)
Keluaran 6:1
Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Akulah TUHAN…‖
KJV: And God spake unto Moses, and said unto him, I am the LORD:
Transliterasi Ibrani, VAYEDABER ELOHIM EL-MOSHEH
VAYOMER ELAV ANI YEHOVAH
Itulah yang dimaksud dalam Keluaran 6:2, bahwa saat itulah
Allah menyatakan dirinya baik nama-Nya maupun sifat-sifat-Nya
kepada Israel secara khusus, lebih dari kepada para leluhur mereka.
Lebih tepatnya terjemahan Keluaran 6:2-3 berbunyi: Dan
berfirmanlah Elohim kepada Musa, ―Akulah YAHWEH. Dan Aku
telah menampakkan diri kepada Abraham, kepada Ishak, dan kepada
Yakub, sebagai El-Shadday, dan Nama-Ku YAHWEH; bukankah Aku
sudah dikenal oleh mereka?‖ ini sesuai dengan Kitab Suci-ILT.
Jadi, ayat Keluaran 6:2-3 tidak menyatakan bahwa Nama YAHWEH
baru diperkenalkan pertama kalinya kepada Musa, tapi jauh
sebelumnya, ayat ini bersifat penegasan sambil bernada tanya,
―…dan Nama-Ku YAHWEH; bukankah Aku sudah dikenal oleh
mereka?‖ jadi nama YHWH/YAHWEH memang sudah dikenal
jauh sebelum zaman Musa.

75. KEJADIAN 2:17 VS KEJADIAN 5:4-5 (didukung KEJADIAN
3:4).

Dalam Kejadian 2 TERTULIS, “…sebab pada hari engkau
(Adam) memakannya, PASTILAH engkau mati”, TETAPI dalam
Kejadian 5, “Adam dan Hawa, setelah Adam berumur 800 tahun,
memperanakkan laki-laki dan perempuan hingga umur Adam
mencapai 930 tahun”. Dalam hal ini, ALKITAB mencatat bahwa
SETAN lebih jujur dibanding Tuhan, sebagaimana pernyataan setan
dalam Kejadian 3:4 ketika membujuk Hawa untuk memakan buah
terlarang dengan mengatakan, “sekali-kali kamu (Hawa) TIDAK akan
mati”. Kenyataannya, setelah Adam dan Hawa memakan buah
terlarang itu, keduanya tetap hidup dan bahkan memperanakkan lakilaki dan perempuan. Benar-benar mengherankan!
JAWAB: (Kategori : salah memahami cara kerja Allah dalam sejarah)
Lihat Jawaban no. 76.

76. Waktu Adam memakan buah larangan, seharusnya pada hari itu
Adam mati atau tidak?

(a) Tuhan melarang Adam memakan buah larangan, jika dilanggar
maka Adam akan mati hari itu juga (Kejadian 2: 17)
(b) Adam memakan buah larangan itu, dan tetap hidup selama 930
tahun (Kejadian 5: 5)

JAWAB : (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
Kejadian 2:17
“tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu,
janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya,
pastilah engkau mati.”
versus
Kejadian 5:5
“Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia
mati.”
Alkitab menggambarkan kematian dalam tiga bentuk, yaitu :
1. Mati secara fisik, yang ditandai dengan berakhirnya kehidupan.
2. Mati secara roh, yang ditandai dengan terputusnya hubungan
dengan Allah.
3. Kematian kekal, yaitu di dalam neraka.
Mati yang dibicarakan dalam Kejadian 2:17 adalah kematian
nomor 2, yaitu terpisah dari Allah, sedangkan kematian dalam
Kejadian 5:5 adalah kematian yang pertama, yaitu mati secara fisik
yang diakhiri dengan berakhirnya kehidupan di dunia ini.
Bahasa Indonesia sendiri mencatat makna beragam: hilang
nyawa, tidak hidup lagi, padam, buntu, tidak digunakan, tidak
bergerak, diam atau berhenti, tidak ada kegiatan.
Kebanyakan Muslim melihat hal di atas sebagai kontradiksi
karena tidak memahami pengertian mati secara rohani yang artinya
terpisah total dari Allah, karena dia tidak menyadari bahwa Adam
memiliki hubungan langsung dengan Allah yang dimulai sejak
pertama kali tinggal di Taman Eden. Padahal pemisahan rohani (yaitu
kematian rohani jelas-jelas ditunjukkan dalam kejadian pasal 3 ketika
Adam diusir dari Taman Eden dan jauh dari hadirat Allah.
Kejadian 2:17
“tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu,
janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya,
pastilah engkau mati.”
Bahasa Ibrani Teks Masoretik: UMÊ’ ÊTS HADA’AT TOV VÂRÂ’
LO’ TO’KHAL MIMENU KÏ BEYOM ‘AKHÂLKHA MIMENU
MOT TÂMUT
Pohon pengetahuan ‘ÊTS HADA’AT sebagai pusat pencobaan,
tertanam pada jalan Adam yang menuju ke pohon hidup, yaitu meterai
sakramental bagi kebahagiaan sempurna yang ditawarkan. Pastilah
engkau mati, MOT TAMUT, sekalipun tujuan yang benar dari
pencobaan itu adalah hidup, namun hukum perjanjian Allah itu
menempatkan Adam, seperti halnya dengan Israel di kemudian hari, di
hadapan hidup dan kebaikan, maut dan kejahatan.
Ulangan 30:15-18
30:15 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan
dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,
30:16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk
mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang
ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan
peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan
diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk
untuk mendudukinya.
30:17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar,
bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah
lain dan beribadah kepadanya,
30:18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa
pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke
mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk
mendudukinya.”
“Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak
akan mati,'” LO’-MOT TEMUTUN (Kejadian 3:4)
Semula Iblis dalam wujud ular menantang penetapanpenetapan hukum perjanjian, yaitu kaidah Allah bagi hidup sekarang
ini; sekarang ia mempertentangkan hukuman-hukumannya, yaitu
penafsiran Allah tentang masa depan.
Semua manusia, yang percaya dan yang tidak percaya, akan
mati. Akan tetapi, kata mati di dalam Alkitab, memiliki lebih dari satu
arti. Penting untuk mengerti hubungan orang percaya dengan berbagai
arti kematian.
Pasal-pasal Kejadian 2:1-3:24 mengajarkan bahwa kematian
memasuki dunia karena dosa. Orang-tua pertama kita diciptakan
dengan kemampuan untuk hidup selama-lamanya; ketika mereka tidak
menaati perintah Allah, mereka dijatuhi hukuman atas dosa itu, yaitu
kematian.
Adam dan Hawa tunduk kepada kematian jasmaniah. Allah
telah menempatkan pohon kehidupan di tengah taman Eden agar
dengan terus-menerus memakan buahnya umat manusia tidak akan
pernah mati. Tetapi setelah Adam dan Hawa memakan buah dari
pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Allah
mengatakan, engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.
Sekalipun mereka tidak mati secara jasmaniah pada hari mereka
memakan buah itu, mereka kini tunduk pada hukum kematian sebagai
akibat dari kutukan Allah.
Adam dan Hawa juga mati secara moral. Allah mengingatkan
Adam bahwa ketika ia makan buah yang terlarang itu, ia pasti akan
mati. Peringatan itu sangat serius. Sekalipun Adam dan Hawa tidak
mati secara jasmaniah pada hari itu, mereka mati secara moral, yaitu
tabiat mereka menjadi berdosa. Sejak Adam dan Hawa, semua orang
dilahirkan dengan tabiat berdosa, yaitu suatu keinginan bawaan untuk
mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan Allah atau orang lain.
Adam dan Hawa juga mati secara rohani ketika mereka tidak
taat kepada Allah, yaitu hubungan intim mereka yang dahulu dengan
Allah menjadi rusak. Mereka tidak lagi mengharapkan saat-saat
berjalan dan berbincang-bincang dengan Allah di taman; sebaliknya
mereka bersembunyi dari hadapan-Nya. Di bagian lainnya, Alkitab
mengajarkan bahwa terlepas dari Kristus, semua orang terasing dari
Allah dan dari hidup di dalam-Nya; mereka mati secara rohani.
Akhirnya, kematian sebagai akibat dosa mencakup kematian
kekal. Hidup kekal seharusnya menjadi akibat ketaatan Adam dan
Hawa; sebaliknya, prinsip kematian kekal telah diberlakukan.
Kematian kekal adalah hukuman dan pemisahan kekal dari Allah
sebagai akibat ketidaktaatan, yaitu menjalani hukuman kebinasaan
selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan
kekuatan-Nya.
Dalam keimanan Kristiani, satu-satunya cara untuk lolos dari
semua aspek kematian rohani ini ialah melalui Yesus Kristus yang
telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak
dapat binasa. Dengan kematian-Nya, Ia mendamaikan kita dengan
Allah, sehingga memutarbalikkan pemisahan dan pengasingan rohani
yang dihasilkan dosa. Oleh kebangkitan-Nya, Ia mengalahkan dan
mematahkan kuasa Iblis, dosa, dan kematian jasmani. Umat Allah di
PL sudah bersaksi bahwa orang percaya tidak akan selamanya tinggal
di dalam kubur.
Sekalipun orang percaya di dalam Kristus memiliki jaminan
hidup kebangkitan, mereka masih harus mengalami kematian jasmani.
Tetapi orang percaya menghadapi kematian dengan sikap yang
berbeda dari orang tidak percaya.
Sekedar tambahan, bahwa orang yang belum mati tetapi akan
mati pun disebut mati di dalam Alkitab, misalnya:
Zakharia 11:9
“Lalu aku berkata: ‘Aku tidak mau lagi menggembalakan kamu; yang
hendak mati, biarlah mati (Ibrani: HAMÊTÂH TÂMUT); yang
hendak lenyap, biarlah lenyap, dan yang masih tinggal itu, biarlah
masing-masing memakan daging temannya!'”

HAMÊTÂH TÂMUT, harfiah orang mati itu mati
diterjemahkan “yang hendak mati, biarlah mati padahal yang disebut
orang mati itu belum mati tetapi akan mati. Kehancuran suatu bangsa
pun menggunakan kata Ibrani MUT ini misalnya Amos 2:2 menulis
bahwa Moab akan mati di dalam kegaduhan. Jadi, makna mati di
dalam Alkitab tidak semata-mata berhubungan dengan kematian fisik
belaka. Jadi jelas, tidak ada kontradiksi.

77. Tuhan selalu menunjukkan keadilan atau tidak?

(a) Tuhan menerima korban persembahan dari Habel, tapi Tuhan
menolak persembahan dari Kain tanpa sebab yang jelas (Kejadian 4:
4-5)
(b) Tuhan selalu menunjukkan keadilan dan Dia tidak memandang
semua manusia dengan sepihak (II Korintus 19: 7, Kisah Para Rasul
10: 34, Roma 2: 11)
JAWAB : (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
Hakekat Allah tidak dapat dihampiri oleh akal manusia secara
mutlak. Bagaimana menghubungkan kedua hakekat Allah di bawah
ini:
1. Allah adalah Maha Kudus, Dia membenci dan menghukum dosa;
2. Allah adalah Maha Kasih, Dia mengampuni dosa?

Allah itu memang Maha Adil, namun hakekat ini tidak dapat
dipisahkan dengan hakekat-Nya yang lain. Alkitab menulis bahwa
Allah itu Adil:
Kejadian 18:25
“Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh
orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar
itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang
demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak
menghukum dengan adil?” (Bahasa Ibrani: HASYOFÊT KOLHÂ’ÂRETS LO’ YA’ASEH MISYPÂT)
Jika demikian, mengapa Allah tidak menerima persembahan
Kain? Jelas, persembahan itu tidak layak. Jika Perjanjian Lama tidak
menjelaskan alasan mengapa persembahan Habel diterima, kita dapat
menyelidikinya di dalam Perjanjian Baru.
Tuhan menerima persembahan Habel karena dia menghampiri
Allah dengan iman yang benar dan pengabdian kepada kebenaran.
Ibrani 11:4
“Karena iman (pistei-Yunani) Habel telah mempersembahkan kepada
Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu
ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah
berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih
berbicara, sesudah ia mati.”
1 Yohanes 3:12
“bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh
adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala
perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.” (Yunani: tou
adelphou autou dikaia)
Persembahan Kain ditolak karena ia tidak memiliki iman yang
taat dan perbuatannya jahat. Allah berkenan atas persembahan dan
ucapan syukur hanya apabila kita sungguh-sungguh berusaha hidup
benar sesuai dengan kehendak-Nya.

78. Tuhan maha melihat atau tidak?

(a) Tuhan mencari dan bertanya lokasi seseorang (Kejadian 3: 8-9,
4:9)
(b) Tuhan dapat melihat semuanya dan tidak ada yang tersembunyi
dari penglihatannya. (Amsal 15: 3, Yeremia 16: 17, 23: 24-25, Ibrani
4:13)
JAWAB : (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
Kejadian 3:8-9,
Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang
berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah
manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohonpohonan dalam taman.
“Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman
kepadanya: ‘Di manakah engkau?'”
Bahasa Ibrani Teks Masoretik: VAYIQRÂ’ YEHOVÂH ‘ELOHÏM
‘EL-HÂ’ÂDÂM VAYO’MER LO ‘AYEKÂH
Kejadian 4:9,
Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?”
Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”
Amsal 15: 3,
Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang
baik.
Yeremia 16: 17 Sebab Aku mengamat-amati segala tingkah langkah
mereka; semuanya itu tidak tersembunyi dari pandangan-Ku, dan
kesalahan merekapun tidak terlindung di depan mata-Ku.
Yeremia 23: 24-25, Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri
dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia?
demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan
bumi? demikianlah firman TUHAN. Aku telah mendengar apa yang
dikatakan oleh para nabi, yang bernubuat palsu demi nama-Ku dengan
mengatakan: Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi!
Ibrani 4:13,
Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya,
sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang
kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.
Allah jelas mengetahui Adam bersembunyi di mana, namun
Dia menghendaki jawaban atau pengakuan dari Adam sendiri. Allah

melihat segala-galanya. Hal yang sama dapat dijumpai dalam
peristiwa Kain-Habel. Dia bertanya kepada Kain, “Dimanakah
Habel?” tidak berarti bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan Kain
melainkan Kain menyembunyikan bukti dosanya. Allah menghendaki
pengakuan yang sesungguhnya dari Kain namun dengan pengakuan
semu akan suatu dosa kelalaian, Kain berusaha menutupi dosa
perbuatannya.
Dalam iklan televisi, seorang suami memuji istrinya karena
pintar merawat rumah tangga. Dikatakannya kepada istrinya, “Istri
siapakah ini?” Masak suami ‘nggak kenal istri sendiri?
Tafsiran lain : Setelah Adam dan Hawa berbuat dosa, Allah
bertanya kepada Adam : “Adam, dimanakah engkau…..?”
Allah tentu tahu bahwa Adam bersembunyi di semak-semak,
karena Ia Maha Tahu. Pertanyaan ini diungkapkanNya karena Allah
sedih….., sebab Allah yang Kudus itu tidak lagi dapat berhubungan
dengan manusia seperti dulu. Karena manusia telah jatuh dalam dosa.
Ini adalah suatu ungkapan yang mempunyai arti sangat dalam, bahwa
Allah sungguh berduka. Allah yang suci itu dan tidak dapat
berkompromi dengan dosa. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah
dan tak lepas dari hukuman Allah. Hukuman ini diberikan bukan
karena Allah itu kejam, melainkan Allah itu Maha Adil (Yesaya
24:16). Allah yang Maha Adil selalu menghukum yang bersalah
seperti tertulis : “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). Amin.

79. Bisa sembunyikah manusia dari hadapan Tuhan? Kasus Adam

(a) Manusia dapat pergi dari hadapan Tuhan (Kejadian 3: 8, 4: 16)

(b) Setiap orang tidak dapat sembunyi dari hadapan Tuhan. Tuhan
memenuhi langit dan bumi. (Yeremia 23: 23-24)
JAWAB : (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
Kejadian 3: 8,
Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang
berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah
manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohonpohonan dalam taman.
Kejadian 4: 16, Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia
menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.
Yeremia 23: 23-24,
Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman
TUHAN, dan bukan Allah yang dari jauh juga? Sekiranya ada
seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian,
masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN.
Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman
TUHAN.
Adam dan Hawa menganggap bahwa mereka dapat pergi dari
hadapan Allah dengan bersembunyi, tentu saja hal itu hanyalah
anggapan manusia itu sendiri. Ungkapan Kain pergi dari hadapan
TUHAN (Kejadian 4:16) berarti Kain pergi dari tempat TUHAN
berbicara dengannya bandingkan dengan ayat di bawah ini:

Yeremia 23:39
“maka sesungguhnya, Aku akan menangkap kamu dan membuang
kamu dari hadapan-Ku (Bahasa Ibrani: VENÂTASYTÏ ‘ETKHEM),
kamu serta kota yang telah Kuberikan kepadamu dan kepada nenek
moyangmu itu.”

80. Apakah Nuh membawa sepasang-sepasang dari semua jenis
makhluk hidup (Kejadian 6:19-20) ataukah 7 pasang binatang “tidak
haram”? (Kejadian 7:2; lihat juga Kejadian 7:8-9)

JAWAB : (Kategori : Salah mengutip ayat)
Kejadian 6:19-20,
“Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya
haruslah engkau bawa satu pasang (Ibrani: SYENAYIM) ke dalam
bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan
engkau; jantan dan betina (Ibrani: ZÂKHÂR UNEQÊVÂH) harus
kaubawa. Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari
segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus
datang satu pasang (Ibrani: SYENAYIM) kepadamu, supaya
terpelihara hidupnya.”
Satu pasang (Ibrani “SYENAYIM”, harfiah dua); “ZÂKHÂR
UNEQÊVÂH YIHYU”, yaitu jantan dan betina, ayat ini belum
menunjukkan jumlah, hanya membedakan kelamin. Kitab Kejadian
Pasal 6 yang tidak menyebutkan bilangan apapun untuk jenis binatang
yang “tidak haram”. Sedangkan Pasal 7 secara khusus memisahkan
antara binatang yang haram dan “tidak haram”.
Kejadian 7:2-3
“Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh
pasang (SYIV’ÂH SYIV’ÂH), jantan dan betinanya, tetapi dari
binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari
burung-burung di udara tujuh pasang (SYIV’ÂH SYIV’ÂH), jantan
dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi.”
Ayat ini menyebutkan bahwa Nuh harus membawa 7 pasang binatang
yang “tidak haram” dan satu pasang untuk binatang “haram” yang
mana saja. Ayat di atas baru merinci dua (“SYENAYIM”) yaitu
jantan dan betina (ZÂKHÂR UNEQÊVÂH YIHYU) terdiri atas tujuh
pasang (SYIV’ÂH SYIV’ÂH, harfiah tujuh-tujuh) yaitu jantan dan
betinanya (‘ÏSY VE’ISYTO, harfiah suami dan istrinya jika digunakan
untuk manusia). Jika Kejadian 6:19 merujuk kepada jenis kelamin,
maka ayat di atas merinci dalam kuantitas. Tujuh pasang yang
dimaksud, enam pasang untuk melanjutkan keturunan sedangkan yang
satu pasang lagi untuk keperluan korban (Kejadian 8:20).
Kelihatannya aneh jika soal ini perlu dipermasalahkan, sebab
alasan memasukkan binatang yang tidak haram sebanyak tujuh pasang
mudah dipahami dan sangat jelas: yaitu karena mereka menggunakan
binatang “tidak haram” itu sebagai persembahan korban bakaran
setelah banjir surut (seperti yang diceritakan pada Kejadian 8:20).
Seandainya binatang-binatang yang tidak haram itu tidak lebih dari

satu pasang, tentu mereka punah setelah mereka dipersembahkan di
mezbah. Sedangkan untuk binatang-binatang dan burung-burung yang
haram, satu pasang saja sudah cukup karena mereka tidak diperlukan
sebagai korban bakaran.
Kejadian 7:8-9, Dari binatang yang tidak haram dan yang haram, dari
burung-burung dan dari segala yang merayap di muka bumi, datanglah
sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, jantan dan betina,
seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh.
Jelas bahwa tidak ada pertentangan diantara kedua ayat yang
dipertanyakan. Beberapa orang berpendapat bahwa perbedaanperbedaan angka ini: 2 dan 7, mengandung semacam kontradiksi dan
berusaha memberikan dukungan dengan menyebutkan bahwa dalam
Kejadian 7:8-9 telah membuktikan masuknya binatang-binatang
tersebut ke dalam bahtera secara sepasang demi sepasang. Namun
perlu diperhatikan bahwa ayat ini tidak bicara mengenai sepasangsepasang binatang yang masuk ke dalam bahtera, melainkan hanya
menyebutkan bahwa pasangan binatang yang tidak haram dan yang
haram, atau burung-burung dan semua makhluk yang masuk ke dalam
bahtera jantan dan betina.

81. Tuhan menghendaki kekacauan atau tidak?

(a) Di Babel, Tuhan mengacaubalaukan bahasa di seluruh bumi
(Kejadian 11:9)
(b) Paulus berkata bahwa Tuhan tidak menghendaki kekacauan (I
Korintus 14:33)

JAWAB : (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
Kedua ayat di atas berbeda konteksnya dan ruang lingkupnya.
Kejadian 11:9
Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena
di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari
situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.
1 Korintus 14:33
“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.”
Naskah Yunani Textus Receptus: ou gar estin akatastasias ho theos
all eirênês hôs en pasais tais ekklêsiais tôn hagiôn
1 Korintus 14:26-40 adalah tentang ibadah yang teratur. Kekacauan,
Yunani akatastasia dari akastatos artinya adalah tidak stabil, tidak
tertib, tidak teratur, sama sekali tidak berhubungan dengan Allah
mengacaubalaukan bahasa di seluruh bumi.

82. Tanah Kanaan : Tuhan menepati janji atau tidak kepada Abraham?

1. Tuhan berjanji akan memberikan tanah Kanaan kepada Abraham
(Kejadian 17:8)
2. Abraham meninggal pada umur 175 tahun tetapi janji Tuhan belum
terpenuhi (Kejadian 25:8, Kisah Para Rasul 7:2-5, Ibrani 11:13)
JAWAB: (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
Kejadian 17:8
“Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang
kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan
Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan
menjadi Allah mereka.”
Kejadian 25:8
lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan
suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.
Kisah Para Rasul 7:5
“dan di situ Allah tidak memberikan milik pusaka kepadanya, bahkan
setapak tanahpun tidak, tetapi Ia berjanji akan memberikan tanah itu
kepadanya menjadi kepunyaannya dan kepunyaan keturunannya,
walaupun pada waktu itu ia tidak mempunyai anak.”
Naskah Yunani Textus Receptus: kai ouk edôken autô klêronomian
en autê oude bêma podos kai epêggeilato autô dounai eis kataskhesin
autên kai tô spermati autou met auton ouk ontos autô teknou
Ada perbedaan antara harta pusaka (Yunani,”klêronomia”,
pusaka, warisan) dengan milik (“kataskhesis”). Tanah Kanaan
bukanlah klhronomia-klêronomia bagi Abraham, tanah yang
menjadi pusakanya adalah ladang Efron yang terletak di Makhpela
(Kejadian 23:17). Tanah ini diperoleh dengan pembelian dan bukan
merupakan pemberian langsung dari Allah. Tanah Kanaan bukan
merupakan “klêronomia” melainkan “kataskhesis”. Dalam Alkitab
kata “klêronomia” diterapkan kepada milik-kepunyaan terhadap
sesuatu bukan karena jasa dalam bekerja melainkan karena pembelian,
perolehan dalam perang, ataupun karena pembagian.
Milik, Yunani “kataskhesis” berasal dari kata kerja “katekho”,
berpegang teguh, menahan (seseorang, supaya tinggal lebih lama)”,
jadi “kataskhesis” cenderung bermakna spiritual ketimbang
material.
2 Korintus 6:10
“sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai
orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak
bermilik (mêden ekhontes), sekalipun kami memiliki segala sesuatu
(panta katekhontes).”
Naskah Yunani Textus Receptus: hôs lupoumenoi aei de khairontes
hôs ptôkhoi pollous de ploutizontes hôs mêden ekhontes kai panta
katekhontes
Allah memang berjanji memberikan tanah itu kepadanya
(Abram, sebelum bernama Abraham) dalam arti milik (kataskhesis)
kepada keturunan Abram karena milik keturunannya berarti miliknya.
Ini adalah ungkapan yang biasa dalam bahasa Ibrani.
Kejadian 12:7
“Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman:
‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka
didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan
diri kepadanya.”
Pusaka yang sesungguhnya, yang sudah diungkapkan secara
lebih spiritual dalam Perjanjian Lama, bukannya tanah Kanaan,
melainkan berkat ilahi, kota surgawi, tanah terjanji yang
sesungguhnya, Kerajaan Allah, yaitu hidup kekal yang diberikan
sebagai jaminan harapan; akhirnya Allah sendiri.
Ulangan 10:9
“Sebab itu suku Lewi tidak mempunyai bagian milik pusaka bersamasama dengan saudara-saudaranya; Tuhanlah milik pusakanya, seperti
yang difirmankan kepadanya oleh TUHAN, Allahmu.”
Mazmur 16:5
“Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau
sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.”
Mazmur 73:26
“Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan
bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”

83. Lot adalah orang yang benar atau tidak? atau apakah incest
dibenarkan?

1. Ketika Lot mabuk, kedua anaknya tidur dengannya, lalu hamil dan
memiliki anak dari ayah mereka (Kejadian 19:30-38)
2. Lot adalah orang yang benar (II Petrus 2:7)
JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)
II Petrus 2:7
tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus
menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan
yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja.
Meskipun Lot adalah orang benar (Yunani: dikaios, 2 Petrus
2:7), namun ia bukanlah orang yang tidak bersalah, apalagi orang
yang tidak berdosa.
Lot adalah anak laki-laki Haran, adik Abraham yang paling
muda, sehingga Lot adalah kemenakan Abraham. Terkecuali riwayat
hidupnya dalam Kitab Kejadian, namanya tidak disebut lagi dalam
Perjanjian Lama kecuali sebagai acuan untuk turunannya.
Nama Lot disebut oleh Yesus dalam Lukas 17:28-32 dan juga
oleh Petrus dalam 2 Petrus 2:7 dan ayat-ayat berikutnya.
Lot menyertai Terah, Abram dan Sarai tatkala mereka berjalan
dari Ur ke Haran, dan pergi bersama Abram dan Sarai ke Kanaan,
terus ke Mesir, dan kemudian kembali ke Kanaan lagi. Kelemahan
wataknya pertama kali nampak tatkala ia demi pertimbangan
mementingkan diri sendiri memilih lembah Yordan yang diairi dengan
baik. Keputusan ini membawanya ke tengah-tengah orang Sodom
yang jahat, dan ia harus ditolong dari akibat kebodohannya, mulamula oleh Abraham, kemudian oleh dua malaikat. Pada peristiwa yang
kemudian itu ia menunjukkan kelemahan dan kecenderungannya
untuk melakukan kompromi. Penyelamatannya dari Sodom secara
jelas dikaitkan dengan ingatan Allah terhadap Abraham dalam
Kejadian 19:29.
Melalui kemabukannya, dua anak perempuannya memperoleh
anak dari dia, dan mereka menjadi leluhur dari bangsa Moab dan
bangsa Amon. Alkitab menceritakan kejadian yang sebenarnya dan
kejadian itu memiliki makna tersendiri seperti yang diuraikan di atas.
Inses adalah hubungan seksual atau perkawinan antara dua
orang yang bersaudara dekat yang dianggap melanggar adat, hukum,
dan agama. Lot tidak menikah dengan saudara kandungnya. Inses
barangkali hanya terjadi pada generasi yang pertama atau kedua saja.
Kita tahu bahwa Adam dan Hawa mempunyai lagi anak-anak laki-laki
dan perempuan selain Kain, Habel, dan Set. Jika hanya ada satu
keluarga asli, maka pernikahan mula-mula haruslah antara saudara
lelaki dan saudara perempuan. Pernikahan demikian pada mulanya
tidak berbahaya.
Inses berbahaya sebab mewarisi sel keturunan yang berubah
yang menghasilkan anak-anak yang cacat, sakit, atau dungu, dan
tentunya akan dinyatakan dalam diri anak-anak kalau orang tuanya
sama-sama mewariskan sel-sel tersebut. Sudah pasti Adam dan Hawa
datang dari tangan Allah yang sudah menciptakan mereka tidak
mempunyai sel-sel demikian. Itu sebabnya pernikahan antara saudara
lelaki dan perempuan atau kemenakan lelaki dan perempuan dari
generasi pertama dan kedua sesudah Adam dan Hawa tidak
berbahaya.

84. YAKOBUS 1:13 VS KEJADIAN 22:1.

Dalam Yakobus TERTULIS, “Tuhan tidak mencobai siapapun”,
TETAPI dalam Kejadian, “Tuhan mencobai Abraham”.
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Lihat Jawaban no 85.

85. Tuhan mencobai manusia atau tidak?

1. Tuhan mencobai Abraham dan Musa (Kejadian 22:1-12, Ulangan
8:2) dan mencobai orang Israel (Hakim-hakim 2:22)
2. Tuhan tidak pernah mencobai siapapun (Yakobus 1:13)
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Ulangan 8:2
Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak
TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini
dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk
mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau
berpegang pada perintah-Nya atau tidak.
Hakim-hakim 2:22
supaya dengan perantaraan bangsa-bangsa itu Aku mencobai orang
Israel, apakah mereka tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan
TUHAN, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, atau
tidak.”
Yakobus 1:13
Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang
dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia
sendiri tidak mencobai siapapun.

Ada perbedaan antara mencobai dengan menguji. Menguji
berhubungan dengan kualitas, tulen atau palsu, murni atau tidak, dan
sebagainya sedangkan mencobai adalah tindakan sebaliknya,
mengubah agar kualitas semula berubah. Contoh yang sederhana
adalah pencobaan yang dilakukan oleh Iblis terhadap Yesus Kristus di
padang gurun. Iblis tidak menguji bahwa Yesus Kristus itu Anak
Allah atau tidak, tetapi ia mencobai agar Yesus Kristus jatuh, berubah
statusnya dari taat kepada Allah menjadi taat kepada Iblis. Jadi
mencobai memiliki makna dan tujuan negatif, menguji memiliki
makna dan tujuan positif.
Kejadian 22:1
Setelah semuanya itu Allah mencoba (Ibrani: VEHÂ’ELOHÏM
NISÂH) Abraham. Ia berfirman kepadanya: ‘Abraham,’ lalu sahutnya:
‘Ya, Tuhan.’
Kata yang diterjemahkan oleh LAI dengan mencoba adalah
NÂSÂH yang jika ditinjau dari kontekstual berarti menguji. Jika kita
baca kisah ini selanjutnya, nyata sekali bahwa Allah tidak mencobai
Abraham atau dengan perkataan lain Allah tidak berusaha membuat
Abraham yang taat menjadi tidak taat, melainkan menguji apakah
ketaatan Abraham dapat diandalkan.
Bahasa Ibrani termasuk bahasa yang miskin, kata NÂSÂH
dapat pula bermakna mencobai dan untuk membedakan makna
kontekstual, kita harus melihat kemungkinan yang akan terjadi. Jika
kemungkinan yang muncul adalah kekudusan, maka kata itu

bermakna menguji, sebaliknya jika kemungkinan itu adalah dosa,
maka bermakna mencobai.
Jadi, ayat-ayat yang disajikan di atas sama sekali tidak
bertentangan. Allah menguji Abraham, Musa, dan bangsa Israel,
dengan maksud mengetahui apakah kualitas mereka tidak berubah,
dan Allah tidak mencobai siapa pun dengan maksud agar orang itu
jatuh ke dalam dosa.
Agar lebih jelas makna kata NÂSÂH berikut tujuan
penggunaannya, dapat dibandingkan dengan ayat ini:
Keluaran 16:4
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Sesungguhnya Aku akan
menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan
keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari,
supaya mereka Kucoba (Ibrani: ‘ANASENU), APAKAH MEREKA
HIDUP MENURUT HUKUM-KU ATAU TIDAK.’
Allah mungkin menguji kita supaya menguatkan iman kita,
tetapi tidak pernah untuk menuntun kita ke dalam dosa. Tabiat Allah
menunjukkan bahwa Dia tidak dapat menjadi sumber pencobaan
untuk berbuat dosa.

86. Siapa nama anak dari Elifaz?

1. Teman, Omar, Zefo, Gaetam, dan Kenaz (Kejadian 36:11)
2. Teman, Omar, Zefo, Kenaz (Kejadian 36:15-16)
3. Teman, Omar, Zefi, Gaetam, Kenaz, Timna, and Amalek (I
Tawarikh 1:35-36)
JAWAB : (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)
Kejadian 36:11,
Anak-anak Elifas ialah Teman, Omar, Zefo, Gaetam dan Kenas.
Naskah Ibrani Teks Masoretik: VAYIHYU BENÊY ‘ELÏFÂZ
TÊYMÂN ‘OMÂR TSEFO VEGA’TÂM UQENAZ
Anak-anak Elifas terdiri atas lima orang menurut ayat di atas.
Kejadian 36:15-16
Inilah kepala-kepala kaum bani Esau: keturunan Elifas anak sulung
Esau, ialah kepala kaum Teman, kepala kaum Omar, kepala kaum
Zefo, kepala kaum Kenas, kepala kaum Korah, kepala kaum Gaetam
dan kepala kaum Amalek; itulah kepala-kepala kaum Elifas di tanah
Edom; itulah keturunan Ada.
Naskah Ibrani Teks Masoretik: ÊLEH ‘ALUFÊY VENÊY-‘ÊSÂV
BENÊY ‘ELÏFAZ BEKHOR ‘ÊSÂV ‘ALUF TÊYMÂN ‘ALUF
‘OMÂR ‘ALUF TSEFO ‘ALUF QENAZ ‘ALUF-QORAKH ‘ALUF
GA’TÂM ‘ALUF ‘AMÂLÊQ ‘ÊLEH ‘ALUFÊY ‘ELÏFAZ BE’ERETS
‘EDOM ‘ÊLEH BENÊY ‘ÂDÂH
Ungkapan Ibrani BEN, anak tidak selamanya berarti anak,
adakalanya berarti cucu atau keturunan; demikian pula kepala kaum
(Ibrani: ‘ALUF) adakalanya dipegang oleh cucu. Korah adalah Timna
menurut 1 Tawarikh 1:36, yaitu cucu dari Elifas. Demikian pula
Amalek adalah cucu Elifas.
Bahwa BEN di samping berarti anak juga mencakup makna cucu
dapat dibandingkan dengan ayat ini:
Kejadian 29:5
Lagi katanya kepada mereka: ‘Kenalkah kamu Laban, cucu (BEN)
Nahor?’ Jawab mereka: ‘Kami kenal.’
Naskah Ibrani Teks Masoretik: VAYO’MER LÂHEM
HAYDA’TEM ‘ET-LÂVÂN BEN-NÂKHOR {cucu Nahor}
VAYO’MRU YÂDÂ’NU
Laban adalah putra kandung Betuel (Kejadian 28:5), Betuel
adalah putra kandung Nahor dari istrinya Milka (Kejadian 24:47).
Meskipun Laban adalah cucu Nahor, Alkitab Ibrani tetap menulisnya
BEN.

87. Siapakah ke-12 bapak bangsa Israel?

1. Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer,
Naftali, Yusuf, dan Benyamin (Kejadian 49: 2-28)
2. Semuanya kecuali Dan diganti Manasye (Wahyu 7:4-8)
JAWAB: (Kategori: salah memahami isi cerita atau maksud penulis)
Pembeberan suku-suku itu satu per satu dalam Wahyu 7:4-8
menggarisbawahi kesempurnaan orang-orang kudus Allah, untuk
siapa Ia menaruh perhatian pada kesengsaraan mendatang. Kedua
belas suku Israel seperti dalam Kitab Kejadian berbeda dengan dalam

kitab Wahyu karena sesuai dengan namanya, kitab Wahyu
membeberkan nama kedua belas suku dalam pengertian spiritual.
Urutan suku-suku itu berbeda dari urutan yang sebenarnya.
Yehuda menduduki urutan pertama karena itulah suku dari Kristus.
Suku Dan ditiadakan sedangkan Manasye muncul sekalipun yang
terakhir ini termasuk dalam keturunan Yusuf. Irenius menerangkan ini
karena adanya kepercayaan orang pada zaman purba bahwa antikristus
akan tampil dari suku Dan berdasarkan penafsiran ayat ini:
Yeremia 8:16
Dengus kuda musuh terdengar dari Dan; karena bunyi ringkik kuda
jantan mereka gemetarlah seluruh negeri. Mereka datang dan
memakan habis negeri dengan isinya, kota dengan penduduknya.
Sebelum pembuangan, suku Dan menempati dua bagian tanah
Palestina, utara dan selatan. Suku yang menempati bagian utara, yang
terbanyak, punah dan tidak terdengar lagi setelah dibawa sebagai
buangan oleh Tiglat-Pileser III pada tahun 732 sebelum Masehi (2
Raja-raja 15:29) sedangkan sisa suku Dan yang tinggal di selatan
berbaur dalam suku Yehuda.
Oleh karena itu maka suku yang setengah Manasye kemudian
dimasukkan untuk membentuk angka dua belas dalam kitab Wahyu.
Secara kelahiran, suku bangsa Israel berjumlah dua belas,
namun secara hukum masih ada dua cucu Yakub yang mendapat hak
yang sama seperti kedua belas suku lainnya yaitu Manasye dan
Efraim. Oleh karena itu kita membaca pembagian tanah Kanaan di era
Yosua, kedua suku terakhir ini pun mendapat bagiannya.

88. Dimanakah Yakub dikuburkan?

1. Dalam sebuah gua di Makhpela, yang dibeli dari Efron orang Het
(Kejadian 50:13)
2. Di makam daerah Sikhem, yang dibeli dari anak-anak Hemor
(Kisah Para Rasul 7:15-16)
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
Kejadian 50:13
Anak-anaknya mengangkut dia ke tanah Kanaan, dan mereka
menguburkan dia dalam gua di ladang Makhpela yang telah dibeli
Abraham dari Efron, orang Het itu, untuk menjadi kuburan milik,
yaitu ladang yang di sebelah timur Mamre.
Yakub meninggal pada usia 130 tahun, dan dikuburkan di
kuburan keluarga di Makhpela, dekat Hebron. Ada dua lokasi yang
digunakan sebagai kuburan keluarga yakni Makhpela dan Sikhem.
Kisah Para Rasul 7:15-16,
Lalu pergilah Yakub ke tanah Mesir. Di situ ia meninggal, ia dan
nenek moyang kita; mayat mereka dipindahkan ke Sikhem dan
diletakkan di dalam kuburan yang telah dibeli Abraham dengan
sejumlah uang perak dari anak-anak Hemor di Sikhem.
Naskah Yunani Textus Receptus: katebê de iakôb eis aigupton kai
eteleutêsen autos kai hoi pateres hêmôn kai metetethêsan eis sukhem
kai etethêsan en tô mnêmati ho ônêsato abraam timês arguriou para
tôn huiôn emmor tou sukhem
Yang dimaksud dengan mayat mereka dipindahkan,
metetethêsan dari kata metatithêmi harfiah mereka diangkut berarti
lebih dari satu mayat, bukan hanya mayat Yakub melainkan juga
mayat Yusuf dan saudara-saudaranya yang disebut nenek moyang kita.
Jadi, tidak ada yang bertentangan karena Yusuf dan saudarasaudaranya dikuburkan pertama kali di Sikhem (Yosua 24:32) baru
menyusul Yakub dikuburkan di Makhpela.

89. Anak-anak mendapat balasan atas dosa orang tua atau tidak?

1. Ya (Keluaran 20:5, 34:7, Bilangan 14:18, Ulangan 5:9, Yesaya
14:21-22)
2. Tidak (Ulangan 24:16)
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Keluaran 20:5
Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab
Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang
membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan
yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
Keluaran 34:7
yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang
mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekalikali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang
membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya,
kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”
Bilangan 14:18
TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpahlimpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali
tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia
membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan
yang ketiga dan keempat.
Ulangan 5:9
Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab
Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang
membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada
keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci
Aku,
Yesaya 14:21-22
Dirikanlah bagi anak-anaknya tempat pembantaian, oleh karena
kesalahan nenek moyang mereka, supaya mereka jangan bangun dan
menduduki bumi dan memenuhi dunia dengan kota-kota.” “Aku akan
bangkit melawan mereka,” demikianlah firman TUHAN semesta
alam, “Aku akan melenyapkan nama Babel dan sisanya, anak cucu
dan anak cicitnya,” demikianlah firman TUHAN.
Orangtua harus memperhatikan bahwa dosa mereka,
pengabaian rohani atau kegagalan untuk memisahkan diri dari dunia
dapat membawa dampak menyedihkan bagi anak-anak mereka. Anakanak menderita karena dosa orang-tuanya dalam arti bahwa mereka
pada umumnya mengikuti orang-tua mereka pada jalan pencobaan
atau kompromi rohani, dan dengan demikian mengambil alih
kebiasaan dan sikap yang jahat sehingga menuntun mereka makin
jauh dari Allah menuju kebinasaan. Ayat di atas berbicara tentang
kesalahan karena beribadah kepada ilah yang lain. Kesalahan seperti
ini akan dibalas kepada anak-anak.
Ulangan 24:16
Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak
dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati
karena dosanya sendiri.
Konteks ayat ini berbeda dengan Keluaran 20:5, tiap-tiap
orang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya dan Allah
membalas selaras dengan perbuatannya itu. Ayat ini berbicara tentang
kesalahan dalam perbuatan sehari-hari seperti terhadap sesama
manusia, dan tidak ditujukan kepada Allah, yaitu tidak beribadah
kepada ilah yang lain.

90. Apakah orang tua harus dihormati?

1. Ya (Keluaran 20:12, Ulangan 5:16, Matius 15:4, 19:19, Markus
7:10, 10:19, Lukas 18:20)
2. Tidak. Yesus datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga
(Matius 10:35-37, Lukas 12:51-53, 14:26)
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang
diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Keluaran 20:12)

Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi:
Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.
(Matius 15:4)
Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan:
Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. (Markus 7:10)
Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah,
jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,
hormatilah ayahmu dan ibumu.” (Lukas 18:20)
Matius 10:35-37
Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak
perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan
musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa
mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan
lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
Menghormati orang tua tidak berarti bahwa tidak ada
pertentangan di dalam keluarga seperti yang dapat kita lihat dalam
kehidupan sehari-hari. Seorang anak meninggalkan orang tua tidak
berarti bahwa ia tidak menghormati orang tuanya. Hal ini telah
dibahas lebih lanjut dalam topik, Yesus membawa damai dan
keselamatan atau onar?
Tidak ada pernyataan lain, dimana kejujuran Yesus Kristus
yang sangat menggetarkan itu diungkapkan secara blak-blakan. Di
dalam pernyataan ini Yesus mengungkapkan tuntutan kristiani yang
paling tinggi dan yang paling tidak mengenal kompromi. Di situ
Yesus memberitahu para pengikut-Nya akan hal-hal yang pasti
mereka hadapi, karena mereka memang benar-benar menerima tugas
menjadi para utusan.
Yesus menyodorkan pertentangan dan boleh jadi bahwa lawan
dari murid Yesus adalah justru orang-orang yang sangat dekat, yaitu
seisi rumah mereka sendiri.
Seperti biasanya, maka di dalam menyodorkan hal
pertentangan ini, Yesus pun memakai bahasa yang sudah biasa dipakai
oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi percaya, bahwa salah
satu peristiwa yang akan terjadi pada Hari Tuhan kelak adalah adanya
perpecahan di dalam keluarga-keluarga. Para rabi mengatakan, “Pada
masa ketika Anak Daud datang, anak-anak perempuan melawan ibu
mertuanya.” “Anak laki-laki akan menghinakan bapanya, anak
perempuan memberontak melawan ibunya, dan menantu perempuan
melawan ibu mertuanya, dan setiap orang bermusuhan melawan
orang-orang yang ada di dalam rumahnya sendiri.” Jadi Yesus seolaholah hendak mengatakan, “Akhir zaman yang engkau nanti-nantikan
itu telah tiba; dan campur tangan Tuhan Allah di dalam sejarah ini
ialah memecah-belah rumah tangga, kelompok serta keluarga menjadi
dua golongan.”
Kalau ada hal besar yang muncul, maka hal besar itu memang
cenderung untuk membagi-bagi orang dalam kelompok-kelompok.
Hal-hal besar seperti itu selalu menyebabkan adanya orang-orang
yang berusaha untuk menjawab, atau menolak, atau bahkan menguji
dan mengkajinya. Demikianlah juga dengan kehadiran Yesus.
Pertemuan dengan Yesus akan menyebabkan setiap orang harus
memilih antara menerima atau menolak-Nya. Dan dunia serta manusia
di dalamnya selalu terbagi ke dalam dua golongan, yaitu golongan
yang menerima Yesus dan golongan yang belum menerima-Nya.
Namun hal yang paling pahit dalam hubungan ini ialah, bahwa
permusuhan atau perlawanan itu justru terjadi di antara orang-orang
yang ada dalam satu rumah tangga. Dapat terjadi bahwa ada orang
yang sangat mengasihi istri dan keluarganya, sehingga ia menolak
untuk melakukan hal-hal yang baru, pelayanan, panggilan berkorban
dan lain-lain. Sebab penolakannya itu kebanyakan hanya dua, yaitu
karena ia tidak ingin meninggalkan istri dan keluarganya, atau karena
ia takut bahwa istri dan keluarganya akan masuk ke dalam bahaya.
Oliver Cromwell pernah meminta seorang bangsawan bernama
Wharton di Inggris, untuk ikut berperang pada tahun 1649. Cromwell
menduga bahwa Wharton lebih mengasihi istrinya ketimbang pergi
perang. Maka dalam suratnya kepada Wharton, Cromwell antara lain
menulis sebagai berikut, “Aku berharap tuan tidak menjadikan istri
tuan suatu penggodaan yang lebih besar daripada yang seharusnya.
Perhatikanlah semua hubungan kemanusiaan; kasih sayang tidak
boleh dijadikan godaan. Namun dalam kenyataannya kita sering kali
melakukan hal itu.” Telah sering terjadi juga adanya orang-orang yang
menolak panggilan Tuhan, karena mereka terlalu memperhatikan
kepentingan dirinya sendiri sehingga mereka tidak bisa melakukan
hal-hal lain sama sekali. Dengan memberikan perhatian yang terlalu

besar kepada diri sendiri, orang sebenarnya malah menjadikan dirinya
sendiri makin tidak berdaya.
Untuk ini ada sebuah syair yang pernah ditulis oleh seorang
tentara muda kepada kekasihnya. Judul syair itu ialah “Going to
Wars”: “Sayangku, janganlah kau katakan aku tidak sayang padamu,
Karena dari keteduhan degup dadamu dan ketenangan hatimu Aku
mengangkat senjata pergi ke medan perang. Benar, aku sedang
memburu kekasih baru, Yaitu musuh di medan laga,
Yang kukejar dengan iman teguh, pedang, kuda dan perisai. Namun
keadaan ini memang berubah cepat, Dan engkau pun pasti akan
mengagumi, Bahwa aku tidak dapat mengasihi engkau, Seperti aku
mengasihi kehormatan pahlawan.”
Memang tidak setiap orang akan diperhadapkan dengan
kejadian atau kasus seperti tersebut di atas. Mungkin banyak juga
orang yang dalam hidupnya jarang sekali menghadapi pilihan-pilihan
terbatas yang harus dipilihnya. Tetapi tak dapat disangkal pula, bahwa
ada kemungkinan seseorang harus melakukan pilihan, di mana
kekasihnya sendiri yang justru menjadi lawan atau penantangnya.
Lebih-lebih kalau pikiran serta sikap sang kekasih itu tetap ingin
mempertahankan, agar orang yang bersangkutan itu tidak melakukan
kehendak Tuhan yang seharusnya dilakukannya.
Ada istri atau suami, bahkan juga anak-anak, yang bersifat
terlalu egois, sehingga suami atau istri atau orang tua tersebut tidak
bisa melakukan kehendak Tuhan yang sama-sama mereka ketahui.
Suami tidak lagi dapat menyatakan kasihnya kepada orang tua dan
saudara-saudara kandungnya. Demikian juga istri tidak bisa
menyatakan kasih dan hubungannya dengan keluarga kandungnya

sendiri. Di dalam rumah tangga itu terjadilah istri melawan suami,
suami melawan istri, dan anak-anak melawan orang tua. Padahal
mereka sama-sama tahu bahwa kasih harus dinyatakan dalam
perbuatan nyata kepada sesama, termasuk kepada keluarga-keluarga
yang menjadi asal-usul kedua belah pihak.

91. Benar atau salahkah jika meminjamkan uang dengan minta bunga
atau riba?

1. Salah (Imamat 25:37, Mazmur 15:5)
2. Benar (Matius 25:27, Lukas 19:23-27)
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Imamat 25:37
Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta
bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.
Mazmur 15:5
yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak
menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku
demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.
Matius 25:27
Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang
yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta
dengan bunganya.
Lukas 19:23
Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang
yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya
serta dengan bunganya.

Orang Yahudi tidak boleh meminjamkan uang dengan bunga kepada
sesama Yahudi, tetapi boleh berbuat demikian terhadap orang nonYahudi.
Ulangan 23:20
Dari orang asing boleh engkau memungut bunga, tetapi dari
saudaramu janganlah engkau memungut bunga—supaya TUHAN,
Allahmu, memberkati engkau dalam segala usahamu di negeri yang
engkau masuki untuk mendudukinya.
Allah melarang minta bunga atas uang yang dipinjamkan
kepada mereka (orang Yahudi) yang kekurangan untuk menyediakan
kebutuhan pokoknya. Allah ingin mencegah orang miskin diperas oleh
golongan kaya. Akan tetapi, hukum ini tidak melarang peminjaman
uang dengan bunga yang wajar kepada orang bukan Israel dengan
tujuan komersial.
Hukum ini adalah Hukum Perjanjian Lama yang belum
lengkap, lagi pula tidak dimaksudkan bersifat tetap. Hukum bertindak
sebagai pengawal sementara bagi umat Allah hingga Kristus datang
(Galatia 3:22-26). Perjanjian yang lama kini sudah diganti dengan
perjanjian yang baru; di dalamnya Allah telah menyingkapkan seluruh
rencana-Nya melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak meniadakan
(Yunani: kataluô, harfiah membinasakan, menghancurkan) hukum
Taurat, tetapi Dia datang untuk menggenapinya (pleroô, memenuhi,
melengkapi, menyempurnakan, menambal yang bolong-bolong).

Matius 25:27 dari perikop Matius 25:14-30, perumpamaan
tentang talenta; Lukas 19:23 dari perikop Lukas 19:11-27,
perumpamaan tentang sepuluh uang mina. Perumpamaan berbeda
dengan ajaran langsung. Ceritera-ceritera yang bermaksud
menjelaskan hal-hal yang tersembunyi; khususnya ceritera-ceritera
yang mengandung hal-hal yang nyata dalam kehidupan manusia yang
dipakai Yesus Kristus untuk menerangkan Kerajaan Allah dan
rahasianya.
Ajaran Yesus Kristus secara implisit tidak menyebut-nyebut
tentang riba namun secara eksplisit, jelas Dia melarang murid-muridNya makan “riba”.
Lukas 6:35
Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka
dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka
upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang
Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu
berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
Naskah Yunani Textus Receptus: kai daneizete mêden apelpizontes
Pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan,daneizete mêden
apelpizontes, merupakan ajaran yang amat berat karena jangankan
mengharapkan bunga, modal pinjaman pun tidak diminta

92. Dimanakah Harun menemui ajalnya?

1. Di gunung Hor (Bilangan 33:38)
2. Di Mosera (Ulangan 10:6)

JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis)
Bilangan 33:38
Ketika itu imam Harun naik ke gunung Hor sesuai dengan titah
TUHAN, dan di situ ia mati pada tahun keempat puluh sesudah orang
Israel keluar dari tanah Mesir, pada bulan yang kelima, pada tanggal
satu bulan itu;
Ulangan 10:6
Maka orang Israel berangkat dari Beerot Bene-Yaakan ke Mosera; di
sanalah Harun mati dan dikuburkan; lalu Eleazar, anaknya, menjadi
imam menggantikan dia.
Mosera dan gunung Hor adalah tempat yang sama, ibarat
Batavia, Betawi, dan Jakarta.
Nama Mosera berarti hajaran (Yesaya 26:16) lebih tepat
dikenakan kepada peristiwa ketimbang tempat, yaitu peristiwa
kematian Harun. Hal ini dianggap hajaran karena pendurhakaan Musa
dan Harun di Meriba (Bilangan 20:24; Ulangan 32:51). Harun mati di
atas gunung Hor, sedangkan umat Israel berkemah di bawah dan
meratap. Peristiwa dan tempat perkemahan itu disebut Moserot
(Bilangan 33:31; Ulangan 10:16).

93. Kemana orang Israel pergi setelah kematian Harun ?

1. Dari gunung Hor ke Zalmona lalu ke Funon dst. (Bilangan 33:41-
42)

2. Dari Mosera ke Gudgod lalu ke Yotbata (Ulangan 10:6-7)
JAWAB: (Kategori: salah memahami konteks historis)
Bilangan 33:41-42
Berangkatlah mereka dari gunung Hor, lalu berkemah di Zalmona.
Mereka berangkat dari Zalmona, lalu berkemah di Funon.
Ulangan 10:6-7
Maka orang Israel berangkat dari Beerot Bene-Yaakan ke Mosera; di
sanalah Harun mati dan dikuburkan; lalu Eleazar, anaknya, menjadi
imam menggantikan dia. Dari sana mereka berangkat ke Gudgod, dan
dari Gudgod ke Yotbata, suatu daerah yang banyak sungainya.
Zalmona, Ibrani: TSALMONÂH, tsâdêy-lâmed-mêm-nûn-hê’,
adalah tempat perkemahan bangsa Israel di padang gurun terletak di
sebelah timur Edom, demikian pula halnya dengan Funon, Ibrani:
PÛNON, pê’-vâv-nûn-nûn, dan masih ada satu daerah lagi yaitu Obot
(Bilangan 21:10; 33:43). Ketiga daerah ini: Zalmona, Funon, dan Obot
merupakan daerah yang dikenal sebagai Horhagidgad (berdasarkan
penelitian Aben Ezra), dari sana mereka melanjutkan perjalanan ke
Yotbata. Kitab Ulangan 10:7 tidak merinci perjalanan bangsa Israel
sesuai dengan tujuan penulisannya, sedangkan kitab Bilangan 33
merinci perjalanan ini dengan jelas.
Hal ini bisa dimengerti dengan sekedar ilustrasi: Seseorang
berkendaraan dari Jakarta ke Bogor, lalu ke Cipanas, lalu ke Cianjur,
dan seterusnya; kemudian cerita yang sama diringkas menjadi

berkendaraan di daerah Jawa Barat lalu meneruskan perjalanan ke
Semarang.


94. Sisera dibunuh oleh Yael ketika Sisera sedang tidur atau berdiri?


1. Tidur (Hakim-hakim 4:21)
2. Berdiri (Hakim-hakim 5:25-27)
JAWAB : (Kategori: salah memahami konteks historis)
Sisera adalah panglima tentara Yabin, mungkin juga raja
bawahan Hasoret-Hagoyim (Hakim-hakim 4:2 dan ayat-ayat
berikutnya), barangkali sama dengan Tel el-Amr, 19 kilometer di
barat laut Megido, tempat yang strategis bagi penggunaan keretakereta Yabin yang jumlahnya sembilan ratus. Peranan Sisera yang
besar dalam peperangan melawan Debora dan Barak, menerangkan
mengapa Yabin sama sekali tidak disebut dalam Hakim-hakim pasal
5. Sesudah kekalahan Sisera di gunung Tabor dan pelariannya, ia
dibunuh secara khianat oleh Yael. Ia dibunuh pada saat sedang tidur
nyenyak, Hakim-hakim 5:25-27 sama sekali tidak menulis bahwa
ia dibunuh pada saat berdiri, silakan simak sendiri:
5:25 Air diminta orang itu, tetapi susu diberikannya; dalam cawan
yang indah disuguhkannya dadih.
5:26 Tangannya diulurkannya mengambil patok, tangan kanannya
mengambil tukul tukang, ditukulnya Sisera, dihancurkannya
kepalanya, diremukkan dan ditembusnya pelipisnya.

5:27 Dekat kakinya orang itu rebah, tewas tergeletak, dekat kakinya
orang itu rebah dan tewas, di tempat ia rebah, di sanalah orang itu
tewas, digagahi.

95. Berapa jumlah anak Isai?

1. 7 plus Daud, jadi semuanya ada 8 (I Samuel 16:10-11, 17:12)
2. Semuanya ada 7 (I Tawarikh 2:13-15)
JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks ayat)
I Samuel 16:10-11,
Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel,
tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih
TUHAN.” Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu
semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang
menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai:
“Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan,
sebelum ia datang ke mari.”
I Samuel 17:12,
Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang
bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-laki. Pada zaman
Saul orang itu telah tua dan lanjut usianya.
I Tawarikh 2:13-16,
Isai memperanakkan Eliab, anak sulungnya, dan Abinadab, anak yang
kedua, Simea, anak yang ketiga, Netaneel, anak yang keempat, Radai,
anak yang kelima, Ozem, anak yang keenam, dan Daud, anak yang
ketujuh; saudara-saudara perempuan mereka ialah Zeruya dan
Abigail.

Isai, Ibrani YISYAY, adalah cucu Boas dan ayah Daud. Ia
tinggal di Betlehem dan biasa disebut “orang Betlehem itu” dan sekali
“orang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda. Putranya delapan orang,
tetapi yang ditulis hanya tujuh orang. Yang kedelapan (tetapi dalam
urutan ke tujuh karena lebih tua dari Daud) tidak disebut karena
menurut Midrasy, berasal dari lain ibu. Masih ada dua anak
perempuan yang biasanya tidak dimasukkan dalam jumlah keturunan,
bandingkan dengan Dina, putri Yakub yang tidak disebut dalam 12
suku Israel.
1 Tawarikh 27:18,
untuk suku Yehuda ialah Elihu, salah seorang saudara Daud; untuk
suku Isakhar ialah Omri bin Mikhael;
Naskah Ibrani Teks Masoretik: “LÏHÛDÂH ‘ELÏHÛ MÊ’AKHÊY
DÂVÏD LEYISÂSKHÂR ‘ÂMRÏ BEN-MÏKHÂ’ÊL”
Urut-urutan nama ke-8 putra Isai adalah sebagai berikut:
1. ‘ELÏ’ÂV, Eliab
2. ‘AVÏNÂDÂV, Abinadab
3. SYIME’Â’, Simea
4. NETANE’ÊL, Netaneel
5. RADAY, Radai
6. ‘OTSEM, Ozem
7. ‘ELÏHÛ, Elihu (1 Tawarikh 27:18, Midrasy)
8. DÂVÏD, Daud

Jadi, Isai mempunyai 8 anak laki-laki dan dua anak perempuan.

96. 1 KORINTUS 14:33 VS YESAYA 45:7; 1 SAMUEL 16:14; 2
TESALONIKA 2:11.

Dalam 1 Korintus TERTULIS, “Tuhan tidak menghendaki kekacauan,
tetapi damai sejahtera”, TETAPI dalam Yesaya, “Tuhan membuat
kejahatan”, dalam 1 Samuel, Tuhan mengeluarkan roh jahat dari diriNya”, dan dalam 2 Tesalonika, “Tuhan membuat kesesatan”.
JAWAB: (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera
(1 KORINTUS 14:33)
Yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan
nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang
membuat semuanya ini. (YESAYA 45:7)
Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia
diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN. (1 SAMUEL 16:14)
Itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang
menyebabkan mereka percaya kepada dusta, (2 TESALONIKA 2:11)
Lihat Jawaban No. 81.

97. MARKUS 10:27 & MATIUS 19:26 VS HAKIM-HAKIM 1:19.

Dalam Markus dan Matius TERTULIS, “segala sesuatu mungkin bagi
Allah”, TETAPI dalam Hakim-hakim, “Tuhan menyertai Yehuda
tetapi tidak dapat menghalau penduduk di lembah yang mempunyai
kereta besi”.

JAWAB: (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Markus 10:27
Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak
mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu
adalah mungkin bagi Allah.”
Matius 19:26
Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak
mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”
versus :
Hakim-hakim 1:19
Dan TUHAN menyertai suku Yehuda, sehingga mereka menduduki
pegunungan itu; tetapi mereka tidak dapat menghalau penduduk yang
di lembah, sebab orang-orang ini mempunyai kereta-kereta besi.
Ayat-ayat tersebut berbeda konteks, Semua ayat-ayat dalam
Alkitab tidak dapat digeneralisasikan menjadi satu macam urusan.
Markus dan Matius berbicara tentang Kekuasaan Allah yang
mampu melakukan segala sesuatu (Tidak ada yang mustahil bagi
Allah). Karena Ia adalah pribadi yang Omni Potent (Mahakuasa),
Allah yang Omni Science (Mahatahu), Omni Present (Mahahadir) dan
seterusnya.
Sedangkan dalam Kitab Hakim-hakim 1:19, adalah
menceritakan bahwa Allah menyertai perjalanan bangsa Israel. Jikalau
Tuhan beserta mereka bukan berarti otomatis Bani Israel ini, dalam
hal ini suku Yehuda, menjadi “Omni Potent” seperti TUHAN!

Manusia diberi hak oleh Allah untuk berkehendak bebas, dan bukan
sebagai robot yang berbuat karena sudah “diprogram”.
Jadi tidak ada kontradiksi. Hakim-Hakim 1:19 tidak
berhubungan makna dengan kedua ayat itu. Beda konteks
pembicaraannya.

98. 1 TIMOTIUS 6:16 VS 1 RAJA-RAJA 8:12.

Dalam 1 Timotius TERTULIS, “Tuhan bersemayam dalam terang”,
TETAPI dalam 1 Raja-raja, “Tuhan memutuskan untuk diam dalam
kekelaman”.
JAWAB : (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
1 Timotius 6:16
Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam
dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat
Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah
hormat dan kuasa yang kekal! Amin.
1 Raja-raja 8:12
Pada waktu itu berkatalah Salomo: “TUHAN telah menetapkan
matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam
kekelaman.
Solomon’s Sermon. 8:12-21.
The Lord said that he would dwell in the thick darkness. The
speaker focused his hearers’ thoughts on the divine condescension.

The point of the sermon, beyond all reasonable question, was that the
all-powerful God of heaven was willing to take up His abode, in
protective presence and power, in the house that Solomon had now
erected for His glory and honor. Magnificient and glorious as the
house was to be reckoned among men, Solomon rightly and humbly
realized that it was as nothing compared with the glory of heaven, the
dwelling place of God. 17. It was in the heart of David. The “princely
preacher” was not unmindful of the debt of gratitude he owed his
father. (from The Wycliffe Bible Commentary, Electronic Database.
Copyright (c) 1962 by Moody Press)
Jadi Tuhan memutuskan untuk diam/tinggal dalam Bait Suci
yang didirikan Salomo, sehingga Salomo menyadari dan dengan
rendah hati mengungkapkan dalam kata-kata ―TUHAN memutuskan
untuk diam dalam kekelaman‖ karena TUHAN yang begitu agung dan
mulianya dengan segala kuasa dan kebesarannya, berkenan mau hadir
dan tinggal dalam Bait Suci buatan manusia.

99. YESAYA 53:7 VS MATIUS 26:39 & YOHANES 18:23,36.

Para misionaris Kristen mengklaim bahwa Yesus telah menggenapi
nubuat Yesaya 53:7 yang mengatakan: “…seperti anak domba dia
dianiaya, tetapi dia membiarkan dirinya ditindas sehingga tidak
membuka mulutnya”, TETAPI dalam Matius 26:39 Yesus berkata di
hadapan Tuhan di bukit Zaitun, “Ya Bapaku, jikalau sekiranya
mungkin…”, dalam Yohanes 18:23 Yesus berkata di hadapan Imam
Besar, “Jikalau kataku salah, tunjukkan salahnya…”, dan dalam

Yohanes 18:36 Yesus berkata kepada Pilatus, “Kerajaanku bukan dari
dunia ini”.
JAWAB: (Kategori : salah memahami konteks ayat)
Yesaya 53:7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan
tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke
pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang
yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.
Tuhan Yesus (ketika ditangkap di Taman Getsemani dan
mengalami siksaan dari imam-imam kepala dalam Mahkamah Agama
Yahudi) dalam Yesaya diumpamakan seperti anak domba yang siap
dibantai, yang tidak melawan dan tidak membuka mulutnya. Jika kita
baca dalam kitab Injil Sinoptik, maka Yesus seringkali diam seribu
bahasa ketika di siksa. Jadi ayat Yesaya 53:7 tergenapi. Namun
janganlah ayat ini dipertentangkan dengan MATIUS 26:39 &
YOHANES 18:23,36. Ingat, Yesus hanya berbicara pada waktu dia
ditanya di pengadilan/sidang. Dan Yesus menjawab seperlunya ketika
ditanya dalam sidang Mahkamah Agama dan Pengadilan Pilatus.
Selain dari itu, pada waktu di siksa dan dianiaya, Yesus diam dan
tidak melawan. Jadi, tidak ada yang kontradiksi dalam hal ini.

100. Siapa anak Tou yang diutus untuk mengucapkan selamat kepada
Daud?

a. Yoram (II Samuel 8:10).
b. Hadoram (I Tawarikh 18:9-10).

JAWAB: (Kategori: salah memahami konteks historis)
II Samuel 8:10,
maka Tou mengutus Yoram, anaknya, kepada raja Daud untuk
menyampaikan salam dan mengucapkan selamat kepadanya, karena ia
telah berperang melawan Hadadezer dan memukul dia kalah, sebab
Hadadezer sering memerangi Tou. Dan Yoram membawa barangbarang perak, emas dan tembaga.
I Tawarikh 18:9-10,
Ketika didengar Tou, raja Hamat, bahwa Daud telah memukul kalah
seluruh tentara Hadadezer, raja Zoba, maka ia mengutus Hadoram,
anaknya, kepada raja Daud untuk menyampaikan salam dan
mengucapkan selamat kepadanya, karena ia telah berperang melawan
Hadadezer dan memukul dia kalah, sebab Hadadezer sering
memerangi Tou. Dan Hadoram membawa pelbagai barang-barang
emas, perak dan tembaga.
Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dalam perbedaan
pelafalan penyebutan nama Sama seperti orang menuliskan Gus Dur
dan Abdurahman Wahid, atau Bob Hasan dan Muhammad Hasan.
Nama Hadoram adalah nama lain dari Yoram, lihat tanggapan tentang
nama Kileab dan Daniel pada jawaban no. 27.
Septuaginta menulis ieddouran dalam 2 Samuel 8:10 dan
idouram dalam 1 Tawarikh 18:10. Nama Hadoram di samping nama
anak Tou atau Toi juga merupakan nama keturunan Yoktan yang ke-5
(Kejadian 10:27) dan kepala rodi di era Rehabeam (2 Tawarikh

10:18). Perhatikan bahwa Hadoram sang kepala rodi inipun dipanggil
dengan Adoniram (1 Raja-raja 4:6) dan Adoram (1 Raja-raja 12:18).
Kamus Alkitab Easton’s Bible Dictionary (OLB) mengatakan
bahwa Hadoram anak Tou, raja Hamat, diutus ayahnya untuk
mengucapkan selamat kepada Daud atas kemenangannya melawan
Hadadezer, raja Siria, yang dalam 2 Samuel 8:10, Hadoram disebut
Yoram. Jadi nama lain Hadoram adalah Yoram.

 

101. ULANGAN 14:3-21 & IMAMAT 11:1-47 VS MARKUS 7:14-20
VS MATIUS 5:17-19.

Dalam Ulangan & Imamat (Taurat), TERTULIS: “Tuhan berfirman:
Binatang-binatang laut tak bersirip/bersisik, daging babi, serta jenisjenis burung dan mamalia tertentu haram dimakan”, TETAPI dalam
Markus: “Yesus menghalalkan semua makanan”, padahal dalam
Matius: “Yesus datang bukan untuk menghilangkan hukum Taurat dan
kitab-kitab para nabi meski sedikit pun”. (bertentangan hukum).
JAWAB: (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
MARKUS 7:18-20,
Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya?
Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke
dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke
dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?”
Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya
lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya

MATIUS 5:17-19,
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan
hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk
meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan
bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum
Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan
salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan
mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki
tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang
melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat,
ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
Zaman PL, sebelum kedatangan Yesus ke dunia, umat Israel
terikat kepada ibadah lahiriah dan hukum Taurat. Ketika Tuhan Yesus
datang, Mesias yang dijanjikan itu tiba, maka umat Percaya memasuki
masa anugerah, tidak lagi terikat pada hukum-hukum tentang
makanan, cara ibadah yang bersifat lahiriah (penuh dengan peraturan).
Karena ibadah yang sejati atau hakiki adalah dalam roh dan
kebenaran, mempersembahkan seluruh hidup bagi kemuliaan Tuhan.
Jadi prinsip-prinsip hakiki hukum Tauratlah yang masih berlaku dan
diikuti oleh orang Kristen hingga saat ini, seperti 10 hukum tentang
jangan membunuh, berzina, mencuri, dll. Oleh karena itu hukum
makanan dinyatakan sudah tidak berlaku, semua makanan halal.

102. IMAMAT 10:8-11 & ULANGAN 29:6 VS MATIUS 15:11 VS
MATIUS 5:17-19.

Dalam Imamat & Ulangan, TERTULIS: “Tuhan berfirman: meminum
anggur dan minuman keras (memabukkan) adalah haram”, TETAPI
dalam Matius 15 “Yesus berkata: bukan yang masuk ke mulut yang
menajiskan orang melainkan yang keluar dari mulut”, padahal dalam
Matius 5: “Yesus berkata bahwa kedatangannya bukanlah untuk
menghilangkan hukum Taurat dan kitab-kitab para nabi meski sedikit
pun”. (bertentangan hukum).
JAWAB: (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
IMAMAT 10:8-11,
TUHAN berfirman kepada Harun:
“Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau
serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan,
supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya
bagi kamu turun-temurun.
Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang
tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis,
dan haruslah kamu dapat mengajarkan kepada orang Israel segala
ketetapan yang telah difirmankan TUHAN kepada mereka dengan
perantaraan Musa.”
ULANGAN 29:6,

Roti tidak kamu makan, anggur atau minuman yang memabukkan
tidak kamu minum—supaya kamu tahu bahwa Akulah TUHAN,
Allahmu.
MATIUS 15:11,
“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang
menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang
menajiskan orang.”
Tuhan Yesus ingin mengatakan bahwa bangsa Israel
(khususnya orang Farisi dan ahli Taurat) munafik karena mereka tidak
sungguh-sungguh mengasihi Allah (hanya manis dibibir tapi hatinya
jauh dari mengasihi Allah meskipun mereka mengikuti aturan hukum
Taurat, namun mereka menyeleweng dengan menambahi adat-istiadat
dan berbagai aturan yang tidak diperintahkan Musa).
Jadi, makan dengan mencuci tangan ataupun tidak mencuci
tangan (inti masalah yang diprotes kepada murid-murid Yesus),
tidak ada hubungannya dengan ayat dari kitab Imamat & Ulangan,
yang berkata: “Tuhan berfirman: meminum anggur dan minuman
keras (memabukkan) adalah haram”. Jadi beda konteks pembicaraan.
Bacalah dengan lengkap perikop Matius 15 dibawah ini:
15:1 Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari
Yerusalem kepada Yesus dan berkata:
15:2 “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek
moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”
15:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa kamu pun
melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?

15:4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi:
Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.
15:5 Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau
kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk
pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah,
15:6 orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya.
Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku
demi adat istiadatmu sendiri.
15:7 Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang
kamu:
15:8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal
hatinya jauh dari pada-Ku.
15:9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran
yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
15:10 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada
mereka:
15:11 “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut
yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang
menajiskan orang.”
15:12 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya:
“Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan
bagi orang-orang Farisi?”
15:13 Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh BapaKu yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.
15:14 Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun
orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh
ke dalam lobang.”
15:15 Lalu Petrus berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah perumpamaan
itu kepada kami.”
15:16 Jawab Yesus: “Kamu pun masih belum dapat memahaminya?
15:17 Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke
dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?
15:18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan
itulah yang menajiskan orang.
15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan,
perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.
15:20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan
yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.”
Baca juga Markus 7:1-23
7:14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada
mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.
7:15 Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat
menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang
menajiskannya.”
7:18 Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat
memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar
yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,
7:19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu
dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua
makanan halal.
7:20 Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang
menajiskannya,
7:21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat,
percabulan, pencurian, pembunuhan,
7:22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri
hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
7:23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”
Baca juga no. 103 tentang hukum Taurat.

103. GALATIA 5:14 VS KEJADIAN 17:14.

Dalam Galatia 5:14, Paulus berkata, “Sebab seluruh hukum Taurat
tercakup dalam satu firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri”. Apakah orang yang mengasihi
manusia lain seperti mengasihi diri sendiri bisa dikatakan telah
melakukan semua hukum Taurat? Sekali-kali tidak! Betapapun
kasihnya dia kepada sesama manusia, tetapi jika dia enggan disunat,
maka dia harus dilenyapkan dari muka bumi! (Kejadian 17:14). Inilah
hukum Taurat yang sebenar-benarnya!
JAWAB: (Kategori : salah mengaitkan cerita yang satu dengan yang
lainnya)
Kejadian 17:14,
Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit
khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang
sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”
Sunat itu wajib bagi bangsa Israel, Alkitab tidak menulis
bahwa Yesus tidak membatalkan sunat melainkan Yesus tidak

meniadakan Taurat. Meniadakan tidak sama artinya dengan
membatalkan. Yesus memang disunat karena Dia adalah bangsa
Yahudi secara daging, sedangkan Kisah Para Rasul 15:1-2 bukanlah
ajaran para rasul melainkan hasutan sebagian kalangan Yahudi agar
orang Kristen non-Yahudi juga harus disunat.
Praktek sunat yang sudah lebih dahulu terdapat di antara
bangsa-bangsa lain, dipakai untuk menandakan orang dimasukkan ke
dalam perjanjian Abraham. Artinya yang berlangsung telah diketahui
dari fungsinya pada waktu ditetapkan. Perjanjian-perjanjian itu
diteguhkan dengan sumpah; kutuk sumpah itu ditunjukkan di dalam
upacara-upacara simbolis. Suatu kutuk yang lazim ialah pemotongan
(penyerahan) orang yang ditaklukkan untuk dibinasakan dan
peniadaan nama dari benihnya. Yang menyertai tindakan ini adalah
suatu upacara dengan pisau yang melambangkan orang yang tidak
memenuhi perjanjian akan dipotong-potong. Demikianlah sunat
adalah suatu upacara pisau yang dengannya perjanjian Abraham
dipotong.
Upacara itu melambangkan kutuk pemotongan atau pemisahan
dari persekutuan perjanjian. Lebih tepat lagi, pemotongan kulup
kelamin lelaki melambangkan pemotongan para keturunan. Pada
pihak lain, sebagai tanda sumpah mengakui ketuhanan Allah, maka
sunat juga menandai pengudusan. Perjanjian dengan orang taklukan
pada zaman purba meliputi; kecuali raja yang ditaklukkan itu, juga
kerajaannya dan keturunannya. Demikian juga Tuhan memberikan
perjanjian-Nya kepada Abraham, bukan hanya sebagai seorang
pengaku iman secara perorangan, melainkan sebagai kepala suatu
masyarakat, dalam hal ini, rumah tangga keluarganya, termasuk anak
anak dan hamba-hamba, dan hal itu diteruskan hingga keturunanketurunannya.
Sunat dihisabkan ke dalam ajaran Musa terkait dengan Paskah,
dan agaknya diteruskan sepanjang zaman PL. Sunat menjadi ciri asasi
Yudaisme dalam PB dan menimbulkan pertentangan pada zaman para
rasul. Masyarakat Yahudi pada zaman PB mengaitkan sunat dengan
Musa begitu rupa, sehingga mereka melupakan kaitannya yang lebih
asasi dengan Abraham.
Kisah Para Rasul 15:1,
“Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan
kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut
adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat
diselamatkan.'”
Kisah Para Rasul 15:5,
“Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi
percaya, datang dan berkata: ‘Orang-orang bukan Yahudi harus
disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.'”
Yesus telah mengingatkan mereka bahwa sunat adalah lebih
dahulu dari Musa. Paulus menekankan bahwa yang tak dapat diterima
agama Kristen ialah pandangan umum yang menghubungkan sunat
dengan Musa, dan senantiasa mengarahkan pembacanya kembali
kepada Abraham.
Kejadian 17 menunjukkan bahwa sunat pertama-tama
mewujudkan tanda rohani; kedua, mempunyai arti kebangsaan. Bahwa
sunat bersifat kebangsaan, yang mencirikan keanggotaan bangsa

Israel, tidak dapat disangkal. Hal ini memang sama jelasnya dalam
Kejadian 34 seperti juga setelah Musa. Tapi sifat kebangsaan itu
sebenarnya hanyalah dampak sampingan, karena umat Israel pemilik
sunat itu disamakan dengan bangsa Israel PL.
Dalam Kejadian 17:10-14 sunat disamakan dengan perjanjian
yang dibuat oleh Abraham. Artinya, sunat menandai gerakan yang
penuh kasih karunia dari Allah menuju manusia, dan hanya secara
sekunder saja dapat dikatakan menandai penyerahan manusia kepada
Allah. Ketika bangsa itu mengembara di padang gurun karena tidak
diperkenankan Allah, perjanjian itu seolah-olah ditunda dan sunat
tidak diberlakukan. Lagi, ketika Musa berbicara tentang seorang yang
tidak petah lidaknya (harfiah tak bersunat), hanya karunia firman
Allah yang dapat menyembuhkannya. Selanjutnya, PL berbicara
tentang sunat sebagai meterai atau pemberian kebenaran dari Allah.
Karena itu sunat menjadi tanda dari kasih karunia dimana Allah
memilih dan menandai orang-orang milik-Nya.
Perjanjian sunat bekerja atas dasar kesatuan rohani antar
anggota rumah tangga dan kepalanya. Perjanjian itu diadakan “antara
Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun”. Kejadian 17:26-
27 khususnya mengungkapkan kebenaran yang sama: “Abraham…
Ismael… dan semua orang dari isi rumah Abraham… disunat bersamasama dengan dia.” Demikianlah asal mula dan caranya sunat menjadi
adat Israel, bukan diterima dan berasal dari Mesir atau negeri-negeri
lain. Sunat Israel tegas berbeda dari sunat pada bangsa-bangsa lain
yang terkait dengan berjenjang dewasa, dan melulu bersifat sosial.
Sunat Israel adalah pertanda kedudukan di hadirat Allah, dan bahwa
kasih karunia ilahi mendahului perbuatan manusia.

Mereka yang dengan cara demikian menjadi anggota
perjanjian diwajibkan menyatakannya secara lahiriah dengan menaati
hukum Allah, seperti dengan tegas dituntut kepada Abraham,
“Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela”. Hubungan antara
sunat dan ketaatan ditekankan sepanjang Alkitab. Dalam hal ini sunat
mengandung gagasan penyerahan diri kepada Allah, tapi bukan inilah
intinya. Sunat menjelmakan, menerapkan janji, dan menghimbau
orang untuk hidup dalam ketaatan sesuai perjanjian. Darah yang
tumpah dalam sunat tidak menyatakan batas penyerahan diri itu, tapi
mengungkapkan tuntutan yang mahal yang dibuat Allah bagi mereka
yang dipanggil-Nya, dan dicirikan dengan tanda perjanjian-Nya.
Tanggapan taat ini tidak senantiasa muncul. Dan sekalipun
tanda dan caranya disamakan dalam Kejadian 17:10-14, namun
Alkitab terus terang mengakui, bahwa bisa saja orang memiliki tanda
sunat, tapi tidak lebih dari itu. Jika demikian, tanda itu tak berarti
secara rohani, melainkan menjadi tanda hukuman. PL jelas
mengajarkan hal itu, justru menuntut realitas penerapannya sesuai
tanda itu, dan mengingatkan bahwa tanpa kenyataan itu maka tanda
sunat sepi arti, dan menubuatkan sunat hati oleh Allah.
PB tegas dan pasti: bahwa tanpa ketaatan, sunat adalah melulu
omong kosong. Tanda lahiriah pudar tanpa arti jika dibandingkan
dengan menaati perintah-perintah, iman bekerja oleh kasih, dan suatu
ciptaan baru. Namun orang Kristen tidak bebas memandang rendah
tanda itu. Walaupun sejauh tanda itu mengungkapkan keselamatan
karena perbuatan-perbuatan hukum, orang Kristen harus
menghindarinya, namun dalam arti batiniah orang Kristen
memerlukannya. Justru ada sunat Kristus, berupa “penanggalan

akan tubuh (dan bukan hanya sebagian) yang berdosa”, suatu
perbuatan rohani, yang tidak dilakukan oleh tangan manusia,
suatu hubungan dengan Kristus dalam kematian dan
kebangkitan-Nya, dimeteraikan oleh peraturan penerimaan atas
PB. Sebagai akibatnya, orang Kristen ialah orang bersunat.
“karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah,
dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada
hal-hal lahiriah.” (Filipi 3:3)
Ingatlah bahwa Tuhan Yesus sudah memberi kesimpulan
mengenai seluruh inti hukum Taurat dan kitab para nabi (atau seluruh
kitab Perjanjian Lama) dalam Matius 22:37-40:
22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan
segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
akal budimu.
22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan
kitab para nabi.”
Saat itu Paulus sedang menekankan hubungan antar sesama
jemaat di Galatia, jadi dia menekankan hukum yang kedua ‖Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri‖. Jadi tidak ada
pertentangan ayat. Sunat hanya berlaku bagi orang Yahudi yang
terikat dalam ibadah lahiriah (dalam Perjanjian Lama). Dalam

Perjanjian Baru, orang Kristen hidup dalam ibadah hakikat
(menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran, tidak tergantung
tempat, waktu, cara, metode-metode seperti di PL).

104. 1 KORINTUS 7:19 VS KEJADIAN 17:14 & MATIUS 5:17-19.

Dalam 1 Korintus, TERTULIS: “Paulus berkata: Sunat tidak sunat, itu
tidak penting”, TETAPI dalam Kejadian (Taurat): “Tuhan berfirman:
Laki-laki yang tidak disunat harus dilenyapkan karena telah
mengingkari perjanjian antara Tuhan dan Abraham”, dan dalam
Matius 5:17-19, “Yesus berkata bahwa kedatangannya bukanlah untuk
menghilangkan hukum Taurat dan kitab-kitab para nabi meski sedikit
pun”. (bertentangan hukum).
JAWAB: (Kategori : salah mengaitkan cerita yang satu dengan yang
lainnya)
Lihat jawaban sebelumnya (no 103).

105. IBRANI 11:17 & KEJADIAN 22:2 VS KEJADIAN 16:15-16 &
21:5.

Dalam Ibrani dan Kejadian 22, TERTULIS: “Abraham
mengorbankan (qurban) Ishak, anaknya yang tunggal (padahal yang
dimaksud ayat tersebut adalah ISMAEL, karena Ishak adalah adik
Ismael lain ibu)”, TETAPI dalam Kejadian 16:15 “Abraham menamai
anaknya yang dilahirkan Hagar itu Ismael”, dalam Kejadian 16:16
“bahwa Abraham berusia 86 tahun ketika anaknya, Ismael, lahir”, dan
dalam Kejadian 21:5 “bahwa Abraham berusia 100 tahun ketika
anaknya, Ishak, lahir”. Jadi, Ishak BUKANLAH anak tunggal
Abraham melainkan adik Ismael!

JAWAB: (Kategori : salah memahami cara kerja Tuhan dalam
sejarah)
Ishak adalah anak tunggal Abraham dari istri yang sah yaitu
Sara. Janji berkat untuk Abraham dari Allah dilanjutkan atau turun
kepada anak tunggalnya dari Sara (Sara hanya melahirkan satu anak
yaitu Ishak), jadi Perjanjian Allah berlaku pada Ishak dan
keturunannya. TUHAN/YAHWEH mengikatkan perjanjiannya
dengan nenek moyang bangsa Israel (para patriarkh) dengan menyebut
diriNya sebagai Allah/Elohim Abraham, Ishak dan Yakub.
Ismael memang anak kandung Abraham juga, namun bukan
dari kandungan Sara, tetapi Ismael lahir dari Hagar, istri Abraham
yang adalah budak Sara yang diberikan Sara agar Abraham punya
keturunan karena pemikiran manusiawi Sara, dia tidak mungkin punya
anak karena sudah mati haid. Namun Janji Allah JELAS dan PASTI,
bahwa yang disebut keturunan Abraham dimana Allah mengikat
perjanjiannya dengan keturunan Abraham, yaitu Ishak, sehingga
Abraham dijanjikan Allah akan punya keturunan dari istrinya, Sara.
Nah bagi Allah, anak tunggal Abraham adalah Ishak.
Ingatlah bahwa Abraham bukan hanya punya 2 anak tetapi ada
6 lagi anaknya dari Ketura, jadi berjumlah 8, baca Kejadian 25:1-6:
25:1 Abraham mengambil pula seorang isteri, namanya Ketura.
25:2 Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan,
Midian, Isybak dan Suah.
25:5 Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak,

25:6 tetapi kepada anak-anaknya yang diperolehnya dari gundikgundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia menyuruh mereka
— masih pada waktu ia hidup — meninggalkan Ishak, anaknya, dan
pergi ke sebelah timur, ke Tanah Timur.
Kejadian 17:18-21:
17:18 Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael
diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”
17:19 Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah
yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan
menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku
dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia
akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan
memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi
bangsa yang besar.
17:21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang
akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada
waktu seperti ini juga.”
Kejadian 21:10-13
21:10 Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan
itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli
waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”
21:11 Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu.
21:12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal
hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan

Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang
akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.
21:13 Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi
suatu bangsa, karena ia pun anakmu.”
Ismael adalah anak Abraham juga, bahkan keturunan Abraham.
Kejadian 21:12
“Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: ‘Janganlah sebal hatimu
karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara
kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan
disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.'”
Ibrani: KÎ VEYITSKHÂQ YIQÂRÊ’ LEKHA ZÂRA'”
1 Tawarikh 1:28
“Anak-anak Abraham ialah Ishak dan Ismael.”
Ibrani: “BENÊY’AVRÂHÂM YITSKHÂQ VEYISYMÂ’Ê’L”
Ungkapan “yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari
Ishak”, ‘KÎ VEYITSKHÂQ YIQÂRÊ’ LEKHA ZÂRA’ dapat
dibandingkan dengan penjelasan rasul Paulus dalam ayat-ayat berikut
ini: Roma 9:7-8
“dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak
Abraham, tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut
keturunanmu.’ Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anakanak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang
benar.”
Sarah adalah istri sah, istri pertama, permaisuri.
Hagar adalah Gundik (istri ke-2, seorang budak)
Ishak adalah putra Mahkota karena lahir dari Istri Abraham yang sah,
Ishak-lah yang menerima hak kesulungan (First Born), walaupun
Ishak bukan “born first”
Jadi jelas bagi Allah, anak tunggal Abraham adalah Ishak,
karena PERJANJIAN Allah dengan Abraham berlanjut hanya kepada
Ishak. Dan lagi, perlu diingat bahwa Abraham atas saran istrinya
sudah mengusir Hagar dan Ismael, sehingga waktu peristiwa Kejadian
22:2 berlangsung, anak Abraham tinggal Ishak, anak satu-satunya
yang ada (Abraham baru menikah lagi pada Kej 25:1-6). Ingat! bagi
Allah, Perjanjian-Nya hanya diikatkan kepada Ishak dan
keturunannya. Jadi, tidak salah jika Ishak, anak yang dikasihi
Abraham disebut ‖anakmu yang tunggal itu‖.

106. Apakah Abyatar (Markus 2:26) atau Ahimelekh (1 Samuel 21:1;
22:20) yang menjadi imam besar ketika Daud ke dalam Bait Allah dan
memakan roti persembahan untuk Allah?

JAWAB : (Kategori : Salah memahami bahasa Yunani dan konteks
historis)
Markus 2:26
bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar
menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu — yang
tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam — dan memberinya juga
kepada pengikut-pengikutnya?”

TR Transliterasi, epi abiathar tou archiereôs
versus
1 Samuel 21:1
21:1 Sampailah Daud ke Nob kepada Ahimelekh, imam itu. Dengan
gemetar Ahimelekh pergi menemui Daud dan berkata kepadanya:
“Mengapa engkau seorang diri dan tidak ada orang bersama-sama
dengan engkau?”
21:2 Jawab Daud kepada imam Ahimelekh: “Raja menugaskan
sesuatu kepadaku, katanya kepadaku: Siapa pun juga tidak boleh
mengetahui sesuatu dari hal yang kusuruh kepadamu dan yang
kutugaskan kepadamu ini. Sebab itu orang-orangku telah kusuruh
pergi ke suatu tempat.
21:3 Maka sekarang, apa yang ada padamu? Berikanlah kepadaku
lima roti atau apa pun yang ada.”
21:4 Lalu jawab imam itu kepada Daud: “Tidak ada roti biasa padaku,
hanya roti kudus yang ada; asal saja orang-orangmu itu menjaga diri
terhadap perempuan.”
21:5 Daud menjawab imam itu, katanya kepadanya: “Memang, kami
tidak diperbolehkan bergaul dengan perempuan, seperti sediakala
apabila aku maju berperang. Tubuh orang-orangku itu tahir, sekalipun
pada perjalanan biasa, apalagi pada hari ini, masing-masing mereka
tahir tubuhnya.”
21:6 Lalu imam itu memberikan kepadanya roti kudus itu, karena
tidak ada roti di sana kecuali roti sajian; roti itu biasa diangkat orang
dari hadapan TUHAN, supaya pada hari roti itu diambil, ditaruh lagi

roti baru.
1 Samuel 22:20
Tetapi seorang anak Ahimelekh bin Ahitub, namanya Abyatar luput;
ia melarikan diri menjadi pengikut Daud.
Markus 2:26 mengutip Yesus sedang bertanya kepada orangorang yang ada dihadapanNya, apakah mereka tidak pernah membaca
apa yang telah dilakukan Daud ketia dia dengan orang-orangnya
kelaparan dan masuk ke tempat suci di Nob untuk meminta makanan
pada zaman Abyatar menjadi imam besar (1 Samuel 21:1-6). Tetapi,
kenyataannya, Daud berhadapan dengan ayah Abyatar, Ahimelekh
sebab yang menjadi imam besar ketika peristiwa itu terjadi adalah
Ahimelekh.
Apakah Yesus keliru ketika Dia menyebut tentang imam besar
yang tidak tepat? Pemeriksaan atau penyelidikan secara seksama atas
Markus 2:26 mengungkapkan sebenarnya. Yesus tidak
mengimplikasikan Abyatar yang menjadi imam besar ketika Daud
berkunjung kesana. Yesus hanya mengatakan ―epi abiathar tou
archiereôs”, yang artinya “pada zaman Abyatar menjadi imam besar”.
Ketika segala sesuatu berubah, maka Raja Saul yang haus darah ini
membantai Ahimelekh dan semua imam Tuhan di Nod memakai
tangan Doeg, orang Edom itu :
1 Samuel 22:18-19
22:18 Lalu berkatalah raja kepada Doëg: “Majulah engkau dan
paranglah para imam itu.” Maka majulah Doëg, orang Edom itu, lalu
memarang para imam itu. Ia membunuh pada hari itu delapan puluh
lima orang, yang memakai baju efod dari kain lenan.

22:19 Juga penduduk Nob, kota imam itu, dibunuh raja dengan mata
pedang; laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak yang
menyusu, pula lembu, keledai dan domba dibunuhnya dengan mata
pedang.
Selanjutnya hanya Abyatar, anak Ahimelekh, satu-satunya
yang cukup beruntung melarikan diri. Dia lari dan bergabung dengan
Daud (perhatikan ayat 20 di atas).
Lalu Abyatar ini mengabdi kepada Daud dan menjadi
imamnya selama Daud berada dalam pengembaraan dan pengasingan.
Maka, adalah wajar dia diangkat sebagai imam besar oleh Daud
setelah ia menjadi raja; Abyatar berbagi kedudukan sebagai imam
besar dengan Zadok, orang yang diangkat oleh Saul, sampai dengan
kematian Daud.
Dalam keadaan seperti ini, adalah tepat sekali untuk menyebut
Abyatar sebagai imam besar – kendatipun pengangkatannya sendiri
terjadi agak belakangan, setelah peristiwa di Nob – itu sama dengan
mengemukakan sebuah anekdot dengan mengatakan “Ketika Raja
Daud masih menajdi seorang pemuda penggembala” kendatipun
kenyataannya Daud bukanlah raja ketika ia menjadi penggembala.
Menurut WF Arndt dan FW Gringricch (A Greek-English
Lexicon of the New Testament, Chicago : University of Chicago, 1957,
p 286) kata “epi”p dengan genitif (penanda hubungan milik) hanya
bisa berarti “pada zaman…”, itulah pengertian yang dipakai pada
Markus 2:26. Bentuk yang sama dipakai dalam :
Kisah 11:28

Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa
Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya
kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius.
TR Transliterasi, epi klaudiou kaisaros
Ibrani 1:2
maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan
perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak
menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam
semesta.
TR Transliterasi, ep eschatôn tôn hêmerôn toutôn
Kisah 11:28 ” pada zaman kaisar Klaudius”, (“epi klaudiou kaisaros”)
dan Ibrani 1:2 “pada zaman akhir ini” (“ep eschatôn tôn hêmerôn
toutôn”).
Bandingkan dengan Markus 2:26 :
bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat
sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu — yang tidak boleh
dimakan kecuali oleh imam-imam — dan memberinya juga kepada
pengikut-pengikutnya?”
TR Transliterasi, epi abiathar tou archiereôs
Peristiwa tersebut terjadi “pada zaman” Abyatar; dia bukan
saja hidup, tetapi kenyataannya hadir ketika peristiwa itu terjadi, dan
segera sesudah itu dia menjadi imam besar setelah ayahnya
Ahimelekh, dibunuh oleh Saul.

Jika kata-kata Yesus itu ditafsirkan sebagaimana yang Yesus
maksudkan, maka mutlak hal tersebut tidak berbeda dengan fakta
sejarah.
Sumber :
– Archer, Gleason, L., Encyclopedia of Bible Difficulties, 1994
Revised Edition, 1982, Zondervan Publishing House, p 362.
– Arndt WF & FW Gringricch, A Greek-English Lexicon of the New
Testament, Chicago : University of Chicago, 1957, p 286

 

107. Apakah setiap orang itu berdosa (1 Raja 8:46, 2 Tawarikh 6:36,
Amsal 20:9, Pengkotbah 7:20, 1 Yohanes 1:8-10) ataukah ada yang
tidak berdosa ? (1 Yohanes 3:1, 8-9; 4:7; 5:1)


JAWAB : (Kategori: Salah memahami penggunaan bahasa Yunani
dan memaksakan menurut pemikirannya sendiri)
Apabila mereka berdosa kepada-Mu — karena tidak ada manusia yang
tidak berdosa — dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan
mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri
musuh yang jauh atau yang dekat, (1 Raja-raja 8:46)
Apabila mereka berdosa kepada-Mu — karena tidak ada manusia yang
tidak berdosa — dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan
mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri
yang jauh atau yang dekat, (2 Tawarikh 6:36)

Siapakah dapat berkata: “Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir
dari pada dosaku?” (Amsal 20:9)
Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik
dan tak pernah berbuat dosa! (Pengkotbah 7:20)
Versus :
1:8 Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri
kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil,
sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita
dari segala kejahatan.
1:10 Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita
membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam
kita. (1 Yohanes 1:8-10 )
3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada
kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah
anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia
tidak mengenal Dia.
3:8 barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis
berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.
3:9 Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab
benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa,
karena ia lahir dari Allah. (1 Yohanes 3:1, 8-9)

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab
kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir
dari Allah dan mengenal Allah. (1 Yohanes 4:7)
Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari
Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan,
mengasihi juga dia yang lahir dari pada-Nya. (1 Yohanes 5:1)
Kontradiksi semu di atas mempermasalahkan “Apakah setiap
orang berdosa” Lalu sejumlah ayat yang meng-iya-kannya didaftar
dari dalam PL, untuk dikonfrontasikan dengan sebuah ayat dari PB 1
Yohanes 1:8-10.
Setelah itu Shabbir Ally, pendebat dari Islam mengatakan
“Seorang kristen yang sejati tidak mungkin berdosa karena mereka
adalah anak-anak Allah”. Pernyataannya ini didukung dari sejumlah
ayat dalam Kitab 1 Yohanes yang menyebutkan bahwa orang Kristen
adalah anak-anak Allah berarti tidak berdosa. Memang benar bahwa
seseorang yang lahir dari Allah tidak berkebiasaan berbuat dosa, tetapi
itu bukan berarti bahwa mereka sesekali tidak akan jatuh ke dalam
dosa karena kita masih tinggal dalam dunia yang penuh dengan dosa
dan pelanggaran. Ada perbedaan antara “tidak berbuat dosa” dengan
“tidak berdosa”.
Dua ayat di bawah ini sepintas lalu menunjukkan suatu
“kontradiksi”, padahal hanyalah sekedar suatu “variasi” belaka.
1 Yohanes 1:8

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri
kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.”
KJV, If we say that we have no sin, we deceive ourselves, and the
truth is not in us.
NIV, If we claim to be without sin, we deceive ourselves and the truth
is not in us.
TR Interlinear, “ean {jika} eipômen {kita berkata} hoti {bahwa}
hamartian {dosa} ouk {tidak} ekhomen {kita memiliki} heautous
{diri sendiri} planômen {kita menyesatkan} kai {dan} hê alêtheia
{kebenaran} ouk {tidak} estin {ia ada} en {di dalam} hêmin {kita}”
Rasul Yohanes menggunakan kata benda ‘hamartia’, bukan
kata kerja seperti ayat di bawah ini. Di sini “dosa” cenderung
bermakna sifat dasar tabiat manusia dan bukan perbuatannya.
1 Yohanes 3:9
“Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab
benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa,
karena ia lahir dari Allah.”
NIV, No one who is born of God will continue to sin, because God’s
seed remains in him; he cannot go on sinning, because he has been
born of God.
TR Interlinear, “pas {setiap} ho {yang} gegennêmenos {sudah
dilahirkan} ek {dari} tou theou {Allah} hamartian {dosa} ou {tidak}
poiei {ia berbuat} hoti {sebab} sperma {benih} autou {-Nya} en {di
dalam} autô {-nya} menei {ia tinggal} kai {dan} ou {tidak} dunatai

{ia dapat} hamartanein {untuk berdosa} hoti {bahwa} ek {dari} tou
theou {Allah} gegennêtai {ia sudah dilahirkan}”
Kata kerja “berbuat dosa” yang kedua ditulis ‘hamartanein’,
yaitu kata ‘hamartanô’, “berdosa” dalam bentuk infinitif aktif masa
kini, yang menunjukkan tindakan yang terus berlangsung. Yohanes
menekankan bahwa orang yang sungguh-sungguh dilahirkan kembali
dari Allah tidak mungkin mempunyai cara hidup yang berdosa karena
hidup Allah tidak dapat hadir di dalam mereka yang berbuat dosa.
Perhatikan terjemahan NIV yang menterjemahkan ayat secara
kontekstual, lebih mudah dimengerti, dengan menggunakan bentuk
“present continuous” dalam ayat tersebut, yaitu seperti apa yang
tertulis dalam bahasa asli Yunaninya. Dengan demikian bisa kita
mengerti maknanya yaitu : “Mereka yang lahir dari Allah tidak akan
terus berbuat dosa … dan mereka tidak dapat berbuat dosa terus”.
Yaitu suatu gagasan bahwa hidup yang terus-menerus di dalam dosa
akan mati, namun kini si pendosa yang bertobat itu telah mendapat
pertolongan Allah melalui kuasa Roh Kudus, maka ia tidak akan terus
berbuat dosa.
Kelahiran baru menghasilkan kehidupan rohani yang
mendatangkan hubungan bersinambung dengan Allah. Dalam surat
ini, setiap kali Yohanes berbicara mengenai kelahiran baru orang
percaya, dia memakai bentuk waktu yang sudah selesai dalam bahasa
Yunani untuk menekankan hubungan yang sinambung dan terusmenerus yang dimulaikan oleh kelahiran baru.
Memiliki hidup Allah di dalam diri kita (yaitu, dilahirkan
kembali dari Allah) dan berbuat dosa terus adalah suatu kemustahilan

rohani. Orang percaya bisa kadang-kadang gagal untuk memenuhi
standar Allah yang tinggi, tetapi mereka tidak akan terus-menerus
hidup dalam dosa.
Yang menjaga orang yang setia dari berbuat dosa adalah
“benih Allah” dalam diri mereka yaitu hidup, Roh, dan tabiat Allah
sendiri yang ada dalam mereka. Oleh iman, Kristus yang mendiami
kita, kuasa Roh Kudus, dan firman yang tertulis, semua orang percaya
dapat hidup bebas dari dosa dan pelanggaran dari saat ke saat.
Jadi, “tidak berbuat dosa” bukanlah suatu kondisi yang dapat
dikategorikan sebagai “dapat” atau “tidak dapat”, “mungkin” atau
“mustahil”. Orang Kristen yang sudah lahir baru masih “dapat”
berbuat dosa, tetapi mereka tidak “harus” berbuat dosa, berbuat dosa
itu bukan lagi merupakan “kebiasaan” tetapi suatu perbuatan yang
harus dimatikan melalui Roh Kudus.
Mazmur 97:10
“Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia,
yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan
melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.”
Naskah Ibrani Teks Masoretik: “‘OHAVÊY YEHOVÂH SIN’Û RÂ’
SYOMÊR NAFSYÕT KHASÏDÂV MÏYAD RESYÂ’ÏM
YATSÏLÊM”
Alkitab jelas menyatakan bahwa semua manusia telah berdosa,
kecuali satu, yaitu Tuhan Yesus Kristus, Oleh karena itu, kami tidak
menyalahkan Shabbir di sini. Kami justru senang dengan pernyataan

Shabbir yang kedua, yang mengatakan bahwa orang Kristen adalah
anak-anak Allah.
Tetapi pernyataan Shabbir yang ketiga itulah yang
menimbulkan perselisihan; ia tidak mengetahui bagaimana sebuah
tema dikembangkan dalam surat. Inti dari surat Yohanes di sini adalah
panggilan untuk hidup kudus dan benar karena pengampunan dosa
yang diberikan melalui kematian Kristus. Untuk itulah kita dipanggil,
yaitu untuk tidak terus hidup dalam dosa melainkan berubah menjadi
tidak bercacat cela seperti panutan kita, Yesus Kristus yang tidak
berdosa. Dalam upayanya mencari-cari kontradiksi, Shabbir telah
salah menggunakan ayat, sehingga ayat bacaan yang tadinya
dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah pertentangan, justru tidak
saling bertentangan.
Sumber :
– Yohannes/ Biblika
– Jay Smith, Alex Chowdhry, Toby Jepson, James Schaeffer, 101
Contradictions in the Bible Cleared Up .

108. Apakah Keluarga Yakub yang pindah ke Mesir berjumlah 70
orang (Kejadian 46:27) ataukah 75 orang? (Kisah Para Rasul 7:14)

JAWAB : (Kategori : salah memahami konteks historis)
Kejadian 46:27
46:27 Anak-anak Yusuf yang lahir baginya di Mesir ada dua orang.
Jadi keluarga Yakub yang tiba di Mesir, seluruhnya berjumlah tujuh
puluh jiwa.

Kisah Para Rasul 7:14
Kemudian Yusuf menyuruh menjemput Yakub, ayahnya, dan semua
sanak saudaranya, tujuh puluh lima jiwa banyaknya.
Pertentangan semu di atas menyangkut jumlah anggota keluarga
Yakub yang pindah ke Mesir. Kedua ayat dalam Kejadian 46:1-27 dan
Kisah 7:14 dianggap saling bertentangan, padahal tidak, keduanya
sama-sama benar.
Ada perbedaan 5 jiwa antara kedua ayat tersebut. Tambahan 5 jiwa ini
menunjuk kepada nama anak-anak dari Manasye dan Efraim
yang disebutkan dalam I Tawarikh 7:14-21 dan Bilangan 26:28-34.
Manasye dan Efraim adalah anak dari Yusuf.
Oleh karena itu Kisah Para Rasul 7:14 yang mengutip ucapan Stefanus
sebelum ia mati adalah benar karena ada rujukannya dalam Perjanjian
Lama. Jadi 5 jiwa tambahan tidak tercatat dalam Kitab Kejadian 46:27
karena lahir dikemudian hari, namun Stefanus mengetahui itu dari
kitab-kitab lain seperti I Tawarikh dan Bilangan yang detail
menjelaskan keturunan anak cucu Yusuf, juga dari naskah
Septuaginta.

109. Apakah 24.000 orang Israel mati karena tulah di Sitim (Bilangan
25:1,9) atau hanya 23.000 orang? (1 Korintus 10:8)

JAWAB : (Kategori : salah mengaitkan cerita yang satu dengan yang
lain)

Bilangan 25:1-9
25:1 Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah
dengan perempuan-perempuan Moab.
25:2 Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban
sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban
itu dan menyembah allah orang-orang itu.
25:3 Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka
TUHAN terhadap Israel;
25:4 lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tangkaplah semua
orang yang mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka di hadapan
TUHAN di tempat terang, supaya murka TUHAN yang bernyalanyala itu surut dari pada Israel.”
25:5 Lalu berkatalah Musa kepada hakim-hakim Israel: “Baiklah
masing-masing kamu membunuh orang-orangnya yang telah
berpasangan dengan Baal-Peor.”
25:6 Kebetulan datanglah salah seorang Israel membawa seorang
perempuan Midian kepada sanak saudaranya dengan dilihat Musa dan
segenap umat Israel yang sedang bertangis-tangisan di depan pintu
Kemah Pertemuan.
25:7 Ketika hal itu dilihat oleh Pinehas, anak Eleazar, anak imam
Harun, bangunlah ia dari tengah-tengah umat itu dan mengambil
sebuah tombak di tangannya,
25:8 mengejar orang Israel itu sampai ke ruang tengah, dan menikam
mereka berdua, yakni orang Israel dan perempuan itu, pada perutnya.
Maka berhentilah tulah itu menimpa orang Israel.
25:9 Orang yang mati karena tulah itu ada dua puluh empat ribu
orang banyaknya.

1 Korintus 10:8
Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh
beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua
puluh tiga ribu orang.
Pertentangan di sini mempermasalahkan mengenai jumlah orang
Israel yang mati karena tulah yang terjadi di Sitim. Kitab Bilangan
25:1-9 dan 1 Korintus 10:8 dianggap saling bertolak belakang.
Ada dua kemungkinan jawaban untuk menjelaskan perbedaan
ini yaitu: Pertama, 23.000 orang yang mati itu (ayat 28) adalah mereka
yang mati karena tangan Tuhan melalui wabah/tulah yang Tuhan
kirimkan kepada mereka yang menentang Dia. Sedangkan 1000
lainnya yang merupakan pemimpin dari kelompok orang-orang, mati
karena dibunuh oleh Pinehas dan hakim-hakim Israel.
Jawaban kedua yaitu Paulus dalam I Korintus 10:8 hanya
menyebutkan yang tewas DALAM SATU HARI sebanyak 23.000
orang, sedangkan 1000 orang lainnya tewas pada hari berikutnya.
Jadi tidak ada yang kontradiksi dalam hal ini.

110. 1 SAMUEL 6:19 TEKS KUNO (al. DRB & HCSB) VS 1 SAMUEL 6:19 ALKITAB INDONESIA.

Dalam 1 Samuel teks kuno (DRB & HCSB) TERTULIS, “Tuhan
membunuh 50.070 orang karena melihat tabut Tuhan”, TETAPI dalam
1 Samuel ALKITAB Indonesia, “Tuhan hanya membunuh 70 orang
saja”. Mana yang benar?
JAWAB:
1 Samuel 6:19
Alkitab DRB
But he slew of the men of Bethsames, because they had seen the ark
of the Lord, and he slew of the people seventy men, and fifty
thousand of the common people. And the people lamented, because
the Lord had smitten the people with a great slaughter.
Alkitab LAI TB :
Dan Ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat
ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat
itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka
dengan dahsyatnya
Kita kaji teks asli ayat tersebut :
Naskah Ibrani Teks Masoretik:
VAYAKH BEANSHEI VE’IT-SHEMESH KI RAU BAARON
YEHOVAH VAYAKH BA’AM {people} SHIVIM {seventy} ISH
{man} KHAMISHIM {fifty/ a multiple of fifty (with other numbers)
} ELEF {thousand} ISH {man} VAYITABLU HA’AM KI-HIKA
YEHOVAH BA’AM MAKA GEDOLA
Alkitab KJV,
And he smote the men of Bethshemesh, because they had looked into
the ark of the LORD, even he smote of the people fifty thousand and
threescore and ten men (50.000+60+10=50.070): and the people
lamented, because the LORD had smitten many of the people with a
great slaughter.

Maka, yang tepat adalah 50.070 sesuai dengan Naskah Ibrani
Teks Masoretik yang menjadi acuan Alkitab King James Version,
yang terjemahannya lebih tepat mendekati teks aslinya.
Memang benar bahwa 50.000 orang tampaknya merupakan
jumlah yang jauh melebihi populasi yang wajar dari sebuah komunitas
seperti Bet-Semes pada abad kesebelas SM. Namun, ada bukti sangat
kuat yang menunjukkan bahwa teks asli dari I Samuel 6:19 mencatat
bilangan yang jauh lebih kecil. Artinya, tidak ada angka seperti 50.070
ditulis di mana pun dengan cara ini menurut tata bahasa Ibrani
Alkitab. Susunan kata yang lazim adalah shib`iym ‘iysh, wah¦mishiym
‘elep ‘iysh (harfiah ‖tujuh puluh orang dan lima puluh ribu orang‖)
atau jika dengan urutan menurun yang jauh lebih lazim adalah
ha¦mishiym ‘elep ‘iysh washib`iym ‘iysh (‖lima puluh ribu orang dan
tujuh puluh orang‖). Fakta bahwa kedua susunan kata yang lazim ini
tidak diikuti oleh teks Ibrani yang diterima untuk ayat ini
menimbulkan kecurigaan yang sangat bisa dibenarkan bahwa teks
tersebut diputarbalikkan secara kurang cermat dalam proses
penyalinan.
Meskipun benar bahwa Septuaginta memakai bacaan yang
sama ini dalam Vorlage atau teks asli Ibrani (hebdomekonta andras
kai pentekonta chiliadas andron, ‖tujuh puluh orang dan lima puluh
ribu orang‖), sangat penting bahwa pada akhir abad pertama Masehi
pun Yosefus (dalam Antiquitiess 6.1.4) menyebut nyawa yang hilang
di Bet-Semes hanya 70, tanpa menyebut apa pun mengenai ‖50.000.‖
Ada juga beberapa naskah Ibrani yang sama sekali menghilangkan

kata-kata ‖lima puluh ribu orang.‖ Jadi LAI TB sudah tepat dengan
menulis 70 orang. Karena itu, tidak perlu orang mempertahankan
bilangan yang besar ini sebagai bagian dari teks dalam naskah asli
yang tak mungkin salah dari I Samuel. Juga, tidak mungkin bahwa
lebih dari 70 orang terlibat dalam pencemaran ketika memindahkan
‖tutup pendamaian‖ dari Tabut Perjanjian untuk melihat apa yang ada
di dalamnya. Nyaris tidak masuk akal bahwa 50.000 orang waktu itu
berderetan dekat tabut yang terbuka untuk melihat isi dalam tabut dan
yakin bahwa tabut itu hanya berisi 2 loh batu Dasa Titah (bandingkan
dengan I Raj 8:9).
Karena itu, nyaris mustahil untuk menjelaskan hilangnya
nyawa yang demikian banyak. Namun, untuk 70 orang yang terlibat
dalam pencemaran ini, mereka menunjukkan sikap tidak hormat
kepada Allah yang telah menyelubungi simbol kehadiran-Nya ini
dengan sanksi-sanksi sangat serius, sehingga nyaris tidak
mengherankan jika mereka kehilangan nyawa secara mendadak dan
tragis—mirip yang dialami Uza pada zaman Daud, ketika dia hanya
menyentuh bagian luar dari Tabut itu, untuk menahannya ketika kereta
tergelincir (II Sam 6:6-8).

111. I SAMUEL 1:1 menyebutkan ayah Samuel adalah seorang Efraim
VS I TAWARIKH 6:16-28 mengatakan ayah Samuel seorang Lewi.
Mana yang benar?

JAWAB: (Kategori: salah memahami konteks sejarah atau maksud
penulis)
Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim,
namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang
Efraim. (I SAMUEL 1:1)
VS
I TAWARIKH 6:16-28
6:16 Anak-anak Lewi ialah Gerson, Kehat dan Merari.
6:17 Inilah nama anak-anak Gerson: Libni dan Simei.
6:18 Anak-anak Kehat ialah Amram, Yizhar, Hebron dan Uziel.
6:22 Keturunan Kehat ialah Aminadab, anaknya, dan anak orang ini
ialah Korah, dan anak orang ini ialah Asir,
6:23 dan anak orang ini ialah Elkana, dan anak orang ini ialah
Ebyasaf, dan anak orang ini ialah Asir,
6:24 dan anak orang ini ialah Tahat, dan anak orang ini ialah Uriel,
dan anak orang ini ialah Uzia, dan anak orang ini ialah Saul.
6:25 Anak-anak Elkana ialah Amasai dan Ahimot,
6:26 dan anak orang ini ialah Elkana, dan anak orang ini ialah Zofai,
dan anak orang ini ialah Nahat,
6:27 dan anak orang ini ialah Eliab, dan anak orang ini ialah
Yeroham, dan anak orang ini ialah Elkana.
6:28 Anak-anak Samuel ialah Yoël, anak sulung dan anak yang kedua
ialah Abia.
I Tawarikh 6:16,22-28 mengatakan bahwa Elkana, ayah
Samuel (harus dibedakan dengan Elkana, anak Asir, yang merupakan
keturunan keempat sebelum dia) adalah keturunan Kehat, anak
Lewi, sebagaimana Musa dan Harun. Karena alasan inilah Samuel
diterima sebagai bujang (pembantu) oleh Imam Besar Eli (Baca I Sam
1:24,28; 2:11) untuk magang di bawah pengawasannya. Ketika
Samuel sudah dewasa, dia menjadi imam yang mempersembahkan
kurban-kurban di tempat-tempat peribadatan terkemuka Israel, yang
tentunya tidak dapat ia lakukan seandainya ia bukan dari suku imam
yaitu suku Lewi.
Sejauh menyangkut I Samuel 1:1, yang dinyatakan hanyalah
Elkana adalah ‖dari‖ (min) Ramataim-Zofim di pegunungan
Efraim. Kepada semua orang Lewi diberikan ‖kota-kota orang Lewi‖
tertentu atau tanah-tanah penggembalaan di antara Kedua Belas Suku
yang diatur dalam kitab Bilangan 35:6. Kita tidak mempunyai daftar
tentang 48 kota-kota ini, namun sangat mungkin Ramataim-Zofim
adalah salah satu diantaranya.
Jadi, berdasarkan daerah asalnya dia adalah orang Efraim,
namun berasal dari suku Lewi. Karena itu, tidak terdapat kontradiksi
apa pun di antara dua bagian Alkitab ini.

Leave a Comment

You cannot copy content of this page