Oei Tiong Ham si Raja Gula dari Semarang

OTHC dari Kian Gwan hingga Rajawali –

PT. Rajawali Nusantara Indonesia adalah sebuah Badan Usaha Milik Negara yang menjalankan sejumlah usaha, termasuk usaha produksi gula. Generasi sekarang banyak yang sudah tidak mengetahui bahwa perusahaan ini sebenarnya adalah penerus dari Oei Tiong Ham Concern, konglomerasi bisnis pertama di Asia Tenggara yang didirikan oleh Oei Tiong Ham pada awal abad ke-20.

Oei Tiong Ham (黃仲涵 Huáng Zhònghán) lahir di Semarang pada tanggal 19 November 1866, tepat 150 tahun lalu. Ayahnya, Oei Tjie Sien, lahir di Hokkian, Tiongkok pada tahun 1835. Oei Tjie Sien merantau ke Semarang pada tahun 1858 karena saat itu Tiongkok sedang kacau akibat pemberontakan Taiping. Berbeda dengan pada umumnya perantau Tionghoa pada masa itu, Oei Tjie Sien adalah seorang yang cukup terpelajar. Di Semarang Oei Tjie Sien menikah dengan Tjan Bien Nio (lahir di Semarang tahun 1839), dan dari perkawinan ini lahirlah Oei Tiong Ham serta satu adik laki-lakinya, Oei Tiong Bing, dan empat adik perempuannya.

Oei Tjie Sien memulai usahanya di Semarang sebagai pedagang keliling. Setelah usahanya berkembang, pada tahun 1863 dia mendirikan Kian Gwan Kongsi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan hasil bumi dan barang kebutuhan umum. Kian Gwan (建源 Jiànyuán) artinya Sumber Kemakmuran. Setelah usianya mulai lanjut, Oei Tjie Sien menyerahkan kepemimpinan Kian Gwan kepada Oei Tiong Ham pada tahun 1893. Oei Tiong Ham menjadikan Kian Gwan sebagai perseroan berbadan hukum dengan nama NV. Handel Maatschappij Kian Gwan.

Oei Tiong Ham sendiri sudah mempunyai usaha sendiri sejak tahun 1880an. Usaha Oei Tiong Ham bermula dari suatu transaksi dengan seorang mantan konsul Jerman di Semarang yang menyewa sebuah rumah besar berhalaman luas dari Oei Tjie Sien. Sang konsul sangat menyukai rumah itu, tapi Oei Tjie Sien menolak menjualnya. Sang konsul kemudian mendekati Oei Tiong Ham. Dia menawarkan sejumlah uang, yang dikatakannya sebagai pembayaran di muka, dengan syarat rumah yang disewanya itu akan menjadi miliknya setelah Oei Tjie Sien tiada. Oei Tiong Ham menyanggupi, dan dari uang itulah dia memulai usahanya sendiri.

Oei Tiong Ham memulai usahanya di bidang perdagangan gula. Kemudian dia berhasil memenangi lelang izin perdagangan opium dari pemerintah Belanda. Hingga tahun 1904 opium masih merupakan barang legal. Dari perdagangan opium Oei Tiong Ham memperoleh keuntungan yang sangat banyak, dan dari keuntungan itulah dia memulai usaha produksi gula. Ketika ayahnya wafat, kekayaan Oei Tiong Ham sudah melebihi kekayaan ayahnya.

Oei Tjie Sien wafat di Semarang pada tahun 1900. Dia mewariskan harta sekitar 7 juta gulden atau kurang lebih setara dengan 2,2 trilyun rupiah pada saat ini. Oei Tiong Ham memberi adik-adiknya sejumlah uang dari kekayaan pribadinya agar dia menjadi ahli waris tunggal Kian Gwan, sedangkan mereka menjadi ahli waris harta yang lain. Oei Tiong Ham juga mengatur agar perjanjiannya dengan sang konsul mengenai kepemilikan rumah dapat dipenuhi.

Setelah mewarisi Kian Gwan, Oei Tiong Ham mengkonsolidasi perusahaan itu dengan perusahaan-perusahaan lain miliknya ke dalam suatu kelompok usaha yang diberi nama Oei Tiong Ham Concern (OTHC). Di bawah Oei Tiong Ham OTHC maju dengan sangat pesat. OTHC mempunyai lima pabrik gula besar beserta perkebunan tebunya (NV. Algemeene Maatschappij tot Exploitatie der Oei Tiong Ham Suikerfabrieken). Oleh karena itulah orang-orang menyebut Oei Tiong Ham si Raja Gula dari Semarang. Saat itu Indonesia adalah eksportir gula terbesar di dunia, dan OTHC adalah produsen gula terbesar di Indonesia. Selain itu OTHC juga mempunyai sejumlah usaha lain, yaitu perdagangan hasil bumi dan barang kebutuhan umum (NV. Handel Maatschappij Kian Gwan), pelayaran (Heap Eng Moh Steamship Co.), pergudangan (NV. Midden Java Veem), real estate (NV. Bouw Maatschappij Randoesari), perbankan (NV. Bank Vereeniging Oei Tiong Ham), keagenan asuransi, pabrik biskuit, dan pabrik tapioka beserta perkebunan singkongnya. OTHC mempunyai perusahaan perwakilan di Singapura (Kian Gwan Malaya Ltd.), India (Kian Gwan Company India Ltd.), Inggris (Kian Gwan West Agency Ltd.), Belanda, Amerika Serikat, Tiongkok, Hongkong, Thailand, dan Australia.

OTHC berkembang menjadi konglomerasi bisnis terbesar di Asia Tenggara, dan Oei Tiong Ham pun menjadi orang terkaya di Asia Tenggara pada masanya. Dengan kekayaannya Oei Tiong Ham menjadi seorang tokoh yang sangat termasyhur dan berpengaruh. Pemerintah Belanda memberinya gelar Majoor-Titulair der Chinezen, dan para pengusaha Tionghoa memilihnya sebagai ketua Tionghoa Siang Hwee (Serikat Dagang Tionghoa) untuk enam masa jabatan berturut-turut.

Oei Tiong Ham adalah seorang yang berkepribadian kuat, cerdas, cekatan, pragmatis, dan berani mengambil risiko dalam menjalankan usahanya. Dia juga adalah seorang yang memperhatikan administrasi. Berbeda dengan kebanyakan orang Tionghoa pada masa itu, Oei Tiong Ham menerapkan manajemen modern dan delegasi wewenang dalam perusahaannya, serta selalu membuat kontrak resmi tertulis untuk transaksi bisnisnya. Untuk urusan administrasi dan teknis, dia mempekerjakan akuntan, pengacara dan insinyur profesional, serta menggunakan mesin-mesin modern untuk pabrik-pabriknya; sedangkan untuk urusan bisnis, dia lebih suka mempekerjakan manajer-manajer yang berani dan berjiwa bisnis. Oei Tiong Ham tidak hanya mempekerjakan orang-orang Tionghoa dan pribumi, tapi juga mempekerjakan orang-orang Belanda dan orang Eropa lain.

Dalam kehidupan pribadi Oei Tiong Ham juga berbeda dengan kebanyakan orang Tionghoa pada masa itu. Dia lebih senang dengan gaya hidup Eropa modern daripada gaya hidup Tionghoa tradisional. Oei Tiong Ham tidak dapat berbahasa Belanda atau Inggris (sehari-hari dia berbicara dalam bahasa Tionghoa dan Indonesia), tetapi dia selalu mengenakan pakaian Eropa, menyukai makanan Eropa (selain makanan Tionghoa dan Indonesia), dan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Belanda. Oei Tiong Ham juga terkenal dengan hidupnya yang sangat mewah.

Di Semarang Oei Tiong Ham mempunyai sebuah rumah bergaya Eropa yang besar dan mewah dengan halaman seluas 9,2 hektar. Rumah dan halamannya ini adalah bagian dari kompleks kediaman pribadi Oei Tiong Ham yang luasnya 81 hektar. Selain rumah tersebut, di kompleks ini juga terdapat 2 paviliun besar dan 4 paviliun kecil untuk para tamu dan keluarga, 30 rumah kecil untuk para pekerja, taman besar dengan aneka bunga dan ornamen-ornamen hias serta bukit-bukit kecil, kolam ikan yang luas dengan gazebo-gazebonya, istal kuda dan garasi, dan bahkan sebuah kebun binatang pribadi yang dibuat Oei Tiong Ham untuk anak-anaknya. Total ruangan di rumah induk, paviliun-paviliun dan rumah-rumah kecil di kompleks ini mencapai 200 ruangan. Oei Tiong Ham mempekerjakan lebih dari 90 orang untuk mengurus rumah dan kompleksnya, termasuk tiga kepala koki untuk tiga dapur, yaitu dapur untuk makanan Tionghoa, Indonesia dan Eropa. Ketika Raja Thailand berkunjung ke Semarang, Oei Tiong Ham bahkan sempat menjamu sang raja di rumahnya ini.

Rumah Oei Tiong Ham ini masih ada hingga kini, tetapi yang tersisa hanya rumah induk dan halaman seluas 0,75 hektar. Selebihnya sudah menjadi perkampungan. Pada tahun 1961 rumah ini disita pemerintah Indonesia dan dijadikan Balai Prajurit oleh Kodam Diponegoro. Pada tahun 2003 rumah ini dibeli dan direnovasi oleh seorang pengusaha yang bernama Budi Purnomo atas saran ayahnya, Ho Liong Tiauw.

Oei Tiong Ham menikah dengan Goei Bing Nio pada tahun 1884. Selain Goei Bing Nio, Oei Tiong Ham juga mempunyai tujuh istri lain. Oei Tiong Ham tidak pernah menceraikan istri-istrinya. Dia hanya terus menambah istri baru. Dari 8 istri Oei Tiong Ham memperoleh 26 anak (13 anak laki-laki dan 13 anak perempuan). Berikut ini adalah istri-istri dan anak-anak Oei Tiong Ham:

Istri pertama: Goei Bing Nio.
Anak perempuan: Oei Tjong Lan, Oei Hui Lan.

Istri kedua: The Khiam Nio.
Anak perempuan: Oei Djoe Nio.

Istri ketiga: The Tjik Nio.
Anak laki-laki: Oei Tjong Tee, Oei Tjong Swan*, Oei Tjong Yoe, Oei Tjong Tiong, Oei Tjong Liam.
Anak perempuan: Oei Hwan Nio, Oei Oen Nio, Oei Liang Nio, Oei Siok Nio.

Istri keempat: Ong Tjiang Tjoe.
Anak perempuan: Oei Sioe Nio, Oei Bien Nio.

Istri kelima: Ong Mie Hoa.
Anak laki-laki: Oei Tjong Hauw, Oei Tjong Tjiat, Oei Tjong Yan, Oei Tjong Ik.
Anak perempuan: Oei Swat Nio.

Istri keenam: Njoo Swat Ting.
Anak perempuan: Oei Ing Nio.

Istri ketujuh: Ho Kiem Hoa (Lucy Ho).
Anak laki-laki: Oei Tjong Ie, Oei Tjong Bo, Oei Tjong Hiong, Oei Tjong Tjay.
Anak perempuan: Oei Twan Nio.

Istri kedelapan: Tan Sien Nio.
Anak perempuan: Oei Siang Nio.

Ahli waris saham OTHC.

Putri kedua Oei Tiong Ham, Oei Hui Lan, menikah dengan Koo Wei Chun (Wellington Koo), seorang diplomat dan pejabat Republik Tiongkok. Dalam karirnya Wellington Koo pernah menjabat sekretaris presiden, kepala misi diplomatik di Amerika Serikat, kepala misi diplomatik di Liga Bangsa-Bangsa, menteri luar negeri, menteri keuangan, pejabat perdana menteri, pelaksana tugas presiden, duta besar di Prancis, duta besar di Inggris, duta besar di Amerika Serikat, serta hakim dan wakil ketua Mahkamah Internasional di Den Haag. Dengan jabatan suaminya dan kekayaan ayahnya, Oei Hui Lan menjadi seorang sosialita dunia pada masa itu.

Oei Hui Lan lahir di Semarang pada tahun 1889. Dalam memoarnya dia mengenang betapa luar biasa hidupnya saat ayahnya masih ada. Saat kecil dia bisa sesuka hati mengambil barang apa saja di semua toko di Semarang, dan para pemilik toko akan menagih ke kantor ayahnya. Dia juga pernah diberi hadiah kalung berlian seberat 80 karat, dan pernah dibuatkan pesta ulang tahun seperti dalam kisah The Tatler. Untuk urusan pendidikan, selain sekolah dia dan saudara-saudaranya juga dipanggilkan guru-guru privat untuk belajar berbagai hal. Setelah dewasa dan menikah dia tetap mendapat subsidi penuh dari ayahnya. Dari gaji pelayan dan sopir hingga urusan fashion semuanya ditanggung sang ayah. Jika perlu uang dia cukup mengirim telegram. “Kirimkan empat”, dan 4 ribu gulden dikirimkan. 4 ribu gulden saat itu kurang lebih setara dengan 1,25 milyar rupiah saat ini. Saat mengikuti suaminya kembali ke Tiongkok dan mendapati rumah yang akan mereka tempati tidak layak menurut standarnya, dia mengeluh kepada ayahnya dan sang ayah segera membeli sebuah rumah mewah untuknya. Saat mengikuti suaminya bertugas di London, dia dibelikan ayahnya rumah di Wimbledon dan mobil Rolls-Royce. Oei Hui Lan menulis bahwa saat itu tak pernah terpikir olehnya bahwa suatu saat uang ayahnya bisa saja habis. Akan tetapi setelah ayahnya wafat dan dunia dilanda depresi ekonomi dan perang, dia merasa “hari-harinya menjadi mendung”. Dia memang tidak sampai jatuh miskin, tapi dia tidak bisa lagi sesuka hati seperti dulu. Dia juga akhirnya berpisah dengan suaminya karena sang suami terlalu sibuk dengan pekerjaannya. “Cinta Wellington hanya untuk China”, demikian tulisnya. Oei Hui Lan wafat di Amerika Serikat pada tahun 1992 dalam usia 103 tahun.

Saat Perang Dunia Pertama berlangsung di Eropa (1914-1918), pasaran gula dunia mengalami fluktuasi hebat. Oei Tiong Ham dengan cerdik justru memanfaatkan situasi itu untuk memperoleh keuntungan yang besar. Setelah perang berakhir, pemerintah Belanda mewajibkan orang-orang yang memperoleh keuntungan ekstra saat perang untuk membayar pajak tambahan dalam jumlah besar. Oei Tiong Ham keberatan. Dia meninggalkan Indonesia dan pindah ke Singapura pada tahun 1921 untuk menghindari pajak tambahan lebih lanjut. Selain masalah pajak tadi, kepindahan Oei Tiong Ham ke Singapura juga karena dia ingin menghindari hukum perdata Belanda yang membatasinya dalam mengatur pembagian warisan. Dengan hukum Inggris yang berlaku di Singapura saat itu, Oei Tiong Ham dapat mengatur pembagian warisan sesuai dengan kehendaknya.

Oei Tiong Ham wafat di Singapura pada tanggal 6 Juni 1924 dalam usia 57 tahun. Dia wafat secara mendadak karena serangan jantung. Jenazahnya dibawa dari Singapura ke Semarang dan dimakamkan di sana. Akan tetapi pada tahun 1975 anak-anak Oei Tiong Ham memindahkan makam ayah mereka ke Singapura karena area di sekitar makam di Semarang sudah berubah menjadi perkampungan.

Oei Tiong Ham mewariskan harta sekitar 200 juta gulden atau kurang lebih setara dengan 62,5 trilyun rupiah pada saat ini. Sesuai wasiatnya, harta selain saham perusahaan-perusahaan OTHC diwariskan kepada semua anak, tetapi harta berupa saham perusahaan-perusahaan OTHC hanya diwariskan kepada 9 anak. Semua putri tidak memperoleh warisan saham. Putra-putra yang sudah dewasa tapi dinilai tidak kompeten dalam mengurus perusahaan juga dicoret dari daftar ahli waris saham. Saham hanya diwariskan kepada 2 putra yang sudah dewasa dan dinilai kompeten, serta kepada 7 putra yang belum dewasa yang tidak dicoret karena belum bisa dinilai kompetensinya. Seandainya Oei Tiong Ham hidup lebih lama lagi, mungkin ada di antara 7 putra tersebut yang akan dicoret dari daftar ahli waris saham karena dinilai tidak kompeten setelah mereka dewasa.

Kurang lebih sepuluh tahun kemudian, sebagian anak yang tidak memperoleh warisan saham menggugat di pengadilan dengan dalil bahwa keberadaan Oei Tiong Ham di Singapura hanya bersifat sementara dan domisili resminya tetap masih di Semarang, sehingga adalah hukum Belanda dan bukan hukum Inggris yang seharusnya berlaku dalam pembagian warisan. Perkara ini berlangsung hingga tahun 1939, mulai dari pengadilan di Singapura hingga pengadilan di London, hingga akhirnya diputuskan bahwa warisan saham tetap hanya diperoleh 9 anak yang ditunjuk Oei Tiong Ham, tetapi 17 anak yang tidak memperoleh warisan saham mendapat kompensasi masing-masing 400 ribu gulden (kurang lebih setara dengan 125 milyar rupiah pada saat ini) per orang. Kompensasi tersebut menjadi tanggungan anak-anak yang memperoleh warisan saham.

Sebagaimana yang diatur Oei Tiong Ham, setelah dia wafat kepemimpinan OTHC beralih kepada putra keduanya, Oei Tjong Swan, sedangkan putra kelimanya, Oei Tjong Hauw, menjadi wakil kakaknya. Akan tetapi karena kondisi kesehatannya yang kurang baik, pada tahun 1927 Oei Tjong Swan menyerahkan jabatannya kepada Oei Tjong Hauw, dan pada tahun 1931 dia menjual semua sahamnya kepada delapan saudara ahli waris saham lainnya dan mengundurkan diri sepenuhnya dari OTHC dan pindah ke Belanda. Oei Tjong Swan wafat di Amerika Serikat pada tahun 1944.

Oei Tjong Hauw mewarisi bakat ayahnya. Dia mengembangkan OTHC dengan membuka usaha perkebunan dan pengolahan karet di Sumatera, mendirikan pabrik penyulingan alkohol di Tiongkok, serta membuka perusahaan perwakilan di Jepang. Akan tetapi depresi besar ekonomi dunia (1930an), Perang Dunia Kedua (1939-1945), pendudukan Jepang atas Indonesia (1942-1945), Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949), dan revolusi di Tiongkok (1949) membuat OTHC mengalami pukulan hebat dalam waktu berkepanjangan. Pabrik tapioka dan tiga dari lima pabrik gula hancur akibat perang, usaha perbankan dan keagenan asuransi terhenti, dan pabrik penyulingan alkohol di Tiongkok disita pemerintah komunis. OTHC juga terpaksa menutup perusahaan perwakilannya di Inggris, India, Tiongkok dan Jepang. Dalam situasi tersebut, pada tahun 1950 Oei Tjong Hauw wafat secara mendadak karena serangan jantung dalam usia 46 tahun.

Sejak zaman Oei Tiong Ham OTHC telah dikelola dengan manajemen modern. Di zaman Oei Tjong Hauw yang berpendidikan Belanda, OTHC benar-benar menjadi seperti sebuah perusahaan Belanda modern. Seluruh administrasi kelompok usaha itu diselenggarakan dalam sistem dan bahasa Belanda. Namun demikian OTHC mempunyai sebuah kelemahan mendasar. Oei Tiong Ham Concern adalah nama sebuah kelompok usaha, tapi bukan nama sebuah badan hukum. Masing-masing perusahaan dalam OTHC adalah badan hukum sendiri-sendiri, tetapi tidak ada perusahaan berbadan hukum yang menjadi induk dari perusahaan-perusahaan itu. Saham perusahaan-perusahaan OTHC tidak dikuasai oleh satu perusahaan induk, melainkan tersebar di antara anak-anak Oei Tiong Ham yang ditunjuknya sebagai ahli waris saham. Akibatnya ketika Oei Tjong Hauw wafat secara mendadak tanpa sempat mempersiapkan pengganti, kepemimpinan OTHC menjadi terpecah. Masing-masing pemegang saham memimpin perusahaan OTHC di tempat masing-masing: Oei Tjong Tjay (putra bungsu Oei Tiong Ham) dan Oei Ing Swie (putra sulung Oei Tjong Hauw) di Indonesia, Oei Tjong Tjiat di Belanda, Oei Tjong Yan dan Oei Tjong Ik di Amerika Serikat, Oei Tjong Ie di Singapura, dan Oei Tjong Bo dan Oei Tjong Hiong di Thailand. Belakangan Oei Tjong Hiong pergi ke Brazil dan membuka perusahaan perwakilan OTHC di sana.

Pada tahun 1951 para pemegang saham OTHC menunjuk Oei Tjong Tjay sebagai presiden direktur perusahaan-perusahaan OTHC di Indonesia. Jabatan ini seharusnya membuat Oei Tjong Tjay menjadi pemimpin OTHC, mengingat perusahaan-perusahaan OTHC yang paling penting dan paling besar semuanya berada di Indonesia (kecuali perusahaan pelayaran yang berkedudukan di Singapura). Akan tetapi pada tahun 1953 para pemegang saham justru menunjuk Oei Tjong Tjiat dan Oei Tjong Ie sebagai pemimpin bersama OTHC. Oei Tjong Tjiat menjadi koordinator urusan finansial, dan Oei Tjong Ie menjadi koordinator urusan komersial. Namun demikian Oei Tjong Tjiat dan Oei Tjong Ie masing-masing tetap tinggal di Belanda dan Singapura, dan kepemimpinan mereka tidak pernah benar-benar efektif. Oei Tjong Ie, misalnya, mengeluh bahwa saudara-saudaranya, termasuk Oei Tjong Tjay, sering tidak mau mengikuti arahannya. Oei Tjong Tjay, sebaliknya, mengeluh bahwa Oei Tjong Tjiat dan Oei Tjong Ie sering tidak bertindak sebagaimana layaknya pemimpin. Keadaan ini tetap terus berlangsung setelah Oei Tjong Tjiat wafat pada tahun 1957 dan Oei Tjong Ie menjadi pemimpin tunggal OTHC. Pendek kata, OTHC berjalan tanpa kepemimpinan dan kebijakan strategis yang jelas, dan kelompok usaha itu tidak pernah kembali kepada kejayaannya.

Oei Tjong Tjay sebagai presiden direktur perusahaan-perusahaan OTHC di Indonesia sejak semula mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan kondisi sosial budaya dan politik di Indonesia. Berbeda dengan Oei Tiong Ham dan Oei Tjong Hauw yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, Oei Tjong Tjay dilahirkan di Singapura dan dibesarkan di Eropa dan baru menetap di Indonesia pada tahun 1948. Dia bahkan hampir tidak dapat berbahasa Indonesia. Selain itu, situasi sosial politik Indonesia pasca kemerdekaan saat itu memang sedang mengalami perubahan dibandingkan dengan situasi pada masa kolonial Belanda. Pada tahun 1957 Oei Tjong Tjay memutuskan untuk kembali ke Belanda dan mendelegasikan urusan sehari-hari di Indonesia kepada Oei Ing Swie, salah satu direktur OTHC di Indonesia yang juga putra sulung dan ahli waris Oei Tjong Hauw. Akan tetapi setahun kemudian Oei Ing Swie juga menyusul ke Belanda dan mendelegasikan urusan sehari-hari kepada Tjoa Soe Tjong, salah satu direktur lain OTHC. Dengan demikian sejak tahun 1958 tidak ada lagi pemegang saham OTHC yang tinggal di Indonesia. Oei Tjong Ie sebagai pemimpin OTHC bermaksud mengambil alih jabatan presiden direktur OTHC di Indonesia, tetapi para pemegang saham lain tidak setuju. Mereka berpendapat bahwa Oei Tjong Ie adalah seorang yang spekulatif dan temperamental, dan hal itu akan membuat keadaan bertambah buruk.

Antara tahun 1950 hingga awal 1955 lingkungan usaha OTHC di Indonesia masih cukup kondusif. OTHC sempat membuka usaha joint venture di bidang farmasi (PT. Phapros) dan impor mesin dengan beberapa pengusaha pribumi, serta sempat mendirikan satu pabrik gula joint venture dengan pemerintah Indonesia. OTHC juga sempat menjadi importir beras untuk pemerintah Indonesia. Akan tetapi sejak akhir tahun 1955 pemerintah Indonesia memperluas aturan-aturan dan program-program yang memberikan prioritas dan proteksi terhadap usaha perekonomian pribumi, seperti Program Benteng. Hal tersebut berdampak negatif bagi perusahaan-perusahaan asing dan non pribumi. Indonesia pada saat itu juga semakin mengarah ke sistem sosialis. Harga beras dan gula, misalnya, tidak lagi ditentukan oleh mekanisme pasar melainkan ditetapkan sepihak oleh pemerintah. Demikian pula kurs tukar mata uang ditetapkan sepihak oleh pemerintah dengan nilai yang jauh berbeda dengan nilai pasarnya. Selain itu, situasi keamanan di Sumatera dan Sulawesi (lokasi perkebunan karet dan pembelian kopra OTHC) juga menjadi rawan akibat pemberontakan PRRI/Permesta. Lingkungan usaha OTHC di Indonesia menjadi tidak kondusif, dan kelompok usaha itu mulai merugi. Ekspor gula terhenti, dan OTHC juga terpaksa menjual perusahaan pelayarannya.

Dalam situasi tersebut anak-anak Oei Tiong Ham kembali berperkara soal warisan saham, kali ini antar sesama ahli waris saham OTHC. Berbeda dengan saham perusahaan-perusahaan OTHC di tempat lain, saham perusahaan OTHC di Belanda seluruhnya diatasnamakan Oei Tjong Tjiat. Ketika wafat pada tahun 1957, Oei Tjong Tjiat mewasiatkan agar saham tersebut hanya diwariskan kepada saudara-saudara kandungnya saja, yaitu Oei Tjong Yan dan Oei Tjong Ik. Wasiat ini digugat di pengadilan Belanda pada tahun 1958 oleh para saudara tiri, yaitu Oei Tjong Ie, Oei Tjong Bo, Oei Tjong Hiong dan Oei Tjong Tjay. Mereka berdalil bahwa Oei Tjong Tjiat hanya pemegang kuasa dan bukan pemilik penuh saham tersebut, sehingga saham itu harus diwariskan kepada semua saudara yang ditunjuk Oei Tiong Ham sebagai ahli waris saham OTHC. Selain itu mereka berpendapat bahwa Oei Tjong Yan dan Oei Tjong Ik tidak kompeten dalam mengurus OTHC di Amerika Serikat, dan keadaan akan bertambah buruk apabila mereka berdua menguasai sepenuhnya OTHC di Belanda. Perkara ini berlangsung hingga tahun 1960, di mana diputuskan bahwa saham tersebut harus diwariskan kepada semua saudara yang ditunjuk Oei Tiong Ham sebagai ahli waris saham OTHC.

Pada saat yang bersamaan OTHC juga berperkara melawan pemerintah Indonesia. OTHC mempunyai sejumlah besar deposito di Bank Indonesia Cabang Amsterdam. Deposito ini sudah ada di sana sejak sebelum Perang Dunia Kedua, saat Bank Indonesia masih merupakan bank milik Belanda yang bernama De Javasche Bank. Pada tahun 1957 pemerintah Indonesia menasionalisasi dan mengambil alih semua perusahaan Belanda di Indonesia. Karena bukan perusahaan Belanda, OTHC tidak dinasionalisasi. Akan tetapi OTHC diminta untuk menarik depositonya di Belanda tersebut ke Indonesia. OTHC menolak; karena jika dibawa ke Indonesia, deposito dalam gulden tersebut akan dikonversi ke rupiah dengan kurs resmi yang nilainya jauh berbeda dengan nilai pasar. Bank Indonesia Cabang Amsterdam kemudian membekukan deposito tersebut, dan OTHC mengajukan gugatan di pengadilan Belanda pada tahun 1958. Perkara ini juga berlangsung hingga tahun 1960, di mana pengadilan Belanda memenangkan OTHC. Namun demikian, perkara ini ternyata belum selesai.

Pada tahun 1961 pemerintah Indonesia menuntut para pemegang saham OTHC atas tindak pidana ekonomi, antara lain atas kepemilikan tanpa izin valuta asing berupa deposito dalam gulden di Belanda. Saat akan diadili, semua pemegang saham OTHC sudah tinggal di luar negeri dan tidak seorang pun bersedia kembali ke Indonesia untuk memenuhi panggilan pengadilan karena khawatir akan dipenjarakan. Selain itu, kecuali Oei Tjong Ie dan Oei Ing Swie yang memilih menjadi warga negara Indonesia setelah Indonesia merdeka, semua pemegang saham OTHC berkewarganegaraan asing. Oei Tjong Yan dan Oei Tjong Ik memilih tetap menjadi warga negara Belanda saat Indonesia merdeka, sedangkan Oei Tjong Bo, Oei Tjong Hiong dan Oei Tjong Tjay berkewarganegaraan Inggris karena mereka lahir di Singapura yang saat itu merupakan koloni Inggris. Akibat kedua hal itu, Pengadilan Ekonomi Semarang menetapkan semua pemegang saham OTHC sebagai “orang tak dikenal” dan memerintahkan penyitaan seluruh aset mereka di Indonesia, termasuk penyitaan seluruh perusahaan OTHC di Indonesia. Keputusan ini dikukuhkan oleh Mahkamah Agung pada tahun 1963, tepat pada seabad usia Kian Gwan Kongsi. Untuk meneruskan usaha OTHC yang telah disita, pada tahun 1964 pemerintah Indonesia mendirikan PT. Rajawali Nusantara Indonesia.

Setelah penyitaan, para pemegang saham berupaya untuk meneruskan usaha OTHC di luar Indonesia. Akan tetapi, kecuali usaha real estate di Singapura, Thailand dan Brazil serta usaha perdagangan umum di Singapura, usaha utama OTHC di luar Indonesia saat itu adalah memasarkan karet, kopra dan hasil bumi lain dari Indonesia serta membeli aneka barang kebutuhan umum untuk dijual di Indonesia. Dengan lepasnya aset dan usahanya di Indonesia, OTHC praktis kehilangan pijakannya. Sebagaimana yang sering terjadi sebelumnya, para pemegang saham juga tidak berhasil mencapai kata sepakat tentang bagaimana seharusnya OTHC diteruskan.

Setelah beberapa tahun, OTHC akhirnya bubar secara perlahan-lahan. Oei Tjong Ie (yang pada tahun 1960 telah menjadi salah seorang pendiri Malayan Banking Bhd. atau Maybank) menjual saham perusahaan-perusahaan OTHC di luar Singapura miliknya kepada saudara-saudaranya dan membeli saham perusahaan OTHC di Singapura milik saudara-saudaranya, sehingga perusahaan OTHC di Singapura menjadi miliknya sendiri. Langkah ini kemudian satu demi satu diikuti oleh Oei Tjong Bo di Thailand, Oei Tjong Hiong di Brazil, dan Oei Tjong Tjay di Belanda. Adapun perusahaan OTHC di Amerika Serikat dan Australia ditutup, sedangkan perusahaan OTHC di Hongkong dijual kepada pihak lain. Beberapa perusahaan eks OTHC masih beroperasi hingga kini, misalnya Kian Gwan Thailand Ltd. yang bergerak di bidang usaha real estate, dan tentu saja PT. Rajawali Nusantara Indonesia. Akan tetapi Oei Tiong Ham Concern dengan segala kejayaannya kini hanya tinggal cerita.

Pada tahun 2011 Oei Twan Nio dan Oei Tjong Bo, yang saat itu berusia 91 dan 89 tahun, mengunjungi bekas rumah keluarga mereka di Semarang. Walaupun sudah menjadi milik orang lain, kedua kakak beradik itu sangat senang melihat rumah tersebut, setidaknya rumah induknya, masih berada dalam keadaan baik. Oei King Yan, salah seorang cicit Oei Tiong Ham, kemudian menulis “Seperti kata nenek-bibi saya, Oei Hui Lan, no feast lasts forever – tiada pesta yang tak berakhir. Pesta keluarga kami telah lama usai. Tetapi semoga sejarah keluarga kami dapat menjadi renungan bagi siapapun, bahwa dalam hidup ini ada yang lebih penting selain kekayaan dan kemasyhuran, yaitu hati nurani dan kasih sayang yang tulus.”.

Bekas istananya

Leave a Comment

You cannot copy content of this page