Michael Servetus (Miguel Serveto) – Dihukum mati oleh Calvin

Di dalam pendapat pribadi admin, kalau ada noda di dalam reformasi, adalah hukuman mati yang dilakukan oleh John Calvin terhadap Michael Servetus. Dari beberapa orang yang saya tanyai pendepatnya, sebagian mengatakan :

Wajar, karena menyangkut trinitas dan kristologi.

Jangan melihat dari zaman sekarang. Kita harus melihat pada zamannya.

Akan tetapi ketika ditanyai balik : Bagaimana dengan Bartolomeu’s day Massacre ? Pembicaraan langsung berlansung seru. 😀

Biografi Michael Servetus

Michael Servetus lahir pada 29 September 1509 di Villanueva, Kingdom of Navarre (sekarang Spanyol) dan meninggal pada tanggal 27 October 1553 di Jenewa, Swiss.

Michael Servetus adalah seorang

  • Mathematics
  • Astronomy and meteorology,
  • Geography,
  • Human anatomy,
  • Medicine and pharmacology,
  • Jurisprudence,
  • Translator,
  • Poetry
  • The scholarly study of the Bible in its original languages.

Michael Servetus sebagai Physician (dokter)

Sebagai seorang physician, Michael Servetus sangat berjasa.

He studied medicine at the University of Paris in 1536, and during his subsequent medical practice, he discovered the pulmonary circulation–that blood goes from the heart to the lungs and back to the heart. (lindahall.org)
Dia belajar kedokteran di Universitas Paris pada tahun 1536, dan selama praktik medis berikutnya, dia menemukan sirkulasi paru-bahwa darah mengalir dari jantung ke paru-paru dan kembali ke jantung.


Miguel Servet’s work in anatomy and physiology led him to the discovery of the circulation of blood through the human body (democratandchronicle.com)
Karya Miguel Servet dalam anatomi dan fisiologi membawanya pada penemuan sirkulasi darah melalui tubuh manusia

Jadi, sebagai seorang dokter, Michael Servetus sangat sukses

Michael Servetus sebagai Cartographer (Pembuat Peta)

In addition to publishing medical textbooks and religious articles, Servetus dabbled in geography.  The printing of the 1535 and 1541 editions of Ptolemy’s Geography shifted from Strassbourg, to Lyons, France when two brothers in Lyon obtained the woodblocks necessary for printing.  The maps in the atlases were generally copies of the earlier atlases by Laurent Fries in 1522 and 1525.  But the publishers found a new editor in Michael Servetus.

But if it was attention for his religious views that he wanted, attention is what Servetus received.  So much so that he was making enemies among several powerful people.  His main nemesis became John Calvin and they exchanged a series of inflammatory letters.
It is said that his position as the personal physician to the Archbishop of Vienne protected him for some time.  Calvin did not accept his challenges lightly and Servetus was arrested in Lyon in April of 1553.  He was condemned to death but somehow managed to escape prison under unclear circumstances. 

Michael Servetus fled France to nearby Switzerland.  Then, while on the lam, he learned that Calvin was preaching in Geneva.  Servetus inexplicably came to the service, perhaps in a bit of fanaticism himself.  But instead of rallying the congregants to his side, he was captured and underwent trial again in Geneva.  

Forty items of complaints were brought against Servetus, and among the first few complaints, in a position of prominence, is a complaint that he “has not ceased by all means in his power to scatter his poison, as much by construction of biblical text, as by certain annotations which he has made upon Ptolemy.”

The pieces of evidence used at his trial was the text on the verso of the Holy Land map in the 1535 edition of Ptolemy’s Geography edited by Servetus. 

“And so, most excellent reader, you should realize that in error and by pure exaggeration, a reputation for excellence was bestowed on this land; however, the testimony  of merchants and travelers removed from this inhospitable and barren land,  lacking every attraction,  any reputation for excellence. Therefore, this so-called promised land should not be praised in a vernacular language.”



(Translation provided by Prof. Albert Baca Emeritus Professor, Calif. State Univ., Northridge and Prof. Scholz, Univ. of Wurzburg.)

Calvin thundered at trial that by stating that the Holy Land was barren, Servetus directly and blasphemously contradicted Moses, who in Exodus 3:7-8 stated that the Holy Land was flowing with milk and honey.

However this view of the Holy Land’s fecundity that was printed in 1535 was not Servetus’ original view.  The text was copied from the 1522 edition of Ptolemy’s Geography published in Strassborg without any connection to Michael Servetus.

It may be that  back in 1535 Servetus understood the potential problem with including an unflattering view of the Holy Land, because when he edited the next edition of the Geography which was printed in 1541 the verso on the map of the Holy Land was completely blank without any of the text or elaborate woodcuts.

This time he was not so fortunate as he was in his previous arrest.  At the conclusion of his trials he was again condemned to death but this time there would be no escape from prison and from his fate.  On October 27, 1553, he was burnt at the stake with his books and it is said maps from his atlases are rare because many were burnt.

Waldseemuller’s mistake was adding text onto his world map, the word America.  His mistake was believing that Amerigo Vespucci discovered the New Continent before Christopher Columbus.  For that mistake he is remembered as an epic figure in history, and the person that gave the New World the name America.

Servetus’ mistake was not removing the text on a map of the Holy Land that was a copy of Waldseemuller’s map.  For his mistake he was burned at the stake.

(https://www.linkedin.com/pulse/map-contributed-burning-stake-michael-servetus-ron-hekier)

Google Translate

Selain menerbitkan buku teks kedokteran dan artikel keagamaan, Servetus berkecimpung dalam geografi. Pencetakan Geografi Ptolemy edisi 1535 dan 1541 dipindahkan dari Strassbourg, ke Lyons, Prancis ketika dua saudara di Lyon memperoleh balok kayu yang diperlukan untuk pencetakan. Peta-peta di atlas umumnya salinan dari atlas sebelumnya oleh Laurent Fries pada tahun 1522 dan 1525. Tetapi penerbit menemukan editor baru di Michael Servetus.

Tetapi jika perhatian terhadap pandangan agamanya yang dia inginkan, perhatian itulah yang diterima Servetus. Sedemikian rupa sehingga dia membuat musuh di antara beberapa orang kuat. Musuh bebuyutannya menjadi John Calvin dan mereka bertukar serangkaian surat yang menghasut.
Dikatakan bahwa posisinya sebagai dokter pribadi Uskup Agung Vienne melindunginya selama beberapa waktu. Calvin tidak menerima tantangannya dengan enteng dan Servetus ditangkap di Lyon pada bulan April 1553. Dia dijatuhi hukuman mati tetapi entah bagaimana berhasil melarikan diri dari penjara dalam keadaan yang tidak jelas.

Michael Servetus melarikan diri dari Prancis ke Swiss terdekat. Kemudian, saat berada di lam, dia mengetahui bahwa Calvin sedang berkhotbah di Jenewa. Servetus entah kenapa datang ke kebaktian, mungkin dengan sedikit fanatisme sendiri. Namun alih-alih mengumpulkan jemaat ke sisinya, dia ditangkap dan menjalani persidangan lagi di Jenewa.

Empat puluh keluhan diajukan terhadap Servetus, dan di antara beberapa keluhan pertama, dalam posisi menonjol, adalah keluhan bahwa dia “dengan segala cara dalam kekuatannya untuk menyebarkan racunnya, sebanyak dengan membangun teks alkitabiah, seperti dengan anotasi tertentu yang dia buat atas Ptolemy.”

Potongan-potongan bukti yang digunakan dalam persidangannya adalah teks di balik peta Tanah Suci dalam Geografi Ptolemy edisi 1535 yang diedit oleh Servetus.

“Jadi, pembaca yang paling baik, Anda harus menyadari bahwa dalam kesalahan dan dengan berlebihan, reputasi keunggulan diberikan di negeri ini; namun, kesaksian para pedagang dan pelancong dipindahkan dari tanah yang tidak ramah dan tandus ini, tidak memiliki daya tarik apa pun, reputasi untuk keunggulan. Oleh karena itu, apa yang disebut tanah perjanjian ini tidak boleh dipuji dalam bahasa daerah.”

This image has an empty alt attribute; its file name is 1520562515718

(Terjemahan disediakan oleh Prof. Albert Baca Emeritus Professor, California State Univ., Northridge dan Prof. Scholz, Univ. of Wurzburg.)

Calvin bergemuruh di persidangan bahwa dengan menyatakan bahwa Tanah Suci tandus, Servetus secara langsung dan menghujat menentang Musa, yang dalam Keluaran 3:7-8 menyatakan bahwa Tanah Suci mengalir dengan susu dan madu.

Namun pandangan tentang kesuburan Tanah Suci yang dicetak pada tahun 1535 ini bukanlah pandangan asli Servetus. Teks tersebut disalin dari Ptolemy’s Geography edisi 1522 yang diterbitkan di Strassborg tanpa ada hubungannya dengan Michael Servetus.

Mungkin pada tahun 1535 Servetus memahami potensi masalah dengan memasukkan pandangan Tanah Suci yang tidak menarik, karena ketika dia mengedit edisi Geografi berikutnya yang dicetak pada tahun 1541, sebaliknya pada peta Tanah Suci benar-benar kosong tanpa salah satu teks atau potongan kayu yang rumit.

Kali ini dia tidak seberuntung penangkapannya sebelumnya. Pada akhir persidangannya dia kembali dijatuhi hukuman mati tetapi kali ini tidak akan ada jalan keluar dari penjara dan dari nasibnya. Pada 27 Oktober 1553, ia dibakar di tiang pancang dengan buku-bukunya dan dikatakan peta dari atlasnya langka karena banyak yang terbakar.

Kesalahan Waldseemuller adalah menambahkan teks ke peta dunianya, kata Amerika. Kesalahannya adalah percaya bahwa Amerigo Vespucci menemukan Benua Baru sebelum Christopher Columbus. Untuk kesalahan itu ia dikenang sebagai tokoh epik dalam sejarah, dan orang yang memberi Dunia Baru nama Amerika.

Kesalahan Servetus adalah tidak menghapus teks pada peta Tanah Suci yang merupakan salinan peta Waldseemuller. Karena kesalahannya dia dibakar di tiang pancang.

Rangkuman

Selain sebagai dokter, Michael Servetus juga berbakat segai pembuat peta. Dia memberi catatan bahwa tanah perjanjian adalah tanah yang tandus (Berdasar catatan dari Ptolomeus). Karena pandangannya ini, ida dianggap John Calvin sebagai pelanggaran terhadap alkitab karena alkitab mencatat tanah perjanjian sebagai kaya madu dan susu.

Berikut di bawah ini peta dari Claudio Ptolomeus

Michael Servetus sebagai Teolog, Medical Humanist, Pharmacological,

In July 1531, Servetus published De Trinitatis Erroribus (On the Errors of the Trinity). The next year he published the work Dialogorum de Trinitate (Dialogues on the Trinity) and the supplementary work De Iustitia Regni Christi (On the Justice of Christ’s Reign) in the same volume. After the persecution of the Inquisition, Servetus assumed the name “Michel de Villeneuve” while he was staying in France. He studied at the CollĂšge de Calvi in Paris in 1533. Servetus also published the first French edition of Ptolemy’s Geography. He dedicated his first edition of Ptolemy and his edition of the Bible to his patron Hugues de la Porte. While in Lyon, Symphorien Champier, a medical humanist, had been his patron. Servetus wrote a pharmacological treatise in defence of Champier against Leonhart Fuchs In Leonardum Fucsium Apologia (Apology against Leonard Fuchs). Working also as a proofreader, he published several more books which dealt with medicine and pharmacology, such as his Syruporum universia ratio (Complete Explanation of the Syrups), for which he gained fame.

After an interval, Servetus returned to Paris to study medicine in 1536. In Paris, his teachers included Jacobus Sylvius, Jean Fernel and Johann Winter von Andernach, who hailed him with Andrea Vesalius as his most able assistant in dissections. During these years he wrote his Manuscript of the Complutense, an unpublished compendium of his medical ideas. Servetus taught mathematics and astrology while he studied medicine. He predicted an occultation of Mars by the Moon, and this joined to his teaching generated much envy among the medicine teachers. His teaching classes were suspended by the Dean of the Faculty of Medicine, Jean Tagault, and Servetus wrote his Apologetic Discourse of Michel de Villeneuve in Favour of Astrology and against a Certain Physician against him. Tagault later argued for the death penalty in the judgment of the University of Paris against Servetus. He was accused of teaching De Divinatione by Cicero. Finally, the sentence was reduced to the withdrawal of this edition. As a result of the risks and difficulties of studying medicine at Paris, Servetus decided to go to Montpellier to finish his medical studies, maybe thanks to his teacher Sylvius who did exactly the same as a student. There he became a Doctor of Medicine in 1539. After that he lived at Charlieu. A jealous physician ambushed and tried to kill Servetus, but Servetus defended himself and injured one of the attackers in a sword fight. He was in prison for several days because of this incident.

After his studies in medicine, Servetus started a medical practice. He became personal physician to Pierre Palmier, Archbishop of Vienne, and was also physician to Guy de Maugiron, the lieutenant governor of DauphinĂ©. Thanks to the printer Jean Frellon II, acquaintance of John Calvin and friend of Michel, Servetus and Calvin began to correspond. Calvin used the pseudonym “Charles d’Espeville.” Servetus also became a French citizen, using his “De Villeneuve” persona, by the Royal Process (1548–1549) of French Naturalization, issued by Henri II of France.[23]

In 1553 Michael Servetus published another religious work with further anti-trinitarian views. It was entitled Christianismi Restitutio (The Restoration of Christianity), a work that sharply rejected the idea of predestination as the idea that God condemned souls to Hell regardless of worth or merit. God, insisted Servetus, condemns no one who does not condemn himself through thought, word, or deed. This work also includes the first published description of the pulmonary circulation in Europe, though it’s thought to be based on work by 13th century Syrian polymath ibn al-Nafis.

To Calvin, who had written his summary of Christian doctrine Institutio Christianae Religionis (Institutes of the Christian Religion), Servetus’ latest book was an attack on historical Nicene Christian doctrine and a misinterpretation of the biblical canon. Calvin sent a copy of his own book as his reply. Servetus promptly returned it, thoroughly annotated with critical observations. Calvin wrote to Servetus, “I neither hate you nor despise you; nor do I wish to persecute you; but I would be as hard as iron when I behold you insulting sound doctrine with so great audacity.” In time their correspondence grew more heated until Calvin ended it.[24] Servetus sent Calvin several more letters, to which Calvin took offense.[25] Thus, Calvin’s frustrations with Servetus seem to have been based mainly on Servetus’s criticisms of Calvinist doctrine, but also on his tone, which Calvin considered inappropriate. Calvin revealed these frustrations with Servetus when writing to his friend William Farel on 13 February 1546:

Servetus has just sent me a long volume of his ravings. If I consent he will come here, but I will not give my word; for if he comes here, if my authority is worth anything, I will never permit him to depart alive (Latin: Si venerit, modo valeat mea autoritas, vivum exire nunquam patiar). (Wikipedia)

Google Translate

Pada Juli 1531, Servetus menerbitkan De Trinitatis Erroribus (Tentang Kesalahan Trinitas). Tahun berikutnya ia menerbitkan karya Dialogorum de Trinitate (Dialog tentang Tritunggal) dan karya tambahan De Iustitia Regni Christi (Tentang Keadilan Pemerintahan Kristus) dalam volume yang sama. Setelah penganiayaan Inkuisisi, Servetus mengambil nama “Michel de Villeneuve” saat dia tinggal di Prancis. Ia belajar di CollĂšge de Calvi di Paris pada tahun 1533. Servetus juga menerbitkan Geografi Ptolemy edisi Prancis pertama. Dia mendedikasikan edisi pertama Ptolemy dan edisi Alkitabnya untuk pelindungnya Hugues de la Porte. Selama di Lyon, Symphorien Champier, seorang humanis medis, telah menjadi pelindungnya. Servetus menulis sebuah risalah farmakologi untuk membela Champier melawan Leonhart Fuchs Di Leonardum Fucsium Apologia (Permintaan maaf terhadap Leonard Fuchs). Bekerja juga sebagai korektor, ia menerbitkan beberapa buku lagi yang berhubungan dengan kedokteran dan farmakologi, seperti rasio universia Syruporum (Penjelasan Lengkap tentang Sirup), yang membuatnya terkenal.

Setelah jeda, Servetus kembali ke Paris untuk belajar kedokteran pada tahun 1536. Di Paris, gurunya termasuk Jacobus Sylvius, Jean Fernel dan Johann Winter von Andernach, yang memuji dia dengan Andrea Vesalius sebagai asistennya yang paling cakap dalam pembedahan. Selama tahun-tahun ini dia menulis Manuscript of the Complutense, ringkasan ide-ide medisnya yang tidak diterbitkan. Servetus mengajar matematika dan astrologi saat dia belajar kedokteran. Dia meramalkan okultasi Mars oleh Bulan, dan ini bergabung dengan pengajarannya menimbulkan banyak kecemburuan di antara para guru kedokteran. Kelas pengajarannya dihentikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran, Jean Tagault, dan Servetus menulis Wacana Apologetika Michel de Villeneuve dalam Mendukung Astrologi dan melawan Dokter Tertentu yang menentangnya. Tagault kemudian menuntut hukuman mati dalam penilaian Universitas Paris terhadap Servetus. Dia dituduh mengajar De Divinatione oleh Cicero. Akhirnya, hukuman itu dikurangi menjadi penarikan edisi ini. Sebagai akibat dari resiko dan kesulitan belajar kedokteran di Paris, Servetus memutuskan untuk pergi ke Montpellier untuk menyelesaikan studi kedokterannya, mungkin berkat gurunya Sylvius yang melakukan hal yang sama sebagai siswa. Di sana ia menjadi Doctor of Medicine pada tahun 1539. Setelah itu ia tinggal di Charlieu. Seorang tabib yang cemburu menyergap dan mencoba membunuh Servetus, tetapi Servetus membela diri dan melukai salah satu penyerang dalam adu pedang. Dia berada di penjara selama beberapa hari karena kejadian ini
Setelah studinya di bidang kedokteran, Servetus memulai praktik medis. Ia menjadi dokter pribadi bagi Pierre Palmier, Uskup Agung Vienne, dan juga dokter bagi Guy de Maugiron, letnan gubernur DauphinĂ©. Berkat pencetak Jean Frellon II, kenalan John Calvin dan teman Michel, Servetus dan Calvin mulai berkorespondensi. Calvin menggunakan nama samaran “Charles d’Espeville.” Servetus juga menjadi warga negara Prancis, menggunakan persona “De Villeneuve”-nya, melalui Proses Kerajaan (1548–1549) dari Naturalisasi Prancis, yang dikeluarkan oleh Henri II dari Prancis.

Pada tahun 1553 Michael Servetus menerbitkan karya keagamaan lain dengan pandangan anti-trinitarian lebih lanjut. Itu berjudul Christianismi Restitutio (Pemulihan Kekristenan), sebuah karya yang dengan tajam menolak gagasan predestinasi sebagai gagasan bahwa Tuhan mengutuk jiwa-jiwa ke Neraka terlepas dari nilai atau jasanya. Tuhan, tegas Servetus, tidak mengutuk siapa pun yang tidak mengutuk dirinya sendiri melalui pikiran, perkataan, atau perbuatan. Karya ini juga mencakup deskripsi sirkulasi paru pertama yang diterbitkan di Eropa, meskipun diperkirakan didasarkan pada karya polymath ibn al-Nafis Suriah abad ke-13.

Bagi Calvin, yang telah menulis ringkasannya tentang doktrin Kristen Institutio Christianae Religionis (Institut Agama Kristen), buku terbaru Servetus adalah serangan terhadap doktrin Kristen Nicea historis dan salah tafsir terhadap kanon alkitabiah. Calvin mengirim salinan bukunya sendiri sebagai balasannya. Servetus segera mengembalikannya, lengkap dengan catatan pengamatan kritis. Calvin menulis kepada Servetus, “Saya tidak membenci Anda atau membenci Anda; saya juga tidak ingin menganiaya Anda; tetapi saya akan menjadi sekeras besi ketika saya melihat Anda menghina doktrin yang sehat dengan keberanian yang begitu besar.” Lama-lama korespondensi mereka semakin memanas sampai Calvin mengakhirinya.[24] Servetus mengirimi Calvin beberapa surat lagi, yang membuat Calvin tersinggung. Jadi, kekecewaan Calvin terhadap Servetus tampaknya didasarkan terutama pada kritik Servetus terhadap doktrin Calvinis, tetapi juga pada nada suaranya, yang dianggap Calvin tidak pantas. Calvin mengungkapkan rasa frustrasi ini dengan Servetus ketika menulis kepada temannya William Farel pada 13 Februari 1546:

Servetus baru saja mengirimi saya banyak ocehannya. Jika saya setuju dia akan datang ke sini, tetapi saya tidak akan memberikan kata-kata saya; karena jika dia datang ke sini, jika otoritas saya berharga, saya tidak akan pernah mengizinkan dia pergi hidup-hidup (Latin: Si venerit, modo valeat mea autoritas, vivum exire nunquam patiar).

Rangkuman

Michael Servetus adalah seorang yang memiliki banyak bakat di banyak bidang. Dan semuanya dijalani dengan sukses. Akan tetapi dia membuat pendapat tentang Trinitas yang bertentangan dengan Reformed Church maupun Katolik.

Dipenjara dan di-eksekusi

On 16 February 1553, Michael Servetus while in Vienne, France, was denounced as a heretic by Guillaume de Trie, a rich merchant who had taken refuge in Geneva, and who was a good friend of Calvin, in a letter sent to a cousin, Antoine Arneys, who was living in Lyon. On behalf of the French inquisitor Matthieu Ory, Michael Servetus and Balthasard Arnollet, the printer of Christianismi Restitutio, were questioned, but they denied all charges and were released for lack of evidence. Ory asked Arneys to write back to De Trie, demanding proof. On 26 March 1553, the letters sent by Michael to Calvin and some manuscript pages of Christianismi Restitutio were forwarded to Lyon by De Trie. On 4 April 1553 Servetus was arrested by Roman Catholic authorities, and imprisoned in Vienne. He escaped from prison three days later. On 17 June, he was convicted of heresy, “thanks to the 17 letters sent by John Calvin, preacher in Geneva” and sentenced to be burned with his books. In his absence, he and his books were burned in effigy (blank paper for the books).

Meaning to flee to Italy, Servetus inexplicably stopped in Geneva, where Calvin and his Reformers had denounced him. On 13 August, he attended a sermon by Calvin at Geneva. He was arrested after the service and again imprisoned. All his property was confiscated. Servetus claimed during this judgment he was arrested at an inn at Geneva. French Inquisitors asked that Servetus be extradited to them for execution. Calvin wanted to show himself as firm in defense of Christian orthodoxy as his usual opponents. “He was forced to push the condemnation of Servetus with all the means at his command.” Calvin’s delicate health meant he did not personally appear against Servetus. Nicholas de la Fontaine played the more active role in Servetus’s prosecution and the listing of points that condemned him. Among the possible reasons which prevented Calvin from appearing personally against Servetus there was one which must have seemed of itself sufficient. The laws regulating criminal actions in Geneva required that in certain grave cases the complainant himself should be incarcerated pending the trial. Calvin’s delicate health and his great and constant usefulness in the administration of the state rendered a prolonged absence from the public life of Geneva impracticable. Nevertheless, Calvin is to be regarded as the author of the prosecution. Nicholas de la Fontaine was a refugee in Geneva and entered the service of Calvin, by whom he was employed as secretary.

At his trial, Servetus was condemned on two counts, for spreading and preaching Nontrinitarianism, specifically, Modalistic Monarchianism, or Sabellianism, and anti-paedobaptism (anti-infant baptism). Of paedobaptism Servetus had said, “It is an invention of the devil, an infernal falsity for the destruction of all Christianity.” In the case the procureur gĂ©nĂ©ral (chief public prosecutor) added some curious-sounding accusations in the form of inquiries—the most odd-sounding perhaps being, “whether he has married, and if he answers that he has not, he shall be asked why, in consideration of his age, he could refrain so long from marriage.” To this oblique imputation about his sexuality, Servetus replied that rupture (inguinal hernia) had long since made him incapable of that particular sin. Another question was “whether he did not know that his doctrine was pernicious, considering that he favours Jews and Turks, by making excuses for them, and if he has not studied the Koran in order to disprove and controvert the doctrine and religion that the Christian churches hold, together with other profane books, from which people ought to abstain in matters of religion, according to the doctrine of St. Paul.”

Calvin believed Servetus deserved death on account of what he termed as his “execrable blasphemies”. Calvin expressed these sentiments in a letter to Farel, written about a week after Servetus’ arrest, in which he also mentioned an exchange with Servetus. Calvin wrote:


after he [Servetus] had been recognized, I thought he should be detained. My friend Nicolas summoned him on a capital charge, offering himself as a security according to the lex talionis. On the following day he adduced against him forty written charges. He at first sought to evade them. Accordingly we were summoned. He impudently reviled me, just as if he regarded me as obnoxious to him. I answered him as he deserved
 of the man’s effrontery I will say nothing; but such was his madness that he did not hesitate to say that devils possessed divinity; yea, that many gods were in individual devils, inasmuch as a deity had been substantially communicated to those equally with wood and stone. I hope that sentence of death will at least be passed on him; but I desired that the severity of the punishment be mitigated.

As Servetus was not a citizen of Geneva, and legally could at worst be banished, the government, in an attempt to find some plausible excuse to disregard this legal reality, had consulted Swiss Reformed cantons (ZĂŒrich, Bern, Basel, Schaffhausen). They universally favoured his condemnation and suppression of his doctrine, but without saying how that should be accomplished. Martin Luther had condemned his writing in strong terms. Servetus and Philip Melanchthon had strongly hostile views of each other. The party called the “Libertines”, who were generally opposed to anything and everything John Calvin supported, were in this case strongly in favour of the execution of Servetus at the stake (while Calvin urged that he be beheaded instead). In fact, the council that condemned Servetus was presided over by Ami Perrin (a Libertine) who ultimately on 24 October sentenced Servetus to death by burning for denying the Trinity and infant baptism. Calvin and other ministers asked that he be beheaded instead of burnt, knowing that burning at the stake was the only legal recourse. This plea was refused and on 27 October, Servetus was burnt alive—atop a pyre of his own books—at the Plateau of Champel at the edge of Geneva. Historians record his last words as: “Jesus, Son of the Eternal God, have mercy on me

Google Translate

Pada tanggal 16 Februari 1553, Michael Servetus ketika berada di Vienne, Prancis, dinyatakan sebagai bidat oleh Guillaume de Trie, seorang saudagar kaya yang telah mengungsi di Jenewa, dan yang merupakan teman baik Calvin, dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada sepupunya, Antoine Arneys, yang tinggal di Lyon. Atas nama inkuisitor Prancis Matthieu Ory, Michael Servetus dan Balthasard Arnollet, pencetak Christianismi Restitutio, diinterogasi, tetapi mereka menyangkal semua tuduhan dan dibebaskan karena kurangnya bukti. Ory meminta Arneys untuk membalas surat De Trie, menuntut bukti. Pada tanggal 26 Maret 1553, surat-surat yang dikirim oleh Michael kepada Calvin dan beberapa halaman manuskrip Christianismi Restitutio diteruskan ke Lyon oleh De Trie. Pada tanggal 4 April 1553 Servetus ditangkap oleh otoritas Katolik Roma, dan dipenjarakan di Wina. Dia melarikan diri dari penjara tiga hari kemudian. Pada tanggal 17 Juni, ia dihukum karena bid’ah, “berkat 17 surat yang dikirim oleh John Calvin, pengkhotbah di Jenewa” dan dihukum untuk dibakar bersama buku-bukunya. Dalam ketidakhadirannya, dia dan buku-bukunya dibakar di patung (kertas kosong untuk buku).

Artinya melarikan diri ke Italia, Servetus entah kenapa berhenti di Jenewa, di mana Calvin dan para Reformatornya telah mencela dia. Pada 13 Agustus, ia menghadiri khotbah Calvin di Jenewa. Dia ditangkap setelah kebaktian dan kembali dipenjara. Semua hartanya disita. Servetus mengklaim selama penghakiman ini dia ditangkap di sebuah penginapan di Jenewa. Inkuisitor Prancis meminta agar Servetus diekstradisi kepada mereka untuk dieksekusi. Calvin ingin menunjukkan dirinya teguh dalam membela ortodoksi Kristen seperti lawan-lawannya yang biasa. “Dia terpaksa mendorong kecaman terhadap Servetus dengan segala cara atas perintahnya.” Kesehatan Calvin yang lemah berarti dia tidak secara pribadi muncul melawan Servetus. Nicholas de la Fontaine memainkan peran yang lebih aktif dalam penuntutan Servetus dan daftar poin-poin yang mengutuknya. Di antara kemungkinan alasan yang mencegah Calvin untuk tampil secara pribadi melawan Servetus, ada satu alasan yang tampaknya cukup untuk dirinya sendiri. Undang-undang yang mengatur tindakan kriminal di Jenewa mensyaratkan bahwa dalam kasus-kasus berat tertentu, pengadu sendiri harus dipenjara sambil menunggu persidangan. Kesehatan Calvin yang lemah dan kegunaannya yang besar dan konstan dalam administrasi negara membuat ketidakhadiran yang berkepanjangan dari kehidupan publik Jenewa menjadi tidak praktis. Namun demikian, Calvin harus dianggap sebagai penulis penuntutan. Nicholas de la Fontaine adalah seorang pengungsi di Jenewa dan menjadi pegawai Calvin, yang mempekerjakannya sebagai sekretaris.

Dalam persidangannya, Servetus dikutuk dengan dua tuduhan, karena menyebarkan dan mengajarkan Nontrinitarianisme, khususnya, Monarki Modalistik, atau Sabellianisme, dan anti-paedobaptisme (anti-baptisan bayi). Tentang paedobaptism Servetus pernah berkata, “Ini adalah penemuan iblis, kepalsuan neraka untuk menghancurkan semua Kekristenan.” Dalam hal procureur gĂ©nĂ©ral (kepala jaksa penuntut umum) menambahkan beberapa tuduhan yang terdengar aneh dalam bentuk pertanyaan—yang mungkin terdengar paling aneh, “apakah dia sudah menikah, dan jika dia menjawab belum, dia akan ditanyai. mengapa, mengingat usianya, dia bisa menahan diri begitu lama dari pernikahan.” Untuk tuduhan miring tentang seksualitasnya, Servetus menjawab bahwa pecahnya (hernia inguinalis) telah lama membuatnya tidak mampu melakukan dosa tertentu. Pertanyaan lain adalah “apakah dia tidak tahu bahwa doktrinnya merusak, mengingat bahwa dia menyukai orang Yahudi dan Turki, dengan membuat alasan untuk mereka, dan jika dia tidak mempelajari Al-Qur’an untuk menyangkal dan menentang doktrin dan agama yang dimiliki orang Kristen? gereja-gereja memegang, bersama dengan buku-buku profan lainnya, dari mana orang harus menjauhkan diri dalam masalah agama, menurut doktrin St. Paul.”

Calvin percaya Servetus pantas mati karena apa yang disebutnya sebagai “penghujatan yang luar biasa”. Calvin mengungkapkan perasaan ini dalam sebuah surat kepada Farel, yang ditulis sekitar seminggu setelah penangkapan Servetus, di mana ia juga menyebutkan pertukaran dengan Servetus. Calvin menulis:


setelah dia [Servetus] dikenali, saya pikir dia harus ditahan. Teman saya Nicolas memanggilnya dengan biaya modal, menawarkan dirinya sebagai keamanan menurut lex talionis. Pada hari berikutnya dia mengajukan empat puluh dakwaan tertulis kepadanya. Dia pada awalnya berusaha untuk menghindari mereka. Oleh karena itu kami dipanggil. Dia dengan kurang ajar mencercaku, seolah-olah dia menganggapku menjengkelkan baginya. Saya menjawabnya seperti yang pantas dia dapatkan 
 tentang kecerobohan pria itu, saya tidak akan mengatakan apa-apa; tetapi kegilaannya sedemikian rupa sehingga dia tidak ragu untuk mengatakan bahwa iblis memiliki keilahian; ya, bahwa banyak dewa berada dalam iblis individu, karena dewa telah secara substansial dikomunikasikan kepada mereka secara setara dengan kayu dan batu. Saya berharap hukuman mati setidaknya akan dijatuhkan padanya; tetapi saya ingin agar beratnya hukuman dikurangi.

Karena Servetus bukan warga negara Jenewa, dan secara hukum paling buruk dapat dibuang, pemerintah, dalam upaya menemukan alasan yang masuk akal untuk mengabaikan kenyataan hukum ini, telah berkonsultasi dengan kanton-kanton Reformasi Swiss (ZĂŒrich, Bern, Basel, Schaffhausen). Mereka secara universal mendukung pengutukan dan penekanan doktrinnya, tetapi tanpa mengatakan bagaimana hal itu harus dilakukan. Martin Luther telah mengutuk tulisannya dengan keras. Servetus dan Philip Melanchthon memiliki pandangan yang sangat bermusuhan satu sama lain. Partai yang disebut “Libertines”, yang umumnya menentang apa saja dan semua yang didukung John Calvin, dalam hal ini sangat mendukung eksekusi Servetus di tiang (sementara Calvin mendesak agar dia dipenggal sebagai gantinya). Bahkan, dewan yang mengutuk Servetus dipimpin oleh Ami Perrin (seorang Libertine) yang akhirnya pada 24 Oktober menghukum mati Servetus dengan cara dibakar karena menyangkal Trinitas dan baptisan bayi. Calvin dan pendeta lainnya meminta agar dia dipenggal kepalanya daripada dibakar, mengetahui bahwa membakar di tiang adalah satu-satunya jalan hukum. Permohonan ini ditolak dan pada 27 Oktober, Servetus dibakar hidup-hidup—di atas tumpukan bukunya sendiri—di Plateau of Champel di tepi Jenewa. Sejarawan mencatat kata-kata terakhirnya sebagai: “Yesus, Anak Allah yang Kekal, kasihanilah aku.

Rangkuman

Karena pandangannya tentang Trinitas, dia ditangkap oleh Katolik. Entah bagaimana, dia bisa lepas dari penjara Katolik dan lari menuju ke Italy. Tapi entah mengapa dia hadir di kotbahnya John Calvin sehingga dia langsung ditangkap. Kemudian dia dituntut atas tuduhan penganut :

  • Non – Trinitarian
  • Modalistic Monarchianism (Monoteism)
  • Sabellianism (Allah Trinitas yang terpisah – pisah, bukan cuma sekedar 3 Hipostatis, tapi Triteism)
  • Anti-paedobaptism (Anti Baptisan Anak)

John Calvin di dalam posisi politiknya di Geneva

www.amadeusseminary.org/wp-content/uploads/2019/07/John-Calvin-Politics.pdf

Pendapat yang mengatakan bahwa Calvin mencampuradukkan urusan gereja dan negara sedemikian rupa sehingga dia memberangus kebebasan relijius merupakan tuduhan yang tidak adil. Pendapat ini hanya didasarkan pada satu sisi saja, yaitu politik praktis Calvin, padahal teologi politis Calvin seringkali tidak selaras dengan politik praktisnya. Bukan karena dia tidak konsisten. Semua karena wewenangnya yang terbatas di Jenewa. Dalam kasus hukuman mati yang dijatuhkan oleh pejabat sipil kepada Servetus, Calvin mungkin sudah melakukan apa yang berada dalam wilayah wewenangnya. Walaupun dia memang sangat menentang ajaran Servetus dan menganggap Servetus sebagai pribadi yang buruk, keputusan untuk menghukum mati
bukan berasal dari dia.

Kesimpulan

Setelah membaca dari cerita Michael Servetus dan karya – karyanya, sangat disayangkan dia harus dihukum mati di usia 42 tahun. Dalam konteks kekinian, tentu banyak yang tidak setuju hukuman mati untuk Michael Servetus (termasuk saya), akan tetapi kita harus melihat konteks pada saat itu, yang saya tidak berani mengeluarkan pendapat karena tidak paham dengan sejarahnya.

Kalaupun memang peranan John Calvin kurang significant, saya yakin, misal John Calvin mau menghentikan, para executor pasti menaatinya. Tapi karena memang John Calvin dalam hatinya setuju, maka yang terjadi adalah pembiaran.

Leave a Comment

You cannot copy content of this page