Perbandingan Naskah kuno Alkitab vs Naskah kuno lainnya

Selama ini umat Kristen dan orang non – Kristen seringkali mengira bahwa kitab suci umat Kristen hanya memiliki TERJEMAHAN Alkitab. Latar belakang dari adanya kesalah pahaman ini karena Alkitab yang dipegang oleh orang Kristen di seluruh dunia adalah terjemahannya.
Dan pada kasus lain, seringkali adanya aliran bidat di dalam kekristenan muncul dari adanya kondisi ini, misal Saksi Yehuwa yang sering kali meributkan mengenai bahasa asli dan tafsiran mereka

Dengan artikel ini, saya akan menunjukkan jumlah naskah kuno yang dimiliki orang Kristen melebihi dari naskah kuno lain dari segi :

  • Jumlahnya
  • Rentang waktu antara penulis asli dan salinannya.
  • Quality dari manuscript yang ada

Perbandingan naskah Perjanjian Baru

Tabel Jumlah Copies dan Time Gap

Berikut ini admin beri tabel perbandingan dari beberapa naskah kuno dengan jumlah copies yang ada.

lynnmaynard.files.wordpress.com

Date written adalah tahun ditulisnya naskah kuno tersebut. Pada beberapa kasus disamakan dengan tahun kematian dari penulisnya. Misal, Kitab Yohanes yang ditulis oleh rasul Yohanes . Rasul Yohanes meninggal tahun 100 M. Sedang salinan tertua berasal dari sekitar tahun 150 M.

Earliest Copy adalah tahun dibuatnya salinan yang ditemukan

Time Gap adalah selisih dari tahun dibuatnya tulisan asli dengan tahun dibuatnya salinannya

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa salinan Alkitab Perjanjian Baru yang ada sampai pada zaman ini sangat banyak sekali

Jumlah manuskrip Yunani Perjanjian Baru sangat fantastis – lebih dari 5.000 manuskrip Yunani sebagian dan lengkap, beberapa di antaranya berasal dari abad kedua atau ketiga. Selain itu ada 19.238+ manuskrip Perjanjian Baru terjemahan awal ke dalam bahasa lain – lynmaynard

Tabel dari masing – masing kitab

BookEarliest extant manuscriptsDateCondition
Matthew𝔓1𝔓37𝔓45𝔓53𝔓64𝔓67𝔓70𝔓77𝔓101𝔓103𝔓104[27]c. 150–300 (2nd–3rd century)Large fragments
Mark𝔓45𝔓137c. 150–250 (2nd–3rd century)Large fragments
Luke𝔓4𝔓69𝔓75𝔓45c. 175–250 (2nd–3rd century)Large fragments
John𝔓5𝔓6𝔓22𝔓28𝔓39𝔓45𝔓52𝔓66𝔓75𝔓80𝔓90𝔓95𝔓106c. 125–250 (2nd–3rd century)Large fragments
Acts𝔓29𝔓38𝔓45𝔓48𝔓53𝔓74𝔓91Early 3rd century[28]Large fragments
Romans𝔓27𝔓40𝔓46c. 175–225 (2nd–3rd century)Fragments
1 Corinthians𝔓14𝔓15𝔓46c. 175–225 (2nd–3rd century)Fragments
2 Corinthians𝔓46c. 175–225 (2nd–3rd century)Fragments
Galatians𝔓46c. 175–225 (2nd–3rd century)Fragments
Ephesians𝔓46𝔓49c. 175–225 (2nd–3rd century)Fragments
Philippians𝔓16𝔓46c. 175–225 (2nd–3rd century)Fragments
Colossians𝔓46c. 175–225 (2nd–3rd century)Fragments
1 Thessalonians𝔓30𝔓46𝔓65c. 175–225 (2nd–3rd century)Fragments
2 Thessalonians𝔓30Early 3rd centuryFragments
1 Timothyאc. 350 (4th century)Complete
2 Timothyאc. 350 (4th century)Complete
Titus𝔓32c. 200 (late 2nd – early 3rd century)Fragment
Philemon𝔓873rd centuryFragment
Hebrews𝔓12𝔓13𝔓17𝔓46c. 175–225 (2nd–3rd century)Fragments
James𝔓20𝔓23𝔓1003rd CenturyFragments
1 Peter𝔓81,[27] π”“72c. 300 (late 3rd – early 4th century)Fragments
2 Peter𝔓72c. 300 (late 3rd – early 4th century)Fragments
1 John𝔓93rd centuryFragment
2 Johnאc. 350 (4th century)Complete
3 Johnאc. 350 (4th century)Complete
Jude𝔓72𝔓78c. 300 (late 3rd – early 4th century)Fragments
Revelation𝔓18𝔓24𝔓47𝔓98𝔓115c. 150–250 (2nd–3rd century)Fragment
Wikipedia

Akurasi dari naskah – naskah yang ada

Lynmaynard :

β€œBy far the most significant category of variants is spelling differences.  The name John, for example, may be spelled with one n or with two.  Clearly, a variation of this sort in no way jeopardizes the meaning of the test.  Spelling differences account for roughly 75 percent of all variants.  That’s between 225,000 and 3000,000 of all the variants!  Another large category of variants consists of the synonyms used across manuscripts.  For instance, some manuscripts may refer to Jesus by his proper name, while others may say β€œLord” or β€œhe.”  Such differences hardly call the meaning of the test into question.   When all variations are considered, roughly one percent involve the meaning of the text.  But even that can be overstated.  For instance, there is disagreement about whether 1 John 1:4 should be translated, β€œThus we are writing these things so that our joy may be complete” or β€œThus we are writing these things so that your joy may be made complete.”  While this disagreement does involve the meaning of the passage, it in no way jeopardizes a central doctrine of the Christian faith. This is why the authors of Reinventing Jesus conclude, β€œThe short answer to the question of what theological truth are at stake in these variants is – none.””  Josh McDowell, More Than A Carpenter (Tyndale House, 2009 re. ed.) p. 76-77.)

Terjemahan Google Translate :

β€œSejauh ini kategori varian yang paling signifikan adalah perbedaan ejaan. Nama John, misalnya, dapat dieja dengan satu n atau dengan dua. Jelas, variasi semacam ini sama sekali tidak membahayakan makna tes. Perbedaan ejaan menyumbang sekitar 75 persen dari semua varian. Itu antara 225.000 dan 3000.000 dari semua varian! Kategori varian besar lainnya terdiri dari sinonim yang digunakan di seluruh manuskrip. Misalnya, beberapa manuskrip mungkin menyebut Yesus dengan nama aslinya, sementara yang lain mungkin mengatakan ”Tuhan” atau ”dia”. Perbedaan seperti itu hampir tidak membuat makna tes dipertanyakan. Ketika semua variasi dipertimbangkan, kira-kira satu persen melibatkan makna teks. Tetapi bahkan itu bisa dilebih-lebihkan. Misalnya, ada ketidaksepakatan tentang apakah 1 Yohanes 1:4 harus diterjemahkan, “Demikianlah kami menulis semuanya ini, supaya penuh sukacita kami” atau “Demikianlah kami menulis semuanya ini, supaya sukacitamu menjadi lengkap.” Sementara ketidaksepakatan ini memang melibatkan arti dari perikop itu, itu sama sekali tidak membahayakan doktrin sentral dari iman Kristen. Inilah sebabnya mengapa penulis Reinventing Jesus menyimpulkan, “Jawaban singkat untuk pertanyaan tentang kebenaran teologis apa yang dipertaruhkan dalam varian ini – tidak ada.”” Josh McDowell, More Than A Carpenter

Tabel di atas menunjukkan perbandingan antar copies dari naskah kuno yang ada

Dari berbagai macam copies yang ada, para ahli membandingkan tulisan di dalamnya. Akurasi / ketepatan antar copies mencapai 99,5%.

List dari perbedaan dari masing – masing copies bisa dibaca di : https://en.wikipedia.org/wiki/Textual_variants_in_the_New_Testament.

Kesimpulan

Dari berbagai naskah Perjanjian Baru, tingkat akurasinya adalah 99,5%. Jadi mengenai keaslian dari kitab injil tersebut, bisa dipertanggung jawabkan. Satu – satunya naskah kuno yang mendekati cuma Homer (Iliad) dengan jumlah kopi cuma 11% dari Naskah Perjanjian baru. Kalau anda bisa percaya pada cerita Plato, harusnya anda percaya pada Perjanjian Baru

Perbandingan Naskah Perjanjian Lama

Ada beberapa naskah pernjian lama yang menjadi acuan dari Yahudi dan Kristen Juga Agama Samaria utk 5 kitab taurat.

Dikutip dari https://www.cslewisinstitute.org/webfm_send/410

Jumlah Naskah Kuno utk Perjanjian Lama

In the case of the Old Testament, there is a small number of Hebrew manuscripts, because Jewish scribes ceremonially buried imperfect and worn manuscripts. Many ancient manuscripts were lost or destroyed during Israel’s turbulent history. Also, the Old Testament text was standardized by the Masoretic Jews by the sixth century A.D., and all manuscripts that deviated from the Masoretic Text were eliminated. But the existing Hebrew manuscripts are supplemented by the Dead Sea Scrolls, the Septuagint (a third-century B.C Greek translation of the Old Testament), the Samaritan Pentateuch, and the Targums (ancient paraphrases of the Old Testament), as well as the Talmud (teachings and commentaries related to the Hebrew Scriptures). The quantity of New Testament manuscripts is unparalleled in ancient literature. There are over 5,000 Greek manuscripts, 8,000 Latin manuscripts, and another 1,000 manuscripts in other languages (Syriac, Coptic, etc.). In addition to this extraordinary number, there are tens of thousands of citations of New Testament passages by the early church fathers. In contrast, the typical number of existing manuscript copies for any of the works of the Greek and Latin authors, such as Plato,

Google Translate :

Dalam kasus Perjanjian Lama, ada sejumlah kecil manuskrip Ibrani, karena ahli-ahli Taurat Yahudi manuskrip-manuskrip yang tidak sempurna dan usang dikubur secara seremonial. Banyak manuskrip kuno hilang atau hancur selama sejarah Israel yang bergejolak. Juga, Perjanjian Lama teks distandarisasi oleh orang-orang Yahudi Masoret oleh abad keenam M, dan semua manuskrip yang menyimpang dari Teks Masoret dihilangkan. Tetapi manuskrip Ibrani yang ada dilengkapi dengan Gulungan Laut Mati, Septuaginta (terjemahan Perjanjian Lama Yunani abad ketiga SM), orang Samaria Pentateuch, dan Targum (parafrase kuno dari Perjanjian Lama), serta Talmud (ajaran dan komentar yang terkait dengan Kitab-Kitab Ibrani). Kuantitas manuskrip Perjanjian Baru tidak tertandingi dalam literatur kuno. Ada lebih dari 5.000 Manuskrip Yunani, 8.000 manuskrip Latin, dan 1.000 manuskrip lainnya dalam bahasa lain (Syriac,
Koptik, dll). Selain jumlah yang luar biasa ini, ada puluhan ribu kutipan dari bagian-bagian Perjanjian Baru oleh para bapa gereja mula-mula. Sebaliknya,
jumlah tipikal salinan manuskrip yang ada untuk salah satu karya penulis Yunani dan Latin, seperti sebagai Plato,

Rangkuman

Karena ada banyak jumlah dari naskah kuno, maka kita akan dengan sangat mudah untuk membandingkan apakah naskah tersebut dapat dipercaya.

Kualitas masing – masing naskah kuno

Because of the great reverence the Jewish scribes held toward the Scriptures, they exercised extreme care in making new copies of the Hebrew Bible. The entire scribal process was specified in meticulous detail to minimize the possibility of even the slightest error. The letters, words, and lines were counted, and the middle letters of the Pentateuch and the Old Testament were determined. If a single mistake was discovered, the entire manuscript was destroyed. As a result of this extreme care, the quality of the manuscripts of the Hebrew Bible surpasses all other ancient manuscripts. The 1947 discovery of the Dead Sea Scrolls provided a significant check, because these Hebrew scrolls antedate the earliest Masoretic Old Testament manuscripts by about 1,000 years. But in spite of this time span, the number of variant readings between the Dead Sea Scrolls and the Masoretic Text is quite small, and most of these are variations in spelling and style. While the quality of the Old Testament manuscripts is excellent, Some of these variant readings crept into the manuscripts because of visual errors in copying or because of auditory errors when a group of scribes copied manuscripts that were read aloud. Other errors resulted from faulty writing, memory, and judgment, and still others from well-meaning scribes who thought they were correcting the text. Nevertheless, only a small number of these differences affect the sense of the passages, and only a fraction of these have any real consequences. Furthermore, no variant readings are significant enough to call into question any of the doctrines

Google Translate

Karena penghormatan besar yang dimiliki para ahli Taurat Yahudi terhadap Kitab Suci, mereka sangat berhati-hati dalam membuat salinan baru dari Alkitab Ibrani. Seluruhnya proses penyalinan ditentukan dengan sangat rinci untuk meminimalkan kemungkinan kesalahan sekecil apa pun. Huruf, kata, dan garis dihitung, dan huruf tengah Pentateukh dan Perjanjian Lama ditentukan. Jika satu kesalahan ditemukan, seluruh naskah dihancurkan. Sebagai hasil dari perawatan yang ekstrim ini, kualitas dari manuskrip Alkitab Ibrani melampaui semua yang lain manuskrip kuno. Penemuan Orang Mati tahun 1947
Gulungan Laut memberikan pemeriksaan yang signifikan, karena ini Gulungan Ibrani mendahului Masoret Kuno yang paling awal Naskah Perjanjian sekitar 1.000 tahun. Tapi di terlepas dari rentang waktu ini, jumlah pembacaan varian antara Gulungan Laut Mati dan Masoret Teks cukup kecil, dan sebagian besar adalah variasi dalam ejaan dan gaya. Sedangkan kualitas naskah Perjanjian Lama sangat bagus, Beberapa varian bacaan ini menyusup ke dalam naskah karena kesalahan visual dalam penyalinan atau karena kesalahan pendengaran ketika sekelompok juru tulis menyalin manuskrip yang dibacakan. Kesalahan lain dihasilkan dari penulisan, ingatan, dan penilaian yang salah, dan masih banyak lagi dari juru tulis yang bermaksud baik yang mengira mereka mengoreksi teks. Namun demikian, hanya sebagian kecil dari perbedaan ini yang mempengaruhi rasa dari bagian-bagian itu, dan hanya sebagian kecil dari ini yang memiliki konsekuensi nyata. Selain itu, tidak ada pembacaan varian yang cukup signifikan
untuk mempertanyakan salah satu doktrin.

Rangkuman

Akurasi dari Perjanjian Lama sangat bisa diandalkan karena di dalam budaya Yahudi, bila ada sedikit kesalahan dalam penyalinan, langsung dibuang. Bahkan walau sudah mendekati dari akhir halaman, tetap aja dibuang.

Selisih Waktu antara Salinan Naskah Kuno dan Waktu Naskah Dibuat

Apart from some fragments, the earliest Masoretic manuscript of the Old Testament is dated at A.D. 895, due to the systematic destruction of worn manuscripts by the Masoretic scribes. However, the discovery of the Dead Sea Scrolls dating from 200 B.C. to A.D. 68 drastically reduced the time span from the writing of the Old Testament books to our earliest copies of them. To summarize the bibliographic test, the Old Testaments enjoy far greater manuscript attestation in terms of quantity, quality, and time span than any other ancient documents.

Google Translate

Terlepas dari beberapa fragmen, Masoret paling awal naskah Perjanjian Lama bertanggal 895 M, karena penghancuran sistematis manuskrip usang
oleh para ahli Taurat Masoret. Namun, penemuan Gulungan Laut Mati yang berasal dari 200 SM. hingga 68 M secara drastis mengurangi rentang waktu dari penulisan Old Kitab-kitab Perjanjian sampai salinan-salinan kita yang paling awal. Untuk meringkas tes bibliografi, Perjanjian Lama menikmati pengesahan naskah yang jauh lebih besar dalam hal kuantitas, kualitas, dan rentang waktu daripada dokumen kuno lainnya. Rangkuman

Rangkuman

Penemuan Deas Sea Scroll sangat penting karena memendekkan waktu dari penulisan salinan dan kitab asli dari Perjanjian Lama. Naskah Masoretic paling tua dibuat tahun 895 M cukup jauh dari waktu penulisan Perjanjian Lama. Tapi Dead Sea Scroll yang ditulis abad 2 SM mendekatkan waktu antara waktu salinan dibuat dengan waktu ketika tulisan dibuat.

Dan secara luar biasa, semua naskah tersebut ketika dibandingkan, semuanya memiliki akurasi yang luar biasa.

Beberapa Naskah Kuno untuk Perjanjian Lama

Masoretic Text

Dikutip dari : https://overviewbible.com/masoretic-text/

Most Jews and Protestants consider the Masoretic Text the authoritative Hebrew Bible (Protestants call it the Old Testament). While it was written sometime between the seventh and tenth centuries AD, it was based on the meticulously preserved oral tradition and the best available manuscripts of the original Hebrew text.

Most English translations of the Old Testament are based on the Masoretic Text.

The Masoretic Text was an answer to a problem that had been building in the Jewish community for centuries: biblical Hebrew was ambiguous, and most Jews didn’t know how to read it anymore. With no vowels, punctuation, or stress marks, the original Hebrew left a lot of room for interpretive errors. And as biblical Hebrew fell out of usage, the Scriptures became virtually inaccessible to the public.

Rabbis were still confident in the combination of written and oral tradition and took steps to make them more accessible without corrupting the original Hebrew texts. But by the ninth century, Jewish tradition was being engulfed by Greek philosophy, and a popular Jewish sect known as the Karaites (β€œreaders”) was advocating for Jews to abandon the rabbinic tradition and read the β€œunadulterated” (or rather, uninterpreted) Hebrew Bible.

This included the rabbinical traditions that removed ambiguity from the ancient Hebrew, which most Jews could no longer read or understand.

To save the Hebrew Bible from dissolving into competing interpretations, a group known as the Masoretes (traditionalists) produced a new copy of the original Hebrew, working from the best available manuscripts, just as countless others hadβ€”but with a twist. They used rabbinic tradition to add the most intricate system of punctuation and stress marks anyone had ever seen, obliterating ambiguity once-and-for-all.

The Masoretic Text so rigidly defined the Hebrew Bible’s punctuation and wording that there could only be one way to read and understand it: the same way rabbis had for centuries.

Google Translate

Kebanyakan orang Yahudi dan Protestan menganggap Teks Masoret sebagai Alkitab Ibrani yang otoritatif (Protestan menyebutnya Perjanjian Lama). Meskipun ditulis antara abad ketujuh dan kesepuluh M, itu didasarkan pada tradisi lisan yang terpelihara dengan cermat dan manuskrip terbaik yang tersedia dari teks Ibrani asli.

Kebanyakan terjemahan bahasa Inggris dari Perjanjian Lama didasarkan pada Teks Masoret.

Teks Masoret adalah jawaban atas masalah yang telah dibangun dalam komunitas Yahudi selama berabad-abad: bahasa Ibrani alkitabiah bersifat ambigu, dan kebanyakan orang Yahudi tidak tahu cara membacanya lagi. Tanpa vokal, tanda baca, atau tanda penekanan, bahasa Ibrani asli meninggalkan banyak ruang untuk kesalahan penafsiran. Dan karena bahasa Ibrani alkitabiah tidak lagi digunakan, Kitab Suci menjadi hampir tidak dapat diakses oleh publik.

Para rabi masih percaya diri dalam kombinasi tradisi tertulis dan lisan dan mengambil langkah-langkah untuk membuatnya lebih mudah diakses tanpa merusak teks Ibrani asli. Tetapi pada abad kesembilan, tradisi Yahudi diliputi oleh filsafat Yunani, dan sekte Yahudi populer yang dikenal sebagai Karaites (“pembaca”) menganjurkan orang Yahudi untuk meninggalkan tradisi rabi dan membaca “tidak tercemar” (atau lebih tepatnya, tidak ditafsirkan) Alkitab Ibrani.

Ini termasuk tradisi kerabian yang menghilangkan ambiguitas dari bahasa Ibrani kuno, yang kebanyakan orang Yahudi tidak bisa lagi membaca atau mengerti.

Untuk menyelamatkan Alkitab Ibrani dari larut dalam interpretasi yang bersaing, sebuah kelompok yang dikenal sebagai Masoret (tradisionalis) menghasilkan salinan baru dari bahasa Ibrani asli, bekerja dari manuskrip terbaik yang tersedia, sama seperti banyak orang lain telah β€” tetapi dengan twist. Mereka menggunakan tradisi rabi untuk menambahkan sistem tanda baca dan tanda tekanan paling rumit yang pernah dilihat siapa pun, menghilangkan ambiguitas sekali dan untuk selamanya.

Teks Masoret begitu kaku mendefinisikan tanda baca dan kata-kata dalam Alkitab Ibrani sehingga hanya ada satu cara untuk membaca dan memahaminya: cara yang sama dilakukan para rabi selama berabad-abad.

Rangkuman

Sebelum ada Masoretic Text, pembacaan kitab suci untuk orang Yahudi didominasi oleh para Rabbi dengan tafsiran rabi, sampai ada kalangan Masoret yang membukukan kitab suci. Kalangan masoret ini tidak puas bila kitab sucinya didominasi oleh Rabbi karena bisa disalahgunakan.

Septuagint

https://artikel.sabda.org/septuaginta (Herlianto).

Septuaginta adalah terjemahan Tenakh ke bahasa Yunani, namun yang perlu dipertanyakan adalah mengapa Tenakh perlu diterjemahkan? Untuk mengerti ini kita harus tahu bahwa bahasa Ibrani bukanlah bahasa yang ada sejak manusia hadir di bumi dan terus bertahan sepanjang masa. Alkitab mencatat bahwa keturunan Sem (Semitik) berasal dari Mesopotamia dan kemudian hijrah ke Kanaan di mana Abraham tinggal selama puluhan tahun di situ sampai meninggalnya dan mengikuti bahasa lokal Kanaan (Kej.12-25). Besan Abraham dan mertua Ishak, Bethuil (Kej.25:20), adalah orang Aram, termasuk Laban saudara isteri Ishak dan mertua Yakub juga orang Aram dan berbahasa Aram (Kej.31:47). Ketika keturunan Abraham tinggal di Mesir mereka berbicara bahasa Kanaan (Yes.19:18) dan kelihatannya masih tetap demikian ketika kembali ke Kanaan.

Sekitar masa kerajaan (abad-10sM) bahasa Ibrani yang disebut bahasa Yehuda tumbuh dari bahasa Kanaan dan Amorit dan menggunakan aksara Kanaan terdiri 22 huruf. Pada masa Sanherib (700sM) rakyat Israel berbahasa Yehuda dan juga kalangan terpelajar berbahasa Aram (2Raj.18:26). Mungkin karena terdiri huruf konsonan dan tidak ada vokal, bahasa Yehuda/Ibrani Kuno (Palaeo Hebrew) tidak bertahan lama, sebab pada abad-6sM bahasa ini hanya digunakan dalam menulis dan menyalin kitab agama dan sebagai bahasa percakapan digunakan Aram. Pada masa Ezra (abad-5sM), rakyat tidak lagi mengerti bahasa Ibrani sehingga perlu diterjemahkan secara lisan ke dalam bahasa Aram (Neh.8:2-9), terjemahan demikian kemudian dikumpulkan sebagai Targum, bahkan beberapa bagian kitab Ezra, Yeremia dan Daniel ditulis dalam huruf Ibrani tetapi berbahasa ucap Aram.

Masa abad-6 s/d 3sM, bahasa Ibrani disebut Ibrani Kitab Suci karena hanya digunakan sebagai bahasa tulis dalam penulisan dan penyalinan kitab suci. Inipun terpengaruh bahasa Aram dimana bentuk yang semula mengikuti huruf Kanani berkembang mengikuti huruf pesegi Aram. Pada akhir masa inilah Alexander (abad-4sM) raja Yunani menguasai kawasan dari Yunani, Asyur, Babilonia, sampai Mesir. Pengaruh Helenisasi dibawah Alexander di Yudea mendalam karena Alexander bisa menyesuaikan diri dengan kepercayaan lokal. Dalam perjalanan ke Mesir di Yerusalem ia mengikuti kebaktian Yahudi di Bait Allah. Di Aleksandria dibangun perpustakaan besar Yunani. Di tengah matinya bahasa Ibrani sebagai bahasa percakapan dan kuatnya bahasa Aram sebagai bahasa percakapan umum, bahasa Yunani ikut populer terutama dikalangan orang Yahudi yang mayoritasnya berada diperantauan, juga yang tinggal di Palestina yang kembali dari Babel yang berbahasa Aram. Setelah kematian Alexander (323sM) dibawah penerusnya wangsa Ptolomeus di Mesir dan Seleukus di Siria dilakukan helenisasi seluruh kawasan dimana Yudea berada ditengahnya. Penduduk Yudea terpecah menjadi dua fraksi Mesir dan Siria, namun sekalipun keduanya berebut pengaruh di Yudea, mereka memiliki kesamaan yaitu bahasa Yunani yang tidak diperebutkan. Di bawah Antiochus III (192sM) kedua wangsa berdamai dan ia mencari simpati dengan cara membebaskan pajak selama 3 tahun, melepaskan tawanan Yahudi, dan membantu membangun kerusakan Bait Allah. Karena bahasa Aram dan Yunani makin menjadi bahasa percakapan umum yang meluas di sekitar laut tengah yang dikuasai wangsa Yunani, Aristeas dalam suratnya kepada Philocratus melaporkan bahwa Dimetrius, penasehat raja, meminta kepada raja Ptolomeus Philadelphus (283-247sM) agar kitab suci Yahudi diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, lebih-lebih karena banyak orang Yahudi tidak lagi bisa berbahasa Ibrani.

Ptolomeus kemudian meminta kepada imam besar Eliezer di Yerusalem untuk mengirimkan kitab Torat dan 72 tua-tua Yahudi untuk menerjemahkannya di Aleksandria. Terjemahan Pentateuch selesai dalam 72 hari dan disebut Septuaginta (LXX), selanjutnya dalam satu abad berikutnya semua kitab Tenakh dan kitab Apokrifa diterjemahkan juga ke dalam bahasa Yunani dan nama Septuaginta dimaksudkan seluruhnya. Septuaginta dengan cepat meluas sampai ke Yudea karena proses helenisasi berjalan mulus di Yudea selama sekitar satu-setengah abad dan makin banyak penduduk menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa percakapan di samping bahasa Aram dan banyak yang juga menggunakan nama Yunani. “Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi di pengadilan dan bahasa pergaulan sehari-hari, seperti yang terlihat dalam tulisan-tulisan di atas papirus, surat-surat cinta, tagihan, resep, mantera, esai, puisi, biografi, dan surat-surat dagang, semuanya tertulis dalam bahasa Yunani, bahkan tetap demikian hingga masa pendudukan Romawi. … bahasa Aram menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan di Palestina, dan Helenisme mendesak Yudaisme.” (Merril C. Tenney, Survey Perjanjian Baru, h.23-24, 29).

Helenisasi damai terganggu ketika Antiochus IV Epiphanes berkuasa (175sM). Waktu itu Yason ingin merebut kedudukan imam besar dari Onias saudaranya, dan ia meminta izin Anthiocus untuk membangun gymnasium di Yerusalem dan menjadikannya kota Yunani. Gymnasium ditujukan untuk dewa-dewi Yunani dan pemainnya bertelanjang dada. Para imam Yahudi pun banyak yang bertelanjang dada mengikuti perlomaan dan mengabaikan tugas mereka di Bait Allah. Anthiokus IV ketika pulang perang dengan wangsa di Mesir mampir di Yerusalem (171sM) dan menajiskan Bait Allah dan merampas banyak perkakas di Bait Allah (1Mak.1:21-25; 2Mak.5:11-16;6:1-9). Bukan bahasa-helenis, tetapi paganisme-helenis yang dipaksakan itulah yang mendorong keluarga Matathias memberontak (1Mak.2:1-14). Di bawah anaknya Yudas, pemberontakan mencapai puncaknya dan Bait Allah direbut kembali dan ditahbiskan (165sM) dan dirayakan sebagai Hanukkah. Anthiokus IV marah dan menyerang kembali tetapi ia keburu meninggal dan penggantinya memberi kebebasan beragama. Sekalipun Yudas ingin mengembalikan Yudaisme dan membenci pengaruh asing, ia sendiri meminta bantuan Romawi, tahun 161sM ia terbunuh dalam perang. Perayaan Hanukkah memang mengembalikan kesucian ibadat di bait Allah, namun itu tidak mengusir helenisasi dalam bahasa. Yudas sendiri memakai nama panggilan Makabeus dalam bahasa Yunani dan keturunan Simon saudaranya, yang kemudian memerintah Yudea, banyak yang menggunakan nama Yunani juga seperti John Hirkanus, Aristobulus, Alexander Yanneus, dan Antigonus Matathias.

Helenisasi bahasa Yunani sudah penuh di Yudea ketika Yesus hidup. “Yesus berbicara juga bahasa Yunani … tetapi bahasa ibu mereka saat itu adalah bahasa Aram.” (ME Duyverman, Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, h.16). “Septuaginta … Pada masa Kristus, kitab tersebut telah tersebar luas di antara para Perserakan di wilayah Timur Tengah dan menjadi Kitab Suci Jemaat Kristen yang mula-mula.” (Tenny, h.32). “Septuaginta adalah Alkitab yang digunakan oleh Yesus dan para rasul. Sebagian besar kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru dikutip langsung dari Septuaginta, sekalipun itu berbeda dengan teks Masoret.” (Norman Geisler, A General Introduction to the Bible, h.254). Di Sinagoga di Nazaret, Yesus membaca kitab Yesaya dari Septuaginta (Luk.4:18-19): “Bagian terbesar kutipan ini berasal dari teks Yes.61:1-2 dari LXX. Merawat orang-orang yang remuk hati, adalah bagian dari sumber peninggalan naskah Lukas yang terbaik, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas berasal dari teks LXX dari Yes.58:6.” (The Interpreters Bible, Vol.8,90-91).

Ada yang menyebut Josephus mengaku menderita belajar bahasa Yunani dan mendorong orang Yahudi agar tidak menyerah dan belajar bahasa asing. Nyatanya ini ucapan politis, karena faktanya ia membelot ke negara asing Romawi dan mengganti namanya dengan nama Romawi, Flavius Josephus, sehingga ia disebut penghianat oleh orang Yahudi. Kala itu Romawi berkuasa di Yudea mengalahkan wangsa Yunani namun dalam hal bahasa, bahasa Romawi tidak mampu menggantikan bahasa Yunani. Josephus menulis Jewish War dalam bahasa Aram yang disebut lidahnya orang Ibrani, tetapi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, dan banyak karyanya di tulis dalam bahasa Yunani. “Karya pertamanya adalah Sejarah Perang Yahudi, ditulis pertama kalinya dalam bahasa Aram untuk kepentingan orang Yahudi di Mesopotamia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Yunani.” (J.D. Douglas (ed), The New Bible Dictionary, h.660) Memang bahasa Aram secara umum dan di Perjanjian Baru disebut bahasa Ibrani (hebraisti = lidah Ibrani; hebraidi dialektos = dialek Ibrani), tetapi maksudnya adalah bahasa Aram. Bruce Metzger, profesor Perjanjian Baru dari Princeton, mengatakan: “Bahasa ibu orang Yahudi Palestina di waktu itu adalah Aram. Sekalipun para Rabi dan Ahli-Kitab masih menggunakan bahasa Ibrani klasik Perjanjian Lama, untuk mayoritas umat ini adalah bahasa mati. … Barangkali karena rasa bangga yang salah, dan kemungkinan besar karena tidak dapat membedakan ketepatan ilmiah, bahasa Aram secara populer disebut sebagai bahasa “Ibrani.” … Bahasa percakapan umum semitik orang Yahudi Palestina pada waktu Yesus hidup adalah “Aram” (The Language of the New Testament, dalam The Interpreters Bible, Vol.7, 43). Septuaginta menerjemahkan Yahweh/Adonai menjadi Kur55 dan El/Elohim/Eloah dengan Theos, namun ada yang menyebut bahwa beberapa fragmen abad-1M menunjukkan LXX aslinya tidak menerjemahkan tetragramaton dan baru pada abad-2M diterjemahkan menjadi Kurios. Melihat fragmen itu kita dapat mengetahui bahwa itu salinan yang dimiliki pemuja nama Yahweh kala itu dimana kata Kurios diganti YHWH, indikasinya ada naskah LXX yang memuat nama YHWH Ibrani kuno yang lebih dari 5 abad lebih tua, malah ada naskah Tenakh Ibrani miznah yang nama YHWHnya ditulis dalam Ibrani kuno juga. Ada juga fragmen LXX abad-1M yang didalamnya memuat nama YHWH Ibrani miznah yang semasa. Banyak juga fragmen LXX yang menunjukkan nama Kurios & Theos, dan adalah tidak logis kalau itu baru ditulis pada abad-2M sebab pada tengah kedua abad-1M, kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine yang sama dan menggunakan gaya bahasa dan kosakata LXX termasuk nama Kurios & Theos.

Komentar Admin

Pada saat itu, Yunani merupakan Lingua Franca di dunia sehingga semua pihak bisanya berbahasa Yunani. Maka Kitab Suci Yahudi (Taurat, Neviim, Ketuvim) diterjemahkan ke bahasa Yunani. Urutan dari Kitab suci Yahudi ini digrup ulang. Dikelompokkan berdasar Nabi besar, nabi kecil. kitab sejarah, kitab mazmur (dan ratapan serta amsal).

Alkitabnya orang Kristen pada mulanya didasarkan dari Septuaginta. Itulah mengapa urutan Alkitab berbeda dengan Kitab Suci orang Yahudi, tapi isinya SAMA PERSIS.

Pada zaman Yesus, kitab suci yang digunakan adalah septuaginta, demikitan juga kitab suci yang digunakan para rasul ketika mengabarkan injil di Kitab Para Rasul.

Peshitta

Wikipedia :

The Peshitta (Classical Syriac: ά¦ά«άΊάά›ά¬ά³άβ€Ž or ά¦ά«άάΌά›ά¬ά΅ά pΕ‘Δ«αΉ­ta) is the standard version of the Bible for churches in the Syriac tradition, including the Maronite Church, the Chaldean Catholic Church, the Syriac Catholic Church, the Syriac Orthodox Church, the Malabar Independent Syrian Church (Thozhiyoor Church), the Syro Malankara Catholic Church, the Malankara Marthoma Syrian Church, the Assyrian Church of the East and the Syro Malabar Catholic Church.

The consensus within biblical scholarship, although not universal, is that the Old Testament of the Peshitta was translated into Syriac from Biblical Hebrew, probably in the 2nd century AD, and that the New Testament of the Peshitta was translated from the Greek. This New Testament, originally excluding certain disputed books (2 Peter, 2 John, 3 John, Jude, Revelation), had become a standard by the early 5th century. The five excluded books were added in the Harklean Version (616 AD) of Thomas of Harqel.

Translate

Peshitta (Bahasa Suryani Klasik: β€Ž atau pΕ‘Δ«αΉ­ta) adalah versi standar Alkitab untuk gereja-gereja dalam tradisi Siria, termasuk Gereja Maronit, Gereja Katolik Kasdim, Gereja Katolik Siria, Gereja Ortodoks Syria, Gereja Syria Independen Malabar (Gereja Thozhiyoor), Gereja Katolik Syro Malankara, Gereja Syria Malankara Marthoma, Gereja Asiria Timur dan Gereja Katolik Syro Malabar.

Konsensus dalam keilmuan alkitabiah, meskipun tidak universal, adalah bahwa Perjanjian Lama Peshitta diterjemahkan ke dalam bahasa Syria dari bahasa Ibrani Alkitab, mungkin pada abad ke-2 M, dan bahwa Perjanjian Baru Peshitta diterjemahkan dari bahasa Yunani. Perjanjian Baru ini, awalnya mengecualikan kitab-kitab tertentu yang disengketakan (2 Petrus, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, Wahyu), telah menjadi standar pada awal abad ke-5. Lima buku yang dikecualikan ditambahkan dalam Versi Harklean (616 M) dari Thomas of Harqel.

Rangkuman

Alkitab bahasa Syria ini di zaman sekarang mungkin tidak berarti besar. Tapi pada zamannya, Kitab bahasa Syria ini yang diterjemahkan ke bahasa Arab, Armenian, Georgia dsb. Pada zaman modern ini, maka kitab Syria ini bisa dipakai sebagai perbandingan untuk naskah lainnya.

Vulgatta

Dikutip dari terangiman.com

Codex Amiatinus foto oleh Remi Mathis

Walaupun kita tidak tahu banyak tentang St. Ceolfrid, kita setidaknya tahu beberapa hal penting mengenai beliau: kita tahu dengan pasti bahwa beliau seorang rahib Anglo-Saxon yang tinggal di biara St. Paul, Inggris, berasal dari Perancis (dari wilayah Burgundy –red.), dan dia kepala biara dari St. Venerabilis Beda. Beliau memberikan penugasan dalam tiga salinan Alkitab di suatu tempat pada akhir abad ke-7. Salah satu dari tiga salinan itu adalah Codex Amiatinus yang berharga, salinan awal yang masih terpelihara dari terjemahan Alkitab Ibrani dan Yunani oleh St. Hieronimus pada abad ke-4 yang menerjemahkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke bahasa Latin. Terjemahan bahasa Latin ini kita kenal sebagai VULGATA.

Codex Amiatinus dianggap sebagai salinan yang paling akurat dari terjemahan asli milik St. Hieronimus. Bahkan, salinan ini digunakan dalam proses revisi Vulgata oleh Paus Sixtus V pada akhir abad ke-16. Saat ini Codex Amiatinus disimpan di Medicea Laurenziana di Firenze, dan dianggap sebagai salah satu manuskrip Kristen yang paling berharga di Barat.

Apa yang kita ketahui mengenai St. Ceolfrid berasal dari β€œEcclesiastical History of England” karya St. Beda. Di dalam buku itu, St. Beda menyatakan bahwa seorang rahib Benediktin yang bernama Ceolfrid menugaskan proses menyalin tiga Alkitab besar dari skriptorium biara. Dua salinan Alkitab itu ditempatkan di gereja kembar milik biara (di Wearmouth dan Jarrow), dan yang ketiga dimaksudkan untuk dihadiahkan kepada Paus. Salinan-salinan Alkitab ini disalin dari Codex Grandior yang sekarang sudah hilang. Namun dari ketiga salinan itu, hanya ada satu salinan yang masih ada, salinan ini kemudian dikenal sebagai Codex Amiatinus.

Dalam manuskrip ini menampilkan dua ilustrasi, yang pertama sebuah gambar Nabi Ezra dari Perjanjian Lama dan gambaran Kristus dalam kemuliaan. Nabi Ezra ditampilkan sedang menulis sebuah manuskrip di pangkuannya, duduk di hadapan lemari buku yang terbuka, di dalam lemari itu terdapat sebuah Alkitab dalam sembilan seri. Ilustrasi ini merupakan salah satu gambar tertua di dunia Barat yang menunjukkan penggunaan rak buku dan penjilidan buku.

Salinan ini diselesaikan oleh tujuh orang jurutulis, dan dipersembahkan kepada Paus Gregorius II oleh rekan-rekan St. Ceolfrid, beliau meninggal dunia ketika dalam perjalanan menuju Roma pada tahun 716.

Manuskrip ini sangat kaya akan pengaruh Byzantine sehingga untuk waktu yang lama dianggap sebagai Italo-Byzantine (seolah-olah telah dibuat di Ravenna) daripada asal aslinya dari Inggris.

Dead Sea Scroll

Dikutip dari : itbu : Institute Teknologi Budi Utomo (http://p2k.itbu.ac.id/ind/1-3066-2950/Naskah-Laut-Mati_31039_itbu_naskah-laut-mati-itbu.html)

Naskah Laut Mati terdiri dari kurang lebih 981 dokumen, termasuk teks-teks dari Kitab Suci Ibrani, yang ditemukan selang tahun 1947 dan 1956 dalam 11 gua di Wadi Qumran dan sekitarnya (dekat reruntuhan pemukiman lawas Khirbet Qumran, di sebelah barat kekuatan pantai Laut Mati). Teks-teks ini mempunyai makna keagamaan dan sejarah yang penting, karena mereka praktis adalah satu-satunya dokumen-dokumen Alkitab yang bertarikh selang tahun 150 SM dan 70 M.

Menurut penanggalan radiokarbon dan analisis teks, dokumen-dokumen ini ditulis pada beragam masa sejak pertengahan ratus tahun ke-2 SM sampai ratus tahun pertama M. Sekurang-kurangnya satu dokumen, berlandaskan perhitungan tanggal karbon berasal dari tahun 21 SM–61 M. Papirus Nash dari Mesir, yang mengandung salinan Dasa Titah, adalah satu-satunya dokumen berbahasa Ibrani lainnya yang sangat lawas. Bahan-bahan tertulis serupa lainnya telah ditemukan dari situs-situs di dekatnya, termasuk benteng Masada. Beberapa dari naskah ini ditulis di atas papirus, namun cukup banyak pula yang ditulis di kulit binatang yang berwarna kecoklatan, yang rupa-rupanya gevil.

Potongan-potongan ini terdiri dari sekurang-kurangnya 800 teks yang mewakili pandangan-pandangan yang berbeda-beda, dari keyakinan orang-orang Esene sampai sekte-sekte lainnya. Sekitar 30%nya adalah potongan-potongan dari Alkitab Ibrani, dari semua kitab kecuali Kitab Ester. Sekitar 25% adalah teks-teks keagamaan israel tradisional yang tidak hadir di dalam Kitab Suci Ibrani yang kanonik, seperti misalnya Kitab Henokh, Kitab Yobel, dan Akad Lewi. Sekitar 30% lagi mengandung tafsiran-tafsiran Alkitab dan teks-teks lainnya seperti misalnya “Manual Disiplin” (1QS, yang dikenal pula sebagai “Naskah Disiplin” atau “Aturan Komunitas”) dan Aturan Peperangan (1QM, juga dikenal sebagai “Naskah Peperangan”) yang terkait dengan keyakinan, peraturan, dan tuntutan keanggotaan dari sebuah sekte kecil Yahudi, yang dipercaya banyak peneliti hidup di wilayah Qumran. Sisanya (sekitar 15%) dari potongan-potongan ini belum bisa diidentifikasikan. Kebanyakan dari mereka ditulis dalam bahasa Ibrani, namun beberapa juga ditulis dalam bahasa Aram dan beberapa dalam bahasa Yunani.

Teks-teks penting mencakup Gulungan Yesaya (yang ditemukan pada 1947), sebuah arti Habakuk (1947); Peraturan Komunitas (1QS), yang memberikan banyak informasi tentang struktur dan teologi sekte ini; dan versi yang sangat awal dari Dokumen Damsyik. Apa yang dinamakan Gulungan Tembaga (1952), yang mendaftarkan tempat-tempat penyimpanan emas, naskah, dan senjata yang tersembunyi barangkali adalah yang sangat terkenal.

Komentar Admin

Dead Sea Scroll adalah salah satu penemuan terpenting di abad 20 karena keutuhan dari naskah naskah kuno yang ada. Dan dengan penemuan Dead Sec Scroll, maka alkitab yang dipegang oleh orang Kristen dan Yahudi bisa dipertanggung jawabkan. bahkan bisa dikoreksi karena rentang waktu nya yang lebih pendek dari naskah naskah lainnya.

Dead Sea Scroll ada menyebut tentang Guru Kebenaran. Guru Kebenaran ini adalah seorang Rabi Yahudi yang menolak praktik menyimpang dari agama Yahudi pada masa imam Jonathan Appus (https://en.wikipedia.org/wiki/Teacher_of_Righteousness)

Kesimpulan Akhir

Dari seluruh naskah – naskah yang ada, iman Kristen bisa dipertanggung jawabkan. Kekristenan terbuka dengan adanya koreksi dan kritik terhadap teks nya

Leave a Comment

You cannot copy content of this page