Akankah PCR menyusul obat COVID dengan menjadi langka ?

Latar Belakang

Pada tanggal 17 Agustus 2021, Pemerintah menatapkan harga tes PCR adalah 500 ribu dengan hasil didapat dalam beberapa jam.

www.cnbcindonesia.com/news/20210817064057-4-268975/resmi-turun-cek-harga-tes-pcr-di-sini

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI resmi menurunkan harga tes swab PCR di Jawa Bali menjadi Rp 495 ribu dan di luar Jawa dan Bali menjadi Rp 550 Ribu. Kimia Farma melalui pengumumannya menyampaikan bahwa harga efektif tes PCR sebesar Rp 500 ribu tersebut berlaku 16 Agustus 2021.

Dengan hasil 16 jam, harga ini berlaku di Jakarta, Semarang, Bandung, Medan dan Makassar. Sementara untuk swab antigen, untuk reguler dipatok Rp 85 ribu dan untuk Abbott Panbio dikenakan biaya sebesar Rp 125 ribu.

Selanjutnya tak hanya BUMN, milik swasta yaitu bumame Farmasi mengutip akun instagram resminya @bumame_farmasi juga mengumumkan penurunan harga tersebut. Dalam keterangannya, Bumame mengumumkan harga baru yang berlaku mulai 17 Agustus pukul 00.00 WIB di 29 cabang Bumame.

Harganya antara lain hasil 24 jam Rp 495 ribu nett, hasil 16 jam Rp 750 ribu nett, hasil 10 jam Rp 900 ribu nett. Ke-29 cabang Bumame berlokasi di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok Be

kasi hingga Bandung.

Berikutnya Mylab Indonesia juga menyebut “harga bersahabat” untuk harg terbarunya ini. “MyLab Indonesia menurunkan harga SWAB PCR menjadi 495 ribu di seluruh lokasi MyLab (Tebet, Duren Sawit, dan Kelapa Gading)” demikian tertulis pada akun Instagram resminya @maylabIndonesia.

Sebelumnya, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes Abdul Kadir mengatakan berdasarkan surat edaran tahun lalu, pemerintah menerapkan batas tertinggi harga tes swab PCR maksimal Rp 900 ribu. Bila dibandingkan harga sekarang sudah terjadi penurunan harga sebesar 45%.

“Kenapa baru sekarang turun? Itu disebabkan karena penurunan harga reagen dan bahan habis pakai. Pada awalnya harga reagen masih tinggi, bukan hanya itu harga barang habis pakai masing tinggi. Contohnya masker, hazmat dan sarung tangan sehingga harganya tinggi,” ujarnya.

“Berdasarkan evaluasi terjadi penurunan harga sehingga dilakukan penghitungan ulang unit cost dan dapat harga tertinggi Rp 495 ribu.”

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo(Jokowi) meminta agar tarif tes PCR diturunkan antara Rp 450 ribu hingga Rp 550 ribu sekali tes. Sebelumnya Kemenkes menerapkan tarif maksimal Rp 900 ribu.

Presiden Jokowi juga meminta agar hasil tes PCR bisa keluar 1×24 jam. Tujuannya untuk mempercepat pelacakan Covid-19 di Tanah Air. Beberapa laboratorium di daerah membutuhkan waktu hingga lima hari untuk memproses tes PCR

Yang terjadi dengan obat ketika pemerintah menetapkan HET

Pada bulan Juli 2021, pemerintah menetapkan HET untuk obat – obatan terapi COVID 19. (https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/berita-utama/20210703/2338016/menkes-tetapkan-harga-eceran-tertinggi-obat-terapi-covid-19/)

Dan kemudian yang terjadi adalah obat menjadi langka. Dibuktikan oleh Bapak presiden ketika sidak di apotheek di Bogor. (https://megapolitan.kompas.com/read/2021/07/24/08580961/saat-jokowi-kesulitan-cari-obat-covid-19-di-kota-bogor?page=all)

Di kalangan masyarakat, sudah jelas alasan mengapa obat tersebut menjadi langka. Yaitu :
Karena harga kulakan obatnya sudah di atas HET.
Apotheek tentu tidak ingin rugi dengan jualan obat – obat tersebut, akan tetapi kalau harga kulakan sudah di atas HET, mending tidak usah jualan

Seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah bukannya memaksakan HET, tapi menggerojok obat ke pasaran sehingga harga akan turun dengan sendirinya. Seperti pada masker medis tahun 2020.

Kemungkinan yang akan terjadi dengan PCR

Saya tidak tahu harga dasar dari tes PCR beserta komponen analysts-nya (laborant -nya). Tapi andai harganya di atas 500 ribu, ada beberapa kemungkinan yang terjadi

  • Bila memang harga pokok di bawah 500 ribu, akan berjalan terus
  • Bila harga pokok sedikit di bawah 500 ribu, banyak yang tutup
  • Bila harga pokok di atas 500 ribu, lebih banyak lagi yang tutup
  • Bila harga pokok di atas 500 ribu, banyak yang ngawur dalam menganalisnya.

Yang menjadi ketakutan dari admin adalah kemungkinan terakhir. Ingat, hasil dipaksa keluar dalam 24 jam sehingga membutuhkan kerja keras dari laborant-nya. Dan dalam kondisi begini, harga gaji laborant akan naik sehingga ada jalan lain supaya bisa keluar dalam 24 jam.

Yaitu merekayasa hasil dari tes PCR.

Ingat : Ada sampling error yang memang diperkenankan di tes ini.

Beda dengan tes kolesterol dsb yang sampling error kecil sekali.

Cerita Sampingan tentang tes PCR

NB : saya mendapat cerita : Ada orang yang udah pernjanjia tes PCR. Tanpa alasan yang jelas, Lab-nya menunda keesokan harinya tanpa pemberitahuan. Orang tersebut marah – marah. Karena sudah terlanjur membayar, maka orang tersebut tetapi tes keesokan harinya.. Dan ketika hasilnya keluar, bisa ditebak bahwa orang tersebut positif COVID padahal keluarga serumah lainnya negatif.

Ketika orang tersebut tes ke lab lain, hasilnya adalah negatif. Ketika dikomplain ke lab pertama, maka lab pertama bisa berdalih dengan alasan sampling error yang memang ada.

Semoga ketakutan saya tidak terjadi

Leave a Comment

You cannot copy content of this page