Air bah zaman Nuh bersifat global atau lokal ?

Air bah zaman Nuh tercatat di Kitab Kejadian. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan bagi banyak pihak di segala zaman adalah : apakah banjir tersebut bersifat lokal atau global. Dan, apakah banjir zaman Nuh itu banjir yang sama dengan banjir di banyak peradaban kuno di dunia ?

Mitos banjir di seluruh dunia

Di dunia ini banyak cerita mengenai air bah. Hampir di setiap peradaban, muncul cerita bahwa ada banjir besar di zaman dahulu kala. Di bawah ini adalah daftar banjir besar di masing masing peradaban.

Timur Dekat Kuno

  • Sumeria
  • Babilonia (Epos Gilgames)
  • Akkadia (Epos Atrahasis)
  • Ibrani : Nuh
  • Ibrani : Kitab Pertama Henokh

Eropa

  • Yunani
  • Jerman
  • Irlandia

Benua Amerika

  • Aztek
  • Inka
  • Maya
  • Hopi
  • Kaddo
  • Menominee
  •  Mi’kmaq

Timur Jauh1

  • Tiongkok
  • India
  • Indonesia
  • Polinesia

Mitos banjir dalam bermacam hukum budaya

Sumber : unkris.ac.id.

Timur Dekat Kuno

Sumeria

Mitos Sumeria tentang Ziusudra menceritakan bagaimana dewa Enki memperingatkan Ziusudra (artinya “ia melihat kehidupan,” sebagai rujukan terhadap karunia keabadian yang diberikan baginya oleh para dewata), raja Shuruppak, tentang keputusan para dewata bagi menghancurkan umat manusia dalam sebuah cairan bah – anggota yang menjelaskan mengapa dewa-dewa telah mengambil keputusan ini lenyap. Enki memerintahkan Ziusudra membangun sebuah kapal agung (teks yang menggambarkan perintah ini pun hilang)

Setelah banjir berjalan tujuh hari, Ziusudra membuat kurban yang semestinya dan menyembah An (dewa langit) dan Enlil (pemimpin para dewa), dan memperoleh kehidupan abadi di Dilmun (Taman Eden bangsa Sumeria) oleh An dan Enlil.

Di dalam Daftar raja-raja Sumeria, (Silsilah tentang raja-raja, baik yang tradisional, legendaris dan mitologis), juga menyebutkan tentang sebuah banjir bandang

Bermacam penggalian di Irak menunjukkan tentang sebuah banjir di Shuruppak sekitar tahun 2900-2750 SM, yang meluas hingga kota Kish, yang dipimpin raja Etana, yang konon merupakan pendiri dinasti Sumeria pertama setelah cairan bah itu.

Mitos tentang Ziusudra terdapat dalam sebuah salinan, potongan Kitab Peristiwa Eridu, yang menurut tulisannya bersumber dari zaman ke-17SM.

Babilonia (Epos Gilgames)

Dalam Epos Gilgames Babilonia, menjelang anggota penghabisan dari versi Dia yang melihat kedalaman oleh Sin-liqe-unninn (prasasti 11), terdapat rujukan tentang air bah. Sang pahlawan, Gilgames, yang mencari keabadian, mencari Utnapishtim (yang namanya merupakan terjemahan langsung ke dalam bahasa Akkadia dari Ziusudra dalam bahasa Sumeria) di Dilmun, sejenis taman firdaus surgawi. Utnapishtim menceritakan bagaimana Ea (setara dengan Enki dalam mitologi Sumeria) memperingatkan dia tentang rencana para dewata bagi menghancurkan seluruh kehidupan melalui sebuah air bah dan memerintahkannya membangun sebuah kapal yang akan dipergunakannya bagi menyelamatkan keluarganya, teman-teman, dan kekayaan serta ternaknya. Setelah air bah ini, para dewata menyesali tindakan mereka dan menjadikan Utnapishtim abadi.

Akkadia (Epos Atrahasis)

Epos Atrahasis Akkadia (ditulis paling kurang tahun 1700 SM), menjelaskan keunggulan penduduk sebagai penyebab air bah. Setelah 1200 tahun kesuburan manusia, dewa Enlil measa terganggu tidurnya sebab kebisingan dan hiruk-pikuk yang disebabkan oleh pertambahan manusia. Dia minta tolong kepada majelis dewa yang selanjutnya mengirimkan wabah, selanjutnya kekeringan, lalu kelaparan, dan selanjutnya tanah asin, semuanya dalam upaya mengurangi jumlah manusia. Semua upaya ini hanya menolong sementara waktu. 1200 tahun setelah masing-masing solusi itu, masalahnya muncul kembali. Ketika para dewa memutuskan bagi mengambil tindakan terakhir, dengan mengirimkan air bah, dewa Enki, yang mempunyai kewajiban moral terhadap penyelesaian ini, mengungkapkan rencana ini bagi Atrahasis, yang selanjutnya membangun kapal penyelamat menurut ukuran yang diberikan oleh dewa.

Demi mencegah dewa-dewa lain mengirimkan bencana lain yang menghancurkan, Enki menciptakan solusi baru dalam bentuk gejala sosial berupa perempuan yang tidak menikah, kemandulan, keguguran dan kematian anak-anak bayi, guna mengendalikan pertambahan penduduk.

Ibrani : Nabi Nuh

Informasi lebih lanjut tentang air bah zaman Nabi Nuh bisa ditemukan di kitab Kejadian

Menurut mitos air bah tentang Bahtera Nuh dalam Kitab Kejadian, sebagian generasi setelah meninggalkan Taman Eden manusia telah menjadi jahat dan penuh kekerasan. Allah menyesal telah menciptakna manusia dan memutuskan bagi mengirimkan air bah bagi menghapuskan kejahatan manusia. Allah hanya menemukan satu orang di muka Bumi yang layak diselamatkan, yaitu Nuh. Sebab itu Allah menyuruh Nuh membangun sebuah bahtera dengan ukuran dan rancangan tertentu, dan membawa ke dalam bahtera itu istrinya, ketiga anak lelakinya, Sem, Ham, dan Yafet, serta istri-istri mereka, dan binatang-binatang dan burung-burung yang tidak haram sebanyak 7 pasang, jantan dan betina, dan sepasang binatang-binatang yang haram, jantan dan betina, dengan makanan yang dibutuhkan serta benih sehingga manusia dan bumi bisa memulai lembaran kehidupan yang baru. Pada tahun ke-600 usia Nuh, 1656 tahun setelah menciptakan Adam, Allah mengirimkan cairan bah itu.

Menurut kisah ini, air bah datang dari:

  1. hujan yang secara historis pertama kali disebutkan dalam Alkitab, yang berjalan selama 40 hari dari “tingkap-tingkap di langit,” dan
  2. cairan dari “segala mata cairan samudera raya.”

Dari analisis tekstual atas Kejadian 1, seringkali muncul spekulasi bahwa jauh di angkasa terdapat sebuah tiang cairan yang agung. Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala cairan bagi memisahkan cairan dari cairan.”Maka Allah menjadikan cakrawala dan Dia memisahkan cairan yang berada di bawah cakrawala itu dari cairan yang berada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit.”[2]

Cairan dari banjir itu meningkat selama 40 hari (Peristiwa 7:17) dan bertahan selama 150 hari (Peristiwa 7:24, Peristiwa 8:3).

Pada hari ke-17 bulan itu, bahtera itu selesai di atas pegunungan Ararat, dan pada bulan ke-10, pada hari pertama bulan itu, puncak-puncak gunung itupun tampak. Pada tahun ke-601, pada bulan pertama, hari pertama bulan itu dalma hidup Nuh, permukaan bumi pun keringlah. Dan pada bulan kedua, pada hari ke-27 bulan itu, bumi menjadi kering, dan Allah memerintahkan Nuh meninggalkan bahtera.

Setelah air bah, Nuh mempersembahkan kurban dari binatang-binatang yang tidak haram dan Allah berjanji bagi tidak menghancurkan bumi lagi dengan cairan bah, sebab manusia dilahirkan dengan kecenderungan bagi berbuat jahat dari mulanya, dan Allah berjanji bagi memelihara peraturan. Allah memberikan Nuh perjanjian ini, dan dengan demikian manusia diberikan kuasa atas segala binatang dan diizinkan bagi pertama kalinya memakan daging, namun dengan syarat tidak bersama nyawanya. Manusia juga diperintahkan bagi menyebar di muka bumi, tetapi dengan sebuah hukum yang baru, yakni jika seseorang menumpahkan darah orang lain, maka darahnya sendiri pun wajib ditumpahkan. Allah menggunakan pelangi di awan-awan bagi memeteraikan dan mengingatkan generasi yang akan datang tentang perjanjian yang abadi ini.

Ibrani : Kitab Henokh Pertama

Dalam Kitab Henokh yang Pertama, Allah mengirim Cairan Bah bagi menyingkirkan Nefilim dari muka bumi. Nefilim merupakan anak-anak raksasa dari kaum Grigori dan manusia perempuan.

Eropa

Yunani

Mitologi Yunani mengenal dua air bah yang mengakhiri dua Zaman Manusia: Cairan bah Ogigian yang mengakhiri Zaman Perak, dan cairan bah Deukalion yang mengakhiri Zaman Perunggu Pertama.

Cairan bah Ogigian dinamakan demikian sebab terjadinya pada masa Ogiges, pendiri dan raja Thebes. Banjir ini menutupi seluruh dunia dan begitu menghancurkan sehingga negara itu tidak memiliki raja hingga pemerintahan Kekrops.

Legenda Deukalion seperti yang dikisahkan oleh Apollodorus dalam The Library mengandung sejumlah kesamaan dengan Bahtera Nuh: Prometheus menasihati anaknya Deukalion bagi membangun sebuah bahtera. Semua orang tewas kecuali sebagian orang yang menyelamatkan diri ke gunung-gunung yang tinggi. Gunung-gunung di Thessaly terbelah, dan seluruh dunia di luar Isthmus dan Peloponnesos tenggelam. Deukalion dan istrinya Pyrrha, setelah terapung-apung di peti itu selama sembilan hari sembilan malam, mendarat di Parnassus. Sebuah versi yang lebih tua yang dikisahkan oleh Hellanikus mengatakan bahwa “bahtera” Deukalion mendarat di Gunung Othrys di Thessaly. Kisah yang lain mengatakan bahwa dia mendarat di sebuah puncak, kemungkinan Phouka, di Argolis, yang belakang dinamakan Nemea. Ketika hujan selesai, dia memberikan kurban bagi Zeus. Lalu, atas perintah Zeus, dia melemparkan batu-batu ke baliknya, yang berubah menjadi manusia laki-laki, dan batu-batu yang dilemparkan oleh Pyrrha menjadi perempuan. Appollodorus menyebutkan ini sebagai aitiologi bagi kata Yunani laos “rakyat” yang erasal dari kata laos “batu”. Kaum Megarian mengisahkan bahwa Megarus, anak Zeus, selamat dari banjir Deukalion dengan berenang ke puncak Gunung Gerania, di bawah bimbingan teriakan-teriakan burung-burung bangau.

Berada spekulasi bahwa sebuah tsunami hebat di Laut Mediterania yang disebabkan oleh ledakan Thera yang terjadi secara geologis pada sekitar 1630-1600 SM, tetapi hingga 1500 SM secara arkeologis, merupakan basis historis bagi cerita rakyat yang menjadi lebih sempurna menjadi mitos Deukalion.

Karya Plato, Timaeus (22), merujuk bagi “banjir agung semua” dan Kritias (111-112) merujuk bagi “kehancuran hebat Deukalion.” Selain itu, teks-teks itu melaporkan bahwa “banyak banjir agung yang telah terjadi selama sembilan ribu tahun” sebab Athena dan Atlantis sangat menonjol.

Jerman

Dalam mitologi Norse, Bergelmir merupakan anak lelaki dari Thrudgelmir. Dia bersama istrinya merupakan satu-satunya raksasa es yang selamat dari banjir darah kakek (Ymir) Bergelmir, ketika Odin dan saudara-saudaranya (Vili dan Ve) membantainya. Mereka merangkak ke sebuah batang pohon yang kosong dan selamat, lalu mendirikan sebuah ras baru raksasa es.

Mitologiwan Brian Branston mencatat kesamaan-kesamaan selang mtios ini dengan peristiwa yang digambarkan dalam epos Anglo-Saxon Beowulf, yang secara tradisional telah dihubungkan dengan cairan bah di Alkitab, sehingga barangkali berada peristiwa yang sama dalam mitologi Jermanik yang lebih lapang maupun di dalam mitologi Anglo-Saxon.

Irlandia

Menurut sejarah apokrif Irlandia Lebor Gabála Érenn, penghuni-penghuni pertama Irlandia yang dipimpin oleh cucu perempuan Nuh, Cessair, semuanya lenyap kecuali satu orang oleh sebuah banjir selama 40 hari setelah mereka mencapai pulau ini. Belakangan, setelah rakyat Partholon dan Nemed mencapai pulau itu, terjadi banjir yang yang lain yang membunuh semua orang kecuali 30 penduduknya, yang tersebar ke seluruh dunia.

Benua Amerika

Aztek

Berada sebagian varian dari cerita Aztek, jumlah di selangnya yang diragukan sebab keakuratan atau otentisitasnya. Ketika Zaman Matahari datang, 400 tahun telah berlalu. Lalu datanglah masa 200 tahun, selanjutnya 76 tahun. Lalu seluruh umat manusia lenyap dan tenggelam serta berubah menjadi ikan. Air dan langit menjadi berdekatan. Dalam satu hari semuanya lenyap, dan Empat Bunga menelan seluruh tubuh kita. Gunung-gunung ditelan dalam banjir, dan airnya tetap tenang selama 52 musim semi. Tetapi sebelum banjir datang, Titlachahuan telah memperingatkan Nota sang manusia dan istrinya Nena, sambil bercakap, ‘Jangan lagi membuat pulque, tetapi lubangilah anggota tengah pohon cypress yang agung, dan engkau wajib masuk ke dalamnya pada bulan Tozoztli. Cairan akan naik hingga dekat ke langit.’ Mereka masuk, dan ketika Titlacahuan menutup mereka di dalamnya, dia bercakap bagi lelaki itu, ‘Engkau hanya boleh memakan sebatang jagung, demikian pula dengan istrimu’. Dan ketika mereka masing-masing telah memakan sebatang jagung, mereka bersiap-siap bagi berjalan terus, sebab airnya tenang.— Dokumen Aztek Kuno Codex Chimalpopoca, terjemahan oleh Abbé Charles Etienne Brasseur de Bourbourg.

Catatan: Terjemahan-terjemahan Aztek ini kontroversial. Jumlah yang tidak mempunyai sumber yang layak dipercaya dan tidak berada bukti tentang otentisitasnya. Sebagian didasarkan pada cerita piktogram tentang Coxcox, tetapi terjemahan-terjemahan lain dari piktogram ini tidak menyebut-nyebut tentang cairan bah. Yang terpenting, waktu mitos-mitos ini didengar dari rakyat setempat terjadi lama setelah para misionaris masuk ke wilayah ini.

Inka

Dalam mitologi Inka, Viracocha menghancurkan raksasa-raksasa dengan sebuah air bah, dan dua orang selanjutnya mengisi kembali populasi bumi. Uniknya, mereka selamat dalam gua-gua yang disegel.

Maya

Dalam mitologi Maya, dari Popol Vuh, Anggota 1, Bab 3, Huracan (“kaki-satu”) merupakan dewa angin dan badai yang menyebabkan air bah (berupa cairan pohon yang bisa terbakar) setelah manusia-manusia pertama (yang terbuat dari kayu) membangkitkan kemarahan para dewata (karena tiadk bisa menyembah mereka). Dia konon hidup di dalam embun berangin di atas cairan banjir dan bercakap “bumi” hingga tanah muncul lagi dari lautan.

Belakangan, dalam Anggota 3, Bab 3&4,

  • Empat orang lelaki dan empat orang perempuan memenuhi kembali dunia Quiche setelah cairan bah
  • semua orang bercakap bahasa yang sama (tetapi referensi yang membingungkan)
  • dan bersama-sama menjadi satu kumpulan bersama-sama di lokasi yang sama
  • di mana bahasa mereka diubah (ditegaskan sebagian kali)
  • setelah itu mereka berpencar ke seluruh dunia.

Seperti jumlah yang lain, kisah ini tidak menyebutkan “Bahtera”. Sebuah “Menara Babel” bergantung pada terjemahannya; sebagian mengatakan orang-orang itu tiba di sebuha kota, yang yang lain di sebuah benteng.

Hopi

Dalam mitologi Hopi, orang-orang berulang kali menjauhkan diri dari Sotuknang, sang pencipta. Dia menghancurkan dunia dengan api, dan selanjutnya dengan udara yang dingin, dan menciptakan dunia kembali pada kedua kesempatan itu bagi orang-orang yang masih mengikuti hukum-hukum ciptaan, yang bertahan dengan bersembunyi di bawah tanah. Pada kali yang ketiga, manusia menjadi korup dan suka berperang. Akibatnya, Sotuknang memimpin manusia bagi Perempuan Laba-laba, dan dia memotong buluh-buluh raksasa dan menampung manusia di batangnya yang berlubang. Sotuknang selanjutnya mendatangkan air bah yang hebat, dan manusia terapung-apung di air di dalam buluh mereka. Buluh-buluh ini selanjutnya selesai di sepotong kecil tanah, dan manusia pun keluar, dengan jumlah makanan yang sama seperti waktu mereka berangkat. Manusia pergi dengan kano mereka, dipimpin oleh hikmat batin mereka (yang kabarnya bersumber dari Sotuknang melalui pintu di atas kepala mereka). Mereka pergi ke timur laut, melewati pulau-pulau yang semakin agung, hingga mereka tiba di Dunia Keempat. Ketika mereka mencapai dunia yang keempat, pulau-pulau itu pun tenggelam ke dalam samudra.

Kaddo

Dalam mitologi Kaddo, empat monster semakin agung dan berkuasa hingga mereka menyentuh langit. Pada saat itu, seorang manusia mendengar suara yang memberitahukannya supaya menanam sebatang buluh yang berlubang di tengahnya. Dia melakukannya, dan buluh itu bertumbuh dengan sangat cepat dan menjadi sangat agung. Manusia masuk ke dalam buluh itu bersama istrinya dan semua binatang yang berpihak kepada yang benar sepasang demi sepasang. Cairan naik, dan meliputi segala sesuatu kecuali anggota puncak buluh itu dan kepala-kepala monster itu. Seekor penyu selanjutnya membunuh monster-monster itu dengan menggali di bawah mereka dan mencabut mereka. Cairan selanjutnya menyurut dan angina mengeringkan permukaan bumi.

Menominee

Dalam mitologi Menominee, Manabus, sang penipu, “terbakar oleh nafsunya bagi membalas dendam” menembak dua dewa bawah tanah ketika dewa-dewa itu sedang menjadi pemain. Ketika mereka semua terjun ke dalam air, muncullah banjir yang besar. “air naik ……. …. ……. …… ……. …. .. dia tahu betul ke mana Manabus telah pergi.” Dia berlari dan berlari terus, tetapi air itu, yang datang dari Danau Michigan, mengejarnya semakin lama semakin cepat, bahkan ketika dia naik ke atas gunung dan mendaki puncak pohon pinus. Empat kali dia memohon bagi pohon bagi bertumbuh sedikit lagi, dan empat kali pohon itu mengabulkannya hingga dia tidak bisa bertumbuh lebih tinggi lagi. Tetapi air itu terus mendaki “terus, terus, hingga mencapai dagunya, lalu berhenti”: tidak berada lagi yang lain kecuali cairan yang merentang hingga ke cakrawala. Dan selanjutnya Manabus, yang dibantu oleh binatang-binatang yang menyelam, khususnya yang paling berani di selang semuanya, Muskrat, menciptakan dunia yang kita kenal kini.

Mi’kmaq

Dalam mitologi Mi’kmaq, kejahatan dan kekejian di selang manusia menyebabkan mereka saling membunuh. Hal ini menyebabkan sedihnya dewa-matahari-sang-pencipta, yang meratap sehingga cairan matanya menjadi hujan yang cukup bagi menyebabkan banjir. Manusia berusaha bagi menyelamatkan diri dengan menaiki kano-kano dari batang kayu, tetapi hanya sepasang laki-laki dan perempuan tua yang selamat bagi memenuhi dunia kembali.[6]

Timur Jauh

Tiongkok

Shanhaijing, “Cerita Klasik tentang Gunung dan Lautan”, penghabisannya dengan penguasa Tiongkok Da Yu yang selama sepuluh tahun berusaha mengendalikan air bah yang “banjirnya meluap [hingga ke] langit”. (lihat: Shanhaijing, Bab 18, alinea kedua dari yang terakhir; penerjemah Anne Birrells, catatan: Nuwa tidak disebutkan dalam terjemahan ini dalam konteks banjir)

Berada jumlah sumber tentang mitos cairan bah dalam literatur Tionghoa. Sebagian tampaknya merujuk bagi cairan bah di seluruh dunia:

Shujing, atau “Kitab Sejarah”, barangkali ditulis sekitar 700 SM atau sebelumnya, menyatakan dalam bagian-bagian pembukaannya bahwa Kaisar Yao sedang menghadapi masalah dengan cairan bah yang mencapai ke Surga. Ini merupakan latar balik dari campur tangan Da Yu yang terkenal, yang berhasil mengendalikan banjir. Dia selanjutnya mendirikan dinasti Tiongkok yang pertama.

Catatan Sejarah Luhur, Chuci, Liezi, Huainanzi, Shuowen Jiezi, Siku Quanshu, Songsi Dashu, dan sebagainyanya, serta jumlah mitos rakyat yang lain, semua mengandung rujukan bagi seseorang yang bernama Nuwa. Nuwa pada umumnay digambarkan sebagai seorang perempuan yang memperbaiki langit yang rusak setelah cairan bah atau bencana, dan memenuhi dunia kembali dengan manusia. Berada jumlah versi tentang mitos ini. (lihat artikel Nuwa bagi rincian tambahan)

Peradaban Tiongkok kuno yang terpusat pada tepi Sungai Kuning dekat kota Xi’an kini juga percaya bahwa banjir yang parah di sepanjang tepi sungai itu disebabkan oleh naga-naga (yang mewakili para dewa) yang hidup di sungai diproduksi marah oleh kekeliruan manusia.

India

Matsya (Ikan dalam bahasa Sanskerta) merupakan Awatara pertama dari Wisnu.

Menurut Matsyapurana dan Shatapatha Brahmana (I-8, 1-6), mantri dari raja Dravida, Satyabrata yang juga dikenali sebagai Manu sedang mencuci tangannya di sebuah sungai ketika seekor ikan kecil masuk ke tangannya dan memohon baginya bagi menyelamatkan nyawanya. Dia meletakkan ikan itu di sebuah bejana, yang tak lama selanjutnya menjadi terlalu kecil baginya. Dia berturut-turut memindahkan ikan itu ke sebuah tangki, sungai, dan selanjutnya samudra. Ikan itu selanjutnya memperingatkannya bahwa cairan bah akan terjadi dalam waktu seminggu yang akan menghancurkan seluruh kehidupan. Sebab itu Manu membangun sebuah kapal yang ditarik oleh ikan itu ke puncak gunung ketika cairan bah datang, dan dengan demikian dia selamat bersama-sama dengan sejumlah “benih kehidupan” bagi membangun kembali kehidupan di muka bumi.

Indonesia

Dalam tradisi Batak, bumi dipikul oleh seekor ular raksasa, Naga-Padoha. Suatu hari, ular itu lelah akan bebannya dan sebabnya melemparkan Bumi ke dalam laut. Namun Batara Guru menyelamatkan anak perempuannya dengan mengirimkan sebuah gunung ke laut, dan seluruh umat manusia merupakan keturunannya. Bumi selanjutnya ditaruh kembali di atas kepala ular itu.

Sejumlah cerita di kawasan Keliruku, misalnya pulau Seram, diasumsikan termasuk anggota catatan cairan bah dari suku-suku bangsa Polinesia.

Polinesia

Berada sebagian cerita air bah yang dicatat di selang bangsa-bangsa Polinesia. Namun tak satupun yang mendekati ukuran aira bah di Alkitab.

Rakyat Ra’iatea mengisahkan tentang dua orang sahabat, Te-aho-aroa dan Ro’o, yang pergi menangkap ikan dan kebetulan membangunkan dewa samudera Ruahatu dengan mata kail mereka. Dalam kemarahannya, dia bersumpah bagi menenggelamkan ke dalam laut. Te-aho-aroa dan Ro’o memohon ampun, dan Ruahatu memperingatkan mereka bahwa mereka bisa lolos hana dengan membawa keluarga mereka ke pulau kecil Toamarama. Mereka selanjutnya berlayar, dan di malam hari, pulau itu tenggelam ke dalam laut, dan baru muncul kembali esok paginya. Tak satupun yang selamat kecuali keluarga-keluarga ini, yang mendirikan marae (kuil-kuil) suci yang dipersembahkan bagi dewa Ruahatu.

Sebuah legenda serupa terdapat di Tahiti. Tak berada gagasan yang diberikan bagi tragedy ini, tetapi seluruh pulau itu tenggelam ke dalam laut kecuali Gunung Pitohiti. Sepasang manusia berhasil melarikan diri bersama binatang-binatang mereka dan selamat.

Dalam sebuah tradisi di kalangan suku Ngāti Porou, sebuah suku Māori di pantai timur Pulau Utara Selandia Baru, Ruatapu menjadi marah ketika ayahnya Uenuku mengangkat saudara kandung yang lebih muda tirinya Kahutia-te-rangi melewatinya. Ruatapu memikat Kahutia-te-rangi dan sejumlah agung orang muda dari keturunan bangsawan masuk ke kanonya dan membawa mereka keluar ke laut dan di sana dia menenggelamkan mereka. Dia memanggil para dewa bagi menghancurkan musuh-musuhnya dan mengancam akan kembali sebagai gelombang-gelombang agung pada awal musim panas. Sementara dia bergumul bagi memeprtahankan nyawanya, Kahutia-te-rangi membacakan mantra yang memanggil ikan paus bungkuk selatan (paikea dalam bahasa Māori) bagi membawanya ke pantai. Kaerna itu, dia diubah namanya menjadi Paikea, dan merupakan satu-satunya orang yang selamat (Reedy 1997:83-85).

Sebagian versi cerita Māori tentang Tawhaki mengandung episode di mana si pahlawan menggunakan cairan bah bagi menghancurkan desa dari dua saudara iparnya yang iri. Sebuah komentar dalam Polynesian Mythology karya Grey bisa memberikan bagi orang-orang Māori sesuatu yang tak pernah mereka dengar sebelumnya – sebagaimana dituturkan oleh A.W Reed, “Dalam Polynesian Mythology Grey mengatakan bahwa ketika leluhur Tawhaki melepaskan cairan bah dari langit, bumi tenggelam dan seluruh umat manusia musnah – dengan demikian orang Māori memperoleh versinya sendiri tentang cairan bah universal” (Reed 1963:165, dalam catatan kaki). Pengaruh Kristen telah menyebabkan munculnya silsilah di mana kakek Tawhaki, Hema, ditafsirkan kembali sebagai Sem, anak Nuh dari kisah cairan bah dalam Alkitab.

Di Hawaii, sepasang manusia, Nu’u dan Lili-noe, selamat dari sebuah banjir di puncak Mauna Kea di Big Island (Pulau Besar). Nu’u mempersembahkan kurban bagi bulan, yang disangkanya telah menyelamatkannya. Kāne, sang dewa pencipta, turun ke bumi dengan menggunakan pelangi, menjelaskan kekeliruan Nu’u, dan menerima kurbannya.

Di Seti, di Seram Utara, percaya bahwa batas-batas tanah mereka merupakan batasan setelah kering ke-2 (akibat dari Banjir Besar). Sementara kapata-kapata (pantun-pantun yang sudah mendarah daging dan menjadi simbol hukum budaya setempat) bercakap tentang sesorang bernama NUHU, berlayar di pinggir suatu pulau (hasa-hasa e), melihat tanjung (tanjong e) dan sebagainya. Namun sebab alasan-alasan tertentu maka sebagian kapata tersebut terpaksa jarang dituturkan di Maluku.

Di Marquesas, dewa perang yang luhur Tu menjadi marah ketika mendengar komentar kritis dari saudara perempuannya Hii-hia. Cairan matanya merobei lantai surga hingga ke dunia di bawahnya dan menciptakan hujan lebat yang menghanyutkan segala sesuatu yang dilaluinya. Hanya enam orang yang selamat.

Teori tentang asal-usul

Sejumlah geologiwan percaya bahwa sebuah banjir yang cukup dramatis, lebih agung daripada yang biasanya dari sejumlah sungai pada masa lalu mungkin telah memengaruhi terciptanya mitos-mitos ini. Noda satu teori yang terbaru, dan cukup kontroversial, dari teori seperti ini merupakan Teori Ryan-Pitman, yang mengatakan bahwa berada sebuah cairan bah yang sangat dahsyat pada sekitar 5600 SM dari Laut Tengah ke dalam Laut Hitam. Jumlah peristiwa geologis pra-sejarah yang lain, termasuk tsunami, yang juga telah diajukan sebagai kemungkinan dasar-dasar dari mitos-mitos ini. Misalnya, sebagian orang telah menyatakan bahwa versi-versi asli dari mitos Yunani tentang cairan bah Deukalion kemungkinan bersumber dari akibat megatsunami yang dihasilkan oleh ledakan gunung Thera di Laut Tengah pada zaman ke-18 hingga ke-15 SMYang lebih spekulatif, sebagian mengemukakan bahwa mitos-mitos cairan bah ini kemungkin telah muncul dari cerita-cerita rakyat tentang naiknya permukaan laut yang sangat agung yang menyertai akhir-akhirnyanya Zaman Es terakhir sekitar 10.000 tahun yang lalu, yang diturunkan dari generasi ke geneasi berikutnya sebagai sejarah lisan. Sebuah teori kontroversial yang lain ialah bahwa cairan bah itu disebabkan oleh satu atau lebih akibat asteroid yang melepaskan sejumlah agung uap cairan ke atmosfer dan ruang angkasa yang rendah. Lihat Tollmann’s hypothetical bolide.

Berawal dari publikasi The First Fossil Hunters karya Adrienne Mayor, diiringi dengan Fossil Legends of the First Americans, lebih jumlah perhatian diberikan bagi hipotesa bahwa kisah-kisah cairan bah diilhami oleh observasi purba akan beradanya fosil kerang dan ikan di daratan kering dan di atas gunung-gunung. Semakin jumlah dokumentari muncul mendukung pandangan ini, di mana tulisan-tulisan kuno bangsa Yunani, Romawi, Cina dan Jepang memuat catatan mengenai kulit-kulit kerang dan cetakan bangkai ikan yang ditemukan jauh dari laut, bahkan di gunung-gunung. Orang-orang Yunani berteori bahwa bumi pernah tertutup cairan sebagian kali, dan menunjuk bagi fosil kerang dan ikan di puncak-puncak gunung sebagai bukti. Penduduk asli Amerika juga mempunyai kepercayaan serupa meskipun tidak secara tertulis sejak dahulu sebagaimana orang-orang Eropa.

Orang-orang Kristen pada zaman pertengahan menggunakan catatan beradanya fosil kerang di gunung-gunung sebagai bukti cairan bah di Alkitab. Leonardo Da Vinci termasuk yang mula-mula menolak pernyataan ini dengan menyampaikan gagasan bahwa mungkin gunung-gunung itu terbentuk dari naiknya landasan laut. Meskipun jumlah arkeolog menganggap kisah cairan bah Nuh sebagai mitos di luar sejarah, para penganut agama Yahudi ortodoks dan Islam, serta Kristen, menganggapnya fakta sejarah. Bukti-bukti yang dikemukakan selang lain merupakan beradanya kisah cairan bah dari bermacam kebudayaan yang kemungkinan bersumber dari satu peristiwa sejarah yang sama. Pendukung teori “air bah geologis” (flood geology) meyakini bahwa bermacam mitos yang tidak sama dari bermacam bangsa merupakan ingatan yang terkorupsi dari satu cairan bah dunia yang pernah terjadi.

Sejumlah pandai percaya bahwa kisah cairan bah di Kitab Kejadian sebenarnya merupakan versi yang selanjutnya dari sebagian kisah mitos sebelumnya dari Mesopotamia (termasuk Epos Ziusudra, Epos Atrahasis, dan Epos Gilgames). Berada pandai yang mengemukakan bahwa mitos Kitab Peristiwa mempunyai ciri-ciri yang lebih tua dari versi Babilon. Sebaliknya berada pandai yang melihat ciri-ciri umum yang sama dengan bermacam kisah sebelumnya. Menurut pandai Alkitab, Campbell dan O’Brien, berpihak kepada yang benar anggota J dan P dari kisah cairan bah di Kitab Peristiwa ditulis dalam masa pembuangan ke Babel atau sesudahnya (setelah tahun 539 SM) dan bersumber dari sumber Babilonia.

Rangkuman

Di banyak peradaban, sering ada mitos banjir besar. Sebagian besar cerita adala :

  • Manusia berbuat salah sehingga dewa marah (Mungkin alasan yang konyol seperti manusia berisik sehingga menggangu tidurnya dewa
  • Dewa mengadakan rapat besar untuk menentukan hukuman bagi manusia. Dan diputuskan banjir besar
  • Ada dewa yang baik hati yang membocorkan ke manusia
  • Manusia membuat perahu sehingga selamat

Seringkali munculnya cerita banjir besar dikarenakan

  • Adanya banjir yang sangat luar biasa yang dituturkan dari mulut ke mulut.
  • Adanya penemuan fossil binatang laut di pegunungan

Teori banjir lokal

Daripada berusaha mencari cairan bah kataklismik yang meliputi wilayah lapang, sejumlah sejarawan menunjukkan bahwa hukum budaya kuno yang diam di sepanjang tepi sungai yang subur, seperti sungai Nil di Mesir dan Tigris-Efrat di Mesopotamia (sekarang Irak). Tidaklah aneh jika orang-orang itu memiliki ingatan mendalam tentang cairan bah dan mungkin saja mengembangkan mitologi sekitar cairan bah bagi menjelaskan dan menanggung bencana banjir sebagai anggota integral hidup mereka. Bagi budaya-budaya ini, cairan bah yang menutupi dunia yang mereka kenal bisa diasumsikan sebagai banjir lokal di masa kini, tetapi merupakan cairan bah universal dalam pandangan mereka. Para pandai itu mengamati bahwa sebagian agung hukum budaya yang hidup di kawasan yang jarang tertimpa banjir tidak memiliki mitos cairan bah. Pengamatan ini, ditambah dengan tendensi manusia bagi membuat suatu kisah lebih dramatis dari aslinya, membuat jumlah pandai mitologi merasa inilah asal mulanya mitos cairan bah seluruh dunia menjadi lebih sempurna.

Sebuah teori yang mendapatkan dukungan dari arkelolog Max Mallowan dan Leonard Woolley merupakan teori banjir lokal yang menghubungkan mitos cairan bah Timur Dekat Kuno bagi sebuah banjir sungai spesifik dari Sungai Efrat yang telah diputuskan tanggalnya dengan radio-karbon pada sekitar tahun 2900 SM pada penghabisan Periode Jemdet Nasr. Prasasti iii,iv, baris 6-9 dari Epos Atrahasis, dengan jelas menyebutkan banjir itu sebagai banjir sungai lokal: “Bagaikan capung mereka [mayat-mayat] memenuhi sungai. Bagaikan rakit mereka telah pindah ke tepi [perahu]. Bagaikan rakit mereka telah pindah ke tepi sungai.” Daftar raja Sumeria WB-444 menyebutkan cairan bah itu terjadi setelah pemerintahan Ziusudra, sang pahlawan banjir dalam Epos Ziusudra yang mempunyai jumlah paralel dengan cerita-cerita banjir yang lain. Menurut arkelolog Max Mallowan banjir dalam Kitab Peristiwa “didasarkan pada sebuah peristiwa sungguhnya yang mungkin telah terjadi sekitar tahun 2900 SM ……. …. ……. …… .. pada awal periode Dinastik Awal.”

Rangkuman

Para ahli berpendapat kalau mitos banjir besar karena orang cenderung hiperbola. Banjir yang katanya memenuhi bumi cuma banjir besar lokal biasa, akan tetapi penuturan antar generasi selalu melebih – lebihkan skala banjir sehingga menjadi cerita banjir besar

Air Bah Zaman Nabi Nuh

Setelah mengetahui beberapa cerita mengenai air bah dari beberapa peradaban, yang menjadi pertanyaan, apakah banjir Nuh merupakan banjir yang berlaku secara global atau cuma banjir lokal ?

Kisah nabi Nuh bisa dilihat di Kejadian 6:9 – Kejadian 10. (https://www.bible.com/id/bible/306/GEN.6.TB)

Di Kejadian 6:13 : Berfirmanlah Allah kepada Nuh: ”Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.

Bahasa asli

Di dalam alkitab bahasa asli, kata yang dipakai untuk air bah adalah : Hammabul. Para ahli bahasa kuno kemudian menyimpulkan bahwa kata dalam bahasa kuno lainnya yang mirip dengan hammabul adalah : Nabalu. Dan arti dari Nabalu adalah : To destroy (Untuk menghancurkan). (https://tinyurl.com/Paradise-to-Prison)

Jadi, konteks air bah zaman Nuh ini harus dilihat bahwa air bah ditujukan untuk menghancurkan manusia dan makluk di atasnya.

Bumi dalam konteks alkitab zaman nabi Nuh

Berdasarkan pada biologos.org (https://biologos.org/common-questions/how-should-we-interpret-the-genesis-flood-account/), disebutkan bahwa : The scientific and historical evidence is now clear: there has never been a global flood that covered the entire earth, nor do all modern animals and humans descend from the passengers of a single vessel.

Bila menghadapi pertentangan antara alkitab dan ilmu pengetahuan, maka ada beberapa reaksi :

  1. Abandon our faith in order to accept the results of science,
  2. Deny the scientific evidence to maintain our interpretations of Scripture,
  3. Reconsider our interpretations of Scripture in light of the evidence from God’s creation

Dengan mempertimbangkan kasus Galileo Galilei, maka kita harus mempeertimbangkan bahwa kita harus menafsir ulang dari apa yang selama ini diyakini oleh umat Kristen.

Ada kalimat penting dari biblical scholar bernama John Walton, the Bible was written for us all, but it was not written to us

Bentuk bumi pada waktu zaman Timur dekat kuno

Ancient Near Eastern people thought that rain comes from an ocean above the sky (which explains why the sky is blue), and that this ocean wraps all the way around the earth (which explains why deep wells always hit water). They also thought of the “whole Earth” as simply the edges of their current maps, which mostly consisted of today’s Middle East.

Orang Timur Dekat kuno mengira bahwa hujan berasal dari lautan di atas langit (yang menjelaskan mengapa langit berwarna biru), dan lautan ini menyelimuti seluruh bumi (yang menjelaskan mengapa sumur dalam selalu mengenai air). Mereka juga menganggap “seluruh Bumi” hanya sebagai tepi peta mereka saat ini, yang sebagian besar terdiri dari Timur Tengah saat ini.

Tingkap – tingkap langit di cerita air bah

Sebelum membahas tingkap – tingkap langit, kita harus melihat cakrawala di dalam Kejadian 1:7. Cakrawala di sana di dalam bahasa Ingris adalah : Firmament. Firmament = a solid dome in the sky which holds the cosmic ocean in place. Jadi air yang tercurah bagi orang Timur dekat zaman kuno berasal dari Firmament yang kolaps.

The Flood narrative relies on this same ancient understanding of the world. As the “firmament” (a solid dome in the sky which holds the cosmic ocean in place) collapses and the “fountains of the deep” explode upward, the Earth experiences a cataclysmic return to the watery chaos described in Genesis 1:2. To deal with the chaos of sin, God returns the Earth to chaos, and then restores order with a “restart” and renewal of creation.

Translated : Narasi Air Bah bergantung pada pemahaman kuno yang sama tentang dunia ini. Saat “cakrawala” (kubah kokoh di langit yang menahan lautan kosmik di tempatnya) runtuh dan “mata air di kedalaman” meledak ke atas, Bumi mengalami bencana kembali ke kekacauan berair yang dijelaskan dalam Kejadian 1:2. Untuk mengatasi kekacauan dosa, Tuhan mengembalikan Bumi ke kekacauan, dan kemudian memulihkan ketertiban dengan “memulai kembali” dan memperbarui ciptaan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan bumi pada alkitab dalam cerita Nabi Nuh adalah konsep bumi pada zaman itu. Dan bagi orang kuno, bumi hanya sampai pada daerah Mesopotamia.

Beberapa hal yang menarik mengenai Air Bah Nuh

Umur manusia 120 tahun (Kejadian 6:3) : Bukan umur maximal manusia adalah 120 tahun, tapi lamanya waktu dari Tuhan berkata sampai dengan air bah sungguh terjadi = 120 tahun

Arti nama metusalah adalah : Ketika dia mati, akan ada penghakiman.

Pada zaman Nabi Nuh, belum ada halal – haram, maka Tuhan yang memasukkan binatang ke dalam bahtera (karena Nuh belum mengerti halal – haram). Dan tidak mungkin Nuh bekejar kejaran dengan rusa, kucing, anjing etc.

Dosa sudah masuk bahkan ke anak – anak Nuh. Dibuktikan dengan kelakukan Nuh yang mabuk dan Ham.

Kesimpulan

Setelah membaca beberapa argument dari artikel artikel di atas, admin menyimpulkan

  • Bumi yang dihancurkan dalam zaman Nuh adalah bumi yang dikenal oleh masyarakat pada zaman itu
  • Air bah ditujukan untuk menghancurkan manusia dan makluk di atasnya, jadi tidak ada pentngnya bagi Tuhan untuk membuat banjir di daerah yang belum ada penghuninya
  • Dari point – point di atas, dapat disimpulkan bahwa banjir zaman Nabi Nuh adalah banjir lokal

Leave a Comment

You cannot copy content of this page