Agama Samaria (Bagian dari orang Israel)

Latar Belakang

Kalau kita lihat di Alkitab Perjanjian Baru di Yohanes 4:21 – 23 : Kata Yesus kepadanya: ”Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Yang menjadi pertanyaan adalah : bagaimana bisa muncul gunung ini, dan Yerusalem. Kenapa ada 2 gunung di ayat tersebut ?.

Ternyata, memang ada komunitas Samaria di Timur Tengah. Saat ini pun, masih ada komunitas Samaria di daerah Palestina. Jumlahnya sekitar 800 orang. (https://www.bbc.com/travel/article/20180828-the-last-of-the-good-samaritans). Mereka tinggal di tepi barat Palestina dan tinggal di desa yang disebut Kiryat Luza. Bahasa sehari – hari mereka adalah bahasa Ibrani kuno.

Sejarah Samaria (versi orang Samaria)

Arti Samaria menurut mereka adalah Guardians of the Laws. Jadi mereka percaya merekalah penerus dari Musa. Imam besar mereka dipercya memiliki garis keturunan langsung ke Musa. Mereka terdiri dari 3 suku yaitu :

  • Efraim
  • Manasye
  • Lewi

Sejarah Samaria menurut versi mereka bisa dilihat di tulisannya : Abu’l-Fath ibn Abi al-Hasan al-Samiri al-Danafi (orang Samaria penulis sejarah Samaria) yang menulis buku di tahun 1355 / 1366.

Menurut Magnar Kartveit (Origins and history of the Samaritans) :

A terrible civil war broke out between Eli son of Yafnī, of the line of Ithamar, and the sons of Phinehas, because Eli son of Yafnī resolved to usurp the High Priesthood from the descendants of Phinehas. He used to offer sacrifice on the altar of stones. He was 50 years old, endowed with wealth and in charge of the treasury of the children of Israel. He continued for a time gathering a group around him to whom he said, “I am one to whom it is anathema to serve a child. I do not wish (to do) this myself, and I hope that you will not consent to it.” They answered as a group and said, “We are at your command, and under your obedience: order us as you see fit, and we will not disobey.” Accordingly, he made them swear that they would follow him in all his purposes. He offered a sacrifice on the altar, but without salt, as if he were inattentive. When the Great High Priest Ozzi learned of this, and found that the sacrifice was not accepted, he thoroughly disowned him; and it is (even) said that he rebuked him. Thereupon he and the group that sympathized with him, rose in revolt and at once he and his followers and his beasts set off for Shiloh. Thus Israel was split into factions. He sent to their leaders saying to them, “Anyone who would like to see wonderful things, let him come to me.” Then he assembled a large group around him in Shiloh and built a Temple for himself there; he constructed for himself a place like the Temple. He built an altar, omitting no detail—it all corresponded to the original, piece by piece. Then, he had two sons, Hophni and Phinehas, who rounded up young women of attractive appearance and brought them into the Tabernacle which had been built by their father. They let them savour the food of the sacrifices and had intercourse with them inside the Tabernacle. Then, the children of Israel became three factions: A (loyal) faction on Mount Gerizim; an heretical faction that followed false gods; and the faction that followed Eli son of Yafnī in Shiloh. (Stenhouse 1985, pp. 47–48)

According to this story, the Samaritans constitute the original Israel, and the Jews represent the faction of Eli, priest in Shiloh. We recognize this Eli and his sons from 1 Sam 1–3, so the Samaritan story evidently builds upon this Biblical text. Additionally, it builds upon a story of the origin of the Samaritans from the nineties CE, which we find in chapter 11 of the Antiquities by Josephus (quoted below). The description in Abu’l Fath’s work is, therefore, fictional; it is an apologetic and polemical version of the circumstances leading to the two religious communities. Nevertheless, it is repeated in the Arabic Book of Joshua from 1362, and in the New Chronicle/Chronicle Adler from 1899–1900, both of them Samaritan manuscripts. Found in the Samaritan museum on the top of Mount Gerizim, this version of the origin is presented today. Additionally, this self-understanding probably is seen in the Delos inscriptions from the second century BCE, where they call themselves “Israelites” (see below). There may be, of course, some tradition behind these descriptions, even if it may be difficult to trace. The main idea in the Samaritan chronicles is that the Samaritans are Israelites, not an off-spring of Judaism. It is the way the Samaritans see the origin, up to this day, and there are scholars who follow in their footsteps (Gaster 1925; Macdonald 1964).

Google Translate :

Perang saudara yang mengerikan pecah antara Eli putra Yafn, dari garis keturunan Itamar, dan putra-putra Pinehas, karena Eli putra Yafn memutuskan untuk merebut Imamat Tinggi dari keturunan Pinehas. Dia biasa mempersembahkan korban di atas mezbah batu. Dia berusia 50 tahun, diberkahi dengan kekayaan dan bertanggung jawab atas perbendaharaan anak-anak Israel. Dia melanjutkan untuk beberapa waktu mengumpulkan kelompok di sekelilingnya yang kepadanya dia berkata, “Saya adalah orang yang dikutuk untuk melayani seorang anak. Saya tidak ingin (melakukan) ini sendiri, dan saya harap Anda tidak akan menyetujuinya.” Mereka menjawab sebagai kelompok dan berkata, “Kami berada di bawah perintah Anda, dan di bawah kepatuhan Anda: perintahkan kami sesuai keinginan Anda, dan kami tidak akan melanggar.” Karena itu, dia membuat mereka bersumpah bahwa mereka akan mengikutinya dalam semua tujuannya. Dia mempersembahkan korban di atas mezbah, tetapi tanpa garam, seolah-olah dia lalai. Ketika Imam Besar Besar Ozzi mengetahui hal ini, dan menemukan bahwa pengorbanan itu tidak diterima, dia benar-benar tidak mengakuinya; dan (bahkan) dikatakan bahwa dia menegurnya. Setelah itu dia dan kelompok yang bersimpati dengannya, bangkit memberontak dan segera dia dan para pengikutnya serta binatang buasnya berangkat ke Shiloh. Dengan demikian Israel terpecah menjadi faksi-faksi. Dia mengirim kepada para pemimpin mereka untuk mengatakan kepada mereka, “Siapa pun yang ingin melihat hal-hal yang indah, biarkan dia datang kepada saya.” Kemudian dia mengumpulkan kelompok besar di sekelilingnya di Shiloh dan membangun Kuil untuk dirinya sendiri di sana; ia membangun untuk dirinya sendiri sebuah tempat seperti Bait Suci. Dia membangun sebuah altar, tanpa menghilangkan detail—semuanya sesuai dengan aslinya, sepotong demi sepotong. Kemudian, dia memiliki dua putra, Hofni dan Pinehas, yang mengumpulkan para wanita muda yang berpenampilan menarik dan membawa mereka ke dalam Kemah Suci yang telah dibangun oleh ayah mereka. Mereka membiarkan mereka menikmati makanan kurban dan berhubungan badan dengan mereka di dalam Kemah Suci. Kemudian, anak-anak Israel menjadi tiga faksi: Sebuah faksi (setia) di Gunung Gerizim; faksi sesat yang mengikuti dewa-dewa palsu; dan faksi yang mengikuti Eli putra Yafn di Shiloh. (Stenhouse 1985, hlm. 47–48)

Menurut cerita ini, orang Samaria merupakan Israel asli, dan orang Yahudi mewakili faksi Eli, imam di Shiloh. Kami mengenali Eli ini dan anak-anaknya dari 1 Sam 1-3, jadi cerita Samaria jelas dibangun di atas teks Alkitab ini. Selain itu, ini dibangun di atas cerita tentang asal usul orang Samaria dari tahun sembilan puluhan M, yang kita temukan di bab 11 dari Antiquities oleh Josephus (dikutip di bawah). Oleh karena itu, deskripsi dalam karya Abu’l Fath adalah fiktif; itu adalah versi apologetik dan polemik dari keadaan yang mengarah ke dua komunitas agama. Namun demikian, ini diulangi dalam Kitab Yosua berbahasa Arab dari tahun 1362, dan dalam New Chronicle/Chronicle Adler dari tahun 1899–1900, keduanya merupakan manuskrip Samaria. Ditemukan di museum Samaria di puncak Gunung Gerizim, versi asal ini disajikan hari ini. Selain itu, pemahaman diri ini mungkin terlihat dalam prasasti Delos dari abad kedua SM, di mana mereka menyebut diri mereka “Israel” (lihat di bawah). Tentu saja mungkin ada beberapa tradisi di balik penggambaran ini, meskipun mungkin sulit untuk dilacak. Gagasan utama dalam kronik Samaria adalah bahwa orang Samaria adalah orang Israel, bukan keturunan Yudaisme. Begitulah cara orang Samaria melihat asal usulnya, hingga hari ini, dan ada sarjana yang mengikuti jejak mereka (Gaster 1925; Macdonald 1964).

Rangkuman

Samaria menganggap mereka adalah Israel yang asli, sedang orang Yahudi adalah Israel yang mengikuti Imam Eli (I Sam 1-3).

Sejarah Samaria menurut Flavius Josephus

Josephus has two main explanations for the origin of the Samaritans, both found in the large work Antiquities (Pummer 2009).

The first we read in chapter 9:

Now those who were settled in Samareia were the “Chouthaioi” [Χουθαῖοι], for they are called by this name until today because they were brought in from the country called “Chouthas”; this is Persia, where there is a river that has this name. Each of the nations—there were five of them—brought its own god to Samareia. By adoring these, as was their ancestral [custom], they aroused the greatest God to wrath and rage. For he inflicted them with a plague, by which they were afflicted. Ascertaining no cure for their calamities, they learned by way of an oracle that, if they worshiped the greatest God, this would be [a source of] safety to them. They therefore dispatched messengers to the king of the Assyrians and begged him to send them priests from those he had taken captive when he warred against the Israelites. Upon his sending these and their being taught the ordinances and reverence for this God, they worshiped him lavishly and the plague immediately ceased. Even now the name “Chouthaioi” continues to be used for these nations in the Hebrew language, whereas in Greek they are called “Samareitai” [Σαμαρεῖται]. Whenever, by turns, they see things going well for the Judeans, they call themselves their relatives, in that they are descendants of Josep [Joseph] and have family ties with them in virtue of that origin. When, however, they see that things are going badly for them [the Judeans], they say that they owe nothing to them and that they have no claim to their loyalty or race. Instead, they make themselves out to be migrants of another nation [ἀλλοεθνεῖς]. But about these matters we shall have to speak in a more suitable place (Ant. 9.288–291; Begg and Spilsbury 2005).

The dependence on 2 Kings 171 is evident, and Josephus here explains the origin of the people in Samaria after 721 BCE. They descend from the five peoples imported by the Assyrian king Salmanasser (Ant. 9.277–278). Through singling out one of the names in 2 Kings 17, Kuthean/Choutaioi, he laid the ground for the rabbinic name for the Samaritans. The story, therefore, also becomes an origin story for the Samaritans. He does not state, however, that the Samaritans were a mixed population from imported expatriates and original inhabitants, nor that they were syncretists. Syncretism may be assumed on the basis of this text and of 2 Kings 17:33, but it is not expressed. The idea of a mixed population is later than Josephus. What is evidently the idea of Josephus is that the Samaritans were opportunistic.

Google Translate :

Sekarang mereka yang menetap di Samareia adalah “Chouthaioi” [Χουθαῖοι], karena mereka disebut dengan nama ini sampai hari ini karena mereka dibawa dari negara yang disebut “Chouthas”; ini adalah Persia, di mana ada sungai yang memiliki nama ini. Masing-masing negara—ada lima dari mereka—membawa dewanya sendiri ke Samareia. Dengan memuja ini, seperti [kebiasaan] leluhur mereka, mereka membangkitkan murka dan murka Tuhan yang terbesar. Karena dia menimpakan mereka dengan wabah, yang membuat mereka menderita. Karena yakin tidak ada obat untuk bencana mereka, mereka belajar melalui sebuah nubuat bahwa, jika mereka menyembah Tuhan yang agung, ini akan menjadi [sumber] keselamatan bagi mereka. Oleh karena itu, mereka mengirim utusan kepada raja Asyur dan memohon padanya untuk mengirim mereka imam dari orang-orang yang telah ditawannya ketika dia berperang melawan orang Israel. Setelah dia mengirim ini dan mereka diajari tata cara dan penghormatan untuk Tuhan ini, mereka menyembah dia dengan boros dan wabah segera berhenti. Bahkan sekarang nama “Chouthaioi” terus digunakan untuk bangsa-bangsa ini dalam bahasa Ibrani, sedangkan dalam bahasa Yunani mereka disebut “Samaretai” [Σαμαρεῖται]. Setiap kali, secara bergiliran, mereka melihat hal-hal berjalan baik bagi orang Yudea, mereka menyebut diri mereka kerabat mereka, karena mereka adalah keturunan Josep [Joseph] dan memiliki ikatan keluarga dengan mereka berdasarkan asal-usul itu. Namun, ketika mereka melihat bahwa segala sesuatunya berjalan buruk bagi mereka [orang Yudea], mereka mengatakan bahwa mereka tidak berhutang apa pun kepada mereka dan bahwa mereka tidak memiliki klaim atas kesetiaan atau ras mereka. Sebaliknya, mereka menjadikan diri mereka sebagai pendatang dari bangsa lain [ἀλλοεθνεῖς]. Tetapi tentang masalah ini kita harus berbicara di tempat yang lebih cocok (Ant. 9.288–291; Begg dan Spilsbury 2005).

Ketergantungan pada 2 Raja-raja 171 terbukti, dan Yosefus di sini menjelaskan asal usul orang-orang di Samaria setelah 721 SM. Mereka adalah keturunan dari lima bangsa yang didatangkan oleh raja Asyur Salmanasser (Ant. 9.277–278). Dengan memilih salah satu nama dalam 2 Raja-raja 17, Kuthean/Choutaioi, ia meletakkan dasar bagi nama rabi untuk orang Samaria. Oleh karena itu, cerita tersebut juga menjadi cerita asal bagi orang Samaria. Dia tidak menyatakan, bagaimanapun, bahwa orang Samaria adalah populasi campuran dari ekspatriat impor dan penduduk asli, atau bahwa mereka sinkretis. Sinkretisme dapat diasumsikan berdasarkan teks ini dan 2 Raja-raja 17:33, tetapi tidak diungkapkan. Gagasan tentang populasi campuran lebih lambat dari Josephus. Apa yang jelas merupakan gagasan Josephus adalah bahwa orang Samaria itu oportunistik.

Rangkuman

Cerita ini yang dipercaya oleh sebagian besar orang Kristen, yaitu Kerajaan Asyur mencampur – adukkan (mirip nama website ini:D ) seluruh jajahannya. Jadi, dari Semaria diambil empat per lima, kemudian masing – masing seperlima disebar ke mana – mana. Dan dari bangsa lain dicampurkan dengan orang Samaria sehingga populasi orang Samaria tinggal seperlima. Tujuannya supaya tidak ada lagi nasionalisme.

A second story

A second story on the background of the Samaritans is found in chapter 11 of the Antiquities:

Now the elders of the Hierosolymites, bitterly complaining about the fact that the brother of Jaddus the high priest, while married to a foreigner, was sharing the high priestly office, were agitating against him, for they thought that the marriage of this one [Manasses] would become a gangway for those who would wish to transgress the law concerning cohabitation with women, and that this would be for them [the Hierosolymites] the beginning of fellowship with foreigners…. They, therefore, kept urging Manasses to be separated from [his] wife—or not to approach the sacrificial altar (Ant. 11.306–308; Spilsbury and Seeman 2017).

When Sanaballet promised not only to preserve the priesthood [for him], but also to procure [for him] the high priestly power and honor and to appoint [him] governor of all the places over which he himself was ruling—on condition that he be willing to live with his daughter—and saying that [he] would build a sanctuary that would be like the one in Hierosolyma on Mount Garizein, which is the highest of the mountains throughout Samaria, and as he promised that he would do these things with the consent of Darius the king, Manasses was elated by [these] promises and remained with Sanaballet, supposing that he would acquire the high priesthood given by Darius; for Sanaballet happened to be old by now (Ant. 11.310–311; Spilsbury and Seeman 2017).

Josephus describes the father-in-law of Manasses, Sanballat, as a Kuthean (Ant. 11.302), like the Samaritans. He intended to ask Darius for permission to build the temple when the conflict with Alexander had been fought to the end, but, contrary to expectations, Darius lost the battle at Issus, and Sanballat approached the Macedonian victor instead. Alexander’s consent to build a temple in Samaria changed the situation fundamentally, resulting in a new cult center in the region. This encounter between the Samarian governor Sanballat and Alexander the Great took place during Alexander’s siege of Tyre in 332 BCE. Providing one combines the two stories presented by Josephus, a double origin of the Samaritans emerges: one from Kutha, one from Jerusalem. Supposedly, the people brought in from Kutha over time intermarried with the alleged migrants from Jerusalem; and it would be logical to draw the conclusion that a mixed population was the result.

While Josephus builds his depiction of the origin of the Samaritans on 2 Kings 17, he evidently constructs the narrative of the origin of their temple on Neh 13:28–30a: “And one of the sons of Jehoiada, son of the high priest Eliashib, was the son-in-law of Sanballat the Horonite; I chased him away from me. Remember them, O my God, because they have defiled the priesthood, the covenant of the priests and the Levites. Thus I cleansed them from everything foreign” (NRSV). The major problem with the relationship between Neh 13:28–30a and Ant. 11.310–311 is that the expulsion of the priest from Jerusalem takes place in different centuries; according to the book of Nehemiah it was in the fifth century while, according to Josephus, it was in the fourth century. Different solutions to this conundrum have been suggested by scholars: that there were two expulsions; that Nehemiah is correct; that Josephus is correct; that both are correct, but in different ways (Dexinger 1992, pp. 105–27; Kartveit 2009, pp. 71–108; Pummer 2009, pp. 67–80, 103–52; 2016, pp. 54–66).

Google Translate

Sekarang para tetua Hierosolymites, dengan getir mengeluh tentang fakta bahwa saudara laki-laki Jaddus, imam besar, ketika menikah dengan orang asing, berbagi jabatan imam besar, menentangnya, karena mereka berpikir bahwa pernikahan yang satu ini [Manasses ] akan menjadi gang bagi mereka yang ingin melanggar hukum tentang hidup bersama dengan wanita, dan ini akan menjadi awal bagi mereka [orang Hierosolymit] dari persekutuan dengan orang asing…. Karena itu, mereka terus mendesak Manasses untuk berpisah dari istrinya—atau tidak mendekati altar pengorbanan (Ant. 11.306–308; Spilsbury dan Seeman 2017).

Ketika Sanabalet berjanji tidak hanya untuk mempertahankan imamat [baginya], tetapi juga untuk mendapatkan [baginya] kuasa dan kehormatan imam besar dan untuk menunjuk [dia] gubernur semua tempat di mana dia sendiri memerintah—dengan syarat bahwa dia bersedia untuk tinggal bersama putrinya—dan mengatakan bahwa [dia] akan membangun tempat perlindungan yang akan seperti yang ada di Hierosolyma di Gunung Garizein, yang merupakan gunung tertinggi di seluruh Samaria, dan seperti yang dia janjikan bahwa dia akan melakukan hal-hal ini dengan persetujuan Darius sang raja, Manasses sangat gembira dengan janji-janji [ini] dan tetap bersama Sanabalet, mengira bahwa dia akan memperoleh imamat tinggi yang diberikan oleh Darius; karena Sanaballet kebetulan sudah tua sekarang (Ant. 11.310–311; Spilsbury dan Seeman 2017).

Josephus menggambarkan ayah mertua Manasses, Sanbalat, sebagai seorang Kuthean (Ant. 11.302), seperti orang Samaria. Dia bermaksud meminta izin Darius untuk membangun kuil ketika konflik dengan Alexander telah berakhir, tetapi, bertentangan dengan harapan, Darius kalah dalam pertempuran di Issus, dan Sanbalat malah mendekati pemenang Makedonia. Persetujuan Alexander untuk membangun sebuah kuil di Samaria mengubah situasi secara mendasar, menghasilkan pusat kultus baru di wilayah tersebut. Pertemuan antara gubernur Samaria Sanballat dan Alexander Agung terjadi selama pengepungan Alexander di Tirus pada 332 SM. Menyediakan satu menggabungkan dua cerita yang disajikan oleh Josephus, asal ganda Samaria muncul: satu dari Kutha, satu dari Yerusalem. Seharusnya, orang-orang yang dibawa dari Kutha dari waktu ke waktu menikah dengan orang yang diduga migran

Rangkuman

Cerita agama Samaria dimulai dari cerita Ezra dan Nehemia yang menolak bantuan dari kerajaan Israel Utara karena mereka sudah merupakan bangsa campurna

Bait Suci di Samaria dibangunkan oleh Alexander padahal sebelumnya orang Samaria sudah bekerja sama dengan Darius, dan kemudian Darius dikalahkan oleh Alexander. (NB melalui pertempuran Gaugamela). Tapi ketika Samaria ditaklukkan Alexander the Great, maka orang Samaria diizinkan membangun bait Allah (Circa 330 SM).

Dan kemudian bait Allah ini dihancurkan oleh Yohanes Hirkanus tahun 128 SM.

Agama Samaria

Agama Samaria percaya pada 5 Pilar

  1. Hanya ada satu Allah
  2. Musa adalah Nabi Allah
  3. Kitab taurat saja (Pentateuch)
  4. Kesucian Gunung Gerizim
  5. Manusia akan dihakimi pada hari Kiamat

Perbedaan dengan agama Yahudi

Kitab Suci

Orang Samaria memiki kitab suci yang disebut dengan Samaritan Pentateuch. Dikatakan bahwa kitab samaria ini memiliki 6000 perbedaan dengan kitab Torah Yahudi, tetapi sebagian perbedaan adalah perbedaan bacaan (orthographical – 3000 perbedaan). Ingat, abjad Yahudi hanya konsonan, tanpa vokal. Sementara 3000 perbedaan merupakan perbedaan cerita. (source : Tabletmag)

NB : YHWH dibaca Yahweh berasal dari Torah Samaria karena orang Yahudi kalau YHWH akan membaca dengan ELOIHIM, ADONAI dll.

Contoh perbedaan dengan Masoretic text (Tabletmag.com)

Some of the orthographical changes help make the story read more smoothly. For example, in Genesis 4:8, when Cain talks to Abel, the Masoretic version reads, “Now Cain said to his brother Abel, while they were in the field, Cain attacked his brother Abel and killed him,” whereas the Samaritan Torah contains additional words: “Now Cain said to his brother Abel, ‘Let’s go out to the field.’ ”

The Samaritan Torah also offers a slightly different version of some stories. It includes parts of dialogues that are not found in the Masoretic text: For example, in Exodus chapters 7 through 11, the Samaritan Torah contains whole conversations between Moses, Aaron, and Pharaoh that the Masoretic text does not.

The other differences that are significant in narrative sometimes change the story, and sometimes “fix” small sentences that appear incoherent.

In Exodus 12:40, for example, the Masoretic text reads: “The length of the time the Israelites lived in Egypt was 430 years,” a sentence that has created massive chronological problems for Jewish historians, since there is no way to make the genealogies last that long. In the Samaritan version, however, the text reads: “The length of time the Israelites lived in Canaan and in Egypt was 430 years.”

Earlier in Exodus, in 4:25, the Samaritan Torah offers an alternative narrative to the slightly problematic story about Moses’ son not being circumcised when an angel of God “sought to kill him.” The thought that Moses did not circumcise his son, as the Masoretic text states, seems inconceivable to many Jewish commentators, Tsedaka noted. The Samaritan text, however, reads that it was Moses’ wife, Tziporah, who had to “circumcise her blocked heart” by cutting off her belief in the idol-worshiping ways of Midyan, her homeland. A mention of an “internal circumcision” is later found in Deuteronomy 10:16 in both versions, which reads, “circumcise the foreskin of your heart, and stiffen your neck no longer.”

Perhaps the most variant of texts within the two Torahs is the differences in the Ten Commandments.

“The Commandments are all in the form of ‘do’ and ‘don’t do,’ ” Tsedaka asserted. “The Masoretic version includes the intro of ‘I am your God that took you out of Egypt,’ as a commandment, when we see it as an introduction. Our Ten Commandments start later, and we have our last commandment to establish Mount Gerizim.”

While an “extra” commandment to establish an altar on Mount Gerizim might seem random in the Masoretic text, the part that follows the Ten Commandants in the Masoretic version talks about the forbidden action of building stairs to an altar. Some scholars believe that the Masoretic text would not be discussing steps to an altar without talking about an altar first, and so some believe there might be a part of the text that is missing in the Masoretic version.

Terjemaahan Google Translate

Beberapa perubahan ortografis membantu membuat cerita dibaca lebih lancar. Misalnya, dalam Kejadian 4:8, ketika Kain berbicara dengan Habel, versi Masoret berbunyi, “Sekarang Kain berkata kepada saudaranya Habel, ketika mereka berada di ladang, Kain menyerang saudaranya Habel dan membunuhnya,” sedangkan Taurat Samaria berisi kata-kata tambahan: “Sekarang Kain berkata kepada saudaranya Habel, ‘Ayo pergi ke ladang.’ ”

Taurat Samaria juga menawarkan versi yang sedikit berbeda dari beberapa cerita. Ini mencakup bagian-bagian dialog yang tidak ditemukan dalam teks Masoret: Misalnya, dalam Keluaran pasal 7 sampai 11, Taurat Samaria berisi seluruh percakapan antara Musa, Harun, dan Firaun yang tidak ada dalam teks Masoret.

Perbedaan lain yang signifikan dalam narasi terkadang mengubah cerita, dan terkadang “memperbaiki” kalimat-kalimat kecil yang tampak tidak koheren.

Dalam Keluaran 12:40, misalnya, teks Masoret berbunyi: “Lamanya orang Israel tinggal di Mesir adalah 430 tahun,” sebuah kalimat yang telah menciptakan masalah kronologis besar bagi sejarawan Yahudi, karena tidak ada cara untuk membuat silsilah berlangsung selama itu. Akan tetapi, dalam versi Samaria, teks itu berbunyi, ”Lamanya orang Israel tinggal di Kanaan dan di Mesir adalah 430 tahun.”

Sebelumnya dalam Keluaran, dalam 4:25, Taurat Samaria menawarkan narasi alternatif untuk cerita yang sedikit bermasalah tentang putra Musa yang tidak disunat ketika seorang malaikat Tuhan “berusaha membunuhnya.” Pemikiran bahwa Musa tidak menyunat putranya, seperti yang dinyatakan dalam teks Masoret, tampaknya tidak masuk akal bagi banyak komentator Yahudi, kata Tsedaka. Teks Samaria, bagaimanapun, membaca bahwa itu adalah istri Musa, Tziporah, yang harus “menyunat hatinya yang tersumbat” dengan memotong kepercayaannya pada cara penyembahan berhala di Midyan, tanah airnya. Penyebutan “sunat internal” kemudian ditemukan dalam Ulangan 10:16 dalam kedua versi, yang berbunyi, “sunat kulup hatimu, dan jangan kakukan lehermu lagi.”

Mungkin varian teks yang paling banyak dalam kedua Taurat adalah perbedaan dalam Sepuluh Perintah.

“Perintah semuanya dalam bentuk ‘lakukan’ dan ‘jangan lakukan,'” Tsedaka menegaskan. “Versi Masoret memasukkan intro dari ‘Aku adalah Tuhanmu yang membawamu keluar dari Mesir,’ sebagai sebuah perintah, ketika kita melihatnya sebagai pengantar. Sepuluh Perintah kita dimulai kemudian, dan kita memiliki perintah terakhir untuk mendirikan Gunung Gerizim.”

Sementara perintah “ekstra” untuk mendirikan altar di Gunung Gerizim mungkin tampak acak dalam teks Masoret, bagian yang mengikuti Sepuluh Komandan dalam versi Masoret berbicara tentang tindakan terlarang membangun tangga menuju altar. Beberapa cendekiawan percaya bahwa teks Masoret tidak akan membahas langkah-langkah menuju altar tanpa membicarakan tentang altar terlebih dahulu, sehingga beberapa percaya mungkin ada bagian dari teks yang hilang dalam versi Masoret.

Rangkuman mengenai Kitab suci

Pada dasarnya, ada 3 versi kitab suci dan semua berjalan sendiri – sendiri.

  • Ornag Yahudi memakai Masoretic Text
  • Orang Samaria memakai Pentateuch nya mereka
  • Orang Kristen memakai Septuaginta (Terjemahan Yunani dari Masoretic Text

Gunung Gerizim sebagai pusat ibadah

Perbedaan tempat ibadah ini yang terlihat di Perjanjian Baru-nya orang Kristen melalu cerita wanita Samaria di sumur Yakub.

Perbedaan tempat ibadah ini disebabkan karena :

Orang Samaria mementingkan ayat :
Ulangan 11:29 : Jadi apabila Tuhan, Allahmu, telah membawa engkau ke negeri, yang engkau masuki untuk mendudukinya, maka haruslah engkau mengucapkan berkat di atas gunung Gerizim dan kutuk di atas gunung Ebal.
Ulangan 27:11 : Sesudah kamu menyeberangi sungai Yordan, maka mereka inilah yang harus berdiri di gunung Gerizim untuk memberkati bangsa itu, yakni suku Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Yusuf dan Benyamin.

Dan finalnya, di Yosua 8:33, orang Israel melakukan yang diperintahkan Tuhan.

Latar belakang perbedaan tempat ibadah

Aqedah Yitshaq (Pengikatan/Pengorbanan Ishak), putra Abraham, yang berbunyi:
וַיֹּאמֶר קַח-נָא אֶת-בִּנְךָ אֶת-יְחִידְךָ אֲשֶׁר-אָהַבְתָּ אֶת-יִצְחָק וְלֶךְ-לְךָ אֶל-אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה וְהַעֲלֵהוּ שָׁם לְעֹלָה עַל אַחַד הֶהָרִים אֲשֶׁר אֹמַר אֵלֶיךָ
Wayyomer Qaḥ-na et binka we yeḥideka asher aḥavta et yitsḥaq we lek leka El arets ha-Moriyah we ha’alehu sam ha-‘olah ‘al aḥad he-Harīm asher omar eleka”.
Artinya: “Firman-Nya: Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu” (Kej. 22:2, TB).

Dalam Kitab Taurat Samaria, kalimat אֶל-אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה “el arets ha-Moriyah” (ke tanah Moria) tertulis אל ארץ המוראה “el arets ha-Moreh” (ke tanah Moreh). (Bambang Noorsena)

Rangkuman

Orang Yahudi membaca el arets ha-Moriyah dan gunung Moria ini adalah tempat Yerusalem, sedang orang Samaria membacanya sebagai ha-Moreh dan orang Samaria mengartikan sebagai Gunung Gerizim.

Kesimpulan

Dengan adanya Taurat Samaria yang ditulis dalam bahasa Ibrani kuno, maka kekayaan kitab Taurat makin bertambah. Umat kristen diberkati karena sampai sekarang ada 3 kitab Taurat dan bisa dibandingkan isinya masing – masin

Leave a Comment

You cannot copy content of this page