Transaksi Repo

Beberapa bulan lalu, sekitar tahun 2019 – 2020, ada banyak temanku yang mengalami kejadian tidak mengenakkan setelah mengivestkan dana ke beberapa surat utang perusahaan. Ada dari mereka yang investasi ke PT. BSS (Bumi swarna swarni), juga ada yang investasi dengan transaksi repo di saham TOPS (PT Totalindo Eka Persada Tbk)

Alhasil, seluruh uang teman – temanku hilang tanpa ada kejelasan. ada yang hilagn 300 juta, ada yang 5 M, ada yang ratusan juta.

Apa itu Repo

Maka saya teringat dengan artikel ini. Saya copy paste total dari teguh hidayat

Menurut Investopedia, repurchase agreement, atau biasa disingkat repo, adalah perjanjian antara dua belah pihak dimana pihak pertama meminjam sejumlah dana dari pihak kedua dengan jaminan aset keuangan tertentu, misalnya saham, obligasi, hingga surat utang negara, dengan janji bahwa pihak pertama akan membeli kembali saham tersebut (sehingga pihak kedua akan memperoleh uangnya kembali). Biasanya nilai pinjamannya lebih rendah dari nilai aset yang dijaminkan, misalnya A meminjam dana Rp100 juta dari B dengan jaminan 100,000 lembar saham X pada harga Rp1,000 per saham (jadi nilai pinjamannya Rp100 juta), sementara harga saham X di pasar mencapai Rp1,500. Sehingga teorinya adalah, kalau ternyata si A tidak dapat melunasi utangnya, maka si B sebagai pemilik dana tinggal menjual saham X yang ia pegang sebagai jaminan, dan ia tetap akan meraup untung 50% (karena ia bisa menjual saham X di pasar pada harga 1,500, sementara modalnya cuma 1,000).
Pada prakteknya, mekanisme dari transaksi repo ini terbilang macam-macam/berbeda satu sama lain, tergantung dari poin-poin perjanjian antara si peminjam dan pemilik dana. Contoh, ada transaksi repo dimana si peminjam sejak awal tidak akan membeli kembali saham yang dijaminkan, atau dengan kata lain ia benar-benar menjual sahamnya ke si pemilik dana, dan alhasil si pemilik dana hanya bisa memperoleh kembali uangnya dengan cara menjual saham tersebut di pasar. Ada juga repo dimana saham yang menjadi jaminan baru boleh dijual kembali di pasar oleh si pemilik dana setelah jangka waktu tertentu (istilahnya sahamnya di-lock). Dan ada repo dimana si peminjam menjaminkan saham pada harga yang sama dengan harga pasar, sehingga si pemilik dana tidak akan memperoleh keuntungan kalau menjual saham jaminan tersebut di pasar, namun dengan janji bahwa saham tersebut akan dibeli lagi pada harga yang sama, plus bunga.
Kalau di negara maju seperti Amerika, transaksi repo ini dianggap aman karena aset yang dijaminkan biasanya berupa surat utang negara atau treasury bonds, yang risikonya tentu jauh lebih rendah dibanding saham. However, kalau di negara berkembang seperti Indonesia, maka ‘repo’ ini memiliki konotasi yang buruk. Karena sering terjadi kasus repo dimana meski si peminjam berjanji akan membeli kembali saham yang dijaminkan pada harga yang sudah ditentukan, namun janji tersebut ternyata tidak dipenuhi. Atau ketika si pemilik dana akan menjual saham jaminan yang ia pegang di pasar, ternyata harganya sudah turun duluan, misalnya saham X diatas dimana harganya tadinya 1,500, tapi ternyata sekarang harganya tinggal 500, sehingga posisi si pemilik dana menjadi rugi (karena modalnya di harga 1,000).
Dan untuk kasus yang kedua, yakni saham yang dijaminkan sudah turun duluan, biasanya melibatkan ‘saham-saham gorengan’ yang pada waktu-waktu tertentu bergerak liar dan terbang tinggi, tapi ketika sekalinya turun maka bakal gila-gilaan turunnya. Dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa saham gorengan yang turun secara tidak wajar hingga menyebabkan kerugian besar-besaran dari para pemegang sahamnya, dan ditengarai bahwa penyebab kejatuhan saham-saham tersebut salah satunya adalah karena transaksi repo. Sebut saja saham Trada Maritime (TRAM)Sekawan Intipratama (SIAP), Express Transindo Utama (TAXI), Hanson International (MYRX), hingga Sugih Energy (SUGI).
Tapi kenapa penurunan saham-saham diatas dianggap ada kaitannya dengan repo? Well, karena biasanya modusnya seperti ini. Pertama, ada individu atau perusahaan tertentu, sebut saja A, yang memegang saham X dalam jumlah besar (individu/perusahaan ini biasanya merupakan pemegang saham mayoritas/pemilik dari emiten X tersebut, tapi bisa juga pihak lain). A kemudian memperjual belikan saham X miliknya sendiri di market (jadi yang membeli dan menjual adalah pihak yang sama, tapi tentunya pake dua atau beberapa rekening sekuritas yang berbeda), dimana setiap transaksi dilakukan pada harga yang lebih tinggi dari transaksi sebelumnya. Alhasil, saham X naik terus. Misalnya tadinya saham X harganya cuma 100, setelah ‘digoreng’ seperti itu maka bisa naik sampai 500. Dan A inilah yang sering disebut dengan istilah bandar, sedangkan saham X disebut saham gorengan.
Kemudian, A mendatangi banyak investor, entah itu investor individu atau institusi, untuk meminjam uang dengan jaminan saham X tersebut. Biasanya dikatakan bahwa uang pinjaman tersebut akan digunakan untuk mengembangkan/ekspansi usaha dari emiten X itu sendiri. Misalnya salah satu investor tersebut adalah B, yang setuju meminjamkan dana Rp30 juta, dengan jaminan 100,000 lembar (1,000 lot) saham X pada harga Rp300 per saham. Karena saham X di pasar adalah Rp500, maka sekilas B tidak perlu khawatir, karena kalau A tidak bisa melunasi utangnya/membeli kembali saham yang dijaminkan, maka ia tinggal menjual saham X di pasar, dan ia akan tetap memperoleh keuntungan.
Problemnya, sejak awal kenaikan harga saham X dari 100 ke 500 itu bukan karena mekanisme pasar yang wajar (misalnya karena X ini memiliki fundamental yang bagus sehingga investor ramai-ramai membelinya, dan alhasil harganya naik), melainkan karena rekayasa bandar tadi. Ini artinya kalau bukan si bandar itu sendiri yang membeli/menaikkan saham X di pasar, maka gak akan ada orang lain lagi yang mau membeli saham X (kecuali mungkin spekulan, atau trader yang gak ngerti apa-apa/cuma tertarik karena kenaikan sahamnya saja). Alhasil ketika saham X turun signifikan dalam sehari, misalnya 5%, maka investor yang memegang repo-nya bisa langsung panik dan cepat-cepat menjual saham jaminan yang mereka pegang, atau bisa juga mereka kena forced sell. Dan ketika semua investor pemegang repo ini menjual saham X dalam waktu bersamaan ketika disisi lain tidak ada orang lain yang nampung, maka inilah hasilnya: Pada Oktober 2014 lalu, saham TRAM terjun bebas dari 1,850 hingga 330 hanya dalam sebulan, dan setelah itu dia kembali lanjut turun sampai akhirnya mati di gocap. Dan meski belakangan ini TRAM mulai ‘hidup’ lagi, tapi untuk saham repo lainnya seperti SIAP, nasibnya ternyata lebih buruk yakni hilang sama sekali dari peredaran (SIAP masih ada/belum delisting dari BEI, tapi sahamnya sudah tidak diperdagangkan lagi).

Sederhananya

Transaksi Repo adalah surat utang perushaan dengan jaminan saham. Jadi, yang memberi piutang akan mendapat jumlah saham sesuai dengan harga pada saat akad transaksi. Akan tetapi risikonya, kalau harga sudah dikerek naik (digoreng), makan akan sangat berbahaya. Dan itu yang terjadi pada teman teman saya

Transaksi PT. BSS

Beberapa temanku mengambil surat utang PT. BSS, PT. BSS adalah perusahaan developer properti

Pada kasus orang yang mengambil paket investasi PT. BSS, yang terjadi adalah : proyek tidak dilanjutkan, tidak bisa memberi return sesuai perjanjian.

Jalan solusinya : biasanya diberi tanah di lokasi proyek (yang bisa – bisa di tengah hutan, tidak bernilai)

Kesimpulan

Jangan pernah tertarik dengan investasi yang mengatakan aman, bahkan oleh teman sendiri yang menjadi marketingnya

Leave a Comment

You cannot copy content of this page