Standard Prengobatan Singapore untuk Covid / Corona

Strandard Treatment for Corona / Covid in Singapore

Artikel di bawah ini saya dapat dari WAG. Mengenai kebenaran, saya tidak berani menjamin. Tetapi kalo melihat adanya obat – obatan, ada kemungkinan adalah benar.

Standard Treatment for Corona / Covid in Singapore

Teman2 yg terkasih,

Saya barusan membantu menemani pasien Indonesia (yg habis kena covid, umur 70 an) konsultasi via zoom dengan dr Leong (dokter khusus infectious disease di Singapore)

Pasien sudah divaksin sinovac 2x dan kena covid waktu bulan juni 2021. Juli awal sudah sembuh (PCR negatif)

Dr Leong baik banget, sangat concern dengan keadaan di Indonesia dan beliau tadi kasih resep ini utk cases2 covid yg di Indonesia.
(Beliau bilang nga perlu Avigan karena obat itu mahal)

Gw share di sini ya, semoga berguna buat teman2 dan keluarga.

Doctor’s recipe for Covid.

1) BEFORE INFECTION

Take vitamin D 2000-4000 iu daily

2) COVID MANAGEMENT

A) Mild cases (at home)

  1. Vitamin D 4000 iu daily
  2. Magnesium 150-250 mg daily
  3. Mecobalamin 500mcg daily.
    14 days sufficient.
  • Learn to sleep prone
  • At least 6 hours a day. Longer better.
  • Don’t eat oily fatty spicy food.
  • You can take arcoxia or celebrex for fever.
  • Make sure you have no drug allergy and you have no bleeding ulcer problems in the stomach.
  • There is a slight 1% risk for bleeding

B) Moderate cases (when you need oxygen)

  • Add dexamethasone 6mg – 8mg / day or methylprednisolone 24 to 48mg per day and / or iv Remdesivir

Aim to sleep prone 24 hours. (Tidur bersujud 24 jam)

C) Severe (when you need bipap or non rebreather mask 10-15L)

  • Add actemra

May need anti clot medicine like Xarelto or lovenox once D dimers are > 500 (or 0.5) depending on units.

sleep prone itu suatu posisi tidur dengan perut dibawah

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Menurut saya, pribadi Dr Leong memberi resep ini khusus untuk kalian semua yang tinggal di Indonesia.
(Karena kalau di Singapore, ~kami malah nga pernah tau harus cari obat apa. Karena di sini, begitu kena covid, akan langsung diurus oleh government singapore, so no one brother to prepare for any medication)

Saya juga sudah minta ijin pada keluarga pasien yg berkonsultasi tadi utk bisa share info penting ini.

INFO soal vaksinasi booster

Dokter menyarankan utk boost immune dengan vaksin jenis yg berbeda utk orang2 yg sudah vaksin dengan sinovac 2x, dengan jarak 3 bulan dari vaksin terakhir.
Dengan urutan yg dari yg paling efektif sampai yg kurang :
Pfizer – Moderna – Novavax – J and J – Astrazeneca.

Info ini akurat per tanggal 21 Juli 2021.

Semoga bermanfaat dan bisa membantu teman2 dan keluarga di Indonesia untuk melewati masa2 pandemik ini.

Kalau ada pertanyaan lebih lanjut bisa kontak sy, sy akan bantu sebisa mungkin.

God bless you all

Ervinna
+65 969509xx

Dexamethasone

Oleh : Ari Baskoro, Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam FKUA/RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Adakah tenaga kesehatan yang tidak mengenal obat ini? Adakah mahasiswa kedokteran yang melupakan nama tenar ini? Sungguh kebangetan kalau seorang dokter belum pernah meresepkan obat “serbabisa” ini.

Selama di bangku kuliah, obat inilah yang mungkin mendapatkan porsi pemebelajaran yang terbanyak. Dexamethasone sungguh fenomenal.

Tidak harus datang ke fasilitas kesehatan, seorang pasien yang sangat awam mengenai obat-obatan akan dengan mudah memperoleh obat yang seharusnya termasuk golongan obat keras dan harus digunakan melalui resep dokter ini.

Orang menyebutnya sebagai obat kelas warung atau kelas kaki lim. Namun, kini berita dari negara seberang nan jauh, Inggris, tepatnya studi Oxford, menyebut obat ini sebagai penyelamat pasien Covid-19 yang mengalami penderitaan antara hidup dan mati.

Benarkah kata peneliti dari Oxford University tersebut? Pemakaian Dexamethasone di dunia medis sangat luas, mulai penyakit rematik (orang awam menyebutnya penyakit asam urat), penyakit kulit, penyakit autoimun, alergi dengan berbagai manifestasi, asma, penyakit paru obstruktifkronik, batuk, hingga pembengkakan otak.

Bahkan, di bidang kebidanan dan kandungan, obat tersebut diindikasikan pada kehamilan belum cukup bulan. Itu agar terjadi pematangan fungsi paru janin sehingga kualitas hidup bayi prematur akan meningkat.

Demikian luasnya indikasi penggunaan obat tersebut, tidak mengherankan kalau tenaga medis menyebutnya sebagai “obat dewa”. Tidak hanya cukup di situ, obat yang termasuk golongan steroid itu ternyata digunakan secara salah oleh orang-orang tertentu. Baik untuk meningkatkan nafsu makan dan berat badan atau dijadikan “jamu” maupun untuk mengatasi encok dan pegal-linu.

Saat ini gema Dexamethasone semakin nyaring dengan ditelitinya sebagai obat Covid-19, khususnya oasien-pasien yang dirawat di ICU (intensive care unit) dengan menggunakan ventilator. Istilah kerennya untuk life saving.

Sebelum Inggris, negara-negara lain, khusunya Tiongkok sebagai tempat asal virus korona yang menyebabkan pandemi kali ini, juga menelitinya. Para ahli di Spanyol dan Italia pun sepakat menggunakan oabt tersebut sebagai life saving kasus Covid-19 yang berat.

Walaupun, tidak semua ahli seia sekata dengan penadapat tersebut, termasuk WHO sebagai organisasi kesehatan dunia. WHO menyatakan, obat itu tidak harus rutin digunakan pada kondisi radang paru yang berat akibat virus korona.

Sesuatu hal yang wajar terjadi pro dan kontra terhadap metode suatu pengobatan, khususnya terhadap Covid-19, ketika tingkah laku virus penyebabknya pun belum terlalu dikenali para ahli di seluruh dunia. Manifestasi klinis yang tampak pada Covid-19 memang bervariasi. Tampak seperti spektrum, mulai yang tidak bergejala, gejala ringan seperti influenza, hingga kasus-kasus yang memerlukan perawatan intensif di ICU, bahkan berujung pada kematian.

Data menunjukkan, 10-15 persen kasus yang memerlukan perawatan intensif, termasuk yang lima persen akan mengalami perawatan di ICU dengan menggunakan ventilator. Kondisi klinis berat seperti itulah yang memerlukan “obat dewa” tersebut.

Kasus Covid-19 yang berat dan menjurus pada kondisi gagal napas di dunia kedokteran diduga disebabkan terjadinya peradangan/inflamasi sistemik di seluruh organ-organ tubuh yang bisa berujung menjadi kegagalan fungsi masing-masing organ tubuh yang terlibat.

Dalam keadaan kritis demikian, terjadi “tumpahan” komponen-komponen peradangan di seluruh sirkulasi darah yang dikenal dengan sitilah “badai sitokin”. Sedangkan sitokin itu sendiri adalah komponen-komponen peradangan yang timbul sebagai akibat respons imunitas tubuh terhadap adanya sumber infeksi yang dalam hal ini adalah virus korona.

Di sinilah letak “keajaiban” obat dewa tersebut. Obat itu memang disebut sebagai imunosupresan (menekan sistem imun) sekaligus anti-inflamasi yang paling potensial. Logika pikir yang mudah pasti akan mengatakan, pada kondisi yang berat saja Dexamethasone mampu berperan begitu dominan, apalagi pada kasus-kasus Covid-19 yang ringan, pasti obat itu akan dengan mudah melibas virus korona yang sangat menular tersebut.

Sebab, di satu sisi efeknya sebagai anti-inflamasi yang sangat menguntungkan tersebut. Namun, di sisi lain, seperti “pedang bermata dua”, obat itu dapat menekan sistem imunitas yang justru dibutuhkan kapasitasnya  untuk mengeyahkan virus korona tersebut, terutama pada awal gejala klinis muncul.

Pemberian obat yang terlalu dini justru akan memperlambat penyembuhan, bahkan virus korona akan cenderung lebih lama ngendon di dalam tubuh manusia. Jadi jelas, penggunaan obat itu hanya untuk kepentingan life saving dan bukan bersifat antivirus/dapat membunuh virus.

Pemahaman itu perlu ditanamkan kepada siapa pun. Sebab, seperti kata pepatah : obat adalah bahan berbahaya, tapi di tangan ahlinya, obat bisa sangat bermanfaat. Indikasi penggunaan maupun kontra indikasinya pun akan benar-benar dipertimbangkan dengan saksama oleh dokter yang berkompeten.

Dexamethasone selain efektif pada kasus-kasus tertentu, relative sangat murah dan bisa didapatkan dengan mudah di seluruh pelosok negeri. Namun, juga sering digunakan secara salah dan tidak sesuai indikasi.

Damapak yang nyata adalah tidak jarang dijumpai penyakit yang justru timbul akibat penggunaan obat yang tergolong lawas tersebut. WHO memberikan rekomendasi penggunaannya sejak 1961.

Efek samping yang relative sering terjadi adalah timbulnya jerawat, insomnia (sult tidur), depresi, euphoria, pusing, nyeri kepala, peningkatan nafsu makan (justru dipakai untuk “obat” meningkatkan nafsu makan), penambahan berat badan, hipertensi, risiko meningkatnya infeksi, peningkatan tekanan bola mata sampai gangguan penglihatan, mual-muntah, penyakit lambung, lupa ingatan, gangguan jiwa, sampai tidak sadarkan diri.

Bahaya lain adalah timbulnya osteoporosis, gangguan pertumbuhan (pada anak), otot yang mengecil-lemah, pemicu terjadinya kencing manis, penyakit jantung, dan masih banyak lagi. Semoga dengan mengenal lebih baik tentang Dexamethasone, akan lebih bijak lagi tidak menggunakannya tanpa petunjuk ahli yang berkompeten.

Sumber : https://www.jawapos.com/opini/18/06/2020/dexamethasone-obat-dewa-dan-pedang-bermata-dua/

Xarelto

“Dosis obatnya saja yang dinaikkan. Dari 15 mg ke 20 mg,” tambahnya. “Kita lihat satu minggu lagi,” katanya. Baca Juga: Swab Akhir Itulah obat Xarelto. Pengencer gumpalan darah. Sejak Covid saya negatif, yakni sejak keluar dari RS, saya memang dibekali pil itu. Satu hari ditelan satu kali. Malam hari. Waktu opname karena Covid, obatnya disuntikkan lewat kulit perut, sehari dua kali. Itulah yang berhasil menurunkan D-dimer saya dari 2.600 ke 1.100. Tiga hari setelah di rumah naik jadi 1.300. Seminggu berikutnya, kemarin, naik jadi 1.400 itu. Maka akan saya coba lagi satu minggu lagi. Dengan dosis baru. Kalau pun tidak berhasil belum tahu harus bagaimana. Pernah muncul pertanyaan pribadi seperti ini: jangan-jangan D-dimer saya sudah tinggi sejak sebelum terkena Covid. Itu yang saya tidak punya angka pembanding. Seumur hidup belum pernah tes D-dimer. “Jangan-jangan semua orang yang dipasangi ring di saluran darahnya, punya kecenderungan D-dimer-nya tinggi,” kata saya dalam hati. Sayangnya saya tidak punya angka pembanding. Seumur-umur belum pernah tes D-dimer. Memang test D-dimer ini baru populer setelah ada Covid. Bahkan baru akhir-akhir ini saja. Seperti juga tes vitamin D. Yang sebelum ada Covid selalu diabaikan.

Artikel ini telah tayang diJPNN.comdengan judul
“Naik Lagi”,
https://www.jpnn.com/news/naik-lagi?page=2

https://www.disway.id/r/1215/naik-lagi

Profil Dr. Leong

Experience

  • Dr Leong Hoe Nam is an infectious disease specialist at Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapore.
  • His clinical interest is in the treatment of complex infectious diseases such as tuberculosis, HIV and surgical complications, especially for transplant patients and patients with multi-drug resistant organisms.
  • When he began his advanced specialist training in infectious diseases, Dr Leong pursued his interest in virology at the Royal Free and University College Medical School, London, under a fellowship awarded by the National Medical Research Council. In 2008, he was awarded a second research fellowship to train at the University of Columbia, New York, on emerging pathogens.
  • Dr Leong was previously a consultant in the department of infectious diseases in Singapore General Hospital before setting up his own clinic at Mount Elizabeth Novena Hospital. He has been directly involved in the care of transplant patients, individuals with multi-drug resistant organisms, tuberculosis, HIV, AIDS, surgical complications, viral infections, fungal infections including aspergillosis, cryptococcosis and mucormycosis, and complex medical problems.
  • He had first-hand experience in managing outbreak situations including SARS and the H1N1 pandemic infection. He has also published several research papers on virology.
  • Dr Leong is frequently sought for his opinion on infectious diseases such as COVID-19, and is often interviewed live on TV, radio, and quoted in mainstream broadsheet newspapers and publications.
  • Dr Leong was a clinical tutor at the Yong Loo Lin School of Medicine. He was a faculty member at the Duke-NUS Graduate Medical School and remains a visiting consultant at the Singapore General Hospital, the National Cancer Centre Singapore, and Dover Park Hospice.

https://www.mountelizabeth.com.sg/id/doctor/infectious-disease/leong-hoe-nam/aaf94973-49bf-63ee-ab9a-ff0000dba087

Kesimpulan

Sediakan untuk 14 hari :

  • Vitamin D 4000 iu dailly
  • Magnesium 150-250 mg daily
  • Mecobalamin 500mcg daily.

Demikian, terima kasih.

1 thought on “Standard Prengobatan Singapore untuk Covid / Corona”

Leave a Comment