Presuposisi

Kira kira beberapa hari lalu, saya membaca adanya berita seperti ini : Ayah saya meninggal usai percaya hoax dr. Lois.

https://news.detik.com/berita/d-5646942/ayah-saya-meninggal-usai-percaya-hoax-dr-lois

Tanpa berusaha mengurangi hormat kepada yang meninggal, saya terusik dengan kalimat ini. Berita di atas hanya salah satu contoh kasus mengenai topik presuposisi yang akan saya angkat.

Makna

Arti Presuposisi adalah :

A thing tacitly assumed beforehand at the beginning of a line of argument
Terjemahan Google :
Sesuatu yang secara diam-diam diasumsikan sebelumnya pada awal garis argumen

Jadi dalam bahasa orang awam, sebelum sesorang berdebat atau membaca apapun, dia PASTI sudah memiliki posisi keyakinan.

Dan ketika dia membaca berita, dia akan memilah – milah informasi yang diterima. Kalau ada informasi yang sesuai dengan presuposisi, maka itu akan menambah keyakinanannya, sedang kalau berlawanan, maka dia akan bilang hoax.

Jadi saya yakin kalau almarhum yang meninggal sudah memiliki keyakinan kalau Covid adalah hoax sehingga ketika dia membaca berita dr. Lois, maka itu menambah keyakinannyannya dia.

Dr. Lois memang salah, tapi anak sang korban tidak bisa menyalahkan dr. Lois karena kesalahan bukan cuma di dr.. Lois.

Kasus lain

Contoh kasus lain, ada berita : Vaksin Covid: Cerita penyesalan sejumlah pasien yang terjangkit karena menolak divaksin. (https://www.bbc.com/indonesia/majalah-57872336)

Ketika ada berita gini di buzzbreak, maka komentar orang – orang adalah :

  • Rekayasa global
  • Dijadikan bahan penipuan oleh pabrik farmasi dunia
  • Dibohoni oleh elit global
  • dst

Presuppositional apologetics

Apologetika Presuposisi menekankan bahwa iman adalah satu – satunya dasar untuk pemikiran rasional. Jadi semua dipahami dengan dimulai dari iman.

Contoh nyata, dalam dialog teologis, maka tidak mungkin ada orang yang netral. Ketika mereka berdialog, mereka sudah punya anggapan sendiri yang berdasar pada imannya sendiri. Maka ada anggapan orang Kristen tidak mungkin bisa menjelaskan pada orang non Kristen, Atheis atau orang yang beranggapan bahwa alkitab dipalsukan

Apologetika Presuposisi oleh Kornelius van Til

Diambil dari reformed.sabda.org

Dalam acuan ini, Cornelius Van Til (18 -1987), seorang teolog dan filsuf abad ini telah dengan sedemikian serius menggumulkan presuposisi. Van Til melihat bahwa di dalam berpikir, yang mendasari seluruh konsep teologis dan praktis kehidupan seseorang, hanya ada dua presuposisi dasar yang sangat menentukan, yaitu: (1) Kedaulatan Allah atau (2) Otonomi manusia

  1. Kedaulatan Allah dengan presuposisi ini, manusia akan mengacu dan melihat segala sesuatu dari aspek kedaulatan Allah. Allah dipandang sebagai Sumber segala sesuatu, Dasar dan Tujuan segala sesuatu (Rom 11:36). Inilah dasar yang benar bagi seluruh pemikiran manusia, apalagi orang Kristen. Kita percaya bahwa Allah adalah Pencipta, Penopang dan Penyempurna seluruh alam semesta, termasuk manusia. Hanya percaya pada kedaulatan Allah, manusia bisa mendapatkan arah dan patokan dasar berpikirnya secara benar.
  2. Otonomi Manusia Gejala ini muncul ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Manusia berusaha mencari kebenarannya sendiri di mulai dengan meragukan kebenaran dan kedaulatan Allah di taman Eden (Kej 3:6 dst.). Ciri ini merupakan ciri manusia berdosa di sepanjang sejarah zaman. Ketika manusia mulai berpikir menurut pikirannya sendiri, ada beberapa hal yang pasti akan terjadi:
    1. Non-proportional thinking.
      Manusia jadi tidak lagi bisa berpikir proporsional secara tepat. Karena titik acuannya tidak tepat, maka Martin Luther memisalkan keadaan seperti ini bagaikan roda yang as-nya tidak tepat di tengah. Manusia tidak lagi memiliki acuan yang tepat untuk berpikir, sehingga pemikirannya pasti tidak mungkin berdiri tegak dalam kebenaran yang asasi.
    2. Inconsistency
      Manusia tercemar oleh prinsip dosa, yaitu inkonsistensi. Manusia tidak dapat lagi konsisten secara murni di dalam cara berpikirnya. Akibatnya, manusia hidup terus dalam konflik (entah disadari atau tidak disadari). Dengan kembali kepada presuposisi yang benar, barulah kita bisa membangun seluruh teologi kita secara benar. Dan berdasarkan teologi yang benar, pembentukan konsep berpikir kita juga akan menjadi beres. Tanpa presuposisi yang tepat, maka teologi kita akan diwarnai oleh presuposisi yang tidak tepat, dan akibatnya hidup kitapun akan bercorak dosa. Inilah bahaya kesalahan presuposisi yang seringkali tidak disadari oleh orang Kristen. (reformed.sabda.com)

Jadi secara sederhana, segalanya harus dilihat bahwa Allah berdaulat dan manusia yang sudah jatuh dalam dosa akan membuat kebenaran sendiri yang relatif

Apologetika Presuposisi oleh Gordon Clark

Dia melawan empirisme (semua pengetahuan dari pengalaman) dan rasionalisme (segalanya harus bisa dilogika). Pembelaan Gordon Clark adalah segala kebenaran bersifat proporsional.

Di dalam aplogetikanya, dia menganggap bahwa alkitab harus diperlakukan sebagai postulat (tidak bisa dibuktikan, bahkan dipakai untuk membuktikan)

Leave a Comment

You cannot copy content of this page