Bangunan Anti Gempa

Akhir – akhir ini di Indonesia terjadi gempa. Kemudian banyak orang yang memikirkan bangunan anti gempa. Dalam beberapa bacaan, bangunan anti gempa bukan berarti bangunan anti gempa sungguhan. Tetapi lebih tepatnya bangunan tahan gempa yang kecil, tetapi diperbolehkan untuk runtuh bila gempa besar (runtuhnya dengan memberi kesempatan untuk melarikan diri)

Alasannya mengapa diizinkan runtuh kalau terjadi gempa besar karena bila kita membuat bangunan yang benar benar anti gempa, maka bangunan tersebut akan tidak ekonomis alias mahal banget

Ada 2 aliran sistem bangunan tahan gempa, yaitu cara Jepang dan cara barat. Cara Jepang dengan menambahkan banyak besi tulangan. Sebagai hasilnya sbb :

Sedang di Indonesia, kebanyakan bangunan tahan gempa adalah dengan cara barat, yaitu Strong Column Weak Beam.

Beberapa konsep bangunan tahan gempa di Indonesia adalah

  • Kalau terjadi kegagalan struktur, harus balok dulu yang runtuh, baru kemudian kolom. Jadi kekuatan maximal balok dihitung, kemudian kolom dibuat lebih kuat lagi. Jadi bila terjadi gempa besar sehingga bangunan runtuh, karena yang runtuh baloknya, maka orang orang di dalamnya masih punya kesempatan untuk melarikan diri.
  • Sambungan harus cukup kuat (panjang penjangkaran cukup sehingga tidak terjadi gagal sambungan). Secara sederhana, bangunan jangan sampai model kayak Stone Henge yang cuma diletakkan begitu saja.

Contoh bangunan yang tidak menggunakan perhitungan strong column weak beam. (Kolom lantai 1 runtuh duluan.

Contoh bangunan yang dengan strong column weak beam

gambar sebelah kiri, balok sudah geser

Stone Henge :

Leave a Comment

You cannot copy content of this page